B. Gerak Manipulatif
2. Konsep Bermain a.Esensi Bermain a.Esensi Bermain
Slamet Suyanto (2005: 117) mengemukakan meskipun bentuk permainan anak anak diseluruh dunia dari waktu ke waktu berbeda beda, tetapi tampaknya esensinya tetap sama. Berikut penjelasan esensi bermain
a. Aktif
Hampir semua permainan anak aktif, baik secara fisik maupun psikis. Anak melakukan eksplorasi, investigasi, eksperimentasi dan ingin tahu tentang orang,benda, ataupun kejadian. Anak menggunakan suatu benda dan memainkan menjadi benda lain. Misalnya, sebuah balok kayu bisa menjadi mobil. Anak berpura pura menggerakan balok kayu seperti gerakan mobil sambil menirukan suara mobil. Anak senang bermain dengan berbagai gerakan, seperti berlari, mengejar, menangkap dan melompat. Jadi, pada saat bermain anak aktif melakukan berbagai kegiatan baik fisik maupun psikis.
24 b. Menyenangkan
Kegiatan bermain tampak sebagai kegiatan yang bertujuan untuk bersenang senang. Mesikupun tidak jarang pada saat bermain menimbulkan tangis diantara anak yang terlibat, tetapi anak anak menikmati permainannya. Mereka bernyanyi, tertawa, berteriak lepas, dan ceria seakan tidak memiliki beban hidup. c. Motivasi Internal
Anak ikut dalam suatu kegiatan permainan secara suka rela. Mereka termotivasi dari dalam dirinya (motivasi internal) untuk ikut bermain. Bentuk permainannya juga dipilih dan ditentukan bersama. Begitu pula peran tiap tiap anak ditentukan secara adil sesuai aturan yang berlaku.
d. Memiliki aturan
Setiap permainan ada aturannya. Untuk bermain petak umpet misalnya, ada aturannya, baik untuk menentukan anak yang akan berperan sebagai pencari maupun yang dicari. Anak yang ditemukan paling awal akan menjadi pencari berikutnya. Jika anak yang bersembunyi tidak kunjung ditemukan maka mereka akan memberikan clue atau petunjuk agar mereka menemukan teman yang dicari. e. Simbolis dan berarti
Pada saat bermain anak menghubungkan antara pengalaman lampaunya yang tersimpan dalam LKM dengan kenyataan yang ada. Pada saat bermain anak bisa berpura pura menjadi orang lain dan menirukan karakternta. Ia bisa menjadi seorang polisi, guru, ayah, ibu, atau menjadi bayi. Jadi, bermain memungkinkan anak menggunakan berbagai objek sebagai simbol dari benda orang lain sehingga bermain disebut simbolis. Peran peran yang dimainkan anak biasanya meniru
25
peran peran orang dewasa dalam masyarakatnya sehingga kegiatan tersebut sangat berarti (maeningful) bagi kehidupan anak kelak. Banyak anak anak sejak kecil suka berpura pura menjadi penyanyi ternyata ketika dewasa menjadi penyanyi betulan. Hal ini bukan hal yang kebetulan, tetapi apa yang dimainkan anak memiliki arti bagi dirinya.
b. Fungsi Bermain bagi Perkembangan anak
Slamet Suyanto (2005: 119) mengemukakan bahwa bermain memiliki peran penting dalam perkembangan pada anak hampir semua bidang perkembangan, baik perkembangan fisik-motorik, bahasa, intelektual, moral, sosial maupun emosional.
1. Kemampuan Motorik
Piaget dikutip dalam Slamet Suyanto (2005: 119) mengemukakan bahwa berbagai penelitian menunjukan bahwa bermain memungkinkan anak bergerak secara bebas sehingga anak mampu mengembangkan kemampuan motoriknya. Pada saat bermain anak berlatih menyesuaikan anatara pikiran dan gerakan menjadi suatu keseimbangan. Menurut Piaget, anak terlahir dengan kemampuan reflek, kemudian ia belajar menggabungkan dua atau lebih gerak refleks, dan pada akhirnya ia mampu mengontrol gerakkannya. Melalui bermain anak akan berlajar mengontrol gerakannya menjadi gerakan koordinasi.
2. Bermain Mengembangkan Kemampuan Kognitif
Piaget dikutip dalam Slamet Suyanto (2005: 119) anak belajar memahami pengetahuan dengan berinteraksi melalui objek yang ada disekitarnya. Bermain memberikan kesempatan kepada anak untuk berinteraksi dengan objek. Anak
26
memiliki kesempatan menggunakan inderanya, seperti menyentuh, mencium, mendengarkan untuk mengetahui sifat sifat objek. Dari pengindraan tersebut anak memperoleh fakta-fakta, informasi, dan pengalaman yang akan menajdi dasar untuk berpikir absarak. Jadi, bermain menjembatani anak dari berpikir konkret ke berpikir absrak. Penelitian Hoorn (1993) menunjukan bahwa bermain memiliki peran sangat penting dalam mengembangkan kemampuan berpikir logis, imajinatif, dan kreatif.
3. Kemampuan afektif
Setiap permainan memiliki aturan. Aturan akan diperkenalkan oleh teman bermain sedikit demi sedikit, tahap demi tahap sampai setiap anak memahami aturan bermain. Oleh karena itu, bermain akan melatih anak menyadari adanya aturan dan pentingnya mematuhi aturan. Hal itu merupakan tahap awal dari perkembangan moral.
4. Kemampuan bahasa
Pada saat bermain anak menggunakan bahasa, baik untuk berkomunikasi dengan temannya maupun sekedar menyatakkan pikirannya. Sering kita menjumpai anak kecil bermain sendiri mengucapakan kata kata seakan akan ia bercapak capak dengan diri sendiri. Ia sebenarnya sedang “membahasakan” apa yang ada dalam pikirannya. Vygotsky dikutip dalam Slamet Suyanto (2005: 119) mengemukakan bahwa peristiwa seperti itu menggambarkan bahwa anak sedang dalam menggabungkan pikiran dengan bahasa menjadi satu kesatuan. Ketika anak bermain dengan temannya mereka saling berkomunikasi dengan menggunakan bahasa anak dan itu berarti secara tidak langsung anak belajar bahasa.
27 5. Kemampuan Sosial
Pada saat anak bermain anak berinteraksi dengan anak yang lain. Interaksi tersebut mengajarkan anak cara merespon, memberikan dan menerima, menolak atau setuju dengan ide dan perilaku anak yang lain. Hal itu sedikit demi sedikit akan mengurangi rasa egosentris anak dan mengembangkan kemampuan sosialnya.
c. Manfaat Bermain bagi Anak Usia Dini
Manfaat bermain menurut Mayke Sugiono (1995: 29-35) di dalam buku bermain, mainan, permainan yaitu antara lain
1. Manfaat bermain untuk perkembangan Aspek Fisik
Bila anak mendapatkan kesempatan untuk melakukan kegiatan yang banyak melibatkan gerakan gerakan tubuh, akan membuat tubuh anak menjadi sehat. Otot otot tubuh akan tumbuh dan menajdi kuat. Selain itu anggota tubuh mendapat kesempatan untuk digerakkan. Anak juga dapat menyalurkan tenaga (energi) yang berlebihan sehingga ia tidak merasa gelisah. Namun sebaliknya jika anak dian berjam jam lamanya, ia akan merasa bosan, tidak nyaman dan tetekan. Hal ini bisa diamati pada anak usia prasekolah memang pada umunnya aktif, banyak bergerak dan rentang perhatian masih terbatas. Sehingga guru perlu kreatif merancang variasi kegiatan di dalam maupun di luar kelas yang tidak membosankan umtuk anak.
28
2. Manfaat Bermain untuk perkembangan aspek motorik kasar dan motorik halus Saat dilahirkan, seorang bayi tidak berdaya karena ia belum mamou menggunakan anggota tubuhnya untuk dimanfaatkan kepentingan dirinya. Bayi yang baru lahir hanya dapat menangis sambil menggerak gerakan tangan kakinya. Pada usiua 3 bulan, ia mulai belajar meraih mainan yang ada ditempat tidurnya, ia b3elajar untuk mengkoordinasikan gerakan mata dengan tangan. Usia sekitar 1 tahun misalnya anak sedang memainkan pensil untuk membuat coretan coretan. Secara tidak langsung ia belajar melakukan gerakan gerakan motrorik halus yang yang diperlukan untuk menulis. Usia sekitar 2 tahun ia sudah mampu mebuat coretan coretan benang kusut, setelah usia 3 tahun berhasil membuat garis lengkung. Usia 4 dan 5 tahun mulai belajar gabungan dari bentuk bentuk geometri misalnya menggambar orang, rumah dan lain lain. Aspek motorik kasar yang dapat dikembangkan melalui kegiatan bermain, misalnya kejar kejaran menangkap temannya.
3. Manfaat bermian untuk perkembangan aspek sosial
Teman sepermainanya yang seusia dengannya, anak akan belajar berbagi hak milik, menggunakan mainan secara bergilir, melakukan kegiatan bersama, mempertahankan hubungan yang sudah dibina, mencari cara pemecahan masalah yang dihadapi dengan reman. Ia juga berkomunikasi dengan sesama teman baik dalam hal mengemukakan isi pikiran dan perasaan maupun memahami apa yang diucap oleh teman tersebut, sehingga hubungan dapat terbina dan saling bertukar informasi. Bermain peran sebagai media bagi anak untuk mempelajari budaya setempat, peran peran sosial dan peran jensi kelamin yang berlangsung di dalam
29
masyarakat. Melalui bermain peran anak juga belajar berlaku sebagai orang tua, guru dokter, dan lain lain. Sehingga anak anak dapat mengetahui tugas masing masih peran.
4. Manfaat bermain untuk perkembangan emosi atau kepribadian
Bagi anak bermain adalah sesuatu kebutuhan yang sudah ada dengan sendirinya (inherent) dan sudah terberi secara alamiah. Melalui bermain, seorang anak dapat melepaskan ketegangan yang dialaminya karena banyaknya larangan yang ia alami dalah hidup sehari hari. Sekaligus dapat memenuhi kebutuhan kebutuhan dan dorongan dorongan dari dalam diri yang tidak terpuaskan dalam kehidupan nyata. Dari kegiatan bermain yang dilakukan bersama sekelompok teman, anak akan mempunyai penilaian terhadap dirinya tentang kelebihan kelebihan yang ia miliki sehingga dapat membantu membentuk konsep yang positif, mempunyai rasa percaya diri dan harga diri karena ia merasa mempunyai kompetenis tertentu. Anak akan belajar bagaimana harus bersikap dan bertingkah laku agar dapat berkerja sama dengan teman teman, bersikap jujur, murah hati dan sebagainya.
5. Manfaat Bermain untuk perkembangan aspek kognisi
Aspek Kognisi adalah sebagai pengetahuan yang luas dan daya nalar anak, kreativitas (daya cipta), kemampuan berbahasa, serta daya ingat. Banyak konsep dasar yang bisa dipelajari atau diperoleh anak prasekolah melalui bermain. Pada usia prasekolah perlu menguasai berbagai konsep konsep seperti warna, bentuk, arah, besaran, dan lain lain. Pengenalan konsep konsep tersebut dilakukan sambil bermain, maka anak akan merasa senang, tanpa ia sadari ia sudah banyak belajar.
30
Misalnya memperkenalkan warna, ukuran bisa menggunakan kegiatan bermain memancing ikan yang terdiri dari macam macam warna dan ukuran. Selain itu anak juga dapat belajar macam macam hal mulai dari bercerita, gambar gambar yang ia lihat, menonton tivi, menjelajahi lingkungan sekitarnya sehingga hal hal yang tidak ia peroleh di rumah atau disekolah dapat dipenuhi dengan pengalamannya yang ia peroleh. Kreativitas dapat dikembangkan melalui percobaan serta pengalaman yang ia peroleh melalui bermain.
6. Manfaat Bermain untuk mengasah ketajaman pengindraan
Pada anak prasekolah ketajaman atau kepekaan penglihatan dan pendengaran sangat perlu untuk dikembangkan karena akan membantu anak agar lebih mudah belajar mengenal dan mengingat bentuk bentuk atau kata kata yang akhirnmya memudahkan anak untuk belajar membaca, menulis dikemudian hari. Kepekaan penglihatan dan pengindraan dapat dilatih sejak dini, misalnya bayi dimulai melalui permainan krincing, musik bokali yang menimbulkan macam macam suara. Membacakan cerita, mengajak berbicara, mendengarkan lagu yang dinyanyikan ibu akan membuat anak belajar memperhatikan dan mengingat cerita tertentu. Pada usia prasekolah anak dapat mengamati bentuk, ukuran, warna, besaran misalnya alat alat permainan edukatif atau memainkan benda seperti rumah tangga. Melalui bermain air yang diisi kedalam bermacam macam tempat maka ia dapat mengamati perubahan bentuk air juga volume air.
31
Bila seorang anak tubuhnya sehat, kuat, cekatan, melakukan gerakan gerakan baik belari, meniti, bergelantungan, melompat, menendang, melempar serta menangkap bola maka ia lebih siap menekuni bidang olehraga tertentu.
Demikian pula hal dengan kegiatan menggiring bola. Untuk kegiatan menggiring bola, diperlukan gerakan gerakan cekatan, lentur, tidak canggung yakin apa yang dilakukan sehingga ia bisa menggiring bola tanpa merasa takut. Yang terpenting adalah anak menyukai dan senang pada kegiatan tersebut yang nantinya dapat dikembangkan sesuai dengan minat, bakat masing masing anak. 3. Konsep Menggiring Bola
Toho Cholik M (1997: 74) mengumakakn bahwa bermain dengan menggunakan bola adalah suatu jenis permainan paling menarik suatu jenis permainan paling menarik diantara permainan yang menggunakan alat. Entah itu menggunakan bola kecil seperti kasti soft ball. Dalam permainan bola, ada sejumlah keterampilan dasar yang bersifat umum yang digunakan dalam memainkan sebuah bola
Keterampilan keterampilan tersebut antara lain : a. Menggontrol bola
Menggontrol bola adalah kemampuan menguasai mengendalikan dan menggarahkan bola sehingga bola itu dapat dimainkan sesuai dengan yang diinginkan. Anak dapat menggontrol bola dengan baik biasanya menjadi pemain yang baik pula. Pemain yang demikian ini dapat mengendalikan atau mengatur bola yang berpenagruh pada irama suatu permainan. Beberapa bentuk ketrampilan mengontrol bola antara lain :
32 1) Dribbling (menggiring) dengan kaki 2) Dribbling mengikuti garis lurus 3) Dribbling dengan mengubah arah
4) Dribbling menggunakan kaki secara bergantian, dan merubah arah 5) Dribbling dengan mengubah kecepatan dan arah.
b. Menggiring Bola (Dribbling)
Sucipto, dkk., (2000: 28) mengemukakan bahwa pada dasarnya menggiring bola adalah menendang terputus putus atau pelan pelan, oleh karena itu bagian kaki dipergunakan dalam menggiring bola sama dengan bagian kaki yang dipergunakan untuk menendang bola. Menggiring bola bertujuan antara lain mendekati jarak ke sasaran, melewati lawan dan menghambat permainan.Aip Syarifuddin (1993: 15) mengumakakan bahwa teknik dasar menggiring bola adalah cara membawa bola dengan menggunakan kaki, dengan tujuan agar bola yang ditendang (dioper) atau dimasukan ke gawang akan lebih dekat. Selain itu, merupakan salah satu cara untuk menyelematkan bola, bila tidak ada kemungkinan untuk dioperkan atau dimasukan kegawang lawan dengan segera.
Berdasarkan pengertian menggiring bola menurut beberapa ahli maka dapat disimpulkan bahwa menggiring bola merupakan salah satu keterampilan dasar sepak bola yang menggunakan bagian kaki atau menggulirkan bola terus menerus sambil berlari membawa bola dengan cepat kesegala arah baik depan maupun belakang dengan kelenturan tubuh.
33 a. Langkah-langkah Menggiring Bola
Aip Syarifuddin (1993 :15) mengemukakan teknik menggiring bola (dribbling) antara lain :
1. Teknik dasar menggiring bola adalah cara membawa bola dengan menggunakan kaki, dengan tujuan agar bola yang ditendang (dioper) atau dimasukan ke gawang akan lebih dekat. Selain dari itu, merupakan salah satu cara untuk menyelematkan bola, bila tidak ada kemungkinan untuk dioperkan atau dimasukan kegawang lawan dengan segera
2. Pada waktu menggiring bola, bola harus tetap berada dalam penguasaan dan penggontrolan. Setiap pemain harus dapat mencurahkan perasaan kakinya pada bola, sehingga pandangan dapat dipergunakan untuk melihat keadaan kawan dan lawan.
3. Pada waktu menggiring bola setiap pemain dapat bertindak cepat dan tepat, serta menggunakan berbagai variasi seperti menggubah arah, berhenti dengan tiba tiba maupun melakukan gerakan kecepatan dengan secara tiba tiba.
4. Pelaksanaan menggiring bola, baik dalam latihan maupun dalam pertandingan dapat dilakukan menggunakan kaki bagian dalam, punggung kaki, kaki luar atau pun dengan telapak kaki.
5. Cara menggiring dapat dilakukan dengan cara, seperti menggiring bola lurus sambil bolak balik (zig-zag) baik melewati rintangan maupun tidak.
6. Sikap dan keadaan badan pada waktu menggiring bola hampir sama dengan waktu menendang bola, hanya kaki yang dipergunakan untuk menggiring bola harus selalu dekat bola.
34
Sucipto, dkk., (2000: 28) berpendapat bahwa macam macam menggiring bola antara lain :
a. Menggiring bola dengan kaki bagian dalam.
Gambar 1. Menggiring bola menggunakan kaki dalam 1) Posisi kaki menggiring bola sama dengan posisi menendang bola.
2) Kaki yang digunakan untuk menggiring bola tidak ditarik kebelakang hanya diayunkan ke depan.
3) Diupayakan setiap melangkah, secara teratur bola disentuh atau didorong bergulir ke depan.
4) Bola bergulir harus selalu dekat dengan kaki dengan demikian bola dapat dikuasai.
5) Pada waktu menggiring bola kedua lutut sedikit ditekuk untuk mempermudah penguasaan bola.
6) Pada saat kaki menyentuh bola, pandangan ke arah bola dan selanjutnya melihat situasi lapangan.
7) Kedua lengan menjaga keseimbangan di samping badan. b. Menggiring bola dengan kaki bagian luar.
Sucipto, dkk., (2000: 30) mengemukakan bahwa pada dasarnya menggiring bola dengan kaki bagian luardigunakan untuk melewati atau
35
mengecoh lawan. Analisis menggiringbola dengan kaki bagian luar adalah sebagai berikut:
Gambar 2. Menggiring bola mengunakan kaki luar
1) Posisi kaki menggiring bola sama dengan posisi menendangdengan punggung kaki bagian luar.
2) Kaki yang digunakan menggiring bola hanya menyentuh atau mendorong bola bergulir ke depan.
3) Tiap melangkah secara teratur kaki menyentuh bola tetap dikuasai. 4) Kedua lutut sedikit ditekuk agar mudah untuk menguasai bola.
5) Pada saat kaki menyentuh bola pandangan ke arah bola, selanjutnya melihat situasi.
6) Kedua lengan menjaga keseimbangan di samping badan.
c. Sucipto, dkk., (2000: 31) mengemukakan bahwa menggiring bola dengan punggung kaki.
Menggiring bola dengan punggung kaki pada umumnya digunakan untuk mendekati jarak dan paling cepat dibandingkan dengan bagian kaki lainya. Anak-anak jarang menggunakan menggiring bola dengan punggung kaki.
36
Analisis menggiring bola dengan punggung kaki adalah sebagai berikut:
Gambar 3. Menggiring bola dengan menggunakan punggung kaki
1) Posisi kaki menggiring bola sama dengan posisi menendang dengan punggung kaki.
2) Kaki yang digunakan menggiring bola hanya menyentuh atau mendorong bola tanpa terlebih dahulu ditarik ke belakang dan diayun ke depan.
3) Tiap melangkah secara teratur kaki menyentuh bola.
4) Bola bergulir harus selalu dekat dengan demikian bola tetap dikuasai. 5) Kedua lutut sedikit ditekuk agar mudah menguasai bola.
6) Pandangan melihat bola pada saat kaki menyentuh,kemudian lihat situasi dan kedua lengan menjaga keseimbangan di samping badan.