• Tidak ada hasil yang ditemukan

V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2 Sumberdaya Manusia 1 Preferensi Masyarakat

Untuk mengetahui preferensi masyarakat lokal terhadap perencanaan pasca tambang pit Ata maka dilakukan survey dengan metode penyebaran kuesioner dengan teknik purposive sampling kepada 30 responden dari ketiga permukiman sekitar pit Ata.

Berdasarakan hasil survey tersebut 90 persen dari seluruh responden setuju untuk mengembangkan pit Ata sebagai kawasan wisata. Terhitung pula 87 persen dari responden bersedia berpartisipasi dalam pengembanagan kawasan ini sebagai kawasan wisata. Beberapa responden bersedia menjadi tenaga kerja pengelola kawasan wisata dan mayoritas responden ingin menyediakan akomodasi seperti

penginapan, rumah makan dan lain-lain. Mayoritas responden juga mengatakan bahwa kawasan pit Ata memiliki potensi lahan yang berbukit-bukit dan gunung- gunung kapur sekitarnya yang dapat menjadi daya tarik wisata.

Berdasarkan wawancara mayoritas masyarakat ingin mengembangkan budidaya tanaman karet (Hevea Brasiliensis) dan sawit (Elaeis guineensis) dan beberapa ingin tanaman kehutanan penghasil kayu dan tanaman buah-buahan. Dengan melihat kawasan ini sebagai kawasan hutan produksi maka pengembangan tanaman karet, tanaman kehutanan penghasil kayu dan tanaman buah-buahan dapat dilakukan tetapi tidak untuk tanaman sawit. Pada danau, masyarakat ingin memanfaatkan sebagai area rekreasi dan budidaya ikan. Pemanfaatan ikan dapat dilakukan apabila perlakuan terhadap kualitas air terus ditingkatkan.

Berdasarkan hasil survey 93% dari responden tidak mengetahui dan tidak pernah dengar dengan konsep ekowisata dalam suatu wisata. Pemahaman mengenai ekowisata kemudian disampaikan kepada responden dan mayoritas setuju dengan konsep tersebut. Hasil kuesioner masyarakat dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Hasil Kuesioner Masyarakat Terkait Preferensi terhadap Kawasan Pit Ata

No Variabel Frekuensi Frekuensi

Relatif 1 Jenis Kelamin: a. Laki-laki 17 56. 7% b. Perempuan 13 43.3% 2 Tingkat Pendidikan: a. SD 15 50% b. SLTP 7 23.3% c. SLTA 5 16.7% d. Perguruan Tinggi 3 10% 3 Pekerjaan: a. Pelajar/Mahasiswa

b. Ibu rumah tangga 6 20%

c. Guru 4 13.3%

d. Karyawan 12 40%

No Variabel Frekuensi Frekuensi Relatif

4 Apakah anda mengetahui mengenai Rencana Penutupan Tambang?

a. Ya 10 33.3%

b. Tidak 20 66.7%

5 Pemanfaatan apa yang sebaiknya dilakukan di area sekitar void?

a. Rekreasi 13 43.3%

b. Budidaya ikan 17 56.7%

c. Area Konservasi -

d. Lainnya -

6 Bagaimana anda menuju kawasan Ata?

a. Kendaraan umum 6 20% b. Berjalan Kaki 13 43.3% c. Sepeda - d. Sepeda motor 11 36.7% e. Mobil pribadi - f. Lainnya -

7a Setujukah kawasan Ata dikembangkan menjadi area wisata?

a. Ya 27 90%

b. Tidak 3 10%

7b Alasan menjawab ya:

a. Kurangnya lokasi wisata/rekreasi di sekitar area ini 13 48.1% b. Dengan adanya pengelola wisata, kawasan akan tetap lestari dan

terjaga

5 18.5% c. Dapat menambah lapangan pekerjaan dan peluang usaha 8 29.6%

d. Lainnya -

8a Adakah daya tarik tertentu dari kawasan Ata dan sekitarnya?

a. Ya 19 63.3%

b. Tidak 11 36.7%

8b Jika ya, apa daya tarik tersebut?

a. Bentukan lahan yang berbukit-bukit 7 36.8%

b. Gunung kapur 9 47.5%

c. Sungai-sungainya 1 5.2% d. Budaya lokal yang menarik -

e. Lainnya 2 10.5%

9a Apakah anda bersedia ikut terlibat dalam perencanaan maupun pengelolaan kawasan wisata?

a. Ya 26 86.7%

b. Tidak 4 13.3%

9b Jika ya, bagaimana anda akan ikut terlibat?

a. Sebagai pemilik -

b. Sebagai Investor -

c. Sebagai Tenaga Kerja 8 30.8% d. Sebagai Penyedia akomodasi (penginapan,tempat makan) 18 69.2%

e. Lainnya -

No Variabel Frekuensi Frekuensi Relatif

10a Apakah anda mengetahui tentang ekowisata?

a. Ya 1 3.3%

b. Tidak 28 93.3%

c. Pernah dengar 1 3.4%

10b Jika ya, setujukan anda jika kawasan ex-tambang Ata dikembangkan dengan konsep ekowisata?

a. Ya 1 100%

b. Tidak -

5.2.2 Preferensi Pihak PT Arutmin Indonesia

Berdasarkan PERMEN-ESDM nomor 18 tahun 2008, dalam melaksanakan reklamasi dan penutupan tambang, perusahaan wajib memenuhi prinsip-prinsip lingkungan hidup, keselamatan dan kesehatan kerja, serta konservasi bahan galian. PT Arutmin Indonesia Tambang Batulicin bertanggungjawab terhadap pembuatan program-program dan tindakan-tindakan yang akan dilakukan terkait penutupan tambang dari saat ini sampai dengan penyerahan wilayah bekas tambang kembali kepada Pemerintah Republik Indonesia.

Pada penelitian ini, dilakukan wawancara terhadap Environmental Supervisor PT Arutmin Indonesia Tambang Batulicin , Bapak RS Subyiakto guna mengetahui preferensi perusahaan dalam perencanaan penutupan tambang pit Ata. Menurut beliau, penutupan ex-tambang Pit Ata akan sesuai dijadikan area wisata dan juga reservoir untuk sumber air bersih karena lokasinya yang relatif dekat dengan pemukiman/perkampungan. Beliau menambahkan bahwa lokasi sekitar pit Ata miskin area wisata (jauh dari pantai, danau atau areal wisata lainnya) sehingga dapat memberi hiburan bagi masyarakat.

Menurut Bapak RS Subiyakto, konsep ekowisata sangat sesuai di terapkan pada kawasan ex-tambang karena selain memberi hiburan kepada masyarakat, ekowisata juga memberikan aspek pendidikan lingkungan. Nilai edukasi pada kawasan ini dapat dikembangkan dimana mengajarkan masyarakat bahwa lokasi tambang yang dikelola dengan prinsip good mining practice akan memberikan manfaat yang besar.

5.2.3 Aspek Legal

Jika dilihat dari segi pengembangan wilayah, Kecamatan Batulicin termasuk ke dalam wilayah yang diarahkan kepada pengembangan pertanian, perkebunan, peternakan, pertambangan, pariwisata dan aneka industry dengan pusat pengembangan di Batulicin (PT AI BTL, 2003). Wilayah ini secara regional merupakan salah satu kawasan pengembangan ekonomi terpadu yang lebih dikenal dengan KAPET Batulicin. Barbagai infrastruktur seperti pelabuhan, industri serta sarana perdagangan telah dibangun. Hal ini mendukung akan pengembangan pariwisata pada wilayah Batulicin.

Memperhatikan RTRWK, RTRWP serta IPPKH pada tambang Batulicin, maka areal akan dikembalikan sebagai kawasan hutan. Potensi yang ada dalam kawasan hutan terdiri dari hutan dan juga void/danau yang dapat dikembangkan dalam rangka mendukung pengembangan kawasan hutan tersebut. Kawasan hutan pit Ata berdasarkan Peta Kawasan Hutan Propinsi Kalimantan Selatan (Lampiran SK Menhutbun No. 453/Kpts-II/1999 dalam Rencana Penutupan Tambang Batulicin, 2009) terdiri dari hutan produksi dan hutan lindung (Gambar 18).

Gambar 18. Peta Kawasan Hutan Propinsi Kalimantan Selatan dan Batas Lokasi Penelitian

Tapak penilitian ditetapkan sebagai hutan produksi dimana area pit Ata yang merupakan hutan lindung berada disebelah utara tapak peneltian. Ketetapan hutan produksi pada area ini mendukung pengembangan kawasan ini sebagai kawasan wisata khusunya ekowisata dimana akan terjadi intesitas penggunaan. Tapak ini juga dapat berfungsi sebagai penyangga dari area hutan lindung yang membutuhkan perhatian lebih dalam mengkonservasinya.

Berdasarkan Undang-undang Nomor 41 Pasal 28 Tahun 1999 tentang Penelolaan Hutan, dinyatakan bahwa pemanfaatan hutan produksi dapat berupa pemanfaatan kawasan, pemanfaatan jasa lingkungan, pemanfaatan hasil hutan kayu dan bukan kayu, serta pemungutan hasil hutan kayu dan bukan kayu. Hal ini menunjukan bahwa pengembangan wisata dapat termasuk dalam pemanfaatan jasa lingkungan.

Dokumen terkait