• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.5 Kerangka Pemikiran

1.5.1 Konsep Diplomasi Publik

Diplomasi publik adalah suatu proses komunikasi antar pemerintah terhadap publik asing atau mancanegara yang bertujuan untuk memberi pemahaman atas negara, sikap, institusi, budaya, kepentingan nasional dan kebijakan yang diambil oleh negaranya22. Hal tersebut bermakna bahwa diplomasi publik adalah upaya untuk meningkatkan mutu komunikasi antara negara dengan masyarakat. Sementara itu, Jan Mellisen mendefinisikan bahwa diplomasi publik adalah upaya untuk mempengaruhi orang atau organisasi lain di luar negaranya

21

Ibid

22

J. Wang. 2006. Public Diplomacy and Global Business. The Journal of Business Strategy dalam http://proquest.umi.com, diakses pada tanggal 25 Mei 2012

dengan cara yang positif sehingga dapat mengubah cara pandang orang tersebut terhadap suatu negara.23

Diplomasi publik menurut Departemen Luar Negeri Republik Indonesia tidak bermaksud hanya memberikan informasi kepada publik di negara lain, tetapi juga kepada publik di dalam negeri itu sendiri. Menteri Luar Negeri RI juga mengemukakan bahwa diplomasi publik Indonesia berbeda dengan upaya diplomasi publik negara lain yang hanya berurusan dengan publik di negara lain. Diplomasi publik Indonesia diarahkan untuk berkomunikasi dengan aktor-aktor non pemerintah dan publik di dalam negeri, mengingat faktor pentingnya kemitraan antara Deplu dengan berbagai kalangan masyarakat yang bisa menjalankan peran dalam upaya menjangkau aktor-aktor non pemerintah di luar negeri.24

Sebagai instrumen dari soft power, diplomasi tergolong berkembang pesat. Pesatnya perkembangan tersebut dipicu oleh kurang efektifnya diplomasi tradisional atau diplomasi jalur utama dalam mengatasi konflik-konflik antar negara. Ketidak efektifan atau kecenderungan untuk gagal dalam first track diplomacy tersebut mengembangkan pemikiran untuk melakukan peningkatan dalam hal diplomasi publik untuk menyelesaikan masalah.25 Diplomasi publik

23

Joseph S. Nye. 2004. Soft Power: The Means To Success In World Politics-Chapter 4-Wielding Soft Power dalam http://belfercenter.hks.harvard.edu/files/joe_nye_wielding_soft_power.pdf, diakses pada tanggal 26 Mei 2012

24

Hassan Wirajuda. Pidato Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Dr. N. Hassan Wirajuda pada Loka karya Nasional Diplomasi Publik. Bandung; 6 Desember 2006 dalam A. Saefudin Ma’mun. 2009. Citra Indonesia di Mata Dunia Gerakan Kebebasan Informasi dan Diplomasi Publik.

Bandung: AIPI Bandung dalam

http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2011/02/citra_indonesia_di_mata_dunia_a.pdf, diakses pada tanggal 25 Mei 2012

25

J. McDonald. 1991. Further Exploration of Track Two Diplomacy. dalam L. Kreisberg & S.J. Thorson. Timing The De-escalation of International Conflict. Syracuse: University Press dalam

yang sifatnya informal tersebut juga dianggap mampu menurunkan tensi ketegangan, menghilangkan ketakutan, dan meningkatkan saling ketergantungan di antara para pihak.26

Meski diplomasi tradisional cenderung gagal, diplomasi publik tidak lantas menggantikan diplomasi jalur pertama atau diplomasi tradisional. Idealnya, diplomasi publik harus memberikan peluang untuk bernegosiasi antar pemerintah, memberi masukan melalui berbagai informasi penting, dan sebagainya. Untuk itu diperlukan kerjasama antara aktor negara dan aktor non-negara yang ditujukan untuk meningkatkan nilai tawar pemerintah. Aktor non negara ini nantinya dapat berinteraksi dengan rekanan mereka dalam mempengaruhi, memberikan masukan dan menerapkan kebijakan luar negeri.

Tujuan yang ingin dicapai dalam aktifitas diplomasi publik itu sendiri sebenarnya adalah terbentuknya pemahaman bagi ide-ide dan cita-cita nasional, institusi serta budayanya. Beberapa hal tersebut dipromosikan dengan berbagai upaya untuk menumbuhkan saling pengertian, memberikan informasi dan mempengaruhi masyarakat asing.27 Dengan demikian, isu-isu yang dapat diangkat melalui proses diplomasi publik secara umum yaitu mencakup aspek ideologis, institusional, serta sosial budaya. Diplomasi publik adalah diplomasi yang tidak hanya dilakukan oleh pemerintah dan publik sebagai aktornya, namun diplomasi publik juga ditujukan untuk publik, khususnya publik asing. Selain itu, diplomasi

http://www.peaceinstitute.hawaii.edu/agent-orange-module/resources/a-02-further-exploration-of-track-two.pdf, diakses pada tanggal 26 Mei 2012

26

S. Djelantik. 2004. Diplomasi Publik Analisis. Jakarta: CSIS. Hal 352

27Inggrid D’Hooge. 2007. The Rise of China’s Public Diplomacy, Clingendael Diplomacy Papers

dalam http://www.clingendael.nl/publications/2007/20070700_cdsp_paper_hooghe.pdf diakses tanggal 25 Mei 2012

publik saat ini adalah upaya untuk menarik publik (bukan sekedar memberi informasi) dan upaya untuk menjalin hubungan jangka panjang berdasarkan kepercayaan.28

Diplomasi publik juga termasuk salah satu upaya untuk mengoptimalkan aktifitas komunikasi internasional, yaitu dengan cara mengumpulkan, mengolah, dan menyebarkan informasi demi kepentingan negara. Hal ini mengisyaratkan peran dari media massa (nasional maupun internasional) yang semakin signifikan dalam mempengaruhi pelaksanaan diplomasi, khususnya diplomasi publik. Hal tersebut pernah diungkapkan oleh mantan Menteri Luar Negeri AS, George Shulz: “Bahan baku diplomasi adalah informasi: bagaimana memperolehnya, menganalisis, dan menempatkannya dalam sistem”.29

Peran media massa baik media massa berskala nasional maupun internasional dapat berpengaruh dalam mengimplementasi diplomasi publik. Pengaruhnya akan semakin kuat ketika informasi tersebut telah dimobilisasi bahkan dapat menjadi bagian dari propaganda. Pengaruh semacam itu, dapat menjadi senjata yang ampuh untuk mempengaruhi opini publik (khususnya publik internasional) demi pencapaian kepentingan nasional suatu negara. Sarana diplomasi publik adalah segala bentuk alat komunikasi berupa media elektronik (televisi, radio, internet, dan lain-lain), maupun media cetak (koran, majalah, jurnal, dan lain-lain) yang dianggap mampu menyampaikan pesan atau, isi dari politik luar negeri tertentu.

28

Ibid

29George P. Shulz. 1997. Keynote Address from the Virtual Diplomacy Conferrence: The

Information Revolution & International Conflict Management dalam

Tujuan utama dari upaya Diplomasi Publik adalah untuk mempengaruhi pendapat publik (khususnya masyarakat negara lain) guna mendukung kebijakan politik luar negeri tertentu. Oleh karena itu, diplomasi publik syarat akan kemampuan komunikasi antar budaya karena terkait dengan kondisi perubahan sikap masyarakat, saling memahami, saling pengertian dalam melihat persoalan-persoalan politik luar negeri. Sedangkan sasaran utama dari diplomasi publik yaitu pendapat umum baik pada level nasional maupun internasional, dengan harapan pendapat umum tersebut dapat mempengaruhi para pengambil kebijakan pada pemerintah atau organisasi internasional tertentu terhadap negara yang melakukan diplomasi publik tersebut.

Berkaitan dengan permasalahan yang diangkat, aktifitas melalui program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) dan Indonesia Channel 2011 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Indonesia merupakan salah satu bentuk dari diplomasi publik yang mencakup aspek sosial budaya. Kegiatan tersebut dapat menarik perhatian masyarakat di beberapa negara, khususnya wakil dari masing-masing negara yang menjadi peserta program tersebut.

Apresiasi dari peserta dirasa begitu tinggi, hingga mereka berusaha untuk menampilkan potensi terbaik dari diri mereka yang telah mereka pelajari selama tiga bulan masa karantina dalam program Indonesia Channel 2011. Rasa kebersamaan, kekeluargaan dan kecintaan para peserta BSBI yang disatukan oleh seni dan budaya Indonesia menjadi sebuah cahaya terang bahwa bangsa ini masih dapat terus berkembang dan tentunya fakta bahwa masih banyak orang yang cinta kepada Indonesia.

Melalui kegiatan tersebut, para peserta yang merupakan delegasi dari masing-masing negara tersebut dapat membawa informasi yang baik mengenai Indonesia ketika mereka harus kembali ke negaranya masing-masing. Setidaknya, mereka mampu menularkan pengalaman mereka semasa di Indonesia kepada masyarakat, khususnya para pengambil kebijakan di negaranya, sehingga akan meminimalkan kesalah pahaman dan penilaian negatif tentang Indonesia seperti yang telah dipublikasikan media, baik level nasional maupun internasional selama ini. Hal tersebut pada akhirnya akan berdampak positif terhadap hubungan kerjasama di segala bidang. Selain itu, kegiatan tersebut juga memberikan kesempatan pemerintah untuk melakukan pendekatan dan pemahaman kepada masyarakat domestik bahwa dukungan untuk melestarikan dan mengembangkan seni dan budaya adalah tindakan penting yang sangat diperlukan. Hal ini membuktikan bahwa agenda diplomasi publik yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia melalui program BSBI dan Indonesia Channel 2011 tersebut cukup mengena.

Dokumen terkait