BAB II LANDASAN TEORI
E. Konsep dan Teori Solvabilitas
Rasio yang digunakan untuk menilai seberapa besar hutang yang dibiayai oleh aset perusahaan disebut rasio solvabilitas. Rasio solvabilitas menentukan kemampuan perusahaan untuk memenuhi semua potensi
kewajiban jangka pendek dan jangka panjang.
Kasmir (2012) mengatakan bahwa perusahaan membutuhkan kas untuk menggerakkan kegiatan operasional. Kas juga memungkinkan perusahaan untuk menutupi semua biaya yang dikeluarkan agar menghasilkan keuntungan. Hutang dapat meningkatkan jika perusahaan tidak memiliki sumber daya untuk menutupi semua biaya selanjutnya. Ketika perusahaan tidak memiliki cukup kas untuk menutupi semua pengeluarannya, hutang bisa menjadi sebuah pilihan. Perusahaan harus mengalokasikan uang yang diterimanya ke pendanaan yang dibutuhkan untuk mengelola jumlah hutang.
Solvabilitas menilai proporsi aset perusahaan yang dibiayai oleh utang (Gill, 2004). Suatu perusahaan dapat menyelesaikan kewajiban jika likuid atau memiliki aset yang memadai. Melakukan pengembalian juga akan lebih mudah bagi perusahaan jika mengetahui cara membayar kembali uang pinjaman.
Rasio solvabilitas memiliki beberapa implikasi sebagai berikut (Weston, 2004):
1. Sebagai jaring pengaman bagi kreditur untuk mengantisipasi ekuitas (dana yang disediakan pemilik). Oleh karena itu, jika pemilik mempunyai modal kecil, kreditur akan menanggung sebagian besar risiko perusahaan.
2. Dengan meminjam uang, pemilik memperoleh keuntungan seperti mempertahankan kendali perusahaan.
3. Pemilik menerima pengembalian uang yang lebih besar ketika perusahaan menghasilkan lebih banyak uang jika dibandingkan dengan bunga yang
harus dibayar.
Dalam praktiknya, jika rasio solvabilitas perusahaan dapat menimbulkan kerugian yang tinggi dan sekaligus berpeluang untuk menghasilkan keuntungan yang signifikan. Sebaiknya, jika perusahaan memiliki rasio solvabilitas yang rendah, dapat dipastikan perusahaan menghadapi kerugian yang lebih kecil, terutama di masa perekonomian lemah. Untuk menyeimbangkan pengembalian yang tinggi dengan tingkat risiko yang dihadapi oleh perusahaan, manajer keuangan harus mengelola rasio solvabilitas secara efektif.
Ada dua pendekatan yang digunakan untuk menghitung rasio solvabilitas, yaitu:
1. Mengevaluasi rasio pada neraca dan jumlah modal yang dipinjam;
2. Menggunakan metode rasio rugi-laba.
a. Tujuan dan manfaat rasio solvabilitas
Menurut Kasmir (2008), ada tujuh tujuan perusahaan menggunakan rasio solvabilitas, antara lain:
1) Untuk mempelajari situasi perusahaan sehubungan dengan hutang pihak ketiga (kreditur).
2) Untuk mengetahui kemampuan suatu perusahaan dalam membayar komitmen tetap seperti cicilan pinjaman, termasuk bunga.
3) Untuk menentukan seberapa efektif keseimbangan aset, khususnya aset tetap terhadap modal.
4) Mengevaluasi sejauh mana aset perusahaan ditutupi oleh kewajiban.
5) Untuk mengetahui dampak utang perusahaan terhadap manajemen aset.
6) Untuk mengetahui presentase setiap rupiah dari modal pribadi seseorang yang digunakan sebagai jaminan utang jangka panjang.
7) Untuk mengetahui berapa banyak pinjaman yang akan segera ditagih.
Sedangkan menurut Kasmir (2012), rasio solvabilitas memiliki tujuh keunggulan:
1) Untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya kepada pihak ketiga (kreditur).
2) Untuk mengevaluasi kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban tetap, termasuk angsuran pinjaman dengan bunga.
3) Untuk mengevaluasi hubungan antara modal dan nilai aset, khususnya aset tetap.
4) Untuk menentukan seberapa banyak aset perusahaan yang dibiayai oleh hutang.
5) Untuk menentukan seberapa besar utang perusahaan memengaruhi manajemen aset.
6) Untuk menentukan persentase setiap rupiah dari modal pribadi yang dijaminkan untuk utang jangka panjang.
7) Ada beberapa kali jumlah modal sendiri yang dimiliki untuk menilai jumlah uang pinjaman yang akan segera dibebankan.
b. Jenis Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas digunakan untuk menentukan berapa banyak dari setiap rupiah modal sendiri yang akan digunakan sebagai jaminan utang jangka panjang.
Jenis-jenis rasio solvabilitas antara lain:
1. Debt to Asset Ratio (Debt ratio)
Debt ratio atau rasio hutang ditentukan dengan membandingkan total kewajiban dengan total aset. Dengan kata lain, rasio utang menunjukkan seberapa banyak aset perusahaan didanai oleh kewajiban, atau sejauh mana kewajiban berdampak pada manajemen aset.
Rasio solvabilitas yang tinggi berarti semakin banyak pinjaman hutang yang perusahaan miliki, sehingga semakin sulit untuk mendapatkan pinjaman tambahan, karena perusahaan dianggap tidak mampu membayar kembali. Semakin rendah rasionya, semakin kecil perusahaan dibiayai dengan utang. Rasio rata-rata industri sejenis digunakan sebagai tolak ukur untuk menilai baik atau tidaknya rasio suatu perusahaan (Kasmir, 2017). Rumus untuk mencari debt ratio dapat digunakan sebagai berikut:
DAR = ����� ����
����� �����
2. Debt to Equity Ratio
Debt to equity ratio (DER) digunakan untuk menilai jumlah jumlah utang terhadap ekuitas. DER digunakan untuk mengevaluasi berapa banyak hutang terhadap ekuitas. Rasio ini diperoleh dengan
membandingkan total modal dengan semua kewajiban, termasuk kewajiban lancar. DER digunakan untuk menentukan berapa banyak uang yang telah disumbangkan oleh pemilik perusahaan dan peminjam (kreditur). Dengan kata lain, rasio ini digunakan untuk menghitung besarnya modal sendiri yang diperlukan untuk menjamin utang.
Semakin tinggi rasionya, semakin tidak menguntungkan bagi bank (kreditur). Hal ini disebabkan semakin tinggi risiko yang diasumsikan untuk potensi kegagalan perusahaan, sehingga kurang menguntungkan. Sebaliknya, rasio yang rendah meningkatkan modal pemilik.
Debt to equity ratio bervariasi dari satu perusahaan ke perusahaan lain, tergantung pada jenis perusahaan dan arus kas.
Perusahaan dengan arus kas yang konsisten biasanya memiliki rasio yang lebih besar dibandingkan dengan arus kas yang tidak stabil.
Rumus untuk menentukan debt to equity ratio adalah sebagai berikut:
DER =����� ����� (����)
������� (������) 3. Long Term Debt to Equity Ratio (LTDtER)
Long term debt to equty ratio adalah rasio hutang terhadap modal jangka panjang. Tujuannya yaitu untuk mengukur jumlah setiap rupiah dari modal pribadi yang digunakan sebagai jaminan utang jangka panjang. Rumus untuk menentukan long term debt equit ratio:
������ =���� ���� ����
������
4. Time Interest Earned
Menurut Weston (2004) time interst earned (TIE) adalah rasio yang digunakan untuk menghitung besarnya bunga bunga yang telah diperoleh. Rasio ini setara dengan rasio keuangan yang mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar biaya bunga (Horne, 2004).
Kepercayaan kreditur jangka panjang akan hilang jika perusahaan tidak mampu membayar bunga. Bahkan ketidakmampuan untuk membayar biaya tidak menghilangkan kemungkinan bahwa kreditur akan mengajukan tuntutan hukum. Selain itu, ada kemungkinan lebih besar bahwa perusahaan akan pailit.
Secara umum, semakin tinggi rasio time interst earned maka semakin besar kemampuan perusahaan membayar kembali bunga pinjaman dan menjadi totak ukur untuk memperoleh tambahan pinjaman baru dari kreditur. Sebaliknya, jika rasionya rendah, perusahaan akan kesulitan menutupi bunga dan biaya lainnya. Rumus untuk mencari times interest earned dapat digunakan sebagai berikut:
TIE = ����
����� ����� (��������) 5. Fixed Charge Coverage (FCC)
Fixed charge coverage atau lingkup biaya tetap adalah rasio yang menyerupai time interest earned ratio. Biaya tetap yaitu biaya bunga ditambah kewajiban sewa tahunan atau jangka panjang. Rumus
untuk mencari fixed charge coverage adalah sebagai berikut:
��� =��� + ����� ����� + ��������� ����/�����
����� ����� + ��������� ����/�����
6. Capital Adequacy Ratio
Capital adequacy ratio (CAR) merupakan kecukupan modal yang berguna untuk menampung risiko kerugian yang kemungkinan dihadapi bank. CAR adalah rasio modal terhadap aset tertimbang menurut risk-weighted asset (RWA). RWA adalah jumlah aset sebuah bank berdasarkan profil risiko masing-masing aset tersebut. Rumus untuk menghitung CAR adalah sebagai berikut:
CAR =Modal
RWA x 100%