• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN MATERI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN MATERI"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN MATERI

A. Konsep Dasar Keluarga 1. Pengertian

Istilah keluarga didefinisikan berbeda-beda tergantung dari orientasi teoritis yang digunakan. Secara umum, keluarga didefinisikan sebagai unit sosial ekonomi terkecil dalam masyaakat yang merupakan

landasan dasar dari semu institusi. Keluarga merupakan kelompok primer yang terdiri dari dua atau lebih orang yang mempunyai jaringan interaksi interpersonal, hubungan darah, hubungan perkawinan dan adopsi.

Untuk lebih detail mengenai batasan keluarga, berikut ini dihimpun beberapa pandangan menurut para ahli.

a. Logan’s

Keluarga adalah sebuah sistem social dan kumpulan dari beberapa komponen yang saling berintraksi satu dengan yang lainnya

b. Depkes RI (2012)

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dan dalam keadaan saling ketergantungan (dalam Andarmoyo, 2012).

c. Allender dan Spradley (2011)

Keluarga adalah satu atau lebih individu yang tinggal bersama, sehingga mempunyai ikatan emosional, dan mengembangkan dalam interelasi sosial, peran dan tugas (dalam Tantut, 2012).

2. Jenis/Tipe keluarga

Secara umum, tipe keluarga dibagi menjadi dua yaitu keluarga tradisional dan keluarga modern (nontradisional).

a. Keluarga Tradisional

Tipe keluarga tradisional menunjukan sifat-sifat homogen, yaitu keluarga yang memiliki struktur tetap dan utuh. Tipe keluarga ini merupakan yang paling umum kita temui di mana saja, terutama di negara-negara Timur menjunjung tinggi norma-norma.

(2)

Ada beberapa ciri atau tipe keluarga tradisional, sebagai berikut. 1) The nuclear family (Keluarga Inti)

Keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak tinggal dalam satu rumah. Dalam keeharian, anggota keluarga inti hidup bersama dan saling menjaga. Mereka adalah ayah, ibu, dan anak-anak

2) The dyad (Pasangan Inti)

Tipe keluarga ini biasanya terjadi pada sepasang suami istri yang baru menikah. Mereka telah membina rumah tangga tetapi belum dikaruniai anak atau keduanya bersepakat untuk tidak memiliki anak lebih dulu. Akan tetapi jika di kemudian hari memiliki anak, maka status tipe keluarga ini menjadi keluarga inti.

3) The extended family (Keluarga Besar)

Keluarga yang terdiri dari tiga generasi yang hidup bersama dalam satu rumah seperti nuclear family disertai paman, tante, orangtua (kakeknenek), keponakan. Keluarga besar cenderung tidk hidup bersama-sama dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan karena keluarga besar merupakan gabungan dari beberapa keluarga inti yang bersumbu dari satu keluarga inti. Satu keluarga memiliki beberapa anak, lalu anak-anaknya menikah dan memiliki anak, lalu anak-anaknya menikah dan memiliki anak, an kemudian menikah lagi dan memiliki anak pula.

4) The single-parent family

Single parent adalah kondisi sesorang tidak memiliki pasangan lagi. Hal ini bisa di sebabkan karna perceraian atau meninggal dunia. Jika ia sendirian, maka tidak bisa dikatakan sebagai keluarga meski sebelumnya pernah membina rumah tangga.

(3)

Keluarga yang terdiri dari orang dewasa yang hidup sendiri karena pilihannya atau perpisahan (separasi) seperti: perceraian atau ditinggal mati.

b. Non Tradisional

Keberadaan keluarga modern merupakan bagian dari perkembangan sosial di masyarakat. Banyak faktor yang melatarbelakangi kenapa muncul keluarga modern. Salah satu faktor tesebut adalah munculnya kebutuhan berbagi dan berkelurga yang tidak hanya sebatas keluarga inti.

c. The unmarried teenage mother

Keluarga yang terdiri dari orangtua (terutama ibu) dengan anak dari hubungan tanpa nikah. Kehidupan seorang ibu bersama anaknya tanpa pernikahan inilah yang kemudian masuk dalam kategori keluarga.

d. The stepparent family

Keluarga dengan orangtua tiri. Dengan berbagai alasan, dewasa ini kita temui seorang yang sudah memiliki anak maupun belum. Kehidupan anak dengan orang tua tirinya inilah yang dimaksud dengan the stepparent family.

e. Commune family

Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada hubungan saudara yang hidup bersama dalam satu rumah, sumber dan fasilitas yang Sama, pengalaman yang Sama; sosialisasi anak dengan melalui aktivitas kelompok/membesarkan anak bersama. f. The nonmarital heterosexual cohabiting family

Keluarga yang hidup bersama berganti-ganti pasangan tanpa melalui pernikahan. Seseorang memutuskan untuk hidup bersama dengan pasangannya. Namun dalam waktu yang relatif singkat,

(4)

seseorang itu kemudian berganti pasangan lagi dan tetap tanpa hubungan pernikahan.

g. Gay and lesbian families

Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersama sebagaimana marital partners‟.

h. Cohabitating family

Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan perkawinan karena beberapa alasan tertentu. Misalnya dalam perantauan, karna merasa satu negara

i. Group-marriage family

Beberapa orang dewasa yang menggunakan alat-alat rumah tangga bersama, yang saling merasa menikah satu dengan yang lainnya, berbagi sesuatu termasuk sexual dan membesarkan anak.

j. Group nework family

Keluarga inti yang dibatasi oleh aturan/nilai-nilai, hidup berdekatan satu sama lain dan saling menggunakan barang-barang rumah tangga bersama, pelayanan, dan bertanggung jawab membesarkan anak.

k. Foster family

Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga/saudara di dalam waktu sementara, pada saat orangtua anak tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan kembali keluarga yang aslinya.

l. Homeless family

Keluarga yang berbentuk dan tidak mempunyai perlindungan yang permanen karena krisis personal yang dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan atau problem kesehatan mental.

m. Gang

Sebuah bentuk keluarga yang destruktif dari orang-orang muda yang mencari ikatan emosional dan keluarga yang mempunyai

(5)

perhatian tetapi berkembang dalam kekerasan dan kriminal dalam kehidupannya.

3. Struktur dalam Keluarga

Struktur ini didasarkan pada perorganisasian dalam keluarga, baik dari sisi perilaku maupun pola hubungan antara anggota keluarga. Hubungan yang terjadi ini bisa sangat kompleks, tidak terbatas pada anggota keluarga tertentu, bahkan bisa melebar hingga keluarga besar, yang saling membutuhkan, memiliki peran dan harapan yang berbeda. a. Pola komunikasi keluarga

Pola interaksi yang berfungsi dalam keluarga memiliki karakteristik: a. Terbuka, jujur, berpikiran positif, dan selalu berupaya menyelesaikan konflik keluarga; b. Komunikasi berkualitas antara pembicaraan dan pendengaran. Dalam pola komunikasi, hal ini biasa disebut dengan stimulus-respons. Dengan pola komunikasi yang berfungsi dengan baik ini, penyampaiaan pesan (pembicaraan) akan mengemukakan pendapat, meminta dan menerima umpan balik. b. Struktur Peran

Struktur peran murupakan serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai dengan posisi sosial yang diberikan. Bapak berperan sebagai kepala rumah tangga, ibu berperan dalam wilayah domestik, anak dan lain sebagainya memiliki peran masing-masing dan diharapkan saling mengerti dan mendukung.

c. Struktur Kekuatan

Struktur kekuatan keluarga menggambarkan adanya kekuasaan atau kekuatan dalam sebuah keluarga yang digunakan untuk mengendalikan dan memengaruhi anggota keluarga. Kekuasaan ini terdapat pada inividu di dalam keluarga untuk mengubah perilaku anggotanya ke arah positif, baik dari sisi perilaku maupun kesehatan. Ada beberapa faktor yang mendasari terjadinya struktur kekuatan keluarga.

(6)

Dalam konteks keluarga, kekuatan ini sebenarnya tumbuh dengan sendiri karena ada hierarki yang merupakan konstruk masyarakat kita. Seseorang kepala keluarga adalah pemegang kekuatan interaksi dalam keluarga. Ia memiliki hak untuk mengontrol tingkah laku anggota keluarga lainnya, terutama pada anak-anak.

2) Referent power

Dalam masyarakat kita, orangtua adalah panutan utama dalam keluarga, terlebih posis ayah sebagai kepala keluarga. Apa yang dilakukan ayah akan menjadi contoh, baik oleh pasangannya maupun anak-anaknya.

3) Reward power

Kekuasaan penghargaan berasal dari adanya harapan bahwa orang yang berpengaruh dan dominan akan melakukan sesuatu yang positif terhadap ketaatan seseorang.

4) Coercive power

Ancaman dan hukuman menjadi pokok dalam membangun kekuatan keluarga mendefinisikan kekuatan ini sebagai kekuasaan.

4. Peran Keluarga

Peranan keluarga adalah tingkah laku spesifik yang diharapkan oleh seseorang dalam konteks keluarga. Sehingga peran keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dalam situasi tertentu. Peranan individu dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga, kelompok, dan masyarakat. Setiap anggota keluarga mempunyai peran masing-masing, antara lain adalah:

a. Ayah

Ayah sebagai pemimpin keluarga mempunyai peran sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung/ pengayom, pemberi rasa

(7)

aman bagi setiap anggota keluarga dan juga sebagi anggota masyarakat kelompok sosisal tertentu.

b. Ibu

Ibu sebagai pengurus rumah tangga, pengasuh dan pendidik anak-anak, pelindung keluarga dan juga sebagai pencari nafkah tambahan keluarga dan juga sebagai anggota masyarakat kelompok sosial tertentu.

c. Anak

Anak berperan sebagai pelaku psikososial sesuai dengan perkembangan fisik, mental, sosial, dan spiritual (Setiadi, 2008).

5. Fungsi Keluarga

Fungsi keluarga menurut Friedman, Bowden, & Jones (2003) (dalam Tantut, 2012) dibagi menjadi lima, yaitu:

a. Fungsi afektif dan koping: keluarga memberikan kenyamanan emosional anggota, membantu anggota dalam membentuk identitas dan mempertahankan saat terjadi stress.

b. Fungsi sosialisasi: keluarga sebagai guru, menanamkan kepercayaan, nilai, sikap, dan mekanisme koping; memberikan feedback; dan memberikan petunjuk dalam memecahkan masalah. c. Fungsi reproduksi: keluarga melahirkan anak.

d. Fungsi ekonomi: keluarga memberikan finansial untuk anggota keluarganya dan kepentingan di masyarakat.

e. Fungsi fisik atau perawatan kesehatan: keluarga memberikan keamanan, kenyamanan lingkungan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, perkembangan dan istirahat termasuk untuk penyembuhan dari sakit.

6. Tahapan Perkembangan dan Tugas Perkembangan Keluarga Tahap perkembangan keluarga dibagi sesuai dengan kurun waktu tertentu yang dianggap stabil, misalnya keluarga dengan anak pertama berbeda dengan keluarga dengan remaja. Menurut Rodgers (Friedman,

(8)

1998), meskipun setiap keluarga melalui tahap perkembangannya secara unik, namun secara umum seluruh keluarga mengikuti pola yang sama. Tiap tahap perkembangan membutuhkan tugas atau fungsi keluarga agar dapat melalui tahap tersebut dengan sukses. Tahap-tahap perkembangan keluarga yang paling banyak digunakan untuk keluarga inti dengan dua orang tua adalah delapan tahap siklus kehidupan keluarga dari Duvall (1977):

a. Tahap I Pasangan Baru (Keluaraga Baru)

Keluarga baru dimulai saat masing-masing individu laki-laki (suami) dan wanita (istri) membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan meninggalkan keluarga masing-masing dan yang berakhir ketika lahirnya anak pertama. Dua orang yang membentuk keluarga perlu mempersiapkan kehidupan keluarga yang baru karena keduanya membutuhkan penyesuaian peran dan fungsi dalam kehidupan sehari-hari. Tugas perkembangan pada tahap pasangan baru adalah:

b. Membina hubungan intim yang memuaskan, yaitu pemenuhan kebutuhan psikologis suami dan istri. Suami maupun istri perlu saling memerhatikan, menciptakan komunikasi terbuka dan menyenangkan, serta saling menghargai dan menghormati keberadaannya (fungsi afektif keluarga).

c. Membina hubungan persaudaraan secara harmonis, suami maupun istri harus saling menjalin hubungan dengan keluarga pasangannya sehingga terbentuk interak si sosial yang harmonis (fungsi sosialisasi keluarga).

d. Mendiskusikan rencana memiliki anak, pasangan suami istri harus mulai merencanakan, kapan dimulainya kehamilan sampai berapa anak yang diinginkan dengan mempertimbangkan kemampuan yang dimiliki (fungsi perawatan anak secara fisik, psikologis maupun sosial dan fungsi ekonomi) (diadaptasi dari Tantut (2012), Andarmoyo (2012)).

(9)

1) Tahap II keluarga “Child-bearing” (Kelahiran Anak Pertama) Dimulai dari lahirnya anak pertama sampai dengan anak berusia 30 bulan atau 2, 5 tahun. Kehadiran bayi pertama ini akan menimbulkan suatu perubahan yang besar dalam kehidupan rumah tangga. Kelahiran anak pertama merupakan pengalaman keluarga yang sangat penting dan sering merupakan krisis keluarga. Masalah-masalah yang lazim ditemukan pada tahap ini adalah:

a) Suami merasa diabaikan.

b) Terdapat peningkatan perselisihan dan argument antara suami dan istri.

c) Interupsi dalam jadwal yang kontinu.

d) Kehidupan seksual dan sosial terganggu dan menurun.

Oleh karena itu, keluarga dituntut untuk mampu beradaptasi terhadap peran baru yang dimilikinya dan harus mampu melaksanakan tugas dari peran baru tersebut. Tugas perkembangan pada tahap child bearing adalah:

(1) Persiapan menjadi orang tua, yaitu keluarga mulai mengintegrasi bayi ke dalam kehidupan keluarga sehingga keluarga mulai memainkan peran sebagai orangtua. Bayi membutuhkan perhatian besar untuk pertumbuhan dan perkembangannya.

(2) Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga: peran, interaksi, hubungan seksual dan kegiatan, keluarga perlu mengidentifikasi tugas perkembangan pribadi dan perannya sebagi orangtua. Hal ini dibutuhkan agar tidak terjadi penyimpangan dalam menjalankan tugasnya, serta membantu menyelesaikan tugas yang dibebankan.

(3) Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan, Hubungan yang kokoh dan bergairah sangat

(10)

penting bagi stabilitas dan moral keluarga. (Diadaptasi dari Tantut (2012), Andarmoyo (2012))

2) Tahap III keluarga dengan anak Prasekolah

Tahap ini dimulai saat anak pertama berusia 2,5 tahun dan berakhir saat anak berusia 5 tahun. Pada tahap ini kesibukan akan bertambah sehingga menuntut perhatian yang lebih banyak dari orangtua. Orangtua adalah arsitek keluarga sehingga orangtua harus merancang dan mengarahkan perkembangan keluarga agar dapat semakin memperkokoh kemitraan dan perkawinan mereka (dalam Tantut (2012), Andarmoyo (2012)). Tugas perkembangan pada tahap prasekolah:

a) Memenuhi Kebutuhan anggota keluarga seperti tempat tinggal, privasi dan rasa aman Membantu anak untuk bersosialisasi.

b) Beradaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara anak yang lain juga harus terpenuhi.

c) Mempertahankan hubungan yang sehat baik di dalam maupun diluar keluaga (keluarga lain dan lingkungan sekitar).

d) Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak. e) Pembagian tanggung jawab anggota keluarga.

f) Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh dan kembang anak (dalam Tantut, 2012).

3) Tahap IV keluarga dengan anak usia sekolah

Tahap ini dimulai saat anak berusia 6 tahun dan mulai masuk sekolah dasar dan berakhir pada usia 12 tahun. Keluarga perlu membantu meletakan dasar penyesuaian diri anak dengan teman sebaya. Tugas perkembangan pada tahap anak usia sekolah adalah:

(11)

a) Membantu sosialisasi anak: tetanga, sekolah dan lingkungan, kegiatan mendorong anak untuk mencapai pengembangan daya intelektual, menyediakan aktivitas untuk anak dan membantu sosialisasi anak keluar rumah merupakan kegiatan yang harus dilakukan oleh orangtua. b) Mempertahankan keintiman pasangan, saat ini hubungan

perkawinan sering mengalami penurunan.orangtua lebih fokus pada karir dan pendidikan anak.

c) Memenuhi kebutuhan fisik anggota keluarga, keluarga perlu menyediakan kebutuhan gizi bagi anggota keluarganya. Keluarga perlu pula menyediakan kebutuhan anak akan kesehatan terutama kesehatan kulit dan gigi. (Diadaptasi dari Tantut (2012), Andarmoyo (2012))

4) Tahap V keluarga dengan Remaja

Tahap ini dimulai saat anak pertama berusia 13 tahun dan berakhir pada 6-7 tahun kemudian. Tahap ini merupakan tahap yang paling sulit, karena orangtua melepas otoritasnya dan membimbing anak untuk bertanggung jawab. Seringkali muncul konflik antara orangtua dan remaja karena anak menginginkan kebebasan untuk melakukan aktivitasnya sementara orangtua mempunyai hak untuk mengontrol. Tugas perkembangan pada tahap remaja adalah:

a) memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab, orangtua harus mempercayai anak agar mandiri secara prematur, dengan mengabaikan kebutuhan ketergantungannya.

b) Mempertahankan hubungan yang intim dalam keluarga, pada masa ini anak telah lebih bertanggung jawab terhadap diri sendiri sehingga pasangan suami istri akan lebih banyak waktu untuk dapat meniti karir atau menciptakan kesenangan perkawinan.

(12)

c) Mempertahankan komunikasi terbuka.

d) Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang keluarga, meskipun peraturan dalam keluarga perlu diubah, etika dan standar moral keluarga perlu dipertahankan oleh orangtua, sementara remaja mencari nilai dan keyakinan mereka sendiri (dalam Tantut, (2012) & Andarmoyo, (2012)).

5) Tahap VI keluarga dengan dewasa awal

Tahap ini dimulai pada saat anak pertama meninggalkan rumah dan berakhir saat anak terakhir meninggalkan rumah. Keluarga menyiapkan/ membantu anak tertua dalam melepaskan diri untuk membentuk keluarga sendiri dan tetap membantu anak terakhir/yang lebih kecil untuk mandiri. Tugas perkembangan pada tahap dewasa awal adalah:

a) Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar. b) Mempertahankan keintiman pasangan.

c) Membantu orangtua suami/isteri yang memasuki lansia. Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga (Dalam Tantut, 2012).

6) Tahap VII keluarga usia pertengahan

Tahap ini dimulai saat anak terakhir meninggalkan rumah dan berakhir pada saat pensiun atau kematian salah satu pasangan. Atau pada saat orangtua berusia 45-55 tahun dan berakhir 16-18 tahun kemudian. Tugas perkembangan pada tahap usia pertengahan adalah:

a) Mempertahankan kesehatan

b) Mempertahankan hubungan sebaya dan anak-anak

c) Memperkokoh hubungan perkawinan (Dalam Tantut, 2012 dan andarmoyo, 2012).

(13)

Tahap ini merupakan tahap terakhir dimana, dimulai ketika salah satu atau ke dua pasangan pensiun, sampai salah satu pasangan meninggal dan berakhir ketika ke dua pasangan meninggal. Proses lanjut usia dan pensiun merupakan realitas yang tidak dapat dihindari karena berbagai stressor dan kehilangan yang harus dialami keluarga. Dengan memenuhi tugas perkembangan pada fase ini diharapkan orangtua mampu beradaptasi menghadapi stressor tersebut. Tugas perkembangan pada tahap lansia adalah:

a) Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan. b) Menyesuaikan diri dengan perubahan.

c) Mempertahankan hubungan perkawinan.

d) Mempertahankan ikatan keluarga antargenerasi.

e) Melakukan life review (Dalam Tantut, 2012 dan andarmoyo, 2012).

7. Konsep Proses Keperawatan Keluarga

Proses keperawatan keluarga disesuaikan dengan fokus perawatan. Jika ia melihat keluarga sebagai latar belakang atau konteks dari keluarga maka keluarga merupakan fokus utama tetapi jika ia melihat didalam keluarga ada individu yang rawat, maka anggota keluarga secara individu merupakan fokus utama (Setiadi, 2008).

a. Pengkajian Keperawatan

Tahap pengkajian ini merupakan proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan keluarga (Lyer et al., (1996) dalam Setiadi, (2008)). Dasar pemikiran dari pengkajian adalah suatu perbandingan, ukuran atau penilaian mengenai keadaan keluarga dengan menggunakan norma, nilai, prinsip, aturan, harapan, teori dan konsep yang berkaitan dengan permasalahan. Cara pengumpulan pengkajian data tentang keluarga yang dapat dilakukan antara lain dengan:

(14)

1) Wawancara

Wawancara yaitu menanyakan atau tanya jawab yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi keluarga dan merupakan suatu komunikasi yang direncanakan. Tujuan wawancara adalah:

a) Mendapatkan informasi yang diperlukan

b) Meningkatkan hubungan perawat-keluarga dalam komunikasi

c) Membantu keluarga untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan Wawancara dengan keluarga dikaitkan dalam hubungan dengan kejadiankejadian pada waktu lalu dan sekarang.

2) Pengamatan

Pengamatan dilakukan yang berkaitan dengan hal-hal yang tidak perlu ditanyakan (ventilasi, penerangan, kebersihan).

3) Studi Dokumentasi

Yang biasa dijadikan acuan antara lain adalah KMS, kartu keluarga dan catatan kesehatan lainnya misalnya informasi-informasi tertulis maupun lisan dari tujukan dari berbagai lembaga yang menangani keluarga dan dari anggota tim lainnya. 4) Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik hanya dilakukan pada anggota keluarga yang mempunyai masalah kesehatan.

Pada awal pengkajian perawat harus membina hubungan yang baik dengan keluarga dengan cara:

a. Diawali perawat memperkenalkan diri dengan sopan dan ramah b. Menjelaskan tujuan kunjungan

c. Meyakinkan keluarga bahwa kehadiran perawat adalah untuk membantu keluarga menyelesaikan masalah kesehatan yang ada dikeluarga

(15)

d. Menjelaskan luas kesanggupan bantuan perawat yang dapat dilakukan e. Menjelaskan kepada keluarga siapa tim kesehatan lain yang menjadi

jaringan perawat.

Dalam pengkajian keluarga terdapat tahap-tahap pengkajian yang disebut sebagai penjajakan untuk mempermudah proses pengkajian.

Penjajakan I

Data-data yang dikumpulkan pada penjajakan I antara lain: Data Umum

Identitas kepala keluarga : Nama kepala keluarga (KK) : Umur (KK) :

Pekerjaan kepala keluarga (KK) : Pendidikan kepala keluarga (KK) : Alamat dan nomor telpon :

Komposisi anggota keluarga :

Nama Umur Sex Hub dgn KK Pendidikan Pekerjaan Keterangan

Genogram Genogram harus menyangkut minimal 3 generasi, harus tertera nama, umur, kondisi kesehatan tiap keterangan gambar. Terdapat keterangan gambar dengan symbol berbeda seperti :

(16)

Laki-laki : Perempuan : Meninggal dunia : Tinggal serumah : - - - Menikah : ________________ Bercerai : Tipe keluarga Suku bangsa

Asal suku bangsa keluarga Bahasa yang dipakai bangsa

Kebiasaan keluarga yang dipengaruhi suku yang dapat mempengaruhi kesehatan.

Agama

Agama yang dianut keluarga

(17)

Status social ekonomi keluarga

Rata-rata penghasilan seluruh anggota keluarga Jenis pengeluaran keluarga tiap bulan

Tabungan khusus kesehatan

Barang (harta benda) yang memiliki keluarga (perabot, transportasi) Rekreasi

Riwayat dan tahap perkembangan

Tahap perkembangan keluarga saat ini (ditentukan dengan anak tertua) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi

Riwayat keluarga inti :

Riwayat terbentuk keluarga inti

Penyakit yang diderita keluarga orang tua (adanya penyakit menular atau penyakit menular di keluarga)

Riwayat keluarga sebelumnya (suami istri) :

Riwayat penyakit keturunan dan penyakit menular keluarga

Riwayat kebiasaan atau gaya hidup yang mempengaruhi kesehatan Lingkungan

Karasteristik Rumah : Ukuran rumah (luas rumah) Kondisi dalam dan luar rumah Kebersihan rumah

(18)

Saluran pembuangan air limbah (SPAL) Air bersih

Pengelolaan sampah Kepemilikan rumah Kamar mandi atau WC Denah rumah

Karasteristik tetangga dan komunitas tempat tinggal Apakah ingin tinggal dengan satu suku saja

Aturan dan kesepakatan penduduk setempat Budaya setempat yang mempengaruhi kesehatan Mobilitas geografis keluarga

Apakah keluarga sering pindah rumah

Dampak pindah rumah terhadap kondisi keluarga (apakah menyebabkan stress) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat

Perkumpulan atau organisasi social yang diikuti oleh anggota keluarga Digambarkan dalam ecomap

System pendukung keluarga

Termasuk siapa saja yang terlibat bila keluarga mengalami masalah. Struktur keluarga

Pola komunikasi keluarga

Cara dan jenis komunikasi yang dilakukan keluarga Cara keluarga memecahkan masalah

(19)

Struktur kekuatan keluarga

Respon keluarga bila ada anggota keluarga yang mengalami masalah Power yang digunakan keluarga

Struktur peran (formal dan informal) Peran seluruh anggota keluarga Nilai dan norma keluarga Fungsi keluarga

Fungsi afektif

Bagaimana cara keluarga mengekpresikan perasaan kasih sayang Perasaan saling memiliki

Dukungan terhadap anggota keluarga Saling menghargai, kehangatan. Fungsi sosialisasi

Bagaimana memperkenalkan anggota keluarga dengan dunia luar Interaksi dan hubungan dalam keluarga

Fungsi perawatan kesehatan

Kondisi perawatan kesehatan seluruh anggota keluarga (bukan hanya sakit diapakan tetapi bagaimana prevensi atau promosi)

Bila ditemui data maladaptive, langsung lakukan penjajakan tahap II (berdasarkan 5 tugas keluarga seperti bagaimana keluarga mengenal masalah, mengambil keputusan, merawat anggota keluarga, memodifikasi lingkungan dan memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan).

(20)

Perilaku keluarga dalam penanggulangan sakit

Bagaimana kebiasaan berobat jika ada anggota keluarga yang sakit. Apakah obat beli sendiri atau tidak

Pemenuhan kebutuhan makan Pengadaan makanan sehari-hari Komposisi jenis makanan sehari-hari Cara menyajikan makanan dalam keluarga Pantangan terhadap makanan dalam keluarga Kebiasaan keluarga dalam mengelola air minum Kebiasaan keluarga dalam mengelola makanan Kebiasaan makan dalam keluarga

Pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur Pola tidur siang hari dalam keluarga

Kamar tidur masing-masing dalam keluarga Cara mengatasi bila anggota keluarga sulit tidur Pemenuhan kebutuhan rekreasi dan latihan Keluarga mempunyai rekreasi yang teratur Waktu senggang dalam keluarga

Aktifitas olahraga secara teratur Pemenuhan kebutuhan kebersihan diri

Kebiasaan anggota keluarga dalam pemeliharaan kebersihan diri Pemeliharan kesehatan menggunakan bahan atau alat mandi.

(21)

Stress dan koping keluarga

Stressor jangka panjang dan stressor jangka pendek serta kekuatan keluarga Respon keluarga terhadap stress

Strategi koping yang digunakan Strategi adaptasi yang disfungsional :

Adakah cara keluarga mengatasi masalah secara maladaptive Pemeriksaan fisik (head to toe)

Tanggal pemeriksaan fisik dilakukan

Pemeriksaan kesehatan dilakukan pada seluruh anggota keluarga

Aspek pemeriksaan fisik mulai vital sign, rambut, kepala, mata mulut THT, leher, thorax, abdomen, ektersmitas atas dan bawah, system genitalis.

Harapan keluarga

Terhadap masalah kesehatan keluarga Terhadap petugas kesehatan yang ada Penjajakan II

Pengkajian yang tergolong dalam penjajakan II diantaranya pengumpulan data-data yang berkaitan dengan ketidakmampuan keluarga dalam menghadapi masalah kesehatan sehingga dapat ditegakkan diagnosa keperawatan keluarga. Adapun ketidakmampuan keluarga dalam menghadapi masalah diantaranya: Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan

Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga Ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan

(22)

Ketidakmampuan keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan. b. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah keputusan tentang respon keluarga tentang masalah kesehatan aktual atau potensial, sebagai dasar seleksi intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan keluarga sesuai dengan kewenangan perawat. Tahap dalam diagnosa keperawatan keluarga antara lain:

1) Analisa data

Setelah data terkumpul maka selanjutnya dilakukan analisa data, yaitu mengkaitkan data dan menghubungkan dengan konsep teori dan prinsip yang relevan untuk membuat kesimpulan dalam menentukan masalah kesehatan dan keperawatan keluarga. Cara menganalisa data adalah:

a) Validasi data, yaitu meneliti kembali data yang terkumpul dalam format pengkajian

b) Mengelompokan data berdasarkan kebutuhan bio-psiko-sosial dan spiritual

c) Mengembangkan standart

d) Membuat kesimpulan tentang kesenjangan yang diketemukan

Ada 3 norma yang perlu diperhatikan dalam melihat perkembangan kesehatan keluarga untuk melakukan analisa data, yaitu:

(1) Keadaan kesehatan yang normal bagi setiap anggota keluarga, yang meliputi:

- Keadaan kesehatan fisik, mental, dan sosial anggota keluarga

- Keadaan pertumbuhan dan perkembangan anggota keluarga

- Keadaan gizi anggota keluarga - Status imunisasi anggota keluarga - Kehamilan dan KB

(23)

(2) Keadan rumah dan sanitasi lingkungan, yang meliputi: - Rumah yang meliputi ventilasi, penerangan,

kebersihan, kontruksi, luas rumah dan sebagainya - Sumber air minum

- Jamban keluarga

- Tempat pembuangan air limbah

- Pemanfaatan pekarangan yang ada dan sebagainya Karakteristik keluarga, yang meliputi:

Sifat-sifat keluarga Dinamika dalam keluarga Komunikasi dalam keluarga Interaksi antar anggota keluarga

Kesanggupan keluarga dalam membawa perkembangan anggota keluarga Kebiasaan dan nilai-nilai yang berlaku dalam keluarga

Dalam proses analisa, data dikelompokan menjadi 2 yaitu data subyektif dan objektif.

No. DATA ETIOLOGI MASALAH

Data subyektif :

Data Objektif :

(24)

2) Perumusan masalah

Perumusan masalah keperawatan keluarga dapat diarahkan kepada sasaran individu dan atau keluarga. Komponen diagnosis keperawatan keluarga meliputi problem, etiologi dan sign/simpton.

a) Masalah (Problem)

Tujuan penulisan pernyatan masalah adalah menjelaskan status kesehatan atau masalah kesehatan secara jelas dan sesingkat mungkin. Daftar diagnosa keperawatan keluarga berdasarkan NANDA (1995) dalam Setiadi (2008) adalah sebagi berikut: (1) Aktual (terjadi defisit/gangguan kesehatan)

Masalah ini memberikan gambaran berupa tanda dan gejala yang jelas mendukung bahwa benar-benar terjadi

- Ketidakefektifan bersihan jalan napas - Ketidakefektifan pola napas

- Gangguan pertukaran gas - Nyeri akut

- Gangguan tumbuh kembang (2) Resiko (ancaman kesehatan)

Masalah ini sudah ditunjang dengan data yang akan mengarah pada timbulnya masalah kesehatan bila tidak segera ditangani.

- Resiko terjadi infeksi (penularan penyakit) - Resiko peningkatan suhu tubuh

- Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh - Resiko kurang volume cairan dan elektrolit (3) Potensial/sejahtera

- Status kesehatan berada pada kondisi sehat dan ingin meningkat lebih optimal.

- Potensial peningkatan pemeliharaan kesehatan - Potensial peningkatan proses keluarga

- Potensial peningkatan koping keluarga - Resiko terhadap tindakan kekerasan

(25)

(4) Sindrom

Diagnosa yang terdiri dari kelompok diagnosa aktual dan resiko tinggi yang diperkirakan akan muncul karena suatu kejadian/ situasi tertentu.

Menurut NANDA ada 2 diagnosa keperawatan sindrom, yaitu: Syndrom trauma pemerkosaan (rape trauma syndrome) Pada kelompok ini menunjukan adanya tanda dan gejala, seperti cemas, takut, sedih gangguan istirahat tidur dan lain-lain. Resiko sindrom penyalahgunaan (risk for disuse syndrome) Misalnya resiko gangguan proses pikir, resiko gangguan gambaran diri dan lain-lain.

b) Penyebab (Etiologi)

Dikeperawatan keluarga etiologi ini mengacu kepada 5 tugas keluarga, yaitu:

(1) Mengenal masalah kesehatan setiap anggotanya

(2) Mengambil keputasan untuk melakukan tindakan yang tepat. (3) Memberikan keperawatan anggotanya yang sakit atau yang tidak

dapat membantu dirinya sendiri karena cacat atau usiannya yang terlalu muda

(4) Mempertahankan suasana dirumah yang menguntungkan kesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarga (5) Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan

lembaga kesehatan (pemanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada) c) Tanda (Sign)

Tanda dan gejala adalah sekumpulan data subyektif dan objektif yang diperoleh perawat dari keluarga yang mendukung masalah dan penyebab. Tanda dan gejala dihubungkan dengan kata-kata “yang dimanifestasikan dengan”.

(26)

1 Sifat Masalah Skala : Potensial = 1 Resiko = 2 Aktual = 3 1 2 Kemungkinan masalah untuk di ubah : Skala : Mudah = 2 Sebagian = 1 Tidak dapat = 0 2

3 Potensial masalah untuk di cegah : Skala : Tinggi = 3 Cukup = 2 Rendah = 1 1 4 Menonjolnya masalah : Cegah Skala : Segera ditangani = 2 1

(27)

Masalah ada tapi tidak perlu = 1 Masalah tidak dirasakan = 0

Jumlah

3) Prioritas masalah

Untuk menentukan prioritas terhadap diagnosa keperawatan keluarga yang ditemukan dihitung dengan menggunakan skala prioritas (skala Baylon dan Maglaya) sebagi berikut:

a) Tentukan skor untuk tiap kriteria

b) Skor dibagi dengan angka tertinggi dan kalikan dengan bobot c) Skor x Bobot Angka tertinggi

d) Jumlahkan skor untuk semua kriteria

e) Skor tinggi adalah 5, dan sama untuk seluruh bobot f) Penentuan prioritas sesuai dengan kriteria skala:

a) Kriteria I, yaitu sifat masalah untuk mengetahui sifat masalah ini mengacu pada etiologi masalah kesehatan yang terdiri dari 3 kelompok besar, yaitu:

1) Ancaman kesehatan

Keadaan yang disebut dalam ancaman kesehatan anatara lain: a) Penyakit keturunan (asma, DM, dan sebagainya)

b) Anggota keluarga ada yang menderita penyakit menular (TBCgonore hepatitis, dan sebagainya)

c) Jumlah anggota keluarga terlalu bessar dan tidak sesuai dengan kemampuan sumber daya keluarga

d) Resiko terjadi kecelakaan (lingkungan rumah tidak aman)

e) Kekurangan atau kelebihan gizi dari masing-masing anggota keluarga

(28)

g) Hubungan keluarga tidak harmonis

h) Hubungan orang tua dan anak yang tegang i) Orang tua yang tidak dewasa

j) Sanitasi lingkungan yang buruk, diantaranya: k) Ventilasi kurang baik

l) Sumber air minum tidak memenuhi syarat m) Polusi udara

n) Tempat pembuangan sampah yang tidak sesuai syarat

o) Tempat pembuangan tinja yang mencemari sumber air minum p) kebisingan

q) Kebiasaan yang merugikan kesehatan, seperti: (1) Merokok

(2) Minum minuman keras (3) Makan obat tanpa resep (4) Makan daging mentah (5) Hygiene perseorangan jelek (6) Sifat kepribadian

(7) Riwayat persalinan sulit (8) Peran yang tidak sesuai

(9) Imunisasi anak yang tidak lengkap (10) Kurang / tidak sehat

Yaitu kegagalan dalam memantapkan kesehatan, seperti keadaan sakit (sesudah atau sebelum didiagnosa) dan gagal dalam pertumbuhan dan perkembangan yang tidak sesuai dengan pertumbuhan normal.

b) Kriteria II, yaitu kemungkinan masalah dapat diubah

Pengetahuan yang ada sekarang, teknologi dan tindakan untung menangani masalah Sumber daya keluarga dalam bentuk fisik, keuangan, dan tenaga Sumber daya perawat dalam bentuk pengetahuan, keterampilan,dan waktu Sumber daya masyarakat dalam bentuk fasilitas, organisasi dalam masyarakat dan songkongan masyarakat

(29)

c) Kriteria III, yaitu potensial masalah dapat dicegah, faktor-faktor yang perlu diperhatikan adalah:

(1) Kepelikan dari masalah yang berhubungan dengan penyakit/masalah (2) Lamanya masalah yang berhubungan dengan jangka waktu masalah (3) Tindakan yang sedang dijalankan adalah tindakan-tindakan yang tepat

dalam memperbaiki masalah

(4) Adanya kelompok “High Risk” atau kelompok yang sangat peka menambah potensi untuk mencegah masalah

d) Kriteria IV, yaitu menonjolnya masalah

Prioritas didasarkan pada diagnosa keperawatan yang mempunyai skor tertinggi dan disusun sampai skor terendah

c. Perencanaan Keperawatan

Perencanaan adalah bagian dari fase pengorganisasian dalam proses keperawatan keluarga yang meliputi penentuan tujuan perawatan (jangka panjang/ pendek), penepatan standart dan kriteria serta menentukan perencanaan untuk mengatasi masalah keluarga.

1) Penetapan Tujuan

Adalah hasil yang ingin dicapai untuk mengatasi masalah diagnosa keperawatan keluarga. Bila dilihat dari sudut jangka waktu. Maka tujuan perawatan keluarga dapat dibagi menjadi:

a) Tujuan Jangka panjang

Menekankan pada perubahan perilaku dan mengarah kepada kemampuan mandiri. Dan dengan waktu yang ditentukan, contoh: setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2 hari seluruh keluarga Tn. S dapat merawat anggota keluarga yang sakit dan dapat mencegah penularan penyakit.

(30)

Ditekankan pada keadaan yang bisa dicapai setiap harinya yang dihubungkan dengan keadaan yang mengancam kehidupan. Contoh: keluarga Tn. S dapat mengenal dampak permasalahan penyakit Ny. Y dengan menjelaskan akibat yang terjadi bila Ny. Y tidak segera diobati. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan tujuan keperawatan adalah:

(1) Berdasarkan masalah yang telah dirumuskan (2) Merupakan hasil akhir yang ingin dicapai

(3) Harus objektif atau merupakan tujuan operasional langsung dari kedua belah pihak (keluarga dan perawat)

(4) Mencangkup kriteria keberhasilan sebagai dasar evaluasi

c) Penetapan Kriteria dan Standart

Merupakan gambaran tentang faktor-faktor yang dapat memberi petunjuk bahwa tujuan telah tercapai dengan digunakan dalam membuat pertimbangan. Bentuk dari standart dan kriteria ini adalah pernyataan verbal (pengetahuan), sikap dan psikomotor

No KRITERIA STANDART

1. Pengetahuan  Keluarga mampu menyatakan

pengertian

 Keluarga mampu menyebutkan penyebab

 Keluarga dapat menyebutkan akibat

(31)

2. Sikap  keluarga mampu memutuskan untuk membuat rencana control selama ….

 Keluarga mampu …

3. Psikomotor  Keluarga mengolah makanan …

Keluarga menyajikan makanan …

 Keluarga mampu melakukan ….

Mendiskusikan tentang konsekuensi tiap tindakan

a) Memberikan kepercayaan diri dalam merawat anggota keluarga yang sakit, dengan Mengawasi keluarga melakukan perawatan

b) Membantu keluarga untuk menemukan cara bagaimana membuat lingkungan menjadi sehat, dengan cara:

c) Menemukan sumber-sumber yang dapat digunakan keluarga d) Melakukan perubahan lingkungan keluarga seoptimal mungkin

e) Memotivasi keluarga untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada, dengan cara:

(1) Mengenalkan fasilitas kesehatan yang ada di lingkungan keluarga (2) Membantu keluarga menggunakan fasilitas kesehatan yang ada

Rencana tindakan keperawatan keluarga diarahkan untuk mengubah pengetahuan, sikap dan tindakan keluarga, sehingga pada akhirnya keluarga mampu memenuhi kebutuhan kesehatan angota keluarganya dengan bantuan minimal dari perawat.

(32)

Implementasi atau tindakan adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan. Ada 3 tahap dalam tindakan keperawatan keluarga, yaitu:

Tahap I : Persiapan

Persiapan ini meliputi kegiatan-kegiatan: Kontrak dengan keluarga

Mempersiapkan peralatan yang diperlukan Mempersiapkan lingkungan yang kondusif Mengidentifikasi aspek-aspek hokum dan etik

Kegiatan ini bertujuan agar keluarga dan perawat mempunyai kesiapan fisik dan psikis pada saat implementasi

Tahap II : Intervensi

Tindakan keperawatan keluarga berdasarkan kewenangan dan tanggung jawab perawat secara professional adalah:

a. Independent

Adalah suatu kegiatan yang dilaksankan oleh perawat sesuai dengan kompetensi keperawatan tanpa petunjuk dan perintah dari tenaga kesehatan lainnya. Lingkup tindakan independent ini adalah:

1) Mengkaji terhadap klien dan keluarga melalui riwayat keperawatan dan pemeriksaan fisik

2) Merumuskan diagnosa keperawatan 3) Mengidentifikasi tindakan keperawatan 4) Melaksanakan rencana pengukuran 5) Merujuk kepada tenaga kesehatan lain 6) Mengevaluasi respon klien

(33)

Tipe tindakan Independent Keperawatan dapat dikategorikan menjadi 4 yaitu:

1) Tindakan diagnostik 2) Wawancara

3) Observasi dan pemeriksaan fisik

4) Melakukan pemeriksaan laboratorium sederhana (Hb) dan membaca hasil dari pemeriksaan laboratorium

Tindakan terapeutik

Tindakan untuk mencegah, mengurangi, dan mengatasi masalah klien Tindakan edukatif

Tindakan untuk merubah perilaku klien melalui promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan kepada klien.

Tindakan merujuk

Tindakan kerjasama dengan tim kesehatan lainnya b. Interdependent

Yaitu suatu kegiatan yang memerlukan suatu kerjasama dengan tenaga kesehatan lainnya.

c. Dependent

Yaitu pelaksanaan rencana tindakan medis, misalnya dokter menuliskan “Perawatan kolostomy”, kemudian perawat melakukan tindakan tersebut sesuai dengan kebutuhan klien.

3) Tahap III : Dokumentasi

Pelaksanaan tindakan keperawatan harus diikuti oleh pencatatan yang lengkap dan akurat terhadap suatu kejadian dalam proses keperawatan. cara:

(34)

g) Menggunakan alat dan fasilitas yang ada dirumah

e. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi adalah perbandingan sistematis dan terencana tentang kesehatan keluarga dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara bersinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya. Evaluasi disusun mengunakan SOAP secara operasional dengan tahapan sumatif dan formatif.

1) Evaluasi berjalan (sumatif)

Eavaluasi jenis ini dikerjakan dalam bentuk pengisian format catatan perkembangan dengan berorientasi kepada masalah yang dialami oleh keluarga. Format yang dipakai adalah format SOAP.

2) Evaluasi akhir (formatif)

Evaluasi jenis ini dikerjakan dengan cara membandingkan antara tujuan yang akan dicapai. Bila terdapat kesenjangan diantara keduanya, mungkin semua tahap dalam proses keperawatan perlu ditinjau kembali, agar didapat datadata, masalah atau rencana yang perlu dimodifikasi.

Metode yang dipakai dalam evaluasi antara lain adalah: a) Observasi langsung

b) Wawancara

c) Memeriksa laporan d) Latihan stimulasi

Faktor yang dievaluasi ada beberapa komponen, meliputi: a) Kognitif (pengetahuan)

b) Lingkup evaluasi pada kognitif adalah: c) Pengetahuan keluarga mengenai penyakit d) Mengontrol gejala-gejalanya

e) Pengobatan

f) Diet, aktifitas, dan persediaan alat-alat g) Risiko komplikasi

(35)

3) Pencegahan

a) Afektif (status emosional)

Dengan cara observasi secara langsung yaitu dengan cara observasi ekspresi wajah, postur tubuh, nada suara, isi pesan secara verbal pada waktu melakukan wawancara.

b) Psikomotor

Yaitu dengan cara melihat apa yang dilakukan keluarga sesuai dengan yang diharapkan.Penentuan keputusan pada tahap evaluasi ada 3 kemungkinan, yaitu:

(1) Keluarga telah mencapai hasil yang ditentukan dalam tujuan, sehingga rencana mungkin dihentikan

(2) Keluarga masih dalam proses mencapai hasil yang telah ditentukan, sehingga perlu penambahan waktu, resources, dan intervensi sebelum tujuan berhasil

(3) Keluarga tidak dapat mencapai hasil yang telah ditentukan, sehingga perlu:

(a) Mengkaji ulang masalah atau respon yang lebih akurat (b) Membuat outcome yang baru

Intervensi keperawatan harus dievaluasi dalam hal ketepatan untuk mencapai tujuan sebelumnya.

8. Konsep dasar Keperawatan

a) Diare adalah kondisi yang didefinisikan oleh peningkatan frekuensi defekasi (lebih dari 3 kali sehari), peningkatan jumlah feses (lebih dari 200 gram per hari), dari perubahan konsistensi (feses encer).

Menurut Depkes RI, diare adalah suatu penyakit dengn tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, yang melembek

(36)

sampai mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari.

Menurut Suradi dan Rita, diare diartikan sebagai suatu keadaan dimana terjadinya kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi buang air besar satu kali atau lebih dengan bentuk encer atau cair.

b) Klasifikasi

Berdasarkan lama diare

(1) Diare Akut

Diare akut dimana terjadi sewaktu-waktu dan berlangsung selama14 hari dengan pengeluaran tinjak lunak atau cair yang dapat atau tanpa disertai lendir atau darah. Diare akut dapat menyebabkan dehidrasi dan bila kurang megonsusmsi makanan akan mengakibatkan kurang gizi.

(2) Diare Kronik

Diare kronik berlangsung secara terus-menerus selama lebih dari 2 minggu atau lebih dari 14 hari secara umum diikuti kehilangan berat badan secara signifikan dan malasah nutrisi.

(3) Diare persisten

Diare persisten adalah diare akut dengan atau tanpa disertai darah berlanjut sampai 14 hari atau lebih. Jika terdapat dehidrasi sedang atau berat diklasifikasikan sebagai berat atau kronik. Diare persisten menyebabkan kehilangan berat badan karena pengeluaran volume faces dalam jumlah banyak dan berisiko mengalami diare. Diare persisten dibagi menjadi dua yaitu diare persisten berat dan diare persisten tidak berat atau ringan. Diare persisten berat merupakan diare yang berlangsung selama ≥ 14 hari, dengan tanda dehidrasi, sehingga anak memerlukan perawatan di rumah sakit. Sedangkan diare persisten tidak berat atau ringan merupakan diare

(37)

yang berlangsung selama 14 hari atau lebih yang tidak menunjukkan tanda dehidrasi.

c) Faktor resiko

Cara penularan diare pada umumnya melalui cara fekal-oral yaitu melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh eteropatogen, atau kontak langsung tangan dengan penderita atau barang-barang yang tercemar tinja penderita atau tidak langsung melalui lalat.

Selain hal-hal tersebut beberapa factor penderita dapat meningkatkan kecenderungan untuk dijangkiti diare antara lain : Gizi buruk, imunodefisiensi, berkurangnya keasaman lambung, menurunnya motilitas usus, menderita campak dalam 4 minggu terakhir dan factor genetik.

(1) Factor umur

Sebagai besar episode diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan. Insidensi tertinggi terjadi pada kelompok umur 6 sampai 12 bulan pada saat diberikan makanan pendamping asi. Pola ini menggambarkan kombinasi efek penurunan kadar anti body ibu, kurangnya kekebalan aktif bayi, pengenalan makanan yang mungkin terkontaminasi bakteri tinja dan kontak langsung dengan tinja manusia atau binatang pada saat bayi mulai merangkak. Kebanyakan enteropatogen merangsang paling tidak sebagian kekebalan melawan infeksi atau penyakit yang berulang, yang membantu menjelaskan menurunnya insiden penyakit pada anak yang lebih besar dan pada orang dewasa.

(2) Infeksi asimtomatik

Sebagian besar infeksi usus bersifat asimtomatik dan proporsi asimtomatik ini meningkat setelah umur 2 tahun dikarenakan pembentukan imunitas aktif pada infeksi asimtomatik tinja penderita mengandung firus, bakteri atau kista protozoa yang infeksius. (3) Factor musim

(38)

Variasi pola musiman diare dapat terjadi menurut letak geografis. Di daerah sub tropik, diare karena bakteri lebih sering terjadi pada musim panas, sedangkan diare kena firus terutama rota firus puncaknya terjadi pada musim dingin. Di daerah tropic ( termasuk Indonesia ), diare yang disebabkan oleh rotavirus dapat terjadi sepanjang tahun dengan peningkatan sepanjang musim kemarau, sedangkan diare karena bakteri cenderung meningkat pada musi hujan.

(4) Epidemic dan pandemic

Vibrio cholera 0.1 shigella dysentriae 1 dapat menyebabkan epidemic dan pandemic yang mengakibatka tingginya angka kesakitan dan kematian pada semua golongan usia. Sejak tahun 1961, kolera yang disebabka oleh V. Cholera 0.1 biotipe Eltor telah menyebar ke Negara-negara di Afrika Latin, Asia, Timur Tengah dan dibeberapa daerah di Amerika Utara dan Eopa. Dalam kurun waktu yang sama Shigella dysentriae tipe 1 menjadi penyebab wabah ang besar di Amerika Tengah dan terakhir di Afrika Tengah dan Asia Selatan. Pada akhir tahun 1992, dikenal strain baru Vibrio cholera 0139 yang menyebabkan epidemi di asia dan lebih dari 11 negara mengalami wabah.

d) Patofisiologi

Diare dapat disebabkan oleh satu atau lebih

patofisiologi/patomekanisme dibawah ini: (1) Diare sekretorik

Diare tipe ini disebabkan oleh meningkatnya sekresi air dan elektrolit dari usus, menurunnya absorpsi. Yang khas pada diare ini yaitu secara klinis ditemukan diare dengan volume tinja yang banyak sekali. Diare tipe ini akan tetap berlangsung walaupun dilakukan puasa makan/minum.

(39)

Diare tipe ini disebabkan meningkatnya tekanan osmotik intralumen dari usus halus yang disebabkan oleh obat-obat/zat kimia yang hiperosmotik (antara lain MgSO4, Mg(OH)2), malabsorpsi umum dan defek dalam absorpsi mukosa usus missal pada defisiensi disakaridase, malabsorpsi glukosa/galaktosa. (3) Malabsorpsi asam empedu dan lemak

Diare tipe ini didapatkan pada gangguan pembentukan/produksi micelle empedu dan penyakit-penyakit saluran bilier dan hati. (4) Defek sistem pertukaran anion/transport elektrolit aktif di enterosit.

Diare tipe ini disebabkan adanya hambatan mekanisme transport aktif NA+ K+ ATPase di enterosit dan absorpsi Na+ dan air yang abnormal.

(5) Motilitas dan waktu transit usus yang abnormal

Diare tipe ini disebabkan hipermotilitas dan iregularitas motilitas usus sehingga menyebabkan absorpsi yang abnormal di usus halus. Penyebabnya antara lain: diabetes mellitus, pasca vagotomi, hipertiroid.

(6) Gangguan permeabilitas usus

Diare tipe ini disebabkan permeabilitas usus yang abnormal disebabkan adanya kelainan morfologi membran epitel spesifik pada usus halus.

(7) Diare inflamasi

Proses inflamasi di usus halus dan kolon menyebabkan diare pada beberapa keadaan. Akibat kehilangan sel epitel dan kerusakan tight junction, tekanan hidrostatik dalam pembuluh darah dan limfatik menyebabkan air, elektrolit, mukus, protein dan seringkali sel darah merah dan sel darah putih menumpuk dalam lumen. Biasanya diare akibat inflamasi ini berhubungan dengan tipe diare lain seperti diare osmotic dan diare sekretorik.

(40)

Infeksi oleh bakteri merupakan penyebab tersering dari diare. Dari sudut kelainan usus, diare oleh bakteri dibagi atas non-invasif dan invasif (merusak mukosa). Bakteri non-invasif menyebabkan diare karena toksin yang disekresikan oleh bakteri tersebut.

e) Manifestasi Klinik

Pada anak yang mengalami diare tanpa dehidrasi (kekurangan cairan), tanda-tandanya: Berak cair 1-2 kali sehari, muntah ), haus (-), nafsu makan tidak berkurang masih ada keinginan untuk bermain. Pada anak yang mengalami diare dengan dehidrasi ringan/sedang. Tanda-tandanya : berak cair 4-9 kali sehari, kadang muntah 1-2 kali sehari, suhu tubuh kadang meningkat, haus, tidak ada nafsu makan, badan lesu lemas. Sedangkan pada anak yang mengalami diare dengan dehidrasi berat. Tanda-tandanya: berak cair terus menerus, muntah terus menerus, haus, mata cekung, bibir kering dan biru, tangan dan kaki dingin, sangat lemah, tidak nafsu makan, tidak ada keinginan untuk bermain, tidak BAK selama 6 jam atau lebih, kadang-kadang dengan kejang dan panas tinggi.

Diare akut karena infeksi dapat disertai muntah-muntah, demam, tenemus, hematoschezia, nyeri perut dan atau kejang perut. Akibat paling fatal dari diare yang berlangsung lama tanpa rehidrasi yang adekuat adalah kematian akibat dehidrasi yang menimbulkan rejatan hipovolemik atau gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolik yang berlanjut. Seseorang yang kekurngan cairan akan merasa haus, berat badan berkurang, ubun-ubun dan mata cekung, membrane mukosa kering, tulang pipi tampak lebih menonjol, turgor kulit jelas (elastisitas kulit menurun) serta suara menjadi serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan oleh deplesi air yang isotonik. Karena kehilangan bikarbonat (HCO3) maka perbandingannya dengan asam kerbonat berkurang mengakibatkan penurunan pH darah yang merangsang pusat

(41)

pernapasan sehingga frekuensi pernapasan meningkat dan lebih dalam (pernapasan Kussmaul)

Gangguan kardiovaskuler pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa rejatan dengan tanda-tanda denyut nadi cepat (> 120 x/menit), tekanan darah menurun sampai tidak terukur. Pasien mulai gelisah, muka pucat, akral dingin dan kadang-kadang sianosis. Karena kekurangan kalium pada diare akut juga dapat timbul aritmia jantung. Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun sampai timbul oliguria/anuria. Bila keadaan ini tidak segera diatasi akan timbul penyakit nekrosis tubulus ginjal akut yang berarti suatu keadaan gagal ginjal akut.

f) Komplikasi

(1) Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonic atau hipertonik).

(2) Renjatan hipovolemik.

(3) Hipokalemia (dengan gejala mekorismus, hipotoni otot, lemah, bradikardi, perubahan pada elektro kardiagram).

(4) Hipoglikemia.

(5) Introleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim lactase karena kerusakan vili mukosa, usus halus.

(6) kejang terutama pada dehidrasi hipertonik.

(7) malnutrisi energi, protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga mengalami kelaparan.

g) Pencegahan

Pada dasarnya ada tiga tingkatan pencegahan penyakit secara umum yakni : pencegahan tingkat pertama (Primary Prevention) yang meliputi promosi kesehatan dan pencegahan khusus, pencegahan tingkat kedua (Secondary Prevention) yang meliputi diagnosis dini serta pengobatan yang tepat, dan pencegahan tingkat ketiga (Tertiary prevention) yang meliputi pencegahan terhadap cacat dan rehabilitasi.

(42)

(1) Pencegahan Primer

Pencegahan primer penyakit diare dapat ditunjukkan pada factor penyebab, lingkungan dan factor penjamu. Untuk factor penyebab dilakukan berbagai upaya agar mikroorganisme penyebab diare dihilangkan. Peningkatan air bersih dan sanitasi lingkungan, perbaikan lingkungan biologis dilakukan untuk memodifikasi lingkungan. Untuk meningkatkan daya tahan tubuh dari penjamu akan dapat dilakukan peningkatan status gizi dan pemberian imunisasi.

(2) Penyediaan air bersih

Air adalah salah satu kebutuhan pokok hidup manusia, bahkan hamper 70% tubuh manusia mengandung air. Air dipakai untuk keperluan makan, minum, mandi, dan pemenuhan kebutuhan yang lain, maka untuk keperluan tersebut WHO dukungan secara mental kepada anak. Anak yang menderita diare selain diperhatikan kebutuhan fisik juga kebutuhan psikologis harus dipenuhi dan kebutuhan social dalam berinteraksi atau bermain dalam pergaulan dengan teman sepermainan.

h) Penatalaksanaan

(1) Pada anak yang mengalami diare tanpa dehidrasi (kekurangan cairan)

Tindakan :

- Untuk mencegah dehidrasi, beri anak minum lebih banyak dari biasanya.

- ASI (Air Susu Ibu) diteruskan - Makanan diberikan seperti biasanya

- Bila keadaan anak bertambah berat, segera bawa ke Puskesmas terdekat

(2) Pada anak yang mengalami diare dengan dehidrasi ringan/sedang Tindakan :

(43)

- ASI (Air Susu Ibu) diteruskan - Teruskan pemberian makanan

- Sebaiknya yang lunak, mudah dicerna dan tidak merangsang - Bila tidak ada perubahan segera bawa kembali ke Puskesmas

terdekat.

(3) Pada anak yang mengalami diare dengan dehidrasi berat Tindakan :

- Segera bawa ke Rumah Sakit / Puskesmas dengan fasilitas Perawatan

- Oralit dan ASI diteruskan selama masih bias diminum (4) Takaran Pemberian Oralit

- Dibawah 1 tahun : 3 jam pertama 1,5 gelas selanjutnya 0,5 gelas setiap kali mencret

- Dibawah 5 tahun (anak balita) : 3 jam pertama 3 gelas, selanjutnya 1 gelas setiap kali mencret

- Anak diatas 5 tahun : 3 jam pertama 6 gelas, selanjutnya 1,5 gelas setiap kali mencret

- Anak diatas 12 tahun dan dewasa : 3 jam pertama 12 gelas, selanjutnya 2 gelas setiap kali mencret (1 gelas : 200cc) (5) Dasar Pengobatan Diare

Pemberian cairan, jenis cairan, cara memberikan cairan, jumlah pemberiannya.

(a) Cairan per oral

Pada klien dengan dehidrasi ringan dan sedang diberikan peroral berupa cairan yang bersifat NaCl dan NaHCO3 dan glukosa. Untuk diare akut dan kolera pada anak diatas 6 bulan kadar Natrium 90 mEg/l. pada anak dibawah umur 6 bulan dengan dehidrasi ringan-sedang kadar natrium 50-60 mEg/l/ formula lengkap disebut oralit, sedangkan larutan gula garam dan tajin disebut formula yang tidak lengkap karena banyak mengandung NaCl dan sukrosa.

(44)

(b) Cairan parentral

Diberikan pada klien yang mengalami dehidrasi berat, dengan rincian sebagai berikut:

Untuk anak umur 1 bulan – 2 tahun berat badan 3-10 kg 1 jam pertama : 40 ml/kgBB/menit = 3tetes/kgBB/menit (infus set berukuran 1 ml=15 tetes atau 13 tetes/kgBB/menit (set infus 1 ml=20 tetes). 7 jam berikutnya : 12 ml/kgBB/menit = 3tetes/kgBB/menit (infus set berukuran 1 ml=15tetes atau 4 tetes/kgBB/menit (set infus 1 ml=20 tetes). 16 jam berikutnya : 125 ml/kgBB/oralit

Untuk anak lebih dari 2-5 tahun dengan berat badan 10-15 kg 1 jam pertama : 30 ml/kgBB/jam atau 8 tetes/jgBB/menit (1 ml = 15tetes atau 10tetes/kgBB/menit (1ml = 20tetes).

Untuk anak lebih dari 5-10 tahun dengan berat badan 15-25 kg : 1 jam pertama : 20 ml/kgBB/jam atau 5 tetes/kgBB/menit (1ml = 15tetes atau 7 tetes/kgBB/menit (1 ml=20tetes). 7 jam berikut : 10 ml/kgBB/jam atau 2,5 tetes/kgBB/menit (1ml = 15 tetes atau 3 tetes/kgBB/menit (1 ml = 20 tetes). 16 jam berikut : 105 ml/kgBB oralit per oral.

Untuk bayi baru lahir dengan berat badan 2-3 kg kebutuhan cairan : 125 ml + 100 ml + 25 ml = 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian glukosa 5% + 1 bagian NaHCO3 11 2⁄ %. Kecepatan : 4 jam pertama : 25 ml/kgBB/jam atau 6 tetes/kgBB/menit (1 ml = 15 tetes) 8 tetes/kg/BB/menit (1 ml=20 tetes).

Untuk bayi berat badan lahir rendah : kebutuhan cairan: 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian glukosa 10% + 1 bagian NahCO3 11 2⁄ %).

Referensi

Dokumen terkait

Mubaryanto (1998) mengatakan pendapatan rumah tangga adalah pendapatan yang diperoleh oleh seluruh anggota keluarga, baik suami, istri maupun anak. Pendapatan rumah

Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini antara lain Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti: kebutuhan tempat tinggal, privasi dan rasa aman, Membantu anak

harta pribadi suami dan harta pribadi istri.. Karena terjadi pemisahan harta perkawinan, maka untuk keperluaan biaya rumah tangga yang meliputi biaya hidup dan biaya pendidikan

Terjalinnya ikatan lahir dan batin merupakan dasar utama dalam membentuk dan membina keluarga yang bahagia dan kekal. Suami-isteri yang tinggal berjauhan atau

Ada beberapa jenis keluarga, yakni : keluarga inti yang terdiri dari suami, istri, dan anak atau anak-anak; keluarga konjugal yang terdiri dari pasangan dewasa (ibu dan

a) Tradisional Nuclear, adalah keluarga inti (ayah,ibu, anak) tinggal dalam satu rumah ditetapkan oleh sanksi-sanksi legal dalam suatu ikatan perkawinan, satu atau keduanya

Keluarga baru kawin tinggal pada rumah keluarga pengantin wanita atau yang berdekatan Keluarga baru kawin tinggal pada rumah keluarga istri untuk satu masa tertentu melahirkan anak

Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami, istri dan anak yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah, dan mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan