• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tanggapan Lingkungan Sosial terhadap ODHA

BAB 4. HASIL PENELITIAN

4.1 Konsep Diri ODHA menurut Pengalaman Para Ahli Bidang

4.1.3 Tanggapan Lingkungan Sosial terhadap ODHA

Tanggapan lingkungan sosial terhadap seseorang akan mempengaruhi bagaimana seseorang itu memandang dirinya sendiri, apakah berharga atau tidak. Orang yang terinfeksi HIV-AIDS memiliki suatu pandangan tersendiri mengenai lingkungan sosial ketika mereka mengetahui bahwa ia terinfeksi HIV-AIDS. Berikut di antaranya:

a.Orang yang Dihindari atau Dijauhi

Menurut Benny, dari pengalamannya, orang dengan HIV-AIDS cenderung menutupi status mereka karena adanya stigma dan diskriminasi dari lingkungan sosialnya. Stigma dan diskriminasi bahkan datang bukan saja dari kalangan awam tapi juga dari kalangan orang-orang yang sudah mengerti tentang HIV-AIDS. Salah satu yang menyebabkan stigma kepada ODHA dalam kalangan aktivis HIV-AIDS adalah infeksi oportunistik (IO) yang dialami oleh ODHA.

“Kalau menurut pendapatku, rata-rata mereka masih menutupi statusnya. Bahkan kalaupun kita sudah dekat ama mereka, mereka tetap menutupi status mereka. Kenapa, karena bukan hanya di masyarakat umum mereka mendapat stigma, bahkan dari orang- orang yang juga bekerja di dunia HIV-AIDS. Yang buat takut itu IO-nya.. misalnya TB nya, kanker kulitnya, kulitnya kan ruam- ruam gitu kan.. rash.., jadi kalo mau shake hand.. gimana gitu..”

Pada kenyataannya, orang yang mengalami HIV-AIDS masih mengalami stigma dan diskriminasi. Ketakutan akan dampak stigma tersebut, misalnya kehilangan pekerjaan, kehilangan teman dan lainnya, membuat orang yang terkena HIV-AIDS takut terhadap status HIV-nya dan cenderung menutupi statusnya kepada

lingkungannya. Tingkat penerimaan yang masih rendah ini, menurut Linda yang mempengaruhi ODHA dalam menyikapi infeksi HIV-nya:

“Tingkat penerimaan orang terhadap HIV kan berbeda. Kalo misalnya orang kena kanker, orang disekitarnya kan akan menunjukkan sikap penuh kasih sayang.. tidak ada yang ketakutan. Tapi ketika dia hiv, walaupaun dia sehat segar, dia belum perlu pake ARV, dia kayak kita, tapi begitu orang tahu dia HIV, semua itu hilang..”

b.Orang yang Diberi Stigma/Label

Stigma atau pelabelan yang diberikan oleh masyarakat umum terhadap ODHA adalah penyakit yang berhubungan dengan moral. Hal ini disampaikan oleh Linda dan Gita:

“Orang dengan HIV-AIDS itu biasanya ketakutan karena stigma moral dari orang lain itu. Orang dengan HIV itu biasanya dikaitkan dengan bule, unsafed sex, dan itu semua terbentuk karena moral. Padahal ODHA ga’ ada berpikir tentang moral.. Orang itu tahu dia bukan terinfeksi karena moral. Orang yang mempersepsikan masalah HIV itu masalah moral.” (Linda)

“…orang kadang menyamaratakannya menjadi “Penderita AIDS” terkait stigma yang ada di masyarakat, terkait ‘penyakit kotor, tak bermoral, kutukan Tuhan, dan lain-lain, sehingga menyebabkan ODHA menjadi terbebani tidak hanya dengan HIV yang ada di tubuhnya, tetapi juga dengan stigma…”(Gita)

c.Orang yang Membutuhkan Dukungan

Orang yang terkena HIV-AIDS, sama seperti orang yang terkena penyakit lainnya, membutuhkan dukungan dari orang disekitarnya dalam menghadapi penyakit yang dideritanya, apalagi dengan beban ganda seperti yang telah disinggung sebelumnya. Hal ini disampaikan oleh Mutiara, yang telah bekerjadi dunia HIV-AIDS sejak tahun 2005, mengatakan bahwa dukungan keluarga sangat berperan penting dalam kepatuhan seorang ODHA meminum obat. Jika keluarganya menerima ODHA maka

proses pemulihannyapun akan semakin cepat yang ditunjukkan dengan meminum obat dengan teratur, dan demikian sebaliknya.

Gita juga membagikan pengalamannya dengan ODHA seorang waria dan gay yang sebelumnya aktif di LSM dan ketika mereka didiagnosa positif, mereka langsung menghubungi Gita untuk meminta dukungan. Mereka adalah orang-orang yang sudah mengetahui banyak informasi tentang HIV-AIDS tetapi sebagai orang yang terinfeksi tetap membutuhkan dukungan dari orang-orang yang dipercayainya karena tetap saja bayangan akan kematian akibat AIDS atau dampak status HIV mereka terhadap keluarga, pekerjaan dan kehidupan sosial mereka, akan membebani mereka. Berikut dipaparkan oleh Gita:

“HIV, AIDS dan kematian ada dalam pikiran mereka. Bagaimana dengan keluarga ketika mereka meninggal (keduanya belum menikah, tapi mereka punya ibu dan saudara2 kandung) itu mereka sampaikan, begitu juga dengan apa yang mereka hadapi berkaitan ketika mereka jatuh sakit, butuh uang, ga bisa kerja, dsb.

tapi justru pada poin mereka curhat seperti itu, kita bisa sampaikan bahwa mereka punya harapan untuk tetap hidup 'normal'. harus bisa jaga diri supaya tidak sakit. dan alhamdullilah sampai sekarang mreka sudah akses ARV, tetap bekerja, kalaupun sakit ya tidak sampai dirawat di rumah sakit”.

Linda juga menyatakan hal yang sejalan bahwa di tengah-tengah situasi tentang HIV- AIDS yang masih menjadi “momok” bagi masyarakat, ODHA memiliki sosok sebagai orang yang membutuhkan dukungan. Dukungan ini lebih cenderung ke arah dukungan secara psikologis, moril dan spiritual. Hal ini juga yang menyebabkan program-progam penanganan HIV-AIDS saat ini lebih ditujukan ke arah dukungan psikososial melalui kelompok-kelompok dukungan.

“Itulah gunanya mereka bergabung dengan support group. Support grup ini membuat mereka lebih nyaman bahwa mereka dimengerti, bisa share besama-sama, itu yang memperbaiki konsep diri meraka.”

d.Orang yang Membutuhkan Informasi

Orang-orang yang terinfeksi HIV adalah orang-orang yang membutuhkan banyak informasi tentang virus ini. Hal ini disampaikan oleh Mutiara, yang melihat perubahan dari jumlah orang yang melakukan pemeriksaan KTS selama kurun waktu 6 tahun belakangan. Mutiara melihat semakin banyak orang yang datang untuk memeriksakan dirinya, baik atas kemauan sendiri maupun karena didampingi oleh petugas lapangan LSM.

“Kemungkinan dah lebih banyak yang mengerti. Dulu ga ada yang datang sendiri, sekarang dah banyak yang datang sendiri. Tahun 2007 kita masih sedikit sekali pasien, Sekarang dah ribuan, karena dah banyak media-media, LSM yang bantu penyebaran informasi”

Linda juga melihat perubahan mengenai keterbukaan baik dari ODHA terhadap informasi maupun dari masyarakat terhadap ODHA. Hal ini menurut beliau dikarenakan adanya gerakan-gerakan dari pemerintah dan LSM yang semakin banyak.

Penerimaan lingkungan sosial terhadap ODHA akan mempengaruhi sejauh mana interaksi orang-orang yang terinfeksi HIV-AIDS dengan mereka. Dalam pikiran orang yang terinfeksi HIV-AIDS sudah terbentuk suatu konsep bahwa dia dan orang- orang yang sepertinya akan mendapatkan stigma, dijauhi dari komunitas, tetapi di sisi lain merupakan orang-orang yang membutuhkan dukungan dan informasi. Secara

ringkas tanggapan lingkungan sosial terhadap keberadaan ODHA menurut pengalaman dari para ahli bidang HIV-AIDS dapat dilihat dalam tabel 4.3.

Tabel 4.3 Tanggapan Lingkungan Sosial terhadap ODHA Menurut Pengalaman Para Ahli Bidang HIV-AIDS

INFORMAN Orang yang Dijauhi Orang yang diberi stigma/label Orang yang membutuhkan dukungan Orang yang membutuhkan informasi Linda T. Maas + + + + Gita Kencana + + + + Benny Iskandar + + - + Mutiara - - - +

Sebagai seorang pribadi, kita memiliki berbagai macam atribut yang melekat kepada kita. Beberapa diantaranya kita peroleh dari hasil pengenalan kita akan diri kita sendiri, yang lain kita peroleh melalui interaksi kita dengan orang lain. Atribut yang kita peroleh berdasarkan hasil pengenalan kita akan diri kita sendiri dapat berupa sifat, kemampuan, harapan kita baik yang sifatnya menetap ataupun sementara, dalam penelitian ini digolongkan ke dalam dimensi internal. Atribut yang kita berikan oleh hasil interaksi dengan orang lain dapat berupa peran atau stigma yang diberikan orang lain kepada kita sebagai bagian dari satu lingkungan sosial, yang dalam tulisan ini digolongkan ke dalam dimensi eksternal.

Berikut akan dipaparkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap dua orang ODHA dan juga orang-orang yang ada dalam hidup ODHA. Nama-nama yang digunakan di studi kasus ini semuanya adalah nama samaran untuk menjaga kemanan dan kenyamanan ODHA.