BAB III. METODE PENELITIAN
B. Jenis dan Tipe Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif, yaitu untuk menggambarkan kenyataan dari kejadian yang diteliti atau penelitian yang dilakukan sehingga memudahkan penulis untuk mendapatkan data yang objektif
dalam rangka mengetahui dan memahami seperti apa Efektivitas Kebijakan Relokasi Pedagang Kaki Lima Di Pasar Sentral Kota Makassar dan melakukan wawancara mendalam serta pengumpulan data-data.
2. Tipe penilitian
Tipe penelitian yang digunakan adalah deskriptif, yaitu penelitian yang tujuannya untuk menjelaskan atau mendeskripsikan suatu peristiwa, keadaan, objek apakah orang, atau segala sesuatu yang terkait dengan variabel-variebel yang bisa dijelaskan baik menggunakan angka-angka maupun kata-kata. Punaji (2010).
C. Jenis dan Sumber Data
Sumber data dalam hal ini yaitu segala sesuatu yang dapat memberikan informasi mengenai data itu berdasarkan sumbernya, data yang di bedakan sebagai berikut Sugiyono (2012) :
a. Data primer (data utama) merupakan data yang didapat langsung dari sumber asli, yaitu hasil wawancara dan observasi peneliti terhadap informan mengenai Efektivitas Kebijakan Relokasi Pedagang kaki lima di Pasar Sentral Kota Makassar .
b. Data sekunder yaitu merupakan data dari hasil penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara. Data sekunder dapat berupa literature, artikel, jurnal, serta dari situs yang berkaitan di internet yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan mengenai Efektivitas Kebijakan Relokasi Pedagang Kaki Lima di Pasar Sentral Kota Makassar.
40
D. Informan Penelitian
Informan dalam hal ini yaitu orang yang berada pada ruang lingkup penelitian, artinya yaitu orang yang dapat menyerahkan suatu informasi tentang kondisi dan situasi pada latar penelitian.
Tabel 3.1 Informan Penelitian
Kepala Seksi Ketertiban Umum Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota orang-orang yang berwenang untuk menyerahkan informasi tentang bagaimana Efektivitas Kebijakan Relokasi Pedagang Kaki Lima di Pasar Sentral Kota Makassar. Adapun beberapa informan yaitu Kepala Satpol PP, Pengelola Pasar Sentral, Pedagang Kaki Lima, dan Masyarakat.
Berdasarkan petunjuk dari informan awal seperti rencana informan di atas peneliti mengembangkan penelitian ke informan lainnya, begitu seterusnya
sampai penelitian dianggap cukup mendapatkan informasi yang dibutuhkan, proses penelitian menggunakan teknik Purposive sampling, yaitu pengambilan sampel berdasarkan penilaian dari peneliti mengenai siapa-siapa saja yang pantas untuk dijadikan sampel, oleh karena itu agar tidak sangat subjektif, peneliti harus punya latar belakang pengetahuan tertentu mengenai sampel dimaksud agar peneliti benar-benar bisa mendapatkan sampel yang sesuai dengan persyaratan atau tujuan dari penelitian (memperoleh data yang akurat).
E. Teknik Pengumpulan Data
Peneliti dalam hal ini menggunakan teknik pengumpulan data yaitu dengan triangulasi/ gabungan. Tringulasi dapat diartikan sebagai teknik dalam pengumpulan data yang bersifat menyatukan dari berbagai suatu sumber data yang telah ada dengan teknik pengumpulan data.
1. Teknik Observasi, peneliti dalam hal ini melakukan pengamatan yang langsung di lapangan yaitu pertama peneliti melakukan pengamatan seperti apa Efektivitas Kebijakan Relokasi Pedagang Kaki Lima di Pasar Sentral Kota Makassar, kemudian kedua peneliti melakukan pengamatan di lokasi bagaimana pelaksanaan Kebijakan Relokasi Pedagang Kaki Lima menurut para informan yang terkait di lokasi penelitian. Peneliti melakukan observasi selama tiga hari untuk memenukan bukti nyata bahwa relokasi PKL di pasar sentral sudah efektif atau belum. Dalam perjalan observasip peneliti mendapatkan informasi bahwa relokasi sudah dilakukan namun terjadi masalah dimana terdapat dua tempat yang ditempati oleh para PKL paca relokasi yang menjadi konflik antara para pedagang.
42
2. Teknik Wawancara, Peneliti melakukan wawancara dengan informan penelitian. Peneliti mmelakukan wawancara dengan tujuh informan, dua informan berasal dari PD Pasar Makassar Raya, satu informan dari pihak keamanan (Satpol PP), dan tiga lainnya adalah para pedagang yang terkena relokasi. Informasi yang didapatkan dari ketujuh informan sangat membantu peneliti untuk mengkaji lebih dalam mengenai efektivitas kebijakan relokasi pedagang kaki lima di pasar sentral kota Makassar.
3. Teknik studi perpustakaan, studi pustaka yaitu mengumpulkan suatu data dengan cara mencari data dan serta informasi berdasarkan suatu penelaan literature atau sebuah referensi, baik yang bersumber dari suatu buku-buku
dan dokumentasi, laporan, jurnal, kliping, majalah dan makalah yang pernah diseminarkan. Artikel-artikel dari berbagai sumber-sumber, termasuk internet maupun suatu catatan-catatan penting yang bersangkutan dengan objek penelitian. Dalam teknik pustaka peneliti mendapatkan data dari kantor PD Pasar Makassar Raya, data tersebut berupa tarif retribusi para pedagang dan rekapitulasi data kios (New Makassar Mall) pasca relokasi.
4. Dokumentasi, dokumentasi adalah mengumpulkan beberapa data baik itu data yang berupa catatan-catatan, gambar-gambar, dan administrasi yang sesuai dengan masalah yang diteliti. Dalam hal ini dokumentasi diperoleh merupakan hal yang penting dalam membuktikan validitas sebuah data ataupun hasil penelitian maka dianggap perlu oleh peneliti mengambil dokumentasi pada setiap kegiatan penelitian yang dilakukan, dokumentasi yang akan diambil yaitu berbentuk rekaman atau foto. Peneliti mengambil
foto saat melakukan wawancara kepada tujuh informan untuk bukti nyata bahwa peneliti benar-benar melakukan wawancara untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai efektivitas kebijakan relokasi pedagang kaki lima di pasar sentral kota Makassar.
F. Teknik Analisis Data
Analisis data ialah langkah selanjutnya untuk mengelola data dimana data yang diperoleh, dikerjakan dan dimanfaatkan untuk sedemikian rupa untuk menyimpulkan persoalan yang diajukan dalam menyusun hasil penelitian. Dalam model ini terdapat 3 (tiga) komponen pokok. Menurut pendapat Miles dan Huberman dalam Sugiyono (2012 ), ketiga komponen tersebut adalah sebagai berikut:
1. Reduksi Data (data reduction)
Yakni Data yang di peroleh dilapangan jumlahnya sangat cukup banyak,untuk itu sangat perlu dicatat dengan sangat rinci dan teliti. Seperti yang telah di kemukakan,makin lama peneliti di lapangan maka jumlah data juga akan semakin banyak, kompleks dan rumit. untuk itu perlu juga segera dilakukan tindakan analisis data dan melalui reduksi data berarti merangkum dan memilih hal-hal yang pokok saja, memfokuskan pada hal-hal yang dianggap penting, dan dicari bentuk dan temanya serta membuang yang tidak terlalu diperlukan dalam hal ini yaitu data yg tidak begitu penting.
44
2. Penyajian Data (data display)
Dalam suatu penelitian kualitatif, penyajian data bisa dapat dilakukan dalam suatu bentuk uraian singkat dan bagan dan kaitan antara kategori dan sejenisnya.
3. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi
Langkah ketiga dalam suatu analisis data kualitatif yaitu adalah penarikan kesimpulan dan pengecekan/verifikasi. Bentuk kesimpulan awal yang dibuat masih bersifat sementara, dapat berubah bila tidak ditemukan bukti yang kuat, yang dapat mendukung tahap pengumpulan data berikutnya.
Kesimpulan data yang dikemukakan sebelumnya pada tahap pertama, didukung oleh suatu bukti yang valid, kuat dan konsisten saat peneliti telah kembali kelapangan untuk mengumpulkan data, maka kesimpulan yang sebelumnya dikemukakan harus merupakan kesimpulan yang kridibel.
G. Keabsahan Data
Salah satu cara yang digunakan oleh peneliti dalam pengujian kredibilitas data adalah dengan triangulasi. Triangulasi dapat dikatakan sebagai pengecekan, pengujian data dari berbagai sumber-sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Lebih lanjut triangulasi dapat dibagi ke dalam tiga macam, yaitu:
1. Triangulasi Sumber
Triangulasi sumber di lakukan dengan cara memeriksa data/menguji data yang telah didapat melalui beberapa sumber. Dalam hal ini peneliti melakukan pengumpulan data dan pengujian data yang sudah di dapat melalui hasil pengamatan, wawancara dan dokumen yang ada. Kemudian peneliti
membandingkan hasil pengamatan dengan wawancara, dan membandingkan hasil dari wawancara dengan dokumen yang ada.
2. Triangulasi Teknik
Triangulasi teknik di lakukan dengan cara memeriksa data kepada sumber-sumber yang sama dengan menggunakan teknik yang berbeda. Dalam hal ini data yang diperoleh dengan wawancara, lalu di cek dengan observasi dan dokumen.
Apabila dengan menggunakan tiga teknik pengujian kredibilitas data tersebut, dapat menghasilkan data yang berbeda-beda, maka penelitmelakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan atau yang lain, untuk memastikan data mana yang dianggap benar atau mungkin semuanya bisa benar karena mempunyai sudut pandang yang masing-masing berbeda-beda.
3. Triangulasi Waktu
Waktu dapat juga mempengaruhi kredibilitas data. Data yang di kumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara pada saat di pagi hari, saat nara sumber masih segar, belum banyak masalah dan akan memberikan data, yang lebih valid sehingga akan lebih kredibeluntuk itu dalam hal ini bentuk pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara melakukan wawancara dan pengecekan, obsevasi atau menggunakan teknik lain dalam situasi dan waktu yang berbeda. Jika hasil uji menghasilkan data yang berbeda, maka harus dilakukan secara berulang-ulang hingga dapat sampai ditemukan kepastian datanya.
Triangulasi juga dapat dilakukan dengan cara memeriksa hasil penelitian, dari tim peneliti yang lain yang juga diberi tugas untuk melakukan pengumpulan data.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Lokasi Penelitian
1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Perusahaan Daerah Makassar Raya atau bisa disingkat PD Pasar Makassar Raya adalah sebuah perusahaan atau organisasi yang bergerak di bidang pemungutan distribusi pasar tradisional, seperti Pasar Sentral, Pasar Terong dan pasar tradisional lainnya. Perusahaan Daerah Makassar Raya di bentuk oleh Walikota Makassar berdasarkan perubahan atas peraturan daerah Kota Makassar Nomor 17 Tahun 2002.
Untuk kelancaran pelaksanaan relokasi Pedagang kaki lima di Pasar Sentral, Perusahaan Daerah Makassar Raya membentuk
a. PD (Perusahan Daerah) Pasar New Mall Makassar
Perusahaan daerah Pasar New Mall yang di pimpin oleh Sudirman Lannurung. PD Pasar New Mall Makassar mempunyai tugas memungut retribusi pedagang kaki lima resmi yang berada di dalam dan diluar bangunan New Mall Makassar yang di tetapkan oleh Walikota Makassar.
Kepala perusahaan daerah Pasar Makassar Raya melaporkan secara bersekala retribusi setiap harinya kepada Ketua PD pasar lalu melaporkan kembali kepada Walikota Makassar.
b. PD (Perusahan Daerah) Pasar Makassar Raya
Perusahaan daerah Pasar Makassar Raya yang di ketuai Oleh Walikota Makassar. PD Pasar Makassar Raya mempunyai tugas merumuskan kebijakan, strategi, dan langkah-langkah yang di perlukan dalam rangka merelokasikan PKL yang berada di Pasar Tradisional di Kota Makassar sesuai dengan kebijakan, strategi, dan pedoman yang di tetapkan oleh Walikota Makassar.
Perusahaan daerah Pasar Makassar Raya melaporkan secara bersekala pelaksanaan tugasnya kepada Ketua PD pasar lalu melaporkan kembali kepada Walikota Makassar.
2. Visi dan Misi PD Pasar Makassar Raya
Adapun Visi dan Misi Perusahaan Daerah Pasar Makassar Raya yaitu :
Visi : Terwujudnya Pasar yang nyaman untuk semua, penunjang pendapatan asli Kota Makassar
Misi :
1. Merekontruksi bangunan pasar, menjadi seperti pasar modern yang berwawasan ramah lingkungan (Pasar Sehat).
2. Mewujudkan pengelolaan pasar dengan pelayanan publik yang berkualitas, profesional, memiliki intregritas yang tinggi.
3. Mewujudkan management pengelolaan pasar yang unggul/
modern/ berkontribusi tinggi menunjang pendapatan asli daerah Kota Makassar.
48
3. Susunan keanggotaan perusahaan Daerah Pasar Makassar Raya Tabel 4. 1
Susunan Keanggotaan Perusahaan Daerah Pasar Makassar Raya
NO NAMA JABATAN
1. Walikota Makassar Ketua
2. Syafrullah, SE Direktur Utama
3. Thamrin Mensa, S.T , MM Satuan Pengawas Internal (SPI)/
Direktur Umum
4. Saharuddin Ridwan, S.S, MM Kelompok Jabatan Fungsional/
Direktur Oprasional
5. Ahriani S.Sos Kabag Keuangan
6. Syamsul Bahri, S.E Kabag Umum
7. Yunita Yusuf , S.T Kabag Pengelolaan
8. Muh. Cahyadi W. Putra, S.H Kabag Ketertiban dan Keindahan 9. Lutfi Gunawan Alam, S.E Kasubag Anggaran dan Pembukuan 10. Wahyudi Falarungi, S.H Kasubag Administrasi dan
Kepegawaian
11. Heril Ahmad, S.T Kasubag Perencaan Fisik dan Realibitas
12. Abd Latief Kasubag Kebersihan dan Keindahan
13. Ismail Kasubag Pengelolaan Karcis
14. Akbar Idris, Amd Kasubag Pengelolaan Asset 15. Fany Firmansyah Kasubag Kemitraan
16. Bahtiar. R Kasubag Pembinaan dan Penertiban
17. Sumardin Kasubag Humas dan Hukum
18. Asnawi M. Aras, S.H Kasubag Penagihan Sumber: PD. Pasar Makassar Raya Kota Makassar, 2020
B. Jenis Pedagang di Pasar Sentral (New Makassar Mall)
Pedagang yang menjual di pasar sentral (New Makassar Mall) ditempatkan sesuai dengan jenis barang dagangannya, pedagang tersebut dikelompokkan sebagai berikut:
a. Pedagang di Blok A : Induknya Mall
Pedagang yang menempati bangunan bertingkat yang berupa kios-kios kecil yang memiliki ukuran 2m x 2,20 dan 2m x 2,23. Bangunan ini di bangun oleh pihak swasta (PT.Melati Tunggal Inti Raya) sebagai pihak pengelola pasar New Makassar Mall yang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Makassar. Di
dalam mall ini menjual berbagai macam kebutuhan primer dan sekunder.
b. Pedagang di Blok B : Ruko
1) Pedagang Kios / Lapak, adalah pedagang yang menempati bangunan ruko yang sebelumnya sudah hangus terbakar dan dibangun kembali berupa lapak oleh pemerintah kota dengan ukuran yang tidak begitu luas dan tidak bertingkat. Ciri lainnya yakni pintu dari kios/lapak ini terbuat dari ruling door dan pintu tripleks. Kios/lapak ini menjual berbagai macam pakaian, barang pecah belah, sepatu, sandal, tas dan sebagainya.
2) Pedagang Kaki Lima (PK5), adalah pedagang yang menjual dengan membawa gerobak yang berisi dagangannya. Contoh PK5 ini yang menjual di pasar ini seperti penjual bakso, kue keliling, penjual minuman dingin dan ada juga yang menjual pakaian jadi, kosmetik asessoris dan lain sebagainya.
50
Pedagang yang menjual di Blok B ini sesuai perjanjian antara pedagang dan pemilik ruko bahwa pedagang siap mengangkut kembali barang dagangannya “siap pindah” apabila suatu saat ruko akan di bangun kembali dengan waktu yang tidak di tentukan artinya bisa cepat bisa juga lambat.
Tarif retribusi pedagang pasca relokasi terdiri dari enam jenis pungutan dengan tarif yang berbeda pula, untuk melihat lebih jelasnya ada pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.1 Tarif Retribusi
No. Jenis Pungutan Tarif Total
1 Kios Rp. 2,5 juta / Tahun
2 Kartu Pedagang Rp. 150.000/ Tahun
Rp. 2.665.000 / Tahun 3 Distribusi Rp. 5.000 / Hari
4 Keamanan Rp. 5.000/ Hari 5 Listrik Rp. 3.000/ Hari 6 Kebersihan Rp. 2.000/ Hari
Sumber: PD. Pasar Makassar Raya Kota Makassar, 2020
1. Kios (sewa) Rp. 25 Jt/ Thn 2. Kartu pedagang Rp. 150 Rb/ Thn 3. Service cash Rp. 75 Rb/ Thn
4. Listrik Rp. 100 Rb/ Thn
Sumber: PD. Pasar Makassar Raya Kota Makassar, 2020
Pasca relokasi para pedagang tersebar ke empat titik dalam gedung New Makassar Mall, pedangan yang mempunyai kios di lantai basement, lantai dasar, lantai duan dan yang terakhir adalah lantai tiga, untuk melihat lebih jelasnya ada pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.2
Rekapitulasi Data Kios (New Makassar Mall)
No. Lantai (Lt) Pedagang Mall Booth Emerald Food Septi Jumlah
Sumber: Pasar Sentral Makassar (New Makassar Mall), 2020
Tabel 4.3
Data Pedagang Kaki Lima yang di Relokasi dan yang Masih Berada di Luar Gedung Area New Makassar Mall
No Jumlah Yang Telah Direlokasi
Jumlah Yang Belum Direlokasi
1 1.278 (Seribu Dua Ratus Tujuh Puluh Delapan)
908 (Sembilan Ratus Delapan)
Jumlah 2. 186 (Dua ribu seratus delapan puluh enam)
52
Kedua tabel diatas menunjukan bahwa pasca relokasi terjadi banyak perubahan, mulai dari tarif yang semakin meningkat dan penempatan kios untuk para pedagang yang direlokasi tersebar di empat titik new makassar mall. Ini menunjukkan bahwa relokasi PKL di gedung baru mempunyai dampak positif jika dilihat dari gendung yang lebih layak ditempati oleh para pedagang namun di sisi lain terdapat dampak negatif bagi para pedagang dengan adanya kenaikan tarif retribusi dan masih adanya pedagang yang tidak memasuki gedung sehingga relokasi ini tidak efeltif.
C. Efektifitas Kebijakan Relokasi Pedagang Kaki Lima di Kota Makassar Pada dasarnya efektivitas kebijakan relokasi PKL merupakan suatu konsep untuk mengukur tercapainya tujuan dari kebijakan relokasi PKL baik itu dalam bentuk target, sasaran jangka panjang maupun misi organisasi. Penataan dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima adalah ingin mewujudkan PKL yang sadar lingkungan, rapi, tertib yang dapat menjadikan kota Makassar Bersih, Sehat, Rapi dan Indah.
Untuk mengukur efektivitas program atau kebijakan dapat dilihat dari bagaimanakah suatu program mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Apabila program tersebut diimplementasikan kemudian tujuan kebijakan tercapai, maka kebijakan tersebut dapat dikatakan efektif. Seperti yang diungkapkan oleh Ratminto dan Atik Septi Winarsih (2005:174) bahwa efektivitas itu tercapai
ketika mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan, baik itu dalam bentuk target, sasaran jangka panjang maupun misi organisasi itu.
Berdasarkan hasil penelitian, efektifitas kebijakan relokasi pedagang kaki lima di kota Makassar adalah sebagai berikut:
1. Ketepatan Penentuan Waktu
Waktu adalah sesuatu yang dapat menentukan keberhasilan suatu kegiatan yang dilakukan dalam sebuah organisasi. Demikian pula halnya akan sangat berakibat terhadap kegagalan suatu aktivitas organisasi,penggunaan waktu yang tepat akan menciptkan efektivitas pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan SB selaku Kabag Umum di PD Pasar Makassar Raya yang mengatakan bahwa :
“Kebijakan ini sebenarnya sudah lama, yaitu pada tahun 2018 bulan Juli dengan nama kebijakan pengembalian fungsi jalan. Namun kita bisa melihat kebijakan ini tidak serta merta diterima oleh pedagang kaki lima, terjadi aksi protes yang dilakuka oleh beberapa pedagang karena menolak untuk dipindahkan ke New Makassar Mall. Namun tempat yang sudah kami siapkan di New Makassar Mall sangatlah sudah siap untuk digunakan dengan fasilitas yang memadai” . (Wawancara SB, tanggal 23 Juni 2020).
Hasil wawancara diatas menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan kebijakan relokasi pedagang dalam hal ketepatan waktu terjadi masalah yaitu penolakan oleh beberapa pedagang yang mengakibatkan tertundanya pemindahan pedagang ke New Makkassar Mall.
54
Adapun pendapat dari SE selaku Kepala Seksi Ketertiban Umum yang mengatakan bahwa:
“Relokasi ini sebenarnya mandet 5-10 tahun karena adanya penolakan oleh peadgang karena menganggap ketika mereka di pindahkan kebangunan baru maka mereka akan rugi karena pembeli akan malas masuk karena tempatnya yang sangat jauh, berbeda ketika mereka berjualan dipinggir jalan. Relokasi seharusnya dilakukan sesuai dengan yang direncanakan dengan alasan SK penampungan pedagang pasca kebakaran dibahu Jl Cokrominoto, Jl KH Wahid Hasyim, dan Jl KH Agus Salim sudah dicabut, maka dari itu akan di laksanakan pengembalian badan jalan supaya aktivitas ekonomi kembali lancar..” (Wawancara SE, Tanggal 14 juli 2020).
Hasil wawancara oleh SE menunjukkan bahwa Relokasi seharusnya dilkukan sesuai dengan yang direncanakan dengan alasan SK penampungan pedagang pasca kebakaran dibahu Jl Cokrominoto, Jl KH Wahid Hasyim, dan Jl KH Agus Salim sudah dicabut, maka dari itu akan di laksanakan pengembalian badan jalan supaya aktivitas ekonomi kembali lancar. Namun para pedagang menolak untuk dipindahkan, sehingga relokasi menjadi mandet dengan jangka waktu yang sangat panjang karena sampai memakan waktu bertahun-tahun lamanya.
Kemudian untuk mencari informasi yang lebih akurat mengenai waktu relokasi dlaksanakan maka peneliti kembali mengajukan pertanyaan mengenai orang-orang yang terlibat dalam melancarkan kegiatan relokasi.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan SB selaku Kabag Umum di PD Pasar Makassar Raya yang mengatakan bahwa :
“Pemerintah mengerahkan 700-san lebih aparat personil gabungan untuk menjaga keamanan relokasi dari pihak Satpol-PP dan kepolisian, hal ini dilakukan karena banyaknya para pedangan yang melaukan aksi protes, aksi protes kebanyakan dilakukan oleh ibu-ibu bahkan ada pedagang nekat berdiri di atas alat berat, dan bahkan mereka berorasi dan membentangkan spanduk penolakan relokasi. Maka dari itu diturunkan aparat keamanan untuk mengamankan lokasi relokasi”. (Wawancara SB, tanggal 23 Juni 2020).
Hasil wawancara diatas menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan kebijakan relokasi para pedagang tidak berjalan mulus, pemerintah Kota Makassar bahkan mengerahkan 700-san lebih aparat personil gabungan untuk menjaga keamanan relokasi dari pihak Satpol-PP dan kepolisian, melihat banyaknya jenis aksi protes yang dilakukan oleh para pedagang karena tidak menerima adanya relokasi.
2. Ketepatan Perhitungan Biaya
Setiap pelaksanaan suatu kegiatan baik yang yang melekat pada individu, kegiatan yang melekat kepada organisasi maupun kegiatan yang melekat kepada negara yang bersangkutan. Ketepatan dalam pemanfaatan biaya terhadap suatu kegiatan, dalam arti bahwa tidak mengalami kekurangan sampai kegiatan itu di selesaikan. Ketepatan dalam menetapkan suatu satuan biaya merupakan bagian dari pada efektivitas.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan SB selaku Kabag Umum di PD Pasar Makassar Raya yang mengatakan bahwa :
“Mengenai anggaran Pasar Sentral sebenarnya bekerjasama dengan pihak kedua (PT Melati Tunggal Inti Raya) terkait dengan pengembangan dan pengelolaannya. Di dalam perjanjian itu memang ada aturan bahwa segala biaya dalam relokasi dan pembangunan merupakan tanggung jawab pihak ke dua. Namun PD Pasar juga mempunyai kewenangan dan mempunyai
56
kewajiban untuk membiayai itu tetapi mayoritas sumber dana dari piha kedua”. (Wawancara SB, Tanggal 23 Juni 2020).
Hasil wawancara diatas menunjukkan bahwa sumber daya terkait pengembangan dan pengeloaan relokasi PKL bersumber dari pihak kedua dan PD Pasar, namun mayoritas sumber dana berasal dari pihak kedua.
Hasil dari relokasi memenuculkan dua tempat untuk untuk para pedagang menjual dagangannya yaitu di New Makassar Mall (Blok A) dan Blok B untuk itu peneliti mencari informasi mengenai perbedaan tarif retribusinya. Hasil wawancara dengan AM selaku Kasubag Penagihan PD Pasar Raya yang mengatakan bahwa:
“Untuk tarif retribusi yang di Blok A dan Blok B berbeda. Untuk Blok A tarif retribusinya dan biaya kios pengelola yang menentukannya. Untuk
“Untuk tarif retribusi yang di Blok A dan Blok B berbeda. Untuk Blok A tarif retribusinya dan biaya kios pengelola yang menentukannya. Untuk