C. Tujuan Penelitian
C. 7 Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif
1. Konsep Dasar 7 Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif
Konsep 7 Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif pertama kali diperkenalkan oleh Stephen R. Covey pada tahun 1989 (Tjia, 2006). Lebih lanjut, Tjia (2006) mengungkapkan bahwa 7 Kebiasaan merupakan konsep yang terintegrasi, menyeluruh (holistic), dan pendekatan yang berpusat pada prinsip dalam menyelesaikan masalah-masalah personal dan profesional.
Covey (1995) menjelaskan bahwa sebenarnya konsep 7 Kebiasaan ini merupakan akal sehat yang disusun secara padu (common sense organized)
dan sudah dikenal luas dalam masyarakat. Akan tetapi, apa yang sudah dikenal dan menjadi common sense belum tentu kerap dipraktekkan
(common practice). Lebih lanjut, Covey (1997) menyoroti bahwa setelah Perang Dunia I, perkembangan literatur tentang konsep “keberhasilan” lebih berfokus pada Etika Kepribadian (Personality Ethics) yang ternyata dangkal. Pendekatan tersebut bersifat manipulatif, seringkali menipu, dan mendorong seseorang menggunakan teknik tertentu untuk membuat
seseorang tertarik atau berpura-pura tertarik terhadap individu tersebut. Teknik bagaimana mempengaruhi seseorang secara cepat, penjelasan bahwa senyum bisa mendongkrak posisi seseorang menjadi fokus utama. Akan tetapi, bagaimana ketulusan dalam pemberian tersenyum tidak menjadi fokus dasar. Etika Kepribadian memang esensial untuk mencapai keberhasilan, tetapi itu merupakan hal yang sekunder, bukan yang primer
Covey (1997) menjelaskan bahwa Konsep 7 Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif ini mencakup banyak prinsip dasar dari efektivitas manusia yang sifatnya mendasar dan merupakan hal yang primer. 7 Kebiasaan terdiri dari langkah-langkah yang menuntun tercapainya kehidupan yang penuh kejujuran, integritas, dan tercapainya prinsip-prinsip martabat manusia sehingga dapat mengantisipasi perubahan yang terjadi. Selain itu, juga dapat memberi kekuatan dan kebijaksanaan dalam menyikapi perubahan-perubahan tersebut sehingga bisa menyesuaikan diri, dan memungkinkan individu untuk tetap bisa melihat peluang-peluang yang terjadi dalam perubahan tersebut (Tjia, 2006).
Secara spesifik, Covey (2001) mengungkapkan bahwa menjalani 7 Kebiasaan bisa membantu seseorang untuk dapat mengendalikan hidupnya, menemukan nilai-nilai yang dianut dan mengetahui apa yang penting bagi dirinya, merasa bahagia, meningkatkan kepercayaan diri, memiliki manajemen waktu yang efektif, terciptanya hubungan yang harmonis dengan orang lain (keluarga, teman, dan rekanan), serta memiliki keseimbangan dalam hidupnya.
Dalam Modul Pelatihan Pengembangan Kepribadian Mahasiswa (2007), kebiasaan didefinisikan sebagai hal atau perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang, tanpa kita sadari. Sejumlah kebiasaan bisa disebut positif atau baik (misalnya: berolah-raga secara teratur), sejumlah kebiasaan lain bisa disebut negatif atau buruk (misalnya: menyalahkan orang lain), dan ada sejumlah kebiasaan bisa disebut netral (contohnya: mandi malam dengan air hangat). Lebih lanjut, dalam Modul PPKM (2007) tersebut juga dijelaskan bahwa kebiasaan yang dimiliki seseorang dapat menuntunnya menjadi lebih baik, tapi bisa juga menghambat pertumbuhan dan perkembangannya.
Setiap individu adalah produk dari kebiasaannya masing-masing. Covey (1997) menjelaskan bahwa kebiasaan merupakan pertemuan dari pengetahuan, keterampilan, dan keinginan. Pengetahuan merupakan paradigma teoritis yang dimiliki seseorang, apa yang harus dilakukannya, mengapa harus dilakukan. Ketrampilan berkaitan dengan bagaimana kita melakukannya. Sedangkan keinginan merupakan motivasi, keinginan untuk melakukan.
Untuk menjadi sebuah kebiasaan, ketiga dimensi tersebut harus terpenuhi. Sebagai contoh, kebiasaan mandi. Individu mengetahui bahwa dengan mandi maka tubuhnya menjadi lebih bersih (dimensi pengetahuan), semua individu membasahi dirinya dengan air ketika mandi (dimensi keterampilan), dan kegiatan mandi tersebut akan terlaksana jika individu tersebut memiliki keinginan untuk mandi (dimensi keinginan). Salah satu
saja dimensi tersebut tidak terpenuhi, maka tidak akan ada sebuah kegiatan, dan tidak akan pernah menjadi sebuah kebiasaan. Jika digambarkan, maka pertemuan antara pengetahuan, keterampilan, dan keinginan sehingga membentuk kebiasaan adalah sbb.:
Gambar 2.2. Pertemuan Pengetahuan-Keterampilan-Keinginan
Adapun ketujuh kebiasaan menurut Covey (1997) yang dapat membuat seseorang / individu menjadi pribadi yang efektif adalah:
a. Kebiasaan 1: Jadilah Proaktif
b. Kebiasaan 2: Mulai Dengan Akhir Dalam Pikiran c. Kebiasaan 3: Dahulukan Yang Utama
d. Kebiasaan 4: Berpikir Menang-Menang
e. Kebiasaan 5: Berusaha Mengerti Terlebih Dahulu, Baru Dimengerti f. Kebiasaan 6: Wujudkan Sinergi, dan
g. Kebiasaan 7: Mengasah Gergaji
Fokus yang ingin dituju oleh Konsep 7 Kebiasaan tersebut adalah pribadi yang sangat efektif. Covey (1995) menjelaskan bahwa pribadi
yang sangat efektif merupakan individu yang mampu mendapatkan yang diinginkan dan dengan cara yang memungkinkan individu tersebut mendapatkannya berulang-ulang. Lebih lanjut, Covey (1995) mengistilahkannya menjadi keseimbangan antara produksi dan kemampuan produksi (keseimbangan P / KP).
Covey (1995) menggunakan analogi dongeng “Petani dan Angsa Bertelur Emas”. Di dongeng tersebut diceritakan bahwa ada seorang petani yang memiliki seekor angsa. Ternyata angsa tersebut mampu menghasilkan telur emas. Kejadian itu terus berlanjut. Sampai pada akhirnya, sang petani menjadi tidak sabar untuk mendapatkan telur emas sesegera mungkin dengan cara memotong angsanya. Akan tetapi, sang petani tidak mendapatkan apa-apa. Berdasarkan dongeng tersebut, produksi / hasil yang kita harapkan adalah telur emas tersebut, sedangkan angsanya adalah kemampuan untuk produksi atau dengan kata lain kemampuan kita untuk secara terus menerus memberikan hasil yang diinginkan.
Kemampuan produksi tersebut merupakan aspek fisik dan mental, spiritual. Dalam konteks industri, aspek fisik diantaranya mesin-mesin di pabrik, kendaraan milik kantor, dll. Sedangkan dalam konteks pribadi, aspek fisik adalah keadaan tubuh / kesehatan kita. Aspek mental berkaitan dengan pikiran individu. Pikiran di sini mengacu pada konteks kognitif seseorang, bagaimana pengetahuan seseorang terhadap info-info baru, apa saja yang telah dipelajarinya, dsb. Aspek mental juga berkaitan dengan
keadaan jiwa seseorang. Seseorang yang mempunyai tujuan hidup / cita-cita (produksi) tapi tidak mampu menjaga kemampuan produksinya, seperti tidak pernah belajar hal-hal baru, tidak pernah menjaga kesehatan tubuhnya, tidak pernah menjaga relasinya dengan rekan-rekan ataupun keluarganya, maka di tidak akan mampu mencapai efektivitas karena dia tidak mampu memelihara aset (kemampuan produksi) yang dimilikinya.
Untuk mencapai efektivitas dengan menerapkan 7 Kebiasaan, individu perlu mengetahui paradigmanya dan mengetahui perlunya sebuah perubahan paradigma. Covey (1997) menjelaskan bahwa paradigma berkaitan dengan persepsi, pengertian, dan penafsiran seseorang tentang keadaan di sekitarnya. Seringkali orang menganggap bahwa cara pandangnya (paradigmanya) sudah sesuai dengan segala sesuatu sebagaimana adanya, atau realitas yang ada. Akan tetapi, sebenarnya seseorang memiliki paradigma sebagaimana pribadinya sendiri. Seseorang cenderung memiliki pendapat persepsinya berdasarkan dirinya sendiri, berdasarkan pengalamannya sendiri. Jika ada orang lain yang tidak setuju dengan pendapat kita, maka kita cenderung berpikir bahwa orang lain itu yang salah.
Paradigma merupakan sumber dari sikap dan perilaku seseorang, terlepas dari benar atau salahnya paradigma tersebut. Paradigma yang kemudian memengaruhi sikap dan perilaku seseorang tersebut kemudian juga memengaruhi hubungan dengan orang lain. Covey (1997) menjelaskan bahwa untuk mengatasi adanya perbedaan sikap dan perilaku
kita dengan orang lain, maka perlu adannya sebuah perubahan paradigma. Lebih lanjut, Covey (1997) juga menjelaskan bahwa banyak orang mengalami perubahan paradigma justru ketika orang / individu tersebut menghadapi krisis yang mengancam jiwa dan tiba-tiba melihat prioritasnya dengan cara yang berbeda, atau ketika tiba-tiba melangkah dalam sebuah peran yang baru, seperti menjadi ayah, menjadi kakek / nenek, dsb.
Untuk membuat sebuah perubahan paradigma membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup banyak. Akan tetapi, untuk membuat perubahan kuantum (perubahan yang mendadak dan berjangka panjang), maka yang perlu diubah adalah paradigma kita (Covey, 1997).
Paradigma yang harus dimiliki oleh seseorang seharusnya adalah paradigma yang berpusat pada prinsip. Covey (1997) menggunakan analogi kapal perang dan mercu suar untuk menjelaskan paradigma yang berpusat pada prinsip. Ada kapal perang yang membawa peralatan perang komplit sedang berlayar. Suatu hari badai menyerang kapal yang sedang berlayar tersebut. Kapten kapal dikabari oleh salah seorang awaknya bahwa ada sesuatu di depan kapal dan kalau tidak ada yang berbelok maka mereka akan bertabrakan. Kapten lalu memerintahkan awak untuk mengirimkan kode yang meminta benda di depan kapal itu untuk berbelok karena mereka adalah kapal perang yang membawa peralatan tempur yang lengkap. Lalu datang kode balasan yang menyatakan bahwa kapal perang
tersebut yang harus berbelok karena yang ada di depannya adalah mercu suar.
Covey (1997) menjelaskan bahwa prinsip itu seperti layaknya mercu suar. Prinsip merupakan hukum alam yang tidak dapat dilanggar. Hukum alam tetap tidak akan pernah bisa diubah, terlepas dari kita menyetujuinya atau tidak. Prinsip merupakan pedoman berperilaku yang terbukti mempunyai nilai langgeng, permanen, dan bersifat mendasar. Covey (1997) lebih lanjut menjelaskan, semakin sejajar paradigma seseorang dengan prinsip yang ada, maka seseorang akan memandang sesuatu secara lebih objektif, hingga kemudian akan memberi dampak pada sikap dan perilaku seseorang, dan kemudian pada akhirnya juga akan mempengaruhi efektivitas yang dicapai.