• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Emotional Spiritual Qoutient (ESQ) Muhammad Ustman Najati berdasarkan Al- Hadīst an-Nabawiy wa ‘Ilm an-Nafs

PAPARAN DATA DAN HASIL PENELITIAN

B. Konsep Emotional Spiritual Qoutient (ESQ) Ari Ginanjar Agustian dan Muhammad Utsman Najati Tentang Kecerdasan Emosional Dalam Al- Hadīs

2. Konsep Emotional Spiritual Qoutient (ESQ) Muhammad Ustman Najati berdasarkan Al- Hadīst an-Nabawiy wa ‘Ilm an-Nafs

Ada beberapa tingkat kecerdasan yang dimiliki oleh setiap individu. Kecerdasan merupakan kemampuan rasio secara umum. Kecerdasan mengandung beberapa kemampuan lebih spesifik , seperti kemampuan memahami, kemampuan berfikir dan kemampuan untuk belajar, namun ada juga sebagian psikolog yang mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan belajar. Abu Musa meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:183

“Sesungguhnya perumpamaan hidayah dan ilmu yang di berikan Allah kepadaku seperti hujan yang membsahi permukaan bumi, diantaranya ada tanah yang subur. Tanah itu mau menyerap air sehingga bisa menumbuhkan banyak tumbuhan dan rumput. Diantara permukaan bumi ada yang gersang namun masih bisa menyimpan cadangan air. Maka allah memberikan manfaaatkepada manusia melalui tanah tersebut. Orang-orang bisa minum, dan bisa mengairi dan mengembala. Ada juga hujan yang membashi tanah jenis lainnya, yaitu tanah tandus yang sama sekali tidak bisa menyimpan air dan tidak pula mampu menumbuhkan tanaman” (HR Bukhori dan Muslim) Rosulullah SAW telah mengklasifikasikan manusia berdasarkan temperamen kecerdasan emosionalnya menjadi tiga:

a. Seorang yang tingkat kecerdasannya seperti tanah subur, ia menyerap ilmu, menghafal dan mengajarkannya kepada orang lain sehingga bermanfaat untuk dirinya dan orang lain.

183Muhammad Utsman Najati, The Ultimate Psychology, Psikologi Sempurna ala Nabi, (Bandung Pustaka Hidaayah, 2008), hlm. 304.

141

b. Seorang yang tingkat kecerdasannya seperti tanah gersang yang bisa menyimpan cadangan air. Ia mampu memahami ilmu dan bisa mengajarkannya. Hanya saja ilmu tersebut tidak bermanfaat untuk didirnya sendiri .

c. Seorang yang tingkat kecerdasanya seperti tanah tandus yang sama sekali tidak bisa menyerap air. Ia tidak bisa memahami ilmu dan juga tidak bisa mengajarkannya kepada orang lain.

Emotional Spiritual Qoutient (ESQ) menurut Najati adalah kesehatan mental, seorang yang memiliki kecerdasan emosional maupun kecerdasan spiritual adalah mereka yang sehat mentalnya. Najat mendefinisakan kesehatan mental sebagai kematangan seorang pada tingkat emosional, spiritual dan sosial untuk melakukan upaya adaptasi dengan dirinya, Tuhan, dan alam sekitar, serta kemampuan untuk mengemban tanggung jawab kehidupan dan menghadapi segala problematikannya.184

Penelitian ini lebih memfokuskan pada bab kedua yaitu Emosi dalam tinjauan Hadis ( دلابعفًلاا ٔف شيدحلا ). Penulis memandang bab kedua inilah yang menggambarkan pemikiran Najati tentang kecerdasan emosional spiaritual. Inti pembahasan bab dua terdiri dua pokok bahasan yaitu macam-macam emosi dan cara mengendalikannya sehingga melahirkan suatu kecerdasan emosional manusia juga kecerdasan emosional berdimensi spiritual.

184Muhammad Utsman Najati, The Ultimate Psychology, Psikologi Sempurna ala Nabi, (Bandung Pustaka Hidaayah, 2008), hlm. 322.

142

Mengenai Kitab Al- Hadīs an-Nabawiy wa „Ilm an-Nafs sebagaimana yang dikemukakan Najati dilatar belakangi oleh obsesi Najati untuk dapat membangun paradigma psikologi yang bermuara dan berkarakteristik nilai-nilai Islam atau disebut dengan psikologi Islam.185 Psikologi selama ini menurut Najati berkiblat dari hasil-hasil riset yang dilakukan pada masyarakat Barat non Islam yang notabene memiliki konsep tentang manusia yang khas, filsafat hidup yang berbeda serta memiliki budaya dan nilai-nilai tradisi yang khas pula. Tak diragukan lagi bahwa faktor-faktor tersebut berpengaruh besar dalam mengarahkan kajiankajian kejiwaan.186 Budaya Barat kontemporer yang mengagungkan kesuksesan kerja, semangat berkompetisi, prestasi dan sukses sedemikian mendominasi definisi kesehatan jiwa sebagai yang sukses, memiliki ambisi kuat dan berkompetisi tiada henti.

Najati berusaha meninjau ulang konsep-konsep psikologi modern dan membandingkan dengan konsep Islam, sehingga dapat memilah bagian-bagian yang bertentangan dan sesuai dengan agama Islam. Paradigma inilah yang mendorong Najati untuk mencoba menggambarkan misteri kecerdasan manusia dengan kerangka sunnah Nabi. Karena Islam lebih dari sekedar teks. Islam juga merupakan sebuah peradaban yang tertoreh dalam tinta emas sejarah manusia.

185

Psikologi Islam adalah corak psikologi yang berdasarkan citra manusia menurut ajaran Islam yang mempelajari keunikan dan pola perilaku manusia sebagai ungkapan pengalaman interaksi dengan diri sendiri, lingkungan sekitar dan alam keruhanian, dengan tujuan meningkatkan kesehatan mental dan kualitas keberagamaan. Lihat selengkapnya dalam Hana Djumhana Bastaman, Integrasi Psikologi dengan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm. 10.

186

Muhammad Utsman Najati, Belajar EQ dan SQ dari Sunnah Nabi, Terj. Irfan Salim, (Jakarta: Hikmah, 2005), hlm. xii.

143

Muhammad saw merupakan contoh riil kepribadian yang terbaik dan pada diri beliaulah al-Qur'an hidup akan tercermin dalam kehidupan pun kesehariannya. Islam tidak mengenal dikotomi antara jasmani dan ruhani melainkan keduanya memiliki ikatan fungsional dalam membangun tatanan kehidupan sosial yang dipandu oleh nilai-nilai spiritual.187 Hidup manusia bukanlah rasionalitas belaka akan tetapi emosi juga adalah bagian dari fitrah insaniyah yang tidak bisa dihindari keberadaannya. Mengembangkan antara ruh, nafsu dan rasionalitas sebenarnya agenda yang masih lebar untuk dikaji psikolog. Justru dengan hadirnya Kitab Al- Hadīs an-Nabawiy wa „Ilm an-Nafs, antara rasio, emosi dan spiritualitas akan dijembatani semuanya melalui penjelasan sunnah Nabi. Inilah salah satu keistimewaan dari Kitab Al-Hadīs an-Nabawiy wa „Ilm an-Nafs karya Najati.

Kitab Al- Hadīs an-Nabawiy wa „Ilm an-Nafs bercorak psikosufistik dengan menggunakan pendekatan idealistik. Keunggulan pendekatan ini idealistik adalah selain mampu memproyeksikan bentuknya secara se-Islam mungkin. Pendekatan ini dibangun atas pemikiran yang optimistik karena digali dari sumber khazanah Islam sendiri khususnya sunnah Nabi. Pemikiran optimistik sarat akan nilai karena ketika membicarakan psikologis manusia tidak hanya membicarakan apa adanya melainkan juga bagaimana seharusnya. Sehingga pola pemikiran ini bersifat integrasi antara teologi dan etika.

187

Pendekatan idealistik yaitu pendekatan yang lebih mengutamakan penggalian psikologi Islam dari ajaran Islam sendiri. Lihat Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, Nuansanuansa Psikologi Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), hlm. 20.

144

Secara umum Kitab Al- Hadīst an-Nabawiy wa „Ilm an-Nafs memuat 10 bab, terdapat dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4.2 Susunan umum kitab Al- Hadīst an-Nabawiy wa ‘Ilm an-Nafs

Bab Pembahasan

I

ىوبنلاثيدلحافىلولسلاعفاود

Motif-Motif perilaku dalam tinjauan Hadist