• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Konsep Dasar Perilaku Bullying

Elliot (2005) mendefinisikan bullying sebagai tindakan yang dilakukan seseorang secara sengaja membuat orang lain takut atau terancam. Krahe (2005) mendefinisikan bullying adalah perilaku negatif seseorang atau lebih kepada korban bullying yang dilakukan secara berulang-ulang dan terjadi dari waktu ke waktu. Selain itu bullying juga melibatkan kekuatan dan kekuasaan yang tidak seimbang, sehingga korbannya berada dalam keadaan tidak mampu mempertahankan diri secara efektif untuk melawan tindakan negatif yang diterima (Coloroso, 2007).

Bullying adalah perilaku agresif yang dilakukan secara sengaja secara berulang-ulang untuk menyerang seorang target atau korban yang lemah, mudah dihina dan tidak bisa membela diri sendiri (Sejiwa, 2006). Bullying juga didefinisikan sebagai kekerasan fisik dan psikologis jangka panjang yang

16

dilakukan seseorang atau kelompok, terhadap seseorang yang tidak mampu mempertahankan dirinya dalam situasi dimana ada hasrat untuk melukai atau menakuti orang itu atau membuat dia tertekan (Wicaksana, 2008).

Menurut Black dan Jackson (2007) bullying merupakan perilaku agresif tipe proaktif yang di dalamnya terdapat aspek kesengajaan untuk mendominasi, menyakiti, atau menyingkirkan, adanya ketidakseimbangan kekuatan baik secara fisik, usia, kemampuan kognitif, keterampilan, maupun status sosial, serta dilakukan secara berulang-ulang oleh satu atau beberapa anak terhadap anak lain (Astuti, 2008).

Bullyingtermasuk tindakan yang disengaja oleh pelaku pada korbannya, yang dimaksudkan untuk menggangu seorang yang lebih lemah. Faktor individu dimana kurangnya pengendalian diri menjadi salah satu penyebab timbulnya perilakubullying(Wiyani, 2012).

2.2.2 Faktor Pendukung Terjadinya PerilakuBullying

Menurut Coloroso (2007), faktor terjadinya perilakubullyingantara lain: a. Lingkungan keluarga, pelaku bullying seringkali berasal dari keluarga yang

bermasalah. Orang tua yang sering menghukum anaknya secara berlebihan, atau situasi rumah yang penuh tekanan, agresi, dan permusuhan. Anak akan mempelajari perilaku bullying ketika mengamati konflik-konflik yang terjadi pada orang tua mereka, dan kemudian meniru dan melakukan terhadap teman-temannya. Jika tidak ada konsekuensi yang tegas dari lingkungan terhadap perilaku coba-coba tersebut, anak akan belajar bahwa mereka yang memiliki kekuatan diperbolehkan untuk berperilaku agresif, dan perilaku

17

agresif dapat meningkatkan status dan kekuasaan seseorang sehingga anak mengembangkan perilakubullying.

b. Lingkungan sekolah, karena pihak sekolah sering mengabaikan keberadaan perilaku bullying, anak-anak sebagai pelaku akan mendapatkan penguatan terhadap perilaku mereka untuk melakukan intimidasi terhadap anak lain. Bullying berkembang dengan pesat dalam lingkungan sekolah misalnya pada hukuman yang tidak membangun sehingga tidak mengembangkan rasa menghargai dan menghormati sesama anggota sekolah.

c. Kelompok sebaya, anak-anak ketika berinteraksi dalam sekolah dan dengan teman di sekitar rumah, kadang kala terdorong untuk melakukan bullying. Beberapa anak melakukan bullying dalam usaha untuk membuktikan bahwa mereka bisa masuk dalam kelompok tertentu, meskipun mereka sendiri merasa tidak nyaman dengan perilaku tersebut.

Center for Disease Control and Prevention(2013) membagi faktor risiko terkait perilakubullyingsebagai berikut:

a. Fator yang berkaitan dengan pelaku 1) Impulsif (kontrol diri yang rendah) 2) Pola asuh yang keras

3) agresif

b. Faktor yang berkaitan dengan korban 1) Kesulitan untuk berteman

2) Self-esteemyang rendah 3) Pendiam dan kurang asertif

18

2.2.3 Jenis PerilakuBullying

Menurut Bauman (2008) menjabarkan beberapa jenis perilaku bullying adalah sebagai berikut :

a. Overt bullying, meliputi bullying secara fisik dan secara verbal, misalnya dengan mendorong hingga jatuh, memukul, mendorong dengan kasar, memberi julukan nama, mengancam dan mengejek dengan tujuan untuk menyakiti.

b. Indirect bullying meliputi agresi relasional, dimana bahaya yang ditimbulkan oleh pelaku bullying dengan cara menghancurkan hubungan-hubungan yang dimiliki oleh korban, termasuk upaya pengucilan, menyebarkan gosip, dan meminta pujian atau suatu tindakan tertentu dari kompensasi persahabatan. Bullyingdengan cara tidak langsung sering dianggap tidak terlalu berbahaya jika dibandingkan dengan bullying secara fisik, dimaknai sebagai cara bergurau antarteman saja. Padahal relational bullying lebih kuat terkait dengan distress emosi daripada bullyingsecara fisik. Bullying secara fisik akan semakin berkurang ketika siswa menjadi lebih dewasa tetapi bullying yang sifatnya merusak hubungan akan terus terjadi hingga usia dewasa. c. Cyberbullying, seiring dengan perkembangan di bidang teknologi, siswa

memiliki media baru untuk melakukan bullying, yaitu melalui sms, telepon maupun internet. Cyberbullying melibatkan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, seperti e-mail, telepon seluler dan peger, short messages, dan website pribadi untuk merusak reputasi orang lain dan ditujukan untuk menyakiti secara berulang kali.

19

Menurut Yayasan Sejiwa (2006), perilaku bullying di lingkungan sekolah terbagi menjadi tiga yakni :

a. Bullyingfisik

Perilaku bullying yang melibatkan sentuhan fisik antara pelaku dan korbannya. Contoh bullying fisik antara lain: memukul, menarik baju, menjambak, menendang, menyenggol dengan bahu, menampar, menginjak kaki, meludahi, memalak, melempar dengan barang, menghukum dengan berlari lapangan, dan menghukum dengan carapush up.

b. Bullyingverbal

Perilaku bullying secara verbal atau menggunakan kata-kata. Contoh bullying verbal antara lain: membentak, meledek, mencela, memaki-maki, menghina, menjuluki, meneriaki, mempermalukan didepan umum, dan memfitnah.

c. Bullyingmental atau psikologis

Jenis bullying yang paling berbahaya karena perilaku bullying ini terjadi secara tersembunyi dan di luar jangkauan pemantauan, contohnya: memandang sinis, mendiamkan, meneror melalui pesan singkat, telepon, sosial media atauemail, meremehkan, mengancam dan mengucilkan.

2.2.4. KarakteristikBullying

Menurut Ribgy (2007) perilaku bullying mempunyai tiga karakteristik terintegrasi, yaitu:

a. Adanya perilaku agresi yang menyenangkan pelaku untuk menyakiti korban. Bullying adalah sebuah hasrat untuk menyakiti. Hasrat ini

20

diperlihatkan ke dalam aksi, menyebabkan seseorang menderita. Aksi ini dilakukan secara langsung oleh seseorang atau kelompok yang lebih kuat, tidak bertanggung jawab, biasanya berulang, dan dilakukan dengan perasaan senang.

b. Tindakan dilakukan secara tidak seimbang sehingga korban merasa tertekan. Bullying juga melibatkan kekuatan dan kekuasaan yang tidak seimbang, sehingga korbannya berada dalam keadaan tidak mampu mempertahankan diri secara efektif untuk melawan tindakan negatif yang diterima korban.

c. Perilaku ini dilakukan secara terus menerus dan juga berulang-ulang.Bullying merupakan perilaku agresif tipe proaktif yang di dalamnya terdapat aspek kesengajaan untuk mendominasi, menyakiti, atau menyingkirkan, adanya ketidakseimbangan kekuatan baik secara fisik, usia, kemampuan kognitif, keterampilan, maupun status sosial, serta dilakukan secara berulang-ulang oleh satu atau beberapa anak terhadap anak lain.

2.2.5 Karakteristik Pelaku dan Korban a. Karakteristik Pelaku

karakteristik mental pelaku bullying dipengaruhi oleh aspek kognitif, afektif dan behavioral dalam diri si pelaku sendiri. Karakteristik pelaku bullying tersebut dijabarkan sebagai berikut (Rigby, 2008):

1) Aspek kognitif, kurang pemahaman akan apa yang dikatakan orang lain, sering memunculkan dugaan yang salah, memiliki memori yang selektif, paranoid, kurang dalam hal insight, sangat pencuriga, terlihat cerdas

21

namun penampilan sebenarnya tidak demikian, tidak kreatif, kesal terhadap perbedaan minor, impulsif, dan tidak dapat belajar dari pengalaman.

2) Aspek afektif, tidak matang secara emosi, agresif, tidak mampu menjalin hubungan akrab, kurang kepedulian terhadap orang lain, moody dan tidak konsisten, mudah marah dan impulsif, dan tidak memiliki rasa bersalah atau menyesal.

3) Aspek behavioral, memiliki prilaku yang suka melanggar aturan, sering terlibat perkelahian, mencontek saat ulangan dan sering membolos.

Astuti (2008) membagi karakteristik pelakubullyingsebagai berikut: 1) Hidup berkelompok dan menguasai kehidupan sosial siswa di sekolah. 2) Menempatkan diri di tempat tertentu di sekolah atau sekitarnya. 3) Merupakan tokoh populer di sekolah.

4) Gerak-geriknya seringkali dapat ditandai: sering berjalan di depan, sengaja menabrak, berkata kasar, menyepelekan atau melecehkan. a. Karakteristik Korban

Karakteristik korban menurut Susanto (2010) antara lain:

1) Secara akademis, korban terlihat lebih tidak cerdas dari orang yang tidak menjadi korban atau sebaliknya.

2) Secara sosial, korban terlihat lebih memiliki hubungan yang erat dengan orang tua mereka dan kurang asertif dalam berkomunikasi.

3) Secara mental atau perasaan, korban melihat diri mereka sendiri sebagai orang yang bodoh dan tidak berharga. Kepercayaan diri mereka rendah,

Dokumen terkait