BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2. Konsep Asuhan Keperawatan
Asuhan keperawatan pada DHF meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi.
a. Pengkajian
Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang klien, agar dapat mengidentifikasi, mengenali masalah-masalah, kebutuhan kesehatan, dan keperawatan klien baik fisik, mental, sosial, dan lingkungan (Dermawan, 2012).
Menurut Utami (2013: 161) pengkajian pada DHF dapat dilihat dari: 1) Identitas pasien
Nama, umur ( pada DHF tersering menyerang anak-anak dengan usia kurang 15 tahun), jenis kelamin, alamat, pendidikan, nama orang tua, pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua.
2) Keluhan utama
Alasan/keluhan yang menonjol pada pasien DHF untuk datang kerumah sakit adalah panas tinggi anak lemah.
3) Riwayat penyakit sekarang
Didapatkan adanya keluhan panas mendadak disertai menggigil, saat demam kesadaran komposmentis. Panas menurun terjadi antara hari ke-3 dan ke-7, sementara anak semakin lemah. Kadang-kadang disertai keluhan batuk pilek, nyeri telan, mual, muntah anoreksia, diare/ konstipasi, sakit kepala, nyeri otot dan persendian, nyeri ulu hati dan pergerakan bola mata terasa pegal, serta adanya manifestasi perdarahan pada kulit, gusi (grade III, IV), melena atau hematemesis.
4) Riwayat penyakit yang pernah diderita
Penyakit apa saja yang pernah diderita. Pada DHF, anak bisa mengalami serangan ulangan DHF dengan tipe virus yang lain. 5) Riwayat imunisasi
Bila anak mempunyai kekebalan yang baik, kemungkinan timbul komplikasi dapat dihindarkan.
6) Riwayat gizi
Status gizi anak yang menderita DHF dapat bervariasi. Semua anak dengan status gizi baik, maupun buruk dapat beresiko apabila terdapat faktor predisposisinya. Pada anak yang menderita DHF sering mengalami keluhan mual, muntah dan
nafsu makan menurun. Apabila kondisi ini berlanjut, dan tidak disertai dengan pemenuhan nutrisi yang adekuat anak dapat mengalami penurunan berat badan, sehingga status gizinya menjadi kurang.
7) Kondisi lingkungan
Sering terjadi pada daerah yang padat penduduknya, lingkungan yang kurang kebersihannya (air yang menggenang) dan gantungan baju dikamar.
8) Pola kebiasaan
a) Nutrisi dan metabolisme, yaitu frekuensi, jenis, pantangan, nafsu makan berkurang/menurun.
b) Eliminasi alvi (buang air besar) kadang-kadang anak mengalami diare/konstipasi. DHF pada grade III-IV bisa terjadi melena.
c) Eliminasi urine (buang air kecil) perlu dikaji apakah sering kencing, sedikit/banyak, sakit/tidak. Pada DHF grade IV sering terjadi hematuria.
d) Tidur dan istirahat. Anak sering mengalami kurang tidur karena sakit/nyeri otot dan persendian, sehingga kuantitas dan kualitas tidur, serta istirahat kurang.
e) Kebersihan. Upaya keluarga untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan cenderung kurang terutama tempat sarang nyamuk aedes aegypti.
9) Pemeriksaan fisik berdasarkan tingkatan (grade) DHF, keadaan fisik anak sebagai berikut :
a) Grade I : kesadaran kompos mentis, keadaan lemah, tanda-tanda vital nadi lemah
b) Grade II : kesadaran kompos mentis, keadaan umum lemah, adanya perdarahan spontan petekia, perdarahan gusi dan telinga, nadi lemah, kecil, tidak teratur.
c) Grade III : kesadaran apatis, somnolen, keadaan umum lemah, nadi lemah, kecil, tidak teratur, tensi menurun. d) Grade IV : kesadaran koma, nadi tidak teraba, tensi tidak
terukur, pernapasan tidak teratur, ekstermitas dingin, berkeringat dan kulit nampak biru.
10) Sistem integumen dapat disebutkan sebagai berikut :
a) Kulit adanya petekia, turgor kulit menurun, keringat dingin, lembab.
b) Kuku cyanosis/tidak c) Kepala dan leher
Kepala terasa nyeri, muka tampak kemerahan pada muka karena demam, mata anemis, hidung kadang mengalami mimisan (grade II,III,IV). Pada mulut didapatkan mukosa mulut kering, perdarahan gusi, kotor, dan nyeri telan. Tenggorokan mengalami hiperemiafaring, terjadi perdarahan telinga (grade II, III, IV).
d) Dada
Bentuk simetris, kadang-kadang sesak, pada foto thoraks terdapat adanya cairan yang tertimbun pada paru sebelah kanan (efusi pleeura), rales, ronchi biasanya pada grade III, IV.
e) Pada abdomen terdapat nyeri tekan, pembesaran hati (hepatomegali), dan asites.
f) Ekstermitas, yaitu akral dingin, nyeri otot, dan sendi serta tulang.
b. Masalah Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinik mengenai respon individu, keluarga, dan komunitas terhadap masalah kesehatan / proses kehidupan yang aktual/ potensial yang merupakan dasar untuk memilih intervensi keperawatan untuk mencapai hasil yang merupakan tanggung jawab perawat (Dermawan, 2012).
Menurut Utami (2013) masalah yang dapat ditemukan pada anak dengan DHF antara lain :
1) Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) 2) Nyeri
3) Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi, kurang dari kebutuhan. 4) Potensial terjadinya perdarahan intra abdominal,
6) Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, dan perawatan pasien DHF.
c. Rencana keperawatan
Rencana keperawatan adalah suatu proses didalam pemecahan masalah yang merupakan keputusan awal tentang sesuatu yang akan dilakukan, bagaimana dilakukan, siapa yang melakukan dari semua tindakan keperawatan (Dermawan, 2012)
Pedoman penulisan tujuan dan kriteria hasil berdasarkan SMART. Spesific (tujuan tidak menimbulkan arti ganda). Measureable (tujuan dapat diukur, dapat dilihat, dirasakan dan
dibau). Achieveble (tujuan harus dapat dicapai). Reasonable atau realistic (tujuan harus dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah).
Time ( batasan waktu atau tujuan keperawatan).
Menurut Utami (2013) perencanaan keperawatan pada DHF sebagai berikut :
1) Hipertermia (Suhu tubuh naik diatas rentang normal) a) Kaji saat timbul demam
b) Observasi TTV setiap tiga jam
c) Berikan penjelasan tentang penyebab demam d) Anjurkan pasien untuk banyak minum e) Berikan kompres dingin pada aksilla
g) Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena dan obat-obatan.
2) Gangguan rasa nyaman nyeri a) Kaji skala nyeri
b) Beri posisi nyaman c) Ajarkan relaksasi
d) Kolaborasi pemberian analgetik 3) Gangguan pemenuhunan nutrisi
a) Kaji keluhan mual, muntah, sulit menelan b) Berikan makanan yang mudah ditelan c) Anjurkan makan sedikit tapi sering
d) Catat jumlah porsi makanan yang dihabiskan
4) Potensial terjadinya perdarahan sehubungan dengan trombositopenia
a) Monitor tanda penurunan trombosit b) Monitor jumlah trombosit setiap hari
c) Berikan penjelasan tentang pengaruh trombosit d) Anjurkan pasien untuk banyak istirahat.
3. Hospitalisasi a. Pengertian
Hospitalisasi adalah suatu proses karena suatu alasan darurat atau berencana mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit
menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangan kembali ke rumah (Jovans, 2008).
b. Dampak Hospitalisasi Terhadap Anak
Reaksi anak terhadap sakit dan hospitalisasi dipengaruhi oleh tingkat perkembangan atau usia, pengalaman sebelumnya, support sistem dalam keluarga, keterampilan koping, dan berat ringannya penyakit.
Menurut Jovan (2007), menguraikan reaksi anak dan orang tua terhadap hospitalisasi sebagai berikut :
1) Reaksi anak pada hospitalisasi
a) Masa bayi (0-1 th), dampak perpisahan berpengaruh pada rasa percaya diri dan kasih sayang. Anak usia lebih dari 6 bln akan terjadi stanger anxiety atau cemas dengan respon menangis keras, pergerakan tubuh yang banyak, ekspresi wajah yang tak menyenangkan.
b) Masa todler (2-3 th), sumber stres yang utama adalah cemas akibat perpisahan. Respon perilaku anak menurut tahapannya adalah: a) tahap protes, responnya berupa menangis, menjerit, menolak perhatian orang lain, b) tahap putus asa, respon anak adalah menangis berkurang, anak tidak aktif, kurang menunjukkan minatbermain, sedih, apatis, c) tahap pengingkaran (denial), anak mulai
menerima perpisahan, membina hubungan secara dangkal, anak mulai menyukai lingkungannya.
c) Masa prasekolah (3 sampai 6 tahun). Reaksi yang sering muncul antara lain: menolak makan, sering bertanya, menangis pelan, tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan atau perawatan di rumah sakit kehilangan kontrol, dan pembatasan aktivitas. Sering kali dipersepsikan anak sekolah sebagai hukuman. Sehingga ada perasaan malu, takut dan menimbulkan reaksi agresif, marah, berontak, tidak mau bekerja sama dengan perawat.
d) Masa sekolah (6 sampai 12 tahun). Perawatan di rumah sakit memaksakan meninggalkan lingkungan yang dicintai, keluarga, kelompok sosial sehingga menimbulkan kecemasan. Kehilangan kontrol berdampak pada perubahan peran dalam keluarga, kehilangan kelompok sosial, perasaan takut akan kematian, dan kelemahan fisik. Reaksi nyeri bisa digambarkan secara verbal dan non verbal.
e) Masa remaja (12 sampai 18 tahun) anak remaja begitu percaya dan terpengaruh oleh kelompok sebayanya. Saat masuk rumah sakit anak akan timbul rasa cemas karena perpisahan, sehingga terjadi pembatasan aktifitas. Kehilangan kontrol akan muncul reaksi anak untuk menolak perawatan atau tindakan yang dilakukan, tidak kooperatif
dengan petugas, Perasaan sakit akibat perlukaanmenimbulkan respon anak banyak bertanya, menarik diri, menolak kehadiran orang lain.
c. Faktor yang Mempengaruhi Hospitalisasi
Faktor-faktor yang dapat menimbulkan stress ketika anak menjalani hospitalisasi sangat bervariasi mulai dari faktor lingkungan rumah sakit dapat menjadi suatu tempat yang menakutkan dilihat dari sudut pandang anak-anak. Suasana rumah sakit yang tidak familiar, wajah-wajah yang asing, berbagai macam bunyi dari mesin yang digunakan, dan bau yang khas, dapat menimbulkan kecemasan dan ketakutan baik bagi anak atau orang tua (Norton-Westwood, 2012 dalam Utami 2014).
Faktor berpisah dengan orang yang sangat berarti karena berpisah dengan suasana rumah sendiri, benda-benda yang familiar digunakan sehari-hari, juga Rutinitas yang biasa dilakukan dan juga berpisah dengan anggota keluarga lainnya (Pelander dan Leini-Klipi, 2010 dalam Utami 2014).
Faktor kurangnya Informasi yang didapat anak dan orang tuanya ketika akan menjalani hospitalisasi. Hal ini dimungkinkan mengingat proses hospitalisasi merupakan hal yang tidak umum di alami oleh semua orang. Proses ketika menjalani hospitalisasi juga merupakan hal yang rumit dengan berbagai prosedur yang dilakukan (Gordon dkk, 2010 dalam Utami 2014).
Faktor kehilangan kebebasan dan kemandiriran aturan ataupun Rutinitas rumah sakit, prosedur medis yang dijalani seperti tirah baring, pemasangan infuse dan lain sebagainya sangan mengganggu kebebasan dan kemandirian anak yang sedang dalam taraf perkembangan (Price dan Gwin, 2005 dalam Utami, 2014).
Faktor pengalaman yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan semakin sering seorang anak berhubungan dengan rumah sakit, maka semakin kecil bentuk kecemasan atau malah sebaliknya (Pelander dan Leino-Kilpi, 2010 dalam Utami, 2014).
Faktor perilaku atau interaksi dengan petugas rumah sakit khususnya perawat mengingat anak masih memiliki keterbatasan dalam perkembangan kognitif, bahasa dan komunikasi, kemudian perawat juga merasakan ketika berkomunikasi, berinteraksi dengan pasien anak yang menjadi sebuah tantangan, dan dibutuhkan sensitifitas yang tinggi serta lebih kompleks dibandingkan dengan pasien dewasa. Selain berkomunikasi dengan dengan anak juga sangan dipengaruhi oleh usia anak, kemampuan kognitif, tingkah laku, kondisi fisik dan psikologis tahapan penyakit dan respon pengobatan (Pena dan Juan, 2011 dalam Utami, 2014).
d. Mengatasi Dampak Hospitalisasi pada Anak
Fokus intervensi keperawatan dalam mengatasi dampak hospitalisasi diuraikan oleh Jovan (2007), Hockenberry dan Wilson (2007), sebagai berikut:
1) Meminimalkan stressor
Upaya yang dilakukan untuk meminimalkan stressor adalah dengan mencegah atau mengurangi dampak perpisahan dengan cara melibatkan orang tua berperan aktif dalam perawatan anak, melakukan modifikasi ruang perawatan, mempertahankan kontak dengan kegiatan sekolah, dan bertemu teman sekolah. Untuk mencegah perasaan kehilangan kontrol dapat dilakukan dengan cara menghindari pembatasan fisik jika anak dapat kooperatif, bila anak diisolasi lakukan modifikasi lingkungan, membuat jadwal untuk prosedur terapi, latihan, dan bermain, memberi kesempatan anak mengambil keputusan dan melibatkan orang tua dalam perencanaan kegiatan.
Untuk mengurangi atau meminimalkan rasa takut terhadap perlukaan tubuh dan rasa nyeri, hal ini dilakukan dengan cara mempersiapkan psikologis anak dan orang tua untuk tindakan prosedur yang menimbulkan rasa nyeri, melakukan permainan sebelum melakukan persiapan fisik anak, menghadirkan orang tua bila memungkinkan, menunjukkan sikap empati. Pada tindakan elektif bila memungkinkan menceritakan tindakan yang dilakukan melalui cerita, gambar dan perlu dilakukan pengkajian tentang kemampuan psikologis anak menerima informasi ini dengan terbuka.
2) Memaksimalkan manfaat hospitalisasi
Untuk memaksimalkan manfaat hospitalisasi diupayakan dengan cara membantu perkembangan anak dengan memberi kesempatan orang tua untuk belajar, memberi kesempatan pada orang tua untuk belajar tentang penyakit anak, meningkatkan kemampuan kontrol diri, memberi kesempatan untuk sosialisasi, dan memberi support kepada anggota keluarga.
3) Mempersiapkan anak sebelum masuk rumah sakit
Mempersiapkan anak untuk mendapat perawatan di rumah sakit dilakukan dengan cara mempersiapkan ruang rawat sesuai dengan tahapan usia anak dan mengorientasikan situasi rumah sakit. Pada hari pertama melakukan tindakan sebaiknya petugas di ruangan memperkenalkan perawat dan dokter yang merawatnya, memperkenalkan anak pada pasien yang lain, memberikan label identitas pada anak, menjelaskan aturan rumah sakit, melaksanakan pengkajian, dan melakukan pemeriksaan fisik.
4. Kecemasan a. Pengertian
Kecemasan adalah gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan, tidak mengalami gangguan dalam menilai kenyataan,
kepribadian masih tetap utuh atau tidak mengalami keretakan kepribaadian normal (Hawari, 2008).
Kecemasan adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami perasaan gelisah dan aktivasi sistem saraf autonom dalam merespon ancaman yang tidak jelas. Kecemasan akibat terpejan pada peristiwa traumatik yang dialami individu yang mengalami, menyaksikan atau menghadapi satu atau beberapa peristiwa yang melibatkan kematian aktual atau ancaman kematian atau cidera serius atau ancaman fisik diri sendiri (Doenges, 2006). b. Penyebab kecemasan pada anak
Menurut Ramiah (2003) dalam Triana dan toganing (2009) Beberapa penyebab dari gangguan kecemasan adalah :
1) Traumalitas
2) Stres yang berkepanjangan/depresi. 3) konflik-konflik
4) Ketidakseimbangan kimia dalam tubuh 5) Perubahan struktur otak
6) Stres/trauma/phobia lingkungan. c. Tanda kecemasan pada anak
Menurut Ramiah (2003) dalam Triana dan Toganing, (2009), gejala kecemasan paling sering adalah kejangkelan umum seperti: rasa gugup, jengkel, tegang, dan rasa panik, kemudian sakit kepala seperti: ketegangan otot khususnya kepala di daerah lengkuk dan
tulang punggung menyebabkan sakit kepala, adapun gejala lain yang di rasakan individu saat mengalami kecemasan, yaitu gemetaran pada seluruh tubuh khususnya lengan dan tangan.
Menurut Hawari (2001) dalam Triana dan Toganing, (2009), tanda dan gejala pada individu yang mengalami kecemasan sebagai berikut :
1) Cemas 2) Khawatir 3) Bimbang 4) firasat buruk
5) takut akan pikirannya sendiri
6) mudah tersinggung seperti, merasa tegang, tidak tenang, gelisah, gerakan sering serba salah
7) mudah terkejut seperti, takut sendirian, takaut keramaian dan takut banyak orang
8) mengalami gangguan pola tidur
9) mimpi-mimpi yang menegangkan seperti: gangguan konsentrasi dan daya ingat
10) keluhan somatic seperti : rasa sakit pada otot dan tulang, pendengaran berdengung (tinnitus), berdebar-debar, sesak nafas, gangguan pencernaan, sakit kepala.
d. Klasifikasi Tingkat Kecemasan
Menurut Stuart (2006) dalam jurnal muafifah, dkk (2013), Ada empat tingkat kecemasan, yaitu ringan, sedang, berat dan panik yaitu:
1) Kecemasan ringan
Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. Kecemasan ringan dapat memotivasibelajar dan menghasilkan pertumbuhan dan kreatifitas. Manifestasi yang muncul pada tingkat ini adalah kelelahan, iritabel, lapang persepsi meningkat, kesadaran tinggi, mampu untuk belajar, motivasi meningkat dan tingkah laku sesuai situasi.
2) Kecemasan sedang
Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada masalah yangpenting dan mengesampingkan yang lain sehingga seseorang mengalamiperhatian yang selektif, namun dapat melakukan sesuatu yang terarah. Manifestasi yang terjadi pada tingkat ini yaitu kelelahan meningkat, kecepatan denyut jantung dan pernapasan meningkat, ketegangan ototmeningkat, bicara cepat dengan volume tinggi, lahan persepsi menyempit,mampu untuk belajar namun tidak optimal, kemampuan konsentrasi menurun, perhatian selektif dan terfokus pada rangsangan yang
tidak menambah ansietas, mudah tersinggung, tidak sabar, mudah lupa, marah dan menangis.