• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Dasar Keperawatan

Dalam dokumen ASKEP dan HIPERTENSI dan SANDRI.docx (Halaman 5-88)

BAB II. TINJAUAN TEORITIS

2.2. Konsep Dasar Keperawatan

2.2.2. Diagnosa Keperawatan 2.2.3. Intervensi/Rasional 2.2.4. Evaluasi

BAB.III. TINJAUAN KASUS 3.1. Pengkajian 3.2. Analisa Data

3.3. Diagnosa Keperawatan 3.4. Prioritas Masalah 3.5. Asuhan Keperawatan

3.6. Implementasi Keperawatan dan Evaluasi BAB.IV. PEMBAHASAN

4.2. Diagnosa Keperawatan 4.3. Intervensi Keperawatan 4.4. Implementasi Keperawatan 4.5. Evaluasi

BAB.V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan

5.2. Saran DAFTAR PUSTAKA FOTO DOKUMENTASI DAFTAR KONSUL

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1. Konsep Dasar Medis 2.1.1. Pengertian

Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan darah di atas normal yang ditunjukkan oleh angka sistolic (bagian atas) dan angka bawah (diastolic) pada alat pemeriksaan tensi darah (Aizid,2011).

Hipertensi adalah kondisi abnormal dari hemodinamik, dimana menurut WHO tekanan sistolik 140 mmHg dan tekanan diastolic >90 mmHg (untuk usia < 60 tahun) dan tekanan sistolik > 160 mmHg dan atau tekanan diastolic > 90 mmHg (untuk usia > 60 tahun )(Nugroho,2011).

Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal (Sunaryati,2014).

2.1.2. Anatomi Dan Fisiologi 1. Anatomi

(www.google.com/anatomi-jantung.html) 2. Fisiologi

a. Jantung

Jantung merupakan organ tubuh yang terletak di dalam rongga dada pada mediastinum anterior, berupa segitiga dengan bentuk terbalik dimana bagian puncak atau aspek dibawah dan basis atau dasar diatas dengan berat kurang lebih 300 gran atau sebesar kepalan tangan orang itu dan berupa otot.

b. Jantung terdiri dari 3 lapisan yaitu : 1. Epicardium atau lapisan luar 2. Myocardium atau lapisan tengah 3. Endocardium atau lapisan dalam c. Jantung terdiri dari 4 ruangan yaitu :

1. Atrium kanan (right atrium)

Berupa rongga berotot berbatasan langsung dari muara vena cava superior dan bekas dari foramen ovale. Atrium kanan dindingnya sangat tipis berpungsi untuk pembawa darah venosa yang berasal dari sirkulasi sistemik, kemudian dibawa ventrikel kanan menuju paru-paru. Lebih kurang 80% darah yang berasal dari vena masuk ke atrium kanan ini mengalir secara pasif ke dalam ventrikel kanan melalui katup trikuspidalis. 20% darah masuk ke ventrikel kanan ini terjadi selama kontraksi atrium. Proses pengaliran secara aktif ini disebut atriol kick atau dorongan.

2. Ventrikel kanan (right ventrikel)

Rongga berupa segitiga secara anatomis terbagi menjadi bagian atas muara truncus pulmonalis dan bagian bawah katup trikuspidalis yang mampu menghasilkan tekanan yang rendah suatu kontraksi yang cukup besar untuk mengalirkan darah ke dalam arteri pulmonalis menuju paru-paru. Sirkulasi pulmuner merupakan system aliran ringan daripada beban kerja ventrikel kiri, akibatnya tebal dinding ventrikel kanan lebih tipis dari dinding vetrikel kiri.

3. Atrium kiri (left atrium)

Berupa rongga yang lebih tebal dari rongga atrium kanan sebagai penampung darah dari vena pulmonalis, yang merupakan darah sudah dioksigenasi dari paru-paru. Antara vena pulmonalis dan atrium kiri tidak ada katup sejati, akibatnya jika terjadi peningkatan tekanan pada atrium kiri menyebabkan penyumbatan atau hambatan daerah pulmuner atrium kiri. 4. Ventrikel kiri (left ventrikel)

Ventrikel kiri berbentuk seperti telor, dasarnya dibentuk oleh cincin dari katup mitral, dasar ventrikel kiri lebih kurang 3-4 x lebih tebal dari ventrikel kanan dan merupakan 75% berat keseluruhan organ tersebut.

d. Katup jantung terdiri atas 4 yaitu : 1. Katup trikuspidalis

Merupakan katup yang memisahkan antara atrium kanan dengan ventrikel kanan.

2. Katup bicuspidalis

Memisahkan antara atium kiri dengan ventrikel kiri. 3. Katup aortik

Memisahkan antara ventrikel kiri dengan aorta atau batang nadi. 4. Katup pulmonal

Memisahkan antara ventrikel kanan dengan arteri pulmonalis. (Sudarta, 2013)

e. Pembuluh darah

Pembuluh darah terdiri atas 2 yaitu:

1. Pambuluh darah nadi (arteri) yang mengalirkan darah dari jantung ke seluruh tubuh.

2. Pembuluh darah balik (vena) yang mengalirkan darah darah dari sel-sel tubuh ke jantung.

f. Mekanisme peredaran darah

Darah yang terdapat di dalam jantung selalu dipompa keluar secara terus menerus dan setelah melalui sistem vaskular, darah kembali ke jantung. Pada orang normal, darah yang masuk ke dalam jantung melalui vena cava, kemudian akan dipompa ke sistem sirkulasi paru. Dan setelah mengalami oksigenisasi di dalam jaringan sel-sel paru, kemudian darah kembali ke jantung melalui pembuluh balik (vena pulmonalis). Selanjutnya darah dipompa keluar dari jantung melalui bilik kiri ke sistem sirkulasi umum menuju ke seluruh jaringan sel-sel tubuh.

Sistem kardiovaskular mengalirkan darah ke seluruh bagian tubuh dan menyalurkan kembali ke jantung. Dengan jantung berkontraksi dan berelaksasi, maka ia mampu mengalirkan darah di dalam sistem tersebut menyebabkan perubahan tekanan dan mengakibatkan terjadinya peristiwa aliran darah didalamnya.

Dan darah dapat kembali ke jantung, karena adanya perbedaan tekanan darah antara jantung kiri dengan atrium kanan,

dengan atrium kanan mendekati nol, sedangkan tekanan kapiler di jaringan tetap lebih tinggi, sehingga memungkinkan darah dan jaringan sel tubuh melalui vena kembali ke jantung.

Darah dipompa dari jantung kanan menuju jaringan paru untuk mengambil oksigen dan mengeluarkan karbondioksida, kemudian kembali ke jantung melalui atrium kiri. Darah yang telah mengalami oksigenasi tersebut, selanjutnya dipompa jantung ke sistem sirkulasi umum melalui aorta. Kemudian aorta membagikan darah menuju ke cabang-cabang arteri dan subarteri yang terdapat di jaringan sel dan organ.

(Masud, 2013). 2.1.3. Etiologi

Menurut penyebabnya ada 2 jenis yaitu: 1. Hipertensi primer (esensial) yaitu:

a. Keturunan b. Umur c. Psikis

2. Hipertensi sekunder yaitu:

a. Penyakit ginjal (glumerulus nephitis akuta/kronika) b. Tumor dalam rongga kepala

c. Penyakit saraf (Murwani, 2011)

Selain hal di atas hipertensi juga dapat disebabkan oleh : a. Banyak mengkonsumsi makanan cepat saji.

b. Stress akibat tekanan pekerjaan dan tekanan hidup yang lain

c. Jarang berolahraga dan hanya duduk di meja kerja

d. Gemar meminum minuman beralkohol dan mengandung kafein

e. Senang merokok f. Kurang tidur g. Faktor keturunan

h. Gangguan pada ginjal seperti adanya tumor ginjal

i. Terganggunya keseimbangan hormon yang merupakan faktor pengatur tekanan darah

j. Pemakaian kontrasepsi

k. Penggunaan obat-obatan jenis kortikosteroid. (Aizid, 2011).

2.1.4. Patofisiologis

2.1.5. Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi : a. Tidak ada gejala

Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Hal ini hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.

b. Gejala yang lazim

Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis.

Faktor pencetus Intake Sodium meningkat Stres Gangguan nefron Genetik Obesitas Peningkatan aktifitas Saraf Simpatik Peningkatan filtrasi renal Hiper insulinemia Perubahan membran sel Peningkatan rennin angiotensin Retensi sodium di renal Vasokon-striksi vena Peningkatan volume cairan Peningkatan Kontraktilitas Konstriksi fungsional Hipertropi Preload

Peningkatan cardiac output Peningkatan tahanan perifer

Peningkatan tekanan darah (Nugroho, 2011)

Namun demikian, ada beberapa hal yang setidaknya dapat dijadikan indikator, sebab berkaitan langsung dengan kondisi fisik, misalnya : a. Pusing atau sakit kepala

b. Sering gelisah c. Wajah merah

d. Tengkuk terasa pegal e. Mudah marah f. Telinga berdengung g. Susah tidur h. Sesak napas i. Mudah lelah j. Mata berkunang-kunang k. Dan mimisan. (Sunaryati, 2014). 2.1.6. Klasifikasi

Adapun klasifikasi hipertensi menurut WHO adalah sebagai berikut : Klasifikasi Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)

Normal < 130 <85

Normal tinggi 130-139 85-89

Hipertensi ringan (stadium 1) 140-149 90-99 Hipertensi sedang (stadium

2)

160-179 100-109

Hipertensi berat (stadium 3) 180-209 110-119 Hipertensi sangat berat

(stadium 4)

210 120

2.1.7. Pemeriksaan Diagnostik 1. Pemeriksaan laboratorium

- Hb/Ht : untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan faktor resiko seperti : hipokoagulabilitas, anemia.

- BUN/kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi/fungsi ginjal.

- Glucosa : Hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi) dapat diakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin. - Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi

ginjal da nada DM.

2. CT Scan : Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati

3. EKG : Dapat mrnunjukkan pola regangan, dimana luas, peninggian gelombang adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi

4. IUP : Mengidenfikasikan penyebab hipertensi seperti batu ginjal, perbaikan ginjal

5. Photo dada : Menunjukkan destruksi klasifiksi pada area katup, pembesaran jantung.

(Nanda, 2015) 2.1.8. Komplikasi

a. Pada ginjal : hematuria, kencing sedikit b. Pada otak : stroke, euchephalitis

c. Pada mata : retinapati hipertensi

d. Pada jantung : terjadi pembesaran ventrikel kiri dengan/tanpa payah jantung, infark jantung.

(Murwani, 2011) 2.1.9. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan hipertensi dapat dibedakan menjadi 2, yaitu : 1. Terapi non farmakologis

Terapi non farmakologis dalam mengatasi hipertensi di tekankan pada berbagai upaya berikut :

a.Latihan fisik (olahraga) secara teratur

b.Berhenti merokok dan mengurangi konsumsi alkohol. c.Menciptakan keadaan rileks.

(Widyanto, dkk, 2013) 2. Terapi farmakologis

a. Jenis diuretika untuk membuang kelebihan cairan di dalam tubuh

b. Obat yang langsung bekerja pada ceregenik: 1. Recorpin

2. Guamenetidin 3. Methyl dop

c. Obat yang mempengaruhi/mengurangi seringnya dan beratnya angina jantung:

1. Proponolol 2. Fentolamim

d. Obat yang bekerja pada ganglion otonom: 1. Pempidin

2. Pentolinium

e. Obat yang berpengaruh pada susunan saraf pusat 1. Sedative

2. Stranquilider

f. Menurunkan berat badan bila penderita gemuk/obesitas g. Memberikan diet rendah lemak jenuh 1500 kal/hari

1. Pembatasan garam 2. Buah/sayur

(Murwani, 2011) 2.1.10. Pencegahan

Langkah-langkah potensial yang dapat menghalau terjadinya hipertensi adalah sebagai berikut :

1. Bagi yang mengalami kelebihan berat badan, hendaknya menurunkan sampai pada batas ideal.

2. Ubahlah pola makan dan hidup yang tidak sehat. 3. Kurangi konsumsi garam berlebihan.

4. Berhentilah mengkonsumsi alkohol dan merokok.

5. Selalu upayakan untuk melakukan olahraga setiap hari atau paling tidak sekali seminggu.

2.2. Konsep Dasar Keperawatan 2.2.1. Pengkajian

1. Aktivitas/istirahat Gejala :

Kelemahan, letih, napas pendek, gaya hidup monoton. Tanda :

a. Frekuensi jantung meningkat b. Perubahan irama jantung c. Takipnea

2. Sirkulasi Gejala :

a. Riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung coroner/katup dan penyakit serebrovaskular,

b. Episode palpitasi, perspirasi. Tanda :

a. Kenaikan TD (pengukuran serial dari kenaikan tekanan darah diperlukan untuk menegakkan diagnosis).

b. Hipotensi pustural (mungkin berhubungan dengan regimen obat). c. Frekuensi/irama : takikardia, berbagai distrimia.

d. Kulit-pucat, sianosis, dan diaphoresis (kongesti, hipoksemia), kemerahan (feokromositoma).

3. Integritas ego Gejala :

a. Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euforia, atau marah kronik (dapat mengindikasikan kerusakan serebral).

b. Faktor-faktor stress multiple (hubungan, keuangan, yang berkaitan dengan pekerjaan).

Tanda :

a. Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan kontiniu perhatian, tangisan yang meledak.

b. Gerak tangan empati, otot muka tegang (khususnya sekitar mata), gerakan fisik cepat, pernapasan menghela, peningkatan pola bicara.

4. Eliminasi Gejala :

Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu (seperti infeksi/obstruksi atau riwayat penyakit ginjal masa yang lalu).

5. Makanan/cairan Gejala :

a. Makanan yang disukai, yang dapat mencakup makanan tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolestrol (seperti makanan yang digoreng, keju, telur), gula-gula yang berwarna hitam, kandungan tinggi kalori.

b. Mual, muntah.

c. Riwayat pengunaan diuretik. Tanda :

a. Berat badan normal atau obesitas.

b. Adanya edema (mungkin umum atau tertentu), kongesti vena, DVJ, glikosuria (hampir 10% pasien hipertensi adalah diaetik).

6. Neurosensori Gejala :

a. Keluhan pening/pusing.

b. Berdenyut, sakit kepala suboksipital (terjadi saat bangun dan menghilang secara spontan setelah beberapa jam).

c. Episode kebas dan/atau kelemahan pada satu sisi tubuh. d. Gangguan penglihatan (diplopia, penglihatan kabur). e. Episode epistaksis.

Tanda :

a. Status mental: perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara, afek, proses pikir, atau memori (ingatan).

b. Respon motorik : penurunana kekuatan genggaman tangan dan/atau reflek tendon dalam.

c. Perubahan-perubahan retinal optik: dari sklerosis/penyempitan arteri ringan sampai berat dan perubahan sklerotik dengan edema atau papilledema, eksudat, dan hemoragi tergantung pada berat/lamanya hipertensi.

7. Nyeri/ketidaknyaman

a. Angina (penyakit arteri coroner/keterlibatan jantung).

b. Nyeri hilang timbul pada tungkai/klaudikisa (indukasi arteriosklerosis pada arteri ekstremitas bawah).

c. Sakit kepala okspital berat seperti yang pernah terjadi sebelumnya. d. Nyeri abdomen/massa (feokromositoma).

8. Pernapasan Gejala :

a. Dispnea yang berkaitan dengan aktivitas/kerja. b. Takipnea, ortopnea, dispnea nokturnal paroksismal. c. Batuk dengan/tanpa pembentukan sputum.

d. Riwayat merokok. Tanda :

a. Distress respirasi/pengunaan otot aksesori pernapasan. b. Bunyi napas tambahan (krakles/mengi).

c. Sianosis. 9. Keamanan

Keluhan/gejala :

a. Gangguan koordinasi/cara berjalan. b. Episode parestesia unilateral transien. c. Hipotensi postural.

10. Pembelajaran/penyuluhan Gejala :

a. Faktor-faktor resiko keluarga: hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung, diabetes mellitus, penyakit sebrevaskular/ ginjal.

b. Faktor-faktor resiko etnik, seperti orang Afrika-Amerika, Asia Tenggara.

2.2.2. Diagnosa Keperawatan

1. Risiko tinggi terhadap iskemia miokardia berhubungan dengan adanya tanda-tanda dan gejala-gejalanya yang menetapkan diagnosa aktual. 2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum.

3. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskular serebral. 4. Nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan

berlebihan sehubungan dengan kebutuhan metabolik.

5. Koping individu inefektif berhubungan dengan perubahan hidup beragam.

6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif. 2.2.3. Intervensi

1. Risiko tinggi terhadap iskemia miokardia berhubungan dengan adanya tanda-tanda dan gejala-gejalanya yang menetapkan diagnosa aktual. Tujuan : Tidak terjadi iskemia miokardia

Kriteria hasil :

a. Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan TD/beban kerja jantung.

b. Mempertahankan tekanan darah dalam rentang individu yang dapat diterima

c. Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil dalam rentang normal pasien.

Intervensi :

Rasional : Perbandingan dari tekanan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang keterlibatan/bidang masalah vaskular.

b. Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer

Rasional : Denyutan karotis, jugularis, radialis, dan femoralis mungkin teramati/terpalpasi. Denyut pada tungkai mungkin menurun, mencerminkan efek dari vasokontriksi (peningkatan SVR) dan kongesti vena. c. Auskultasi tonus jantung dan bunyi nafas

Rasional : S4 umum terdengar pada pasien hipertensi berat karena adanya hipertrofi atrium (peningkatan volume/tekanan atrium). Perkembangan S3 menunjukkan hipertrofi ventrikel dan kerusakan fungsi. Adanya krakles, mengi dapat mengindikasikan kongesti paru sekunder terhadap terjadinya atau gagal jantung kronik.

d. Catat edema umum/tertentu.

Rasional : Dapat mengindikasikan gagal jantung, kerusakan ginjal atau vaskular.

e. Berikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktivitas/keributan lingkungan. Batasi jumlah pengunjung dan lamanya tinggal.

Rasional : Membantu untuk menurunkan rangsang simpatis, meningkatkan relaksasi.

f. Pertahankan pembatasan aktivitas, seperti istirahat di tempat tidur/kursi; jadwal periode istirahat tanpa gannguan; bantu pasien melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan.

Rasional : Menurunkan stress dan ketegangan yang mempengaruhi tekanan darah dan perjalanan penyakit hipertensi.

Lakukan tindakan-tindakan yang nyaman, seperti pijatan punggung dan leher, meninggikan kepala tempat tidur.

g. Anjurkan teknik relaksasi, panduan imajinasi, aktivitas pengalihan. Rasional : Dapat menurunkan rangsangan yang menimbulkan

stress, membuat efek tenang, sehingga akan menurunkan TD.

h. Pantau respon terhdap obat untuk mengontrol tekanan darah. Rasional : Respon terhadap terapi obat “stepped “ (yang terdiri

atas diuretic, inhibitor simpatis dan vasodilator) tergantung pada individu dan efek sinergis obat. Karna efek samping tersebut, maka penting menggunakan obat dalam jumlah paling sedikit dan dosis paling rendah.

i. Kolaborasi dengan dokter dalam memberikan obat sesuai indikasi contoh: diuretic tiazid

Rasional : Tiazid mungkin digunakan sendiri atau dicampur dengan obat lain untuk menurunkan TD pada pasien

dengan fungsi ginjal yang relative normal. Diuretic ini memperkuat agen-agen anti hipertensif lain dengan membatasi retensi cairan.

j. Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi.

Rasional : Pembatasan ini dapat menangani retensi cairan dengan respons hipertensif, dengan demikian menurunkan beban kerja jantung.

k. Siapkan untuk pembedahan bila ada indikasi.

Rasional : Bila hipertensi berhubungan dengan adanya feokromositoma, maka pengangkatan tumor akan memperbaiki kondisi.

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum. Tujuan : Tidak terjadi intoleransi aktivitas dan kelemahan umum Kriteria hasil :

a. Berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan/diperlukan.

b. Melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur.

c. Menunjukkan penurunan dalam tanda-tanda intoleransi fisiologi. Intervensi:

a. Kaji respon pasien terhadap aktivitas, perhatikan frekuensi nadi lebih dari 20 kali per menit diatas frekuensi isirahat.

Rasional : Menyebutkan parameter membantu dalam mengkaji respon fisiologis terhadap stress aktivitas dan, bila

ada merupakan indikator dari kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat aktivitas.

b. Instruksikan pasien tentang teknik penghematan energi

Rasional : Teknik menghemat energi mengurangi penggunaan energi, juga membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.

c. Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas/perawatan diri bertahap jika dapat ditoleransi.

Rasional : Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan kerja jantung tiba-tiba. Memberikan bantuan hanya sebatas kebutuhan akan mendorong kemandirian dalam melakukan aktivitas.

3. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskular serebral. Tujuan : Tidak terjadi nyeri dan peningkatan tekanan vaskular sebral. Kriteria hasil :

a. Melaporkan nyeri/ketidaknyamanan hilang/terkontrol. b. Mengungkapkan metode yang memberikan pengurangan. c. Mengikuti regimen farmakologi yang diresepkan.

Intervensi :

a. Mempertahankan tirah baring selama fase akut.

Rasional : Meminimalkan stimulasi/meningkatkan relaksasi. b. Berikan tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit

leher, tenang, redupkan lampu kamar, teknik relaksasi dan aktivitas waktu senggang.

Rasional : Tindakan yang menurunkan tekanan vaskular serebral dan yang memperlambat/memblok respons simpatis efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya.

c. Hilangkan/minimalkan aktivitas vasokontriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala.

Rasional : Aktivitas yang meningkatkan vasokontriksi menyebabkan sakit kepala pada adanya peningkatan tekanan vaskular serebral

d. Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan.

Rasional : Pusing dan penglihatan kabur sering berhubungan dengan sakit kepala. Pasien juga dapat mengalami episode hipotensi postural.

e. Berikan cairan, makanan lunak, perawatan mulut yang teratur bila terjadi perdarahan hidung atau kompres hidung telah dilakukan untuk menghentikan perdarahan.

Rasional : Meningkatkan kenyamanan umum. Kompres hidung dapat menggangu menelan atau mebutuhkan napas dengan mulut, menimbulkan stagnasi sekresi oral dan mengeringkan membran mukosa.

f. Kolaborasi dengan dokter untuk memberikan obat analgesik seuai indikasi.

Rasional : Menurunkan/mengontrol nyeri dan menurunkan rangsangan sistem saraf simpatis.

g. Nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan berlebihan sehubungan dengan kebutuhan metabolik.

Tujuan : Nutrisi sesuai untuk kebutuhan tubuh dan masukan sesuai dengan kebutuhan metabolik.

Kriteria hasil :

a. Mengidentifikasi hubungan antara hipertensi dan kegemukan. b. Menunjukkan perubahan pola makan (misalnya pilihan makanan,

kuantitas, dan sebagainya), mempertahankan berat badan yang diinginkan dengan pemeliharaan kesehatan optimal.

c. Melakukan/mempertahankan program olahraga yang tepat secara individual.

Intervensi :

a. Kaji pemahaman pasien tentang hubungan langsung antara hipertensi dan kegemukan.

Rasional : Kegemukan adalah risiko tambahan pada tekanan darah tinggi karena disproporsi antara kapasitas aorta dan peningkatan curah jantung berkaitan dengan peningkatan masa tubuh.

b. Bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi masukan lemak, garam, dan gula sesuai indikasi.

Rasional : Kesalahan kebiasaan makanan menunjang terjadinya aterosklerosis dan kegemukan, yang merupakan predisposisi untuk hipertensi dan komplikasinya. c. Tetapkan keinginan pasien menurunkan berat badan.

Rasional : Motivasi untuk penurunan berat badan adalah internal. Individu harus berkeinginan untuk menurunkan berat badan, bila tidak ada maka program sama sekali tidak berhasil.

d. Kaji ulang masukan kalori harian dan pilihan diet

Rasional : Mengidentifikasi kekuatan/kelemahan dalam program diet terakhir. Membantu dalam menentukan kebutuhan individu untuk penyesuaian/penyuluhan. e. Tetapkan rencana penurunan berat badan yang realistik dengan

pasien, misalnya penurunan berat badan 0,5 kg per minggu.

Rasional : Penurunan masukan kalori seseorang sebanyak 500 kalori per hari secara teori dapat menurunkan berat badan 0,5 kg/minggu. Penurunan berat badan yang lambat mengindikasikan kehilangan lemak melalui kerja otot dan umumnya dengan cara mengubah kebiasaan makan.

f. Dorong pasien untuk mempertahankan masukan makanan termasuk kapan dan dimana makan dilakukan dan lingkungan dan perasaan sekitar saat makanan dimakan.

Rasional : Memberikan data dasar tentang keadekuatan nutrisi yang dimakan, dan kondisi ekonomi saat makan. Membantu untuk memfokuskan perhatian pada faktor mana pasien telah/dapat mengontrol perubahan. g. Instruksikan dan bantu memilih makanan yang tepat, hindari

makanan dengan kejenuhan lemak tinggi (mentega, keju, telur, es krim, daging) dan kolestrol (daging berlemak, kuning telur, produk kalengan, jeroan).

Rasional : Menghindari makanan tinggi lemak jenuh dan kolestrol penting dalam mencegah perkembangan aterogenesis.

h. Berkolaborasi dengan ahli gizi untuk memberikan diet sesuai indikasi.

Rasional : Memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi kebutuhan diet individual.

4. Koping individu inefektif berhubungan dengan perubahan hidup beragam.

Tujuan : Koping individu efektif dan perubahan hidup beragam Kriteria hasil :

b. Menyatakan kesadaran kemampuan koping/kekuatan pribadi. c. Mengidentifikasi potensial situasi stress dan mengambil langkah

untuk menghindari/mengubahnya.

d. Mendemonstrasikan penggunaan ketrampilan/metode koping efektif.

Intervensi :

a. Kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi prilaku. Rasional : Mekanisme adaptif perlu untuk mengubah pola hidup

seseorang, mengatasi hipertensi kronik, dan mengintegrasikan terapi yang diharuskan kedalam kehidupan sehari-hari.

b. Catat laporan gangguan tidur, peningkatan keletihan, kerusakan konsentrasi, peka rangsang, penurunan toleransi sakit kepala, ketidakmampuan untuk mengatasi /menyelesaikan masalah. c. Bantu pasien untuk mengidenfikasi stresor spesifik dan

kemungkinan strategi untuk mengatasinya.

Rasional : Pengenalan terhadap stressor adalah langkah pertama dalam mengubah respon seseorang terhadap stressor.

d. Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan dan beri dorongan partisipasi maksimum dalam rencana pengobatan.

Rasional : Keterlibatan memberikan pasien perasaan kontrol diri yang berkelanjutan, memperbaiki ketrampilan koping

dan dapat meningkatkan kerja sama dalam regimen terapeutik.

e. Dorong pasien untuk mengevaluasi prioritas/tujuan hidup.

Rasional : Fokus perhatian pasien pada realitas situasi yang ada relatif terhadap pandangan pasien tentang apa yang diinginkan.

f. Bantu pasien untuk mengidentifikasi dan mulai merencanakan perubahan hidup yang perlu.

Rasional : Perubahan yang perlu diprioritaskan secara realistik untuk menghindari rasa tidak menentu dan tidak berdaya.

5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif. Tujuan : Tidak kurang pengetahuan dan keterbatasan kognitif. Kriteria hasil :

a. Menyatakan pemahamam tentang proses penyakit dan regimen pengobatan.

b. Mengidentifikasi efek samping obat dan komplikasi yang perlu diperhatikan.

c. Mempertahankan TD dalam parameter normal. Intervensi :

a. Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar.

Rasional : Kesalahan konsep dan menyangkal diagnosa karena perasaan sejahtera yang sudah lama dinikmati

mempengaruhi minat pasien/orang terdekat untuk memplajari penyakit, kemajuan, dan prognosis.

Dalam dokumen ASKEP dan HIPERTENSI dan SANDRI.docx (Halaman 5-88)

Dokumen terkait