• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

C. Konsep Dasar Kepemimpinan

Kepemimpinan berasal dari kata leadership, kepemimpinan merupakan suatu ilmu yang mengkaji atau membahas secara menyeluruh (komprehensif) tentang bagaimana mengarahkan, mempengaruhi, dan mengawasi orang lain untuk mengerjakan tugas sesuai dengan perintah yang direncanakan. Ilmu kepemimpinan telah semakin berkembang seirig dengan dinamika perkembangan hidup manusia.

Para ahli mengemukakan pengertian kepemimpinan yaitu:

a. Stephen P. Robbins mengatakan, kepemimpinan ialah kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok kearah tercapainya tujuan.

b. Richard L. Daft menyatakan, kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi orang yang mengarah kepada pencapaian tujuan.

c. G.R. Terry mendefenisikan leadership is the activity influencing people to strive willingly for mutual objectives (Fahmi, 2013: 120)

d. Howard H. Hoyt kepemimpinan ialah seni atau keterampilan memengaruhi tingkah laku manusia dan kemampuan untuk membimbing orang-orang (Suprayogo, 2010: 14)

e. Gerry Yukl menyatakan bahwa kepemimpinan sebagai sebuah proses mempengaruhi dalam suatu kelompok untuk mencapai tujuan orang secara bersama (Muhaimin, 2010: 1)

Kepemimpinan merupakan motor atau daya penggerak dari pada semua sumber-sumber, plat yang tersedia bagi suatu organisasi (Muhyi, 2011: 136). Kepemimpinan adalah proses perilaku untuk memenangkan hati, pikiran, emosi dan perilaku orang lain untuk berkontribusi terhadap terwujudnya visi. Tetapi, pada umumnya defenisi tentang kepemimpinan akan selalu dikaitkan dengan perilaku mempengaruhi orang lain.

Kepemimpinan juga suatu proses interaksi sosial untuk memengaruhi orang-orang dalam suatu organisasi (Karim, 2010: 14).

Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Selain itu juga mempengaruhi interprestasi mengenai peristiwa-peristiwa para pengikutnya, pengorganisasian dan aktivitas-aktivitas untuk mencapai sasaran, memelihara hubungan kerja sama dan kerja kelompok, perolehan dukungan dan kerja sama dari orang-orang diluar kelompok atau organisasi (Muhaimin, 2010: 2)

Kepemimpinan berarti kemampuan dan kesiapan yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat mempengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun, menggerakan, mengarahkan, dan kalau perlu memaksa orang atau kelompok agar menerima pengaruh tersebut dan selanjutnya berbuat sesuatu yang dapat membantu tercapainya suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan (Tim Dosen, 2014: 125).

2. Tujuan dan Fungsi Kepemimpinan

Tujuan kepemimpinan merupakan kerangka ideal atau filosofis yang dapat memberikan pedoman pada setiap kegiatan sekaligus menjadi patokan yang harus dicapai. Agar setiap kegiatan yang dilaksanakan dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien (Muhyi, 2011:12).

Beberapa pendapat para ahli tentang fungsi kepemimpinan antara lain sebagai berikut:

a. Bernard, menyatakan fungsi kepemimpinan adalah menentukan sasaran atau tujuan, memanipulasi cara, perubahan tindakan dan merangsang usaha-usaha yang terkoordinasi.

b. Gross mengajukan beberapa fungsi kepemimpinan yaitu: menentukan tujuan, menjelaskan, melaksanakan, memilih cara yang tepat, memberikan dan mengkoordinasi tugas, memotivasi, menciptakan kesetian, mewakili kelompok dan merangsang para anggota untuk bekerja.

c. Stogdill, memilihara struktur kelompok dan mengarahkan tujuan, serta untuk menengahi pertentangan tuntutan yang timbul baik didalam maupun diluar kelompok.

d. Cattel, memilihara kelompok, menjunjung tinggi kepuasaan peranan dan status, menjaga dan mempertahankan tuntutan (norma etis), memilih dan menjelaskan tujuan.

e. Schuetz, menetapkan dan memantapkan tingkatan tujuan dan nilai-nilai kelompok, menetapkan dan mengintegritaskan bermacam-macam corak pikiran (kognisi) yang ada didalam kelompok, mengoptimalkan penggunaan atau pemanfaatn kemapuan anggota kelompok dan membantu para anggota memecahkan masalah yang berhubungn dengan penyesuain diri dengan kebutuhan interpersonal (Muhyi, 2011:129-130).

Kepemimpinan memiliki sejumlah fungsi. Fungsi kepemimpinan menurut Veithzal Rivai (2004) dalam buku Donni (2014: 189) adalah:

a. Menciptakan visi dan rasa komunitas

b. Membantu mengembangkan komitmen dari pada sekedar memenuhinya c. Menginspirasi kepercayaan, mengitegrasikan pandangan yang berlainan d. Mendukung pembicaraan yang cakap melalui dialog

e. Membantu menggunakan pengaruh mereka f. Memfasilitasi

g. Memberi semangat pada yang lain h. Menopang tim

i. bertindak sebagai model

Fungsi kepemimpinan memiliki dua dimensi, yaitu:

a. Tingkat kemampuan mengarahkan dalam tindakan atau aktivitas pemimpin, yang terlihat pada tanggapan orang-orang yang dipimpin

b. Tingkat dukungan atau keterlibatan orang-orang yang dipimpin dalam melaksanakan tugas-tugas pokok kelompok atau organisasi, yang dijabarkan dan dimanipestasikan melalui keputusan-keputusan dan kebijakan pemimpin (Basri, 2015: 34)

3. Unsur-unsur dan Peran dalam Kepemimpinan

Kepemimpinan mengandung beberapa unsur pokok antara lain sebagai berikut:

a. Kepemimpinan melibatkan orang lain dan adanya situasi kelompok atau organisasi tempat pemimpin dan anggotanya berinteraksi.

b. Dalam kepemimpinan terjadi pembagian kekuasaan dan proses memengaruhi bawahan oleh pemimpin,

c. Adanya tujuan bersama yang harus dicapai (Basri, 2015:13)

Adapun unsur kepemimpinan yang efektif dalam melaksanakan organisasi yaitu:

a. Kepemimpinan merupakan kepribadian (personality) seseorang yang mendatangkan keinginan pada kelompok orang untuk mencontoh atau mengikutinya, atau memancarkan pengaruh dan kekuatan atau wibawa sedemikian rupa sehingga membuat sekelompok orang bersedia melakukan semua rencananya.

b. Kepemimpinan merupakan penyebab dari berbagai kegiatan, proses atau kesediaan untuk mengubah pandangan atau sikap (mental/fisik) dari kelompok orang, baik dalam hubungan organisasi formal maupun informal.

c. Kepemimpinan adalah kesanggupan (ability) atau teknik untuk membuat sekelompok bawahan dalam organisasi formal mengikuti atau menaati perintah, dan memiliki antusiasme dan bersemangat mengikutinya, serta bersedia berkorban untuknya.

d. Kepemimpinan merupakan bentuk persuasi dan pembinaan kelompok orang tertentu, melalui humans relations dan motivasi sehingga bawahan bersedia bekerja sama untuk memahami dan mencapai tujuan organisasi.

e. Kepemimpinan merupakan sarana, instrumen, atau alat, untuk membuat sekelompok oramg bersedia bekrja sama dan berdaya upaya menaati segala peraturan untuk mencapai yang telah ditentukan.

f. Kepemimpinan merupakan dinamika organisasi yang membuat orang-orang bergerak melaksanakan tugasnya demi mencapai tujuan organisasi.

g. Kepemimpinan adalah sekumpulan kemampuan dan sifat kepribadian sebagai sarana untuk meyakinkan orang-orang yang dipimpinnya agar melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya dengan penuh semangat, kedasaran, kebesaran jiwa, dan tidak merasa terpaksa.

h. Berorientasi pada pelayanan, yaitu melayani berdasarkan karier dengan berprinsip pelayanan yang baik, adil, profesional dan proporsional.

i. Memberikan energi positif bagi organisasi yang dikelolanya untuk mendukung kesuksesan.

j. Mengembangkan sikap demokratis sehingga memberikan peluang kepada siapa pun untuk mengutarakan pendapatnya sepanjang bertujuan positif bagi keberhasilan organisasi.

k. Menjalani kehidupan secara proporsional antar kepentingan dunia dan kepentingan akhirat, demi terjaganya lesehatan lahiriah dan bathiniah.

l. Meyakini bahwa kehidupan selalu menghadapi tantangan dan hambatan, dan menjadikan semua itu sebagai dinamika kepemimpinan yang dihadapinya dengan kesabaran, penuh perhitungan, dan cerdas memecahkan masalah yang dihadapinya dengan menjauhkan diri dari sikap pesimis dan frustasi.

m. Selalu memperbaharui diri untuk mencapai keberhasilan yang tinggi.

Proses dalam mengembangkan diri terdri atas beberapa komponen yang berhubungan dengan:

1) Pemahaman materi

2) Perluasan materi melalui belajar dan pengalaman 3) Pengajaran materi kepada orang lain

4) Pengaplikasian prinsip-prinsip 5) Pemonitoran hasil

6) Perefleksian kepada hasil

7) Penambahan pengetahuan baru yang diperlukan materi 8) Pemahaman baru

9) Kembali menjadi diri sendiri (Basri, 2015:24)

Kepemimpinan yang efektif dalam melaksanakan peran pengendalian organisasi memiliki kontribsi besar bagi keberhasilan orang-orang yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan organisai. Adapun peran kepemimpinan terdiri atas hal berikut:

a. Peran Pemimpin dalam manajemen sumber daya manusia

Pemimpin adalah seseorang yang melaksanakan beberapa hal ayang benar atau sering disebut “people who do the right thing”.

Sementara manajer adalah seseorang yang harus melaksanakan sesuatu secara benar atau disebut “people who do things right”. Seseorang yang bertanggung jawab dalam meningkatkan SDM membutuhkan keterampilan kepemimpinan dan manajemen.

b. Peran kepemimpinan dalam pengambilan keputusan

Membuat keputusan dan mengambil tanggung jawab terhadap hasilnya adalah salah satu pemimpin. Pengambilan keputusan mencerminkan karakter bagi seorang pemimpin. Baik tidaknya keputusan yang diambil tidak hanya dinilai dari konsekuensinya yang ditimbulkannya, tetapi melalui berbagai pertimbangan dalam prosesnya.

Dalam pelaksanaannya, pengambilan keputusan dapat dilihat dari beberapa aspek. Menurut Veithzal Rivai (2007: 152), proses dan gaya pengambilan keputusan mencakup berikut ini:

1) Proses pengambilan Mengidentifikasikan masalah 2) Mendefenisikan masalah

3) Memformulasikan dan mengembangkan alternatif 4) Mengimplementasikan keputusan

5) Mengevaluasi keputusan dilakukan melalui beberapa tahap seperti keputusan

c. Gaya pengambilan keputusan. Selain proses pengambilan keputusan, terdapat juga gaya pengambilan keputusan. Gaya adalah lear habit atau kebiasaan yang dipelajari

Gaya pengambilan keputusan dibatasi oleh dimensi:

1) Cara berpikir, terdiri atas:

a) Logis dan rasional; mengolah informasi secara serial b) Intuitif dan kreatif; memahami sesuatu secara keseluruhan 2) Toleransi terhadap ambiguitas

a) Kebutuhan yang tinggi untuk menstruktur informasi dengan cara meminimalkan ambiguitas

b) Kebutuhan yang rendah untuk menstruktur informasi, sehingga dapat memproses banyak pemikiran pada saat yang sama.

d. Peran kepemimpinan dalam membangun tim 1) Proses pembentukan

Tim adalah kelompok kerja yag dibentuk dengan tujuan menyukseskan tujuan bersama sebuah kelompok organisasi atau masyarakat. Tujuan dari pembentukan tim disini adalah membangun, Pedoman umum dalam membentuk atau membangun tim, yaitu:

a) Menanamkan pada kepentingan bersama

b) Mendorong dan memudahkan interaksi sosial yang memuaskan c) Mengadakan pertemuan-pertemuan membangun tim

d) Menggunakan jasa konsultan bila diperlukan 2) Anggota Tim

Keberhasilan tugas dalam tim akan tercapai apabila setiap orang bersedia bekerja dan memberikan yang terbaik. Anggota tim yang harus:

a) Mengerti tujuan yang baik

b) Memiliki rasa saling bergantungan dan saling memiliki c) Menerapkan bakat dan pengetahuannya untuk sasaran tim d) Dapat bekerja secara terbuka

e) Dapat mengekspresikan gagasan, opini, dan ketidak sepakatan f) Mengerti sudut pandang satu dengan yang lain

g) Mengembangkan keterampilan dan menerapkannya pada pekerjaan h) Mengakui bahwa konflik adalah yang normal

i) Berpartisipasi dalam keputusan tim 3) Peranan Kepemimpinan dalam Tim

Kepemimpinan didefenisikan sebagai proses untuk memberikan pengarahan dan pengaruh pada kegiatan yang berhubungan dengan tugas sekelompok anggotanya. Mereka yakin bahwa tim tidak akan sukses tanpa mengombinasikan kontribusi setiap anggotanya untuk mencapai tujuan akhir yang sama.

Menurut Henry Fayol dalam buku Hasan Basri (2015:32), prinsip-prinsip umum kepemimpinan adalah sebagai berikut:

a) Merancang pola pembagian kerja (division of work)

b) Menetapkan wewenang dan tanggung jawab (authority and responbility) secara profesional dan proposional.

c) Meningkatkan kedisiplinan pegawai (discipline) dengan taat asas dan taat pada tanggung jawab masing-masing.

d) Kedisiplinan dibangun melalui kesatuan perintah (unity of command) yang tertuang pada visi dan misi serta keteladanan pemimpin bagi seluruh karyawan atau bawahannya.

e) Kesatuan perintah berhubungan dengan kesatuan pengarahan (unity of direction) sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab kepemimpinan f) Seluruh prinsip manajemen dan pelaksanaan fungsinya selalu mengutamakan kepentingan organisasi .

g) Sikap mengutamakan kepentingan organisasi dibayar melalui penggajian pegawai, reward, bonus, imbalan, dan sebagainya yang akan meningkatkan kesejahteraan pegawai.

h) Memberikan semangat untuk selalu bekerja sebaik mungkin dan tidak menunda-nunda pekerjaan.

i) Mengembangkan kinerja dan kreativitas yang dapat memberikan daya guna dan hasil guna yang terbaik untuk organisasi.

j) Senantiasa fokus dan berkosentrasi penuh pada hasil yang dicapai.

k) Pandai memanfaatkan waktu sebaik dan sebijaksana mungkin demi kemajuan organisasi.

l) Pandai membangun rancangan aksi yang fleksibel dengan situasi dan kondisi yang sedang dihadapi organisasi.

m) memiliki daya respon yang cepat dan tepat terhadap semua keadaan yang dapat mengancam stabilitas organisasi.

n) pandai menikmati hasil-hasil yang telah diperoleh dengan tetap berpegang pada etika organisasi.

Demikian pula dengan pendapat Nanang Fattah (1996: 102) mengenai sifat-sifat penting dalam kepemimpinan, yaitu sebagai berikut:

a. Kepribadian (personality)

b. Pengalaman masa lalu dan harapan, pemimpin. Hal ini mencakup nilai-nilai, latar belakang, dan pengalamannya akan mempengaruhi pilihan akan gaya kepemimpinan

c. Harapan dan perilaku atasan

d. Karakteristik, harapan dan perilaku bawahan mempengaruhi terhadap gaya kepemimpinan

e. Kebutuhan tugas, setiap tugas bawahan memengaruhi terhadap gaya kepemimpinan

f. Iklim dan kebijakan organisasi memengaruhi harapan dan perilaku bawahan.

4. Teori Dan Gaya Kepemimpinan a. Teori Kepemimpinan

Teori-teori kepemimpinan yang berkembang saat ini adalah sebagai berikut.

1) Teori Genetik, yaitu kepemimpinan merupakan traits within thw individual leader. Seseorang menjadi pemimpin karena sudah ditakdirkan sejak dilahirkan, bukan karena dibuat atau dididik untuk itu (leaders were borned and not made).

` 2) Teori Sosial, kepemimpinan merupakan fungsi kelompok (function of the group). Menurut teori ini, peranan masyarakat sangat penting dalam menciptakan seorang pemimpin. Dengan teori ini, pemimpin tidak dilahirkan, tetapi sengaja diciptakan dan dibuat berdasarkan kesepakatan sosial yang selalu hidup dalam kelompok tertentu.

3) Teori Situasional, yaitu kepemimpinan bergantung pada situasinya.

Teori ini tidak hanya melihat kepemimpinan secara psikologis dan sosiologis, tetapi juga melihatnya berdasarkan pandangan ekonomi dan politik. Menurut konsep ini, kepemimpinan merupakan suatu fungsi dari situasi (function of the situation). Disamping sifat individu pemimpin dan fungsi kelompok seperti pada konsep pertama dan kedua,

kondisi dan situasi tempat kelompok itu menentukan lahirnya kepemimpinan. Hal ini dikarenakan seorang pemimpin yang telah memiliki sifat-sifat kepemimpinan yang baik dan dapat menjalankan fungsisnya sebagai anggota kelompok pun, sukses-tidaknya kepemimpinan ditentukan pula oleh situasi yang selalu berubah yang memengaruhi perubahan dan perkembangan kehidupan kelompok yang dipimpinnya.

4) Teori ekologis, kepemimpinan merupakan penggabungan antara bakat alami yang sudah ada sejak dilahirkan dengan pendidikan dan pelatihan yang intensif. Teori ini tidak menolak adanya sumber natural kepemimpinan, tetapi sumber struktural pun sangat membantu terbentuknya seorang pemimpin yang fungsional dan berpengaruh.

5) Teori Sosio-behavioristik, kepemimpinan dilahirkan oleh hal-hal berikut:

a) Bakat, turunan, dan kecerdasan yang alamiah b) Pengalaman dalam kepemimpinan

c) Pembentukan formal dalam organisasi d) Situasi lingkungan

e) Pendidikan dan pelatihan

f) Kesepakatan sosial dan kontrak politik. (Basri,2015:39-40).

Dari berbagai teori dapat diidentifikasikan bahwasanya teori kepemimpinan terdiri dari 3 macam yaitu:

a. Trait theory (Teori Sifat) atau Teori Genetis karan seorang pemimpin dianggap sudah memiliki sifat sejak lahir sebagai sesuatu yang diwariskan atau teori ini disebut dengan teori bakat karena menganggap bahwa pemimpin dilahirkan bukan dibentuk.

b. Behavior theory (Teori perilaku) merupakan kepemimpinan harus dipandang sebagai hubungan diantara orang-orang, bukan sebagai sifat atau ciri-ciri seorang individu. Teori perilaku lebih menekankan pada model dan gaya kepemimpinan yang dijalankan oleh seorang pemimpin.

c. Environment theory (Teori lingkungan) situasi dan kondisi tertentu yang berbeda menyebabkan kualitas kepemimpinan yang berbeda pula

sehingga munculnya pemimpin-pemimpin itu merupakan hasil waktu, tempat dan keadaan.

Adapun pendapat Robbin (2002:1) dalam buku Hasan Bashri (2015:44-45) menjelaskan tiga teori sebagai berikut:

a. Trait theorys (Teori karakter) seorang pemimpin harus mempunyai intelejensi atau kemampuan intelektual yang menekankan pada pemimpin yang berkarakter, inisiatif, percaya diri, serta cerdas memahami masalah dan memecahkan masalah

b. Style theorys (Gaya kepemimpinan) yaitu kepemimpinan mementingkan sikap partisipatif dan demokratis dengan selalu memberi penjelasan mengenai semua hal, melakukan penjajakan upaya kepemimpinan, mengikutsertakan bawahan, dan mendelegasikan pekerjaan dengan penuh kepercayaan.

c. Contigeny theories merupakan kepemimpinan yang memiliki dua kategori yaitunya:

1) Style depends on circumstance, ialah pemimpin yang bergantung pada hubungan, struktur tugas, tinggi rendah nya posisi, dan otoritas kekuasaan.

2) Gauge situasion favourableness, yaitu pemimpin senantiasa berorientasi pada tugas dan orientasi pada anggotanya.

Situasi yang dapat memengaruhi efektivitas kepemimpinan, yaitu sebagai berikut:

a. Hubungan pemimpin dengan anggota meliputi tingkat keyakinan, kepercayaan, dan aspek bawahan terhadap pemimpin.

b. Struktur tugas meliputi tugas pekerjaan terstruktur atau tidak berstruktur

c. Kekuasaan jabatan, yakni pemimpin yang mempekerjakan, memecat, mendisiplinkan, mempromosikan, serta menaikkan gaji bawahannya.

Menurut flippo yang dikuti oleh Hasan Basri (2015:47) gaya kepemimpinan adalah pola tingkah laku yang dirancang untuk

mengintegrasikan tujuan organisasi dengan tujuan individu untuk mencapai tujuan tertentu. Adapun gaya kepemimpinan yaitu sebagai berikut:

a. Gaya Kepemimpinan Otoriter

Kepemimpinan otoriter adalah kepemimpinan yang menjelaskan bahwa seorang pemimpin bertindak sebagai diktaktor. Pemimpin adalah penguasa, semua kendali ada ditangan pemimpin. Seorang diktaktor tidak menyukai adanya rapat apalagi musyawarah karena ia tidak menghendaki adanya perbedaan dan lebih suka memaksakan kehendaknya.

b. Gaya Kepemimpinan Autokritas

Gaya kepemimpinan autokritas cenderung memusatkan kekuasaan pada dirinya sendiri, mendikte, membuat keputusan secara sepihak, dan meminimalisasi partisipasi karyawan.

c. Gaya Kepemimpinan Demokratis/Partisipasi

Kepemimpinan demokratis ditandai dengan adanya struktur yang pengembangannya menggunakan pendekatan pengambilan keputusan yang koorperatif. Dibawah kepemimpinan demokratis bawahan cenderung yang bermoral tinggi, dapat bekerja sama, mengutamakan mutu kerja dan dapat mengarahkan diri sendiri.

d. Gaya Kepemimpinan Laissez-Faire (Kendali Bebas)

Gaya kepemimpinan kendali bebas mendeskripsikan bahwa pemimpin secara keseluruhan memberikan kebebasan dalam pembuatan keputusan dan menyelesaikan pekerjaan menurut cara yang menurut karyawannya paling sesuai.

Kepemimpinan yang konsisten menunjukkan keteladanan dalam memengaruhi orang lain yang berarti memotivasi dirinya dalam membangun integritas, kepercayaan dan keyakinan dalam mengubah kesadaran indriawi pada tingkat yang lebih baik, juga saling menghormati dan menghargai orang lain, dan memiliki kemampuan dalam kedewasaan rohaniah, sosial, emosional, dan intelektual.

D. Pelatihan Kepemimpinan Dasar, Menengah dan Lanjut 1. Pengertian Pelatihan Kepemimpinan

Pelatihan kepemimpinan ialah sebagai suatu kegiatan belajar yang merupakan suatu proses perubahan pada diri seseorang dalam hal kepemimpinan. Pelatihan kepemimpinan untuk meningkatkan kompetensi agar menjadi sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas di masyarakat. Pelatihan kepemimpinan yang dikhususkan untuk para pemuda yang terlibat dalam organisasi kepemudaan ditempat mereka melakukan kegiatan pembelajaran, dalam hal ini adalah pemuda yang terlibat aktif dalam organisasi.

Manfaat dari pelatihan kepemimpinan adalah:

a) Mengenal berbagai gaya kepemimpinan

b) Memilih gaya kepemimpinan yang tepat dalam menghadapi berbagai situasi bawahan dan lingkungan

c) Mengenal gaya kepemimpinan diri sendiri srta mengetahui apa kebaikan serta keburukannya

d) Menyadari akibat dari tindakan pemimpin pada diskusi kelompok yang berkualitas

e) Mampu meningkatkan keterampilan antara pribadi pada situasi dalam kelompok

f) Menganalisis dan meredesain perilaku sesuai dengan konsep motivasi

g) Menyusun feedback positif maupun negatif untuk meningkatkan motivasi anggota (Wardhani, 2010:45).

2. Pelatihan Kepemimpinan Dasar

Latihan dasar kepemimpinan atau PKMD adalah sebuah bentuk pelatihan kemahasiswaan dasar yang bertolak ukur kepada peningkatan sumber daya mahasiswa untuk mendalami dan memahami tentang konsep – konsep atau dasar - dasar sebuah organisasi di kampus. PKMD dilaksanakan untuk menanamkan jiwa kepemimpinan, kemandirian dan keteladanan kepada mahasiswa. Hal ini merupakan tahap pertama atau merupakan syarat yang harus dilalui mahasiswa sebelum bergabung dilembaga kemahasiswaan. Pelatihan ini sangat sangat berpengaruh bagi mahasiswa terlebih dalam jiwa kepemimpinan sebelum ia benar – benar menjadi pemimpin dalam sebuah lembaga baik di kampus maupun masyarakat .

Tujuan dari Pelatihan kepemimipinan Mahasiswa Dasar sebagai berikut:

1. Menumbuhkan jiwa kepemimpinan yang mampu memimpin diri terlebih dulu dan mampu menjalin hubungan kerja samadengan orang lain baik didalam maupun diluar lembga atau organisasi.

2. Memiliki keterampilan dan pemahaman tentang organisasi yang lebih baik dan maju di bandingkan dengan mahasiswa yang tidak mengikuti pelatihan kepemimpinan mahasiswa dasar.

3. Peserta mendapatkan sebuah pengalaman baik secara intelektul maupun pengalaman tentang bagaimana cara memimpin sebuah organisasi

4. Mahasiswa diharapkan dapat lebih berani dan bermain peran aktif dengan tampil menyuarakan aspirasi mahasiswa kepada pihak kampus dalam proses pembangunan kearah kemajuan kampus sehingga dapat terealisasi secara bersama-sama

5. Mahasiswa diharapkan dapat memiliki karakteristik seorang pemimpin yang memiliki intelektual, kreatifitas serta nalar berfikir yang berguna bagi agama dan tanah air bangsa Indonesia yang dijiwai oleh semangat Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dan berkeyakinan kepada Tuhan Yang Maha esa.

6. Melatih kemampuan dalam hubungan kerjasama dengan orang lain dalam lingkup yang lebih besar. Hal ini dikarenakan dalam kegiatan PKMD peserta mendapatkan sebuah pengalaman baik secara intelektual maupun tentang cara bagaimana berinteraksi berkomunikasi dalam berorganisasi baik didalam dan diluar.

Dan pelatihan ini menjadi bekal bagi para peserta agar nantinya ke tika menjadi pengurus Lembaga kemahasiswaan di kampus atau di masyarakat akan lebih baik dari tahun – tahun sebelumnya .

7. Terbentuknya pemimpin atau mahasiswa yang mampu memimpin kelasnya masing, berwawasan dan berlandaskan Islam serta dapat menyeimbangkan akademis dan organisatoris

8. Terbentuknya mahasiswa yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap lingkungan kampus, lingkungan sosial masyarakat dan mampu memperbaiki serta berkontribusi untuk perubahan yang lebih baik

9. Menciptakan motivasi yang tinggi pada diri mahasiswa agar menjadi mahasiswa luar biasa yang sukses dalam akademik dan organisasi.

3. Pelatihan Kepemimpinan Menengah

Pelatihan kepemimpinan tingkat menengah adalah pimpinan yang berada satu tingkat di atas Lower Manager. Pimpinan ini menjadi saluran informasidan komunikasi timbal balik antara Lower manager dan Top Manager.

Tujuan pelatihan kepemimpinan menengah PKMM adalah membekali mahasiswa dengan wawasan, sikap keterampilan untuk mengkoordinasi dan membina tim kerja dalam suatu kelembagaan sesuai dengan tujuan tersebut, maka mahasiswa yang menyelesaikan PKMM diharapkan:

a. Memiliki wawasan tentang kondisi lingkungan yang ikut mempengaruhi eksistensi dari lembaga yang dipimpin. Hal ini berarti bahwa mahasiswa perlu menguasai anggaran dasar dan anggaran rumah tangga dari lembaga/organisasi di mana ia terlibat dan memiliki wawasan yang luas tentang keterkaitan antara perguruan tinggi dengan berbagai sub-sistem masyarakat;

b. Mampu menjabarkan tujuan umum dari lembaga yang dipimpinnya dalam program-program kerja yang mempunyai sasaran yang realistik sesuai dengan kondisi “Here and Now”;

c. Mampu berdikusi atau bertukar pikiran dengan sikap ilmiah;

d. Mampu menganalisa kekuatan dan kelemahan lembaga/organisasi yang dipimpinnya, serta mampu mengantisipasi berbagai hambatan maupun peluang yang ada dalam usaha merealisasikan program kerja yang telah disusun;

e. Mampu merumuskan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh organisasi yang dipimpinnya dan mampu mentrandormasi masalah yang dihadapi organisasi menjadi target yang harus dicapai dalam rangka pemecahan masalah itu;

Mampu “mengamankan” keputusan yang telah diambil atau dengan kata lain mampu mengkoordinasi kerja kelompok untuk mencapai

Mampu “mengamankan” keputusan yang telah diambil atau dengan kata lain mampu mengkoordinasi kerja kelompok untuk mencapai

Dokumen terkait