• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORI

C. Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga

Riasmini (2017, p.65) mendefinisikan keperawatan keluarga sebagai proses pemberian pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan, menempatkan keluarga dan komponennya sebagai fokusnya dalam tahap pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dengan memobilisasi sumber yang tersedia didalamnya dan dari profesi lain termasuk pemberi pelayanan dan sektor lain di komunitas.

Suprajitno (2014, p.27) mendefinisikan sebagai rangkaian kegiatan yang diberikan melalui praktik keperawatan dengan sasaran keluarga. Asuhan ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang ada.

Menurut pendapat penulis asuhan keperawatan keluarga merupakan proses pemberian pelayanan keperawatan pada semua anggota secara menyeluruh mulai dari pengkajian, perencanaan, tindakan sampai evaluasi dengan tujuan menyelesaikan masalah kesehatan yang ada.

2. Proses Asuhan Keperawatan Keluarga a. Pengkajian

Menurut Suprajitno (2014, p.29) merupakan tahapan ketika seorang perawat mengumpulkan informasi secara terus menerus tentang keluarga yang dibinanya. Perawat diharapkan menggunakan bahasa ibu (digunakan setiap hari), lugas, dan sederhana dalam proses pengkajian, supaya data yang diperoleh akurat.

Hal-hal yang perlu dikaji saat pengumpulan data : 1) Data umum

a) Mencakup kepala keluarga (KK), alamat dan telepon, pekerjaan KK, pendidikan KK, dan komposisi keluarga.

Selanjutnya komposisi keluarga dibuat genogramnya.

b) Genogram

Menurut Padila (2012, p.93) merupakan diagram yang menggambarkan konstelasi keluarga (pohon keluarga) dan digunakan sebagai alat pengkajian informatif untuk mengetahui riwayat dan sumber keluarga. Diagram ini menggambarkan hubungan vertikal (lintas generasi) dan horizontal (dalam generasi yang sama) untuk memahami kehidupan keluarga yang dihubungkan dengan pola penyakit.

Genogram dibuat tiga generasi (keluarga inti dan keluarga masing-masing orang tua).

Gambar 2.1 Genogram (Padila, 2012, p.94)

Laki-laki Perempuan Klien yang

diidentifikasi

Meninggal Kawin Pisah

Cerai Tidak Menikah Anak adopsi/angkat

Aborsi Kembar Anggota serumah

c) Tipe keluarga

Menjelaskan mengenai jenis/tipe keluarga beserta kendala atau masalah-masalah yang terjadi.

d) Suku bangsa

Mengkaji asal suku bangsa keluarga serta mengidentifikasi budaya suku bangsa tersebut terkait kesehatan.

e) Agama

Mengkaji agama yang dianut oleh keluarga serta kepercayaan yang dapat memengaruhi kesehatan.

f) Status sosial ekonomi keluarga

Status ini ditentukan oleh pendapatan baik dari seluruh anggota, kebutuhan yang dikeluarkan serta barang yang dimiliki.

g) Aktivitas rekreasi keluarga

Rekreasi tidak hanya dilihat dari kapan saja keluarga pergi bersama-sama untuk mengunjungi tempat rekreasi tertentu, namun dengan menonton televisi dan mendengarka radio juga merupakan aktivitas rekreasi.

2) Riwayat dan tahap perkembangan keluarga a) Tahap perkembangan keluarga saat ini

Ditentukan oleh usia anak tertua dari keluarga inti.

b) Tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi

Menjelaskan tentang tugas keluarga yang belum terpenuhi, penyebabnya, kendala serta upaya yang telah dilakukannya.

c) Riwayat kesehatan keluarga inti

Menjelaskan riwayat kesehatan keluarga inti dan anggota, perhatian terhadap upaya pencegahan penyakit, upaya dan pengalaman terhadap pelayanan kesehatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan kesehatan.

d) Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya (generasi di

atasnya)

Menjelaskan riwayat kesehatan generasi di atasnya tentang riwayat penyakit keturunan, upaya penanggulangan penyakit, serta upaya kesehatan yang dipertahankan sampai saat ini.

3) Data lingkungan

a) Karakteristik rumah

Menjelaskan tentang hasil identifikasi rumah yang ditempati meliputi luas, tipe, jumlah ruangan, pemanfaatan ruangan, jumlah ventilasi, peletakan perabot rumah tangga, sarana pembuangan air limbah dan kebutuhan mck (mandi, cuci, dan kakus), sarana air bersih dan minum yang digunakan.

Keadaan rumah akan lebih mudah dipelajari bila digambar sebagai denah rumah.

b) Karakteristik tetangga dan komunitasnya

Menjelaskan karakteristik tetangga dan komunitas setempat meliputi kebiasaan, seperti lingkungan fisik, nilai atau norma, dan budaya penduduk daerah sekitar yang memengaruhi kesehatan.

c) Mobilitas geografis keluarga

Menggambarkan mobilitas keluarga dan anggota. Mungkin sering berpindah tempat atau ada anggota yang tinggal jauh.

d) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat Menjelaskan mengenai waktu yang digunakan untuk

berkumpul dan interaksi dengan masyarakat sekitar.

e) Sistem pendukung keluarga

Jumlah anggota yang sehat dan fasilitas yang menunjang kesehatan, misal fasillitas fisik, sosial, dan dukungan psikologis.

4) Struktur keluarga a) Struktur peran

Menjelaskan peran masing-masing anggota secara formal maupun informal.

b) Nilai atau norma

Menjelaskan nilai atau norma yang dianut yang berhubungan dengan kesehatan.

c) Pola komunikasi

Menjelaskan bagaimana cara komunikasi anggota.

d) Struktur kekuatan

Menjelaskan kemampuan anggota mengubah perilaku yang berhubungan dengan kesehatan.

5) Fungsi keluarga (Padila, 2012, p.99) a) Fungsi afektif

Hal yang perlu dikaji yaitu gambaran diri anggota, perasaan memiliki dan dimiliki, dukungan terhadap yang lain dan bagaimana mengembangkan sikap saling menghargai.

b) Fungsi sosialisasi

Dikaji bagaimana interaksi atau hubungan dalam keluarga, sejauh mana anggota belajar disiplin, norma, budaya serta perilaku.

c) Fungsi perawatan kesehatan Hal yang perlu dikaji antara lain :

(1) Kemampuan mengenal masalah kesehatan

Perlu dikaji sejauhmana keluarga mengetahui fakta dari masalah kesehatan, meliputi pengertian, tanda dan gejala, faktor penyebab serta persepsi terhadap masalah.

(2) Kemampuan mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan yang tepat

Hal yang dikaji sejauhmana keluarga mengerti sifat dan luasnya masalah yang dirasakan, sikap dalam menghadapinya merasa menyerah atau takut, rasa kurang percaya pada petugas serta pernah mendapat informasi kurang tepat terhadap tindakan dalam mengatasi masalah.

(3) Kemampuan merawat anggota yang sakit termasuk dalam memelihara lingkungan dan menggunakan sumber/fasilitas kesehatan di masyarakat

Perlu dikaji pengetahuan keluarga mengenai sifat dan perkembangan perawatan yang dibutuhkan, ketrampilan perawatan, pandangan negative atau kurang dapat melihat keuntungan dalam pemeliharaan lingkungan dimasa

mendatang, upaya pencegahan penyakit, perasaan takut akibat tindakan (diagnostik, pengobatan dan rehabilitasi).

(4) Kemampuan memelihara lingkungan rumah yang sehat Dikaji sejauhmana keluarga mengetahui sumber yang dimiliki, keuntungan pemeliharaan lingkungan, pentingnya hygiene dan sanitasi, upaya pencegahan penyakit, bagaimana sikap atau pandangan terhadap hygiene dan sanitasi serta kekompakan antar anggota.

(5) Kemampuan memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan di masyarakat

Dikaji sejauhmana keluarga mengetahui keberadaan fasilitas kesehatan, keuntungan yang diperoleh, tingkat kepercayaan terhadap petugas, pengalaman kurang baik terhadap petugas.

d) Fungsi reproduksi

Hal yang perlu dikaji adalah berapa jumlah anak, rencana terkait dengan jumlah anggota, metode yang digunakan dalam upaya mengendalikan jumlah anggota.

e) Fungsi ekonomi

Hal yang perlu dikaji yaitu sejauhmana keluarga memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan, memanfaatkan sumber yang ada di masyarakat dalam upaya peningkatan status kesehatan.

6) Stres dan koping

a) Stresor jangka pendek dan panjang

(1) Stresor jangka pendek yaitu stresor yang memerlukan penyelesaian dalam waktu kurang dari 6 bulan.

(2) Stresor jangka panjang yaitu stresor yang memerlukan penyelesaian dalam waktu lebih dari 6 bulan.

b) Kemampuan berespons terhadap stresor

Dikaji sejauhmana keluarga berespon terhadap stresor.

c) Strategi koping yang digunakan

Dikaji strategi koping yang digunakan bila menghadapi suatu masalah.

d) Disfungsi strategi adaptasi

Menjelaskan tentang perilaku anggota yang maladaptif ketika mempunyai masalah.

7) Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik dilakukan pada semua anggota. Metode yang digunakan sama dengan pemeriksaan fisik klinik.

8) Harapan keluarga

Pada akhir pengkajian, perawat menanyakan harapan keluarga terhadap petugas kesehatan yang ada.

b. Analisa Data dan Diagnosa 1) Analisa Data

Setelah melakukan pengkajian, selanjutnya data dianalisis untuk

merumuskan diagnosa keperawatan.

2) Diagnosa

Menurut Suprajitno (2014, p.42) ada beberapa kegiatan yang dilakukan perawat pada tahap ini :

a) Pengelompokan data

Perawat mengelompokkan data hasil pengkajian dalam data subjektif dan objektif setiap kelompok diagnosis.

b) Perumusan diagnosis

Perumusan diagnosis keperawatan keluarga menggunakan aturan yang telah disepakati, terdiri dari :

(1) Masalah (problem, P) adalah suatu pernyataan tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia oleh anggota.

(2) Penyebab (etiology, E) adalah suatu pernyataan yang dapat menyebabkan masalah dengan mengacu kepada lima tugas keluarga, yaitu mengenal masalah, mengambil keputusan yang tepat, merawat anggota yang sakit, memelihara lingkungan, atau memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan.

(3) Tanda (sign, S) adalah sekumpulan data subjektif dan objektif yang diperoleh perawat dari keluarga secara langsung atau tidak mendukung masalah dan penyebab.

Tipologi diagnosis keperawatan keluarga dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu :

(1) Diagnosis aktual adalah masalah keperawatan yang sedang dialami dan memerlukan bantuan dari perawat dengan cepat.

(2) Diagnosis risiko/risiko tinggi adalah masalah keperawatan yang belum terjadi, tetapi tanda untuk menjadi masalah aktual dapat terjadi jika tidak segera mendapat bantuan.

(3) Diagnosis potensial adalah suatu keadaan sejahtera ketika keluarga mampu memenuhi kebutuhan kesehatannya dan mempunyai sumber penunjang yang dapat ditingkatkan.

c. Diagnosa keperawatan keluarga dengan Tuberculosis 1) Ketidakefektifan bersihan jalan napas

a) Definisi

Ketidakmampuan membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan bersihan jalan napas.

b) Batasan karakteristik (1) Batuk tidak efektif (2) Dispnea

(3) Gelisah (4) Ortopnea

(5) Perubahan frekuensi napas (6) Perubahan pola napas

(7) Sputum dalam jumlah yang berlebihan (8) Suara napas tambahan

(9) Sianosis

c) Faktor yang berhubungan (1) Lingkungan

(a) Perokok (b) Perokok pasif (c) Terpajan asap (2) Obstruksi jalan napas

(a) Eksudat dalam alveoli (b) Mukus berlebihan (c) Sekresi yang tertahan (d) Spasme jalan napas (3) Fisiologis

(a) Asma

(b) Disfungsi neuromuskular (c) Infeksi

(d) Jalan napas alergik d) NOC

Status pernafasan : kepatenan jalan nafas e) Kriteria hasil

(1) Frekuensi pernafasan dalam kisaran normal (2) Mampu untuk mengeluarkan sekret

(3) Batuk berkurang

(4) Dispnea saat istirahat berkurang

(5) Penggunaan otot bantu nafas seminimal mungkin f) NIC

(1) Manajemen jalan nafas

(a) Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (b) Lakukan fisioterapi dada

(c) Motivasi pasien untuk bernafas pelan, dalam, batuk (d) Instruksikan bagaimana agar bisa melakukan batuk

efektif

(e) Auskultasi suara nafas, catat area yang ventilasinya menurun atau tidak ada dan adanya suara tambahan (f) Ajarkan pasien bagaimana menggunakan inhaler

sesuai resep

(g) Posisikan untuk meringankan sesak nafas (h) Monitor status pernafasan dan oksigenasi (2) Monitor pernafasan

(a) Monitor kecepatan, irama, kedalaman dan kesulitan bernafas

(b) Catat pergerakan dada, ketidaksimetrisan, penggunaan otot bantu nafas

(c) Monitor kemampuan batuk efektif pasien (d) Catat onset, karakteristik dan lamanya batuk (e) Monitor pola nafas

(f) Monitor keluhan sesak nafas, kegiatan yang

meningkatkan atau memperburuk sesak nafas tersebut 2) Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh

a) Definisi

Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.

b) Batasan karakteristik

(1) Berart badan 20% atau lebih dibawah rentang berat badan ideal

(2) Bising usus hiperaktif

(3) Cepat kenyang setelah makan (4) Gangguan sensasi rasa

(5) Kesalahan informasi

(6) Kurang minat pada makanan (7) Membran mukosa pucat (8) Nyeri abdomen

c) Faktor yang berhubungan (1) Faktor biologis (2) Faktor ekonomi (3) Gangguan psikososial (4) Ketidakmampuan makan

(5) Ketidakmampuan mencerna makanan (6) Ketidakmampuan mengabsorbsi nutrien (7) Kurang asupan makanan

d) NOC

(1) Status nutrisi

(2) Status nutrisi : asupan nutrisi e) Kriteria hasil

(1) Asupan makanan tidak menyimpang dari rentang normal (2) Asupan cairan tidak menyimpang dari rentang normal (3) Hidrasi tidak menyimpang dari rentang normal

(4) Asupan kalori, protein, lemak, karbohidrat, serat, vitamin, mineral, zat besi, kalsium dan natrium adekuat

f) NIC

(1) Manajemen gangguan makan

(a) Monitor intake/asupan makanan dan cairan

(b) Ajarkan dan dukung konsep nutrisi yang baik dengan klien dan orang terdekat

(c) Monitor tanda-tanda fisiologi (tanda-tanda vital, elektrolit)

(d) Observasi klien selama dan setelah pemberian makan atau makanan ringan untuk menyakinan bahwa intake atau asupan makanan yang cukup tercapai dan dipertahankan

(2) Manajemen nutrisi

(a) Tentukan status gizi dan kemampuan pasien memenuhi kebutuhan gizi

(b) Identifikasi adanya alergi atau intoleransi makanan yang dimiliki

(c) Anjurkan pasien terkait dengan kebutuhan diit untuk kondisi sakit

(d) Lakukan atau bantu pasien terkait dengan perawatan mulut sebelum makan

(3) Bantuan peningkatan berat badan

(a) Kaji makanan kesukaan pasien, baik itu kesukaan pribadi atau dianjurkan budaya dan agamanya

(b) Lakukan perawatan mulut sebelum makan (c) Bantu pasien untuk makan atau suapi pasien

(d) Ajarkan pasien dan keluarga bagaimana cara membeli makanan murah tetapi bergizi tinggi

3) Risiko infeksi a) Definisi

Rentan mengalami invasi dan multiplikasi organisme patogenik yang dapat mengganggu kesehatan.

b) Faktor risiko

(1) Kurang pengetahuan untuk menghindari pemajanan patogen

(2) Malnutrisi (3) Obesitas

(4) Penyakit kronis (mis., diabetes melitus)

(5) Prosedur invasif

(6) Pertahanan tubuh primer tidak adekuat : (a) Gangguan integritas kulit

(b) Gangguan peristalsis (c) Merokok

(d) Perubahan pH sekresi (e) Stasis cairan tubuh

(7) Pertahanan tubuh sekunder tidak adekuat (a) Imunosupresi

(b) Leukopenia

(c) Penurunan hemoglobin (d) Vaksinasi tidak adekuat

(8) Pemajanan terhadap patogen lingkungan meningkat (a) Terpajan pada wabah

c) NOC

Keparahan infeksi d) Kriteria hasil

(1) Tidak ada sputum purulen (2) Suhu dalam rentang normal

(3) Keluhan mengenai malaise berkurang (4) Tidak menggigil

e) NIC

(1) Manajemen imunisasi/vaksinasi

(a) Informasikan individu mengenai imunisasi protektif untuk melawan penyakit yang tidak diwajibkan oleh undang-undang

(b) Ajarkan pada individu/keluarga mengenai vaksinasi yang diperlukan jika ada paparan atau insiden khusus (c) Pahami bahwa keterlambatan pemberian imunisasi

pada satu seri bukan berarti harus mengulang jadwal (d) Bantu keluarga terkait perencanaan keungaan untuk

membayar imunisasi (misalnya., apakah dibayar asuransi dan klinik departemen kesehatan)

(2) Kontrol infeksi

(a) Anjurkan pasien mengenai teknik mencuci tangan (b) Cuci tangan sebelum dan sesudah kegiatan perawatan (c) Dorong batuk dan bernafas dalam yang tepat

(d) Anjurkan pasien untuk meminum antibiotik

(e) Ajarkan pasien dan keluarga mengenai tanda dan gejala infeksi dan kapan harus melaporkannya kepada penyedia perawatan kesehatan

(f) Ajarkan mengenai bagaimana menghindari infeksi (3) Perlindungan infeksi

(a) Monitor adanya tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal

(b) Monitor kerentanan terhadap infeksi

(c) Tingkatkan asupan nutrisi yang cukup (d) Pantau adanya tingkat energi atau malaise

(e) Anjurkan pernapasan dalam dan batuk, dengan tepat (f) Ajarkan bagaimana cara menghindari infeksi

4) Intoleransi aktivitas a) Definisi

Ketidakcukupan energi psikologis atau fisiologis untuk

mempertahankan atau menyelesaikan aktivitas kehidupan sehari-hari yang harus atau yang ingin dilakukan.

b) Batasan karakteristik

(1) Dispnea setelah beraktivitas (2) Keletihan

(3) Ketidaknyamanan setelah beraktivitas

(4) Respon frekuensi jantung abnormal terhadap aktivitas (5) Respon tekanan darah abnormal terhadap aktivitas c) Faktor yang berhubungan

(1) Gaya hidup kurang gerak (2) Imobilitas

(3) Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen (4) Tirah baring

d) NOC

(1) Toleransi terhadap aktivitas (2) Daya tahan

(3) Energi psikomotor e) Kriteria hasil

(1) Frekuensi pernafasan ketika beraktivitas tidak terganggu (2) Kemudahan bernafas ketika beraktivitas tidak terganggu (3) Kemudahan dalam melakukan Aktivitas Hidup Harian

(Actives of Daily Living/ ADL) tidak terganggu (4) Menjaga kebersihan dan tampilan personal (5) Menunjukkan nafsu makan yang normal (6) Mematuhi rejimen pengobatan

(7) Tidak mengalami gangguan daya tahan otot (8) Tidak mengalami kelelahan

5) Defisiensi pengetahuan a) Definisi

Ketiadaan atau defisiensi informasi kognitif yang berkaitan dengan topik tertentu.

b) Batasan karakteristik

(1) Ketidakakuratan melakukan tes (2) Ketidakakuratan mengikuti perintah (3) Kurang pengetahuan

(4) Perilaku tidak tepat (misal, histeria, bermusuhan, agitasi, apatis)

c) Faktor yang berhubungan (1) Gangguan fungsi kognitif

(2) Gangguan memori (3) Kurang informasi

(4) Kurang sumber pengetahuan

(5) Salah pengertian terhadap orang lain d) NOC

(1) Pengetahuan : proses penyakit (2) Pengetahuan : perilaku kesehatan (3) Pengetahuan : manajemen infeksi (4) Pengetahuan prosedur perawatan e) Kriteria hasil

(1) Menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis, dan program pengobatan

(2) Memahami mengenai cara penularan penyakit

(3) Menyatakan pemahaman mengenai strategi mengelola stres dan mencegah penyebaran penyakit menular

(4) Mampu melaksanakan prosedur yang di jelaskan secara benar

(5) Mampu menjelaskan kembali apa yang di jelaskan perawat/tim

(6) Menyatakan pemahaman tentang tindakan untuk meningkatkan daya tahan terhadap infeksi

f) NIC

(1) Pengajaran : proses penyakit

(a) Kaji tingkat pengetahuan pasien terkait dengan proses penyakit yang spesifik

(b) Jelaskan patofisiologi penyakit dan bagaimana hubungannya dengan anatomi dan fisiologi (c) Review pengetahuan pasien mengenai kondisinya (d) Jelaskan tanda dan gejala yang umum dari penyakit (e) Jelaskan alasan dibalik manajemen/terapi/penanganan (f) Eksplorasi sumber-sumber dukungan yang ada

(2) Pengajaran : peresepan obat-obatan

(a) Informasikan pasien mengenai nama generik dan merek dagang dari setiap obat

(b) Instruksikan pasien mengenai tujuan dan kerja setiap obat

(c) Instruksikan pasien mengenai dosis, rute dan durasi setiap obat

(d) Kenali pengetahuan pasien mengenai obat-obatan (e) Informasikan pasien konsekuensi tidak memakai obat

atau menghentikan pemakaian obat secara tiba-tiba (f) Instruksikan pasien mengenai kemungkinan efek

samping

(g) Instruksikan pasien bagaimana cara membeli obat-obatan yang diresepkan

(3) Pengajaran : prosedur/perawatan

(a) Informasikan pada pasien dan orang terdekat mengenai lama tindakan akan berlangsung

(b) Kaji pengalaman pasien sebelumnya dan tingkat pengetahuan pasien terkait tindakan yang akan dilakukan

(c) Jelaskan tujuan tindakan yang akan dilakukan (d) Jelaskan prosedur/penanganan

(e) Berikan kesempatan bagi pasien untuk bertanya ataupun mendiskusikan perasaanya

(f) Libatkan keluarga atau orang terdekat d. Proses skoring prioritas masalah

1) Rumus skoring

Jika dalam sebuah keluarga terdapat lebih dari satu masalah kesehatan, maka diperlukan sebuah rumus skoring untuk menentukan prioritas masalah.

Tabel 2.1 Skoring diagnosis keperawatan menurut Ballon dan Maglaya, 1978 (dalam Suprajitno, 2014, p. 46) :

No. Kriteria Skor Bobot 2. Kemungkinan masalah dapat diubah

Skala : 3. Potensi masalah untuk dicegah

Skala :

Masalah berat, harus segera ditangani Ada masalah, tetapi tidak perlu

a) Tentukan skornya sesuai dengan kriteria yang dibuat perawat b) Selanjutnya skor dibagi dengan skor tertinggi dan dikalikan

dengan bobot.

Skor yang diperoleh Angka tertinggi

c) Jumlahkanlah skor untuk semua kriteria (skor maksimum sama dengan jumlah bobot, yaitu 5).

3) Penentuan prioritas sesuai dengan kriteria adalah (dalam Riasmini, 2017, p.79):

a) Kriteria yang pertama, yaitu sifat masalah, bobot yang lebih berat diberikan pada masalah aktual karena yang pertama memerlukan tindakan segera dan biasanya disadari serta dirasakan oleh keluarga.

b) Kriteria kedua, yaitu untuk kemungkinan masalah dapat diubah perawat perlu memperhatikan terjangkaunya faktor-faktor sebagai berikut :

(1) Pengetahuan yang ada, teknologi dan tindakan untuk X bobot

menangani masalah.

(2) Sumber daya keluarga dalam bentuk fisik, keuangan dan tenaga.

(3) Sumber daya perawat dalam bentuk pengetahuan, ketrampilan dan waktu.

(4) Sumber daya masyarakat dalam bentuk fasilitas, organisasi dan sokongan masyarakat.

c) Kriteria ketiga, yaitu potensi masalah dapat dicegah. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan adalah :

(1) Kepelikan dari masalah, yang berhubungan dengan penyakit atau masalah.

(2) Lamanya masalah yang berhubungan dengan penyakit atau masalah.

(3) Tindakan yang sedang dijalankan adalah tindakan yang tepat dalam memperbaiki masalah.

(4) Adanya kelompok high risk atau kelompok yang sangat peka menambah potensi untuk mencegah masalah.

d) Kriteria keempat, yaitu menonjolnya masalah, perawat perlu menilai persepsi atau bagaimana keluarga melihat masalah kesehatan tersebut.

e. Perencanaan

Menurut Padila (2012, p.11) merupakan proses yang terdiri dari penetapan tujuan, mencakup tujuan umum dan khusus, rencana

intervensi dilengkapi dengan rencana evaluasi yang memuat kriteria dan standar. Tujuan dirumuskan secara spesifik (S), dapat diukur (measurable/M), dapat dicapai (achivable/A), rasional (R)dan menunjukkan waktu (T).

Menurut Ali (2010, p. 63) rencana keperawatan yang baik harus memenuhi syarat sebagai berikut :

1) Harus berdasarkan masalah yang telah disusun dengan jelas dan benar.

2) Realistis dan dapat dilaksanakan (ada sarana, metodelogi, dan sumber daya manusianya),

3) Rencana dibuat bersama dengan keluarga.

4) Dibuat secara tertulis agar dapat ditindaklanjuti oleh orang lain secara berkesinambungan dan mudah dievaluasi.

5) Difokuskan pada tindakan yang dapat mencegah atau meringankan masalah.

f. Implementasi

Menurut Padila (2012, p.113) tindakan keperawatan yang diberikan pada keluarga meliputi :

1) Menstimulasi kesadaran atau penerimaan keluarga mengenal masalah dan kebutuhan kesehatan dengan cara :

a) Memberikan informasi : penyuluhan atau konseling.

b) Mengidentifikasi kebutuhan dan harapan tentang kesehatan.

c) Mendorong sikap emosi yang sehat terhadap masalah.

2) Menstimulasi keluarga memutuskan cara perawatan yang tepat, dengan cara :

a) Mengidentifikasi konsekuensi tidak melakukan tindakan.

b) Mengidentifikasi sumber-sumber yang dimiliki.

c) Mendiskusikan tentang konsekuensi setiap tindakan.

3) Memberikan keperacayaan diri dalam merawat anggota yang sakit :

a) Mendemonstrasikan cara perawatan.

b) Menggunakan alat dan fasilitas yang ada di rumah.

c) Mengawasi dalam melakukan tindakan/perawatan.

4) Membantu keluarga menemukan cara bagaimana membuat lingkungan menjadi :

a) Menemukan sumber yang dapat digunakan.

b) Melakukan perubahan lingkungan bersama seoptimal mungkin.

5) Memotivasi keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan di sekitarnya, dengan cara :

a) Memperkenalkan fasilitas dalam lingkungan internal.

b) Membantu anggota menggunakan fasilitas yang ada.

g. Evaluasi

Menurut Suprajitno (2014, p.57) evaluasi disusun dengan menggunakan SOAP yang operasional dengan S sebagai ungkapan subjektif mengenai perasaan/keluhan keluarga setelah diberikan

tindakan. O adalah keadaan yang dapat diidentifikasi perawat menggunakan pengamatan objektif setelah tindakan. A merupakan analisis perawat setelah mengetahui respons subjektif dan objektif, kemudian dibandingkan dengan kriteria dan standar yang telah ditentukan, mengacu pada tujuan rencana keperawatan. P adalah perencanaan selanjutnya setelah perawat melakukan analisis.

Menurut Ali (2010, p.90) langkah dalam evaluasi terdiri dari:

1) Tetapkan data dasar (baseline) dari masalah kesehatan individu atau seluruh anggota. Fungsinya menguraikan secara khusus keadaan yang sekarang.

2) Rumuskan tujuan keperawatan khusus dalam bentuk hasil klien.

3) Tentukan kriteria dan standar untuk evaluasi. Kriteria dapat berhubungan dengan sumber daya dan proses atau hasil, bergantung pada dimensi evaluasi yang diinginkan.

4) Tentukan metode/teknik evaluasi serta sumber data.

5) Bandingkan keadaan nyata (sesudah perawatan) dengan kriteria dan standar untuk evaluasi.

6) Carilah penyebab dari intervensi yang kurang memuaskan.

D. Konsep Dasar Lansia 1. Pengertian lansia

Lansia adalah bagian dari proses tumbuh kembang. Lansia merupakan suatu proses alami dan semua orang akan mengalami proses

menjadi tua dan masa tua merupakan masa manusia yang terakhir. Dimasa ini seseorang mengalami kemunduran fisik, mental dan sosial secara bertahap. Azizah (2011, p. 106)

2. Pembagian lansia

Menurut Sunaryo (2016, p. 56) pembagian lansia terdiri dari : a. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dibagi menjadi :

1) Usia pertengahan (middle age) yaitu 45-59 tahun 2) Lanjut usia (elderly) yaitu 60-74 tahun

3) Lanjut usia tua (old) yaitu 75-90 tahun

4) Usia sangat tua (very old) yaitu diatas 90 tahun b. Menurut Departemen Kesehatan RI :

1) Kelompok menjelang usia lanjut (45-54 tahun) sebagai masa vibrilitas

2) Kelompok usia lanjut (55-64 tahun) sebagai masa presenium 3) Kelompok usia lanjut (lebih dari 65 tahun) sebagai masa senium 3. Proses penuaan

Menurut Mubarak dkk (2009, p. 140) proses penuaan merupakan proses alamiah setelah tiga tahap kehidupan, yaitu masa anak, masa dewasa dan masa tua yang tidak dapat dihindari. Pertambahan usia akan menimbulkan perubahan pada struktur dan fisiologis dari berbagai sel/jaringan/organ dan sistem yang ada pada tubuh manusia. Kemunduran ini menimbulkan kemunduran fisik maupun psikis

4. Perubahan pada lansia menurut Mubarak dkk (2009, p. 152)

a. Perubahan kondisi fisik

Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai ke semua sistem organ

Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai ke semua sistem organ

Dokumen terkait