BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Konsep Dasar Kecerdasan Emosi
dan tingkat kecemasan sosial mereka tinggi.
4) Secara fisik, korban adalah orang yang lemah, korban laki-laki lebih sering mendapat perlakuan secara langsung (bullying fisik) dan korban perempuan lebih sering mendapat perlakuan secara tidak langsung misalnya melalui kata-kata ataubullyingverbal.
5) Secara perorangan, walaupun korban sangat menginginkan penerimaan secara sosial, mereka jarang sekali untuk memulai kegiatan-kegiatan yang menjurus ke arah sosial. Korban bullying kurang diperhatikan oleh pembina, karena korban tidak bersikap aktif dalam kegiatan.
2.3 Konsep Dasar Kecerdasan Emosi 2.3.1 Pengertian
Mayer dan Salovey menyebutkan kecerdasan emosi merupakan kecerdasan iterpersonal dan intrapersonal. Kecerdasan emosi dapat menempatkan emosi individu pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana hati (Goleman, 2009). Koordinasi suasana hati adalah inti dari hubungan sosial yang baik. Kecerdasan emosi merupakan suatu kecerdasan sosial yang berkaitan dengan kemampuan individu dalam menilai emosi dirinya sendiri maupun emosi orang lain dimana kemampuan ini digunakan untuk mengarahkan pola pikir dan perilakunya (Mubayidh, 2006).
Menurut Goleman (2009) kecerdasan emosi merupakan suatu kemampuan dalam diri yang mengarah pada upaya untuk mengenali, memahami dan mewujudkan emosi dalam porsi yang tepat dan upaya untuk mengelola emosi agar
23
terkendali dan dapat memanfaatkan untuk memecahkan masalah kehidupan terutama terkait dengan hubungan antar manusia. Hal tersebut meliputi kemampuan untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain dan membina hubungan dengan orang lain (Goleman, 2009)..
2.3.2 Aspek Kecerdasan Emosi
Dimensi kecerdasan emosi menurut Mayer dan Salovey dikenal dengan sebutan four branch model of emotional intelligence. Berikut penjelasan keempat cabang tersebut (Goleman, 2009):
a. Persepsi Emosi (Emotional Perception)
Persepsi emosi yaitu kemampuan individu untuk mengidentifikasi emosi secara akurat. Pada tahap ini individu belajar untuk mengidentifikasi serta membedakan emosi yang dirasakan oleh dirinya sendiri dan orang lain. b. Integrasi Emosi (Emotional Integration)
Integrasi emosi menitikberatkan peran emosi dalam menghadapi masalah yang berkenaan dengan sistem kognisi. Kontribusi emosi dalam melakukan aktivitas kognisi adalah dengan menempatkan emosi pada suatu hal sehingga dapat lebih mudah untuk dipahami.
c. Pemahaman Emosi (Emotional Understanding)
Pemahaman emosi menitikberatkan pada kemampuan individu untuk memahami emosi yang dirasakan serta bagaimana penerapannya di dalam kehidupan. Kemampuan yang paling mendasar dari cabang ini adalah individu mampu untuk memberi nama pada emosi yang sedang ia rasakan
24
serta menyadari persamaan serta perbedaan yang mendasari terjadinya emosi tersebut. Pemikiran atau pertimbangan mengenai urutan emosi atau perasaan yang akan ditampilkan dalam hubungan interpersonal merupakan inti dari kecerdasan emosi.
d. Pengaturan Emosi (Emotional Management)
Pengaturan emosi yang menitikberatkan pada kemampuan individu dalam meregulasi emosi yang dirasakan. Individu diharapkan terbuka dan memiliki toleransi pada reaksi emosi yang timbul, baik reaksi emosi yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Pengaturan emosi individu dikatakan optimal bila mampu untuk mengatur dan memahami emosi yang dirasakan tanpa membesar-besarkan atau meminimalisir emosi yang dirasakan.
Goleman (2009) membagi dimensi kecerdasan emosi sebagai berikut: a. Mengenali emosi diri, yaitu kemampuan individu yang berfungsi untuk
memantau perasaan dari waktu ke waktu, mencermati perasaan yang muncul. Ketidakmampuan untuk mencermati perasaan yang sesungguhnya menandakan bahwa orang berada dalam kekuasaan emosi. Kemampuan mengenali diri sendiri meliputi kesadaran diri.
b. Mengelola emosi, yaitu kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepas kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan akibat- akibat yang timbul karena kegagalan ketrampilan emosi dasar. Orang yang buruk kemampuan dalam ketrampilan ini akan terus menerus bernaung melawan perasaan murung, sementara mereka yang pintar akan dapat bangkit kembali jauh lebih
25
cepat. Kemampuan mengelola emosi meliputi kemampuan penguasaan diri dan kemampuan menenangkan kembali.
c. Memotivasi diri sendiri, yaitu kemampuan untuk mengatur emosi merupakan alat untuk mencapai tujuan dan sangat penting untuk memotivasi dan menguasai diri. Orang yang memiliki keterampilan ini cenderung jauh lebih produktif dan efektif dalam upaya apapun yang dikerjakannya. Kemampuan ini didasari oleh kemampuan mengendalikan emosi, yaitu menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati. Kemampuan ini meliputi: pengendalian dorongan hati, kekuatan berfikir positif dan optimis. d. Mengenali emosi orang lain, kemampuan ini disebut empati, yaitu
kemampuan yang bergantung pada kesadaran diri emosi, kemampuan ini merupakan ketrampilan dasar dalam bersosial. Orang empatik lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial tersembunyi yang mengisyaratkan apa yang dibutuhkan orang atau dikehendaki orang lain.
e. Membina hubungan. Seni membina hubungan sosial merupakan keterampilan mengelola emosi orang lain, meliputi ketrampilan sosial yang menunjang popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan hubungan antarpribadi.
Menurut Tridhonanto (2009) dimensi kecerdasan emosi adalah sebagai berikut :
a. Kecakapan pribadi, yakni kemampuan mengelola diri sendiri. b. Kecakapan sosial, yakni kemampuan menangani suatu hubungan.
c. Keterampilan sosial, yakni kemampuan menggugah tanggapan yang dikehendaki orang lain.
26
2.3.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosi
Kecerdasan emosi tidak ditentukan sejak lahir tetapi dapat dilakukan melalui proses pembelajaran. Goleman (2009) menjabarkan beberapa faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosi yaitu:
a. Lingkungan keluarga
Keluarga kerupakan sekolah pertama dalam mempelajari emosi. Peran serta orang tua sangat dibutuhkan karena orang tua adalah subyek pertama yang perilakunya diidentifikasi, diinternalisasi yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari kepribadian anak. Kecerdasan emosi ini dapat diajarkan pada saat anak masih bayi dengan contoh-contoh ekspresi. Kehidupan emosi yang dipupuk dalam keluarga sangat berguna bagi anak kelak di kemudian hari, sebagai contoh: melatih kebiasaan hidup disiplin dan bertanggung jawab, kemampuan berempati, kepedulian, dan sebagainya. Hal ini akan menjadikan anak menjadi lebih mudah untuk menangani dan menenangkan diri dalam menghadapi permasalahan, sehingga anak-anak dapat berkonsentrasi dengan baik dan tidak memiliki banyak masalah tingkah laku seperti tingkah laku kasar dan negatif.
b. Lingkungan nonkeluarga.
Dalam hal ini adalah lingkungan di luar keluarga seperti sekolah dan masyarakat. Kecerdasan emosi ini berkembang sejalan dengan perkembangan fisik dan mental anak. Pembelajaran ini biasanya ditunjukkan dalam aktivitas bermain anak seperti bermain peran. Anak berperan sebagai individu di luar dirinya dengan emosi yang menyertainya sehingga anak akan mulai belajar
27
mengerti keadaan orang lain. Pengembangan kecerdasan emosi dapat ditingkatkan melalui berbagai macam bentuk pelatihan diantaranya adalah pelatihan asertivitas, empati, toleransi dan kepedulian terhadap sesama.
Menurut Le Dove (2005) menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi atau menentukan terhadap kecerdasan emosi seseorang adalah anatomi sarafnya. Bagian saraf yang menentukan kecerdasan emosi seseorang dijabarkan sebagai berikut (Goleman, 2009):
a. Konteks berperan penting dalam memahami sesuatu secara mendalam, menganalisis mengapa mengalami perasaan tertentu dan selanjutnya berbuat sesuatu untuk mengatasinya. Konteks khusus lobus prefrontal, dapat bertindak sebagai saklar peredam yang memberi arti terhadap situasi emosi sebelum berbuat sesuatu.
b. Sistem limbik, bagian bertanggung jawab atas pengaturan emosi dan implus. Sistem limbic meliputi hippocampus, tempat berlangsungnya proses pembelajaran emosi dan tempat disimpannya emosi. Selain itu ada amygdala yang berperan sebagai pusat pengendalian emosi pada otak.
2.4 Hubungan Tingkat Kecerdasan Emosi Dengan Kecenderungan