• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARLITA YUNGKI MEIDA NIM: P12 008

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ARLITA YUNGKI MEIDA NIM: P12 008"

Copied!
102
0
0

Teks penuh

(1)

TINGKAT KECEMASAN HOSPITALISASI PADA

ASUHAN KEPERAWATAN An. D DENGAN DHF

DIRUANG MELATI 2 RSUD Dr. MOEWARDI

SURAKARTA

DISUSUN OLEH :

ARLITA YUNGKI MEIDA

NIM: P12 008

PROGAM STUDI DIII KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA

SURAKARTA

(2)

i

APLIKASI TINDAKAN PEMBERIAN TERAPI BERMAIN

LILIN ANAK PRA SEKOLAH TERHADAP PENURUNAN

TINGKAT KECEMASAN HOSPITALISASI PADA

ASUHAN KEPERAWATAN An. D DENGAN DHF

DIRUANG MELATI 2 RSUD Dr. MOEWARDI

SURAKARTA

Karya Tulis Ilmiah

Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan

Dalam Menyelesaikan Program Diploma III Keperawatan

DISUSUN OLEH :

ARLITA YUNGKI MEIDA

NIM: P12 008

PROGAM STUDI DIII KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA

SURAKARTA

(3)

ii

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini: Nama : Arlita Yungki Meida

Nim : P.12008

Program Studi : DIII Keperawatan

Judul Karya Tulis : Aplikasi Tindakan Pemberian Terapi Bermain Lilin Anak Prasekolah Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Hospitalisasi Pada Asuhan Keperawatan An. D Dengan Diagnosa Dhf Diruang Melati 2 Rsud Dr. Moewardi Surakarta

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Tugas Akhir yang saya tulis ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilanalihan tulisan atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai tulisan atau pikiran saya sendiri.

Apabila dikemudian hari dapat dibuktikan bahwa Tugas Akhir ini adalah hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut dengan ketentuan akademik yang berlaku.

Surakarta, 21 februari 2015 Yang membuat pernyataan

Arlita Yungki Meida P.12008

(4)

iii

LEMBAR PERSETUJUAN

Karya Tulis Ilmiah ini diajukan oleh : Nama : Arlita Yungki Meida

NIM : P.12008

Program Studi : DIII Keperawatan

Judul KTI : Aplikasi Tindakan Pemberian Terapi Bermain Lilin Anak Prasekolah Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Hospitalisasi Pada Asuhan Keperawatan An. D Dengan Diagnosa Dhf Diruang Melati 2 Rsud Dr. Moewardi Surakarta

Telah disetujui untuk dujikan dihadapan Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah Prodi DIII Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta

Ditetapkan di : Surakarta

Hari/ tanggal : Sabtu, 23 Mei 2015

Pembimbing : Noor Fitriyani, S.Kep.,Ns ( ... ) NIK : 201187805

(5)

iv

HALAMAN PENGESAHAN

Karya Tulis Ilmiah ini diajukan oleh : Nama : Arlita Yungki Meida

NIM : P.12008

Program Studi : DIII Keperawatan

Judul : Aplikasi Tindakan Pemberian Terapi Bermain Lilin Anak Pra Sekolah Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Hospitalisasi Pada Asuhan Keperawatan An. D dengan Diagnosa DHF di Ruang Melati RSUD Dr. Moewardi Surakarta

Telah diujikan dan dipertahankan dihadapan Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah Prodi DIII Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta

Ditetapkan di : Surakarta

Hari/ tanggal : Senin, 15 Juni 2015

DEWAN PENGUJI

Pembimbing : Noor Fitriyani, S.Kep.,Ns ( ... ) NIK : 201187805

Penguji I : Meri Oktariani, S. Kep.,Ns.,M.Kep ( ... ) NIK : 200981037

Penguji II : Siti Mardiyah, S. Kep.,Ns ( ...) NIK : 201183063

Mengetahui,

Ketua Program Studi D III Keperawatan Stikes Kusuma Husada Surakarta

Atiek Murharyati, S.Kep. Ns., M.Kep NIK. 200680021

(6)

v

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul : ”Pemberian Terapi Bermain Lilin Anak Pra Sekolah Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Hospitalisasi Pada Asuhan Keperawatan An. D Dengan Diagnosa DHF Diruang Melati 2 RSUD Dr. Moewardi Surakarta”. Karya Tulis Ilmiah ini disusun dengan maksud untuk memenuhi tugas akhir sebagai salah satu syarat kelulusan dari Program Studi D III Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta.

Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis banyak mendapat bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat :

1. Atiek Murharyati, S.Kep.,Ns., M.Kep, selaku Ketua Program studi DIII Keperawatan yang telah memberikan kesempatan untuk dapat menimba ilmu di Stikes Kusuma Husada Surakarta.

2. Meri Oktariani, S. Kep.,Ns.,M.Kep. selaku Sekretaris Program Studi DIII keperawatan dan selaku penguji 1 yang telah memberikan kesempatan untuk dapat menimba ilmu di Stikes Kusuma Husada Surakarta dan membimbing dengan cermat, memberikan masukan-masukan, inspirasi, perasaan nyaman dalam bimbingan serta memfasilitasi demi sempurnanya karya tulis ilmiah ini.

(7)

vi

3. Noor Fitriyani, S.Kep.,Ns, selaku dosen pembimbing yang telah membimbing dengan cermat, memberikan masukan-masukan, inspirasi, perasaan nyaman dalam bimbingan serta memfasilitasi demi sempurnanya Karya Tulis Ilmiah ini.

4. Siti Mardiyah, S. Kep.,Ns, selaku dosen penguji yang telah membimbing dengan cermat, memberikan masukan-masukan, inspirasi, perasaan nyaman dalam bimbingan serta memfasilitasi demi sempurnanya karya tulis ilmiah ini.

5. Semua dosen Program Studi DIII Keperawatan Stikes Kusuma Husada Surakarta yang telah memberikan bimbingan dengan sabar wawasannya serta ilmu yang bermanfaat.

6. Kedua orang tuaku, yang selalu menjadi inspirasi dan memberikan semangat untuk menyelesaikan pendidikan.

7. Teman-teman mahasiswa Program Studi DIII Keperawatan Stikes Kusuma Husada Surakarta dan berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan dukungan moril dan spiritual.

Surakarta, Mei 2015

Arlita Yungki Meida P.12008

(8)

vii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... ii

LEMBAR PERSETUJUAN ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix DAFTAR GAMBAR ... x DAFTAR LAMPIRAN ... xi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1 B. Tujuan Penulisan ... 4 C. Manfaat Penulisan ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori ... 7

1. Dengue Haemorrhagic Fever ... 7

2. Konsep Asuhan Keperawatan ... 18

3. Kecemasan ... 30

4. Terapi bermain ... 36

B. Kerangka Teori ... 41

C. Kerangka Konsep ... 41

BAB III METODE APLIKASI RISET A. Subyek Aplikasi Riset ... 42

B. Tempat dan Waktu ... 42

C. Media dan Alat yang digunakan ... 42

D. Prosedur Tindakan ... 42

(9)

viii BAB IV LAPORAN KASUS

A. Pengkajian ... 47

B. Diagnosa Keperawatan ... 53

C. Perumusan masalah Keperawatan ... 54

D. Intervensi Keperawatan ... 54

E. Implementasi Keperawatan ... 57

F. Evaluasi Keperawatan ... 60

BAB V PEMBAHASAN A. Pengkajian ... 63

B. Perumusan Masalah Keperawatan ... 68

C. Intervensi Keperawatan ... 72 D. Implementasi Keperawatan ... 75 E. Evaluasi Keperawatan ... 80 BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan ... 82 B. Saran ... 86 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(10)

ix

DAFTAR TABEL

(11)

x

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Teori ... 41 Gambar 2.2 Kerangka Konsep ... 41 Gambar 4.1 Genogram ... 49

(12)

xi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Daftar Riwayat Hidup Lampiran 2. Surat Pernyataan Lampiran 3. Usulan Judul Aplikasi Lampiran 4. Lembar Konsultasi Lampiran 5. Lembar Observasi Lampiran 6. Jurnal

Lampiran 7. ASKEP Lampiran 8. Loog Book

Lampiran 9. Surat Pendelegasian Lampiran 10. SAP Terapi Bermain

(13)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) merupakan penyakit yang

disebabkan oleh virus dengue yang termauk golongan arbovirus melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti betina. Penyakit ini lebih dikenal dengan sebutan Demam Berdarah Dengue (DBD) (Hidayat, 2012). Penyakit ini dapat menyerang semua orang dan dapat mengakibatkan kematian terutama pada anak, serta sering menimbulkan kejadian luar biasa atau wabah (Susilaningrum, dkk, 2013)

Menurut World Health Organization (WHO) mencatat negara Indonesia sebagai negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara (Umar, dkk, 2010: 1). Demam berdarah dengue (DBD) pertama kali muncul pada tahun 1970-an. Saat itu, penyakit ini muncul secara besar-besaran dan serempak di wilayah Asia, Afrika, serta Amerika Utara. Kemudian, sekitar tahun 1975-1995. DBD terdeteksi keberadaanya di 102 negara dari lima wilayah WHO, yakni 20 negara di Afrika, 42 negara di Amerika, 7 negara di Asia Tenggara, 4 negara di Mediterania Timur dan 29 negara di Pasifik Barat (Sentot, 2009:27). Kasus DBD dilaporkan terjadi pada tahun 1953 di Filipina kemudian disusul negara Thailand dan Vietnam. Pada dekade enam puluhan, penyakit ini mulai menyebar ke negara-negara Asia Tenggara antara lain Singapura, Malaysia, Srilanka, dan Indonesia. Pada dekade tujuh puluhan,

(14)

penyakit ini menyerang kawasan pasifik termasuk kepulauan Polinesia (Amah, dkk, 2010: 32).

Demam berdarah dengue (DBD) Di Indonesia telah menjadi masalah kesehatan masyarakat selama 41 tahun terakhir. Sejak tahun 1968 telah terjadi peningkatan persebaran jumlah provinsi dan kabupaten/kota yang endemis DBD dari 2 provinsi dan 2 kota, menjadi 32 (97%) dan 382 (77%) kabupaten/kota pada tahun 2009.Provinsi Maluku, dari tahun 2002 sampai tahun 2009 tidak ada laporan kasus DBD. Selain itu terjadi juga peningkatan jumlah kasus DBD pada tahun 1968 hanya 58 kasus menjadi 158.912 kasus pada tahun 2009 (Umar, dkk, 2010: 1). Jawa tengah dari tahun 2006 hingga tahun 2008 masuk dalam daerah risiko tinggi kejadian DBD. Angka Insiden di jawa tengah selama tahun 2006 hingga tahun 2008 selalu melebihi 55 per 100.000 penduduk (Umar dkk, 2010: 5). Berdasarkan data dari rekam medis angka kejadian DHF di RSUD Dr. moewardi Surakarta tahun 2013 sampai 2014 mengalami penurunan angka kejadian pada pasien penderita DHF sebanyak 501 orang menjadi 264 orang. Penyakit DHF jika tidak mendapat perawatan yang memadai dapat mengalami perdarahan yang hebat, syok, dan dapat mengakibatkan kematian. Penyakit DHF dapat menyerang mulai anak-anak, dewasa, dan orang tua, tetapi anak-anak yang paling rentan terhadap serangan DHF.

Aktifitas anak yang meningkat namun kondisi daya tahan tubuh lemah menjadikan anak rentang terserang penyakit, sehingga anak perlu menjalani hospitalisasi. Hospitalisasi ini merupakan salah satu penyebab kecemasan.

(15)

Kecemasan pada anak merupakan hal yang harus segera diatasi karena sangat menganggu pertumbuhan dan perkembangan, salah satu intervensi yang dapat dilakukan adalah terapi bermain. Permainan akan membuat anak terlepas dari ketegangan dan stres yang dialami. Selain itu dengan melakukan permainan anak dapat mengalihkan rasa sakit melalui kesenangannya melakukan permainan (Supartini, 2012).

Jenis permainan pada anak usia prasekolah adalah skill play yaitu dengan menggunakan kemampuan motorik salah satunya pemberian terapi bermain lilin. Terapi bermain dengan menggunakan lilin sangat tepat karena lilin tidak membutuhkan energi yang besar untuk bermain, permainan ini juga dapat dilakukan di atas tempat tidur anak, sehingga tidak mengganggu dalam proses pemulihan kesehatan anak (Ngastiyah, 2005).

Hal tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan Fradianto, Parjo & Dewi (2014) tentang pengaruh terapi bermain lilin terhadap penurunan tingkat kecemasan pada anak prasekolah yang mengalami hospitalisasi dengan hasil tingkat kecemasan anak prasekolah sebelum dilakukan terapi bermain lilin nilai tertinggi pada tingkat kecemasan sangat berat yaitu dengan jumlah 18 responden dengan presentase 90%, tingkat kecemasan anak prasekolah setelah diberikan terapi bermain lilin nilai tertinggi pada tingkat kecemasan sedang yaitu dengan jumlah 7 responden dengan presentase 35%. Hasil pengkajian yang dilakukan penulis pada tanggal 16 Maret 2015 jam 08.00 WIB pada An.D dengan DHF di ruang melati II RSUD Dr. Moewardi Surakarta ibu mengatakan anaknya demam hasil pengkajian An.D nadi 90

(16)

kali permenit, suhu 38,40C, pernafasan 30 kali permenit dan akral teraba panas. Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik mengaplikasikan terapi bermain lilin untuk menurunkan tingkat kecemasan hospitalisasi pada pengelolaan asuhan keperawatan anak dengan diagnosa Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) Di RSUD Dr. Moewardi Surakarta.

B. Tujuan Penulisan 1. Tujuan umum

Mengaplikasikan tindakan pemberian terapi bermain lilin terhadap penurunan tingkat kecemasan hospitalisasi pada An.D dengan Dengue haemoragic fever di RS Dr Moewardi Surakarta.

2. Tujuan khusus

a. Penulis mampu melakukan pengkajian keperawatan pada An.D dengan Dengue haemorrhagic fever.

b. Penulis mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada An.D dengan Dengue haemorrhagic fever.

c. Penulis mampu menyusun intervensi keperawatan pada An.D dengan Dengue haemorrhagic fever

d. Penulis mampu melakukan implementasi keperawatan pada An.D dengan Dengue haemorrhagic fever.

e. Penulis mampu melakukan evaluasi keperawatan pada An.D dengan Dengue haemorrhagic fever

(17)

f. Penulis mampu menganalisa hasil pemberian terapi bermain lilin terhadap penurunan tingkat kecemasan hospitalisasi pada An.D dengan Dengue haemorrhagic fever

.

C. Manfaat Penulisan 1. Bagi Rumah Sakit

Hasil Karya Tulis Ilmiah dalam bentuk aplikasi riset ini diharapkan dapat memberikan tambahan informasi bagi rumah sakit sebagai pemberi layanan kesehatan masyarakat dalam menentukan kebijakan terkait dengan pemberian terapi bermain lilin terhadap penurunan kecemasan hospitalisasi pada anak prasekolah. Aplikasi implementasi keperawatan diharapkan benar-benar bisa dilaksanakan.

2. Bagi Instansi Akademik

Sebagai bahan masukan dalam kegiatan proses belajar mengajar tentang asuhan keperawatan terapi bermain lilin pada Anak dengan Dengue haemorrhagic fever, untuk mengurangi kecemasan hospitalisasi selama

menjalani perawatan dirumah sakit. 3. Bagi Perawat

Mampu memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif kepada pasien anak dengan Dengue haemorrhagic fever dan Melatih berfikir dalam melakukan asuhan keperawatan khususnya pada pasien dengan Dengue haemorrhagic fever.

(18)

4. Bagi Penulis

Sebagai sarana dan alat dalam memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang lebih khususnya dibidang keperawatan pada pasien anak dengan terapi bermain pada pasien Dengue haemorrhagic fever.

5. Bagi Pembaca

Meningkatkan pengetahuan kepada pembaca tentang pengaruh terapi bermain lilin terhadap tingkat kooperatifan anak.

(19)

7 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori

1. Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) a. Pengertian

Dengue haemorrhagic fever (DHF) adalah penyakit yang

disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (Nursalam, dkk. 2008). Dengue haemorhagic fever (DHF)

adalah suatu penyakit akut yang disebabkan oleh virus dengue (arbovirus) yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (Suriadi dan yuliani 2010)

b. Etiologi

Dengue haemorrhagic Fever (DHF) disebabkan oleh arbovirus

(Arthopodborn Virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegepthy. Virus Nyamuk aedes aegypti berbentuk batang, stabil

pada suhu 37o C. Adapun ciri-ciri nyamuk penyebar demam berdarah menurut (Nursalam,2008) adalah :

1) Badan kecil, warna hitam dengan bintik-bintik putih 2) Hidup didalam dan sekitar rumah

3) Menggigit dan menghisap darah pada waktu siang hari

(20)

5) Bersarang dan bertelur digenangan air jernih didalam dan sekitar rumah seperti bak mandi, tempayan vas bunga.

c. Manifestasi Klinis

Menurut Ridha (2014) tanda dan gejala DHF adalah : 1) Demam tinggi selama 5-7 hari

2) Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit 3) Epitaksis, hematemesis, melena, hematuri 4) Mual, muntah, tindak nafsu makan

5) Nyeri otot, tulang sendi, abdomen, ulu hati 6) Sakit kepala

7) Pembengkakan sekitar mata

8) Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening

9) Tanda-tanda renjatan ( sianosis, kulit lembab dan dingin, gelsah, nadi cepat dan lemah)

d. Klasifikasi Demam Berdarah Dengue

Menurut Suriadi dan Yuliani (2010) klasifikasi DHF antara lain : 1) Derajat I : Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan

spontan, uji turmiket positif, trombositopenia dan hemokonsentrasi

2) Derajat II : Derajat I disertai perdarahan spontan di kulit dan atau perdarahan lain

3) Derajat III : Kegagalan sirkulasi : nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin lembab, gelisah

(21)

4) Derajat IV : Renjatan berat, denyut nadi dan tekanan darah tidak dapat diukur

e. Patofisiologi

Menurut Suriadi dan Yuliani (2010) patofisiologinya adalah Virus dengue akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypti dan kemudian bereaksi dengan antibodi dan

terbentuklah komplek virus antibodi, dalam sirkulasi akan mengaktivasi sistem komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a, dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamin dan merupakan mediator kuat sebagai faktor meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangkan plasma mealui endotel dinding itu. Terjadinya trombositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagalasi (protambin, faktor V, VII, IX, X dan fibrinogen) merupakan faktor penyebab terjadinya perdarahan hebat, teutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF.

Penentu beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah, menurunnya volume plasma, terjadinya hipotensi, trombositopenia dan diatesis hemoragik.Renjatan terjadi secara akut.

Nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma melalui endotel dinding pembuluh darah. Dan dengan

(22)

hilangnya plasma klien mengalami hypovolemik. Apabila tidak diatasi bisa terjadi anoksia jangan asidosis dan kematian.

f. Komplikasi

Adapun komplikasi dari penyakit Dengue Hemorrhagic Fever menurut (Hidayat Alimul, 2008) diantaranya:.

1) Ensepalopati Sebagai komplikasi syok yang berkepanjangan dengan perdarahan dan kemungkinan dapat disebabkan oleh thrombosis pembuluh darah ke otak.

2) Syok (renjatan) Karena ketidakseimbangan cairan dan elektrolit sehingga dapat terjadi syok hipovolemik.

3) Efusi Pleura Adanya edema paru akibat pemberian cairan yang berlebihan dengan tanda pasien akan mengalami distress pernafasan.

4) Perdarahan intravaskuler menyeluruh g. Fase Perjalanan Penyakit Demam Berdarah

Terdapat tiga fase perjalanan penyakit demam berdarah yang akan dijelaskan sebagai berikut :

1) Fase Demam

Fase demam berlangsung 2-7 hari suhu tubuh saat demam berkisar 390 C sampai 400 C, kemudian pada fase akut biasanya disertai dengan warna kemerahan pada wajah; eritema pada kulit; rasa nyeri pada seluruh tubuh dan sakit kepala, adapun beberapa pasien juga mengeluh kesulitan menelan, nyeri faring,

(23)

dan nyeri konjungtiva, selain itu gejala yang dirasakan oleh pasien yaitu, sering mengeluh tidak nafsu makan; mual; dan muntah, untuk fase demam diperlukan pengobatan untuk menghilangkan gejala yang timbul, karena selama fase awal demam sulit dibedakan antara demam dengue dengan DHF perbedaannya yaitu, pada pasien dengan demam dengue setelah terbebas dari demam 24 jam tanpa penurun panas makanpasien akan memasuki fase penyembuhan, sedangkan pada DHF setelah fase demam selesai maka akan memasuki fase kritis (WHO, 2009 dalam Setiawati, 2011).

Pada fase demam pasien masih memungkinkan untuk di rawat di rumah dengan pengawasan khusus dengan cara pengawasan tanda-tanda vital, keluhan mual dan muntah, nyeri abdomen, terjadi akumulasi cairan pada rongga tubuh, adanya peleburan > 2 cm, dan perdarahan yang timbul; kemudian pemberian cairan yang sesuai dengan kebutuhan pasien sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya kekurangan cairan, selain itu pemeriksaan laboratorium darah terutama pemeriksaan trombosit dan hematokrit diperlukan untuk mengontrol kondisi kesehatan penderita (Anggraeni, 2010 dalam Setiawati, 2011). 2) Fase Kritis

Suhu tubuh pada fase kritis menurun sekitar 37,50 C sampai 380 C atau justru berada dibawahnya, umunya terjadi

(24)

pada hari ketiga samapai kelima demam, kemudian pada fase kritis terjadi peningkatan permeabilitas kapiler yang menyebabkan kebocoran plasma, karena fase kritis berlangsung antara 24 jam sampai 48 jam, apabila tidak terjadi kebocoran plasma, maka kondisi pasien akan membaik, namun jika terjadi kebocoran plasma maka kondisi pasien memburuk, sedangkan kondisi kebocoran plasma yang berkepanjangan dan keterlambatan penanganan dapat menyebabkan pasien mengalami syok (WHO, 2009 dalam Setiawati, 2011).

Pasien harus dirawat di rumah sakit pada saat fase kritis karena memerlukan pengawasan khusus yang lebih intensif yaitu, pengawasan khusus seperti : tingkat kesadaran, tanda-tanda vital, intake dan output cairan, nyeri abdomen, terjadi akumulasi cairan pada rongga tubuh, adanya peleburan hati > 2 cm, dan perderahan yang timbul, kemudian ada fase ini dapat terjadi efusi pleura dan asites, selain itu pemeriksaan darah dilakukan secara berkala meliputi hematokrit, trombosit, hemoglobin, dan leukosit, adapun pemeriksaan rontgen dan pemeriksaan Ultra Sonografi (USG) yang dapat dilakukan pada fas kritis (WHO, 2009 dalam Setiawati, 2011).

3) Fase Penyembuhan

Pasien yang telah melewati fase kritis, terjadi proses penyerapan kembali cairan yang berlebih pada rongga tubuh

(25)

dalam waktu 2 samapi 3 hari dan secara bertahap kondisi pasien secara keseluruhan akan membaik (WHO, 2009 dalam Setiawati, 2011).

Fase penyembuhan berlangsung antara 2-7 hari, umunya penderita demam berdarah yang telah berhasil melewati fase kritis akan sembuh tanpa komplikasi dalam waktu kurang lebih 24 – 8 jam setelah syok, kemudian fase penyembuhan ditandai dengan kondisi umum penderita yang mulai membaik, nafsu makan yang mulai meningkat, dan tanda-tanda vital yang stabil, selain itu pada fase ini pemberian cairan infuse biasanya mulai dihentikan, kemudian diganti dengan pemberian nutrisi secara oral (Anggraeni, 2010 dalam Setiawati, 2011).

h. Pemeriksaan Diagnostik

Menurut Suriadi dan Yuliani (2010), pemeriksaan diagnostik sebagai berikut:

1) Darah lengkap : hemokonsentrasi (hematokrit meningkat 20 % atau lebih), trombositopenia (100.000/mm3atau kurang)

2) Serologi : uji HI (hemoagutination inhibition test) 3) Rontgen thoraks : effusi pleura

i. Penatalaksanaan

Menurut Ridha (2014) didapatkan penatalaksanaan Demam Haemorrhagic Fever yaitu :

(26)

1) DHF tanpa rejatan : a) Tirah baring

b) Makanan lunak dan diberi minum 1,5-2liter dalam 24 jam c) Untuk hiperpireksia dapat diberkan kompres

d) Berikan antibiotik bila terdapat kemungkinan terjadi infeksi. 2) Pada pasien dengan tanda renjatan dilakukan :

a) Pemasangan infus RL/Asering dan dipertahankan selama 12-48 jam setelah renjatan diatasi.

b) Observasi keadaan umum (Tanda-tanda Vital)

Menurut Sitorus (2008 : 127), penatalaksanaan pasien dengan demam berdarah dibedakan menjadi tiga yaitu :

1) Penatalaksanaan Pasien Tersangka DBD

Pada pasien yang diduga menderita demam berdarah (memenuhi kriteria diagnosis DBD, WHO 1986), ditentukan adanya kedaruratan atau tidak, maksud dari kedaruratan adalah tanda-tanda pre-shoch atau shoch (renjatan), muntah secara terus-menerus, kejang, kesadaran menurun, muntah darah, dan buang air besar berdarah, kemudian untuk suhu dijumpai kedaruratan maka pasien harus segera dirujuk ke dokter untuk diberikan perawatan yang intensif.

Jika tanda-tanda kedaruratan tidak ada maka harus dilakukan tes Rumple Lencar (Tes Torniket) untuk menegetahui kadar haemoglobin, hematokrit, dan hitung trobosit (termasuk

(27)

hitung leukosit dan hitung jenis), kemudian tes torniket menunjukkan positif atau negatif dan trombosit rendah (kurang dari 150.000/iu), sebaiknya pasien dirawat di rumah sakit.

Pada pasien dengan trombosit normal dan hasil tes torniket negatif, pasien boleh pulang, tetapi dianjurkan melakukan kontrol setiap hari untuk pemeriksaan haemoglobin, hematokrit, dan trombosit berkala sampai demamnya turun, tetapi jika hematokrit cenderung meningkat dan sebaliknya trombosit cenderung menurun segera rujuk pasien ke rumah sakit terdekat. 2) Penatalaksanaan Pasien DBD Tanpa Renjatan

Pasien DBD derajat-1 dan derajat-2 tergolong DBD tanpa renjatan, tetapi perlu diingat bahwa perasaan haus dan keadaan dehidrasi sebagai akibat demam tinggi, anoreksia, dan muntah merupakan alasan pemberian cairan per oral sebanyak-banyaknya dan semampu anak kurang lebih 1,5 liter sampai 2 liter per 24 jam dengan berbagai jenis cairan dapat diberikan, tetapi lebih disukai cairan yang mengandung elektrolit (lautan oralit) atau sari buah dari pada air putih.

Kejang badan demam dapat terjadi pada demam tinggi, maka pemberian antipiretik (parasetamol). Jika terdapat tanda kedaruratan seperti anak secara terus-menerus muntah sampai keadaan tidak memungkinkan untuk diberikan makan dan minum peroral, maka perlu dipertimbangkan untuk pemberian

(28)

cairan intravena tetesan rumatan, kemudian jika kadar hematokrit pada pemeriksaan berkala cenderung meningkat, dianjurkan pemberian intravena dengan jumlah cairan yang dibutuhkan sesuai dengan pemberian cairan untuk mengatasi penderita gastroenteritis yang dehidrasinya sedang (kebutuhan cairan rumatan +7,5%).

3) Penatalaksanaan DBD Disertai Renjatan

Renjatan merupakan keadaan gawat sehingga memerlukan perawatan di rumah sakit, maka tatalaksana DBD yang disertai renjatan terdiri atas hal-hal berikut :

a) Penggantian Volume Plasma (Volume Replacement)

Pada renjatan hipovelemik, pemberian cairan merupakan kunci pengobatan, karena penggantian cairan plasma secara intravena harus segera diberikan supaya renjatan pada anak dapat berlangsung dalam kurun waktu 48 jam, dan pada saat itu dianjurkan monitor dengan ketat selama 24 jam.

Jenis cairan yang dianjurkan adalah laktat ringer 20 ml/kg BB per jam, diberikan dengan tetesan cepat atau disiramkan (klem infuse dibuka) sampai renjatan teratasi. Bahkan dipasang dua jalur infus secara bersamaan. Pada keadaan renjatan yang berlangsung lama, pembuluh darah mengalami kolaps, maka cairan sebanyak 100-200 ml dapat

(29)

diberikan dengan menggunakan semprit kemudian setelah itu, dilanjutkan dengan tetesan.

b) Pilihan Terapi Cairan

Pemakaian cairan laktat ringer sangat dianjurkan mengingatkan pada DBD pada umumnya disertai dengan hiponatremi dan asidosis. Cairan laktat ringer mengandung Natrium 130 mEq/l, chloride 109 mEq/l, kalium 4 mEq/l, dan Korektor basa dalam bentuk Natrium laktat 28 mEq/l WHO, 1986 menganjurkan di samping laktat ringer dapat pula dipakai jenis cairan lain yaitu :

(1) Cairan glukosa 5 % dalam NaCl 0,9 % (2) Cairan glukosa 5 % dalam NaCl 0,45 %

(3) Cairan glukosa 5% dalam ½ laktat ringer, atau cairan glukosa 5 % dalam NaCl 0,3 %

c) Koreksi Asidosis dan Gangguan Elektrolit

Hiponatremi dan asidosis metabolik terjadi pada DBD, oleh karena itu pada kasus DBD berat dilakukan pemeriksaan analisa gas darah dan elektrolit secara peiodik. d) Terapi Oksigen

Mengingat bahwa renjatan hipovolemik mengakibatkan terjadinya kegagalan perfusi oksigen di seluruh jaringan, maka oksigen harus selalu diberikan pada semua pasien DBD disertai renjatan. Oksigen diberikan 2-6

(30)

liter/menit dan intranasal diberikan sampai tanda vital stabil.

e) Pemberian Tranfusi Darah

Indikasi tranfusi darah adalah perdarahan yang jelas terlisat secara klinis, yaitu perdarahan intra-abdominal yang ditandai dengan semakin tegang disertai penurunan kadar haemoglobin.

2. Konsep Asuhan Keperawatan

Asuhan keperawatan pada DHF meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi.

a. Pengkajian

Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang klien, agar dapat mengidentifikasi, mengenali masalah-masalah, kebutuhan kesehatan, dan keperawatan klien baik fisik, mental, sosial, dan lingkungan (Dermawan, 2012).

Menurut Utami (2013: 161) pengkajian pada DHF dapat dilihat dari: 1) Identitas pasien

Nama, umur ( pada DHF tersering menyerang anak-anak dengan usia kurang 15 tahun), jenis kelamin, alamat, pendidikan, nama orang tua, pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua.

(31)

2) Keluhan utama

Alasan/keluhan yang menonjol pada pasien DHF untuk datang kerumah sakit adalah panas tinggi anak lemah.

3) Riwayat penyakit sekarang

Didapatkan adanya keluhan panas mendadak disertai menggigil, saat demam kesadaran komposmentis. Panas menurun terjadi antara hari ke-3 dan ke-7, sementara anak semakin lemah. Kadang-kadang disertai keluhan batuk pilek, nyeri telan, mual, muntah anoreksia, diare/ konstipasi, sakit kepala, nyeri otot dan persendian, nyeri ulu hati dan pergerakan bola mata terasa pegal, serta adanya manifestasi perdarahan pada kulit, gusi (grade III, IV), melena atau hematemesis.

4) Riwayat penyakit yang pernah diderita

Penyakit apa saja yang pernah diderita. Pada DHF, anak bisa mengalami serangan ulangan DHF dengan tipe virus yang lain. 5) Riwayat imunisasi

Bila anak mempunyai kekebalan yang baik, kemungkinan timbul komplikasi dapat dihindarkan.

6) Riwayat gizi

Status gizi anak yang menderita DHF dapat bervariasi. Semua anak dengan status gizi baik, maupun buruk dapat beresiko apabila terdapat faktor predisposisinya. Pada anak yang menderita DHF sering mengalami keluhan mual, muntah dan

(32)

nafsu makan menurun. Apabila kondisi ini berlanjut, dan tidak disertai dengan pemenuhan nutrisi yang adekuat anak dapat mengalami penurunan berat badan, sehingga status gizinya menjadi kurang.

7) Kondisi lingkungan

Sering terjadi pada daerah yang padat penduduknya, lingkungan yang kurang kebersihannya (air yang menggenang) dan gantungan baju dikamar.

8) Pola kebiasaan

a) Nutrisi dan metabolisme, yaitu frekuensi, jenis, pantangan, nafsu makan berkurang/menurun.

b) Eliminasi alvi (buang air besar) kadang-kadang anak mengalami diare/konstipasi. DHF pada grade III-IV bisa terjadi melena.

c) Eliminasi urine (buang air kecil) perlu dikaji apakah sering kencing, sedikit/banyak, sakit/tidak. Pada DHF grade IV sering terjadi hematuria.

d) Tidur dan istirahat. Anak sering mengalami kurang tidur karena sakit/nyeri otot dan persendian, sehingga kuantitas dan kualitas tidur, serta istirahat kurang.

e) Kebersihan. Upaya keluarga untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan cenderung kurang terutama tempat sarang nyamuk aedes aegypti.

(33)

9) Pemeriksaan fisik berdasarkan tingkatan (grade) DHF, keadaan fisik anak sebagai berikut :

a) Grade I : kesadaran kompos mentis, keadaan lemah, tanda-tanda vital nadi lemah

b) Grade II : kesadaran kompos mentis, keadaan umum lemah, adanya perdarahan spontan petekia, perdarahan gusi dan telinga, nadi lemah, kecil, tidak teratur.

c) Grade III : kesadaran apatis, somnolen, keadaan umum lemah, nadi lemah, kecil, tidak teratur, tensi menurun. d) Grade IV : kesadaran koma, nadi tidak teraba, tensi tidak

terukur, pernapasan tidak teratur, ekstermitas dingin, berkeringat dan kulit nampak biru.

10) Sistem integumen dapat disebutkan sebagai berikut :

a) Kulit adanya petekia, turgor kulit menurun, keringat dingin, lembab.

b) Kuku cyanosis/tidak c) Kepala dan leher

Kepala terasa nyeri, muka tampak kemerahan pada muka karena demam, mata anemis, hidung kadang mengalami mimisan (grade II,III,IV). Pada mulut didapatkan mukosa mulut kering, perdarahan gusi, kotor, dan nyeri telan. Tenggorokan mengalami hiperemiafaring, terjadi perdarahan telinga (grade II, III, IV).

(34)

d) Dada

Bentuk simetris, kadang-kadang sesak, pada foto thoraks terdapat adanya cairan yang tertimbun pada paru sebelah kanan (efusi pleeura), rales, ronchi biasanya pada grade III, IV.

e) Pada abdomen terdapat nyeri tekan, pembesaran hati (hepatomegali), dan asites.

f) Ekstermitas, yaitu akral dingin, nyeri otot, dan sendi serta tulang.

b. Masalah Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinik mengenai respon individu, keluarga, dan komunitas terhadap masalah kesehatan / proses kehidupan yang aktual/ potensial yang merupakan dasar untuk memilih intervensi keperawatan untuk mencapai hasil yang merupakan tanggung jawab perawat (Dermawan, 2012).

Menurut Utami (2013) masalah yang dapat ditemukan pada anak dengan DHF antara lain :

1) Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) 2) Nyeri

3) Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi, kurang dari kebutuhan. 4) Potensial terjadinya perdarahan intra abdominal,

(35)

6) Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, dan perawatan pasien DHF.

c. Rencana keperawatan

Rencana keperawatan adalah suatu proses didalam pemecahan masalah yang merupakan keputusan awal tentang sesuatu yang akan dilakukan, bagaimana dilakukan, siapa yang melakukan dari semua tindakan keperawatan (Dermawan, 2012)

Pedoman penulisan tujuan dan kriteria hasil berdasarkan SMART. Spesific (tujuan tidak menimbulkan arti ganda). Measureable (tujuan dapat diukur, dapat dilihat, dirasakan dan

dibau). Achieveble (tujuan harus dapat dicapai). Reasonable atau realistic (tujuan harus dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah).

Time ( batasan waktu atau tujuan keperawatan).

Menurut Utami (2013) perencanaan keperawatan pada DHF sebagai berikut :

1) Hipertermia (Suhu tubuh naik diatas rentang normal) a) Kaji saat timbul demam

b) Observasi TTV setiap tiga jam

c) Berikan penjelasan tentang penyebab demam d) Anjurkan pasien untuk banyak minum e) Berikan kompres dingin pada aksilla

(36)

g) Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena dan obat-obatan.

2) Gangguan rasa nyaman nyeri a) Kaji skala nyeri

b) Beri posisi nyaman c) Ajarkan relaksasi

d) Kolaborasi pemberian analgetik 3) Gangguan pemenuhunan nutrisi

a) Kaji keluhan mual, muntah, sulit menelan b) Berikan makanan yang mudah ditelan c) Anjurkan makan sedikit tapi sering

d) Catat jumlah porsi makanan yang dihabiskan

4) Potensial terjadinya perdarahan sehubungan dengan trombositopenia

a) Monitor tanda penurunan trombosit b) Monitor jumlah trombosit setiap hari

c) Berikan penjelasan tentang pengaruh trombosit d) Anjurkan pasien untuk banyak istirahat.

3. Hospitalisasi a. Pengertian

Hospitalisasi adalah suatu proses karena suatu alasan darurat atau berencana mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit

(37)

menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangan kembali ke rumah (Jovans, 2008).

b. Dampak Hospitalisasi Terhadap Anak

Reaksi anak terhadap sakit dan hospitalisasi dipengaruhi oleh tingkat perkembangan atau usia, pengalaman sebelumnya, support sistem dalam keluarga, keterampilan koping, dan berat ringannya penyakit.

Menurut Jovan (2007), menguraikan reaksi anak dan orang tua terhadap hospitalisasi sebagai berikut :

1) Reaksi anak pada hospitalisasi

a) Masa bayi (0-1 th), dampak perpisahan berpengaruh pada rasa percaya diri dan kasih sayang. Anak usia lebih dari 6 bln akan terjadi stanger anxiety atau cemas dengan respon menangis keras, pergerakan tubuh yang banyak, ekspresi wajah yang tak menyenangkan.

b) Masa todler (2-3 th), sumber stres yang utama adalah cemas akibat perpisahan. Respon perilaku anak menurut tahapannya adalah: a) tahap protes, responnya berupa menangis, menjerit, menolak perhatian orang lain, b) tahap putus asa, respon anak adalah menangis berkurang, anak tidak aktif, kurang menunjukkan minatbermain, sedih, apatis, c) tahap pengingkaran (denial), anak mulai

(38)

menerima perpisahan, membina hubungan secara dangkal, anak mulai menyukai lingkungannya.

c) Masa prasekolah (3 sampai 6 tahun). Reaksi yang sering muncul antara lain: menolak makan, sering bertanya, menangis pelan, tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan atau perawatan di rumah sakit kehilangan kontrol, dan pembatasan aktivitas. Sering kali dipersepsikan anak sekolah sebagai hukuman. Sehingga ada perasaan malu, takut dan menimbulkan reaksi agresif, marah, berontak, tidak mau bekerja sama dengan perawat.

d) Masa sekolah (6 sampai 12 tahun). Perawatan di rumah sakit memaksakan meninggalkan lingkungan yang dicintai, keluarga, kelompok sosial sehingga menimbulkan kecemasan. Kehilangan kontrol berdampak pada perubahan peran dalam keluarga, kehilangan kelompok sosial, perasaan takut akan kematian, dan kelemahan fisik. Reaksi nyeri bisa digambarkan secara verbal dan non verbal.

e) Masa remaja (12 sampai 18 tahun) anak remaja begitu percaya dan terpengaruh oleh kelompok sebayanya. Saat masuk rumah sakit anak akan timbul rasa cemas karena perpisahan, sehingga terjadi pembatasan aktifitas. Kehilangan kontrol akan muncul reaksi anak untuk menolak perawatan atau tindakan yang dilakukan, tidak kooperatif

(39)

dengan petugas, Perasaan sakit akibat perlukaanmenimbulkan respon anak banyak bertanya, menarik diri, menolak kehadiran orang lain.

c. Faktor yang Mempengaruhi Hospitalisasi

Faktor-faktor yang dapat menimbulkan stress ketika anak menjalani hospitalisasi sangat bervariasi mulai dari faktor lingkungan rumah sakit dapat menjadi suatu tempat yang menakutkan dilihat dari sudut pandang anak-anak. Suasana rumah sakit yang tidak familiar, wajah-wajah yang asing, berbagai macam bunyi dari mesin yang digunakan, dan bau yang khas, dapat menimbulkan kecemasan dan ketakutan baik bagi anak atau orang tua (Norton-Westwood, 2012 dalam Utami 2014).

Faktor berpisah dengan orang yang sangat berarti karena berpisah dengan suasana rumah sendiri, benda-benda yang familiar digunakan sehari-hari, juga Rutinitas yang biasa dilakukan dan juga berpisah dengan anggota keluarga lainnya (Pelander dan Leini-Klipi, 2010 dalam Utami 2014).

Faktor kurangnya Informasi yang didapat anak dan orang tuanya ketika akan menjalani hospitalisasi. Hal ini dimungkinkan mengingat proses hospitalisasi merupakan hal yang tidak umum di alami oleh semua orang. Proses ketika menjalani hospitalisasi juga merupakan hal yang rumit dengan berbagai prosedur yang dilakukan (Gordon dkk, 2010 dalam Utami 2014).

(40)

Faktor kehilangan kebebasan dan kemandiriran aturan ataupun Rutinitas rumah sakit, prosedur medis yang dijalani seperti tirah baring, pemasangan infuse dan lain sebagainya sangan mengganggu kebebasan dan kemandirian anak yang sedang dalam taraf perkembangan (Price dan Gwin, 2005 dalam Utami, 2014).

Faktor pengalaman yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan semakin sering seorang anak berhubungan dengan rumah sakit, maka semakin kecil bentuk kecemasan atau malah sebaliknya (Pelander dan Leino-Kilpi, 2010 dalam Utami, 2014).

Faktor perilaku atau interaksi dengan petugas rumah sakit khususnya perawat mengingat anak masih memiliki keterbatasan dalam perkembangan kognitif, bahasa dan komunikasi, kemudian perawat juga merasakan ketika berkomunikasi, berinteraksi dengan pasien anak yang menjadi sebuah tantangan, dan dibutuhkan sensitifitas yang tinggi serta lebih kompleks dibandingkan dengan pasien dewasa. Selain berkomunikasi dengan dengan anak juga sangan dipengaruhi oleh usia anak, kemampuan kognitif, tingkah laku, kondisi fisik dan psikologis tahapan penyakit dan respon pengobatan (Pena dan Juan, 2011 dalam Utami, 2014).

d. Mengatasi Dampak Hospitalisasi pada Anak

Fokus intervensi keperawatan dalam mengatasi dampak hospitalisasi diuraikan oleh Jovan (2007), Hockenberry dan Wilson (2007), sebagai berikut:

(41)

1) Meminimalkan stressor

Upaya yang dilakukan untuk meminimalkan stressor adalah dengan mencegah atau mengurangi dampak perpisahan dengan cara melibatkan orang tua berperan aktif dalam perawatan anak, melakukan modifikasi ruang perawatan, mempertahankan kontak dengan kegiatan sekolah, dan bertemu teman sekolah. Untuk mencegah perasaan kehilangan kontrol dapat dilakukan dengan cara menghindari pembatasan fisik jika anak dapat kooperatif, bila anak diisolasi lakukan modifikasi lingkungan, membuat jadwal untuk prosedur terapi, latihan, dan bermain, memberi kesempatan anak mengambil keputusan dan melibatkan orang tua dalam perencanaan kegiatan.

Untuk mengurangi atau meminimalkan rasa takut terhadap perlukaan tubuh dan rasa nyeri, hal ini dilakukan dengan cara mempersiapkan psikologis anak dan orang tua untuk tindakan prosedur yang menimbulkan rasa nyeri, melakukan permainan sebelum melakukan persiapan fisik anak, menghadirkan orang tua bila memungkinkan, menunjukkan sikap empati. Pada tindakan elektif bila memungkinkan menceritakan tindakan yang dilakukan melalui cerita, gambar dan perlu dilakukan pengkajian tentang kemampuan psikologis anak menerima informasi ini dengan terbuka.

(42)

2) Memaksimalkan manfaat hospitalisasi

Untuk memaksimalkan manfaat hospitalisasi diupayakan dengan cara membantu perkembangan anak dengan memberi kesempatan orang tua untuk belajar, memberi kesempatan pada orang tua untuk belajar tentang penyakit anak, meningkatkan kemampuan kontrol diri, memberi kesempatan untuk sosialisasi, dan memberi support kepada anggota keluarga.

3) Mempersiapkan anak sebelum masuk rumah sakit

Mempersiapkan anak untuk mendapat perawatan di rumah sakit dilakukan dengan cara mempersiapkan ruang rawat sesuai dengan tahapan usia anak dan mengorientasikan situasi rumah sakit. Pada hari pertama melakukan tindakan sebaiknya petugas di ruangan memperkenalkan perawat dan dokter yang merawatnya, memperkenalkan anak pada pasien yang lain, memberikan label identitas pada anak, menjelaskan aturan rumah sakit, melaksanakan pengkajian, dan melakukan pemeriksaan fisik.

4. Kecemasan a. Pengertian

Kecemasan adalah gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan, tidak mengalami gangguan dalam menilai kenyataan,

(43)

kepribadian masih tetap utuh atau tidak mengalami keretakan kepribaadian normal (Hawari, 2008).

Kecemasan adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami perasaan gelisah dan aktivasi sistem saraf autonom dalam merespon ancaman yang tidak jelas. Kecemasan akibat terpejan pada peristiwa traumatik yang dialami individu yang mengalami, menyaksikan atau menghadapi satu atau beberapa peristiwa yang melibatkan kematian aktual atau ancaman kematian atau cidera serius atau ancaman fisik diri sendiri (Doenges, 2006). b. Penyebab kecemasan pada anak

Menurut Ramiah (2003) dalam Triana dan toganing (2009) Beberapa penyebab dari gangguan kecemasan adalah :

1) Traumalitas

2) Stres yang berkepanjangan/depresi. 3) konflik-konflik

4) Ketidakseimbangan kimia dalam tubuh 5) Perubahan struktur otak

6) Stres/trauma/phobia lingkungan. c. Tanda kecemasan pada anak

Menurut Ramiah (2003) dalam Triana dan Toganing, (2009), gejala kecemasan paling sering adalah kejangkelan umum seperti: rasa gugup, jengkel, tegang, dan rasa panik, kemudian sakit kepala seperti: ketegangan otot khususnya kepala di daerah lengkuk dan

(44)

tulang punggung menyebabkan sakit kepala, adapun gejala lain yang di rasakan individu saat mengalami kecemasan, yaitu gemetaran pada seluruh tubuh khususnya lengan dan tangan.

Menurut Hawari (2001) dalam Triana dan Toganing, (2009), tanda dan gejala pada individu yang mengalami kecemasan sebagai berikut :

1) Cemas 2) Khawatir 3) Bimbang 4) firasat buruk

5) takut akan pikirannya sendiri

6) mudah tersinggung seperti, merasa tegang, tidak tenang, gelisah, gerakan sering serba salah

7) mudah terkejut seperti, takut sendirian, takaut keramaian dan takut banyak orang

8) mengalami gangguan pola tidur

9) mimpi-mimpi yang menegangkan seperti: gangguan konsentrasi dan daya ingat

10) keluhan somatic seperti : rasa sakit pada otot dan tulang, pendengaran berdengung (tinnitus), berdebar-debar, sesak nafas, gangguan pencernaan, sakit kepala.

(45)

d. Klasifikasi Tingkat Kecemasan

Menurut Stuart (2006) dalam jurnal muafifah, dkk (2013), Ada empat tingkat kecemasan, yaitu ringan, sedang, berat dan panik yaitu:

1) Kecemasan ringan

Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. Kecemasan ringan dapat memotivasibelajar dan menghasilkan pertumbuhan dan kreatifitas. Manifestasi yang muncul pada tingkat ini adalah kelelahan, iritabel, lapang persepsi meningkat, kesadaran tinggi, mampu untuk belajar, motivasi meningkat dan tingkah laku sesuai situasi.

2) Kecemasan sedang

Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada masalah yangpenting dan mengesampingkan yang lain sehingga seseorang mengalamiperhatian yang selektif, namun dapat melakukan sesuatu yang terarah. Manifestasi yang terjadi pada tingkat ini yaitu kelelahan meningkat, kecepatan denyut jantung dan pernapasan meningkat, ketegangan ototmeningkat, bicara cepat dengan volume tinggi, lahan persepsi menyempit,mampu untuk belajar namun tidak optimal, kemampuan konsentrasi menurun, perhatian selektif dan terfokus pada rangsangan yang

(46)

tidak menambah ansietas, mudah tersinggung, tidak sabar, mudah lupa, marah dan menangis.

3) Kecemasan berat

Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. Seseorang dengan kecemasan berat cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik, serta tidak dapat berpikir tentang hal lain. Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area yang lain. Manifestasi yang muncul pada tingkat ini adalah mengeluh pusing, sakit kepala, nausea, tidak dapat tidur (insomnia), sering kencing, diare, palpitasi, lahan persepsi menyempit, tidak mau belajar secara efektif, berfokus pada dirinya sendiri dan keinginan untuk menghilangkan kecemasan tinggi, perasaan tidak berdaya, bingung, disorientasi.

4) Panik

Panik berhubungan dengan terperangah, ketakutan dan teror karena mengalami kehilangan kendali. Orang yang sedang panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Tanda dan gejala yang terjadi pada keadaan ini adalah susah bernapas, dilatasi pupil, palpitasi, pucat, diaphoresis, pembicaraan inkoheren, tidak dapat berespon terhadap perintah yang sederhana, berteriak, menjerit, mengalami halusinasi dan delus.

(47)

e. Pengukuran Kecemasan pada Anak

Menurut Fahmy (2007) dalam Apriliawati (2011), alat ukur untuk kecemasan adaah Hamilton Anxiety Scale (HAS) disebut juga dengan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) yang teridiri dari 14 item pertanyaan untuk mengukur tanda adanya kecemasan pada anak orsng dewasa, karena HARS telah distandarkan untuk mengevaluasi tanda kecemasan pada individu yang sudah menjalani pengobatan terapi, setelah mendapatkan obat antidepresan.

Menurut Fahmy (2007) dalam Apriliawati (2011), Hamilton Anxiety Scale (HAS) pertama kali dikembangkan oleh Max

Hamilton pada tahun 1956, kemudian Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) digunakan untuk mengukur semua tanda kecemasan baik kecemasan psikis (agistasi dan distress psikologis) maupun kecemasan somatic (keluhan fisik yang berhubungan dengan kecemasan) dan telah dikembangkan lebih lanjut untuk mengukur tingkat depresi dalam Hamilton Depression Scale (HDS).

HARS terdiri 14 pertanyaan dengan jawaban dalam 5 skala dari nilai 0-4, kemudian nilai 0 berarati tidak terdapat kecemasan; nilai 1 berarti kecemasan ringan; nilai 2 berarti kecemasan sedang; nilai 3 berarti kecemasan berat; dan nilai 4 berarti kecemasan sangat berat (Fahmy, 2007 dalam Apriliawati, 2011).

Total Score < dari 14 artinya tidak ada kecemasan, total score < dari 20 artinya kecemasan ringan, total score < dari 27 artinya

(48)

kecemasan sedang, total score < dari 41 artinya kecemasan berat, total score < dari 56 artinya kecemasan berat sekali (Fahmy, 2007 dalam Apriliawati,2011).

5. Terapi Bermain a. Pengertian

Terapi bermain adalah usaha mengubah tingkah laku bermasalah, dengan menempatkan anak dalam situasi bermain (Adriana, 2013). Terapi bermain adalah salah satu cara untuk mengurangi kecemasan dan meningkatkan kooperatifan anak selama menjalani perawatan dirumah sakit (Handayani, 2008)

b. Fungsi Bermain

Menurut Ridha (2014), fungsi bermain sebagai berikut :

1) Perkembangan sensoris-motorik : membantu perkembangan gerak halus dan pergerakkan kasar anak dengan cara memainkan suatu obyek yang sekitarnya anak merasa senang.

2) Perkembangan kognitif : membantu anak untuk mengenal benda yang ada disekitarnya.

3) Kreatifitas : mengembangkan kreatifitas anak dalam bermain sendiri atau secara bersama.

4) Perkembangan sosial : belajar berinteraksi dengan orang lain, mempelajari peran dalam kelompok.

(49)

5) Kesadaran diri (self awareness) : dengan bermain anak sadar akan kemampuannya sendiri, kelemahannya dan tingkah laku terhadap orang lain.

6) Perkembangan moral : dapat diperoleh dari orang tua, orang lain yang ada disekitar anak.

7) Komunikasi : bermain merupakan alat komunikasi terutama pada anak yang masih belum dapat menyatakan perasaannya secara verbal.

c. Keuntungan Bermain

Menurut Adriana (2013) keuntungan dari bermain adalah : 1) Membuang energi extra

2) Mengoptimalkan pertumbuhan seluruh bagian tubuh

3) Aktivitas yang dilakukan dapat meningkatkan nasfsu makan anak

4) Anak belajar mengontrol diri 5) Meningkatkan daya kreativitas

6) Cara untuk mengatasi kemarahan. Kekhawatiran, iri hati, dan kedukaan

7) Kesempatan untuk belajar bergaul dengan orang atau anak lainnya.

8) Kesempatan untuk belajar mengikuti aturan

(50)

d. Jenis terapi bermain berdasarkan usia

Menurut Jovans (2008) Dalam bermain pada anak tidaklah sama dalam setiap usia tumbuh kembang melainkan berbeda, hal ini dikarenakan setiap tahap usia tumbuh kembang anak selalu mempunyai tugas-tugas perkembangan yang berbeda sehingga dalam penggunaan alat selalu memperhatikan tugas masing-masing umur tumbuh kembang. Adapun karakteristik dalam setiap tahap usia tumbuh kembang anak:

1) Usia 0-1 tahun

Pada usia ini perkembangan anak mulai dapat dilatih dengan adanya reflex, melatih kerja sama antara mata dan tangan, mata dan telinga dalam berkoordinasi, melatih mencari objek yang ada tetapi tidak kelihatan, melatih mengenal asal suara, kepekaan perabaan, keterampilan dengan gerakan yang berulang, sehingga fungsi bermain pada usia ini sudah dapat memperbaiki pertumbuhan dan perkembangan.

Jenis permainan ini permainan yang dianjurkan pada usia ini antara lain: benda (permainan) aman yang dapat dimasukkan kedalam mulut, gambar bentuk muka, boneka orang dan binatang, alat permaianan yang dapat digoyang dan menimbulkan suara, alat permaian berupa selimut, boneka, dan lain-lain.

(51)

2) Usia 1-2 tahun

Jenis permainan yang dapat digunakan pada usia ini pada dasarya bertujuan untuk melatih anak melakukan gerakan mendorong atau menarik, melatih melakukan imajinasi, melatih anak melakukan kegiatan sehari-hari dan memperkenalkan beberapa bunyi dan mampu membedakannya. Jenis permainan ini seperti semua alat permainan yang dapat didorong dan di tarik, berupa alat rumah tangga, balok-balok, buku bergambar, kertas, pensil berwarna, dan lain-lain.

3) Usia 3-6 tahun

Pada usia 3-6 tahun anak sudah mulai mampu mengembangkan kreativitasnya dan sosialisasi sehingga sangat diperlukan permainan yang dapat mengembangkan kemampuan menyamakan dan membedakan, kemampuan berbahasa, mengembangkan kecerdasan, menumbuhkan sportifitas, mengembangkan koordinasi motorik, menegembangkan dan mengontrol emosi, motorik kasar dan halus, memperkenalkan pengertian yang bersifat ilmu pengetahuan dan memperkenalkan suasana kompetensi serta gotong royong. Sehingga jenis permainan yang dapat dighunakamn pada anak usia ini seperti benda-benda sekitar rumah, buku gambar, majalah anak-anak, alat gambar, kertas untuk belajar melipat, gunting, dan air.

(52)

e. Prinsip Bermain di Rumah Sakit

Menurut Ridha (2014), prinsip bermain di rumah sakit adalah : 1) Tidak membutuhkan banyak energi

2) Waktunya singkat 3) Mudah dilakukan 4) Aman

5) Kelompok umur yang sama/sebaya 6) Tidak bertentangan dengan terapi 7) Melibatkan keluarga.

(53)

B. Kerangka Teori

Virus

Nyamuk aedes agypty

Inkubasi Virus

Sistem sistem Sistem Sistem Sistem Sistem

Gastrointestinal eliminasi Integumen Kardiovaskuler Respirasi muskuluskeletal Hepatomegali Perdarahan infeksi virus penurunan zat perpindahan viremia

lambung dengue anafilatoksin cairan dari intra vaskuler ke extra nyeri otot dan menekan Melena temoregulasi Peningkatan vaskuler sendi

diafragma permeabilitas

vaskuler gangguan rasa

Mual,muntah Hb Demam masuk pleura nyaman

menurun kebocoran nyeri

Anoreksia Hipertermi plasma timbunan cairan

Lemah pada pleura

Nafsu makan

Menurun Efusi Pleura

Intoleransi

aktivitas gangguan pola

nafas

(Ridha, 2014)

Gambar 2.1. Kerangka Teori

C. Kerangka Konsep

Gambar 2.2. Kerangka Konsep Aplikasi Tindakan : Terapi bermain Akibat: Penurunan tingkat kecemasan Nutrisi kuranga dari kebutuhan Resiko perdarahan

Cemas Tindakan untuk menurunkan kecemasan - Terapi musik - Terapi bermain Terjadi kecemasan hospitalisasi

(54)

42 BAB III

METODE PENYUSUNAN KARYA TULIS ILMIAH APLIKASI RISET

A. Subyek Aplikasi Riset

Subyek dari aplikasi riset ini adalah anak pra sekolah usia 3 tahun An.D dengan DHF yang mengalami kecemasan akibat hospitalisasi

B. Tempat dan Waktu

Aplikasi riset ini dilaksanakan di Ruang perawatan anak di Rsud Dr. Moewardi Surakarta selama 3 hari dari tanggal 16-18 maret 2015 dalam durasi waktu ±30 menit.

C. Media dan Alat yang digunakan

Pada penelitian ini alat-alat yang digunakan selama bermain adalah mainan lilin berwarna-warni, air cuci tangan, sabun pembersih tangan (Hand wash), handuk pengering tangan, wadah bermain.

D. Prosedur tindakan

Langkah-langkah aktivitas terapi bermain lilin :

1. Mencari dan memilih calon responden sesuai dengan kriteria inklusi. 2. Penulis memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud serta tujuan

(55)

3. Menjelaskan langkah prosedur, manfaat serta resikonya bahwa yang dilakukan tidak membahayakan anak.

4. Memberikan informed consent pada orang tua anak. 5. Mengisi data kuisioner dari keluarga calon responden.

6. Mempersiapkan alat : mainan lilin berwarna-warni, air cuci tangan, sabun pembersih tangan (Hand wash), handuk pengering tangan, wadah bermain. Sedangkan alat ukur dalam penelitian ini berupa lembar observasi tingkat cemas akibat hospitalisasi yang diambil dari preschool anxiety scale.

7. Menjelaskan prosedur pada responden.

8. Melakukan pengukuran awal terhadap tingkat kecemasan anak. 9. Memberikan contoh cara bermain mainan lilin.

10. Memberikan kesempatan pada kilen untuk mencoba cara yang telah diajarkan.

11. Mengatur posisi yang nyaman.

12. Mendampingi dan memotivasi klien sambil selama terapi bermain. 13. Melakukan pengukuran kedua terhadap tingkat kecemasan anak setelah

dilakukan intervensi.

14. Memberikan pujian pada klien dan keluarga.

E. Alat ukur Evaluasi Tindakan

Menurut Hawari (2008), untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan seseorang apakah ringan, sedang, berat atau berat sekali

(56)

digunakan alat ukur yang dikenal dengan nama Hamilton Rating Scale For Anxiety (HRS-A). Alat ukur ini terdiri dari 14 kelompok gejala yang

masing-masing kelompok dirinci lagi dengan gejala-gejala yang lebih spesifik. Masing-masing kelompok gejala diberi penilaian angka (score) antara 0-4, yang artinya nilai 0 berarti tidak ada gejala, nilai 1 gejala ringan, nilai 2 gejala sedang, nilai 3 gejala berat, dan nilai 4 gejala berat sekali. Masing-masing nilai angka (score) dari ke-14 kelompok gejala tersebut dijumlahkan dan dari hasil penjumlahan tersebut dapat diketahui derajat kecemasan seseorang yaitu Total nilai (score) < 14 tidak ada kecemasan, nilai 14-20 kecemasan ringan, nilai 21-27 kecemasan sedang, nilai 28-41 kecemasan berat dan nilai 42-56 kecemasan berat.

Tabel 3.1 Alat ukur kecemasan

No Gejala Kecemasan Nilai Angka (Score)

1. Perasaan Cemas 0 1 2 3 4

a. Cemas b. Firasat buruk

c. Takut akan pikiran sendiri d. Mudah tersinggung

2. Ketegangan 0 1 2 3 4

a. Merasa tegang b. Lesu

c. Tidak bisa istirahat tenamg d. Mudah terkejut e. Mudah menangis f. Gemetar g. Gelisah 3. Ketakutan 0 1 2 3 4 a. Pada gelap b. Pada orang asing c. Ditinggal sendiri

(57)

No Gejala Kecemasan Nilai Angka (Score)

4. Gangguan Tidur 0 1 2 3 4

a. Sukar tidur

b. Terbangun malam hari c. Tidur tidak nyenyak d. Bangun dengan lesu

e. Banyak Mimpi-mimpi ( Mimpi buruk)

5. Gangguan Kecerdasan 0 1 2 3 4

a. Sukar konsentrasi b. Daya ingat menurun c. Daya ingat buruk

6. Perasaan Depresi ( murung ) 0 1 2 3 4 a. Hilangnya minat

b. Sedih

c. Bangun dini hari

d. Perasaan berubah-rubah

7. Gejala Somatik/Fisik Otot 0 1 2 3 4 a. Sakit dan nyeri otot

b. Kaku c. Kedutan otot d. Gigi gemerutuk e. Suara tidak stabil

8. Gejala Somatik/Fisik (sensori) 0 1 2 3 4 a. Titinus (telinga berdenging)

b. Penglihatan kabur c. Muka merah atau pucat d. Merasa lemas

9. Gejala Kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah)

0 1 2 3 4

a. Takikardi (denyut jantung) b. Berdebar-debar

c. Nyeri di dada

d. Denyut nadi mengeras

e. Rasa lesu/lemas seperti mau pingsan

10. Gejala Respiratori (pernafasan) 0 1 2 3 4 a. Rasa tertekan atau sempit di

dada

b. Rasa tercekik

c. Sering menarik nafas d. Nafas pendek/sesak

(58)

No Gejala Kecemasan Nilai Angka (Score) 11. Gejala Gastrointestinal (pencernaan) 0 1 2 3 4 a. Sulit menelan b. Perut melilit c. Gangguan pencernaan

d. Nyeri sebelu atau sesudah makan

e. Rasa penuh dan kembang f. Mual atau muntah

g. Buang air besar lembek atau konstipasi

12. Gangguan Urogenital

(perkemihan)

0 1 2 3 4

a. Sering buang air kecil

b. Tidak dapat menahan air seni

13. Gejala Autonom 0 1 2 3 4

a. Mulut kering b. Muka merah c. Mudah berkeringat d. Kepala terasa berat

14. Tingkah Laku 0 1 2 3 4 a. Gelisah b. Tidak tenang c. Jari gemetar d. Kerut kening e. Muka tegang f. Otot tegang/mengeras Keterangan :

Nilai 0 = Tidak ada gejala, Nilai 1 = Gejala ringan, Nilai 2 = Gejala sedang, Nilai 3 = Gejala berat, Nilai 4 = Gejala berat sekali.

(59)

47 BAB IV LAPORAN KASUS

Bab ini penulis menjelaskan tentang laporan Asuhan Keperawatan pada An. D dengan DHF di Ruang Melati 2 RSUD Dr. Moewardi Surakarta yang dilaksanakan pada tanggal 16 Maret 2015. Asuhan keperawatan ini dilaksanakan mulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan yang menjadi prioritas, intervensi, implementasi dan evaluasi. Kasus ini diperoleh dengan menggunakan metode Autoanamnesa dan Alloanamnesa, pengamatan, observasi langsung, pemeriksaan

fisik, serta menelaah catatan medis dan catatan perawat. A. Pengkajian

1. Identitas Klien

Klien bernama An. D umur 3 tahun, tanggal lahir 17 februari 2012. Penanggung jawab adalah Ny. P, usia 34 tahun, pekerjaan swasta, pendidikan SMA, alamat Gemolong dan hubungan dengan klien adalah ibu.

2. Riwayat Kesehatan Pasien

Keluhan utama yang dirasakan adalah ibu klien mengatakan An. D demam. Riwayat penyakit sekarang ibu klien mengatakan klien demam sejak 3 hari yang lalu dan nafsu makan menurun namun tidak muntah, kemudian klien dibawa ke IGD Rs. Dr. Moewardi Surakarta pada tanggal 12 maret 2015 diperiksa oleh dokter dilakukan pengkajian pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik, kesadaran composmentis, nadi 100

(60)

kali permenit, pernafasan 30 kali permenit, suhu 38,8 0C. Selanjutnya oleh dokter disarankan untuk menjalani rawat inap dan setelah kedua orang tua setuju An. D dipindah ke bangsal melati 2 untuk mendapatkan perawatan.

Pengkajian riwayat penyakit dahulu ibu pasien mengatakan An. D sebelumnya belum pernah dirawat di rumah sakit. Sebelumnya An.D pernah mengalami sakit demam biasa, batuk, pilek, pada saat usia 1,5 tahun. An. D juga tidak mempunyai riwayat alergi obat maupun makanan, ibu pasien mengatakan anaknya sudah mendapatkan imunisasi dasar lengkap.

Pengkajian riwayat keluarga ibu pasien megatakan An. D merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Keluarga pasien tidak ada yang mempunyai penyakit turunan seperti hipertensi, diabetes militus, dan penyakit menular seperti TB paru, asma

(61)

Genogram

An. D

Gambar 4.1. Genogram Keterangan :

Pertumbuhan dan perkembangan pasien didapatkan data antropometri sebagai berikut berat badan 13 kg, tinggi badan 91 cm, lingkar kepala 34 cm, lingkar dada 48 cm dan lingkar lengan 15 cm.

: Perempuan : Tinggal serumah

: Laki - laki

: Meninggal

(62)

Proses hospitalisasi sebelum sakit ibu pasien mengatakan sebelum dirawat anaknya mudah berinteraksi dengan orang lain, selama sakit ibu pasien mengatakan selama dirawat anaknya rewel dan menangis minta pulang karena takut disuntik dengan perawat.

Status nutrisi dan metabolik sebelum sakit ibu pasien mengatakan frekuensi makan anaknya 3x sehari dengan jenis nasi, sayur, lauk makan habis 1 porsi tidak ada keluhan dan minum susu, air putih satu hari 7-8 gelas belimbing jumlahnya kurang lebih 1600-1900 cc. Selama sakit ibu pasien mengatakan selama dirawat anaknya makan 3x sehari dengan nasi, sayur, lauk makan habis ½ porsi keluhan tidak nafsu makan dan minum susu, air putih satu hari 7-8 gelas belimbing jumlahnya kurang lebih 1600-1900 cc.

Pola eliminasi sebelum sakit ibu An. D mengatakan anaknya BAB 1 kali sehari dengan konsistensi lunak, warna kuning, bau khas, dan BAK 6-8 kali sehari dengan warna kuning jernih, bau khas jumlah 1200-1600 cc perhari. Selama sakit ibu An. D mengatakan anaknya BAB 1 kali perhari dengan konsistensi lembek, warna kuning kecoklatan, bau khas, dan BAK 6-8 kali sehari warna kuning pekat, berbau khas jumlah 1200-1600 cc.

3. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik pada An. D keadaan kesadaran composmentis dengan skor Glasgow Coma Scale (GCS) E4 V5 M6. Pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan hasil suhu 38,40C, nadi 90 kali permenit irama

(63)

kuat teratur, pernafasan 30 kali permenit irama teratur. Kepala bentuk mesocepal, simetris, tidak ada luka, rambut hitam dan kulit kepala bersih.

Mata kanan dan kiri simetris, sklera tidak ikterik, konjungtiva tidak anemis, pupil bereaksi terhadap rangsang cahaya, penglihatan normal tidak menggunakan alat bantu penglihatan. Telinga kanan dan kiri simetris, tidak ada serumen, refleks pendengaran baik, tidak menggunakan alat bantu pendengaran. Hidung kanan dan kiri simetris, bersih tidak ada sekret, tidak ada cuping hidung. Mulut bersih tidak ada stomatitis, mukosa kering. Leher tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, nadi karotis teraba kuat, reflek menelan baik.

Pada pemeriksan fisik paru, inspeksi bentuk dada kanan dan kiri simetris, tidak ada luka. Palpasi vocal fremitus kanan dan kiri sama, ekspansi paru kanan dan kiri sama, pengembangan dada kanan dan kiri sama. Perkusi terdengar suara sonor pada seluruh lapang paru. Auskultasi tidak ada suara tambahan, suara lapang paru vesikuler. Pada pemeriksaan fisik jantung. Inspeksi ictus cordis tidak tampak. Palpasi ictus cordis teraba di sela intracosta kelima. Perkusi suara pekak. Auskultasi bunyi jantung I, II murni lub dan dib, tidak ada suara tambahan. Pada pemeriksaan fisik abdomen, inspeksi tidak ada jejas, umbilicus bersih tidak ada penonjolan. Auskultasi peristaltik usus 20 kali permenit. Perkusi kuadaran I redup, kuadaran II III IV tympani. Palpasi tidak ada

Gambar

Gambar 2.1. Kerangka Teori
Tabel 3.1  Alat ukur kecemasan
Gambar 4.1. Genogram  Keterangan :

Referensi

Dokumen terkait

Augustinus adalah seorang Kristen teolog terbesar, dan dia dapat merubah atau meyakinkan penduduk tentang agama Kristen, Augustinus juga pernah menjadi pemimpin yang sangat

Adanya program K3 dapat menjadi sarana bagi organisasi untuk menunjukkan kepedulian organisasi terhadap kesehatan dan kesejahteraan karyawan dalam melaksanakan

Manfaat Dana ADD juga merupakan sebuah sikap mental pemerintah desa yang selalu mempunyai pandangan bahwa kehidupan seseorang/kelompok akan bertambah atau,

Citra lahan terbangun diklasifikan ke dalam empat kategori yaitu lahan terbuka, lahan terbangun kurang rapat (warna magenta), lahan terbangun rapat (warna ungu), dan

Upaya penyadaran dilakukan sejak awal dengan memberikan bekal kepada siswa melalui pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006

Jumlah cabang produktif pertanaman kedelai cenderung lebih tinggi pada tanaman tetua Kipas Merah (G0), walaupun secara statistika tidak berbeda nyata dengan

Data yang terkumpul kemudian digunakan untuk memperkirakan populasi dan distribusi Elang Laut Perut Putih di Kawasan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu, sehingga dapat

Barat.Pengambilan data diperoleh dari pengukuran panjang, lebar dan kemiringan pantai, suhu dan kelembaban sarang, identifikasi vegetasi pantai, dan pengukuran