BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Konsep Dasar Post Partum Blues
Post partum blues adalah suatu stres psikologis ringan pada wanita pasca persalinan. Periode ketidakenakan badan pada hari pertama atau kedua pasca melahirkan, dicirikan oleh kebahagiaan yang luar biasa dan perasaan yang sangat sehat, selalu diikuti oleh periode kesedihan “blues” (Bobak, 2004).
Post partum blues adalah gangguan suasana hati yang berlangsung selama 3 sampai 6 hari pasca melahirkan. Post partum sendiri sudah dikenal sejak lama, savage pada tahun 1875 telah menulis referensi di literature kedokteran mengenai suatu keadaan disforia ringan pasca salin yang disebut sebagai “milk fever” karena gejala disforia muncul secara bersamaan dengan laktasi. Dewasa ini post partum blues atau sering disebut juga maternity blues atau baby blues yang dimengerti sebagai sindroma gangguan afektif ringan yang sering tampak dalam minggu pertama setelah persalinan (Cunningham, 2006).
2.3.2. Jenis gangguan psikologi ibu pasca melahirkan 1. Post partum blues
Terjadi pada hari pertama sampai hari sepuluh setelah melahirkan dan hanya bersifat sementara, dengan gejala gangguan mood, rasa marah, mudah menangis, sedih, nafsu makan menurun, sulit tidur (Arfian, 2012). Keadaan ini akan terjadi beberapa hari saja setelah melahirkan dan biasanya akan hilang dalam beberapa hari.
2. Post partum depression
Gejala yang timbul adalah perasaan sedih, tertekan, sensitif, merasa bersalah, lelah, cemas, dan tidak mampu merawat dirinya dan bayinya. Keadaan ini merupakan psikoterapi dan obat-obatan disamping dukungan sosial (Arfian, 2012).
3. Post partum psikosis
Depresi berat yaitu dengan gejala proses pikir yang dapat mengancam dan membahayakan keselamatan jiwa ibu dan bayinya sehingga memerlukan
pertolongan dari tenaga profesional yaitu psikiater dan pemberian obat (Arfian, 2012).
2.3.3. Faktor Penyebab Post Partum Blues
Faktor-faktor yang mempengaruhi post partum blues biasanya tidak berdiri sendiri sehingga gejala dan tanda post partum blues sebenarnya adalah suatu mekanisme multi faktorial.
1. Faktor hormonal
Salah satu penyebab baby blues adalah faktor biokomia tubuh dan stresor kehidupan masing-masing individu, faktor biokimia adalah perubahan hormonal yang terjadi saat ibu tersebut hamil dan melahirkan. Sedangkan stresor kehidupan sangat berkaitan dengan kondisi psikologis masing-masing ibu, karena kehamilan itu sendiri merupakan salah satu stresor besar dalam hidup. Perubahan hormon terjadi dan tidak dapat dihindari karena itulah yang normal terjadi pada ibu hamil dan melahirkan (Eryanti, 2009).
Setelah bersalin, kadar hormon kortisol (hormon pemicu stres) pada ibu naik sehingga mendekati kadar orang yang sedang mengalami depresi. Disaat yang sama hormon laktogen dan prolaktin yang memicu produksi ASI sedang meningkat. Sementara pada saat yang sama kadar progesteron sangat rendah. Pertemuan kedua hormon ini akan menimbulkan keletihan fisik pada ibu dan memicu stres.
2. Faktor demografi
Meliputi umur dan paritas. Ibu primi yang tidak mempunyai pengalaman dalam mengasuh anak, ibu yang berusia remaja adalah yang beresiko terkena post partum blues (Bobak, 2004).
3. Faktor psikologis
Berkurangnya perhatian keluarga, terutama suami karena semua perhatian tertuju pada anak yang baru lahir. Padahal usai persalinan ibu merasa lelah dan sakit pasca persalinan membuat ibu membutuhkan perhatian. Kecewa terhadap penampilan fisik si kecil karena tidak sesuai dengan yang diinginkan juga bisa mumicu baby blues.
4. Faktor fisik
Kelelahan fisik karena aktivitas mengasuh bayi, menyusui, memandikan, mengganti popok, dan menimang sepanjang hari bahkan tidak jarang terjaga di tengah malam. Apalagi jika tidak ada suami atau anggota keluarga yang lain (Nirwana, 2011).
5. Faktor sosial
Tingkat pendidikan, status perkawinan, kehamilan yang tidak direncanakan sebelumnya dan keadaan sosial ekonomi juga berpengaruh terhadap kejadian post partum blues (Afrianto, 2012).
2.3.4. Gejala Post Partum Blues
Gejala post partum blues ringan hanya terjadi dalam hitungan jam atau 1 minggu pertama setelah melahirkan, gejala ini dapat sembuh dengan sendirinya, sedangkan pada beberapa kasus post partum depresion dan post partum psikosis, bisa sampai mencelakai diri sendiri bahkan anaknya, sehingga pada penderita kedua jenis gangguan mental terakhir perlu perawatan yang ketat di rumah sakit (Afrianto, 2012).
Gejala-gejala post partum blues ini bisa terlihat dari perubahan sikap seorang ibu. Gejala tersebut biasanya muncul pada hari ke 3 atau hari ke 6 etelah
melahirkan. Beberapa perubahan sikap tersebut diantaranya : sering tiba-tiba menangis karena merasa tidak bahagia, penakut, tidak mau makan, tidak mau bicara, sakit kepala, sering berganti mood, mudah tersinggung (iritabilitas), merasa terlalu sensitif dan cemas berlebihan, tidak bergairah, khususnya terhadap hal yang semula sangat diminati, tidak mampu berkonsentrasi dan sangat sulit membuat keputusan, merasa tidak mempunyai ikatan batin dengan si kecil yang baru saja dilahirkan, insomnia yang berlebihan. Gejala-gejala ini mulai muncul setelah persalinan dan pada umumnya akan menghilang dalam waktu antara beberapa jam sampai beberapa hari. Namun jika masih tetap berlangsung selama beberapa minggu atau beberapa bulan itu dapat disebut postpartum depression (Murtiningsih, 2012).
2.3.5. Pemeriksaan Penunjang Post Partum Blues
Untuk mengukur kejadian post partum blues menggunakan alat yaitu The Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS), yaitu alat ukur yang telah teruji validitasnya dan dikembangkan secara khusus untuk mengidentifikasi wanita yang mengalami depresi postpartum baik situasi klinis atau dalam penelitian (Cox dkk, dalam elvira, 1999).
EPDS berguna sebagai pencegahan sekunder terjadinya depresi postpartum dengan mengidentifikasi onset awal terjadinya gejala depresif. Skala ini sangat berguna untuk skrining tahap awal, maupun penggunaan secara lebih luas, seperti mengidentifikasi depresi selama kehamilan, mengidentifikasi depresi pada waktu-waktu yang lain, dan mengidentifikasi ayah yang mengalami depresi (kusumadewi dkk, 1998).
Validasi sepuluh item EPDS di indonesia telah diuji dan dipublikasikan dengan membandingkan skor alat tersebut dengan DSM-IV. Penelitian dilakukan pada tiga rumah sakit umum, yaitu RSU dr. Cipto mangunkusumo, RSU Persahabatan, dan RSU Fatmawati di Jakarta. Jumlah sampel keseluruhan dalam penelitian ini adalah 102 wanita postpartum yang diambil secara random setiap hari, selama waktu validasi yaitu 2-10 Maret 1998 (kusumadewi dkk, 1998).
Penelitian terhadap pengujian validasi ini menghasilkan 87,5% sensitivitas dan 61,6% spesifitas, yang berarti bahwa kemampuan EPDS di indonesia untuk menskrining depresi postpartum adalah 87,5% dan kemampuan untuk menjelaskan bahwa wanita tidak mengalami deresi adalah 61,6%. Meggunakan derajat kebebasan diperoleh reabilitas 0,67. Hasil di atas mengindikasikan bahwa penggunaan EPDS di indonesia adalah valid dan reabel sebagai instrumen untuk melakukan skrining depresi pasca persalinan wanita di indonesia (kusumdewi dkk, 1998). Namun perlu diperhatikan bahwa EPDS sebaiknya digunakan sebagai alat yang membantu identifikasi, bukan sebagai pengganti penilaian klinis.
Instruksi penggunaan EPDS adalah sebagai berikut :
1. Ibu diminta untuk menggaris bawahi jawaban yang paling sesuai dengan apa yang ia rasakan selama 7 hari terakhir.
2. Seluruh item (10 item) harus dilengkapi.
3. Perhatian perlu diberikan untuk mencegah ibu mendiskusikan jawabannya dengan yang lain
4. Ibu harus melengkapi sendiri skalanya, kecuali jika ia memiliki pemahaman yang kurang terhadap bahasa atau memiliki kesulitan membaca.
5. EPDS dapat diberikan kepada ibu tiap waktu dari setelah persalinan hingga 52 minggu yang diidentifikasikan mengalami gejala depresif baik secara subjektif atau objektif.
Jawaban diskor 0, 1, 2, dan 3 berdasarkan peningkatan keparahan gejala. Keseluruhan skor pada masing-masing item dijumlahkan kemudian dikelompokkan berdasarkan kategori sebagai berikut :
1. 0 – 8 point : kemungkinan rendah terjadinya depresi
2. 9 – 14 point : permasalahan dengan perubahan gaya hidup karena adanya bayi baru lahir atau kasus post partum blues. Terjadinya gejala-gejala yang mengarah pada kemungkinan terjadinya depresi postpartum.
3. 15+ point : tingginya probabilitas atau mengalami depresi post partum komplikasi
Post partum blues dapat meningkat pada tahap selanjutnya yang dinamakan post partum depression dengan karakteristik bisa terjadi mimpi buruk lebih sering, insomnia lebih sering, phobia terus-menerus, dan irasional dan dapat berlanjut pada post partum psikosis, dimana sudah terjadi pada tahap yang mengancam jiwa baik si ibu dan bayi. Post partum psikosis bisa menetap sampai setahun dan bisa juga selalu kambuh gangguan kejiwaan setiap pasca persalinan. 2.3.6. Penatalaksanaan Post Partum Blues
post partum blues atau gangguan mental pasca persalinan seringkali terabaikan dan tidak ditangani dengan baik. Banyak ibu yang “berjuang” sendiri dalam beberapa saat setelah melahirkan. Mereka merasakan ada suatu hal yang salah namun mereka sendiri tidak benar-benar mengetahui apa yang sedang terjadi. Apabila mereka pergi mengunjungi dokter atau sumber-sumber lainnya
untuk minta pertolongan, sering kali hanya mendapatkan saran untuk beristirahat atau tidur lebih banyak, tidak gelisah, minum obat atau berhenti mengasihani diri sendiri dan mulai merasa gembira menyambut kedatangan bayi yang mereka cintai (murtiningsih, 2012).
Para ibu yang mengalami post partum blues membutuhkan pertolongan yang sesungguhnya. Para ibu ini membutuhkan dukungan psikologis seperti kebutuhan fisik lainnya yang harus juga dipenuhi. Mereka membutuhkan kesempatan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka dari situasi yang menakutkan. Mungkin juga mereka membutuhkan pengobatan atau istirahat, dan seringkali akan merasa gembira mendapat pertolongan yang praktis. Dengan bantuan dari teman dan keluarga, mereka mungkin perlu untuk mengatur atau menata kembali kegiatan rutin sehari-hari, atau mungkin menghilangkan beberapa kegiatan, disesuaikan dengan konsep mereka tentang keibuan dan perawatan bayi. Bila memang diperlukan, dapat diberikan pertolongan dari para ahli (murtiningsih, 2012).
Para ahli obstetri memegang peranan penting untuk mempersiapkan para wanita untuk kemungkinan terjadinya gangguan mental pasca persalinan dan segera memberikan penanganan yang tepat bila terjadi gangguan tersebut, bahkan merujuk para ahli psikologi / konseling bila memang diperlukan. Dukungan yang memadai dari para petugas obstetri, yaitu dokter dan bidan / perawat sangat diperlukan, misalnya dengan cara memberikan informasi yang memadai / adekuat tentang proses kehamilan dan persalinan, termasuk penyulit-penyulit yang mungkin timbul dalam masa-masa tersebut serta penanganannya (murtiningsih, 2012)
Post partum blues juga dapat dikurangi dengan cara belajar tenang dangan menarik nafas panjang dan meditasi, tidur ketika bayi tidur, berolahraga ringan, ikhlas dan tulus dengan peran baru sebagai ibu, membicarakan rasa cemas dan mengkomunikasikannya, bersikap fleksibel, bergabung dengan kelompok ibu-ibu baru (murtiningsih, 2012)
Dalam penanganan dibutuhkan pendekatan menyeluruh / holistik. Pengobatan medis, konseling emosional, bantuan-bantuan praktis dan pemahaman secara intelektual tentang pengalaman dan harapan-harapan mereka mungkin pada saat-saat tertentu. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa dibutuhkan penanganan di tingkat perilaku, emosional, intelektual, sosial dan psikologis secara bersama-sama, dengan melibatkan lingkungannya yaitu suami, keluarga dan juga teman dekatnya (murtiningsih, 2012).