• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORI

D. Konsep Lansia

2. Pembagian

Menurut Sunaryo (2016, p. 56) pembagian lansia terdiri dari : a. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dibagi menjadi :

1) Usia pertengahan (middle age) yaitu 45-59 tahun 2) Lanjut usia (elderly) yaitu 60-74 tahun

3) Lanjut usia tua (old) yaitu 75-90 tahun

4) Usia sangat tua (very old) yaitu diatas 90 tahun b. Menurut Departemen Kesehatan RI :

1) Kelompok menjelang usia lanjut (45-54 tahun) sebagai masa vibrilitas

2) Kelompok usia lanjut (55-64 tahun) sebagai masa presenium 3) Kelompok usia lanjut (lebih dari 65 tahun) sebagai masa senium 3. Proses penuaan

Menurut Mubarak dkk (2009, p. 140) proses penuaan merupakan proses alamiah setelah tiga tahap kehidupan, yaitu masa anak, masa dewasa dan masa tua yang tidak dapat dihindari. Pertambahan usia akan menimbulkan perubahan pada struktur dan fisiologis dari berbagai sel/jaringan/organ dan sistem yang ada pada tubuh manusia. Kemunduran ini menimbulkan kemunduran fisik maupun psikis

4. Perubahan pada lansia menurut Mubarak dkk (2009, p. 152)

a. Perubahan kondisi fisik

Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai ke semua sistem organ tubuh diantaranya sistem pernapasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler, sistem pengaturan tubuh, muskuloskeletal, gastrointestinal, urogenital, endokrin dan integument.

b. Perubahan kondisi mental

Pada umumnya lansia mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Perubahan mental ini erat kaitanya dengan perubahan fisik, keadaan kesehatan, tingkat pendidikan/pengetahuan, lingkungan.

c. Perubahan psikososial

Masalah perubahan psikososial serta reaksi individu terhadap perubahan ini sangat beragam, bergantung pada kepribadian individu yang bersangkutan.

5. Permasalahan yang terjadi pada lansia

Menurut Mubarak dkk (2009, p. 155) permasalahan yang sering terjadi : a. Permasalahan yang berkaitan dengan pencapaian kesejahteraan lansia

Diantaranya ketidakberdayaan fisik, ketidakpastian ekonomi, membuat teman baru untuk mendapat ganti mereka yang telah meninggal/pindah, mengembangkan aktivitas baru untuk mengisi waktu luang, belajar memperlakukan anak-anak yang tumbuh dewasa.

b. Masalah kesehatan utama

Masalah kesehatan utama seperti penyakit jantung, penyakit keganasan seperti kanker, penyakit ginjal, penyakit paru akut, penyakit vascular,

PPOM, arthritis dan kelainan pada kulit dan kecelakaan.

c. Peningkatan stressor

Dapat diakibatkan adanya hemiplegi, defisit sensorik, hospitalisasi, tinggal di rumah perawatan, kesulitan berbicara, kehilangan anak dan teman, pemindahan benda yang memiliki arti, serta cara kerja yang tidak bisa dilakukan sebagaimana pada waktu muda.

d. Respon obat

Permasalahan berkaitan dengan respon obat pada lansia dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya menurunya absorpsi obat, perubahan distribusi dan metabolisme obat, serta menurunnya sekresi obat.

e. Post power sindrom

Merupakan keadaan maladjustment mental dari seseorang yang mempunyai kedudukan dari ada menjadi tidak ada dan menunjukkan gejala frustasi, depresi pada orang yang bersangkutan.

E. Proses Asuhan Keperawatan Lansia

Menurut Mubarak dkk (2009, p. 168) langkah dalam asuhan keperawatan lansia :

1. Pengkajian pada lansia yang meliputi aspek : a. Fisik atau biologis

Dilakukan dengan wawancara riwayat kesehatan b. Psikologis

Dilakukan saat berkomunikasi dengan klien untuk mengetahui fungsi

kognitif, termasuk daya ingat, proses pikir, alam perasaan c. Sosial ekonomi

Menanyakan tentang bagaimana membina keakraban dengan teman sebaya, lingkungan sosial dan penghasilan yang diperoleh

d. Spiritual

Merupakan keyakinan agama yang dianut dan sejauh mana menerapkan keyakinan dalam kehidupan sehari-hari.

e. Kognitif

Mengkaji kondisi kognitif, seperti apakah daya ingat mengalami penurunan, mudah lupa.

f. Status mental

Mengkaji kondisi status mental, apakah mudah tersinggung, emosi labil/stabil

2. Diagnosa keperawatan lansia menurut Azizah (2011, p. 158) a. Fisik/biologis :

1) Gangguan nutrisi : Kurang/berlebihan dari kebutuhan tubuh sampai dengan pemasukan yang tidak adekuat

2) Gangguan persepsi sensorik : Pendengaran, penglihatan sampai dengan hambatan penerimaan dan pengiriman saraf

3) Kurangnya perawatan diri sampai dengan penurunan minat perawatan diri

4) Potensial cidera fisik sampai dengan penurunan fungsi tubuh 5) Gangguan pola tidur samapi dengan kecemasan atau nyeri

6) Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan penyempitan jalan napas atau adanya sekret pada jalan napas

7) Gangguan mobilitas fisik sampai dengan kekuatan sendi b. Psikologis dan social

1) Isolasi sosial sampai dengan perasaan curiga

2) Menarik diri dari lingkungan sampai perasaan tidak mampu 3) Depresi sampai dengan isolasi social

4) Harga diri rendah sampai dengan perasaan ditolak

5) Koping tidak adekuat sampai ketidakmampuan mengemukakan perasaan secara tepat

6) Cemas sampai dengan sumber keuangan yang terbatas 7) Spiritual

8) Reaksi berkabung atau berduka sampai dengan ditinggal pasangan 9) Penolakan terhadap proses penuaan sampai dengan ketidak siapan

menghadapi kematian

10) Marah terhadap Tuhan sampai dengan kegaggalan yang dialami 11) Perasaan tidak senang sampai dengan ketidak mampuan

melakukan ibadah secara tepat

3. Intervensi menurut Mubarak dkk (2009, p. 250) a. Pemenuhan kebutuhan nutrisi

1) Berikan makanan porsi kecil tapi sering

2) Banyak minum dan kurangi makanan yang terlalu asin 3) Berikan makanan yang mengandung serat

4) Batasi pemberian makanan yang tinggi kalori 5) Membatasi minum kopi dan teh

b. Meningkatkan keselamatan dan keamanan

1) Biarkan menggunakan alat bantu untuk meningkatkan keselamatan 2) Latih mobilisasi dengan cara pindah dari tempat tidur satu ke kursi 3) Biasakan menggunakan pengaman tempat tidur jika sedang tidur 4) Bantu berjalan ke kamar mandi

5) Usahakan ada yang menemani bila berpergian c. Kebersihan diri

1) Mengingatkan atau membantu melakukan upaya kebersihan diri 2) Menganjurkan menggunakan sabun lunak dan pelembab kulit 3) Mengingatkan untuk membersihkan lubang telinga, mata dan

gunting kuku secara teratur

d. Pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur

1) Menyediakan tempat atau waktu untuk tidur yang nyaman

2) Mengatur lingkungan yang cukup ventilasi, bebas dari bau-bauan 3) Melatih melakukan latihan fisik yang ringan

4) Memberikan minum hangat sebelum tidur e. Meningkatkan hubungan personal dan komunikasi

1) Ada kontak mata ketika berkomunikasi

2) Memberikan stimulus/mengingatkan kegiatan yang akan dilakukan 3) Memberikan kesempatan mengekspresikan respon non verbal 4) Melibatkan dalam kegiatan keseharian sesuai kemampuan

\

Sumber : Muttaqin (2008, p.89), NANDA (2015), Padila (2012, p.36) Kelemahan, lemas

Reaksi infeksi/inflamasi, membentuk kavitas, merusak parenkim paru

Edema trakeal /

60

METODE PENULISAN

A. Rancangan Penulisan

Karya tulis ilmiah ini dibuat dengan metode deskriptif menggunakan desain penelitian studi kasus. Menurut Donsu (2016, p.97) desain penelitian deskriptif mendeskripsikan variabel penelitian, berdasarkan hasil yang diambil dari populasi secara akurat dan sistematis. Penulis memaparkan kasus melalui pendekatan proses keperawatan yang memfokuskan tindakan pada salah satu masalah penting di lingkup keluarga yang sudah dipilih yaitu Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Tuberculosis Paru Di Wilayah Kerja Puskesmas Jurangombo Kota Magelang.

B. Subjek Penulisan

Menurut Sastroasmoro (2011, p.90) subjek terpilih merupakan bagian dari populasi terjangkau yang direncanakan untuk diteliti langsung.

Mereka adalah subjek yang memenuhi kriteria pemilihan, yaitu kriteria inklusi dan eksklusi.

1. Kriteria inklusi :

a. Bersedia menjadi responden b. Dapat berkomunikasi dengan baik

c. Penderita dengan BTA positif (+) maupun BTA negatif (-) 2. Kriteria eksklusi :

a. Penderita sudah selesai dalam fase pengobatan

b. Penderita Tuberculosis dengan komplikasi C. Tempat dan Waktu

1. Tempat penelitian :

Studi kasus Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Tuberculosis Paru dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Jurangombo Kota Magelang.

2. Waktu penelitian :

Pelaksanaan studi kasus dilakukan pada tanggal 8-12 januari 2018.

D. Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan untuk pengkajian yaitu : 1. Wawancara

Menurut Ali (2010 p.43) wawancara dilakukan untuk mengetahui data subjektif dalam aspek fisik, mental, sosial budaya, ekonomi, kebiasaan, adat istiadat, agama, lingkungan. Penulis melakukan wawancara secara langsung kepada klien mengenai keluhan yang dirasakan saat dilakukan pengkajian, riwayat kesehatan sekarang meliputi sejak kapan keluhan dirasakan, tindakan apa yang sudah dilakukan, bagaimana respon dari tindakan yang telah dilakukan dan sejak kapan klien melakukan pengobatan di Puskesmas. Kemudian penulis juga menanyakan riwayat kesehatan dahulu seperti apakah klien pernah memiliki penyakit yang sama ataupun masalah yang lain. Riwayat kesehatan keluarga ditanyakan untuk mengetahui apakah keluarga memiliki riwayat penyakit herediter dan infeksius seperti Diabetes Mellitus, Tuberculosis, Hipertensi.

2. Observasi

Menurut Hasdianah dkk (2015, p.79) observasi tidak hanya mengukur sikap dari responden (wawancara dan angket) tapi juga merekam fenomena yang terjadi (situasi, kondisi). Observasi dilakukan untuk mengetahui hal yang secara langsung bersifat fisik (ventilasi, kebersihan, penerangan) atau benda lain (data objektif). Penyakit Tuberculosis dapat dipengaruhi oleh ventilasi, kebersihan maupun penerangan yang dimiliki oleh keluarga. Sangat penting bagi perawat untuk melakukan pengamatan mendalam mengenai tiga hal diatas.

3. Pemeriksaan fisik

Menurut Setiawati, Santun & Agus Citra Dermawan (2008, p.9) pemeriksaan fisik merupakan tindakan berkelanjutan dalam mengidentifikasi klien untuk mendapatkan data, bisa berupa data subjektif (pernyataan klien, keluarga) maupun objektif (inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi). Dalam Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Tuberculosis Paru pemeriksaan fisik tidak hanya dilakukan pada anggota yang sakit tapi juga seluruh anggota. Metode yang digunakan sama dengan pemeriksaan fisik klinik.

4. Studi dokumentasi

Menurut Ali (2010, p.43) studi dokumentasi dilakukan dengan melihat dan mengkaji dokumen yang ada, seperti catatan kesehatan, kartu keluarga, kartu menuju sehat, literatur maupun catatan pasien di Puskesmas.

E. Instrumen Pengumpulan Data

Menurut Hasdianah dkk (2015, p.63) instrumen pengumpulan data merupakan alat yang digunakan untuk mengumpulkan data. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu :

1. Lembar/format asuhan keperawatan 2. Alat tulis

3. Alat kesehatan (tensimeter, stetoskop) F. Analisa Data dan Penyajian Data

Menurut Hasdianah dkk (2015, p.63) metode analisa data menjelaskan bagaimana seorang peneliti mengubah data hasil menjadi informasi yang dapat digunakan untuk mengambil kesimpulan penelitian.

Analisa data yang dilakukan untuk menilai kesenjangan antara teori yang telah dijelaskan dalam tinjauan pustaka dengan respon klien yang telah dipilih menjadi responden. Analisa data dimulai dari pengumpulan data melalui wawancara/anamnesa, observasi dan pemeriksaan fisik. Selanjutnya data dianalisa untuk bisa menyusun rencana keperawatan. Kemudian melakukan tindakan keperawatan sesuai waktu dalam rencana yang telah dibuat dan mengevaluasi keadaan klien setelah dilakukan tindakan sesuai tujuan yang telah direncanakan.

Data disajikan dalam bentuk narasi/tekstular sesuai dengan desain penelitian studi kasus dan dapat disertai dengan cuplikan ungkapan verbal dari subjek penelitian yang merupakan data pendukungnya.

G. Etika Penulisan

Menurut Sastroasmoro (2011, p.384) salah satu aspek penting etika penelitian adalah keharusan adanya Informed consent (persetujuan setelah penjelasan) dari responden yang dijadikan subjek penelitian.

65

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

1. Pengkajian

Pengkajian dilakukan hari Senin 8 Januari 2018 pukul 15.00 WIB secara langsung. Klien bernama Tn. S. Tipe keluarga yaitu nuclear family, terdiri dari Tn. S (71 tahun) sebagai kepala keluarga, pendidikan terakhir SD, bekerja sebagai tukang becak. Ny. S (58 tahun), istri, pendidikan terakhir SD, bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Sdr. R (24 tahun) anak pertama, pendidikan terakhir SMP, bekerja sebagai buruh pabrik.

Sdri. N (21 tahun) anak kedua, pendidikan terakhir SMK, bekerja sebagai karyawan pabrik. Keluarga berasal dari suku Jawa, berbangsa Indonesia, menganut agama Islam dan bertempat tinggal di Jurangombo Selatan, Kota Magelang.

Selama sakit klien tidak bekerja sama sekali. Pendapatan bulanan diperoleh dari istri sebesar Rp. 950.000,00 dan Nn. N ± Rp. 1.000.000,00.

Penghasilan digunakan untuk keperluan sehari-hari, seperti belanja kebutuhan harian dan keperluan bulanan seperti membayar listrik Rp.

25.000,00 dan air Rp. 20.000,00. Klien mengatakan jarang bepergian ke suatu tempat untuk rekreasi bersama namun sering menonton TV atau mendengarkan radio bersama anggota yang lain.

Genogram

Gambar 4.1 Genogram keluarga Tn. S

Keterangan :

: Laki-laki meninggal : Perempuan

: Laki-laki

: Identifikasi klien sakit : Tinggal dalam satu rumah

Klien tinggal bersama istri dan anak keduanya, karena anak pertama memilih menempati rumah almarhum orang tua Ny. S yang lebih dekat dengan tempat kerjanya. Keluarga memasuki tahap perkembangan ke VI dengan anak dewasa muda (pelepasan). Tugas yang sudah terpenuhi yaitu membantu anak hidup mandiri di rumah dan masyarakat, mempertahankan komunikasi dua arah. Tugas yang belum dipenuhi yaitu memperluas keluarga inti menjadi besar.

Keluarga tidak mempunyai penyakit menurun seperti tekanan darah tinggi, Diabetes Mellitus, maupun penyakit menular seperti Tuberculosis Paru. Tn. S belum pernah menderita Tuberculosis Paru. Beliau

mengatakan awalnya mengalami batuk kurang lebih dua bulan, sekitar bulan Oktober-November, berkeringat di malam hari sampai mengira jika dirinya mengompol, dan kadang sesak nafas.

Klien periksa ke RSU Tidar Kota Magelang tanggal 14 Desember 2017, lalu dilakukan pemeriksaan dahak sewaktu-pagi-sewaktu dan rontgen, dengan hasil BTA (Basil Tahan Asam) positif (+) dan rontgen thoraks positif (+). Klien melakukan pengobatan rutin di Puskesmas Jurangombo mulai tanggal 6 Januari 2018 dan memperoleh 2 macam obat yaitu obat kombinasi Rifampisin, Isoniazid, Pyrazinamid, Ethambutol Hydrochloride diminum satu kali sehari sebanyak 3 tablet dan multivitamin Hemafort 1 kali sehari setelah makan, keduanya diminum pada pagi hari.

Rumah yang ditempati milik sendiri. Ukuran panjang 4 m lebar 3 m menghadap selatan. Rumah terdiri dari 4 ruang yaitu 1 ruang tamu, 1 kamar tidur, 1 dapur dan 1 kamar mandi. Keseluruhan lantai adalah semen dan kedap air, dinding dari kayu pada bagian depan, bagian belakang dari bambu dengan atap genteng. Rumah tidak mempunyai jendela, ruangan pengap, gelap, dan lembab. Tirai kamar tidak disampirkan meskipun kamar digunakan secara bersama. Pencahayaan dari sinar matahari didapat dari pintu depan jika sedang dibuka. Perabotan rumah diletakkan pada tempatnya, kondisi ruangan tidak berantakan dan tertata rapi.

Penerangan menggunakan listrik dari tetangga, sumber air bersih dari PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) untuk memasak dan mandi cuci

kakus (mck) dari tetangga. Jarak rumah dengan septictank sekitar 4 m.

Sampah dibuang dipenampungan sementara di dapur.

Gambar 4.1 Denah rumah Tn. S

Luas rumah : panjang 4 m lebar 3 m Keterangan :

1. Ruang tamu dan keluarga 2. Kamar tidur

3. Dapur

4. Kamar mandi

Keluarga tinggal di pemukiman padat penduduk, jarak antar rumah dekat ± 1 – 2 m. Sejak menikah belum pernah pindah. Sarana transportasi yaitu angkutan umum dan sepeda motor. Tetangga sekitar ramah.

Interaksi dengan masyarakat baik, keluarga aktif mengikuti kegiatan sosial, seperti yasinan malam jumat, arisan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga PKK ibu-ibu tanggal 8 dan bapak-bapak tanggal 10. Tempat tinggal dekat dengan fasilitas pelayan kesehatan. Semua anggota mempunyai Kartu Indonesia Sehat (KIS).

U

1 2

3 4

Sistem komunikasi terbuka, jika ada masalah diselesaikan dengan musyawarah. Orang paling berpengaruh yaitu Tn. S, meskipun demikian apabila ada masalah tetap diselesaikan bersama. Semua anggota dapat menjalankan perannya masing-masing. Bila ada yang sakit biasanya dikerok di punggung dan di belikan obat warung, jika belum sembuh lalu dibawa ke pelayanan kesehatan.

Keluarga saling menyayangi dan memberikan perhatian. Anak dan istri bergantian mengantar klien kontrol. Hubungan dengan masyarakat sekitar baik, anggota aktif dalam mengikuti kegiatan di daerahnya, kecuali Tn. S karena saat ini sedang sakit. Ny. S sudah tidak menggunakan alat kontrasepsi dengan alasan sudah menopause. Penghasilan tiap bulan dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan harian, seperti pangan maupun bulanan seperti membayar air dan listrik.

Keluarga mampu mengenal masalah kesehatan terkait Tuberculosis Paru, ditandai dengan anggota yang mengatakan penyakit tersebut disebabkan oleh kuman, bisa ditularkan saat bersin dan batuk. Tandanya batuk, demam, keringat malam dan sesak nafas. Tn. S belum menggunakan masker dalam kesehariannya. Ketika batuk belum menutup mulut dengan tisu maupun tangan. Keluarga sudah memisahkan tempat makan. Klien mengatakan setelah minum obat, batuk dan sesak nafas berkurang, tidak mengalami keringat di malam hari lagi. Makan sehari 3 kali dengan nasi dan sayur, tidak menyampaikan adanya keluhan penurunan nafsu makan. Kemampuan dalam mengambil keputusan sudah

dapat dilaksanakan, dilihat dari klien rutin kontrol seminggu sekali ke Puskesmas dengan anak atau istri. Kemampuan merawat anggota yang sakit tidak maksimal karena Tn. S belum memakai masker dan belum menutup mulut saat batuk. Kemampuan memodifikasi lingkungan belum bisa dilaksanakan dengan baik, karena pintu depan dan tirai penutup kamar tidak dibuka, rumah tidak mempunyai jendela, suasana pengap, lembab dan gelap. Bila sakit, langsung memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan dengan menggunakan KIS.

Keluarga mengatakan stres jangka pendek yaitu ketika ada yang sakit maka roda perekonomian terganggu, sedang untuk jangka panjang yaitu adanya keinginan untuk meningkatkan dan mewujudkan kesehatan.

Penanganan untuk stres jangka pendek yaitu selau memberikan dukungan pada anggota yang sakit agar cepat sembuh, untuk jangka panjang dengan menjaga kesehatan badan, makan teratur dan istirahat cukup. Support system baik, selama sakit anak dan istri bergantian mengantar periksa seminggu sekali ke Puskesmas Jurangombo. Tn. S sudah berhenti merokok ± 1 tahun lalu. Keluarga saling membantu, mendukung serta merawat satu sama lain.

Pemeriksaan fisik

Tabel 4.1 Pemeriksaan Fisik Keluarga Tn. S

Pemeriksaan Anggota Keluarga

TTV TD : 130/80 mmHg TD:130/90 mmHg TD : 110/70 mmHg

RR : 24 x/menit Mata Sklera tidak ikterik,

konjungtiva tidak

Hidung Tidak ada masalah penciuman.

Tidak ada masalah penciuman.

Tidak ada masalah penciuman.

Telinga Simetris, tidak ada gangguan

pendengaran.

Simetris, tidak ada gangguan

pendengaran.

Simetris, tidak ada gangguan Jantung I: Ictus cordis tidak

terlihat

A: S1 dan S2 reguler

I : Ictus cordis

2. Perumusan Masalah

Hasil pengkajian tanggal 8 Januari ditemukan data bahwa batuk dan sesak nafas berkurang sejak berobat, tidak mengalami keringat di malam hari lagi. Keluarga mengatakan Tuberculosis Paru disebabkan oleh kuman, yang ditularkan saat batuk. Tandanya batuk, demam, keringat malam dan sesak nafas. Tn. S belum menggunakan masker dalam kesehariannya, dengan alasan tidak punya. Ketika batuk belum menutup mulut dengan tisu maupun tangan. Alat makan sudah dipisah. Rumah tidak mempunyai jendela, lembab dan pengap. Cahaya matahari masuk melalui pintu depan jika dibuka. Tirai kamar belum disampirkan meskipun kamar digunakan secara bersama. Support system baik, anak dan istri bergantian mengantar periksa ke Puskesmas Jurangombo.

Prioritas diagnosa ditentukan sebagai berikut :

a. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota yang sakit.

Tabel 4.1 Skala Prioritas Diagnosa Keperawatan Keluarga 1

No Kriteria Hitungan Skor Pembenaran

1 Sifat masalah : Tidak/kurang sehat

3/3 x 1 1 Masalah sudah terjadi

2 Kemungkinan masalah dapat diubah :

Dengan mudah

2/2 x 2 2 Masalah masih dapat di ubah karena ingin mengetahui tentang penyakitnya, dan cara perawatannya dengan cara melakukan pendidikan kesehatan mengenai Tuberculosis Paru

4 Menonjolnya masalah :

Harus segera ditangani

2/2 x 2 2 Dirasa sebagai masalah karena harus segera ditangani

Total : 5 2/3

b. Risiko infeksi berhubungan dengan ketidaksanggupan keluarga memodifikasi lingkungan

Tabel 4.2 Skala Prioritas Diagnosa Keperawatan Keluarga 2

No Kriteria Hitungan Skor Pembenaran

1 Sifat masalah : Ancaman kesehatan

2/3 x 1 2/3 Tn. S tidak memakai masker dan tidak menutup mulut saat batuk. Keluarga belum membuka pintu dan jendela, kondisi pengap dan lembab.

2 Kemungkinan masalah dapat diubah :

Dengan mudah

2/2 x 2 2 Mendemonstrasikan tata rumah yang harus dibenahi. Usaha untuk memberikan ventilasi yang baik. apabila mau melakukan apa yang sudah di ajarkan 4 Menonjolnya lingkungan tidak perlu ditangani.

Total : 4 4/3

3. Perencanaan

Perencanaan dilakukan hari Selasa 8 Januari 2018 pukul 15.00 WIB dengan tujuan umum yaitu setelah dilakukan tindakan keperawatan berupa pemberian pendidikan kesehatan dan demonstrasi dengan media leaflet, masker, tisu dan antiseptik diharapkan keluarga mampu merawat

anggota yang sakit dengan maksimal dan memahami pengaruh Tuberculosis Paru terhadap lingkungan tempat tinggal. Tujuan khususnya yaitu setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 30 menit diharapkan keluarga mampu menjelaskan dengan bahasa mereka sendiri mengenai perawatan dan pengobatan Tuberculosis Paru serta cara memodifikasi lingkungan sehat untuk penyakit tersebut.

Masalah pertama, defisiensi pengetahuan berhubungan dengan ketidakmampuan merawat anggota yang sakit. Intervensinya yaitu kaji tingkat pengetahuan mengenai Tuberculosis Paru, beri penjelasan tentang cara pencegahan, perawatan dan pengobatan, lakukan evaluasi pemahaman tentang cara pencegahan, perawatan dan pengobatan klien, berikan reinforcement positif terkait jawaban keluarga.

Masalah kedua, risiko infeksi berhubungan dengan ketidaksanggupan memodifikasi lingkungan. Intervensinya antara lain demonstrasi etika batuk yang benar, anjurkan menjemur bantal dan kasur di bawah sinar matahari langsung, membuka pintu dan tirai kamar, pentingnya mengikuti aturan pengobatan, evaluasi praktek etika

Batuk dan cuci tangan, berikan reinforcement positif terhadap jawaban klien dan keluarga.

4. Implementasi

Tindakan keperawatan pertama dilakukan pada Rabu, 10 Januari 2018 sekitar pukul 16.30 WIB dengan memberikan penyuluhan meliputi

cara pencegahan, penularan, perawatan dan pengobatan yang harus dijalani klien.

Tindakan keperawatan kedua dilakukan pada Kamis sekitar pukul 16.30 WIB dengan menganjurkan menjemur bantal, kasur dibawah sinar matahari langsung, membuka pintu depan dan menyampirkan tirai kamar, demonstrasi mengenai etika batuk dan cuci tangan serta melibatkan klien untuk mempraktekkan langsung etika batuk dan cuci tangan.

5. Evaluasi

Evaluasi pertama masalah defisiensi pengetahuan dilakukan pada Jumat 12 Januari 2018 sekitar pukul 16.30 WIB, yaitu sebagai berikut :

S : Keluarga mengatakan sudah lebih paham mengenai apa yang harus dilakukan untuk merawat klien. Tn. S mengatakan penyakitnya disebabkan oleh kuman, tandanya batuk lebih dari dua minggu, keringat malam, sesak nafas dan demam, dapat menular saat batuk.

Cara merawatnya dengan minum obat, menggunakan masker, makan banyak, istirahat dan periksa teratur, pengobatan dilakukan selama 6 bulan, kalau

dirinya sesak harus tiduran lebih tinggi.

O : Keluarga mampu menjelaskan kembali dengan bahasa mereka sendiri meskipun beberapa kurang tepat.

A : Masalah ketidakmampuan merawat anggota yang sakit teratasi sebagian

P : Motivasi keluarga untuk menerapkan penjelasan perawat

Evaluasi masalah risiko infeksi berhubungan dengan ketidaksanggupan memodifikasi lingkungan adalah sebagai berikut :

S : Keluarga mengatakan demonstrasi yang diberikan mudah dimengerti.

Klien mengatakan ketika batuk harus berpaling, menutup mulut dan hidung dengan tisu serta janji akan membuka pintu dan tirai kamar.

O : Keluarga antusias dan memperhatikan demonstrasi yang diberikan.

Klien mampu mempraktekkan etika batuk dan cuci tangan meskipun tidak semuanya tepat dan langsung memakai masker dari perawat.

A : Masalah ketidaksanggupan memodifikasi lingkungan teratasi sebagian.

P : Motivasi untuk mempraktekkan apa yang telah di demonstrasikan Evaluasi kedua dilakukan pada Minggu, 14 Januari 2018 sekitar pukul 14.00 WIB mengenai masalah defisiensi pengetahuan, yaitu :

P : Motivasi untuk mempraktekkan apa yang telah di demonstrasikan Evaluasi kedua dilakukan pada Minggu, 14 Januari 2018 sekitar pukul 14.00 WIB mengenai masalah defisiensi pengetahuan, yaitu :

Dokumen terkait