• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2. Teori manajemen kebidanan

a. Pengertian

Menurut Varney, manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah kebidanan yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, temuan, ketrampilan dalam rangkaian atau tahapan yang logis untuk mengambil suatu keputusan yang terfokus pada pasien (Sulistyawati, 2013).

b. Tujuh langkah Manajemen Kebidanan yaitu : 1) Langkah 1 Pengkajian

Pengakajian data ibu hamil dimulai saat pasien masuk yang dilanjutkan secara terus-menerus selama proses asuhan kebidanan berlangsung. Data dapat dikumpulkan dari berbagai sumber melalui 3 macam teknik, yaitu wawancara (anamesis), observasi dan pemeriksaan fisik (Romauli,suryati 2011)

Menanyakan identitas menurut walyani,2015 yang meliputi:

a) Nama istri/suami

Mengetahui nama klien dan suami berguna untuk memperlancar komunikasi dalam asuhan sehingga tidak terlihat kaku dan lebih akrab.

b) Umur

Umur perlu diketahui guna mengetahui apakah klien dalam kehamilan yang berisiko atau tidak. Usia dibawah 16 tahun dan diatas 35 tahun merupakan umur-umur yang berisiko tinggi untuk hamil. Umur yang baik untuk kehamilan maupun persalinan adalah 19-25 tahun.

c) Suku/bangsa/etnis/keturunan

Ras, etnis, dan keturunan harus diidentifikasi dalam rangka memberikan perawatan yang peka budaya pad klien dan mengidentifikasi wanita atau keluarga yang memiliki kondisi resesif otosom dengan insiden yang tinggi populasi tertentu. Jika kondisi yang demikian diidentifikasi, wanita tersebut diwajibkan menjalani skirining genetic.

d) Agama

Tanyakan pilihan agama klien dan berbagai praktek taerkait agama

yang harus diobservasi. Informasi ini dapat menuntun sesuatu diskusi tentang pentingnya agama dalam kehidupan klien, tradisi keagamaan dalam kehamilan dan kelahiran, perasaan tentang jenis kelamin tenaga kesehatan pada beberapa kasus penggunaan produk darah.

e) Pendidikan

Tanyakan pendidikan tertinggi yang klien tamatkan dan juga minat, hobi, dan tujuan jangka panjang. Informasi membantu klinisi memahami klien sebagai individu dan memberi gambaran kemampuan baca tulisnya.

f) Pekerjaan

Mengetahui pekerjaan klien adalah penting untuk mengetahui apakah klien berada dalam keadaan utuh dan untuk mengkaji potensi kelahiran, prematur dan pajanan terhadap bahaya lingkungan kerja, yang dapat merusak janin.

g) Alamat

Alamat rumah klien perlu diketahui bidan untuk lebih memudahkan saat pertolongan persalinan dan untuk mengetahui jarak rumah dengan tempat rujukan.

h) No. RMK(Nomor Rekam Medik)

Nomer rekam medic biasanya digunakan dirumah sakit, puskesmas, atau klinik.

2) Menganamesa pasien (data subyektif)

Data subyektif adalah berupa data focus yang dibutuhkan untuk menilai keadaan ibu sesuai dengan kondisinya (Romauli, Suryati 2011)

a) Keluhan utama

Keluhan utama ditanyakan untuk mengetahui alasan pasien dating kefasilitas pelayanan kesehatan (Romauli, Suryati 2011) b) Riwayat menstruasi (a) Menarche (b) Siklus (c) Volume (d) Lamanya

Lamanya haid yang normal adalah kurang lebih 7 hari. Apabila mencapai 15 hari berarti sudah abnormal dan kemungkinan adanya gangguan ataupun penyakit yang memepengaruhinya (Walyani, 2015)

(e) Disminore

Nyeri haid perlu ditanyakan untuk mengetahui apakah klien menderitanya atau tidak ditiap haidnya. Nyeri haid juga menjadi tanda bahaya kontraksi uterus klien begitu hebat sehingga menimbulkan nyeri haid (Walyani, 2015)

(1) HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir)

Bidan ingin mengetahui tanggal hari pertama dari menstruasi terakhir klien untuk memperkirakan kapan kira-kira sang bayi akan dilahirkan.

(2) HPL (Hari Perkiraan Lahir)

EDD (Estimated Date of delivery) ditentukan dengan perhitungan internasional menurut hukum Naegele. Perhitungan dilakukan dengan menambahkan 9 bulan dan 7 hari pada hari pertama haid terakhir (HPHT) atau dengan mengurangi bulan dengan 3, kemudian menambahkan 7 hari dan 1 tahun.

(3) Kehamilan yang ke-

Jumlah kehamiln ibu perlu ditanyakan karena terdapatnya perbedaan perawatan antara ibu yang baru pertam hamil dengan ibu yang sudah beberapa kali hamil, apabila ibu tersebu baru pertama kali hamil otomatis perlu perhatian ekstra pada kehamilannya. (4) Keluhan-keluhan menurut Walyani, (2015) adalah :

(a) Trimester I

Tanyakan kepada klien apakah ada masalah pada kehamilan trimester I, masalah - masalah tersebut misalnya hipremesis gravidarum, anemia, dan lain lain.

(b) Trimester II

Tanyakan kepada klien masalah apa yang pernah ia rasakan pada trimester II kehamilan pada kehamilan sebelumnya. Hal ini untuk sebagai faktor persiapan apabila kehamilan yang sekarang akan terjadi hal seperti lagi.

(c) Trimester III

Tanyakan kepada klien masalah apa yang pernah ia rasakan pada trimeseter III kehamilan pada kehamilan sebelumnya. Hal ini untuk sebagai faktor persiapan apabila kehamilan yang sekarng akan terjadi hal seperti itu lagi.

(5) ANC (Antenatal Care) (a) Trimester I

Tanyakan kepada klien asuhan kehamilan apa saja yang pernah ia dapatkan selama kehamilan trimester I.

(b) Trimester II

Tanyakan kepada klien asuhan apa yang pernah ia dapatkan pada trimeseter II kehamilan sebelumnya dan tanyakan bagaimana pengaruhnya terhadap kehamilan. Apabila baik, bidan bisa memberikan

lagi asuhan kehamilan tersebut pada kehamilan sekarang.

(c) Trimester III

Tanyakan kepada klien asuhan apa yang pernah ia dapatkan pada trimeseter III kehamilan sebelumnya dan tanyakan bagaimana pengaruhnya terhadap kehamilan. Apabila baik bidan bisa memberikan lagi asuhan kehamilan tersebut pada kehamilan sekarang.

(6) Penyuluhan yang didapat

Penyuluhan apa yang pernah didapat klien perlu ditanyakan untuk mengetahui pengetahuan apa saja yang kira-kira telah didapat klien dan berguna bagi kehamilan.

(7) Imunisasi TT (Tetanus Toxoid)

Tanyakan kepada klien apakah sudah pernah mendapatkan imunisasi TT. Apabila belum, bidan bisa memberikannya. Imunisasi tetanus toxoid diperlukan untuk melindungi bayi terhadap penyakit tetanus neonatorum, imunisasi dapat dilakukan pada trimester I atau II pada kehamilan 3-5 bulan dengan interval minimal 4 minggu. Lakukan penyuntikan secara IM (Intramuscular) dengan dosis 0,5 ml (Walyani, 2015)

d) Riwayat penyakit

(1) Penyakit yang diderita sekarang

Tanyakan kepada klien penyakit apa yang sedang diderita sekarang. Tanyakan bagaimana urutan kronologis dari tanda-tanda dan klasifikasi dari setiap tanda penyakit tersebut. Hal ini di[erlukan untuk menentukan bagaimana asuhan berikutnya (Walyani, 2015).

(2) Riwayat penyakit sistemik

Dari data riwayat kesehatan ini dapat kita gunakan sebagai penanda (warning) akan adanya penyulit masa hamil. Adanya perubahan fisik dan fisiologis pada masa hamil yang melibatkan seluruh system dalam tubuh akan mempengaruhi organ yang mengalami gangguan. Beberapa data penting tentang riwayat kesehatan pasien yang diperlu diketahui adalah apakah pasien pernah atau sedang menderita penyakit, seperti jantung, diabetes mellitus, ginjal, hipertensi/hipotensi dan hepatitis (Romauli, Suryati 2011)

(3) Riwayat kesehatan keluarga (a) Penyakit menular

Tanyakan kepada klien apakah mempunyai keluarga yang saat ini sedang menderita penyakit

menular. Apabila klien mempunyai penyakit keluarga yang sedang menderita penyakit menular, sebaiknya bidan menyarankan kepada kliennya untuk hindari secara langsung atau tidak langsung bersentuhan fisik atau mendekati keluarga tersebut untuk sementara waktu agar tidak menular pada ibu hamil dan janinnya. Berikan pengertian kepada keluarga yang sedang sakit tersebut agar tidak terjadi kesalahpahaman (Walyani, 2015).

(b) Penyakit keturunan atau genetic

Tanyakan kepada klien apakah mempunyai penyakit keturunan. Hal ini diperlukan apakah isi janin kemungkinan akan menderita penyakit tersebut atau tidak, hal ini bisa dilakukan dengan cara membut daftar penyakit apa saja yang pernah diderita oleh keluarga klien yang dapat diturunkan (penyakit genetik, misalnya hemofili, TD dan sebagainya). Biasanya dibuat dalam silsilah keluarga atau pohon keluarga (Walyani, 2015). (4) Riwayat operasi

Riwayat penyakit atau kelainan ginekologi serta pengobatannya dapat memberi keterangan penting, terutama operasi yang pernah di alami (Marmi, 2011).

e) Riwayat perkawinan (1) Menikah

Tanyakan status klien, apakah sekarang sudah menikah atau belum menikah. Hal ini penting untuk mengetahui status kehamilan tersebut apakah dari hasil pernikahan yang resmi atau hasil dari kehamilan yang tidak diinginkan. Status pernikahan bisa berpengaruh bisa berpengaruh pada psikologis ibunya pada saat hamil.

(2) Usia saat menikah

Tanyakan kepada klien pada usia berapa menikah. Hal ini diperlukan karena apabila mengatakan bahwa ia menikah diusia muda sedangkan klien pada saat kunjungan awal ketempat bidan tersebut sudah tak lagi muda dan kehamilannya adalah yang pertama, pada kemunginan bahwa kehamilan saat ini adalah kehamilan yang sangat diharapkan. Hal ini akan berpengaruh bagaimana asuhan kehamilannya.

(3) Lama pernikahannya

Tanyakan kepada klien sudah berapa lama menikah. Apabila klien mengatakan bahwa telah lama menikah dan baru saja bisa mempunyai keturunan, kemungkinan

kehamilannya saat ini adalah kehamilan yang sangat diharapkan (Walyani, 2015).

f) Riwayat keluarga berencana (1) Metode

Tanyakan pada klien metode KB apa yang selama ini yang digunakan. Riwayat kontrasepsi diperlukan karena kontrasepsi hormonal dapat mempengaruhi EDD, dan karena penggunaan metode lain dapat membantu menanggali kehamilan.

(2) Lama

Tanyakan kepada klien berapa lama yang telah menggunakan alat kontrasepsi tersebut.

(3) Masalah

Tanyakan kepada klien ia mempunyai masalah saat menggunakan alat kontrasepsi tersebut. Apabila klien mengatakan bahwa kehamilannya saat ini dikarenakan kegagalan kerja alat kontrasepsi, berikan pandangan-pandangan klien terhadap alat kontrasepsi lain (Walyani, 2015).

g) Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu (1) Jumlah kehamilan (Gravida/G)

Jumlah kehamilan ditanyakan untuk mengetahui seberapa besar pengalaman klien tentang kehamilan.

Apabila klien mengatakan bahwa saat ini adalah kehamilan yang pertama, maka bidan harus secara maksimal memberikan pengetahuan kpada klien tentang bagaimana merawat kehamilannya dengan maksimal. (2) Jumlah anak yang hidup (L)

Untuk mengetahui pernah tidaknya klien mengalami keguguran, apabila pernah maka pada kehamilan berikutnya akan berisiko mengalami keguguran kembali. Serta apabila jumlah anak yang hidup hanya sedikit dari kehamilan yang banyak, berarti kehamilannya saat ini adalah kehamilan yang sangat diinginkan.

(3) Jumlah kehamilan premature (P)

Untuk mengidentifikasi apabila pernah mengalami kelahiran premature sebelumnya maka dapat menimbulkan resiko persalinan premature berikutnya. (4) Jumlah keguguran (A)

Tanyakan kepada klien apakah dia pernah keguguran atau tidak. Sebab apabila pernah mengalami keguguran dalam riwayat persalinan sebelumnya akan berisiko untuk mengalami keguguran pada kehamilan berikutnya (keguguran berulang).

(5) Persalinan dengan tindakan (SC/Vakum/Forsep)

Catat kelahiran terdahulu, apakah pervaginam, melalui bedah sesar, dibantu forsep atau vakum. Jika wanita pada kelahiran terdahulu menjalani bedah sesar, untuk kehamilan saat ini mungkin dia melahirkan pervaginam. Keputusan ini biasanya bergantung kepada lokasi insisi di uterus, kemampuan unit persalinan dirumah sakit untuk berespon segera ruptur uterus terjadi, dan keinginan calon ibu.

(6) Riwayat perdarahan pada persalinan atau pasca persalinan

Tanyakan kepada klien apakah pernah mengalami perdarahan pasca persalinan sebelumnya. Perdarahan antepartum atai intrapartum misalnya placenta previa, solisio placenta, retensio placenta, atonia uteri, ruptu uteri, dan lain-lain cenderung dapat berulang pada kehamilan berikutnya.

(7) Kehamilan dengan tekanan darah tinggi

Pertanyaan ini perlu ditanyakan untuk mendiagnosis apakah klien berisiko mengalami preeklamsia/eklamsia yang tanda dan gejalanya merupakan tingginya tekanan tensi darah klien saat hamil. Kehamilan dengan eklampsia perlu mendapatkan perawatan yang intensif.

(8) Berat bayi <2,5 atau 4 kg

Berat lahir sangat penting untuk mengidentifikasi apakah bayi kecil untuk masa kehamilan (BBMK), suatu kondisi yang biasanya berulang. Apanila persalinan pervaginam, berat lahir mencerminkan bahwa bayi dengan ukuran terterntu berhasil memotong pelvis maternal.

(9) Masalah lain

Setiap komplikasi yang terkait dengan kehamilan harus diketahui sehingga dapat dilakukan antisipasi terhadap komplikasi berulang. Sebagai contoh, kehamilan ektopik cenderung berulang. Kondisi lain yang cenderung berulang adakah anomali kongenital, diabetes gestasional, dan lainnya. Apabila kondisi-kondisi ini dilaporkan, sedapat mungkin dapatkan salinan catatan medis (Walyani, 2015).

h) Pola kebiasaan sehari-hari (1) Nutrisi

Tanyakan kepada klien, apa jenis makanan yang biasa ia makan. Anjurkan klien mengkonsumsi makan yang mengandung zat bezi (150mb besi sulfat, 300mg besi glukonat), asam folat (0,4-0,8 mg/hari), kalori (ibu hamil umur 23-50 tahun perlu kalori sekitar 2300kkal),

protein (74gr/hari), vitamin, dan garam mineral (kalsium, fosfor, magnesium, seng, yodium) (Walyani, 2015).

(2) Eliminasi

(a) BAB (Buang Air Besar)

Tanyakan kepada klien, apakah BABnya teratur. Apabila klien mengatakan terlalu sering, bisa dicurigai klien mengalami diare sebaliknya apabila klien mengatakan terlalu jarang BAB, bisa dicurigai mengalami konstipasi. Normalnya feses bewarna kuning, kecoklatan, coklat muda.

(b) BAK (Buang Air Kecil)

Tanyakan kepada klien seberapa sering ia berkemih dalam sehari. Apabila klien mengalami kesulitan berkemih maka bidan harus dapat mengambil tindakan, misalnya memasang kateter. warna urine klien normalnya urine bewarna bening. Apabila klien mengatakan bahwa warna urinenya keruh bisa dicurigai klien menderita DM.(Walyani, 2015).

(3) Aktivitas

Tanyakan bagaimana pola aktivitas klien, beri anjuran kepada klien untuk menghindari mengangkat

beban berat, kelelahan, latian yang berlebihan dan olahraga berat. Anjurkan klien untuk melakukan senam hamil. Aktivitas harus dibatasi didapatkan penyukit karena dapat mengakibatkan persalinan prematur, KPD, dan sebagainya (Walyani, 2015).

(4) Istirahat

(a) Tidur siang

Kebiasaan tidur siang perlu ditanyakan, tidur siang menguntungkan yang baik untuk kesehatan. Apabila ternyata klien tidak terbiasa tidur siang, anjurkan klien untuk mencoba dan membiasakannya.

(b) Tidur malam

Pola tidur malam perlu ditanyakan wanita hamil tidak boleh kurang tidur, apabila tidur malam jangan kurang dari 8 jam (Walyani, 2015).

(5) Seksualitas

Masalah hubungan seksual merupakan kebutuhan biologis yang tidak dapat, tawar, tetapi perlu diperhitungkan bagi mereka yang hamil, kehamilan bukan merupakan halangan untuk melakukan hubungan seksual. Pada kehamilan tua sekitar 14 hari menjelang persalinan perlu dihindari hubungan seksual karena

dapat membahayakan yaitu kurang higienis, ketuban pecah dini dan persalinan bisa terangsang karena sperma mengandung prostaglandin (Walyani, 2015). (6) Personal hygiene

Tanyakan kepada klien seberapa sering ia mandi. Mandi diperlukan untuk menjaga kebersihan atau hygine terutama perawatan kulit, karena fungsi ekskresi dan keringat bertambah.

Tanyakan kepada klien, seberapa sering ia mengganti pakaiannya. Pakaian yang digunakan harus longgar, bersih, dan tidak ada ikatan yang ketat pada daerah perut (Walyani, 2015).

(7) Psikologi budaya

Tradisi yang mempengaruhi kehamilan, hal ini perlu ditanyakan karena bangsa indonesia mempunyai beranekaragam suku bangsa yang tentunya dari tiap suku bangsa tersebut mempunyai tradisi yang dikhususkan bagi wanita saat hamil. Kebiasaan yang merugikan, hal ini mempunyai kebiasaan yang berbeda beda dari berbagai macam-macam kebiasaan yang dimiliki manusia, tentunya ada yang mempunyai dampak yang positif dan negative (Walyani, 2015).

(8) Penggunaan obat-obatan

Hal ini perlu ditanyakan karena minuman keras/obat terlarang tersebut langsung dapat memengaruhi pertumbuhan, perkembangan janin, dan menimbulkan kelahiran dengan berat badan lahir rendah bahkan dapat menimbulkan cacat bawaan atau kelainan pertumbuhan dan perkembangan mental. Sehingga, apabila ternyata klien melakukan hal-hal tersebut, bidan harus secara tegas mengingatkan klien harus menghentikan kebiasaan buruk tersebut (Walyani, 2015).

3) Pemeriksaan fisik (Data Objektif)

Untuk melengkapi data dalam menegakkan diagnosa, bidan harus melakukan pengkajian data objektif melalui pemeriksaan inspeksi,palpasi, auskultasi, dan perkusi yang bidan lakukan secara berurutan (Walyani, 2015).

a) Status generalis (1) Keadaan umum

Untuk mengetahui data ini, bidan perlu mengamati keadaan pasien secara keseluruhan. Hasil pengamatan akan bidan laporkan dengan kriteria :

(2) Kesadaran

Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien, bidan dapat melakukan pengkajian derajat kesadaran pasien dari keadaan composmentis (kesadaran maksimal) sampai dengan coma (pasien tidak dalam keadaan sadar). (Walyani,2015).

(3) Tanda vital (a) Tekanan darah

Tekanan darah normalnya 100-120/60-80 mmHg, tekanan darah memiliki 2 komponen yaitu sistolik dan diastolik. Pada waktu ventrikel berkontraksi, darah akan dipompakan keseluruh tubuh. Keadaan ini ini disebut sistolik, dan tekanan aliran darah pada saat itu disebut tekanan sistolik. Pada saat ventrikel rileks, darah dari atrium masuk ke ventrikel, tekanan aliran darah pada waktu ventrikel sedang rileks disebut tekanan darah diastolik. (Sulistyawati, 2009)

(b) Nadi

Frekuensi denyut nadi dihitung dalam 1 menit, normalnya 60-100x/menit (Walyani, 2015)

(c) Pernapasan

Yang dinilai pada pemeriksaan pernafasan adalah : tipe pernafasan, frekuensi, kedalaman, dan suara nafas. Respirasi normal disebut eupnea (laki-laki : 12-20x/menit, perempuan : 16-20x/menit) (Walyani, 2015)

(d) Suhu

Suhu normal adalah 36,5-37,5ºC, biasanya pemeriksaan suhu tubuh pada mulut, aksila, dan rectal (Walyani, 2015)

b) Pemeriksaan sistematis (1) Kepala

(a) Rambut : warna, kebersihan, mudah rontok atau tidak

(b) Telinga : kebersihan, gangguan pendengaran

(c) Mata : konjungtiva, sklera, kebersihan, kelainan, gangguan penglihatan (rabun jauh/dekat).

(e) Mulut

Bibir : warna, integritas jaringan ( lembab, kering, atau pecah-pecah). lidah : warna, kebersihan. Gigi : kebersihan, karies. Gangguan pada mulut.

(f) Leher

Pembesaran kelenjar limfe dan Parotitis. (g) Dada : Bentuk, Simestris/tidak

Payudara : Bentuk, Gangguan, ASI, Keadaan putting, Kebersihan, Bentuk BH. Gangguan pernapasan (auskultasi)

(h) Perut : Bentuk, Striae, Linea, Kontraksi uterus, TFU (i) Ekstremitas

Atas : Gangguan/kelainan, Bentuk. Bawah : Bentuk, Odema, Varises

(j) Genital : Kebersihan, Pengeluaran pervaginam, Keadaan luka jahitan, Tanda-tanda infeksi vagina (k) Anus : Haemoroid, Kebersihan

c) Data penunjang

Laboratorium : Kadar Hb, Hmt (Haematorkit), Kadar Leukosit, Golongan darah (Sulistyawati, 2009)

2) Langkah II Intrepretasi Data

Pada langkah ini data dasar yang sudah dikumpulkan disimpulkan sehingga dapat dibuat diagnosis yang spesifik

dimana dapat ditentukan masalah yang menyertai pada klien dan keebutuhan klien. Contoh intrprestasi data yang dibuat bidan yaitu Ny. …. Umur…UK…hamil dengan…(Walyani, 2015)

3) Langkah III Diagnosa Potensial

Pada langkah ini bidan mengidentiifikasi masalah untuk menentukan diagnose potensial yang mungkin terjadi pada klien. Diagnose potensial yang dapa terjadi pada ibu hamil misalnya anemia ringan, keputihan patologis, dll (Walyani, 2015)

4) Langkah IV Tindakan Segera

Pada langkah ini bidan perlu menentukan tindakan segera agar dapat dikonsultasikan bersama anggota tenaga kesehatan lainnya tentang tindakan yang palin tepat dilakukan pada klien. Misalnya, ibu hamil yang mengalami KPD tetapi tidak mengalami kemajuan persalinan memerlukan tindakan segera berupa induksi(Walyani, 2015)

5) Langkah V Rencana Tindakan

Pada langkah ini bidan bertugas untuk merumuskan rencana asuhan sesuai dengan hasil pembahasan rencana bersama klien, dan membuat kesepakatan bersama sebelum melaksanakannya. Asuhan yang diberikan meliputi pemberian

konseling dan asuhan sesuai kondisi yang dialami ibu (Walyani, 2015)

6) Langkah VI Pelaksanaan

Pada langkah ini, rencana asuhan menyeluruh yang telah diuraikan sebelumnya, dilaksanakan secara efisien dan aman (Walyani, 2015)

7) Langkah VII Evaluasi

Pada langkah ketujuh ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan ynag sudah diberikan, untuk memastikan apakah rencana yang sudah ditetapkan telah dilakukan secara menyeluruh sehingga kebutuhan pasien benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan sebagaimana telah diidentifikasikan dalam masalah dan diagnosis (Walyani, 2015)

c. Dokumentasi Asuhan kebidanan Kehamilan (SOAP)

1) S (subyektif) : menjelaskan pendokumentasian data klien melalui anamnesa yaitu identitas pasien, alasan kunjungan, riwayat kehamiln saat ini, riwayat kehamilan, persalinan,dan nifas yang lalu.

2) O (Obyektif) : menjelaskan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, laboratorium, dan tes diagnosis lain yang diirumuskan dalam data focus yang mendukung assessment.

3) A (Assesment) : menjelaskan pendokumentasian hasil anlisa dan intreprestasi data subyektif dan obyektif dalam suatu identifikasi atau masalah potensial seperti hasil pemeriksaan fisik .

4) P (Planning) : menjelaskan pendokumentasian dari prencanaan dan evaluasi berdasarkan assessment (Walyani, 2015)

B. PERSALINAN

1. Konsep Dasar

a. Pengertian

Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dari uterus ibu. Persalinan disebut normal apabila prosesnya terjadi pada usia cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai adanya penyulit atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri) (Johariyah, 2010).

Persalinan merupakan proses membuka dan menipisnya serviks dan janin turun kedalam jalan lahir kemudian berakhir dengan pengeluaran bayi yang cukup bulan atau hampir cukup bulan atau dapat hidup diluar kandunagan disusul dengan pengeluaran placenta dan selaput janin dari tubuh ibu melalui jalan lahir dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri).Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai adanya penyulit (Marmi, 2011).

Kesimpulannya persalinan merupakan proses pengeluaran bayi yang cukup bulan kemudian disusul keluarnya plasenta dan selaput ketuban dari uterus ibu tanpa bantuan (kekuatan sendiri) b. Tanda-tanda persalinan

Tanda-tanda persalinan menurut Marmi(2011) sebagai berikut: 1) Terjadi lightening

Menjelang minggu ke-36, tanda primigravida terjadi penurunan fundus uteri karena karena kepala bayi sudah masuk pintu atas panggul yang disebabkan: Broxton hiks, ketegangan dinding perut, ketegangan ligamentum rotundum, dan gaya berat janin dimana kepala kearah bawah. Masuknya bayi ke pintu atas panggul menyebakan ibu merasakan:

a) Ringan dibagian atas, dan rasa sesaknya berkurang b) Bagian bawah perut ibu terasa penuh dan mengganjal c) Terjadinya kesulitan saat berjalan

d) Sering kencing (follaksuria) 2) Terjadinya His Permulaan

Makin tua kehamilan, penngeluaran esterogen dan progesteron makin berkurang sehingga produksi oksitosin meningkat, dengan demikian dapat menimbulkan kontraksi yang lebih sering, his permulaan ini lebih sering diistilahkan dengan his palsu. Sifat his palsu antara lain :

b) Datangnya tidak teratur

c) Tidak ada perubahan pada serviks atau tidak ada tanda-tanda kemajuan persalinan

d) Durasinya pendek

e) Tidak bertambah bila beraktivitas c. Penyebab Mulanya Persalinan

Menurut Marmi, dkk (2011), ada beberapa penyebab mulainya persalinan :

1) Penurunan kadar hormone prostaglandin

Progesterone merupakan hormone penting untuk mempertahankan kehamilan. Progesteron berfungsi menurunkan kontraktilitas dengan cara meningkatkan potensi membran istirahat pada sel myometrium sehingga menstabilkan Ca membran dan kontraksi berkurang uterus rileks dan tenang 2) Penurunan kadar progesterone

Progesteron menimbulkan relaksasi otot-otot Rahim, sabaiknya esterogen meningkatkan kontraksi otot rahim. Selama kehamilan, terdapat keseimbangan antara kadar progesteron dan esterogen di dalam darah tetapi pada akhir kehamilan kadar progesteron menurun sehingga timbul his.

3) Teori Oksitosin

Pada akhir kehamilan kadar oksitosin bertambah. Oleh karena itu timbul kontraksi otot-otot rahim

4) Pergerakan otot-otot

Dengan majunya kehamilan, maka makin terangkatlah otot-otot Rahim sehingga timbulah kontraksi untuk megeluarkan janin. 5) Pengaruh janin

Hipofise dan kadar suprarenal janin rupanya memegang peranan penting oleh Karena itu pada ansephalus kelahiran sering lebih lama.

d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi proses persalinan

Menurut Marmi,2011 ada beberapa faktor-faktor yang mempemgaruhi persalinan yaitu;

1) passenger

Faktor passenger terdiri atas 3 komponen yaitu janin, air ketuban dan plasenta.

a) Janin

Janin bergerak sepanjang jalan lahir merupakan akibat interaksi beberapa faktor, yaitu ukuran kepala janin, presentasi, letak, sikap, dan posisi janin.

Dokumen terkait