TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perbankan Syariah
2.4 Konsep Efisiensi
Konsep efisiensi berasal dari konsep mikro ekonomi. yaitu teori konsumen dan teori produsen. Sudut pandang teori konsumen mencoba untuk memaksimalkan kegunaan atau kepuasan individu. sedangkan sudut pandang teori produsen mencoba untuk memaksimalkan profit atau meminimalkan biaya. Ascarya dan
Diana Yumanita (dalam Vini Sapta Dini Eka Putri Noor, 2013 : 31).
Efisiensi juga dapat didefinisikan sebagai perbandingan antara keluaran (output) dan masukan (input). atau jumlah yang dihasilkan dari satu input yang dipergunakan. Suatu perusahaan dapat dikatakan efisiensi apabila mempergunakan jumlah unit yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan jumlah unit input yang dipergunakan perusahaan lain untuk menghasilkan jumlah output yang lebih besar. Permono dan Darmawan dikutip Priyonggo (dalam Vini Sapta Dini Eka Putri Noor ,2013 : 31). 2.5 Konsep Pengukuran Efisiensi
Penghitungan efisiensi teknis sebelumnya telah dilakukan oleh Farell (1957) berdasarkan paper dari Tim Coelli (1996) yang menggambarkan sebuah ukuran sederhana mengenai efisiensi perusahaan dengan cara menghitung berbagai macam input yang digunakan untuk produksinya.
Farell mengusulkan efisiensi dari dua komponen yaitu:
technical efficiency yang menggambarkan kemampuan perusahaan
untuk menghasilkan output maksimum dari serangkaian input yang telah ditentukan. dan allocative efficiency yang menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menggunakan berbagai macam input dalam proporsi yang optimal. di mana masing-masing inputnya sudah ditentukan tingkat harga dan teknologi
produksinya. Kedua komponen efisiensi tersebut dikombinasikan lalu menghasilkan total economic efficiency.
Pemikiran awal mengenai pengukuran efisiensi dari Farell di mana analisisnya berkenaan dengan ruang input. yang berfokus pada upaya pengurangan input (an input-reducing focus). Metode ini disebut dengan pengukuran berorientasi input (input-oriented
measures).
Muharam dan Pusvitasari (dalam Arief Setiawan, 2013 : 23) menjelaskan bahwa secara keseluruhan efisiensi perbankan dapat didekomposisikan dalam efisiensi skala (scale efficiency). efisiensi cakupan (scope efficiency). efisiensi teknik (technical efficiency). dan efisiensi alokasi (allocative efficiency). Bank dikatakan mencapai efisiensi dalam skala ketika bank bersangkutan mampu beroperasi dalam skala hasil yang konstan (constant return to
scale). sedangkan efisiensi cakupan tercapai ketika bank mampu
beroperasi pada diversifikasi lokasi. Efisiensi alokasi tercapai ketika bank mampu menentukan berbagai output yang memaksimumkan keuntungan. sedangkan efisiensi teknik pada dasarnya menyatakan hubungan antara input dengan output dalam suatu proses produksi. Suatu proses produksi dikatakan efisien apabila pada penggunaan input sejumlah tertentu dapat dihasilkan output yang maksimum atau untuk menghasilkan output sejumlah tertentu digunakan input yang paling minimal.
2.6 Pengukuran Efisiensi
Menurut Muharam dan Pusvitasari (dalam Arief Setiawan, 2013: 24) ada tiga jenis pendekatan pengukuran efisiensi khususnya perbankan. yaitu:
1. Pendekatan Rasio
Pendekatan rasio dalam mengukur efisiensi dilakukan dengan cara menghitung perbandingan output dan input yang digunakan. Pendekatan ini akan dapat dinilai memiliki efisiensi yang tinggi apabila dapat menghasilkan output yang semaksimal mungkin dengan input yang seminimal mungkin.
Efficiency = Output / Input ... (2.9) Pendekatan rasio ini memiliki kelemahan apabila terdapat banyak input dan banyak output yang akan dihitung. karena jika diperhitungkan serempak maka akan menghasilkan banyak hasil perhitungan sehingga menghasilkan asumsi yang tidak tegas. Silkman dikutip oleh Ario dikutip Muharam dan Pusvitasari (dalam Arief Setiawan 2013: 25)
2. Pendekatan Regresi
Pendekatan ini dalam mengukur efisiensi menggunakan sebuah model dari tingkat output tertentu sebagai fungsi dari berbagai tingkat input tertentu. Fungsi regresi adalah sebagai berikut:
Y=f (X1. X2. X3. X4...Xn)... (2.10) Dimana:
Y = Output X = Input
Pendekatan regresi akan menghasilkan estimasi hubungan yang dapat digunakan untuk memproduksi tingkat output yang dihasilkan sebuah Unit Kegiatan Ekonomi (UKE) pada tingkat input tertentu. UKE dapat dikatakan efisien apabila menghasilkan output lebih banyak dari pada output hasil estimasi.
3. Pendekatan Frontier
Menurut Silkman dikutip Muharam dan Pusvitasari (dalam Arief Setiawan, 2013 : 26). pendekatan frontier dalam mengukur efisiensi dibedakan menjadi dua jenis yaitu pendekatan frontier parametrik dan non parametrik. Tes parametrik adalah tes yang modelnya menetapkan adanya syarat-syarat tertentu tentang parameter populasi yang merupakan sumber penelitiannya. sedangkan tes statistik non parametrik adalah tes yang modelnya tidak menetapkan syarat-syarat mengenai parameter populasi yang merupakan induk sampel penelitiannya. Pendekatan frontier
parametrik dapat diukur dengan menggunakan metode Stochastic Frontier
Analysis (SFA) dan Distribution Free Analysis (DFA). Sedangkan
pendekatan frontier non parametrik dapat diukur dengan dengan menggunakan metode Data Envelopment Analysis (DEA).
2.7 Hubungan Input dan Output dalam Pengukuran Efisiensi Menurut Hadad et al (dalam Sufian, 2006 : 38). terdapat 3 pendekatan yang lazim digunakan baik dalam metode parametrik
Stochastic Frontier Analysis (SFA) dan Distribution Free Analysis (DFA)
mendefinisikan hubungan input dan output dalam kegiatan finansial suatu lembaga keuangan yaitu :
1. Pendekatan Aset ( The asset Approach)
Pendekatan aset mencerminkan fungsi primer sebuah lembaga keuangan sebagai pencipta kredit pinjaman (loans). Dalam pendekatan ini. output didefinisikan ke dalam bentuk aset.
2. Pendekatan Produksi (The Production Approach)
Pendekatan ini menganggap lembaga keuangan sebagai produsen dari akun deposito (deposit account) dan kredit pinjaman (credit accounts) lalu mendefinisikan output sebagai jumlah tenaga kerja. pengeluaran modal pada aset-aset tetap dan material lainya.
3. Pendekatan Intermediasi (The Intermediation Approach)
Pendekatan ini mengasumsikan bahwa lembaga keuangan bertindak sebagai perantara antara penabung dan peminjam dan menjadikan total kredit dan sekuritas sebagai output. Sedangkan deposito dengan tenaga kerja dan modal fisik didefinisikan sebagai input.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan intermediasi. Menurut Berger dan Humphrey, dikutip Muharam dan Pusvitasari (dalam Arief Setiawan 2013 : 27) menyatakan bahwa pendekatan intermediasi merupakan pendekatan yang lebih tepat untuk mengevaluasi kinerja lembaga keuangan secara umum karena karakteristik lembaga keuangan sebagai financial intermediation yang menghimpun dana dari surplus unit dan menyalurkan kepada deficit unit. Dengan
menggunakan pendekatan intermediasi ini juga diharapkan dapat menggambarkan fungsi perbankan yang sesungguhnya.
2.8 Penelitian Terdahulu
Berikut ini adalah penelitian mengenai efisiensi bank yang telah banyak dilakukan pada bank-bank asing maupun bank-bank swasta nasional baik domestik maupun luar negeri:
1. Rakhmat Purwanto (2011)
Penelitian ini berjudul Analisis Perbandingan Efisiensi Bank Umum Konvensional (BUK) dan Bank Umum Syariah (BUS) Dengan Metode Data Envelopment Analysis (DEA) (Periode 2006-2010) . Penelitian ini menggunakan total kredit/ pembiayaan dan laba operasional sebagai ouput serta total simpanan. asset. dan biaya tenaga kerja sebagai input.
Hasil analisis menggunakan metode DEA menunjukan bahwa selama periode 2006-2010 BUK dan BUS cenderung mengalami peningkatan efisiensi walaupun berfluktuatif dengan rata-rata efisiensi 83.29 persen untuk BUK dan 89.3 persen untuk BUS. Hal ini menunjukan bahwa BUS sedikit lebih baik dari pada BUK di Indonesia dalam hal efisiensinya. Pada pengujian hipotesis uji beda menggunakan independent
sample t-test menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan nilai efisiensi
2. Rezqi Syahri Rakhmadi (2010)
Penelitian ini berjudul Analisis Efisiensi dan Produktivitas Bank Syariah di Indonesia dengan menggunakan metode Data Envelopment
Analysis (DEA) periode 2007-2009. Variabel yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu laba rugi dan neraca sebagai variabel input dan ouput. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa Perbankan Syariah di Indonesia mengalami peningkatan produktivitas. dimana peningkatan produktivitas tersebut disebabkan oleh faktor tekhnologi. Selain itu penelitian ini juga menemukan adanya korelasi negative antara aset dengan efisiensi dimana semakin besar aset maka mengakibatkan berkurangnya efisiensi. Serta juga ditemukan adanya korelasi positif antara input dengan ouput dimana semakin bertambah input juga akan meningkatkan ouput.
3. Shafitranata (2011)
Penelitian yang ia lakukan berjudul Tingkat Efisiensi Bank Umum Syariah (BUS) menggunakan metode Data Envelopment Analysis (DEA). Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu biaya operasional. biaya tenaga kerja. dan jasa bank sebagai variable input dan total simpanan dan deposito sebagai variabel ouput.
Hasil penelitian diketahui bahwa rata-rata tingkat efisiensi tahunan Bank Muamalat Indonesia. Bank Syariah Mandiri. dan Bank Mega Syariah sudah mencapai ketetapan efisiensi suatu bank kecuali Bank Mega
Syariah yang memiliki rata-rata tahunan kurang dari tetapan suatu efisiensi.
4. Vini Sapta Eka Dini Putri Noor (2013)
Penelitian ini berjudul Analisis Perbandingan Efisiensi Bank Syariah dan Bank Konvensional dengan menggunakan metode Data Envelopment Analysis (DEA). Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu jumlah simpanan. jumlah aktiva tetap. dan jumlah beban operasional lainnya sebagai input. Sedangkan variabel ouputnya adalah jumlah pembiayaan/kredit.
Hasilnya menunjukkan bahwa pada periode 2008-2011. perhitungan efisiensi menggunakan asumsi Variable Return to Scale
(VRS) memberikan hasil perhitungan efisiensi secara rata-rata pada BUS sebesar 84.73. Sedangkan pada BUK sebesar 75.55 sehingga dapat disimpulkan kinerja efisiensi Bank Syariah lebih baik daripada Bank Konvensional.
5. Arief Setiawan (2013)
Penelitian ini berjudul Analisis Perbandingan Efisiensi Bank Konvensional dan Bank Syariah dengan menggunakan metode Data
Envelopment Analysis (DEA). Variabel yang digunakan dalam penelitian
ini adalah simpanan. aset. dan biaya tenaga kerja sebagai variabel input. Sedangkan variabel ouputnya adalah pembiayaan dan pendapatan.
Hasil penelitian ini adalah bahwa Rata-rata pencapaian efisiensi baik bank konvensional maupun bank syariah mengalami fluktuasi selama
periode 2008-2012 dengan rata-rata efisiensi bank konvensional sebesar 88,74 persen dan bank syariah sebesar 92,56 persen.
Pengukuran Efisiensi dengan metode Data Envelopment Analysis (DEA) dengan pendekatan intermediasi
Tingkat Efisiensi BPR Konvensional Tahun 2011 - 2013 Tingkat Efisiensi BPRS Tahun 2011 - 2013 2.9 Kerangka Konseptual Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran Teoritis Aset
Dana Pihak Ketiga
Pembiayaan atau Kredit
Pendapatan Data Keuangan BPR Syariah dan BPR Konvensional
Tahun 2011 - 2013
Laporan Tahunan Bank Indonesia
Statistik Perbankan Syariah dan Statistik Perbankan Indonesia