a) Diare adalah kondisi yang didefinisikan oleh peningkatan frekuensi defekasi (lebih dari 3 kali sehari), peningkatan jumlah feses (lebih dari 200 gram per hari), dari perubahan konsistensi (feses encer).
Menurut Depkes RI, diare adalah suatu penyakit dengn tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, yang melembek
sampai mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari.
Menurut Suradi dan Rita, diare diartikan sebagai suatu keadaan dimana terjadinya kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi buang air besar satu kali atau lebih dengan bentuk encer atau cair.
b) Klasifikasi
Berdasarkan lama diare
(1) Diare Akut
Diare akut dimana terjadi sewaktu-waktu dan berlangsung selama14 hari dengan pengeluaran tinjak lunak atau cair yang dapat atau tanpa disertai lendir atau darah. Diare akut dapat menyebabkan dehidrasi dan bila kurang megonsusmsi makanan akan mengakibatkan kurang gizi.
(2) Diare Kronik
Diare kronik berlangsung secara terus-menerus selama lebih dari 2 minggu atau lebih dari 14 hari secara umum diikuti kehilangan berat badan secara signifikan dan malasah nutrisi.
(3) Diare persisten
Diare persisten adalah diare akut dengan atau tanpa disertai darah berlanjut sampai 14 hari atau lebih. Jika terdapat dehidrasi sedang atau berat diklasifikasikan sebagai berat atau kronik. Diare persisten menyebabkan kehilangan berat badan karena pengeluaran volume faces dalam jumlah banyak dan berisiko mengalami diare. Diare persisten dibagi menjadi dua yaitu diare persisten berat dan diare persisten tidak berat atau ringan. Diare persisten berat merupakan diare yang berlangsung selama ≥ 14 hari, dengan tanda dehidrasi, sehingga anak memerlukan perawatan di rumah sakit. Sedangkan diare persisten tidak berat atau ringan merupakan diare
yang berlangsung selama 14 hari atau lebih yang tidak menunjukkan tanda dehidrasi.
c) Faktor resiko
Cara penularan diare pada umumnya melalui cara fekal-oral yaitu melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh eteropatogen, atau kontak langsung tangan dengan penderita atau barang-barang yang tercemar tinja penderita atau tidak langsung melalui lalat.
Selain hal-hal tersebut beberapa factor penderita dapat meningkatkan kecenderungan untuk dijangkiti diare antara lain : Gizi buruk, imunodefisiensi, berkurangnya keasaman lambung, menurunnya motilitas usus, menderita campak dalam 4 minggu terakhir dan factor genetik.
(1) Factor umur
Sebagai besar episode diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan. Insidensi tertinggi terjadi pada kelompok umur 6 sampai 12 bulan pada saat diberikan makanan pendamping asi. Pola ini menggambarkan kombinasi efek penurunan kadar anti body ibu, kurangnya kekebalan aktif bayi, pengenalan makanan yang mungkin terkontaminasi bakteri tinja dan kontak langsung dengan tinja manusia atau binatang pada saat bayi mulai merangkak. Kebanyakan enteropatogen merangsang paling tidak sebagian kekebalan melawan infeksi atau penyakit yang berulang, yang membantu menjelaskan menurunnya insiden penyakit pada anak yang lebih besar dan pada orang dewasa.
(2) Infeksi asimtomatik
Sebagian besar infeksi usus bersifat asimtomatik dan proporsi asimtomatik ini meningkat setelah umur 2 tahun dikarenakan pembentukan imunitas aktif pada infeksi asimtomatik tinja penderita mengandung firus, bakteri atau kista protozoa yang infeksius. (3) Factor musim
Variasi pola musiman diare dapat terjadi menurut letak geografis. Di daerah sub tropik, diare karena bakteri lebih sering terjadi pada musim panas, sedangkan diare kena firus terutama rota firus puncaknya terjadi pada musim dingin. Di daerah tropic ( termasuk Indonesia ), diare yang disebabkan oleh rotavirus dapat terjadi sepanjang tahun dengan peningkatan sepanjang musim kemarau, sedangkan diare karena bakteri cenderung meningkat pada musi hujan.
(4) Epidemic dan pandemic
Vibrio cholera 0.1 shigella dysentriae 1 dapat menyebabkan epidemic dan pandemic yang mengakibatka tingginya angka kesakitan dan kematian pada semua golongan usia. Sejak tahun 1961, kolera yang disebabka oleh V. Cholera 0.1 biotipe Eltor telah menyebar ke Negara-negara di Afrika Latin, Asia, Timur Tengah dan dibeberapa daerah di Amerika Utara dan Eopa. Dalam kurun waktu yang sama Shigella dysentriae tipe 1 menjadi penyebab wabah ang besar di Amerika Tengah dan terakhir di Afrika Tengah dan Asia Selatan. Pada akhir tahun 1992, dikenal strain baru Vibrio cholera 0139 yang menyebabkan epidemi di asia dan lebih dari 11 negara mengalami wabah.
d) Patofisiologi
Diare dapat disebabkan oleh satu atau lebih
patofisiologi/patomekanisme dibawah ini: (1) Diare sekretorik
Diare tipe ini disebabkan oleh meningkatnya sekresi air dan elektrolit dari usus, menurunnya absorpsi. Yang khas pada diare ini yaitu secara klinis ditemukan diare dengan volume tinja yang banyak sekali. Diare tipe ini akan tetap berlangsung walaupun dilakukan puasa makan/minum.
Diare tipe ini disebabkan meningkatnya tekanan osmotik intralumen dari usus halus yang disebabkan oleh obat-obat/zat kimia yang hiperosmotik (antara lain MgSO4, Mg(OH)2), malabsorpsi umum dan defek dalam absorpsi mukosa usus missal pada defisiensi disakaridase, malabsorpsi glukosa/galaktosa. (3) Malabsorpsi asam empedu dan lemak
Diare tipe ini didapatkan pada gangguan pembentukan/produksi micelle empedu dan penyakit-penyakit saluran bilier dan hati. (4) Defek sistem pertukaran anion/transport elektrolit aktif di enterosit.
Diare tipe ini disebabkan adanya hambatan mekanisme transport aktif NA+ K+ ATPase di enterosit dan absorpsi Na+ dan air yang abnormal.
(5) Motilitas dan waktu transit usus yang abnormal
Diare tipe ini disebabkan hipermotilitas dan iregularitas motilitas usus sehingga menyebabkan absorpsi yang abnormal di usus halus. Penyebabnya antara lain: diabetes mellitus, pasca vagotomi, hipertiroid.
(6) Gangguan permeabilitas usus
Diare tipe ini disebabkan permeabilitas usus yang abnormal disebabkan adanya kelainan morfologi membran epitel spesifik pada usus halus.
(7) Diare inflamasi
Proses inflamasi di usus halus dan kolon menyebabkan diare pada beberapa keadaan. Akibat kehilangan sel epitel dan kerusakan tight junction, tekanan hidrostatik dalam pembuluh darah dan limfatik menyebabkan air, elektrolit, mukus, protein dan seringkali sel darah merah dan sel darah putih menumpuk dalam lumen. Biasanya diare akibat inflamasi ini berhubungan dengan tipe diare lain seperti diare osmotic dan diare sekretorik.
Infeksi oleh bakteri merupakan penyebab tersering dari diare. Dari sudut kelainan usus, diare oleh bakteri dibagi atas non-invasif dan invasif (merusak mukosa). Bakteri non-invasif menyebabkan diare karena toksin yang disekresikan oleh bakteri tersebut.
e) Manifestasi Klinik
Pada anak yang mengalami diare tanpa dehidrasi (kekurangan cairan), tanda-tandanya: Berak cair 1-2 kali sehari, muntah ), haus (-), nafsu makan tidak berkurang masih ada keinginan untuk bermain. Pada anak yang mengalami diare dengan dehidrasi ringan/sedang. Tanda-tandanya : berak cair 4-9 kali sehari, kadang muntah 1-2 kali sehari, suhu tubuh kadang meningkat, haus, tidak ada nafsu makan, badan lesu lemas. Sedangkan pada anak yang mengalami diare dengan dehidrasi berat. Tanda-tandanya: berak cair terus menerus, muntah terus menerus, haus, mata cekung, bibir kering dan biru, tangan dan kaki dingin, sangat lemah, tidak nafsu makan, tidak ada keinginan untuk bermain, tidak BAK selama 6 jam atau lebih, kadang-kadang dengan kejang dan panas tinggi.
Diare akut karena infeksi dapat disertai muntah-muntah, demam, tenemus, hematoschezia, nyeri perut dan atau kejang perut. Akibat paling fatal dari diare yang berlangsung lama tanpa rehidrasi yang adekuat adalah kematian akibat dehidrasi yang menimbulkan rejatan hipovolemik atau gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolik yang berlanjut. Seseorang yang kekurngan cairan akan merasa haus, berat badan berkurang, ubun-ubun dan mata cekung, membrane mukosa kering, tulang pipi tampak lebih menonjol, turgor kulit jelas (elastisitas kulit menurun) serta suara menjadi serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan oleh deplesi air yang isotonik. Karena kehilangan bikarbonat (HCO3) maka perbandingannya dengan asam kerbonat berkurang mengakibatkan penurunan pH darah yang merangsang pusat
pernapasan sehingga frekuensi pernapasan meningkat dan lebih dalam (pernapasan Kussmaul)
Gangguan kardiovaskuler pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa rejatan dengan tanda-tanda denyut nadi cepat (> 120 x/menit), tekanan darah menurun sampai tidak terukur. Pasien mulai gelisah, muka pucat, akral dingin dan kadang-kadang sianosis. Karena kekurangan kalium pada diare akut juga dapat timbul aritmia jantung. Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun sampai timbul oliguria/anuria. Bila keadaan ini tidak segera diatasi akan timbul penyakit nekrosis tubulus ginjal akut yang berarti suatu keadaan gagal ginjal akut.
f) Komplikasi
(1) Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonic atau hipertonik).
(2) Renjatan hipovolemik.
(3) Hipokalemia (dengan gejala mekorismus, hipotoni otot, lemah, bradikardi, perubahan pada elektro kardiagram).
(4) Hipoglikemia.
(5) Introleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim lactase karena kerusakan vili mukosa, usus halus.
(6) kejang terutama pada dehidrasi hipertonik.
(7) malnutrisi energi, protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga mengalami kelaparan.
g) Pencegahan
Pada dasarnya ada tiga tingkatan pencegahan penyakit secara umum yakni : pencegahan tingkat pertama (Primary Prevention) yang meliputi promosi kesehatan dan pencegahan khusus, pencegahan tingkat kedua (Secondary Prevention) yang meliputi diagnosis dini serta pengobatan yang tepat, dan pencegahan tingkat ketiga (Tertiary prevention) yang meliputi pencegahan terhadap cacat dan rehabilitasi.
(1) Pencegahan Primer
Pencegahan primer penyakit diare dapat ditunjukkan pada factor penyebab, lingkungan dan factor penjamu. Untuk factor penyebab dilakukan berbagai upaya agar mikroorganisme penyebab diare dihilangkan. Peningkatan air bersih dan sanitasi lingkungan, perbaikan lingkungan biologis dilakukan untuk memodifikasi lingkungan. Untuk meningkatkan daya tahan tubuh dari penjamu akan dapat dilakukan peningkatan status gizi dan pemberian imunisasi.
(2) Penyediaan air bersih
Air adalah salah satu kebutuhan pokok hidup manusia, bahkan hamper 70% tubuh manusia mengandung air. Air dipakai untuk keperluan makan, minum, mandi, dan pemenuhan kebutuhan yang lain, maka untuk keperluan tersebut WHO dukungan secara mental kepada anak. Anak yang menderita diare selain diperhatikan kebutuhan fisik juga kebutuhan psikologis harus dipenuhi dan kebutuhan social dalam berinteraksi atau bermain dalam pergaulan dengan teman sepermainan.
h) Penatalaksanaan
(1) Pada anak yang mengalami diare tanpa dehidrasi (kekurangan cairan)
Tindakan :
- Untuk mencegah dehidrasi, beri anak minum lebih banyak dari biasanya.
- ASI (Air Susu Ibu) diteruskan - Makanan diberikan seperti biasanya
- Bila keadaan anak bertambah berat, segera bawa ke Puskesmas terdekat
(2) Pada anak yang mengalami diare dengan dehidrasi ringan/sedang Tindakan :
- ASI (Air Susu Ibu) diteruskan - Teruskan pemberian makanan
- Sebaiknya yang lunak, mudah dicerna dan tidak merangsang - Bila tidak ada perubahan segera bawa kembali ke Puskesmas
terdekat.
(3) Pada anak yang mengalami diare dengan dehidrasi berat Tindakan :
- Segera bawa ke Rumah Sakit / Puskesmas dengan fasilitas Perawatan
- Oralit dan ASI diteruskan selama masih bias diminum (4) Takaran Pemberian Oralit
- Dibawah 1 tahun : 3 jam pertama 1,5 gelas selanjutnya 0,5 gelas setiap kali mencret
- Dibawah 5 tahun (anak balita) : 3 jam pertama 3 gelas, selanjutnya 1 gelas setiap kali mencret
- Anak diatas 5 tahun : 3 jam pertama 6 gelas, selanjutnya 1,5 gelas setiap kali mencret
- Anak diatas 12 tahun dan dewasa : 3 jam pertama 12 gelas, selanjutnya 2 gelas setiap kali mencret (1 gelas : 200cc) (5) Dasar Pengobatan Diare
Pemberian cairan, jenis cairan, cara memberikan cairan, jumlah pemberiannya.
(a) Cairan per oral
Pada klien dengan dehidrasi ringan dan sedang diberikan peroral berupa cairan yang bersifat NaCl dan NaHCO3 dan glukosa. Untuk diare akut dan kolera pada anak diatas 6 bulan kadar Natrium 90 mEg/l. pada anak dibawah umur 6 bulan dengan dehidrasi ringan-sedang kadar natrium 50-60 mEg/l/ formula lengkap disebut oralit, sedangkan larutan gula garam dan tajin disebut formula yang tidak lengkap karena banyak mengandung NaCl dan sukrosa.
(b) Cairan parentral
Diberikan pada klien yang mengalami dehidrasi berat, dengan rincian sebagai berikut:
Untuk anak umur 1 bulan – 2 tahun berat badan 3-10 kg 1 jam pertama : 40 ml/kgBB/menit = 3tetes/kgBB/menit (infus set berukuran 1 ml=15 tetes atau 13 tetes/kgBB/menit (set infus 1 ml=20 tetes). 7 jam berikutnya : 12 ml/kgBB/menit = 3tetes/kgBB/menit (infus set berukuran 1 ml=15tetes atau 4 tetes/kgBB/menit (set infus 1 ml=20 tetes). 16 jam berikutnya : 125 ml/kgBB/oralit
Untuk anak lebih dari 2-5 tahun dengan berat badan 10-15 kg 1 jam pertama : 30 ml/kgBB/jam atau 8 tetes/jgBB/menit (1 ml = 15tetes atau 10tetes/kgBB/menit (1ml = 20tetes).
Untuk anak lebih dari 5-10 tahun dengan berat badan 15-25 kg : 1 jam pertama : 20 ml/kgBB/jam atau 5 tetes/kgBB/menit (1ml = 15tetes atau 7 tetes/kgBB/menit (1 ml=20tetes). 7 jam berikut : 10 ml/kgBB/jam atau 2,5 tetes/kgBB/menit (1ml = 15 tetes atau 3 tetes/kgBB/menit (1 ml = 20 tetes). 16 jam berikut : 105 ml/kgBB oralit per oral.
Untuk bayi baru lahir dengan berat badan 2-3 kg kebutuhan cairan : 125 ml + 100 ml + 25 ml = 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian glukosa 5% + 1 bagian NaHCO3 11 2⁄ %. Kecepatan : 4 jam pertama : 25 ml/kgBB/jam atau 6 tetes/kgBB/menit (1 ml = 15 tetes) 8 tetes/kg/BB/menit (1 ml=20 tetes).
Untuk bayi berat badan lahir rendah : kebutuhan cairan: 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian glukosa 10% + 1 bagian NahCO3 11 2⁄ %).