TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Konsep Dasar Flebitis .1 Pengertian Flebitis
Flebitis merupakan infeksi nosokomial yaitu infeksi oleh mikroorganisme yang dialami oleh pasien yang diperoleh selama dirawat di rumah sakit di ikuti dengan manifestasi klinis yang muncul sekurang-kurangnya 3X24 jam. (Darmadi, 2008).
Flebitis merupakan peradangan pada dinding vena yang disebabkan karena iritasi kimia, bakteri maupun mekanik yang ditandai dengan nyeri, kemerahan, dan bahkan sampai timbul bengkak lokal sekitar area penusukan.
Secara sederhana flebitis didefinisikan sebagai peradangan vena, flebitis berat hampir selalu di ikuti bekuan darah atau thrombus pada vena yang sakit. (Darmawan, 2008).
2.3.2 Klasifikasi Flebitis
Flebitis dibedakan berdasarkan penyebabnya ada 4 kategori yaitu kimia, mekanik, agen infeksi dan post infus.
a. Chemical Flebitis ( flebitis kimia)
Peradangan pada tunika intima yang disebabkan oleh jenis cairan dan bahan kateter yang digunakan. Jenis larutan yang konsentrasinya atau kepekatannya tinggi seperti glucose, asam amino, dan lipid bersifat flebitogenik. Jenis larutan dikategorikan larutan isotonik, hipotonik. Larutan isotonic merupakan larutan yang osmolaritasnya antara 280-310 mOsm/L, dikatakan hipotonik apabilara larutan yang osmolaritasnya kurang dari 280-310 mOsm/L sedangkan hipertonik apabila larutan tersebut osmolaritasnya lebih dari 280-310 mOsm/L.
b. Mechanical Flebitis (flebitis mekanik)
Terjadinya peradangan pada pembuluh darah vena yang disebabkan oleh tempat atau lokasi penusukan yang salah dan peggunaan ukuran kateter yang besar pada pembuluh darah vena yang kecil menimbulkan iritasi pada vena.
c. Bakkterial Flebitis (flebitis bakteri)
Flebitis bakteri adalah peradangan vena yang berhubungan dengan adanya kolonisasi bakteri. Flebitis bakteri disebabkan oleh bakteri yaitu berasal dari teknik aseptik yang kurang dari keterampilan perawat dalam memasang infuse.
Faktor-faktor yang berperan dalam kejadian flebitis bakteri antara lain :
1. Berasal dari teknik aseptik yang kurang dari keterampilan perawat dalam memasang infus.
2. Teknik aseptik yang kurang sebelum melakukan insersi kanula. (Malach et al, 2006 dalam Higginson R, 2011).
Menurut Darmawan (2008), penyebab terjadinya flebitis yaitu : a. Faktor-faktor kimia seperti obat atau cairan yang iritan.
b. Faktor-faktor mekanis seperti bahan, ukuran kateter, lokasi, dan lama kanule
c. Faktor pasien yang dapat mempengaruhi angka flebitis mencakup usia, jenis kelamin dan kondisi dasar.
Cuci tangan merupakan hal yang penting untuk mencegah kontaminasi dari petugas kesehatan dalam tindakan pemasangan infus. Dalam kewaspadaan universal petugas kesehatan yang melakukan tindakan invasive harus memakai sarung tangan. Meskipun telah memakai sarung tangan, teknik cuci tangan yang baik harus tetap dilakukan dikarenakan adanya kemungkinan saring tangan robek, dan bakteri mudah berkembang baik dilingkungan sarung tangan yang basah dan hangat, terutama sarung tangan yang robek.
d. Post Infus Flebitis
Terjadinya peradangan pembuluh darah vena yang disebabkan karena adanya pemasangan infus. Peradangan ini muncul 48-96 jam setelah pemasangan infus.
Faktor yang berperan dengan kejadian flebitis post infus antara lain: 1. Teknik pemasangan kateter yang kurang baik.
3. Kondisi vena yang kurang baik.
4. Pemberian cairan yang hipertonik atau terlalu asam. 2.3.3 Pencegahan Flebitis
Flebitis sering terjadi pada pemberian terapi cairan dan pemberian obat melalui intravena. Pengetahuan merupakan faktor penting untuk mencegah dan mengatasi kejadian flebitis. Ada banyak hal yang harus diperhatikan untuk mencegah terjadinya flebitis antara lain :
a. Mencegah flebitis bakterial
Tindakan pencegahan pada flebitis ini adalah dengan mencuci tangan, teknik aseptik, perawatan pada daerah yang terpasang infuse serta anti sepsis kulit. Antisepsis bias menggunakan chlorhexadine 2%, yodium dan alcohol 70%
b. Waspada dan tindakan aseptik
Prinsip aseptik dalam setiap melaksanakan tindakan pemasangan infus merupakan cara untuk mencegah terjadinya flebitis. Pada tempat pengambilan sampel darah dan stopcock (persambungan kateter dengan selang infus) tempat masuknya bakteri.
c. Rotasi kateter
Mengganti tempat rotasi kateter merupakan salah satu cara mengurangi terjadinya flebitis. Apabila tidak ada kontra indikasi penggantian kanul kateter lebih dari 72 jam bila lebih dari 72-96 jam maka berisiko terjadi infeksi salah satunya adalah flebitis.
d. Aseptik dressing
Teknik ini merupakan bagian dari penggunaan balutan yang transparan sehingga mudah untuk di observasi bila terjadi pembengkakan dan kemerahan pada daerah lokasi pemasangan infus.
e. Kecepatan pemberian cairan
Tingkat resiko flebitis ini kecil apabila lambatnya cairan infus hipertonik yang masuk mengaliri pembuluh darah vena dan penggunaan ukuran kateter yang sesuai dengan ukuran vena. Semakin tingkat osmolaritasnya tinggi dan laju kecepatan cairan yang masuk resiko terjadinya iritasi pada pembuluh darah vena semakin besar maka dianjurkan dalam memberikan terapi cairan benar-benar memperhitungkan hitungan tetesan cairan yang sesuai dengan kebutuhan.
f. Titrable acidity
Titrable acidity adalah mengukur jumlah alkali untuk menetralkan Ph pada larutan infus, seperti larutan glucose 10% mengandung ph 4,0 yang tidak menyebabkan perubahan titrable aciditynya rendah 0,16 mEq/L maka makin rendah titrable acidity larutan infus makin rendah resiko terjadinya flebitis. g. Heparin dan hidrokortison
Heparin merupakan cairan yang dapat menambah lama waktu pemasangan kateter. Pemberian larutan seperti kalium clorida, lidocain dan anti microbial dapat dikurangi dengan pemberian
melalui intravena, penggunaan heparin pada larutan yang mengandung lipid dapat membentuk endapan kalsium sehingga terjadi penyumbatan pada kateter, penyumbatan kateter dalam jangka waktu yang lama menimbulkan resiko terjadinya flebitis. 2.3.4 Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Flebitis
a. Faktor Internal 1)Usia
Pertahanan terhadap infeksi dapat berubah sesuai usia, adanya hubungan usia dengan kejadian flebitis semakin tua usia pasien maka semakin tinggi kejadian flebitis disebabkan kemampuan pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme semakin rendah.
Pada usia lanjut (>60 tahun) vena menjadi rapuh, tidak elastis dan mudah hilang (kolaps) sedangkan pasien pada usia antara 49-59 tidak terjadi flebitis dikarenakan pada usia ini pasien lebih kooperatif. Pada pasien anak-anak dengan vena kecil dan banyak bergerak dapat mengakibatkan kateter bergeser hal ini yang bisa menyebabkan flebitis.
2)Status gizi
Status gizi pasien mempunyai peranan penting, pasien yang memiliki kerentanan terhadap gizi buruk daya tahan tubuhnya rendah menimbulkan vena tipis dan mudah rapuh sehingga terjadi perlukaan akan mudah terkena infeksi.
Untuk menilai keadaan gizi pasien dapat menggunakan rumus Index Massa Tubuh adalah : Berat Badan (dalam Kg) / Tinggi Badan (dalam m2). Kriteria penilaian : 1. Obesitas tipe 1 (25 s/d <30) 2. Obesitas tipe 2 (>=30) 3. Normal (18,5 s/d <23) 4. Underweight (<18,5) 5. Overweight (23 s/d <25) 3)Stress
Respon tubuh terhadap stress dapat mempengaruhi adaptasi imunitas tubuh. Kecemasan dan ketakutan akan nyeri terhadap pengobatan yang mendalam cenderung akan menghindari dari perawatan medis. Dengan menurunnya imun tubuh saat dipasang infus berisiko terjadi flebitis.
4)Keadaan vena
Vena yang sering terpasang infus dan lama pemasangan berisiko terjadadi flebitis, terutama pada vena metacarpal karena pada vena ini tipis dan kecil apabila dimasukkan kateter yang tidak sesuai dengan ukuran vena maka berisiko terjadi pecahnya pembuluh darah (flebitis).
5)Faktor penyakit
Penyakit yang diderita pasien dapat mempengaruhi terjadinya flebitis, misalnya pada pasien Diabetes Militus (DM) yang
mengalami aterosklerosis akan mengakibatkan aliran darah ke perifer berkurang sehingga jika terdapat luka mudah mengalami infeksi.
6)Jenis kelamin
Adanya hubungan jenis kelamin dengan kejadian flebitis, sebagian besar pasien yang mengalami flebitis adalah laki-laki dibandingkan perempuan. Hormone androgen pada laki-laki akan merangsang kelenjar minyak yang berlebihan sehingga dapat merangsang pertumbuhan bakteri, bakteri akan tumbuh disekitar tempat pemasangan infus dan akan menyebabkan pasien terinfeksi sehingga terjadi flebitis.
7)Kepatuhan pasien
Ketaatan dan kooperatifnya pasien dalam melaksanakan pengobatan merupakan modal utama untuk proses penyembuhan misalnya kepatuhan dalam pemasangan infus apabila pasien dalam penusukan jarum kateter kepembuluh darah vena tidak tegang akan menurunkan terjadinya pecahnya pembuluh darah vena.
b. Faktor Eksternal
1. Jenis cairan (faktor kimiawi)
Tingkat keasaman (ph) dan osmolaritas cairan infus yang pekat sering terjadi flebitis dari 19 pasien yang mendapat terapi intravena cairan isotonic yang mengalami flebitis kategori ringan sebanyak 10 orang dan pasien yang mendapat cairan hipertonik yang mengalami flebitis kategori sedang sebanyak 5 orang. Hal ini
menunjukkan bahwa cairan isotonic osmolaritasnya hampir sama dengan serum darah sehingga risiko flebitisnya kecil.
2. Lokasi pemasangan (faktor mekanis)
Lokasi pemasangan infus yang berisiko terjadi flebitis adalah di vena metacarpal karena tempat pemasanga infus yang sering digunakan adalah di vena superficial yang terletak di dalam subcutan. 19 pasien yang dipasang infus di vena metacarpal 16 pasien mengalami flebitis hal ini menunjukkan bahwa pemilihan lokasi vena merupakan hal penting dalam melakukan pemasangan infus.
3. Aseptik dressing (faktor bakterial)
Teknik aseptik dressing merupakan salah satu cara untuk terhindar dari flebitis bakterial. Tempat penusukan pemasangan infus merupakan jalan masuknya kuman sehingga kuman berpotensi masuk kedalam tubuh dengan melakukan perawatan infus 24 jam dapat memutus perkembangbiakan kuman.