BAB II TINJAUAN TEORI A. Kehamilan
1. KonsepDasar a. Pengertian
Periode anterpatum adalah periode kehamilan yang dihitung sejak hari pertama haid terakhir (HPHT) hingga dimulainya persalinan sejati.
Periode antepartum dibagi menjadi tiga trimester. Trimester pertama secara umum berlangsung pada minggu pertama hingga ke-12 (12minggu), trimester kedua pada minggu ke-13 sampai ke-27 (15 minggu), dan trimester ketiga pada minggu ke-28 hingga ke-40 (13minggu). (Prawiro-hardjo, 2010) Varney (2007).
b. Perubahan Fisiologis dan Psikologis pada ibu hamil Trimester III 1) Sistem reproduksi
a) Uterus
Selama hamil uterus akan beradaptasi untuk menerima dan melin-dungi hasil konsepsi (janin, plasenta, amnion) sampai persalinan. Pada perempuan tidak hamil uterus mempunyai berat 70 g dan kap-asitas 10 ml atau kurang. Selama kehamilan, volume totalnya men-capai 5 L bahkan dapat menmen-capai 20 L atau lebih dengan berat rata-rata 1100 g (Sarwono, 2011).
b) Servik uteri
pelebaran pembuluh darah, warnanya menjadi livid, dan kondisi ini disebut dengan tanda chadwick (Sarwono, 2011).
c) Ovarium
Ovulasi berhenti namun masih terdapat korpus luteum gravidits sampai terbentuknya plasenta yang akan mengambil alih pengelu-aran estrogen dan progesterone (Sarwono, 2011).
d) Vulva dan vagina
Karena pengaruh dari estrogen, maka terjadi hipervaskularisasi pada vulva dan vagina, sehingga pada bagian tersebut terlihat berwarna merah atau kebiruan, kondisi ini disebut dengan tanda chadwick (Sarwono, 2011).
e) Kulit
Pada kulit dinding perut akan terjadi perubahan warna menjadi ke-merahan, kusam, dan kadang-kadang juga akan mengenai daerah payudara dan paha (Sarwono, 2011).
f) Payudara
Setelah bulan kedua payudara akan bertambah ukurannya dan vena-vena di bawah kulit akan lebih terlihat. Puting payudara akan lebih besar, kehitaman, dan tegak (Sarwono, 2011).
2) Perubahan Metabolik
ek-straselular. Diperkirakan selama kehamilan berat badan akan bertambah 12,5 kg (Sarwono, 2011).
3) Sistem Kardiovaskular
Pada minggu ke-5 cardiac output akan meningkat dan perubahan ini terjadi untuk mengurangi resistensi vascular sistemik. Selain itu, juga terjadi peningkatan denyut jantung (Sarwono, 2011).
4) Sistem Respirasi
Frekuensi pernapasan hanya mengalami sedikit perubahan selama ke-hamilan, tetapi volume tidak, volume ventilasi per menit dan pengambi-lan oksigen per menit akan bertambah secara signifikan pada kehamipengambi-lan lanjut. Perubahan ini akan mencapai puncaknya pada minggu ke-37 dan akan kembali hampir seperti sedia kala dalam 24 minggu setelah per-salinan (Sarwono, 2011).
5) Traktus Digestivus
Penurunan yang nata akan terjadi pada penurunan motilitas otot polos pada traktus digestivus dan penurunan sekresi asam hidroklorid dan peptin di lambung sehingga akan menimbulkan gejala berupa pyrosis
(heartburn) (Sarwono, 2011).
6) Sistem Endokrin
Selama kehamilan normal kelenjar hipofisis akan membesar ± 135 %. Akan tetapi, kelenjar ini tidak begitu mempunyai arti penting dalam ke-hamilan (Sarwono, 2011).
7) Sistem Muskuloskeletal
Mobilitas dapat mengakibatkan perubahan sikap ibu pada akhirnya menyebabkan perasaan tidak enak pada bagian bawah punggung terutama pada akhir kehamilan (Sarwono,2011).
Pada bulan-bulan pertama kehamilan kandung kemih akan tertekan oleh uterus yang mulai membesar sehingga menimbulkan sering berkemih (Sarwono, 2011).
9) Perubahan psikologis
Menurut Humenick dan Nichols (2000), perubahan psikologis yang di-alami ibu selama masa kehamilan adalah:
a. Emosi naik turun
Pada TM III ibu dan suami akan mengalami perubahan emosi bersamaan dengan semakin dekatnya peran menjadi orang tua. Ibu akan mulai memikirkan antara karir dan peran sebagai ibu, mulai merasa ragu dan takut tentang kemapuannya dalam menghadapi persalinan. Adanya perubahan hormonal selama kehamilan menye-babkan emosi perempuan cenderung berubah-ubah, sehingga tanpa ada sebab yang jelas ibu hamil dapat merasa sedih, mudah tersing-gung, marah atau merasa bahagia. Ibu hamil mengalami rasa was-was, khawatir, gelisah, takut dan cemas dalam menghadapi kehami-lannya berkaitan dengan keadaan janin yang dikandung, ketakutan dan kecemasan dalam mengadapi persalinannya, serta perubahan fisik dan psikis yang terjadi.
b. Mimpi atau khayalan
Kebanyakan hal tersebut adalah memiliki bayi cacat, men-galami kecelakaan, tenggelam, melupakan atau kehilangan sesuatu dan menyelesaikan masalah di masa lalu.
Jika seorang wanita melihat perubahan tubuhnya sebagai su-atu bentuk penyesuaian agar bayinya dapat lahir ke dunia maka akan memiliki citra yang baik tentang tubuhnya. Namun jika seba-liknya dan menganggap perubahan tubuhnya sebagai keadaan yang besar, aneh dan menganggu aktivitasnya, maka citra tubuhnya akan negatif.
d. Perubahan sosiokultural
Perilaku hidup sehat terhadap kehamilan, hal ini dapat ditun-jukan dengan melakukan pemeriksaan kehamilan, diet yang baik, dan mengurangi stress dalam kesehariannya. Mengambil peran menjadi ibu, ibu akan mulai tertarik dengan hal-hal yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan.
e. Perubahan kognitif
Meliputi keinginan menyambut persalinan dan keinginan menjadi orang tua.
c. Tanda bahaya Kehamilan Trimester III
gerakan janin kurang dari 10 kali/12 jam atau tidak ada, muntah berlebih yang berlangsung selama kehamilan, disuria, menggigil atau demam, ke-tuban pecah dini, uterus lebih besar atau lebih kecil dari usia kehamilan yang sesungguhnya.
d. Ketidaknyamanan pada Kehamilan Trimester III
Ketidaknyaman yang dialami oleh ibu hamil selama TM III menurut Walsh (2007), yaitu :
1) Nyeri pinggang bagian bawah (pinggang)
Dipengaruhi oleh hormon progesteron dan relaksin yang menye-babkan sendi menjadi lunak, Terutama pada sepanjang kolumna spi-ral. Perubahan pusat gravitasi akibat bertambahnya usia kehamilan
juga mempengaruhi keluhan tersebut. Ibu hamil mengalami lordosis yang disebabkan adanya pertambahan berat uterus yang menarik tu-lang belakang keluar dari garis tubuh. Keluhan tersebut dapat diku-rangi dengan gerakan pelvis dan peregangan, koreksi postur tubuh, tidak menggunakan sepatu hak tinggi, penekanan pada daerah lumbal (counterpressure), pelvic rocking exercise, rendam atau mandi dengan air hangat dan informasi mengenai penyebab fisiologis harus diberikan.
Pelvic rocking dapat mengurangi nyeri atau pegal-pegal di ping-gang dikarenakan latihan tersebut dapat menggerakan janin ke depan dari pinggang untuk sementara sehingga mengurangi penekanan pada pinggang oleh bagian terendah janin.
2) Konstipasi
Motilitas usus yang menurun namun aldosteron dan angiotensin meningkat menyebabkan peningkatan penyerapan air sehingga fases menjadi keras. Selanjutnya peningkatan ukuran uterus yang membesar mempersulit aktifitas mengejan dan menekan rectum sehingga menu-runkan dorongan untuk mengeluarkan feses. Untuk menangani keluhan tersebut ibu harus memberikan informasi mengenai penyebab terjadinya konstipasi. Anjurkan ibu untuk meningkatkan asupan serat, cairan (minimal 6-8 gelas perhari), buah dan sayur segar.
3) Kram
Menurut Walsh (2007), kram kaki biasanya didefinisikan sebagai kontraksi tonik atau klonik tiba-tiba otot gastronemius, biasanya ter-jadi pada malam hari. Hal ini disebabkan adanya perubahan rasio kal-sium/fosfor dan kekurangan magnesium atau penambahan asam laktat dalam otot. Melakukan latihan berjalan atau berenang, mengkonsumsi suplemen kalsium atau magnesium dapat mengatasi keluhan kram kaki pada ibu hamil
4) Sesak Nafas
Terjadi karena peningkatan kadar progesteron berpengaruh pada pusat pernapasan untuk menurunkan kadar CO2 serta meningkatkan kadar O2. Pembesaran Rahim semakin memperparah keadaan ini aki-bat adanya penekanan pada diafragma yang menimbulkan perasaan kesulitan bernafas atau sesak nafas.
secara sadar mengatur pernafasan agar normal diberikan untuk menan-gani keluhan tersebut.
5) Kontraksi Brackton Hicks
Brackton Hicks disebabkan oleh intensifikasi kontraksi uterus
se-bagai persiapan persalinan (Bobak, 2005). Pada bulan terkhir kehami-lan, Braxton Hicks dapat terjadi setiap 10 sampai 20 menit dan dapat menimbulkan rasa tidak enak (Cuningham, 2005). Menurut Bobak (2005) upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi keluhan diatas adalah dengan istirahat, Ubah posisi, beraktifitas, dan lakukan tehnik pernafasan saat kontraksi dirasa mengganggu.
6) Oedema
Bengkak atau oedem fisiologi memburuk sering dengan penamba-han usia kehamilan karena aliran darah vena yang terganggu akibat berat uterus yang membesar. Untuk meringankan bengkak dapat di-lakukan dengan menghindari penggunaan pakaian ketat karena dapat mengganggu aliran darah vena , dan berdiri dalam waktu yang lama, menaikkan tungkai secara periodic selama siang hari dan istirahat dengan posisi miring kiri untuk memaksimalkan aliran darah ke tungkai (Sinclair,2009).
7) Hemoroid
Hormon progesterone mempercepat relaksai otot polos yang menyebabkan kelemahan pada dinding pembuluh darah. Rahim yang akan membesar menekan vena disekeliling rectum dan anus menye-babkan dilatasi pembuluh darah. Menghindari konstipasi dan menge-jan saat defekasi adalah cara terbaik untuk mencegah hemoroid. e. Kebutuhan Fisiologis dan Psikologis ibu hamil Trimester III
Hellen Varney (2006) menyatakan bahwa rancangan genetik diten-tukan oleh unsur genetik pada masing-masing janin dan juga dipen-garuhi faktor-faktor maternal, berupa nutrisi ibu, kebiasaan merokok, dan penyakit yang diderita ibu. Sehingga kebutuhan nutrisi ibu hamil sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan janin.
b)Kebersihan Tubuh dan Pakaian
Selama hamil kebersihan tubuh harus tetap dijaga. Selain itu daerah vital perlu dijaga kebersihannya karena pada saat hamil terjadi pengelu-aran sekret vagina yang berlebihan dengan mengganti celana dalam minimal 2 kali sehari. Selain itu, beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu memakai pakaian longgar dan tidak ada ikatan ketat pada daerah perut, memakai pakaian dalam yang bersih dan berbahan katun, memakai bra yang menyokong payudara, memakai sepatu dengan hak rendah atau tanpa hak (Cunningham, 2005).
c) Eliminasi
Pada saat hamil keluhan yang sering muncul adalah konstipasi dan sering buang air kemih. Konstipasi terjadi karena pengaruh hormon progesteron yang menyebabkan efek rileks otot polos pada usus dan de-sakan usus oleh pertumbuhan janin. Sering buang air kemih disebabkan karena berkurangnya kapasitas kandung kemih yang terdesak oleh pem-besaran janin dalam uterus (Cunningham, 2005).
d)Seksual
dila-rang bila ketuban sudah pecah karena dapat menyebabkan infeksi (Cun-ningham, 2005).
e) Payudara
Sebelum bayi lahir perlu dilakukan perawatan payudara agar ibu da-pat segera menyusui bayinya setelah melahirkan. Perawatan dilakukan dengan cara pengurutan pada payudara untuk mengeluarkan sekresi dan membuka duktus dan sinus laktiferus. Pengurutan dengan tidak hati-hati dan benar menimbulkan kontraksi pada rahim (Prawirohardjo, 2010). f) Perawatan Gigi
Selama hamil perawatan gigi dilakukan dua kali, yaitu pada trimester I berhubungan dengan hiperemisis dan ptialisme sehingga ke-bersihan rongga mulut harus terjaga dan pada trimester III berhubungan dengan kebutuhan kalsium untuk pertumbuhaan janin (Cunningham, 2005).
g) Aktivitas dan Istirahat
Hellen Varney (2006) menyatakan bahwa ibu hamil sebaiknya melakukan hal yang biasa dilakukan karena dapat menghentikan kelela-han ringan, dan latikelela-han sebaiknya jangan dilakukan secara berlebikelela-han. Kehamilan bukan saat untuk mempelajari jenis olahraga berat yang baru, latihan harian seperti berjalan-jalan di luar rumah sangat baik bagi kesehatan mental, relaksasi, pencernaan dan pengondisian otot (Prawirohardjo, 2010).
h)Body Mekanik
Keluhan seperti pegal di punggung dan kram kaki ketika tidur
mengambil sesuatu di bawah dilakukan dengan berjongkok bukan me-nunduk, meletakkan bantal sebagai sandaran punggung saat duduk, menghindari hak tinggi (Cunningham, 2005).
f. Asuhan Antenatal 1) Pengertian
Asuhan antenatal adalah upaya preventif program pelayanan kese-hatan obstetric untuk optimalisasi luaran maternal dan neonatal melalui serangkaian kegiatan pemantauan rutin selama kehamilan. (Sarwono, 2011).
Bila kunjungan termasuk resiko tinggi perhatian dan jadual kun-jungan harus lebih ketat. Namun, bila kehamilan normal jadual asuhan minimal empat kali. Hal ini berarti, minimal dilakukan sekali kunjun-gan antenatal hingga usia kehamilan 28 minggu, sekali kunjunkunjun-gan an-tenatal selama kehamilan 28-36 minggu dan sebanyak dua kali kun-jungan antenatal pada usia kehamilan di atas 36 minggu. (Sarwono, 2011).
2) Tujuan
Menurut (Prawirohardjo, 2010) tujuan asuhan antenatal adalah sebagai berikut :
a) Membangun rasa saling pecaya antara klien dan petugas kese-hatan.
b) Mengupayakan terwujudnya kondisi terbaik bagi ibu dan janin di-dalam kendungannya.
c) Memperoleh informasi dasar tentang kesehatan dan kehamilan-nya.
d) Mengidentifikasi dan menatalaksana kehamilan risiko tinggi. e) Memberikan pendidikan kesehatan dalam menjaga kualitas
f) Menghindarkan gangguan kesehatan selama kehamilan yang da-pat membahayakan keselamatan ibu maupun janin.
3) Jadwal kunjungan ANC
Menurut Mochtar (2011) jadwal kunjungan antenatal pada masa kehamilan yaitu :
a) Pemeriksaan pertama kali yang ideal adalah sedini mungkin ketika terlambat haid satu bulan.
b) Pemeriksaan ulang 1 kali setiap sebulan sampai 7 bulan. c) Periksa 2 kali sebulan sampai kehamilan 9 bulan.
d) Periksa ulang setiap minggu sesudah kehamilan 9 bulan. e) Periksa khusus jika ada keluhan-keluhan.
4) Langkah-langkah Antenatal Care Identifikasi dan riwayat kesehatan a) Data Umum Pribadi
b) Keluhan saat ini c) Riwayat haid
d) Riwayat kehamilan dan persalinan e) Riwayat kehamilan saat ini
f) Riwayat penyakit dalam keluarga g) Riwayat penyakit ibu
h) Riwayat penyakit yang memerlukan tindakan pembedahan i) Riwayat mengikuti program keluarga berencana
j) Riwayat imunisasi k) Riwayat menyusui Pemeriksaan
a) Keadaan umum
a) Pemeriksaan
b) Ultrasonografi (Sarwono, 2011).
5) Kebijakan pemerintah dalam pelayanan ANC
Frekuensi kunjungan selama kehamilan minimal 4 kali manurut Profil Kesehatan Indonesia (2012) yaitu :
a) Satu kali kunjungan selama trimester pertama (0-12 minggu). Meliputi penapisan dan pengobatan anemia, perencanaan persali-nan, pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya. b) Satu kali kunjungan selama trimester kedua (antara minggu 12-24
minggu).
Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya, pe-napisan preeklamsia, gemelli, infeksi alat reproduksi dan saluran perkemihan, mengulang perencanaan persalinan.
c) Dua kali kunjungan selama trimester ketiga (antara minggu 24-la-hir).
Tujuan dari kunjungan pada trimester III yaitu sama dengan trimester sebelumnya, namun ditambah dengan deteksi kehami-lan, mengenali adanya kelainan letak dan presentasi, mengenali tanda – tanda persalinan.
6) Standar pelayanan antenatal care
Pelayanan ANC mempunyai standar dalam pelaksanaannya.
Sesuai dengan Kemenkes (2010) yang menyatakan bahwa standar pelayanan ANC terdiri atas 10T, yaitu:
Nilai gizi dapat ditentukan dengan bertambahnya berat badan seki-tar 6,5 sampai 15 kilogram selama hamil. Berat badan yang bertam-bah terlalu besar atau kurang perlu mendapat perhatian. Kenaikan berat badan tidak boleh lebih dari 0,5 Kg/minggu (Manuaba, 2010). Tinggi badan diukur pada kunjungan pertama. Jika diketahui tinggi ibu hamil < 145 cm maka kemungkinan resiko panggul sempit lebih tinggi (Mochtar, 2011).
b. Pemeriksaan tekanan darah
Tekanan darah normal yaitu 90/60 mmHg-120/80 mmHg. Tekanan darah pada ibu hamil tidak boleh mengalami peningkatkan sistole sebesar 30 mmHg dan diastole sebesar 15 mmHg dari tekanan dasar ibu (Mochtar, 2011).
c. Nilai status gizi
Indikator status gizi juga ditentukan oleh LILA. Nilai LILA normal adalah minimal 23,5 cm. Apabila kurang dari 23,5 cm maka dapat diinterpretasikan bahwa ibu mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK).
d. Pemeriksaan TFU
Pemeriksaan TFU dilakukan dengan palpasi yang bertujuan untuk menentukan tinggi uterus sehingga dapat diperkirakan usia kehami-lan sekaligus berat janin, untuk menentukan letak janin dalam rahim, dan mendeteksi adanya kelainan letak atau presentasi. Metode yang lazim digunakan adalah Leopold (Manuaba, 2010).
Usia ke-hamilan
TFU dalam cen-timeter
Penggunaan petunjuk-petunjuk badan
28 Minggu 28 cm Di tengah, antara umbilicus dan prosesus xipoideus
32 Minggu 32 cm
-36 Minggu 34-36 cm Pada prosesus xipoideus (Sumber : Prawirohardjo, 2009)
Manuver palpasi menurut Leopold dalam Manuaba (2010) adalah : Leopold I : Digunakan untuk menentukan tinggi fundus uteri dan
bagian janin yang terdapat dalam fundus. Apabila ter-aba bagian bulat, keras maka bagian tersebut adalah kepala, sedangkan apabila teraba bagian besar, dan lu-nak maka kemungkinan bagian tersebut adalah bokong.
Leopold II: Digunakan untuk menentukan batas kanan dan kiri rahim, menentukan letak punggung janin. Bagian yang teraba memanjang seperti papan, ada tahanan dan keras adalah punggung. Sedangkan bagian yang teraba kecil-kecil kemungkinan adalah ekstremitas bayi.
Leopold IV : Digunakan untuk menentukan sejauh mana bagian terbawah janin masuk ke PAP. Penurunan kepala janin masuk PAP ditetapkan dengan telapak tangan yaitu perhitungan perlimaan. Apabila teraba 5/5 maka kepala seluruhnya belum masuk panggul, sedangkan apabila teraba 0/5 maka kepala seluruhnya telah ma-suk panggul.
Menurut Spiegelberg, tuanya kehamilan dapat ditentukan dengan megukur tinggi fundus uteri, yaitu :
Tabel 2.2 Usia Kehamilan Menurut Spiegelberg
Usia Kehamilan 28 30 32 34 36 38 40
TFU (cm) 26,7 29,5 – 30 31 32 33 37,7
Sumber: Manuaba (2010).
Taksiran berat janin dapat diperkirakan dengan rumus Lohnson yaitu (TFU-n) x 155gram, n= 12 apabila belum masuk PAP dan n=11 apa-bila sudah masuk PAP. Perhitungan berat janin belum tentu tepat, karena dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu pertumbuhan janin bukan merupakan garis linier, tebal tipisnya dinding abdomen dan pola makan yang berbeda.
e. Tentukan denyut jantung janin
ka-likan 4. Jumlah denyut jantung janin normal antara 120 sampai 160 denyut perdetik (Manuaba, 2010).
f. Skrining status imunisasi TT
Untuk mencegah terjadinya Tetanus neonatorum, semua ibu hamil harus di skrining status TT-nya (Kemenkes, 2010).
Tabel 2.3 Pemberian Imunisasi TT
Antigen Interval Lama P Perlindungan
TT 1 Kunjungan antenatal pertama -
-TT 2 4 minggu setelah TT 1 3 tahun 80%
TT 3 6 minggu setelah TT 2 5 tahun 95%
TT 4 1 tahun setelah TT 3 10 tahun 99%
TT 5 1 tahun setelah TT 4 25 tahun 99%
Sumber : Prawirohardjo (2010).
g. Pemberian tablet besi
Dengan pertimbangan bahwa hampir semua ibu hamil mengalami ane-mia, perlu dilakukan pemberian preparat Fe sebanyak 90 tablet (Manuaba, 2010). Pemberian dimulai dengan memberikan tablet se-hari selama 90 se-hari dimulai sesegera mungkin setelah mual hilang. Perlu diinformasikan mengenai efek samping konsumsi tablet Fe yaitu mual, muntah, dan feses menjadi hitam (Prawirohardjo, 2010). Manu-aba (2010) menyatakan bahwa cara mengkonsumsi tablet Fe yaitu dengan air putih atau asam askorbat.
Pemeriksaan ini tidak hanya untuk mengetahui golongan darah ibu melainkan untuk mempersiapkan calon pendonor darah yang sewaktu-waktu diperlukan apabila terjadi situasi kegawatdaru-ratan.
2) Pemeriksaan hemoglobin (Hb)
Dilakukan minimal 1 kali pad]a TM I dan 1 kali pada TM III. Pe-meriksaan ini ditujukan untuk mengetahui ibu hamil tersebut menderita anemia atau tidak selama kehamilannya karena kondisi anemia dapat mempengaruhi proses tumbuh kembang janin
dalam kandungan. Pemeriksaan Hb pada TM II dilakukan berdasarkan adanya indikasi.
3) Pemeriksaan protein urin
Dilakukan pada TM II dan III atas adanya indikasi.Pemeriksaan ini ditujukan untuk mengetahui adanya proteinuria pada ibu hamil. Proteinuria merupakan indikator terjadinya pre-eklamsia pada kehamilan.
4) Pemeriksaan kadar gula darah
Pemeriksaaan ini dilakukan pada ibu yang dicurigai menderita Diabetes miletus. Pada TM I diakukan minimal 1 kali, TM II 1
kali, dan TM III 1 kali. i. Tatalaksana khusus
Berdasarkan pemeriksaan ANC dan hasil pemeriksaan laboratorium, setiap kelainan yang ditemukan pada ibu hamil, tenaga kesehatan wa-jib memberikan layanan sesuai standar dan kewenangan tenaga kese-hatan. Kasus yang tidak dapat dilayani dirujuk sesuai dengan sistem rujukan.
Temu wicara atau konseling dilakukan pasa setiap kunjungan ANC yang meliputi: perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K), kesehtan ibu, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), peran suami dan keluarga, asupan gizi, inisiasi menyusu dini (IMD), imu-nisasi, Kontrasepsi pasca salin.
2. Manajemen Asuhan Kebidanan
Manajemen Asuhan Kebidanan yang digunakan adalah sesuai dengan KEP-MENKES Nomor 938/Menkes/SK/VIII/2007.
Standar Asuhan Kebidanan adalah acuan dalam proses pengambilan keputusan dan tindakan yang dilakukan oleh bidan sesuai dengan wewenang dan ruang lingkup praktiknya berdasarkan ilmu dan kiat kebidanan. Mulai dari pengka-jian, perumusan diagnosa dan atau masalah kebidanan, perencanaan, imple-mentasi, evaluasi dan pencatatan asuhan kebidanan.
a. Pengkajian
1) Data subyektif
a) Identitas ibu dan suami
Nama : Untuk memudahkan memanggil, menghindari ke keliruan, untuk mengetahui nama ibu dan suami
Umur : Usia reproduksi sehat seorang wanita anatar 20-35 tahun Pendidikan : Untuk memudahkan dalam memberikan KIE.
Pekerjaan : Untuk mengetahui tingkat sosial ekonomi,
mengidentifi kasi resiko cedera yang berhubunga den-gan pekerjaan
Alamat : Mengetahui alamat tempat tinggal ibu dan suami (Varney, 2007)
b) Keluhan Utama
Keluhan yang terjadi pada TM III yaitu : nyeri pinggang, keletihan, kram kaki, rasa panas di ulu hati, sesak napas, konstipasi, hemoroid, peningkatan frekuensi berkemih, varises, bengkak, dan barxton hicks (Walsh, 2007).
c) Data Kebidanan
(1) Riwayat Perkawinan
Riwayat Perkawinan yang perlu dikaji dalam data ini adalah lama menikah, karena harusnya pada tahun pertama harus sudah hamil, hamil setelah 5 tahu hamil merupakan primi tua yang perlu perha-tian (Manuaba, 2010).
(2) Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang lalu
Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang lalu untuk mengetahui jumlah kehamilan, jumlah persalinan (jumlah bayi cukup bulan >36 minggu dengan berat badan >2500 gram), jum-lah keguguran, jumjum-lah bayi prematur (bayi antara usia kehamilan 20 - 36 minggu dan berat badan antara 500 - 2499 gram, riwayat kehamilan (gemelli, plasenta previa, kehamilan ektopik, mola hidatidosa), riwayat persalinan (persalinan normal, induksi atau sectio caesaria) (Varney, 2007).
(3) Riwayat Keluarga Berencana
Riwayat KB untuk mengetahui alat kontrasepsi terakhir yang di-gunakan ibu meliputi jenis, lama penggunaan dan pengaruhnya (Varney, 2007).
(4) Riwayat Kehamilan Sekarang
dirasakan sekitar umur kehamilan 18 minggu, sedangkan pada multigravida pada 16 minggu (Prawirohardjo, 2011). (b) Jumlah gerakan dalam 12 jam, gerakan menendang atau
ten-dangan dari janin (10 gerakan/12 jam) (Prawirohardjo, 2009). (c) HPHT, digunakan untuk menentukan umur kehamilan
menu-rut rumus Neagle (Manuaba,2012).
(d) HPL, menghitung hari perkiraan lahir dapat menggunakan Rumus Naegele yaitu HPL = (hari pertama haid terakhir + 7) dan (bulan pertama haid terakhir – 3) dan (tahun haid terakhir +1) (Mochtar, 2011).
(e) Umur Kehamilan, menentukan usia kehamilan dengan : i. Rumus Neagele. Rumus ini terutama berlaku untuk wanita
dengan siklus 28 hari.
ii. Berdasarkan tinggi fundus uteri. Pengukuran dilakukan dengan menempatkan ujung dari pita ukur menempel pada dinding Abdomen diukur jaraknya kebagian atas fundus uteri. Ukuran ini biasanya sesuai dengan umur kehamilan
dalam minggu setelah umur kehamilan 24 minggu. iii. Berdasarkan palpasi abdominal.
Rumus Bartholomew adalah dengan mengukur an-tara simfisis pubis dan pusat dibagi 4 bagian yang sama, tiap bagian menunjukkan penambahan 1 bulan. Antara pusat dan prosesus xifoideus juga dibagi dalam 4 bagian dan tiap bagian menunjukkan kenaikan 1 bulan. Pada bu-lan ke 10 tinggi fundus uteri sama dengan bubu-lan ke 8 karena kepala sudah masuk panggul.
memberikan umur kehamilan dalam bulan obstetrik dan bila dikalikan 8 dan dibagi 7 memberikan umur kehamilan dalam minggu.
iv. Quickening (persepsi gerakan janin pertama). Gerakan janin pertama biasanya dirasakan pada umur kehamilan 18 minggu (primigravida) atau 16 minggu (multigravida). v. Ultrasonografi menggunakan 3 cara yaitu dengan
men-gukur diameter kantong kehamilan (GS = Gestasional Sac) untuk kehamilan 6-12 minggu, mengukur jarak
kepala-bokong (GRI = Grown Rump Length) untuk umur kehamilan 7-14 minggu dan dengan mengukur diameter biparietal (BPD) untuk kehamilan lebih dari 12 minggu (f) ANC (Antenatal Care) Trimester I, II, dan III. Kehamilan
normal cukup 4 kali. Pemeriksaan antenatal yang lengkap adalah K1, K2, K3 dan K4. Hal ini berarti, minimal di-lakukan sekali kunjungan antenatal hingga usia kehamilan 28 minggu, sekali kunjungan antenatal selama kehamilan 28-36 minggu dan sebanyak 2 kali kunjungan antenatal pada usia kehamilan di atas 36 minggu (Prawirohardjo, 2009).
trimester III keluhannya yaitu Konstipasi, Hemoroid, Sesak Nafas, Insomnia, Sering Kencing, Kontraksi Braxton Hicks, Edema, Gingivitis dan Epulis, Tekanan di Perineum, Nyeri
punggung bawah, Kram Kaki (Varney 2007, Walsh 2007, Bobak 2005).
(h) Imunisasi TT (Tetanus Toksoid)
Tabel 2.3 Pemberian Imunisasi TT
Antigen Interval Lama
Perlin-dungan
%per- lin-dungan
TT 1 Kunjungan antenatal pertama -
-TT 2 4 minggu setelah TT 1 3 tahun* 80
TT 3 6 minggu setelah TT 2 5 tahun 95
TT 4 1 tahun setelah TT 3 10 tahun 99
TT 5 1 tahun setelah TT 4 25 tahun / se-umur hidup
99
Keterangan : * artinya apabila dalam waktu 3 tahun wanita usia subur (WUS) tersebut melahirkan, maka bayi yang dilahirkan akan terlin-dung dari Tetanus Neonatorum (Saifuddin, 2009).
d) Riwayat Kesehatan
Ibu tidak pernah mengalami anemia, hipertensi, kardiovaskuler, TBC, diabetes, malaria, Infeksi menular seks (Sipilis, GO HIV/AIDS), asma, ginjal, pernah operasi, alergi obat atau makanan, epilepsi, penyakit hati dan kecelakaan, penyakit herediter (cacat saat lahir dan persakinan kembar) (Manuaba, 2010).
(1) Nutrisi, Kebutuhan nutrisi ibu selama hamil meningkat menjadi 2500 kalori dan kebutuhan sebanyak minimal 3 liter (Hellen var-ney, 2006).
(2) Eliminasi, Selama kehamilan TM III ibu akan mengalami konsti-pasi dan kenaikan frekuensi kencing dikarenakan penurunan bagian terendah janin yang menekan kantong kemih dan rektum (Cuningham, 2005).
(3) Istirahat, Pola istirahat ibu hamil TM III tidur malam 8 jam dan siang 1 jam. Posisi tidur yang baik bagi ibu trimester III dengan posisi miring ke kiri dan menghindari posisi tidur terlentang. Pola istirahat ini perlu diperhatikan, karena untuk meningkatkan kese-hatan jasmani, rohani dan pertumbuhan janinya. Hellen Varney (2006).
f) Data Psikologis-Sosial-Kultural
(1) Kekhawatiran ibu menghadapi persalinan
Data Psikologis : Ibu hamil TM III akan mengalami perubahan berupa kecemasan, emosi yang berubah-ubah, was-was, gelisah, takut dan khawatir dalam menghadapi kehamilan berkaitan den-gan keadaan janin yang dikandung dan ketakutan dalam meng-hadapi persalinan. Ibu hamil TM III akan mengalami mimpi dan khayalan terhadap janin yang dikandung (Humenick dan Nichols, 2000).
(2) Tempat dan penolong persalinan
Hubungan ibu dengan suami, keluarga dan lingkungan sekitar tempat berpengaruh terhadap dukungan suami dan keluarga se-lama proses kehamilannya (Saifuddin, 2010).
(4) Perasaan ibu terhadap kehamilan
Ibu akan merasa canggung, jelek, berantakan, dan perlu dukun-gan yang besar (Varney, 2006).
(5) Dukungan keluarga terhadap kehamilan
Keluarga selalu memberikan nasihat mengenai pengalaman hamil dan melahirkan, mendukung ibu dan membantu ibu dalam mem-persiapkan rencana persalinan (Prawirohardjo, 2011).
(6) Pengaruh lingkungan ibu terhadap kehamilan
Lingkungan masyarakat ibu mendukung kehamilan ibu dengan menasihati dan menceritakan pengalaman hamil dan melahirkan kepada ibu (Prawirohardjo, 2011).
(7) Pengaruh budaya
Di daerah tempat tinggal ibu tidak terdapat budaya yang menyim-pang terhadap perkembangan ibu hamil seperti menghindari makan telur dan ikan laut dan minum jamu untuk mengontrol per-darahan, mengobati dan mencegah demam (Prawirohardjo, 2011).
2) Data obyektif
a) Pemeriksaan umum
(1) Keadaan umum : Baik (Manuaba, 2013).
(2) Kesadaran : Composmentis (Manuaba, 2013). (3) Berat badan : Kenaikan berat badan selama hamil
sekitar 12-16 kg, setiap minggu akan mengalami kenaikan 0,5 kg
(Manuaba, 2012).
(5) LILA : Indikator status gizi juga itentukan
oleh LILA. Nilai LILA normal adalah23,5 (Kemenkes, 2010).
(6) Tanda Vital
(a) Tekanan darah : Tekanan darah normal yaitu 90/60 mmHg Mochtar (2011).
(b)Nadi : Jumlah frekuensi denyut nadi normal kisar antara 80 – 90 kali dalam tiap
menit (Manuaba, 2013).
(c)Pernapasan : Jumlah frekuensi pernapan normal adalah 20 – 24 kali dalam tiap menit (Sai-fuddin, 2010).
(d)Suhu : Perubahan suhu normal berkisar antara 36,5 ºC – 37,5ºC (Manuaba, 2013). b) Pemeriksaan fisik
(1) Kepala
Muka : tidak pucat, tidak odem, tidak ada cloasma gravi-darum (Manuaba, 2010).
Mata : konjungtiva merah muda dan sklera putih (Manu-aba, 2010).
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, vena jugularis dan pembuluh limfe (Manuaba, 2010).
(2) Payudara
Simetris, puting menonjol, ada hyperpigmentasi areola, tidak ada benjolan abnormal, kolostrum sudah keluar (Manuaba, 2010).
(3) Abdomen
Tidak ada bekas operasi, bentuk memanjang, ada striae gravi-darum, ada linea nigra (Manuaba, 2010).
Leopold II : Bagian kanan terba keras, panjang dan melengkung. Bagian kiri teraba
bagian-bagian kecil janin.
Leopold III : Teraba bagian keras, bulat dapat digoyangkan.
Leopold IV : Tagian terendah teraba 5/5 bagian DJJ : 120-160 kali/menit (Manuaba, 2010). (4) Genetalia dan anus
Vulva vagina tidak oedem, varises, pembesaran kelenjar bar-tolini serta kelenjar skene. anus tidak ada hemoroid Walsh (2007).
(5) Ektremitas
Tidak oedem, tidak pucat dan tidak ada varises (Sinclair 2009).
c) Pemeriksaan penunjang
(1) Haemoglobin : minimal 11 gr/dl (Manuaba, 2010). (2) Protein urin : negatif (Manuaba, 2010).
b. Perumusan diagnnosa dan atau masalah 1) Diagnosa kebidanan
Diagnosa yang ditegakkan dalam lingkup praktek kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur diagnosa kebidanan yaitu: G1P0A0 umur... tahun hamil 28 minggu dengan kehamilan normal dan janin tunggal hidup, presentasi kepala, sudah/belum masuk panggul (Kep-menkes, 2007).
Nyeri punggung, keletihan, kram kaki, rasa panas di ulu hati, sesak na-pas, konstipasi, hemoroid, peningkatan frekuensi berkemih, varises, bengkak, dan barxton hicks (Walsh, 2007).
3) Kebutuhan
Hal-hal yang dibutuhkan oleh pasien dan belum teridentifikasi dalam diagnosa dan masalah yang didapatkan dalam analisa data. Kebutuhan ibu selama TM III yaitu nutrisi (KIE gizi ibu hamil TM III), tanda ba-haya TM III, ketidaknyamanan TM III, personal hygine, seksual (KIE kebutuhan seksual ibu hamil), laktasi (perawatan payudara, ASI Ek-slusif, IMD, teknik menyusui yang benar, pijat oksitosin), Aktifitas (senam hamil dan body mekanik), persiapan persalinan (informasi tanda dan proses persalinan, teknik meneran, relaksasi pernapasan, dan perlengkapan bersalin), persiapan menjadi orang tua cara me-mandikan, menghangatkan, perawatan tali pusat, dan pola tidur bayi (Prawirohardjo, 2010).
c. Perencanaan
1. Penanganan terhadap keluhan ibu
2. Anjurkan untuk periksa Hb, protein urin dan USG 3. Beri dukungan emosional kepada ibu
4. Beri KIE tentang:
a) Gizi ibu hamil TM III b) Ketidaknyamanan TM III c) Tanda bahaya TM III d) Senam hamil
e) Body mekanis f) ASI Ekslusif
g) Inisiasi menyusu dini h) Perawatan payudara
i) Teknik menyusui yang benar j) Pijat oksitosin
5. Anjurkan ibu untuk memeriksakan kehamilannya di bidan sesuai den-gan jadwal atau jika ada keluhan (Varney (2007).
d. Pelaksanaan
Bidan melaksanakan rencana asuhan kebidanan secara komprehensif, efek-tif, efisien dan aman berdasarkan evidence based kepada klien/pasien,
dalam bentuk upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Dilak-sanakan secara mandiri, kolaborasi dan rujukan (Kepmenkes, 2007). e. Evaluasi
Bidan melakukan evaluasi secara sistematis dan berkesinambungan untuk melihat keefektifitasan dari asuhan yang sudah diberikan, sesuai dengan perubahan perkembangan kondisi klien (Kepmenkes, 2007).
B. Persalinan
1. Konsep Dasar
a. Pengertian
Menurut Manuaba (2010) persalinan adalah proses pengeluaran hasil kon-sepsi (plasenta dan janin) yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir, dengan bantuan atau tanpa bantuan.
b. Tanda-Tanda Persalinan
Tanda persalinan menurut Manuaba (2010) adalah : 1) Adanya his persalinan
Ciri khas his persalinan yaitu adanya rasa nyeri yang menjalar kede-pan, bersifat teratur, interval semakin pendek, kekuatan his semakin bertambah besar, dan semakin ibu melakukan aktivitas maka kekuatan his semakin bertambah.
2) Pengeluaran lendir darah
Adanya his dalam persalinan membuat adanya perubahan servik yang menyebabkan pendataran dan pembukaan. Lendir yang terdapat pada kanalis servikalis lepas disebabkan karena pembukaan serta perdara-han terjadi karena kapiler pembuluh darah pecah.
Biasanya terjadi karena kasus ketuban pecah, yang sebagian besar ter-jadi menjelang pembukaan lengkap.
4) Serviks mendatar dan pembukaan sudah ada
c. Penyebab mulainya persalinan
Beberapa teori yang memungkinkan terjadinya proses persalinan : 1) Teori keregangan
Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas tertentu. Setelah melewati batas waktu tersebut terjadi kontraksi sehingga per-salinan dapat mulai. Keadaan uterus yang terus membesar dan menjadi tegang mengakibatkan iskemia otot –otot uterus. Hal ini mungkin merupakan factor yang mengganggu sirkulasi uteroplasenter sehingga plasenta mengalami degenerasi (Manuaba, 2010).
2) Teori penurunan progesterone
Proses penurunan plasenta terjadi mulai umur kehamilan 28 minggu,di mana terjadi penimbunan jaringan ikat,pembuluh darah mengalami penyempitan dan buntu. Vili kariales mengalami perubahan –perubahan dan produksi progesterone mengalami penurunan, sehingga otot rahim lebih sensitive terhadap oksitosin (Manuaba, 2010).
3) Teori oksitosin internal
Oksitosin di keluarkan oleh kelenjar hipofisis pars posterior. Perubahan keseimbangan estrogen dan progesterone dapat mengubah sensivitas otot rahim ,sehingga sering terjadi kontraksi Braxton hicks. Menurun-nya konsentrasi progesterone akibat tuaMenurun-nya kehamilan maka oksitosin dapat meningkatkan aktivitas,sehingga persalinan di mulai
Konsentrasi prostaglandin meningkat sejak umur kehamilan 15 minggu, yang dikeluarkan oleh desidua. Pemberian prostaglandin pada saat hamil dapat menimbulkan kontraksi otot rahim sehingga terjadi persalinan. Prostaglandin di anggap memicu terjadinya persalinan (Manuaba, 2010).
5) Teori hipotalau –pituitari dan galndula suprarenalis
Teori ini menunjukkan pada kehamilan anensefalus yang sering terjadi keterlambatan persalian karena tidak terbentuk hipotalamus. (Manuaba, 2010).
d. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persalinan
Menurut Bobak (2005) ada beberapa faktor yang berperan dalam persali-nan yaitu:
1) Power (kekuatan)
Kekuatan mendorong janin dalam persalinan adalah his, kontraksi
otot-otot perut, kontraksi diafragma dan aksi dari ligamen. Kontraksi uterus involunter atau kekuatan primer menandai mulainya persalinan, sedangkan kontraksi volunter adalah saat serviks berdilatasi terdapat usaha untuk mendorong.
2) Passage (jalan lahir)
Jalan lahir terdiri atas panggul ibu, yakni tulang padat, dasar
vagina dan introitus. Jenis panggul ada 4 yaitu: ginekoid, android, antropoid dan platipeloid. Adapun bidang Hodge menurut Manuaba
(2010) yaitu:
a) Hodge I, bidang yang dibentuk pada lingkaran pintu atas panggul dengan bagian atas simfisis dan promontorium
c) Hoge III, bidang yang sejajar Hodge I dan II setinggi spinais-chiadika kanan dan kiri
d) Hodge IV, bidang yang sejajar Hodge I, II, dan III setinggi ujung coccygeus.
3) Passanger (janin dan plasenta)
Cara penumpang (passenger) atau janin bergerak dijalan lahir meru-pakan akibat interaksi beberapa faktor yaitu ukuran kepala janin, pre-sentasi, letak, sikap dan posisi. Plasenta juga harus melewati jalan lahir sehingga dapat dianggap penumpang yang menyertai janin. 4) Posisi
Mengubah posisi membuat rasa letih hilang, memberi rasa nyaman, dan memperbaiki sirkulasi. Posisi tegak meliputi posisi berdiri, ber-jalan, duduk, dan jongkok. Posisi tegak memungkinkan gaya gravitasi yang membantu penurunan janin. Kontraksi uterus lebih kuat dan efisien untuk membantu penipisan dan dilatasi serviks sehingga per-salinan menjadi lebih cepat.
5) Psikologis
Kondisi psikis ibu dapat mempengaruhi proses persalinan. Ibu bersalin yang didampingi oleh suami dan orang yang dicintainya cen-derung mengalami proses persalinan yang lebih lancar dibandingkan tanpa pendamping.
e. Mekanisame Persalinan
Mekanisme persalinan normal menurut Prawirohardjo (2011) terdiri dari: 1) Penurunan Kepala, terjadi selama proses persalinan karena daya
do-rong dari kontraksi uterus yang efektif, posisi, serta kekuatan meneran dari pasien.
3) Fleksi, fleksi menjadi hal terpenting karena diameter kepala janin ter-kecil dapat bergerak masuk panggul sampai ke dasar panggul.
4) Putaran paksi dalam, putaran internal dari kepala janin akan membuat diameter anteroposterior dari kepala janin menyesuaikan diri dengan anteroposterior dari panggul.
5) Lahirnya kepala dengan ekstensi, bagian leher belakang di bawah ok-siput akan bergeser kebawah simphisispubis dan bekerja sebagai titik poros (hipomoklion). Uterus yang berkontraksi kemudian memberikan tekanan tambahan di kepala yang menyebabkannya ekstensi lebih lan-jut saat lubang vulva. Vagina membuka lebar.
6) Restitusi adalah perputaran kepala sebesar 45° baik ke kanan atau ke kiri, bergantung kepada arah dimana ia mengikuti perputaran menuju posisi oksiput anterior.
7) Putaran paksi luar, putaran ini terjadi bersamaan dengan putaran inter-nal dari bahu. Pada saat kepala janin mencapai dasar panggul, bahu akan mengalami perputaran dalam arah yang sama dengan kepala ja-nin.
8) Lahirnya bahu & seluruh anggota badan bayi, bahu posterior akan menggembungkan perineum dan kemudian dilahirkan dengan cara fleksi lateralis. Setelah bahu dilahirkan, seluruh tubuh janin lainnya akan dilahirkan.
f. Partograf 1) Pengertian
a) Semua ibu fase aktif kala I persalinan sampai dengan kelahiran bayi.
b) Semua tempat pelayanan persalinan (rumah, puskesmas, Bidan Praktek Swasta (BPS), rumah sakit, dan lain-lain)
c) Semua penolong persalinan yang memberikan asuhan kepada ibu selama persalinan dan kelahiran (spesialis obgyn, bidan, dokter umum, residen dan mahasiswa kedokteran) (Prawirohardjo,2010). 3) Pencatatan Partograf
Menurut Saifuddin (2012) pada partograf petugas harus mencatat kon-disi ibu dan janin sebagai berikut :
a) DJJ
Penilaian DJJ dilakukan setiap 30 menit.Skala angka di sebelah kolom paling kiri menunjukkan jumlah DJJ.Catat DJJ dengan memberi tanda titik pada garis dengan angka yang sesuai kemu-dian menghubungkan titik satu dengan yang lainnya dengan garis yang tidak terputus.
b) Warna dan adanya air ketuban
U : ketuban utuh (belum pecah)
J : selaput ketuban pecah, air ketuban jernih
M : ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur meconium
D : ketuban sudah pecah dan bercampur darah
K : ketuban sudah pecah dan tidak ada ketuban kering). c) Molase (penyusupan kepala)
0 : Tulang-tulang kepala janin terpisah, sutura mudah dipalpasi
1 : Tulang-tulang kepala janin saling bersentuhan 2 : Tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih,tetapimasih bisa dipisahkan
3 : Tulang-tulang kepala janin tumpang tindih dan tidak dapat dipisahkan.
d) Pembukaan mulut Rahim (servik), dinilai setiap 4 jam dan diberi tanda silang (X)
dengan tanda lingkaran (O) pada setiap pemeriksaan dalam. Pada posisi 0/5 belum terjadi penurunan bagian terendah (kepala). f) Waktu. Menyatakan berapa jam waktu yang telah dijalani sesudah
pasien diterima.
g) Jam. Catat jam sesungguhnya.
h) Kontraksi. Catat setiap setengah jam; lakukan palpasi untuk menghitung banyaknya kontraksi dalam 10 menit dan lamanya tiap-tiap kontraksi dengan hitungan detik
(a) Kurang dari 20 detik : kotak diberi titik-titik (b) Antara 20-40 detik : kotak diberi garis-garis (c) Lebih dari 40 detik : kotak diisi penuh (diblok)
i) Oksitosin. Jika memakai oksitosin, catatlah banyaknya oksitosin per volume cairan infus dalam tetesan permenit.
j) Obat yang diberikan. Catat semua obat yang diberikan.
k) Nadi. Catatlah setiap 30-60 menit dan ditandai dengan sebuah titik besar (•).
l) Tekanan darah. Catatlah setiap 4 jam dan ditandai dengan anak panah.
m) Suhu badan. Catatlah setiap 2 jam.
n) Protein, aseton dan volume urin. Catatlah setiap kali ibu berkemih.
Jika temuan-temuan diatas melintas kearah kanan dari garis was-pada, petugas kesehatan harus melakukan penilaian terhadap kon-disi ibu dan janin dan mencari rujukan yang tepat.
g. Tahapan Persalinan
Menurut Manuaba (2010), persalinan dibagi mendai beberapa tahapan yai-itu:
1) Kala I (kala pembukaan)
a) Fase laten, pembukaan berlangsung lambat sejak awal kontraksi dan pembukaan secara bertahap sampai pembukaan 3 cm. Fase laten pada primigravida berlangsung 8-10 jam dan pada multi-gravida berlangsung 6-8 jam (Mochtar,2011).
b) Fase aktif, pembukaan servik mulai dari pembukaan 4 sampai 10 cm, dibagi menjadi 3 subfase yaitu: periode akselerasi dimulai dari pembukaan menjadi 4 cm berlangsung selama 2 jam. Periode dilatasi maksimal yaitu pembukaan berlangsung cepat menjadi 9 cm dan berlangsung selama 2 jam. Periode deselerasi dimana dalam 2 jam pembukaan menjadi 10 cm atau lengkap. Penamba-han pembukaan pada primigravida 1 cm/jam dan pada multi-gravida pembukaan 2 cm/jam, dengan perhitungan tersebut maka waktu pembukaan lengkap dapat diperkirakan (Mochtar,2011). 2) Kala II ( pengeluaran janin)
Kala II dimulai ketika pembukaan lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Pada primigravida berlangsung selama 2 jam dan multigravida 1 jam. Tanda dan gejala kala II yaitu his semakin kuat antara 2 sampai 3 menit, peningkatan pengeluaran lendir darah, ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan adanya kontraksi, merasakan meningkatnya tekanan pada anus, vulva vagina dan sfin-gter ani terlihat membuka dan perineum menonjol. Diagnosis kala II dapat ditegakan atas dasar pemeriksan dalam yang menujukkan pem-bukaan servik lengkap.
Kala III dimulai setelah bayi lahir sampai dengan lahirnya plasenta dan selaput plasenta. Proses ini biasanya berlangsung 5-30 menit sete-lah bayi sete-lahir.
4) Kala IV (Kala Pengawasan)
Kala IV dimulai dari lahirnya plasenta sampai 2 jam setelah proses tersebut. Observasi yang harus dilakukan pada kala IV antara lain tingkat kesadaran, tanda-tanda vital, kontraksi uterus dan perdara-han.
Tabel 2.4 Perkiraan Lama Persalinan
Kala Primigravida Multigravida
I 10-12 jam 6-8 jam
II 1-1,5 jam 0.5-1 jam
III 10 menit 10 menit
Jumlah 12-14 jam 8-10 jam
Sumber: Manuaba (2010) h. Perubahan fisiologis pada masa persalinan
1) Kala I
a) Perubahan fisiologi
(1) Tekanan darah, meningkat selama terjadi kontraksi (sistol 10-20 mmHg dan diastol 5-10 mmHg).
(2) Metabolisme, metabolisme karbohidrat aerob dan anaerob meningkat karena kecemasan dan otot skeletal yang ditandai peningkatan suhu, denyut nadi, curah jantung, pernapasan dan kehilangan cairan.
(3) Suhu tubuh, sedikit meningkat selama persalinan namun perlu dijaga agar tidak lebih dari 0,5-1oC.
(4) Detak jantung, berhubungan dengan peningkatan metabolisme detak jantung akan meningkat selama kontraksi.
(6) Ginjal, peningkatan kardiak output, filtrasi glomerulus dan ali-ran plasma ginjal menyebabkan poliuri selama proses persali-nan.
(7)Gastrointestinal, motilitas lambung dan absorbsi makanan pa-dat berkurang selama persalinan.
(8)Hematologi, Hb meningkat sampai 1,2 gr/100 ml selama per-salinan dan akan kembali sehari pasca perper-salinan seperti keadaan sebelum persalinan, kecuali jika terjadi perdarahan post partum. Varney, (2008)
b) Perubahan psikologis
Seorang ibu yang memasuki masa persalinan akan muncul perasaan takut, khawatir ataupun cemas. Ketakutan yang di-rasakan ibu disebabkan oleh kerakutan terhadap kondisi janinnya dan ketakutan akan rasa sakit. Menurut Bobak (2005) dalam masa persalinannya seoang ibu akan mengalami perubahan psikologi sesuai dengan fase yang dilalui selama persalinan, yaitu:
(1) Fase laten ibu akan tegang, pikiran terpusat pada dirinya, bayi dan persalinan, dapat menjadi banyak bicara atau diam, ten-ang atau tegten-ang, khawatir; nyeri dapat diatasi dengan cukup baik, segera mengikuti petunjuk dan terbuka terhadap in-truksi.
(3) Pada pembukaan 8-10 cm: rasa nyeri semakin hebat, nyeri punggung, merasa frustasi dan tampak mudah marah; komu-nikasi tidak jelas; amnesia diantara waktu kontraksi; mual dan muntah; pucat disekitar dah, mulut dan bibir atas berkeringat; paha gemetar; ingin buang air besar dan terdapat tekanan yang kuat pada anus.
2) Kala II
a) Perubahan fisiologis
Saat pembukaan sudah lengkap, anjurkan ibu untuk meneran sesuai dorongan alamiahnya dan beristirahat diantara dua kon-traksi serta ibu harus dalam keadaan nyaman yang diinginkannya. b) Perubahan psikologi
Merasa letih dan mengantuk ingin mengedan, mengeluarkan suara yang keras dan menghembuskan napas dengan bersuara, sering mengubah posisi, merasa nyerinya sangat kuat, gembira dengan melihat keluarnya kepala bayi.
3) Kala III
a) Perubahan fisiologis
Ukuran rongga uterus berkurang setelah bayi lahir yang menye-babkan plasenta menekuk, menebal dan akhirnya terlepas dari dinding uterus karena implantasi plasenta yang semakin kecil sedangkan ukuran plasenta tidak berubah. Setelah lepas, plasenta akan turun ke bagian bawah uterus atau bagian atas vagina. b) Perubahan psikologis
Ibu ingin melihat, menyentuh serta memeluk bayinya, merasa gembira, lega dan bangga atas dirinya; juga merasa sangat lelah, memusatkan diri dan kerap bertanya apakan perlu dijahit jalan lahirnya, dan menaruh perhatian pada plasenta.
Menurut Lesser and Kaen dalam Varney (2007), kebutuhan ibu bersalin yaitu :
1) Kehadiran pendamping secara terus-menerus
Suami sebagai pendamping istri dapat memberikan dukungan seperti bernafas seirama dengan istrinya, membantu menopang istrinya pada detik-detik kontraksi, memijit-mijit punggung istrinya, menyuguhkan minuman, menyampaikan pesan istrinya kepada bidan dan dokter, serta memberikan perhatian dan semangat secara terus menerus.
Selain dukungan dari suami atau keluarga, bidan juga berperan aktif dalam proses pendampingan, diantaranya :
a) Selama bersama pasien, bidan harus konsentrasi penuh untuk mendengarkan dan melakukan observasi
b) Membuat kontak fisik yaitu membasuh muka pasien, menggosok punggung, dan memegang tangan pasien
c) Menempatkan pasien dalam keadaan yakin (bidan bersikap ten-ang dan bisa menenten-angkan pasien)
2) Bebas dari rasa nyeri persalinan
Pendampingan secara terus menerus merupakan peran yang san-gat penting dalam mengurangi pengurangan rasa sakit. Pengurangan rasa nyeri misalnya: mendukung persalinan, mengatur posisi, relak-sasi, latihan nafas, istirahat, menjaga privasi, memberikan KIE ten-tang proses/kemajuan persalinan, prosedur pertolongan persalinan, dan asuhan tubuh.
bersalin akan merasa rileks dan nyaman karena tubuh akan mengelu-arkan hormon endorphin yang merupakan penghilang rasa sakit yang alami didalam tubuh.
Teknik counterpressure merupakan metode nonfarmakologi dalam penghilangan rasa nyeri. Impuls nyeri dihantarkan ke Sistem Saraf Perifer bila sistem pertahanan dibuka dan dihambat apabila sis-tem pertahanan ditutup. Counterpressure dapat menutup sissis-tem perta-hanan sehingga impuls nyeri tidak sampai ke SSP.
3) Perawatan tubuh
Perawatan tubuh dan perawatan penunjang selama kala II nan merupakan kelanjutan asuhan yang dimulai selama kala I persali-nan, dimodifikasi untuk memenuhi perubahan kebutuhan wanita yang berkembang selama persalinan, yaitu:
a) Pernafasan dan Oksigen b) Makan dan minum
c) Istirahat selam tidak ada his
d) Kebersihan badan terutama genetalia e) Buang air keil dan buang air besar f) Pertolongan persalinan yang terstandar g) Penjahitan perineum bila perlu.
4) Penerimaaan atas sikap dan perilakunya
a) Menghormati praktek-praktek budaya,keyakinan agama dan ibu atau keluarga sebagai pengambil keputusan.
b) Mempersilahkan ibu memilih posisi yang nyaman c) Menghargai sikap dan perilaku ibu
5) Informasi tentang diri dan janinnya
a) Hak pasien untuk mendapat informasi tentang keadaannya dan bayinya
b) Informasi kelas tentang tindakan yang akan dilakukan,dan tujuan dan resikonya.
Asuhan persalinan kala I pada dasarnya adalah untuk memenuhi rasa aman dan nyaman serta memonitoring kemajuan persalinan.
1) Pemenuhan rasa aman dan nyaman
Menurut Varney (2007), posisi yang nyaman dapat membantu ro-tasi janin dari posisi posterior ke anterior. Setiap posisi mengarahkan Uterus ke depan (anterior) membantu gravitasi membawa sisi yang
lebih berat pada punggung janin ke depan, ke sisi bawah Abdomen ibu. Posisi yang dapat diambil, antara lain: terlentang, rekumben lat-eral, dada-lutut, tangan-lutut, duduk, berdiri, berjalan, dan jongkok. Berjalan pada awal persalinan dapat menstimulasi persalinnan dan membantu ibu untuk rileks serta mengatasi persalinan dengan baik. 2) Pemenuhan Nutrisi
Pada masa persalinan, motilitas dan absorbsi lambung terhadap makanan padat jauh berkurang sehingga lambung yang penuh dapat menimbulkan ketidaknyamanan pada masa transisi, oleh karena itu ibu dianjurkan tidak makan dalam porsi besar dan minum berlebih tetapi makan dan minum sesuai keinginan guna mempertahankan energi dan hidrasi (Varney,2007).
3) Posisi Miring ke Kiri
Menurut Varney (2007), posisi rekumben lateral memiliki man-faat yaitu: koordinasi yang lebih baik dan efisiensi kontraksi Uterus yang lebih besar daripada ibu pada posisi terlentang, memfasilitasi ginjal karena aliran urine akan menurun pada posisi terlentang, mem-fasilitasi rotasi janin pada posisi posterior, meredakan tekanan Uterus, dan kompresi pada pembuluh darah ibu yang utama (vena kava infe-rior dan aorta) yang dapat terjadi ketika posisi ibu terlentang
Perasaan sakit ketika ada kontraksi dianggap sebagai satu-satunya nyeri yang fisiologis, hal ini disebabkan oleh iskemia dalam korpus uteri terdapat banyak serabut saraf dan diteruskan melalui saraf sen-sorik di pleksus hipogastrik ke sistem saraf pusat (Prawiroharjo,2010). Penatalaksanaan yang dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri saat ada kontraksi serta pemenuhan nutrisi sesuai dengan teori Varney (2007)
yaitu dengan usapan pada punggung yang dilakukan anggota keluarga lain.
Menurut Varney (2007), keuntungan bernafas saat ada kontraksi adalah membuat ibu merasa lega, mengalihakan konsentrasi, dan men-gurangi tekanan sekaligus rasa nyeri karena bernafas mengangkat dinding Abdomen ke arah atas, lepas dari uetrus yang berkontraksi 5) Monitoring/ deteksi dini kemajuan persalinan
Pada persalinan KALA I dilakukan pemantauan dengan menggu-nakan lembar observasi pada fase laten dan lembar partoraf pada fase aktif. Partograf adalah alat bantu yang digunakan selama fase aktif persalinan.
Kondisi ibu dan bayi harus dinilai dan dicatat secara seksama, yaitu: Tabel 2.5 Pemantauan pada Ibu Bersalin
Parameter Frekuensi pada fase laten
Frekuensi pada fase aktif
Tekanan Darah Setiap 4 jam Setiap 4 jam
Suhu badan Setiap 4 jam Setiap 2 jam
Nadi Setiap 30 – 60 menit Setiap 30 – 60 menit Denyut jantung janin Setiap 1 jam Setiap 30 menit
Kontraksi Setiap 1 jam Setiap 30 menit Pemeriksaan dalam: Setiap 4 jam Setiap 4 jam Pembukaan Serviks
Penurunan
(Sumber : Prawirohardjo, 2010). Asuhan Persalinan Kala II, kala III dan kala IV
Menurut Prawirohardjo (2010), Asuhan persalinan kala II, kala III dank ala IV adalah pertolongan persalinan dengan metode 60 langkah APN , yang meliputi:
1) Mengamati tanda dan gejala persalinan kala II a) Ibu merasa ada dorongan kuat dan meneran
b) Ibu merasakan tekanan yang semakin meningkat pada rektum dan vagina
c) Perineum tampak menonjol d) Vulva dan sfingter ani membuka
2) Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial un-tuk menolong persalinan dan menatalaksana komplikasi ibu dan bayi baru lahir. Untuk asfiksia : tempat datar dan keras, 2 kain dan 1 han-duk bersih dan kering, lampu sorot 60 watt dengan jarak 60 cm dari tubuh bayi.
a) Menggelar kain diatas perut ibu dan tempat resusitasi serta ganjal bahu bayi
b) Menyiapkan oksitosin 10 unit dan alat suntik steril sekali pakai pada partus set
3) Pakai celemek plastik
4) Melepaskan dan menyimpan semua perhiasan kemudian cuci tangan 5) Pakai sarung tangan Dekontaminasi Tingkat Tinggi (DTT) pada
tan-gan yang digunakan untuk periksa dalam
6) Memasukkan oksitosin ketabung suntik, pastikan tidak ada kontami-nasi.
7) Membersihkan vulva dan Perineum dengan kapas DTT
a) Jika introitus vagina, Perineum atau anus terkontaminasi tinja, bersihkan dari depan ke belakang
c) Ganti sarung tangan jika terkontaminasi ( dekontaminasi, lep-askan dan rendam dalam larutan klorin 0,5%)
8) Lakukan periksa dalam untuk memastikan pembukaan lengkap Bila selaput ketuban dalam pecah dan pembukaan sudah lengkap maka lakukan amniotomi
9) Dekontaminasi sarung tangan dengan mencelupkan kedalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit. Cuci tangan setelah melepas sarung tangan.
10) Periksa DJJ setelah kontraksi/saat relaksasi Uterus untuk memas-tikan DJJ dalambatas normal (120-160 x/menit)
a) Mengambil tindakan jika DJJ tidak normal
b) Mendokumentasikan hasil pemeriksa dalam, DJJ dan semua hasil pemeriksaan pada partograf
11) Beritahukan bahwa pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik bantu ibu untuk menemukan posisi yang nyaman
12) Minta keluarga untuk membantu mempersiapkan posisi meneran. 13) Laksanakan bimbingan maneran saat ibu merasa ada dorongan kuat
untuk meneran. Anjurkan ibu untuk berjalan, jongkok, atau mengam-bil posisi yang nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan men-eran dalam 60 menit.
14) Letakkan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) diperut ibu, jika kepala bayi telah membuka vulva 5-6 cm.
15) Letakkan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian dibawah bokong ibu 16) Buka tutup partus set dan perhatikan kelengkapan alat.
17) Pakai sarung tangan DTT pada kedua tangan.
19) Dengan lembut menyeka muka, mulut dan hidung bayi dengan kain atau kassa yang bersih.
20) Periksa kemungkinan adanya lilitan dan ambil tindakan segera jika itu terjadi.
21) Tunggu kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara spontan. 22) Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, pegang secara
bi-parental dengan lembut gerakan kepala kearah bawah hingga bahu depan muncul dibawah arkus pubis dan gerakkan kearah atas dan distal untuk melahirkan bahu belakang.
23) Setelah bahu lahir, geser tangan bawah kearah Perineum untuk menyanggah kepala.
24) Setelah tubuh dan lengan lahir, penelusuran tangan atas berlanjut kepunggung, bokong, tungkai dan kaki. Pegang kedua mata kaki bayi.
25) Lakukan penilaian selintas :
a) Apakah bayi menangis kuat dan/atau bernafas tanpa kesulitan? b) Apakah bayi bergerak aktif ? Jika bayi tidak menangis atau tidak
bernafas lakukan langkah resusitasi.
26) Keringkan tubuh bayi. Biarkan bayi ada diatas perut ibu.
27) Menjepit tali pusat dengan menggunakan klem kira –kira 3 cm dari pusat bayi. Melakukan urutan pada pada tali pusat mulai dari klem kearah ibu dan memasanbg klem kedua 2cm dari klem pertama (kearah ibu)
28) Memegang tali pusat dengan satu tangan, melindungi bayi dari gunt-ing dan memotong talipusat diantara dua klem tersebut.
30) Memberikan bayi pada ibunya dan menganjurkan ibu untuk memeluk bayinya dan memulai pemberian ASI jika ibu menghen-dakinya.
31) Meletakkan kain yang bersih dan kering. Melakukan palpasi Ab-domen untuk menghilangkan kemungkinan adanya bayi kedua. 32) Beritahu ibu bahwa akan disuntikkan oksitosin agar berkontraksi
dengan baik.
33) Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikkan oksitosin 10 unit Intramuskular (IM) di 1/3 bagian atas distal lateral.
34) Pindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari vulva 35) Letakkan satu tangan diatas kain perut ibu, ditepi atas simpisis untuk
mendeteksi. Tangan lain menegangkan tali pusat.
36) Setelah Uterus berkontraksi, tegangkan tali pusat kearah bawah sam-bil tangan yang lain mendorong Uterus kearah dorso kranial secara hati-hati. Jika plasenta tidak lahir setelah 30-40 detik, hentikan pene-gangan tali pusat terkendali (PTT) dan tunggu kontraksi selanjutnya. Jika Uterus tidak segera berkontraksi, minta ibu, suami atau anggota keluarga untuk melakukan stimulasi putting susu.
a) Lakukan penegangan dan dorongan dorso kranial hingga plasenta terlepas, minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai kemudian kearah atas, mengikuti poros jalan lahir.
b) Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga ber-jarak sekitar 5-10 cm dari vulva dan lahirkan plasenta
c) Jika plasenta tidak lepas setelah 15 menit menegangkan tali pusat (1) Beri dosis ulangan oksitosin 10 unit IM
(2) Lakukan kateterisasi (aseptik) jika kandung kemih penuh (3) Minta keluarga menyiapkan rujukan
(5) Jika plasenta tidak lahir dalam 30 menit setelah bayi lahir atau bila terjadi perdarahan, segera lakukan plasenta manual. 37) Setelah plasenta terlepas, meminta ibu untuk meneran sambil
menarik tali pusat kearah bawah dan kemudian kearah atas, mengikuti kurva jalan lahir sambil meneruskan tekanan berlawanan arah pada Uterus.
38) Saat plasenta muncul di introitus vagina, lahirkan plasenta dengan kedua tangan. Pegang dan putar plasenta hingga selaput ketuban ter-pilin kemudian lahirkan dan tempatkan plasenta pada wadah yang telah disediakan.
39) Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, lakukan masase Uterus, kemudian lakukan masase Uterus.
40) Periksa kedua sisi plasenta baik bagian ibu maupun bayi dan pastikan selaput ketuban lengkap dan utuh.
41) Evaluasi adanya laserasi pada vagina dan Perineum. Lakukan pen-jahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan.
42) Pastikan kontraksi Uterus baik dan tidak ada perdarahan pervagi-nam.
43) Mencelupkan kedua tangan yang memakai sarung tangan tersebut dengan larutan klorin 0,5 % , membilas dengan air DTT dan menger-ingkannya dengan kain bersih.
44) Menempatkan klem tali pusat disinfeksi tingkat tinggi atau steril atau mengingatkan tali disinfeksi tingkat tinggi dengan simpul mati seke-liling tali pusat sekitar 1 cm dari pusat
45) Mengikat satu lagi simmpul mati di bagian pusat yang bersebrangan dengan simpul mati yang pertama
47) Menyelimuti kembali bayi dan menutupi bagian kepalanya. Memas-tikan handuk atau kainnya bersih atau kering
48) Menganjurkan ibu untuk memulai pemberian ASI
49) Melanjutkan pemantauan kontraksi Uterus dan perdarahan pervagi-nam
50) Mengajarkan pada ibu / keluarga bagaimana melakukan massase Uterus dan memeriksa kontraksi Uterus.
51) Mengevaluasi kehilangan darah
52) Memeriksa tekanan darah, nadi, dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama satu jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama jam kedua pasca persalinan.
a) 2-3 kali dalam 15 menit pertama pasca persalinan b) Setiap 15 menit pada 1 jam pertama pasca persalinan c) Setiap 20-30 menit pada jam kedua pasca persalinan
d) Memeriksa temperature tubuh ibu sekali setiap jam selama 2 jam pertama pasca persalinan
e) Melakukan tindakan jika ditemui keadaan tidak normal
53) Menempatkan semua peralatan di dalam larutan klorin 0.5 % untuk dekontaminasi selama 10 menit
54) Membuang bahan-bahan yang terkontaminasi kedalam tempat sam-pah yang sesuai
55) Membersihkan ibu dengan menggunakan air disinfeksi tingkat tinggi 56) Memastikan bahwa ibu nyaman
57) Mendekontaminasikan daerah yang digunakan untuk melahirkan dengan larutan klorin 0.5 % dan membilas dengan air bersih
58) Mencelupkan sarung tangan kotor kedalam larutan klorin 0.5 % , membalikkan bagian dalam keluar dan merendamnya di larutan klorin 0.5 % selama 10 menit
59) Mencuci kedua tangan dengan sabun 60) Melengkapi partograf.
2. Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalin a. Pengkajian
1) Data Subyektif
Nama : Untuk memudahkan memanggil, menghindari kekeliruan, untuk mengetahui nama ibu dan suami.
Umur : Usia reproduksi sehat seorang wanita antar 20-35 tahun.
Agama : Untuk mengetahui keyakinan yang dianut ibun dan suami.
Pendidikan : Untuk mengetahui dalam memberikan KIE Pekerjaan : Untuk mengetahui tingkat social ekonomi,
mengidentifikasi resiko cedera yang berhubungan dengan pekerjaan.
Alamat : Mengetahui alamat tempat tinggal ibu dan suami(Varney,2007).
b) Keluhan
Kala I ibu mengeluh kenceng-kenceng yang sering dan kuat dan keluar lendir darah (Manuaba, 2010). Kala II ibu mengeluh ada dorongan ingin meneran, ingin BAB dan kenceng semakin kuat (Prawirohardjo, 2010). Kala III ibu merasa senang karena anaknya sudah lahir dan perut terasa mules (Manuaba, 2010).
c) Data Kebidanan
(6) Riwayat perkawinan
Riwayat perkawinan yang perlu dikaji dalam data ini adalah lama menikah, karena harusnya pada tahun pertama harus sudah hamil, hamil setelah 5 tahun merupakan hamil primi tua yang perlu perhatian (Manuaba,2010).
(7) Riwayat kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang lalu
Jumlah keguguran, jumlah bayi prematur(bayi antara usia ke-hamilan 20-36 minggu dan berat badan antara 500-2499 gram. Riwayat kehamilan (gemeli,plaseta previa,kehamilan ektopik,mola hidatidosa), riwayat persalinan (persalinan normal. Induksi atau Sectio caesaria) (Varney,2007).
(8) Riwayat keluarga berencana
Riwayat KB untuk mengetahui alat kontrasepsi terakhir yang di-gunakan ibu meliputi jenis, lama penggunaan dan pengaruhnya (Varney,2007).
(9) Riwayat kehamilan sekarang
(a) Pergerakan janin pertama. Gerakan janin biasanya dis-rasakan pada usia kehamilan 18-20 minggu. Pada paripurna akan dirasakan sekitar umur kehamilan 18 minggu. Sedan-gkan pada multigravida pada 16 minggu (Prawiroharjo,2011)
(b) Jumlah gerakan dalam 12 jam. Gerakan menendang atau tendangan dari janin (10 gerakan/12 jam) (Prawiroharjo,2009).
(c) HPHT, digunakan untuk menentukan umur kehamilan menurut rumus Neaglem (Manuaba,2012).
(d) HPL, menghitung dari perkiraan lahir dapat menggunakan Rumus Neagle yaitu HPL = (hari pertama haid terakhir +7) dan (bulan pertma haid terakhir -3) dan (tahun haid terakhir+1) (Mochtar,2011).
(e) Umur kehamilan, menentukan usia kehamilan dengan i. Rumus Neagle. Rumus ini terutama berlaku untuk
ii. Berdasarkan tinggi Fundus uteri. Pengukuran di-lakukan dengan menempatkan ujung dari pita ukur menenempel pada dinding Abdomen di ukur jaraknya kebagian atas Fundus uteri. Ukuran ini biasanya sesuai dengan umur kehamilan dalam minggu setelah umur kehamilan 24 minggu.
iii. Berdasarkan palpasi abdominal
Rumus Bartholomew adalah dengan mengukur an-tara simfisis pubis dan pusat dibagi menjadi 4 yang sama, tiap bagian menunjukan penambahan 1 bulan. Antara pusat dan Prosecus xifiodeus juga dibagi dalam 4 bagiam tiap bagian menunjukan kenaikan 1 bulan. Pada bulan ke 10 minggu fundus uteri sama dengan bulan ke 8 kepala sudah masuk panggul. Rumus Mc. Donald yaitu dengan mengukur fun-dus uteri dengan pita. Tinggi funfun-dus uteri dikalikan 2 dan dibagi 7 memberikan umur kehamilan dalam bu-lan obstrik dan bila dikalikan 8 dan dibagi 7 mem-berikan umur kehamilan dalam minggu.
d) Nutrisi
Jenis makanan harus mudah dicerna, minum terakhir berupa jenis dan porsi Hellen Varney (2006).
e) Eliminasi
Terjadi konstipasi dan BAK meningkat sejak akhir kehamilan akibat penurunan bagian terendah janin (Cuningham,2005).
f) Data Psikologis
nyeri kontraksi. Ibu akan makin tegang dan pikiran terpusat pada dirinya, ibu menjadi banyak bicara atau diam (Bobak, 2005).
2) Data obyektif
a) Pemeriksaan umum
Keadaan umum : Baik (Manuaba,2010).
Kesadaran : Composmentis (Manuaba,2010).
Tekanan darah : Untuk memastikan tekanan darah yang sebe-narnya, pastikan mengeceknya dengan baik pada interval anatar kontraksi, lebih disukai ibu berbar-ing mirberbar-ing. Varney (2008)
Nadi : Perubahan yang mencolok selama kontraksi dis-ertai peningkatan selama fase peningkatan, penu-runan selama titik puncak sampai frekuensi yang lebih rendah daripada frekuensi diantara kontraksi, dan peningkatan selama fase penurunan hingga mencapai frekuensi lazim diantar kontraksi. Var-ney (2008).
Pernapasan : Sedikit meningkat frekuensi pernafasan masih normal selama persalinan dan mencerminkan pen-ingkatan metabolisme yang terjadi. Varney (2008). Suhu : Sedikit meningkat selama persalinan teritnggi s
elama dan setelah melahirkan. Varney (2008). b) Pemeriksaan fisik
1) Abdomen
Leopold I : TFU 3 jari dibawah proxesus xhipoideus, teraba bagian bulat dan lunak
Leopold II : bagian kanan teraba panjang dan keras Leopold III: teraba bagian keras, tidak dapat digerakan Leopold IV: teraba 3/5 bagian.
kala I lanjut 3-4 kali/10 menit dengan kekuatan 60 satuan, kala II 4-5 kali/10 menit,
Djj : 120-160 kali/menit (Manuaba, 2010). 2) Genetalia
Pemeriksaan dalam: porsio lunak, pembukaan dan penipisan serviks (kala I fase laten pembukaan hingga 3 cm, kala I fase ak-tif pembukaan 4-10 cm, kala II pembukaan 10 cm), status ke-tuban (utuh atau sudah pecah), bagian terendah (kepala dan mo-lase), dan penurunan bagian terendah (Bobak, 2005).
c) Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan cairan ketuban dengan kertas lakmus (tes Nitrazin), jika kertas lakmus merah berubah menjadi biru menunjukkan adanya air ketuban (alkalis). pH air ketuban 7-7,5 (Manuba, 2010).
b. Perumusan diagnosa dan atau masalah 1) Diagnosa
G1P0A0 umur... tahun hamil 40 minggu inpartu kala I fase aktif (Kep-menkes, 2007).
2) Masalah
Masalah yang ditemukan pada persalinan antara lain: nyeri akibat kon-traksi, sesak napas dan berdebar-debar (varney, 2007). Selain itu dite-mukan ibu merasa takut, tegang dan ragu pada dirinya terhadap kemam-puan menghadapi persalinan (Bobak, 2005).
3) Kebutuhan
Menurut Lesser dan Kenne dalam Varney (2007), kebutuhan ibu bersalin meliputi: pendampingan suami dan keluarga secara terus menerus, dukungan emosional, penguranagn nyeri, pemenuhan kebutuhan fisiolo-gis serta psikolofisiolo-gis, penerimaan sikap dan informasi tentang kemajuan persalinan.