• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Dasar a Pengertian

Dalam dokumen BAB II ANISA DEWI ASTUTI (Halaman 69-76)

Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelium hamil, berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Prawirohardjo,2009).

Periode pasca postpartum adalah masa dari kelahiran plasenta dan sela- put janin hingga kembalinya traktus reproduksi wanita pada kondisi tidak hamil (varney,2007).

b. Perubahan Fisiologis masa nifas 1) Involusio Uterus

Involusio atau pengerutan uterus merupakan suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi sebelum hamil dengan berat sekitar 30 gram. Proses ini dimulai segera setelah lahir akibat kontraksi otot-otot polos uterus (kemenkes RI,2015).

2) Lochea

Lochea adalah secret dari uterus yang keluar melalui vagina se- lama masa nifas. Varney (2007).

Loche terbagi 4 tahapan : a). Lochea rubra

Lochea ini muncul pada hari ke 1 sampai hari ke-3 masa post par tum, cairan yang keluar berwarna merah karena berisi darah segar,

jaringan sisa-sisa plasenta, dinding rahim, lemak bayi, lanugo dan meconium.

b). Lochea sanguelenta

Cairan yang keluar berwarna merah kecoklatan dan berlendir. Berlangsung dari hari ke-4 sampai hari ke-7.

c). Lochea serosa

Lochea serosa ini berwarna kuning kecoklatan karena mengandung serum, leokosit dan robekan atau laserasi plasenta. Muncul pada hari ke-8 sampai hari ke-14 post partum.

d). Lochea alba

Mengandung leukosit sel desidua, sel epitel. Selaput lendir serviks dan serabut jaringan yang mati. Lochea alba bisa berlangsung 2 sampai 6 minggu postpartum. Varney (2007).

3) Sistem Pencernaan a). Nafsu makan

Untuk mengkonsumsi makanan ringan dan setelah benar-be- nar pulih dari efek analgesia,anestesia, dan keletihan, ke- banyakan ibu merasa sangat lapar. Permintaan untuk memperoleh makanan dua kali dari jumalah yang biasa dikonsumsi disertai konsumsi cemilan yang sering ditemukan (Varney,2008).

b). Mortilitas

Traktus cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir. Kelebihan analgesia dan anestesia bisa memperlambat pengambilan tonus dan mortalitas ke keadaan normal.

c). Defekasi

Defekasi terjadi selama dua sampai tiga hari setelah ibu me lahirkan. Keadaan ini disebabkan oleh tonus usus yang menurun selama proses persalinan dan pada awal masa postpartum. Ibu bi- asanya merasakan nyeri di perineum akibat episiotomi, laserasi atau hemoroid (Varney,2008).

4) Perubahan sistem perkemihan

Deurisis terjadi akibat saluran urinaria mengalami dilatasi setelah 2-3 hari postpartum. Kondisi ini akan kembali normal setelah 4 minggu. Overdistensi pada kala II persalinan dan pengeluaran urine yang tertahan mengakibatkan kandung kemih mengalami oedem, kongesti, dan hipotonik (Varney,2008).

5) Perubahan sistem endokrin

Selama proses kehamilan dan persalinan terdapat perubahan pada system endokrin, terutama pada hormon-hormon yang berperan dalam proses tersebut (Varney, 2008).

a). Oksitosin

Hormon oksitosin diproduksi lebih cepat daripada prolaktin, hor- mon ini juga masuk kedalam aliran darah menuju payudara. Hor- mon oksitosin ini merangsang sel-sel otot untuk berkontraksi. Kontraksi ini menyebabkan ASI yang diproduksi sel-sel pembuat susu terdorong mengalir melalui pembuluh menuju muara saluran ASI (Varney, 2008).

b). Prolaktin

Hormon prolaktin merangsang sel-sel pembuat susu untuk bek- erja memproduksi ASI, semakin sering dihisap bayi, semakin banyak ASI yang diproduksi (Varney, 2008).

c. Kebutuhan pada masa nifas 1) Nutrisi dan cairan

Pada masa nifas masalah diet perlu mendapat perhatian yang serius, karena dengan nutrisi yang baik dapat mempercepat penyem- buhan ibu dan sangat mempengaruhi susunan air susu. Diet yang diberikan harus bermutu, bergizi tinggi, cukup kalori, tinggi protein dan banyak yang mengandung cairan.

Ibu yang menyusui harus memenuhi kebutuhan akan gizi sebagai berikut :

a). Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari

b). Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, min- eral dan vitamin yang cukup

c). Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari. 2) Aktivitas

Ibu dianjurkan untuk beristirahat sebanyak mungkin, kurang lebih selama 4 minggu setelah kelahiran (Walsh, 2008).

3) Perawatan perineum

Ibu dianjurkan untuk mencuci area perineum dengan air hangat dan mengeringkan dari depan ke belakang setelah berkemih atau de- fekasi. Rendam duduk dengan air hangat dapat digunakan untuk meningkatkan kenyamanan selama proses penyembuhan.

4) Perawatan payudara

Ibu menyusui dianjurkan untuk mencuci puting hanya dengan air hangat dan dilakukan setiap akan menyusui bayi. Bra yang tepat dapat memberi sokongan dan meningkatkan kenyamanan.

5) Seksual

Ibu dianjurkan untuk melakukan kembali hubungan seksual ketika sudah tidak ada perdarahan vagina yang berwarna merah, jahitan telah sembuh, dan secara emosional merasa memerlukannya.

6) Tanda bahaya masa nifas

Memberitahu ibu untuk menghubungi tenaga kesehatan terdekat jika mengalami gejala seperti:

a) Demam >38oC

b) Peningkatan perdarahan dari jalan lahir yang tidak hilang dengan istirahat atau menyusui, penggantian balutan lebih dari 1 pembalut per jam, dan perubahan karakter lochea, termasuk berbau menyengat atau banyak

c) Nyeri lokal pada salah satu atau kedua payudara d) Nyeri di atas uterus

e) Nyeri saat berkemih

f) Nyeri tekan, atau kemerahan di atas vena

g) Ketidakmampuan merawat diri sendiri atau bayi; depresi yang mempengaruhi aktivitas sehari-hari.

d. Tahapan masa nifas

Tahapan yang terjadi pada masa nifas menurut Mochtar 2012), adalah seba- gai berikut :

1).Periode immadiate postpartum

Periode ini dimulai segera setelah plasenta lahir sampai 24 jam post par- tum. Pada masa ini sering kali terdapat masalah-masalah seperti perdara- han yang terjadi akibat atonia uteri, retensio sisa plasenta. Oleh karena itu, harus dilakukan pemeriksaan kontraksi, tinggi fundus uteri, pengelu- aran lochea, tekanan darah, nadi serta pernafasan.

2).Periode early postpartum (24jam-1 minggu)

Pada periode ini untuk memastikan involusio uteri berjalan normal tidak terjadi perdaraha, lochea tidak berbau, ibu tidak demam, ibu mendaptkan asupan gizi yang baik, serta ibu dapat menyusui bayinya dengan baik.

Pada periode ini tetap dilakukan perawatan serta pemeriksaan sehari-hari dan melakukan konseling KB.

e. Kunjungan

Kesehatan ibu merupakan komponen yang sangat penting dalam kese- hatan reproduksi karena seluruh komponen yang lain sangat dipengaruhi oleh kesehatan ibu. Apabila ibu sehat maka akan menghasilkan bayi yang sehat yang akan menjadi generasi kuat. Ibu yang sehat juga menciptakan keluarga sehat dan bahagia. Jadwal kunjungan rumah paling sedikit di- lakukan 4x, yaitu diantaranya :

a. Kunjungan I (6 jam – 3 hari setelah persalinan)

1) Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.

2) Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan : rujuk bila per- darahan berlanjut.

3) Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.

4) Pemberian ASI awal.

5) Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.

6) Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermia.

1) Memastikan involusi uterus berjalan normal : uterus berkontraksi, fundus di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau.

2) Menilai adanya tanda – tanda demam, infeksi atau perdarahan abnor- mal.

3) Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat.

4) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tak memperlihatkan tanda – tanda penyulit.

5) Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari – hari.

c. Kunjungan III (29 hari – 42 hari setelah persalinan)

1) Menanyakan pada ibu tentang penyulit – penyulit yang ia atau bayi alami.

2) Memberikan konseling untuk KB secara dini (Saifuddin, 2009).

f. Tujuan Asuhan pada Ibu Nifas Tujuan dari perawatan nifas ini adalah : 1) Memulihkan kesehatan umum penderita

a) Menyediakan makanan sesuai kebutuhan b) Mengatasi anemia

c) Mencegah infeksi dengan memerhatikan kebersihan dan steril- isasi

d) Mengembalikan kesehatan umum dengan pergerakan otot untuk memperlancar peredaran darah

3) Mencegah infeksi dan komplikasi 4) Memperlancar pembentukan ASI

5) Mengajarkan ibu untuk melaksanakan perawatan mandiri sampai masa nifas slesai dan memelihara bayi dengan baik, sehingga bayi da- pat mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang normal.

Dalam dokumen BAB II ANISA DEWI ASTUTI (Halaman 69-76)

Dokumen terkait