• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Dasar Ekonomi Islam

Dalam dokumen MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (4) (Halaman 67-83)

BAB II PEMBAHASAN

2.8. Konsep Dasar Ekonomi Islam

Ekonomi Islam merupakan suatu cabang ilmu yang mempelajari metode untuk memahami dan memecahkan masalah ekonomi yang didasarkan atas ajaran agama Islam. Perilaku manusia dan masyarakat yang didasarkan atas ajaran agama Islam inilah yang kemudian disebut sebagai perilaku rasional Islam yang akan menjadi dassar pembentukan suatu perekonomian Islam.

A. Tujuan Hidup

Pada dasarnya setiap manusia selalu menginginkan kehidupannya di dunia ini dalam keadaan bahagia, baik secara material maupun spiritual, individual maupun sosial. Namun, dalam praktiknya kebahagiaan multi dimensi ini sangat sulit diraih karena keterbatasan kemampuan manusia dalam memahami dan menerjemahkan keinginannya secara

komprehensif, keterbatasan dalam menyeimbangkan antar aspek

kehidupan maupun keterbatasan sumber daya yang bisa digunakan untuk meraih kebahagiaan tersebut. Masalah ekonomi hanyalah merupakan satu bagian dari aspek kehidupan yang diharapkan akan membawa manusia kepada tujuan hidupnya.

B. Sistem Ekonomi Islam

Secara definisi, ekonomi Islam merupakan ilmu yang mempelajari usaha manusia untuk mengalokasikan dan mengelola sumber saya untuk

mencapai falah berdasarkan pada prinsip-prinsip dan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah.

Muhammad Abdul Manan (1992) berpendapat bahwa ilmu ekonomi Islam dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi masyarakat yang diilhami nilai-nilai Islam. Ia mengatakan bahwa ekonomi Islam merupakan bagian dari suatu tata kehidupan lengkap, berdasarkan empat bagian nyata dari pengetahuan, yaitu: al-Quran, as-Sunnah, Ijma dan Qiyas.

Menurut Suhrawardi K. Lubis (2004:14) bahwa sistem ekonomi Islam adalah ilmu ekonomi yan dilaksanakan dalam praktek (penerapan ilmu ekonomi) sehari-harinya bagi individu, keluarga, kelompok masyarakat maupun pemerintah dalam rangka pengorganisasian faktor produksi, distribusi, dan pemanfaatan barang/jasa yang dihasilkan tunduk dalam peraturan Islam.

Sistem ekonomi Islam adalah sebuah sistem yang tidak lahir dari hasil ciptaan akal manusia, akan tetapi sebuah sistem yang berdasarkan wahyu Allah SWT. Dengan kata lain, sistem ekonomi Islam adalah sistem

ekonomi yang berdasarkan ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits yang dikembangkan oleh pemikiran manu

sia yang memenuhi syarat dan ahli dalam bidangnya.

Subjek ekonomi dalam Islam seringkali dikaitkan dengan kata muamalah dalam ilmu fiqih. Kata muamalah sendiri berarti kerjasama antar sesama manusia, sehingga pengertiannya dapat menjadi luas. Menurut

Muhammad Daud (2002:50-51) bahwa dalam ruang lingkup hukum Islam tidak membadakan (dengan tajam) antara hukum perdata dan hukum pidana, karena menurut sistem hukum Islam pada hukum perdata terdapat segi-segi publik dan pada hukum publik ada segi-segi

perdatanya, maka hukum muamalah dalam arti luas adalah sebagai berikut:

a. Munakahat, mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan perkawinan, perceraian serta akibat- akibatnya.

b. Wiratsah, segala masalah yang berhubungan dengan pewaris, ahli waris, harta peninggalan serta pembagian waris.

c. Muamalat dalam arti khusus, mengatur masalah kebendaan dan hak- hak atas benda, tata hubungan manusia dalam soal jual beli, sewa- menyewa, pinjam-meminjam, perserikatan, dan sebagainya.

d. Jinayat, memuat aturan-aturan mengenai perbuatan-perbuatan yang diancam dengan hukuman baik dalam jarimah hudud atau ta’zir. e. Al-Ahkam as-Sulthaniyah, membicarakan soal-soal yang

berhubungan dengan pemerintahan, tentara, pajak, dan lain-lain. f. Suyar, mengatur tentang urusan perang dan damai, tata hubungan

dengan pemeluk agama lain dan negara lain.

g. Mukhasamat, mengatur soal peradilan, kehakiman dan hukum acara. Dari sistematika pembagian hukum islam di atas, dapat diketahui

bahwa sistem ekonomi Islam, masuk dalam ruang lingkup mu’amalah.

Ekonomi tidak dapat dipisahkan dari subjek seputar kepemilikan dan pengelolaan terhadap harta benda. Kepemilikan ialah pemberian yang bersifat social dan diakui suatu hak kepada seseorang atau suatu

kelompok masyarakat. Pemberian ini mencerminkan hak potensial untuk memanfaatkan barang tertentu dan pada yang sama mengesampingkan pihak yang lain dari pemberian hak yang sama. Kepemilikan

menunjukkan hubungan sosial dan yang diakui antara individu atau kelompok dalam masyarakat dan mencerminkan hak milik sah pemilik atas barang dan pada saat yang sama menghalangi pihak lain dari hak seperti itu (Muhammad H. Behesti, 1992:9)

Menurut Rofiq Yunus al-Masry (1993:41) kepemilikan terbagi dua, yaitu kepemilikan yang bersifat umum dan kepemilikan yang bersifat khusus (privat). Kepemilikan khusus adalah hak milik perorangan atau kelompok. Jenis kepemilikan seperti ini telah diakui dalam Islam, sebagaimana terdapat di dalam Al-Qur’an ayat-ayat yang

menyebutkan amwaalakum/harta-hartamu, amwaalahum/harta-harta mereka, amwaal al-yatiim/harta anak yatim, atau buyuutakum/rumah- rumah kamu. Sebagaiman pula terdapat dalam Al-Qur’an perintah untuk membayar zakat, mengeluarkan infaq. Sedangkan kepemilikan umum adalah wakaf yang dimiliki oleh seluruh kaum muslimin, setiap muslim boleh mengambil manfaat, namun tidak dapat dijual, dihapus atau dihadiahkan.

C. Filsafat Ekonomi Islam

Menurut Ahmad M. Saefuddin dalam Muhammad Daud (1988:5-6) ada tiga filsafat ekonomi Islam, yaitu:

1) Semua yang ada di alam semesta langit, bumi serta sumber-sumber alam yang ada padanya, bahkan harta kekayaan yang dikuasai manusia adalah milik Allah SWT, karena Dialah yang

menciptakannya. Semua ciptaan Allah itu tunduk pada kehendak dan ketentuan-ketentuan-Nya. Manusia sebagai khalifah-Nya berhak mengurus dan memanfaatkan alam semesta untuk kelangsungan hidup dan kehidupan manusia dan lingkungannya.

2) Allah Maha Esa, Dialah pencipta segala makhluk yang yang ada di alam semesta. Salah satu ciptaanNya adalah manusia yang diberi alat kelengkapan sempurna lebih dari makhluk-makhluk ciptaan Allah lainnya agar ia mampu melaksanakan tugas, hak dan kewajiban sebagai khalifah Allah di bumi ini.

3) Beriman kepada hari kiamat, keyakinan pada hari kiamat ini merupakan asas penting dalam sistem ekonomi Islam karena dengan

keyakinan itu, tingkah laku ekonomi manusia di bumi ini akan dapat terkendali, sebab ia sadar bahwa semua perbuatannya termasuk tindakan ekonominya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.

Dari ketiga pokok filsafat ekonomi Islam melahirkan nilai-nilai dasar

ekonomi islam, yaitu nilai dasar kepemilikan, keseimbangan, dan keadilan.

2.8.1 Filantrofi Islam

Andi Agung Prihatna dalam buku Revitalisasi Filantrofi Islam Studi Kasus Lembaga Zakat dan Wakaf Di Indonesia (2005:6) menyatakan bahwa istilah filantrofi (philanthropy) berasal dari bahasa Yunani, philos (cinta) dan anthropos (manusia). Secara harfiah filantropi adalah konseptualisasi dari praktik memberi (giving), pelayanan (services) dan asosiasi

(assiciation) secara sukarela untuk membantu pihak lain yang

membutuhkan sebagai ekspresi rasa cinta. Di dalam Al-Qur’an perintah berderma mengandung makna kemurahan hati, keadilan sosial, saling berbagi dan saling memperkuat. Aktivitas berderma inilah yang disebut sebagai filantrofi Islam.

Di dalam sistem ekonomi Islam terdapat lembaga sosial ekonomi yang dapat menjembatani dua kelompok sosial, yaitu golongan kelas atas dan golongan kelas bawah.

Adapun lembaga-lembaga sosial ekonomi dalam Islam adalah sebagai berikut:

A. Shadaqah atau Sedekah

Shadaqah berasal dari kata shadaqa yang berarti benar. Orang yang suka bersedekah adalah orang yang benar pengakuan imannya. Adapun

secara terminologi syariat shadaqah makna asalnya adalah tahqiqu syai'in bisyai'i atau menetapkan/menerapkan sesuatu pada sesuatu. Sikapnya sukarela dan tidak terikat pada syarat-syarat tertentu dalam

pengeluarannya baik mengenai jumlah, waktu dan kadarnya.

Shadaqah memiliki makna yang sangat luas karena bersedekah tidak harus berupa materi atau benda, tetapi juga dapat bersifat non materi, misalnya tersenyum dan bermuka cerah ketika bertemu, menyingkirkan rintangan di jalan, menuntun orang yang buta, serta segala perbuatan yang baik dan bermanfaat.

B. Infaq

Infaq berasal dari kata anfaqa yang berarti mengeluarkan sesuatu (harta) untuk kepentingan sesuatu. Menurut terminologi syariat, infaq berarti mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapatan/penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan Islam. Dengan kata lain, infaq merupakan sumbangan sukarela atau seikhlasnya

(berupa materi). Misalnya, untuk menolong orang orang yang kesusahan; membangun masjid, jalan, jembatan; dan sebagainya.

Infaq dikeluarkan setiap orang yang beriman, baik yang berpenghasilan tinggi maupun rendah, apakah ia di saat lapang maupun sempit.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Ali Imron: 134

ۗذرلنعا نعيقخفرنايخونع يفر ا رنعسنعل ءرا وعارنعضنعلاءروعانعيمرظراكعلاظعياغعلااوعانعيفراععلا نرعع اسراننعل بنخحريخا نعينرسرحامخلا وعاهخلنعل

Artinya: Yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan orang, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Terkait dengan infaq ini Rasulullah SAW bersabda: ada malaikat yang senantiasa berdo'a setiap pagi dan sore : "Ya Allah SWT berilah orang yang berinfak, gantinya. Dan berkata yang lain : "Ya Allah jadikanlah orang yang menahan infak, kehancuran". (HR. Bukhori)

C. Hibah

Kata hibah berasal dari bahasa Arab yang secara etimologis berarti melewatkan atau menyalurkan. Dengan demikian berarti telah disalurkan dari tangan orang yang memberi kepada tangan orang yang

diberi. Jadi, dapat disimpulkan bahwa hibah merupakan suatu pemberian yang bersifat sukarela (tidak ada sebab dan musababnya) tanpa ada kontra dari pihak penerima pemberian, dan pemberian itu dilangsungkan pada saat si pemberi masih hidup.

Menurut Hussein Syahatah (1998:248) hibah adalah ungkapan tentang pengalihan hak kepemilikan atas sesuatu tanpa adanya ganti atau imbalan sebagai pemberian dari seseorang kepada orang lain dengan memenuhi rukun-rukunnya, yaitu:

1. Orang yang memberi, yaitu pemilik benda yang dihibahkan,

disyaratkan harus merdeka, dewasa, berakal sehat, tidak dipaksa, tidak berhutang, dan pengelolaan hartanya tidak dilarang.

2. Barang yang dihibahkan, yaitu suatu barang yang menjadi objek hibah.

3. Orang yang menerima hibah, yaitu orang yang menerima barang hibah dari orang yang memberi hibah.

4. Ucapan hibah, yaitu sesuatu yang diucapkan dari orang yang memberi hibah yang menunjukkan terjadinya hibah dengan format yang ditetapkan.

D. Qurban

Qurban berasal dari bahasa Arab, qaruba (fi’il madhi) – yaqrabu (fi’il mudhari’) – qurban wa qurbaanan (mashdar) yang berarti mendekati atau menghampiri. Qurban atau disebut juga Udhhiyah atau Dhahiyyah secara harfiah berarti hewan sembelihan.

Qurban dalam fiqih Islam yaitu hewan yang dipotong dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, berkenaan dengan tibanya Idul adha atau yaumun nahr pada tanggal 10 Dzulhijjah dan pada hari-hari tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah). Disebut hari nahr (atas dada), karena pada umumnya waktu dulu hewan yang dipotong itu adalah onta yang cara pemotongannya atau penyembelihannya dalam keadaan berdiri dengan ditusukkannya pisau ke lehernya dekat dada onta tersebut. Kemudian di kalangan kita popular dengan sebutan “qurban” artinya sangat dekat, karena hewan itu dipotong dalam rangka taqarrub kepada Allah. Qurban sangat dituntut dalam Islam. Dalil yang menerangkan ibadah qurban ialah:

Sebagaimana firman Allah SWT:

Artinya: "Maka bersembahyanglah kamu karena Tuhanmu dan berqurbanlah karena-Nya".

Artinya: "Daging dan darah binatang qurban atau hadiah tidak sekali-kali akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepadaNya ialah amal yang ikhlas berdasarkan taqwa dari kamu".

Warisan adalah segala sesuatu baik yang bersifat materi maupun maknawi, yang telah meninggal dunia dan dibagikan kepada ahli waris berdasarkan peraturan-peraturan tertentu. Sebagian ulama

mengungkapkan warisan dengan istilah faraidh, artinya warisan itu merupakan bagian tertentu bagi ahli waris. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT:

(ءاسنلا : ٧) امنعمر لنعقع هخنامر واأع رعثخكع ابديصرنع اضدورخفامع ….” Artinya: “…. baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah

ditetapkan” (An-Nisa’ : 7) F. Wasiat

Wasiat adalah pesan tentang suatu kebaikan yang akan dilaksanakan setelah orang yang berwasiat itu meninggal dunia. Jika diberikan kepada ahli waris maka wasiatnya tidak sah kecuali semua ahli waris yang lebih berhak menerima warisan itu ridha dan rela memberikan kepadanya setelah orang yang berwasiat itu meninggal dunia.

“Dari Abu Umamah beliau berkata: Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya Allah telah menentukan hak tiap-tiap ahli waris maka dengan ketentuan itu tidak ada hak wasiat bagi seorang ahli waris”.

(HR. Lima Ahli Hadits selain Nasai).

G. Zakat

Secara bahasa zakat berarti suci, baik, berkah, tumbuh, dan berkembang. Secara istilah zakat adalah sebagian harta yang wajib diberikan kepada orang-orang tertentu dengan syarat-syarat tertentu pula (Didin

Zakat merupakan dasar prinsipil untuk menegakkan struktur sosial Islam. Zakat bukanlah derma atau sedekah biasa, ia adalah sedekah wajib. Setiap muslim yang memenuhi syarat tertentu, berdasarkan dalil sebagai berikut: a. Al-Qur’an Surat at-Taubah : 103 ذاخخ نامر ماهرلراوعماأعصعةدقعدع ماهخرخهنرطعتخ ماهريكنرزعتخوع اهعبر لنرصعوع ماهريالععع ننعإر كعتعالعصع (١٠٣ : ةبوتلا) نن كد سد م ي هةلد هةلتلاودمنيلقعد عنيمقسد

Artinya: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

b. Hadits Riwayat Bukhori dan Muslim

"

ناو هللالا هلال نا ةدهش سمخ ىلع ملسل ا ينب ملسو هيلع هللا ىلص هللا لوسر لاق ,

ناضمر موصو تيبلا خحو ةاكزلاءاتياوةلصلا ماقياو هللا لوسرادمحم Hadits adalah sebagaimana diriwiyatkan oleh Bukhori dan Muslim yang

artinya Islam itu berdiri di atas lima dasar yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, membayar zakat, naik haji, dan puasa ramadhan.

Zakat bukan hanya kewajiban yang apabila tidak dilaksanakan akan mendapat dosa, tetapi lebih dari itu zakat memiliki tujuan yang jelas. dengan terlaksananya lembaga zakat secara baik dan benar diharapkan kesulitan dan penderitaan fakir miskin dapat berkurang. Di samping itu dengan pengelolaan zakat yang professional berbagai permasalahan yang terjadi dalam masyarakat yang ada hubungannya dengan mustahiq zakat juga dapat dipecahkan.

Macam-macam zakat, antara lain:

1. Zakat mal (zakat harta), yaitu bagian dari harta kekayaan seseorang atau badan hukum yang wajib dikeluarkan untuk golongan tertentu

setelah dipunyai selama jangka waktu tertentu dalam jumlah minimal tertentu pula.

2. Zakat fitrah (zakat jiwa), yaitu zakat wajib dikeluarkan oleh setiap orang Islam baik laki-laki maupun perempuan, besar atau kecil, setiap tahun menjelang hari raya Idul fitri.

Adapun secara lebih terperinci dapat dikemukakan hikmah zakat yang dirangkum dari pernyataan Hussein Syahatah (1998) adalah sebagai berikut:

1. Sebagai sarana pendidikan bagi jiwa manusia untuk bersyukur kepada Allah SWT

2. Melatih manusia untuk dapat merasakan penderitaan dan kesulitan fakir dan miskin

3. Sebagai sarana untuk menanamkan dalam jiwa manusia sifat jujur, amanah, pengorbanan, ikhlas, mencintai sesama dan persaudaraan 4. Membentuk masyarakat saling menanggung, menjamin dan saling

menyayangi

5. Mewujudkan pembangunan perekonomian sebab zakat dapat

menanggulangi masalah-masalah penimbunan harta melalui anjuran mengola dan mengembangkan harta

6. Untuk menanggulangi pengangguran, karena pengeluaran harta zakat kepada fakir dan miskin menambah kuatnya daya beli dan tuntutan untuk membeli kebutuhan-kebutuhan pokok tentunya itu akan meningkatkan produktifitas dan kesempatan kerja

7. Harta zakat dapat mengetaskan kemiskinan, karena zakat dapat mengubah orang-orang fakir menjadi orang-orang yang dapat memanfaatkan harta zakat.

Benda yang wajib dizakati, yaitu: 1. Emas, perak, dan uang 2. Hasil bumi dan buah-buahan 3. Harta perniagaan

4. Barang tambang 5. Hewan ternak

Syarat-syarat wajib zakat, yaitu: 1. Kemilikan yang sah dan pasti

2. Berkembang biak secara alami atau usaha 3. Mencapai nisab

4. Melebihi kebutuhan pokok 5. Bersih dari hutang

6. Mencapai haul yaitu perputaran satu tahun.

Orang-orang yang berhak menerima zakat disebut mustahiq. Sebagaimana firman Allah dalam surat at-Taubah: 60

يفروع براقعرنرلا ماهخبخولخقخ اهعيالعععةرفعلنعؤعمخلااوع ءرارعقعفخلالر نريكراسعمعلااوع نعيلرمراععلااوع امعننعإرتخاقعدعصنعلا من يلقعد من يكق حد نعمر هرلنعلا هخلنعلاوع هرلنعلا نربااوع لريبرسنعلا ةدضعيررفع نعيمررراغعلااوع يفروع لريبرسع

Artinya: Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir,orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu´allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

H. Wakaf

Wakaf berasal dari kata “waqofa” artinya menahan, dalam hal ini menahan harta untuk diwakafkan. Secara etimologi berarti menahan harta dan memberikan manfaatnya di jalan Allah SWT. Harta yang telah diserahkan oleh Wakif kepada Nazhir (untuk waktu selamanya), kepemilikannya berpindah kepada Allah SWT. Harta tersebut bukan milik wakif dan juga bukan milik nazhir. Sedangkan harta yang diserahkan oleh Wakif kepada

Nazhir agar dimanfaatkan (untuk waktu tertentu), masih menjadi milik Wakif, sehingga harus dikembalikan kepada Wakif setelah jangka waktu pemanfaatan harta wakaf berakhir.

Harta wakaf (baik untuk waktu selamanya maupun untuk waktu tertentu) tidak dapat dijual, dihibahkan, diwariskan atau apapun yang dapat menghilangkan kewakafannya. Peran Nazhir adalah hanya mengelola harta wakaf tersebut agar jangan berkurang, dan mengupayakannya berkembang sehingga hasil (keuntungannya) dapat digunakan untuk keperluan sosial (mauquf alaih).

Di dalam Islam wakaf adalah salah satu bentuk sedekah yang dianjurkan meskipun perintahnya tidak disebutkan secara tegas sebagaimana halnya zakat, namun para ahli dipandang sebagai landasan perintah untuk berwakaf, yaitu: 1. Al-Qur’an Surat al-Hajj : 77 ماكخبنعرع اودخبخعااوع اودخجخسااوع وعخكعراا اونخمعا لخععفااو رعياخعلاا نعياذرلنعااهعينخاايع ءع نعوحخلرفاتخ ماكخلنعععلع Artinya: Hai orang-orang yang beriman, ruku´lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. Surat Al-Baqarah : 267 اوقخفرناأع نامر ترابعينرطعامع ماتخباسعكع امنعمروع انعجارعخاأع ماكخلع نعمر ضرراأعلاا اونخمعا نعياذرلنعااهعينخاايع ناأع وضخمرغاتخاهريفرومخلععااوعا اومخمنعيعتعا ثعيبرخعلا هخنامر نعوقخفرناتخ ماتخسالعوع هريذرخرابر النعإر العوع د ن يمقحد هعلنعلايندنرغع ننعأع

Artinya: Hai orang-orang beriman, berinfaklah dari hasil kerja kalian yang baik-baik dan hasil bumi yang kalian dapatkan seperti pertanian, tambang dan sebagainya. Janganlah kalian sengaja berinfak dengan yang buruk- buruk. Padahal kalian sendiri, kalau diberikan yang buruk seperti itu, akan

mengambilnya dengan memicingkan mata seakan tidak ingin memandang keburukannya. Ketahuilah Allah tidak membutuhkan sedekah kalian. Dia berhak untuk dipuji karena kemanfaatan dan kebaikan yang telah

ditunjuki-Nya.

2. Hadits

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Umar bin Khatab mempunyai tanah (kebun) di Khaibar, lalu ia datang kepada Nabi SAW, untuk meminta petunjuk mengenai tanah tersebut, ia berkata Wahai Rasulullah saya memperoleh tanah di Khaibar, yang belum pernah saya peroleh harta yang lebih baik bagiku melebihi tanah itu, apa perintah engkau (kepadaku) mengenainya? Nabi SAW menjawab, jika mau kamu tahan pokoknya dan kamu

sedekahkan (hasilnya), Ibnu Umar berkata maka Umar menyedekahkan tanah itu (dengan mensyaratkan) tanah itu tidak dijual, tidak dihibahkan, dan tidak diwariskan ia menyedekahkan hasilnya kepada fuqara, kerabat, riqab (hamba sahaya, orang tertindas), sabilillah, ibnu sabil, dan tamu. Tidak berdosa dari orang yang mengelola untuk memakan dari (hasil) tanah itu secara ma'ruf (wajar) dan memberi makan (kepada orang lain) tanpa menjadikannya sebagai harta hak milik. Rawi berkata, saya menceritakan hadis tersebut kepada Ibnu Sirin, lalu ia berkata ghaira mutaatstsilin malan' (tanpa menyimpanya sebagai harta hak milik. (H.R. al-Bukhari, Muslim, al Tharmidzi, al-Nasa'i).

Tujuan wakaf:

1. Untuk kepentingan umum 2. Untuk menolong fakir miskin

3. Untuk kepentingan anggota keluarga sendiri.

Segala aturan yang diturunkan Allah SWT dalam sistem Islam mengarah pada tercapainya kebaikan, kesejahteraan, keutamaan, serta

menghapuskan kejahatan, kesengsaraan dan kerugian pada seluruh ciptaan-Nya. Demikian pula dalam hal ekonomi, tujuannya adalah membantu manusia mencapai kemenangan di dunia dan di akhirat. Seorang fuqaha asal Mesir bernama Prof. Muhammad Abu Zahrah mengatakan ada tiga sasaran hukum Islam yang menunjukan bahwa Islam diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia, yaitu:

1. Pnyucian jiwa agar setiap muslim bisa menjadi sumber kebaikan bagi masyarakat dan lingkungannya.

2. Tegaknya keadilan dalam masyarakat. Keadilan yang dimaksud mencakup aspek kehidupan di bidang hukum dan muamalah. 3. Tercapainya mashlahah (merupakan puncaknya). Para ulama

menyepakati bahwa mashlahah yang menjadi puncak sasaran di atas mencakup lima jaminan dasar:

a. keselamatan keyakinan agama ( al din) b. kesalamatan jiwa (al nafs)

c. keselamatan akal (al aql)

d. keselamatan keluarga dan keturunan (al nasl) e. keselamatan harta benda (al mal)

2.8.3 Prinsip-Prinsip Ekonomi dalam Islam

Secara garis besar, ekonomi Islam memiliki beberapa prinsip dasar, yaitu: 1. Berbagai sumber daya dipandang sebagai pemberian atau titipan dari

Allah SWT kepada manusia.

2. Islam mengakui pemilikan pribadi dalam batas-batas tertentu. 3. Kekuatan penggerak utama ekonomi Islam adalah kerjasama.

4. Ekonomi Islam menolak terjadinya akumulasi kekayaan yang dikuasai oleh segelintir orang saja.

5. Ekonomi Islam menjamin kepemilikan masyarakat dan

penggunaannya direncanakan untuk kepentingan banyak orang. 6. Seorang muslim harus takut kepada Allah SWT dan hari penentuan

di akhirat nanti.

7. Zakat harus dibayarkan atas kekayaan yang telah memenuhi batas (nisab)

BAB III

Dalam dokumen MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (4) (Halaman 67-83)

Dokumen terkait