BAB 5. PEMBAHASAN
5.4 Konsep Diri ODHA dalam Sistem Penanggulangan
Dalam sistem penanggulangan HIV-AIDS, ODHA memiliki peranan yang penting. ODHA bukan dilibatkan hanya untuk diperkerjakan atau sebagai sumber daya melainkan mengembangkan konsep dirinya sebagai pribadi yang holistik dan terlepas
dari stigma dan diskriminasi. Saat ini, keterlibatan ODHA dalam sistem penanggulangan HIV-AIDS lebih “memihak” kepada ODHA. Para ahli bidang HIV- AIDS merumuskan suatu pemberdayaan ODHA yang dinamakan Pencegahan Positif. Adapun Pencegahan Positif bertujuan untuk meningkatkan harga diri, kepercayaan diri dan kemampuan seseorang yang positif HIV-AIDS untuk melindungi kesehatan diri mereka dan menghindari penularan infeksi kepada orang lain (International HIV/AIDS Alliance, 2007).
Astri dan Handoko memiliki konsep diri sebagai ODHA yang sudah dapat menerima status mereka dan memutuskan untuk melanjutkan hidup mereka. Hal ini menyebabkan mereka terbuka terhadap informasi tentang HIV-AIDS dan juga kemauan untuk merubah perilaku yang berisiko dan mengadopsi perilaku sehat. Pikiran, perasaan dan perilaku yang terdapat dalam konsep diri Astri yang bermakna positif terhadap penanggulangan HIV-AIDS adalah orang yang tidak berbeda dengan orang lainnya, menerima konsekuensi, terbuka akan status HIV-nya kepada orang- orang tertentu tetapi di saat yang sama juga tertutup kepada orang yang menurutnya tidak siap menerima kondisinya, dan menggunakan berbagai macam strategi mengatasi stres yang dialaminya sebagai ODHA.
Konsep diri Astri sebagai seorang ibu dan menantu di keluarga suami yang menerimanya, membuat Astri juga memiliki harapan untuk hidup. Pengharapan ini sangat penting agar Astri memiliki motivasi untuk menjalani hidupnya. Pekerjaan Astri di LSM juga menolongnya memiliki harga diri yang membuat Astri semakin percaya diri. Bahkan dalam hubungan Astri dengan pria yang mendekatinya, Astri
memiliki kepercayaan diri untuk menentukan pria mana yang menerima kondisinya dengan mengajukan beberapa syarat menjalani KTS sebelum mereka terlibat lebih jauh.
Konsep diri Astri yang demikian membuat Astri dapat menjadi role model bagi ODHA lainnya. Astri dapat menjadi teladan bukan hanya sekedar narasumber yang mengetahui teori, tetapi langsung mengalami pikiran dan perasaan yang terjadi pada ODHA ketika mengetahui ia terinfeksi atau ketika sedang menjalani pengobatan ARV yang memiliki banyak efek samping. Hal ini menjadi sesuatu kekuatan untuk Astri berbagi dengan ODHA lainnya. Astri sendiri berpendapat adalah lebih baik petugas lapangan memang ODHA sehingga dapat membagikan pengalaman yang dialaminya kepada ODHA.
Mengenai Kelompok Dukungan Sebaya, Astri berpendapat bahwa materi yang ia dapatkan selama ini cukup memadai. Dalam setiap pertemuan KDS, setelah membicarakan tentang topik HIV-AIDS, mereka selalu memiliki waktu untuk
sharing hal-hal apa yang menjadi tantangan teman-teman dan mendiskusikannya. Astri yang pernah menjadi koordinator KDS, kerap bertanya kepada para ODHA, topik atau materi apa yang menjadi kebutuhan mereka, dan topik tersebut yang akan dibahas di pertemuan berikutnya. Bagi ODHA yang masih baru, topik yang berhubungan dengan HIV-AIDS merupakan topik utama yang sering mereka usulkan untuk dibahas, karena mereka membutuhkan banyak informasi tentang hal ini.
Sebagai orang yang telah lama berkutat dalam dunia HIV-AIDS, Astri berpendapat masalah dalam KDS selama ini adalah dari pekerja ODHA yang tidak bergerak jika
tidak ada imbalan. Hal ini adalah kenyataan yang sangat disayangkan oleh Astri karena bagi dia sendiri, menjalankan KDS merupakan suatu pengabdian yang tidak boleh berhenti karena tidak ada imbalan. Astri sendiri dapat memaklumi hal tersebut karena ODHA juga membutuhkan biaya untuk hidupnya, tetapi Astri tidak dapat mentolerir jika ada ODHA yang menggunakan status dan perannya untuk mendapatkan uang. Bagi Astri, KDS masih merupakan salah satu cara yang efektif untuk menyampaikan informasi dan meningkatkan rasa percaya diri ODHA, jika dilakukan dengan benar dan berkelanjutan. Oleh karena itu, Astri semakin yakin bahwa berdaya atau tidaknya ODHA bergantung pada sikap mental ODHA itu sendiri, dan KDS atau LSM hanya sebagai faktor pendorong.
Pikiran, perasaan dan perilaku yang terdapat dalam konsep diri Handoko yang bermakna positif terhadap penanggulangan HIV-AIDS adalah dapat menerima ini sebagai konsekuensi atas perbuatannya dahulu, melihat hal ini sebagai cara Tuhan agar ia bertobat, mau belajar untuk hidup lebih baik dengan menjaga kesehatan, meminum obat teratur dan mengisi harinya dengan kegiatan positif. Handoko juga memiliki harapan untuk menjadi ODHA yang berprestasi agar memperbaiki stigma negatif tentang HIV-AIDS.
Konsep diri Handoko sebagai mantan pecandu dan juga anak yang ingin membahagiakan orangtuanya dapat menjadi kekuatan bagi Handoko jika Handoko melihatnya dengan sudut pandang yang berbeda. Hanya saja, saat ini, cara Handoko melihat dirinya berdasarkan atribut-atribut tersebut menjadi stresor bagi Handoko dalam memandang hidupnya dan mendorong Handoko untuk kembali menggunakan
narkoba. Penerimaan dari teman-teman komunitas LSM membantu Handoko untuk merasa dikasihi dan didukung untuk kembali lagi berjuang pulih.
Konsep diri Handoko berpengaruh terhadap perannya di dalam sistem penanggulangan HIV-AIDS. Dalam ruang lingkup yang kecil, ketika Handoko memiliki pikiran positif terhadap kondisinya dan kesadaran untuk berubah maka ia dapat menghentikan penularan HIV-AIDS melalui narkoba suntik dan memiliki hidup yang lebih berharga untuk diperjuangkan. Dalam ruang lingkup yang besar, kesehatan baik fisik, mental dan spiritual Handoko merupakan aset penting untuk perannya dalam keluarga, lingkungan masyarakat dan juga untuk ODHA atau para IDUs lainnya.
Saat ini Handoko mengaku masih belum mengambil peran sebagai konselor atau petugas lapangan karena merasa belum dapat menjadi role model dan masih perlu banyak belajar agar lebih banyak mengetahui dan dapat menolong junkies lain. Handoko berperan dalam LASS karena ada kebutuhan dalam LSM untuk tugas tersebut, dan Handoko menyanggupinya karena ingin belajar di tengah-tengah komunitas. Ketika Handoko menggunakan narkoba kembali, ia pun memutuskan untuk kembali masuk rehabilitasi. Tetapi Handoko juga mengakui bahwa bukan rehabilitasi yang akan menyembuhkan dia tetapi dirinya sendiri yang harus memutuskan untuk berubah atau tidak. Handoko melihat peran konsep diri yang kuat berpengaruh terhadap perubahan perilaku berisiko agar penularan HIV-AIDS dapat dicegah.