• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

C. BAYI BARU LAHIR (BBL) DAN NEONATUS

1. Konsep dasar

a. Pengertian

Masa nifas adalah masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6 minggu setelah melahirkan. Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6 minggu. Masa nifas merupakan masa selama persalinan dan segera setelah kelahiran yang meliputi minggu-minggu berikutnya pada waktu saluran reproduksi kembali keadaan tidak hamil yang normal ( Marmi,2011).

Masa nifas (puerperium) dimaknai sebagai periode pemulihan segera setelah lahirnya bayi dan plasenta serta mencerminkan keadaan fisiologi ibu, terutama sistem reproduksi kembali mendekati keadaan sebelum hamil. Periode ini berlangsung 6 minggu atau berakhir saat kembalinya kesuburan (Marliandiani dan Ningrum, 2015).

Kesimpulan masa nifas dimulai beberapa jam setelah lahirnya plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kemabali seperti keadaan sebelum hamil.

b. Perubahan fisiologis masa nifas 1) Perubahan system reproduksi

a) Uterus

Tumbuh membesar primer, maupun sekunder akibat pertumbuhan isi konsepsi intrauterine. Estrogen menyebabkan hiperplasi jaringan, progesteron berperan untuk elastisitas atau kelenturan uterus. Pada kehamilan 16 minngu menjadi satu bagian dengan korpus, dan pada kehamilan akhir diatas 32 minggu menjadi menjadi segmen bawah uterus (Marmi,2011).

Proses involusi uterus menurut Marliandiani,Yefi (2015) sebagai berikut:

(1) Iskemia myometrium

Hal ini disebabkan oleh kontraksi dan retraksi uterus yang terus menerus setelah pengeluaran plasenta sehingga membuat uterus menjadi relative anemi dan menyebabkan serat otot atrofi

(2) Atrofi jaringan

Terjadi sebagai reaksi penghentian hormone esterogen saat pelepasan plasenta

(3) Autolisis

Autolysis merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi dai dalam otot uterus. Enzim proteolitik akan mendekatkan jaringan otot yang telahh megendur hingga panjangnya sepuluh kali panjang sebelum hamil yang terjadi selama kehamilan. Hal ini disebabkan karena penurunan hormone etrogen dan progesterone. (4) Efek oksitosin

Oksitosin meneyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi otot uterus sehingga akan menekan pembuluh darah yang mengakibatkan berkuarangnya suplai darah ke uterus. Proses ini membantu untuk mengurangi perdarahan

b) Lokhea

Pengeluaran lokhea dimaknai sebagai peluruhan jaringan desidua yang menyebabkan keluarnya sekret vagina dalam jumlah bervariasi. Lokhea mempunyai bau yang amis (anyir) meskipun tidak erlau menyengat dan volumenya berbeda-beda pada setiap wanita. Secara mikroskopis, lokhea terdiri atas eritrosit, serpihan desidua,sel-sel epitel dan bakteri. Lokhea mengalami perubahan karena proses involusi (Marliandiani,Yefi 2015). Pengeluaran lokhea dapat dibagi menjadi lokhea rubra, sanguinolenta, serosa,

dan alba. Perbedaan masing-masing lokhea dapat dilihat sebgai berikut (Marliandiani,Yefi 2015).

1) Lokhea rubra

Timbul pada hari ke 1-2 postpartum, berisi darah segar bercampur sel desidua, verniks kaseosa, lanugo, sisa meconium, sisa selaput ketuban, dan sisa darah.

2) Lokhea sanguinolenta

Timbul pada hari ke 3-7 postpartum, berupa sisa darah bercampur lendir.

3) Lokhea serosa

Llokhea serosa merupakan cairan berwarna agak kuning berisi leukosit dan robekan laserasi plasenta, timbul setelah satu minggu postpartum

4) Lokhea alba

Timbul setelah dua minggu postpartum dan hanya merupakan cairan darah putih.

c) Perubahan pada serviks

Perubahan-perubahan yang terdapat pada serviks postpartum adalah bentuk serviks yang akan menganga seperti corong. Bentuk ini disebabkan oleh corpus uteri yang dapat mengadakan kontraksi, sedangkan serviks tidak berkontraksi, sehingga seolah-olah pada perbatasan antara corpus dan serviks uteri terbentuk semacam cincin. Warna

serviks sendiri merah kehitam-hitaman karena penuh pembuluh darah.

Beberapa hari setelah persalinan, ostium eksternum dapat dilalui dua jari, pinggir-pinggirnya tidak rata tetapi retak-retak karena robekan dalam persalinan. Pada akhir minggu pertama hanya dapat dilalui oleh satu jari saja, dan lingkaran retraksi berhubungan dengan atas dan canalis cervikalis (Marmi,2011).

d) Vulva, vagina dan perineum

Selama proses persalinan vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan. Beberapa setelah hari persalinan, kedua organ ini tetap dalam keadaan kendur. Rugae dalam vagina secara berangsur-angsur mula tampak pada minggu ketiga.

Perubahan pada perineum pasca melahirkan terjadi pada saat perineum mengalami robekan. Robekan jalan lahir dapat terjadi secara spontan ataupun dilakukan episiotomi atas indikasi tertentu. Robekan perineum umumnya terjadi pada garis tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat (Marliandiani,Yefi 2015).

2) Perubahan sistem pencernaan

System gastrointestinal selama kehamilan dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya tingginya kadar progesterone yang dapat mengganggu keseimbangan cairan tubuh, meningkatkan kolesterol darah, dan melambatkan kontraksi otot-otot polos. Pasca melahirkan, kadar progesterone mulai menurun. Namun faal usus memerlukan waktu 3-4 hari untuk kembali normal. Beberapa hal yang berkaitan perubahan pada system pencernaan, antara lain sebgai berikut :

a) Nafsu makan

Rasa lelah yang amat berat setelah proses persalinan dapat mempengaruhi nafsu makan ibu. Sedangkan ibu tidak merasakan lapar sampai rasa lelah itu hilang. Ada juga yang merasakan lapar segera setelah persalinan. Sebaiknya setelah persalinan segera mungkin berikan ibu minuman hangat dan manis untuk mengembalikan tenaga yang hilang (Marliandiani,Yefi 2015)

b) Motilitas

Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir. Pada persalinan bebadah sesar kelebihan analgesic dan anestesi bisa memperlambat pengembalian

tonus dan motilitas ke keadaan normal (Marliandiani,Yefi 2015)

c) Pengosongan usus

Pasca melahirkan, ibu sering mengalami konstipasi. Hal ini disebababkan tonus otot usus menurun selama proses persalinan dan awal masa nifas, diare sebelum persalinan, enema sebelum melahirkan, kuarang makan, dehidrasi, hemoroid, ataupun laserasi jalan lahir. System pencernaan nifas memenuhi waktu untuk kembali normal (Marliandiani,Yefi 2015)

3) Perubahan system perkemihan

Pada masa hamil, perubahan hormonal yaitu kadar seteroid tinggi yang berperan meningkatkan fungsi ginjal. Begitu sebaliknya, pada pasca melahirkan kadar steroid menurun sehingga menyebabkan penurunan fungsi ginjal. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah wanita melahirkan. Urin dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam waktu 12-36 jam sesudah melahirkan (Marmi,2011). 4) Perubahan sistem musculoskeletal

Otot-otot uterus berkontraksi segera setelah persalinan. Pembuluh-pembuluh darah yang berada diantara anyaman otot-otot uterus akan terjepit. Proses ini akan menghentikan pendarahan setelah plasenta dilahirkan.

Ligament-ligamen, diafragma pelvis, serta fasia yang meregang pada waktu persalinan, secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tak jarang uterus jatuh jatuh kebelakang dan menjadi retrofleksi karena ligamentum rotundum menjadi kendur. Tidak jarang wanita pula mengeluh “kandungannya turun” setelah melahirkan secara ligament, fasia, jaringan penunjang alat genitalia menjadi kendur. Stabilitas secara sempurna terjadi pada 6-8 minggu setelah persalinan.

Sebagai akibat putusnya serat-serat plastik kulit dan distensi yag berlangsung lama akibat besarnya uterus pada waktu hamil, dinding abdomen masih agak lunak dan kendur untuk sementara waktu. Untuk memulihkan kembali jaringan-jaringan penunjang alat genitalia, serta otot-otot dinding perut dan dasar panggul, dianjurkan untuk melakukan latihan-latihan tertentu atau senam nifas (Marliandiani,Yefi 2015)

5) Perubahan tanda-tanda vital a) Suhu badan

Setelah persalinan, dalam 24 jam pertama ibu akan mengalami sedikit peningkatan suhu tubuh (38 C) sebagai respon tubuh terhadap proses persalinan, terutama dehidrasi akibat pengeluaran darah dan cairan saat persalinan.

Peningkatan suhu ini umumnya terjadi hanya sesaat (Marliandiani,yefi 2015)

b) Nadi

Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 x/menit. Pada saat proses persalinan denyut nadi akan mengalami peningkatan. Denyut nadi yang melebihi 100x/menit, harus waspada kemungkinan infeksi atau perdarahan postpartum.

c) Tekanan darah

Tekanan darah normal untuk systole 110-140 mmHg dan untuk diastole 60-80 mmHg. Setelah persalinan, tekanan darah dapat sedikit lebih rendah dibandingkan pada saat hamil karena terjadinya perdarahan pada proses persalinan. Bila tekanan darah mengalami peningkatan lebih dari 30 mmHg pada systole atau lebih dari 15 mmHg pada diastole perlu dicurigai timbulnya hipertensi atau preeclampsia postpartum (Marliandiani,Yefi 2015)

d) Pernapasan

Pada ibu postpartum pada umumnya pernapasan menjadi lambat atau kembali normal seperti saat sebelumnya hamil pada bulan keenam setelah persalinan. Hal ini karena ibu dalam kondisi pemulihan atau dalam kondisi istirahat (Maryunani,2009). Bila nadi, suhu tidak

normal, pernapasan juga akan mengikutinya, kecuali apabila ada gangguan khusus pada saluran pernapasan. Bila masa nifas pernapasan menjadi lebih cepat, kemungkinan ada tanda-tanda syok (Marliandiani,Yefi 2015).

c. Kebutuhan pada masa nifas 1) Kebutuhan gizi

Menurut Marliandiani dan Ningrum, (2015) zat-zat yang dibutuhkan diet ibu bersalin adalah :

a) Mengkonsumsi tambahan kalori sesuai kebutuhan. Jika masih menyusui tambah kalori tiap hari sebanyak 500-700 kalori.

b) Penuhi diet berimbang terdiri atas protein, kalsium, mineral, vitamin, sayuran hijau, dan buah.

c) Kebutuhan cairan sedikitnya 3 liter perhari yang dapat diperoleh dari air putih, sari buah, susu, atau sup.

d) Untuk mencegah anemia konsumsi tablet zat besi selama masa nifas.

e) Vitamin A (200.000 IU) selain untuk ibu, vitamin A dapat diberikan kepada bayi melalui ASI.

2) Ambulasi dini

Menurut Marliandiani dan Ningrum, (2015). Adapun keuntungan dari ambulasi dini antara lain :

b) Faal usus dan kandung kemih menjadi lebih baik

c) Memungkinkan bidan untuk memberikan bimbingan maupun pendidikan kepada ibu mencapai perawatan bayi sehari-hari.

d) Lebih sesuai dengan keadaan Indonesia (ekonomis)

Menurut Marliandiani dan Ningrum (2015). Langkah-langkah mobilisasi dini yang dapat dilakukan ibu untuk turun dari tempat tidur adalah sebagai berikut :

a) Awali dengan mengatur nafas, miring kiri, miring kanan, dan duduk.

b) Duduk dengan tubuh ditahan dengan tangan, geserkan kaki kesisi ranjang biarkan kaki menggantung sebentar.

c) Dengan bantuan orang lain, perlahan-lahan ibu berdiri dan masih berpegangan pada tempat tidur.

d) Jika terasa pening, duduklah kembali. Stabilkan diri beberapa menit sebelum melangkah.

3) Eliminasi

Dalam enam jam pertama postpartum, pasien sudah harus dapat buang air kecil. Semakin lama urine tertahan dalam kandung kemih maka dapat mengakibatkan kesulitan pada organ perkemihan, misalnya infeksi. Bidan harus dapat meyakinkan pada pasien bahwakencing sesegera mungkin setelah melahirkan akan mengurangi komplikasi postpartum.

Dalam 24 jam pertama, pasien juga harus dapat buang air besar karena semakin lama fases tertahan dalam usus maka akan semakin sulit sulit baginya untuk buang air besar secara lancer. Feses yang tertahan dalam usus semakin lama akan mengeras karena cairan yang terkandung dalam feses akan selalu terserap oleh usus. Untuk meningkatakan volume feses, anjurkan pasien mengonsumsi makanan tinggi serat dan banyak minum air putih (Marliandiani dan Ningrum, 2015)

4) Kebersihan diri

Menjaga kebersihan diri selama masa nifas merupakan upaya untuk memelihara kebersihan tubuh mulai dari pakaian, kebersihan dari ujung rambut sampai kaki.Terutama pada daerah genetalia perlu mendapatkan perhatian yang lebih karena terdapat pengeluaran cairan/darah lokhea. Letak vagina yang berdekatan dengan meatus eksternus uretrae dan anus, yakni daerah tersebut banyak mengandung mikroorganisme patogen.

Menurut Marliandiani dan Ningrum, (2015). Tujuan melakukan personal higiene antara lain :

a) Meningkatkan derajat kesehatan b) Mengurangi risiko infeksi c) Memberikan rasa nyaman

5) Istirahat

Ibu nifas sangat membutuhkan istirrahat yang berkualitas untuk memulihkan kembali keadaan fisiknya. Keluarga disarankan untuk memberikan kesempatan pada ibu untuk beristirahat yang cukup. Saat dirumah sakit, bidan harus berhati-hati saat jam kunjungan untuk mencegah keletihan yang berlebih. Kebutuhan istirahat bagi ibu menyusui minimal delapan jam sehari, yang dapat dipenuhi melalui istirahat malam dan siang, ibu dapat beristirahat selagi bayinya tidur.

Menurut Marliandiani dan Ningrum, (2015) kurang istirahat pada ibu nifas akan mempengaruhi beberapa hal sebagai berikut :

a) Mengurangi jumlah produksi ASI

b) Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan.

c) Menyebabkan depresi dan ketidaknyamanan dalam merawat bayi dan dirinya sendiri.

6) Seksual

Masa nifas yang berlangsung selama enam minggu atau 40 hari merupakan masa pembersihan rahim. Setelah enam minggu diperkirakan pengeluaran lokhea telah bersih, semua luka akibat persalinan, termasuk luka episiotomi dan luka bekas SC biasanya telah sembuh dengan baik, sehingga ibu

dapat memulai kembali hubungan seksual. Hubungan seksual yang memuaskan memerlukan suasana hati yang tenang.

Pada prinsipnya tidak ada masalah untuk memulai melakukan hubungan seksual apabila ibu siap secara fisik maupun psikis. Keputusan bergantung pada pasangan yang bersangkutan (Marliandiani dan ningrum, 2015).

7) Latihan senam nifas

Senam nifas adalah senam yang dilakukan ibu pasca melahirkan, sebaiknya dilakukan dalam 24 jam setelah persalinan. Setelah ibu cukup beristirahat dan dilakukan secara bertahap, sistematis, dan kontinu.

Tujuan senam nifas menurut Marliandiani dan Ningrum, (2015) sebagai berikut :

a) Membantu mempercepat pemulihan kondisi ibu. b) Mempercepat proses involusi uteri.

c) Membantu pemulihan dan mengencangkan otot panggul, perut dan perineum.

d) Memperlancar pengeluaran lokhea. e) Membantu mengurangi rasa sakit. f) Mengurangi risiko komplikasi.

d. Tahapan pada masa nifas

Menurut Marliandiani dan Ningrum, (2015). Kembalinya sistem reproduksi pada masa nifas dibagi menjadi tiga tahap, yaitu sebagai berikut :

1) Puerperium dini

Beberapa jam setelah persalinan, ibu dianjurkan segera bergerak dan turun dari tempat tidur. Hal ini bermanfaat mengurangi komplikasi kandung kemih dan konstipasi, menurunnya frekuensi trombosis dan emboli paru pada masa nifas

2) Puerperium intermedial

Suatu masa yakni kepulihan menyeluruh dari organ-organ reproduksi internal maupun eksternal selama kurang lebih 6-8 minggu.

3) Remote puerperium

Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat kembali dalam keadaan sempurna terutama bila ibu selama hamil atau waktu persalinan mengalami komplikasi. Rentang waktu remote puerperium setiap ibu akan berbeda, bergantung pada berat ringannya komplikasi yang dialami selama hamil dan persalinan. Waktu sehat sempurna dapat berlangsung selama berminggu-minggu, bulanan, bahkan tahunan

e. Kunjungan

Menurut buku Marliandiani dan Ningrum, (2015). frekuensi kunjungan, waktu, dan tujuan kunjungan tersebut dipaparkan sebagai berikut :

1) Kunjungan pertama 6 jam-3 hari setelah persalinan, yang bertujuan untuk, sebagai berikut :

a) Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri. b) Mendeteksi dan perawatan penyebab lain perdarahan serta

melakukan rujukan bila perdarahan berlanjut.

c) Memberikan konseling pada ibu dan keluarga tentang cara mencegah perdarahan yang disebabkan Antonia uteri. d) Konseling tentang pemberian ASI awal.

e) Mengajarkan cara mempererat hubungan antara ibu dan bayi baru lahir (bounding attachment)

f) Menjaga bayi tetap sehat melalui pencegahan hipotermia. g) Setelah bidan melakukan pertolongan persalinan, maka

bidan harus menjaga ibu dan bayi untuk dua jam pertama setelah kelahiran atau sampai keadaan ibu dan bayi baru lahir dalam keadaan baik.

2) Kunjungan kedua 4-28 hari setelah persalinan yaitu :

a) Memastikan proses involusi uterus berjalan dengan normal, uterus berkontraksi dengan baik, tinggi fundus uteri (TFU) dibawah umbilicus, tidak ada perdarahan abnormal.

b) Menilai adanya tanda-tanda demam, tanda-tanda infeksi, atau perdarahan abnormal.

c) Memastikan ibu mendapat istirahat yang cukup

d) Memastikan ibu mendapat makanan yang bergizi dann cukup cairan.

e) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan benar serta tidak ada tanda-tanda adanya penyulit.

f) Memberikan konseling tentang perawatan bayi baru lahir. 3) Kunjungan ketiga 29-42 hari setelah persalinan yaitu :

a) Persepsinya tentang persalinan dan kelahiran, kemampuan kopingnya yang sekarang, danbagaimana ia merespon terhadap bayi barunya.

b) Kondisi payudara meliputi congesti, apakah ibu menyusui atau tidak, tindakan kenyamanan apa yang ia gunakan untuk mengurangi ketidaknyamanan. Selain itu, apakah ibu mengalami nyeri payudara (lecet, pembengkakan payudara, merah, padas, dan lain-lain).

c) Asupan makanannya, baik kualitas maupun kuantitasnya. d) Nyeri, kram abdomen, fungsi bowel.

e) Adanya kesulitan atau ketidaknyamanan dengan urinasi. f) Jumlah, warna, dan bau perdarahan lokea.

g) Nyeri, pembengkakan perineum, dan jika ada jahitan, lihat kerapatan jahitan. Ibu mungkin perlu cermin dan

memeriksanya sendiri atau meminta pasangannya untuk memeriksanya jika ia melaporkan adanya gejala-gejala tersebut.

h) Adanya hemoroid dan tindakan kenyamanan yang digunakan.

i) Adanya nyeri, edema, dan kemerahan pada ekstremitas bawah.

j) Apakah ibu pendapatkan istirahat yang cukup, baik pada siang maupun malam hari.

k) Bagaimana keluarga menyesuaikan diri dengan adanya bayi baru di rumah.

l) Tingkat kepercayaan diri ibu saat ini dalam kemampuannya merawat bayi.

m) Respon ibu terhadap bayi. f. Tujuan asuhan pada masa nifas

Tujuan dari pemberian asuhan pada masa nifas menurut (Heryani, Reni 2012) yaitu :

1) Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis.

2) Melaksanakan skrining secara komprehensif, deteksi dini, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayi

3) Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, cara dan manfaat menyusui, pemberian imunisasi serta perawatan bayi sehari-hari.

4) Memberikan pelayanan keluarga berencana. 5) Mendapatkan kesehatan emosi.

g. Teori evidence base pada ibu nifas

Gizi Ibu Nifas Dengan Pemulihan Luka Perineum 1) Pengetian

Menurut Rahmawati dan Nining. (2015), Kesembuhan luka jahitan pada perineum dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah kualitas tidur, perawatan luka perineum, senam kegel's, jenis material jahitan, teknik melakukan penjahitan, dan pemilihan waktu penjahitan. Pengetahuan ibu nifas terkait perawatan luka juga berhubungan dengan lama penyembuhan luka. Selain itu, faktor gizi juga dianggap berperan penting dalam proses penyembuhan luka. Ibu yang mempunyai status gizi yang baik akan mengalami penyembuhan luka perineum lebih cepat. Status gizi yang baik akan tercapai apabila ibu mengonsumsi makanan yang beragam, bergizi, dan berimbang.

Kebutuhan gizi saat nifas mengalami peningkatan. Asupan kalori per hari mengalami peningkatan mencapai 2700 kalori dan asupan cairan ditingkatkan mencapai 3000 ml (susu

1000ml) per harinya. Peningkatan asupan zat gizi tersebut dibutuhkan untuk penyembuhan luka dan kebutuhan laktasi.

Namun, fenomena yang sering dijumpai di masyarakat adalah adanya pembatasan makanan pada ibu nifas. Ibu nifas dilarang mengonsumsi beberapa pangan selama selang waktu tertentu. Misalnya, ibu yang baru melahirkan pada Suku Dayak dipantang untuk tidak makan daging, telur, ikan, sayuran seperti labu air, timun, dan sayuran berbumbu. Budaya pantang makan tersebut berkaitan dengan tidak sembuhnya luka perineum pada ibu nifas.

2) Pembahasan

Kebutuhan gizi pada masa nifas sebaiknya mengandung tinggi kalori. Kecukupan gizi selama 6 bulan pertama masa laktasi 330 kkal lebih tinggi daripada saat tidak hamil. Sebagian besar responden telah memenuhi kebutuhan akan gizi saat masa nifas. Mayoritas responden yang telah terpenuhi kebutuhan gizinya mempunyai pendidikan yang cukup dengan pendidikan tertingginya Sekolah Menengah Atas. Tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor predisposisi yang mempengaruhi perilaku seseorang. Hasil pendidikan orang dewasa adalah perubahan kemampuan dan perilakunya. Seseorang dengan pendidikan yang tinggi akan lebih banyak menerima dan mengetahui tentang informasi kesehatan

termasuk tentang informasi gizi yang baik bagi ibu nifas. Informasi tersebut akan memberikan pengaruh terhadap pengambilan keputusan pemilihan makanan ibu nifas.

Beberapa zat gizi, baik zat gizi makro maupun mikro berperan penting dalam pemulihan luka. Penurunan cadangan protein dalam tubuh pada kasus gizi kurang atau buruk menyebabkan penurunan fungsi sel T, penurunan aktivitas fagositik dan penurunan level antibodi sehingga memicu terjadinya infeksi. Kekurangan protein juga dapat menyebabkan kegagalan sintesis kolagen dan penurunan kekuatan kulit. Karbohidrat dan lemak juga dibutuhkan dalam sintesis kolagen. Defisiensi asam lemak bebas dapat menyebabkan gagalnya pemulihan luka karena fosfolipid merupakan bahan dasar pembentukan membran sedangkan prostaglandin yang disintesis oleh asam lemak bebas berperan dalam metabolime sel dan inflamasi.

Vitamin C dan vitamin A juga berperan dalam sintesis kolagen. Defisiensi vitamin C akan menyebabkan kerentanan terjadinya infeksi. Zat gizi mikro, seperti zink, zat besi, dan magnesium juga berperan dalam pemulihan luka. Defisiensi zink akan menyebabkan penurunan proliferasi fibroblas dan sintesis kolagen. Peran magnesium dalam pemulihan luka adalah sebagai kofaktor enzim dalam sintesi kolagen. Zat gizi

mikro laiinya yang berperan dalam penyembuhan luka antara lain vitamin B, vitamin E, vitamin K, kalsium, dan selenium. Air juga berperan dalam mendukung terjadinya proliferasi sel. Dehidrasi menyebabkan pengerasan epidermis yang akan memperlama penyembuhan luka.

Dokumen terkait