• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

1. Konsep Diri

A. Deskripsi Teoretik

1. Konsep Diri

a. Pengertian Konsep Diri

Menurut kamus besar bahasa Indonesia ”konsep adalah rencana yang dituangkan dalam kertas, rancangan dan sebagainya”.1 Sedangkan ”diri adalah keyakinan yang kita pegang tentang diri kita sendiri”.2

Dari pengertian antara konsep dan diri, maka dapat dikatakan konsep diri adalah rencana atau seperangkat rancangan yang diyakini tentang diri kita sendiri. Menurut Danny I. Yatim dan Irwanto, ” konsep diri pada umumnya didefinikan sebagai sikap, pandangan, atau keyakinan seseorang terhadap keseluruhan dirinya”.3

Konsep diri adalah bagian penting dalam pengembangan kepribadian diri seseorang. Konsep diri menggambarkan bagaimana seseorang akan mengembangkan dirinya sesuai dengan kemampuannya. Syamsul Bachri Thalib mengutip pendapat yang dikemukakan oleh Rogers dalam Hall & Lindzey bahwa konsep kepribadian yang paling utama adalah diri. Diri berisi ide-ide, persepsi, dan nilai-nilai yang mencakup tentang diri sendiri. Konsep diri merupakan representasi diri yang mencakup identitas diri yakni karakteristik personal, pengalaman, peran, dan status sosial.4

Konsep diri merupakan suatu usaha untuk mengenal diri pribadi. Pada dasarnya konsep diri bukan merupakan sesuatu yang ada dari bawaannya atau ada sejak lahir. Tetapi, muncul melalui pengalaman dan pengetahuannya. Maka seseorang akan lebih memahami karakteristik-karakteristik, pengalaman dan kemampuan yang dimilikinya.

1

Amran YS Chaniago, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2002), Cet. V, h. 323

2

Shelley E. Taylor, dkk., Psikologi Sosial, (Jakarta: Kencana, 2009), Ed. 12, Cet. I, h. 119 3

Danny I. Yatim dan Irwanto (peny.), Kepribadian, Keluarga, dan Narkotika: injauan Sosial-Psikologi, (Jakarta, Penerbit Arcan, 1986), h. 25

4

Slameto mengutip pendapat Burns, mengatakan bahwa ”the self

concept refers to the connection of attitudes and beliefs we hold about

ourselves”.5

Konsep diri mengacu pada hubungan sikap dan keyakinan yang dimiliki tentang diri kita sendiri. Konsep diri akan muncul melalui kontak dan interaksi sosial yang terjadi pada seorang individu baik dengan individu lain maupun dengan lingkungan sekitarnya yang berpengaruh dalam kehidupannya.

Pengertian lain, yaitu menurut Desmita yang mengutip pendapat Atwater menyebutkan bahwa ”konsep diri adalah keseluruhan gambaran diri, yang meliputi persepsi seseorang tentang diri, perasaan, keyakinan, dan nilai-nilai yang berhubungan dengan dirinya”.6

Dapat diartikan bahwa bagaimana orang lain akan memandang tentang dirinya, harapan dan cita-citanya, dan kesadaran akan dirinya sendiri.

Menurut Hendrianti Agustiani, ”konsep diri merupakan gambaran yang dimiliki seseorang tentang dirinya, yang dibentuk melalui pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari interaksi dengan lingkungannya”.7

Konsep diri bukan hanya timbul dari faktor bawaan, melainkan seorang individu akan mengkonsepkan dirinya dari pengalaman-pengalaman sebagai pelajaran yang dapat diambil untuk pertimbangan ketika melakukan suatu kegiatan atau keputusan.

Dengan konsep diri, maka seseorang akan memahami makna hidupnya, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang hidup bermasyarakat. Seorang individu diharuskan saling berinteraksi dengan orang lain maupun dengan lingkungan, dengan begitu ia dapat

5

Slameto, op. cit., h. 182 6

Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik: Panduan Bagi Orang Tua dan Guru dalam Memahami Psikologi Anak Usia SD, SMP, SMA, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2010), Cet. II, h. 163

7

Hendrianti Agustiani, Psikologi Perkembangan: Pendekatan Ekologi Kaitannya dengan Konsep Diri dan Penyesuaian Diri pada Remaja, (Bandung: PT Refika Aditama, 2009), Cet. II, h. 138

menyesuaikan dirinya dengan seseorang dan situasi yang berbeda. Seseorang yang telah memahami tentang dirinya baik itu persepsi dari diri sendiri maupun persepsi dari orang lain, maka ia dapat mengendalikan sikap dan tingkah lakunya karena telah mengetahui gambaran tentang dirinya.

Menurut Agoes Dariyo, ”konsep diri yakni gambaran diri tentang aspek fisiologis maupun psikologis yang berpengaruh pada perilaku individu dalam penyesuaian diri dengan orang lain”.8

Aspek fisiologis meliputi aspek fisik yang dimilikinya seperti: postur tubuh, tinggi badan, warna kulit, dan lain-lain sebagainya. Sedangkan aspek psikologis meliputi kebiasaan, kepribadian, watak dan sifat, minat-bakat, dan kemampuan. proses penerimaan kekurangan dan kelebihan tentang dirinya sangat mempengaruhi dalam pembentukan konsep diri.

Sarlito dan Eko mengutip definisi yang dikemukakan oleh Deaux, Dane, & Wrightsman, ”konsep diri adalah sekumpulan keyakinan dan perasaan seseorang mengenal dirinya. Keyakinan seseorang mengenai dirinya bisa berkaitan dengan bakat, minat, kemampuan, penampilan fisik, dan lain sebagainya”.9

Seseorang akan meyakini dirinya bahwa ia mempunyai bakat dan kemampuan yang ia miliki dan mampu untuk mengembangkannya.

Menurut Sarlito W. Sarwono dan Eko A., konsep diri pada dasarnya merupakan suatu skema, yaitu pengetahuan yang terorganisir mengenai sesuatu yang kita gunakan untuk menginterprestasikan pengalaman”.10 Dengan demikian, konsep diri adalah skema diri yang berupa keyakinan seseorang terhadap dirinya sendiri baik terhadap minat, bakat, kemampuan dan lain sebagainya. Dengan pengetahuan yang dimilikinya, maka ia akan

8

Agoes Dariyo, Psikologi Perkembangan Remaja, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2004), Cet. I, h. 80

9

Sarlito W. Sarwono dan Eko A. Meinarno (peny.), Psikologi Sosial, (Jakarta: Salemba Humanika, 2011), h. 53

10

merealisasikan sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memperoleh sebuah pengalaman.

Menurut Higgins yang telah dikutip oleh Sarlito dan Eko, bahwa ada tiga jenis konsep/ skema diri, yaitu sebagai berikut:

1) Actual self, yaitu bagaimana diri kita saat ini 2) Ideal self, yaitu bagaimana diri yang kita inginkan 3) Ought self, yaitu bagaimana diri kita seharusnya.11

Dari ketiga konsep ini, seorang individu akan mengetahui bagaimana dirinya saat ini, bagaimana yang diinginkan dan bagaimana seharusnya yang dilakukan untuk dirinya yang sesuai dengan yang diinginkan.

Menurut Desmita, ”konsep diri akan masuk ke pikiran bawah sadar dan akan berpengaruh terhadap tingkat kesadaran seseorang pada suatu waktu. Semakin baik atau positif konsep diri seseorang maka akan semakin mudah ia mencapai keberhasilan”.12

Konsep diri terlahir bagaimana seseorang akan menyadari dan memandang dirinya. Dengan hal tersebut, seorang individu akan membenahi dirinya ke arah yang lebih baik dengan tujuan mencapai apa yang diinginkannya. Apabila konsep diri baik dan positif, maka semakin mudah ia mencapai keberhasilan, begitupun dengan sebaliknya. Karena konsep diri yang baik dan positif seseorang akan bersikap optimis, percaya diri dan berani melakukan tugasnya, baik akan gagal maupun akan berhasil.

Menurut Wasty Soemanto, ”konsep diri adalah pikiran atau persepsi seseorang tentang dirinya sendiri, merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi tingkah laku”.13

Dan menurut Desmita, ”konsep diri mempunyai peranan penting dalam menentukkan tingkah laku seseorang.

11

Ibid., h. 55 12

Desmita, op. cit., h. 164 13

Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan: Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006), Cet. V, h. 185

Bagaimana seseorang memandang dirinya akan tercermin dari keseluruhan tingkah laku”.14

Apabila ia memandang dirinya tidak cukup kemampuannya dalam melakukan kegiatan dan melaksanakan tugasnya, maka ia akan menunjukkan ketidakmampuannya dalam besikap dan bertingkah laku. Artinya, konsep dirinya pun rendah, karena kurangnya percaya diri, menganggap dirinya negatif dan tidak mampu.

Dapat disimpulkan bahwa, konsep diri adalah rencana atau rancangan tentang keyakinan diri sendiri yang berasal dari suatu persepsi tentang gambaran diri baik dalam hal minat, bakat, kemampuan, ataupun aspek lainnya yang tergambar melalui pengalaman-pengalaman yang berpengaruh pada dirinya dalam pembentukkan jati diri.

b. Dimensi-Dimensi Dalam Konsep Diri

Hendrianti Agustiani mengutip pernyataan dari Fitts, ”membagi konsep diri dalam dua dimensi pokok, yaitu dimensi internal dan dimensi eksternal”.15 Dimensi internal yaitu penilaian yang dilakukan individu terhadap dirinya sendiri. Dimensi ini terdiri dari tiga bentuk, yaitu:

1) Diri identitas (Identity self). Merupakan aspek yang paling mendasar pada konsep diri. Hal ini mengacu pada pertanyaan ”Siapakah aku?”, pertanyaan ini tercakup pada label atau simbol-simbol tentang diri untuk menggambarkan dirinya dan membangun identitasnya.

2) Diri pelaku (Behavioral self). Diri merupakan persepsi individu tentang tingkah lakunya, yang berisikan segala kesadaran mengenai apa yang dilakukan dirinya. Diri perilaku erat kaitannya dengan diri identitas. Karena diri identitas akan menggambarkan diri pelaku, maka keduanya memiliki keserasian sehingga mengenali dan menerima baik diri sebagai identitas ataupun diri sebagai pelaku.

14

Desmita, op. cit., h. 169 15

3) Diri Penerimaan/Penilai (Judging self). Diri penilai berfungsi sebagai pengamat, penentu standar, dan evaluator. kedudukannya adalah sebagai perantara antara diri identitas dan diri pelaku.

Sedangkan dimensi eksternal, seorang individu menilai dirinya melalui hubungan dan aktivitas sosialnya, nilai-nilai yang dianut dan hal yang di luar dirinya. Dimensi ini terdiri dari lima bentuk yaitu sebagai berikut:

1) Diri fisik (Physical self). Diri fisik menyangkut persepsi seseorang terhadap keadaan dirinya secara fisik.

2) Diri etik-moral (moral-etical self). Merupakan persepsi seseorang terhadap dirinya dilihat dari standar pertimbangan nilai moral dan etika.

3) Diri Pribadi (personal self). Merupakan perasaan atau persepsi seseorang tentang keadaan pribadinya. Hal ini tidak dipengaruhi oleh kondisi fisik atau hubungan dengan orang lain, tetapi dipengaruhi oleh sejauh mana individu merasa puas terhadap pribadinya atau sejauh mana ia merasa dirinya sebagai pribadi yang tepat.

4) Diri Keluarga (family self). Diri keluarga menunjukkan perasaan dan harga diri seseorang dalam kedudukannya sebagai anggota keluarga 5) Diri Sosial (social self). Bagian ini merupakan penilaian individu

terhadap interaksi dirinya dengan orang lain maupun lingkungan disekitarnya.

Dalam pembentukan konsep diri, seseorang akan melihat dari dimensi internal dan dimensi eksternal. Dimensi internal, jika kepuasan terhadap dirinya rendah maka menimbulkan harga diri yang rendah dan mengembangkan ketidakpercayaan pada dirinya, dan sebaliknya. Untuk melihat dimensi eksternal, ia akan memahami bagaimana dirinya, dan bagaimana menurut persepsi orang lain. Penilaian tentang diri sendiri akan hadir jika ada penilaian atau respon dari orang lain mengenai diri sendiri,

baik itu secara fisik, sifat dan lain-lain. Hal ini timbul akibat adanya interaksi dengan orang lain dan lingkungan.

c. Aspek-aspek Konsep Diri

Syamsul Bachri Thalib mengutip pernyataan Song dan Hattie bahwa aspek-aspek konsep diri dibedakan menjadi dua yaitu konsep diri akademis dan konsep diri non-akademis. ”Konsep diri non-akademis dibedakan menjadi konsep diri sosial dan konsep diri penampilan diri. Jadi, pada dasarnya konsep diri mencakup aspek konsep diri akademis, konsep diri sosial dan penampilan diri”.16

Konsep diri akademis berarti konsep mengenai kegiatan pendidikannya untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan. Konsep diri sosial berarti pada tingkah laku dan sikap dirinya terhadap orang lain dan cara berinteraksi dengan orang lain serta lingkungan sekitarnya. Sedangkan konsep penampilan diri yaitu bagaimana ia berusaha menampilkan dirinya sebaik mungkin sejalan dengan yang diinginkannya.

d. Peranan Konsep Diri

Menurut Pudjijogyanti dalam karyanya tentang konsep diri dalam proses belajar mengajar, diungkapkan bahwa ada tiga alasan yang dapat menjelaskan “peranan penting konsep diri dalam menentukan perilaku yaitu: mempertahankan keselarasan batin, membantu individu dalam menafsirkan pengalaman, menentukan harapan hidup”.17

Dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Mempertahankan keselarasan batin (inner consistency). Pada dasarnya individu berusaha mempertahankan keselarasan batinnya. Apabila timbul perasaan, pikiran atau persepsi tidak seimbang atau

16

Syamsul Bachri Thalib, op. cit., h. 123 17

Winanti Siwi Respati, Aries Yulianto, dan Noryta Widiana, “Perbedaan Konsep Diri

Antara Remaja Akhir Yang Mempersepsi Pola Asuh Orang Tua Authorian, Permissive dan

saling bertentangan satu sama lain, maka akan terjadi situasi psikologis tidak menyenangkan.

2) Membantu individu dalam menafsirkan pengalaman. Tafsiran negatif terhadap pengalaman hidup disebabkan oleh pandangan dan sikap negatif terhadap diri sendiri. Sebaliknya, tafsiran positif terhadap pengalaman hidup disebabkan oleh pandangan dan sikap positif terhadap diri sendiri

3) Menentukan harapan hidup. Pudjijogyanti mengutip pendapat McCandless, mengemukakan bahwa konsep diri merupakan seperangkat harapan serta penilaian perilaku atas harapan-harapan setiap individu. Jika individu memandang negatif dirinya maka dapat menyebabkan ia tidak mempunyai motivasi untuk mendapat hasil terbaik begitupun sebaliknya.

Konsep diri sangat berpengaruh pada perkembangan diri seseorang dan memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan. Peran adanya konsep diri, yaitu untuk menyeimbangkan antara keinginan dan pikiran atau persepsi, untuk menghasilkan sesuatu yang menyenangkan dan positif untuk perkembangan dirinya. Konsep diri pula sebagai tafrisan terhadap pengalaman-pengalaman yang telah dialami, pengalaman ini sebagai bentuk evaluasi untuk melakukan perubahan.

Selain itu, konsep diri merupakan bentuk penilaian tentang dirinya atas perilaku dan tindakan yang ia lakukan agar selalu memandang positif terhadap dirinya sehingga memotivasi untuk melakukan perubahan dan perkembangan dirinya ke arah yang lebih baik.

e. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri

Faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri yaitu faktor keadaan fisik dan penilaian orang lain. Faktor keadaan fisik meliputi: ”faktor

keluarga termasuk pengasuhan orang tua, pengalaman perilaku kekerasan, sikap saudara, status sosial ekonomi dan faktor lingkungan sekolah”.18

Faktor keadaan fisik sendiri muncul dari diri seseorang yang dipengaruhi oleh orang tua, proses pengasuhan orang tua, status ekonomi keluarganya, pengalaman pribadi, dan faktor lingkungan sekolah dimana seseorang akan berinteraksi dengan orang lain selain keluarganya. Orang tua berperan penting dalam perkembangan konsep diri seorang anak.

Menurut Syamsul Bachri Thalib mengutip pernyataan Friedman, menjelaskan bahwa ”pengasuhan orang tua yang permisif dan otoriter cenderung mengakibatkan konsep diri dan kompetensi sosial yang rendah, sedangkan pengasuhan dengan model otoritatif cenderung menghasilkan konsep diri, kompetensi sosial dan independensi yang tinggi”.19

Artinya, pengasuhan orang tua sangat mempengaruhi pembentukkan konsep diri seorang anak. Faktor eksternal berupa penilaian atau pandangan dari orang lain terhadap dirinya, penilaian tersebut akan berpengaruh kepada tingkat kedewasaan seorang individu dalam pembentukan sikap dan tingkah laku.

Baldwin dan Holmes mengatakan bahwa konsep diri adalah hasil belajar individu melalui hubungannya dengan orang lain. Yang dimaksud dengan ”orang lain” menurut Calhoun dan Accocella, yaitu:

1) Orang tua. Orang tua adalah kontak sosial yang paling awal yang dialami oleh seseorang dan yang paling kuat. Informasi yang diberikan oleh orang lain berlangsung hingga dewasa

2) Kawan Sebaya. Peran yang diukur dalam kelompok sebaya sangat berpengaruh terhadap pandangan individu mengenai jati dirinya sendiri

3) Masyarakat. Masyarakat sangat mementingkan fakta-fakta yang ada pada seorang anak, seperti siapa bapaknya, ras, dan lain-lain

18

Syamsul Bachri Thalib, op. cit., h. 125 19

sehingga hal ini berpengaruh terhadap konsep diri yang dimiliki seorang individu.20

Faktor yang paling berpengaruh terhadap seorang anak adalah orang tua. karena seorang anak akan lebih banyak melakukan kontak sosial dengan orang tua dimulai dari sejak ia lahir sampai dewasa.

Faktor kedua adalah teman sebaya, seseorang setelah mengetahui keadaan di luar lingkungan keluarganya, maka ia akan mengetahui pentingnya berinteraksi dengan orang lain, terutama teman sebaya. Teman sebaya merupakan sekelompok yang akan memandang dirinya dalam proses pembentukan seseorang menemukan jati dirinya. Ketika dihadapkan oleh beberapa pilihan, seseorang akan lebih dahulu meminta pendapat orang tua yang kemudian dilanjutkan dengan pendapat teman sebayanya sebagai pertimbangan untuk pengambilan keputusan untuk dirinya.

Masyarakat pun berpengaruh pada konsep diri seorang individu karena masyarakat akan memandang dan menilai seseorang secara umum baik itu dalam hal ras, latar belakang keluarga, sikap dan perilaku, etika dan sopan santun dan lain sebagainya.

Dokumen terkait