• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

3. Konsep Dasar Pre Eklampsia

Menurut Marmi, dkk (2011) pre eklampsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, oedema dan proteinuria yang timbul karena kehamilan. Hipertensi biasanya timbul lebih dahulu daripada tanda-tanda lain. Edema ialah penimbunan cairan secara umum dan berlebihan dalam jaringan tubuh dan biasanya dapat diketahui dari kenaikan berat badan serta pembengkakan kaki, jari tangan dan muka. Proteinuria berarti konsentrasi protein dalam urin yang melebih 0,3 g/lt dalam urin 24 jam atau pada pemeriksaan menunjukkan 1 atau 2+ atau 1 gr/lt yang dikeluarkan dengan jarak waktu 6 jam.

Menurut Maryunani (2009), timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan oedema akibat kehamilan setelah usia kehamian 20 minggu atau segera setelah persalinan.

b. Etiologi

Menurut Wiknjosastro (2008), penyebab pre eklampsia dan eklampsia sampai sekarang belum diketahui. Telah terdapat banyak teori yang mencoba menerangkan sebab-sebab penyakit tersebut, akan tetapi tidak ada yang dapat memberi jawaban yang memuaskan. Teori yang dapat diterima harus dapat menerangkan hal-hal berikut :

1) Bertambahnya frekuensi pada primigravida, kehamilan ganda hidramnion, dan molahidatidosa.

18

3) Terjadi perbaikan keadaan penyakit, bila terjadi kematian janin dalam kandungan.

4) Frekuensi kehamilan menjadi menurun pada kehamilan selanjutnya.

5) Penyebab terjadinya hipertensi, oedema, proteinuria dan kejang sampai koma.

c. Patofisiologi

Menurut Chapman (2006), patofisiologi pre eklampsia berhubungan dengan implantasi abnormal plasenta dan invasi dangkal tromboblastik yang mengakibatkan berkurangnya perfusi plasenta. Atresia spiralis maternal (juga disalah artikan sebagai atresia uterina) gagal mengalami vasodilatasi fisiologis normalnya, aliran darah kemudian mengalami hambatan akibat perubahan arteriotik yang menyebabkan obstruksi di dalam pembuluh darah. Patofisiologi peningkatan tahanan dalam sirkulasi utero-plasenta dengan gangguan aliran darah intervilosa dan berakibat iskemia dan hipoksia yang bermanifestasi selama paruh kedua kehamilan.

Menurut Maryunani (2009), pada beberapa wanita hamil terjadi peningkatan sensitivitas vaskuler terhadap angiotensin II. Peningkatan ini menyebabkan hipertensi dan kerusakan vaskuler, akibatnya akan terjadi vasospasme. Vasospasme menurunkan diameter pembuluh darah ke semua organ, fungsi-fungsi organ seperti plasenta, ginjal, hati dan otak menurun sampai 40 – 60%. Gangguan plasenta menimbulkan degenerasi pada plasenta dan kemungkinan terjadi

19

Intrauterine Growth Retardation (IUGR) dan Intra Uterine Fetal Distress (IUFD) pada fetus. Aktivitas uterus dan sensitivitas terhadap oksitosin meningkat. Penurunan perfusi ginjal menurunkan Glomerular Filtration Rate (GFR) dan menimbulkan perubahan glomerolus, protein urin keluar melalui urine, asam urat menurun, garam dan air di tahan, tekanan osmotik plasma menurun, cairan keluar dari intravaskuler, menyebabkan hemokonsentrasi dan peningkatan viskositas darah dan edema jaringan berat dan peningkatan hematokrit.

d. Klasifikasi dan Penanganan Pre Eklampsia

Menurut Marmi, dkk (2011), klasifikasi pre eklampsia dibagi menjadi 2 golongan, yaitu :

1) Pre eklampsia ringan

a) Tekanan darah 140/90 mmHg atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih (diukur pada posisi berbaring terlentang) atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih

b) Proteinuria 0,3 gr/lt atau 1+ atau 2+

c) Edema pada kaki, jari muda dan berat badan naik > 1 kg/minggu

Menurut Marmi, dkk (2011), penanganan pre eklampsia ringan, yaitu :

a) Rawat jalan

20

(2) Diet : cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan garam.

(3) Sedative ringan (jika bisa istirahat) tablet fenobarbital 3 x30 mg peroral selama 2 hari.

(4) Kunjungan ulang tiap 1 minggu

b) Jika dirawat di Puskesmas atau rumah sakit

Pada kehamilan preterm (kurang dari 37 minggu) jika tekanan darah mencapai normotensi selam perawatan persalinan di tunggu sampai aterm dan bila tekanan darah turun tetapi belum mencapai normotensi selama perawatan maka kehamilannya dapat diakhiri pada kehamilan lebih dari 37 minggu.

Pada kehamilan aterm (lebih dari 37 minggu), persalinan ditungggu spontan atau dipertimbangkan untuk melakukan induksi persalinan pada taksiran tanggal persalinan.

2) Pre eklampsia berat

Menurut Marmi, dkk (2011), pre eklampsia berat ditandai dengan :

a) Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih b) Proteinuria 5 gr/lt atau lebih

c) Oliguria (jumlah urin < 500 cc per 2 jam) d) Terdapat oedema paru dan sianosis

e) Adanya gangguan serebral, gangguan visus, dan rasa nyeri epigastrium.

21

Penanganan pre eklampsia berat dengan penanganan aktif bila didapatkan 1 atau lebih keadaan ibu: kehamilan lebih dari 37 minggu, adanya tanda-tanda impending dan kegagalan terapi pada perawatan konservatif. Pada janin terdapat adanya tanda-tanda fetal distress dan adanya tanda-tanda Intra Uterine Fetal Distress (IUFD).

Menurut Maryunani (2009), penatalaksanaan asuhan ibu pada pre eklampsia yaitu:

a) Segera istirahat baring selama ½ - 1 jam.

Nilai kembali tekanan darah, nadi, pernafasan, reflek pattella, bunyi jantung bayi dan diuresis.

b) Berikan infus terapi anti kejang (misalnya Mg SO4) dengan catatan refleks patella harus (+), pernafasan lebih dari 16 kali per menit serta diureis baik.

c) Ambil contoh darah untuk pemeriksaan laboratorium.

d) Bila dalam 2 jam setelah pemberian obat anti kejang tekanan darah tidak turun biasanya diberikan antihipertensi parental atau oral sesuai instruksi dokter.

e) Bila pasien sudah tenang bisa nilai keadaan kehamilan pasien dan monitor denyut jantung bayi.

22

e. Faktor Risiko

Menurut Chapman (2006) faktor risiko yang terjadi yaitu :

1) Ada hubungan genetik yang telah ditegakkan, riwayat keluarga ibu atau saudara perempuan meningkatkan risiko empat sampai delapan kali.

2) Ada bukti pengaruh maternal yaitu ibu berisiko dua kali lebih besar bila hamil dari pasangan yang sebelumnya menjadi bapak dari satu kehamilan yang menderita pre eklampsia.

3) Pre eklampsia sepuluh kali lebih sering terjadi pada kehamilan pertama, keguguran dan penghentian kehamilan memberikan perlindungan terhadap penyakit ini pada kehamilan berikutnya. 4) Kehamilan ganda memiliki risiko lebih dari dua kali lipat.

5) Obesitas dengan indeks masa tubuh > 29 meningkatkan risiko empat kali lipat.

f. Pencegahan Pre Eklampsi

Menurut Maryunani (2009), pencegahan timbulnya pre eklampsi dapat dilakukan dengan pemeriksaan antenatal care secara teratur. Penyuluhan tentang manfaat istirahat akan banyak berguna dalam pencegahan. Istirahat itdak selalu tirah baring di tempat tidur, tetapi ibu masih dalam melakukan kegiatan sehari-hari hanya dikurangi diantara kegiatan tersebut. Nutrisi penting untuk diperhatikan selama hamil terutama protein. Diet protein yang adekuat bermanfaat untuk pertumbuhan dan perbaikan sel dan transformasi lipid.

23

Dokumen terkait