V HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Aspek Sumberdaya Wisata 1 Void (Danau
3 Visual Pemandangan pegunungan pada bagian timur dan barat tapak
5.6 Konsep dan Pengembangan Konsep 1 Konsep Dasar Perencanaan
Perencanaan kawasan pasca tambang Pit Ata untuk ekowisata bertujuan memperbaiki kualitas biofisik kawasan ini yang sudah rusak secara ekologis akibat aktifitas penambangan batubara. Perencanaan kawasan ekowisata ini akan memperbaiki dan menjaga kelestarian lingkungan, memberi edukasi bagi wisatawan dan masyarakat dan bermanfaat secara ekonomi bagi masyarakat lokal. Pada akhirnya diharapkan mampu meningkatkan rasa kepedulian masyarakat untuk menjaga kawasan ini dengan segala sumberdaya alamnya melalui pemanfaatan sebagai tempat berwisata yang memperhatikan kondisi ekologis tapak. Sehingga dalam perencanaan ekowisata ini dikembangkan beberapa fungsi yaitu:
Fungsi Wisata, dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan wisata dan rekreasi masyarakat, pendatang seperti karyawan atau pekerja tambang dan wisatawan yang dituangkan dalam bentuk aktivitas-aktivitas wisata yang menonjolkan potensi-potensi tapak serta pengembangan fasilitas penunjang yang dapat diakomodasi dalam tapak. Namun aktivitas wisata harus dibatasi sesuai dengan kemampuan daya dukung kawasan yang hal ini merupakan inti dari konsep ekowisata.
Fungsi Konservasi, dikembangkan mengingat kawasan pasca tambang yang telah rusak akibat kegiatan penambangan membutuhkan perhatian lebih dalam merehabilitasi kondisi ekologisnya. Walaupun akan membutuhkan puluhan tahun untuk mengembalikan kawasan pasca tambang menuju kondisi ekosistem yang seimbang (Burley, 2001), prinsip konservasi harus diterapkan guna menghidupkan dan melestarikan potensi keanekaragaman hayati lokal yang telah hilang.
Fungsi Pendidikan, berkaitan dengan pendidikan lingkungan dan rasa cinta alam yang hendak dicapai melalui kegiatan wisata dan rekreasi alam untuk pengunjung dan masyarakat. Selain itu penyampaian ilmu terkait proses reklamasi tambang yang baik dan benar serta manfaat-manfaat dari reklamasi dapat menjadi contoh “green mining practices” sehinngga pengunjung dapat mengetahui dampak dan tanggung jawab dari kegiatan penambangan.
Fungsi ekonomi, berhubungan dengan fungsi lainnya untuk menghasilkan keuntungan ekonomi baik dari aspek wisata maupun aspek budidaya yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Fungsi ekonomi ini bertujuan untuk memperdayakan masyarakt lokal dalam perencanaan maupun pengelolaan kawasan sehingga nilai kesejahteraan saat lokasi masih dilakukan penambangan akan tetap ada.
5.6.2 Pengembangan Konsep Perencanaan 5.6.2.1 Konsep Pengembangan Ruang
Pembagian ruang yang diterapkan di tapak berdasarkan kesesuaian aspek sumberdaya alam, sumberdaya wisata, sumberdaya manusia dan mengacu kepada konsep ekowisata itu sendiri sehingga terdapat ruang yang dapat dimanfaatkan (zona pemanfaatan) dan ruang yang harus dikonservasi (zona konservasi). Ruang yang dapat dimanfaatkan antara lain ruang wisata berbasis rekreasi, wisata berbasis edukasi, pelayanan dan penerimaan dan budidaya. Sedangkan ruang yang dikonservasi antara lain adalah ruang konservasi dan ruang penyangga. Diagram pengaturan ruang dapat dilihat pada Gambar 25.
5.6.2.2 Konsep Pengembangan Sirkulasi
Konsep sirkulasi ekowisata yang dikembangkan bertujuan untuk memberi kepuasan pada wisatawan dalam berwisata. Sirkulasi berfungsi sebagai penghubung antar ruang dalam tapak atau dalam ruang itu sendiri secara
fungsional. Selain itu keberadaan jalur sirkulasi juga akan menjaga dan mengatur sirkulasi wisatawan agar setiap ruang dimanfaatkan sesuai daya dukungnya. Jenis jalur sirkulasi disesuaikan dengan intensitas penggunaan serta fungsi dari ruang- ruang yang dihubungkan jalur tersebut. Selain itu pembentukan jalur sirkulasi yang dibentuk mengutamakan kondisi fisik pada tapak.
Konsep sirkulasi pada tapak dibagi menjadi tiga jalur yaitu jalur primer yang menghubungankan ruang yang terdapat di tapak dan dapat dilalui kendaraan bermotor dengan pola linear. Jalur sekunder merupakan jalur yang terdapat di dalam ruang-ruang wisata dengan pola loop sehingga mengelilingi ruang wisata. Jalur ini hanya dapat dilalui pejalan kaki dan sepeda, tujuannya untuk membatasi jumlah pengunjung ke tapak. Jalur ini dilengkapi dengan papan interpretasi untuk memberi informasi dan edukasi pada pengunjung. Sedangkan jalur sirkulasi air berfungsi sebagai jalur wisata bersampan pada danau utama. Diagram konsep sirkulasi dapat dilihat pada Gambar 26.
5.6.2.3 Konsep Pengembangan Wisata
Aktifitas wisata yang akan dikembangkan di Pit Ata diarahkan bersifat edukatif dan rekreatif. Secara keseluruhan area ekowisata ini menjadikan alam sebagai objek utamanya dimana setiap aktifitas yang dilakukan memanfaatkan potensi alam yang ada. Aktifitas wisata yang bersifat edukatif berupa interpretasi
terhadap keanekaragaman vegetasi dan satwa lokal yang terdapat di tapak. Selain itu, pengunjung dapat mempelajari bagaimana area pasca tambang yang sudah rusak secara ekologis dapat bermanfaat dalam jangka panjang dengan prinsip- prinsip konservasi alam dalam proses pertambangan. Hal ini dapat memanfaatkan museum (indoor maupun outdoor) yang menunjukan kondisi kawasan sebelum pertambangan, saat pertambangan berlangsung dan sesudah pertambangan. Alternatif edukasi yang diberikan adalah edukasi terkait budidaya tanaman hutan dan perikanan. Area budidaya ini dapat dimanfaatkan dan dikelola oleh masyarakat sehingga dapat menjadi suatu atraksi wisata.
Aktifitas rekreasi di tapak direncanakan untuk dapat menampung kebutuhan rekreasi pengunjung dari segala usia dan golongan ekonomi. Rekreasi ini merupakan rekreasi alam yang mencakup rekreasi aktif sampai pasif. Kegiatan rekreasi ini diharapkan tidak hanya dapat dimanfaatkan oleh pengunjung akan tetapi masyarakat lokal dan pegawai tambang di sekitar lokasi. Akan tetapi kegiatan rekreasi harus tetap terbatas penggunaannya sesuai daya dukung kawasan agar dapat berkelanjutan.
5.6.2.4 Konsep Pengembangan Vegetasi
Konsep vegetasi dalam pengembangan kawasan ekowisata pada Pit Ata dibagi menjadi empat fungsi. Peta konsep vegetasi dapat dilihat pada Gambar 27. 1. Fungsi Konservasi
Vegetasi berfungsi untuk mengkonservasi tanah, air dan membentuk habitat satwa lokal. Vegetasi konservasi di dalam tapak terutama dikembangkan pada area sempadan danau utama dan sungai dan area yang memiliki kemiringan curam hingga sangat curam. Pemilihan jenis vegetasi diutamakan vegetasi lokal karena selain dapat menjadi objek edukasi, vegetasi lokal akan sesuai dalam membentuk habitat satwa lokal.
2. Fungsi Estetika
Vegetasi berfungsi sebagai elemen keindahan pada tapak yang mampu menghadirkan suasana visual yang baik. Vegetasi estetika terutama dikembangkan di ruang penerimaan, pelayanan, wisata rekreasi dan area sekitar bangunan.
3. Fungsi Pengarah
Vegetasi berfungsi untuk mengarahkan sirkulasi kendaraan maupun pejalan kaki. Vegetasi pengarah dikembangkan di sepanjang jalur sirkulasi.
4. Fungsi Penyangga
Vegetasi berfungsi untuk melindungi kawasan wisata dari aktivitas negatif dari luar kawasan yang dapat merusak kawsan wisata itu sendiri. Vegetasi penyangga dikembangkan pada ruang penyangga.
5. Fungsi Produksi
Penggunaan vegetasi produksi dikembangkan pada ruang budidaya. Pemilihan jenis vegetasi yang digunakan merupakan tanaman kehutanan yang memiliki nilai ekonomis dari hasil kayunya maupun non kayu.
5.6.2.5 Konsep Pengembangan Fasilitas
Fasilitas yang direncanakan dalam tapak adalah fasilitas yang dapat menunjang aktifitas dan fungsi pada masing-masing ruang. Kriteria fasilitas yang direncanakan adalah fasilitas yang aman, nyaman, berkesan alami, tahan terhadap iklim dan vandalism, mudah dalam perawatan, serta pada bangunan fasilitas tertentu dapat mengikuti bentuk arsitektural rumah banjar yang menjadi bentuk rumah warga lokal.
Penempatan fasilitas pada setiap ruang disesuaikan dengan kondisi fisik tapak (kemiringan lahan), fungsi, aspek visual yang mendukung dan estetikanya. Perkiraan luas bangunannya disesuaikan dengan standar yang ada dan penempatannya tidak terlalu masal sehingga mengurangi kesan alami pada tapak.