• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KERANGKA KONSEP

2.2 Kerangka Konsep

2.2.3 Framing

2.2.3.1 Konsep Framing

Gagasan framing pertama kali dicetuskan oleh Beterson pada tahun 1955

(Sudibyo, 1999: 23). Pada awalnya, frame digunakan sebagai struktur kontekstual

yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan, wacana, dan menyediakan

kategori standar untuk mengapresiasi sebuah realitas. Konsep ini kemudian

dikembangkan oleh Goffman yang beranggapan bahwa frame sebagai

kepingan-kepingan perilaku (strips of behavior) yang membimbing individu dalam

membaca realitas (Sudibyo, 1999: 24).

Konsep framing dipakai untuk menggambarkan proses penyeleksian

aspek-aspek tertentu sebuah realita oleh media. Dalam perspektif komunikasi,

analisis framing digunakan untuk mengetahui ideologi media ketika

mengonstruksikan fakta/realitas. Cara kerja konsep framing adalah dengan

melakukan seleksi dan menonjolkan fakta tertentu dari suatu realitas sehingga

bagian yang terekspos tersebut lebih diingat dan mengiring interpretasi khalayak

sesuai perspektifnya. Singkatnya, framing adalah cara pandang/perspektif

wartawan dalam menyeleksi isu dan menulis berita. Cara pandang tersebut pada

akhirnya menentukan fakta yang diambil, bagian mana yang ditonjolkan dan

dihilangkan, serta ke mana arah berita tersebut (Nugroho, Eriyanto, Surdiasis,

1999:21).

Penonjolan bagian tertentu diartikan sebagai upaya membuat sebuah

informasi menjadi lebih diperhatikan, bermakna, dan berkesan. Penonjolan

memperbesar kemungkinan penerima akan lebih memahami informasi, melihat

makna lebih tajam, lalu memproses dan menyimpannya dalam ingatan. Bagian

informasi dari teks dapat dibuat lebih menonjol dengan cara penempatannya,

pengulangan, mengasosiasikan dengan simbol-simbol budaya yang sudah dikenal.

Ada pun proses penonjolan aspek tertentu sangat berkaitan dengan kategori dan

stereotip (kumpulan ide dalam mental) yang memberi pedoman seseorang untuk

memproses informasi (Siahaan, et al., 2001: 78-79).

Menurut Erving Goffman (Siahaan, et al., 2001: 76-77), konsep framing

melestarikan kebiasaan kita yang secara aktif mengklasifikasi, mengorganisasi,

dan menginterpretasikan pengalaman-pengalaman hidup sehingga dapat

memahaminya. Proses interpretasi itu disebut sebagai frames, yang

memungkinkan individu melokalisasi, mengidentifikasi, dan memberi label pada

setiap peristiwa maupun informasi.

Ada pun Gitlin, mendefinisikan frame sebagai sebuah seleksi, penegasan,

dan eksklusi yang ketat. Menurutnya, frames memungkinkan para jurnalis

memproses informasi secara cepat dan rutin, kemudian mengemasnya untuk

disiarkan pada khalayak. Ahli framing berikutnya, Entman, melihat framing

dalam dua dimensi besar: seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek

tertentu dari realitas (Triputra, 2000: 412). Persepektif wartawan lah yang akan

menentukan fakta apa saja yang akan dipilih, ditonjolkan, dan dibuang. Dan

perspektif tersebut sangat ditentukan oleh nilai serta ideologi yang dianut oleh

wartawan. Dalam analisisnya, Entman memiliki empat elemen untuk menganalisis

berita. Elemen pertama adalah define problems, yakni bagaimana wartawan

melihat isu atau peristiwa. Elemen kedua adalah diagnose cause yang didgunakan

untuk membingkai siapa atau apa penyebab dari suatu peristiwa. Selanjutnya,

make moral judgement digunakan untuk memberikan argumentasi pada definisi

masalah yang telah dibuat. Sedangkan elemen terakhir, treatment

recommendation digunakan untuk menilai apa yang dikehendaki wartawan untuk

menyelesaikan masalah (Eriyanto, 2002:189-192).

Penonjolan aspek tertentu atas realitas membuat realitas tersebut menjadi

lebih bermakna. Realitas yang disajikan dalam porsi yang lebih besar/ditonjolkan

memiliki peluang lebih besar untuk diperhatikan dan mempengaruhi khalayak

dalam memahami realitas. Framing dilakukan dengan cara menyeleksi sebuah isu

dan mengabaikan isu lain, serta menonjolkan aspek isu tersebut dengan

menggunakan berbagai strategi wacana, seperti penempatan yang mencolok

(menempatkan di headline, halaman depan, atau bagian belakang), pengulangan,

pemakaian grafis untuk mendukung dan memperkuat penonjolan, maupun

penggunaan label tertentu ketika menggambarkan orang atau peristiwa yang

diberitakan. Setiap peristiwa yang dianggap menarik minat pembaca, selalu

ditempatkan pada bagian headline atau di halaman muka. Sebab berita yang

menjadi headline atau berita-berita yang ada di halaman depan lah yang memicu

orang untuk membaca atau membeli surat kabar (Rivers and Matthews, 1994: 43).

Membuat “bingkai” atau frame, adalah dengan menyeleksi beberapa aspek

dari suatu pemahaman atas realitas, dan membuatnya lebih menonjol di dalam

suatu tekas yang dikomunikasikan sedemikian rupa sehingga mempromosikan

sebuah definisi permasalahan yang khusus, interpretasi kasual, evaluasi moral,

dan merekomendsaikan penanganannya (Siahaan, 2001: 80-81).

Sedangkan Gamson dan Modigliani menyebut sebagai framing sebagai

sebuah kemasan yang mengandung konstruksi makna atas peristiwa yang akan

diberitakan. Keduanya melihat frame adalah cara bercerita atau gugusan ide-ide

yang terorganisir sedemikian rupa dan menghadirkan konstruksi makna dan

peristiwa yang berkaitan dengan objek suatu wacana (Nugroho, Eriyanto,

Surdiasis, 1999: 21). Ada dua perangkat yang digunakan dalam framing Gamson

dan Modigliani, yaitu framing device (perangkat framing) dan reasoning device

(perangkat penalaran). Framing device berhubungan dengan bingkai yang

ditekankan dalam teks berita, yang ditandai dengan pemakaian kata, kalimat,

grafik/gambar maupun metafora tertentu. Sedangkan reasoning device

berhubungan dengan kohesi dan koherensi dari teks berita yang merujuk pada

gagasan tertentu (Eriyanto, 2002: 227).

Adapun framing menurut Zhongdan Pan dan Gerald M. Kosicki

menggunakan empat dimensi struktural teks berita sebagai perangkat framing,

yakni sintaksis, skrip, tematik, dan retoris. Model framing ini mengasumsikan

bahwa setiap berita mempunyai frame yang berfungsi sebagai pusat organisasi

ide, bagaimana seseorang memaknai suatu peristiwa dapat dilihat dari perangkat

tanda yang dimunculkan dalam teks (Sobur, 2009: 175). Struktur sintaksis

berhubungan dengan bagaimana wartawan menyusun peristiwa yang dapat

diamati melalui pilihan headline, lead, sumber yang dikutip serta latar informasi

yang dijadikan sandaran. Struktur skrip berhubungan dengan bagaimana strategi

bercerita yang digunakan wartawan dalam mengemas peristiwa. Struktur tematik

berhubungan dengan cara wartawan mengungkapkan pandangannya terhadap

peristiwa ke dalam proposisi dan kalimat yang membentuk teks secara

keseluruhan. Sedangkan struktur retoris berhubungan dengan pemilihan kata,

idiom, grafik, serta gambar yang digunakan untuk memberi penekanan tertentu

dalam berita (Sobur, 2009: 176).

Meskipun masing-masing ahli memiliki definisi berbeda dalam penekanan

dan pengertian, tetap saja ada titik singgung utama dari definisi framing tersebut.

Framing adalah pendekatan untuk melihat bagaimana realitas dibentuk dan

dikonstruksi oleh media.

Hasil akhir dari proses pembentukan dan konstruksi realitas itu, yakni

adanya bagian tertentu yang lebih menonjol dan dikenal dari sebuah realitas.

Dampaknya, hanya aspek tertentu yang ditonjolkan media lah yang mudah

dikenali masyarakat, sedangkan aspek yang tidak disajikan menonjol, atau bahkan

tidak diberitakan, menjadi terlupa dan tidak diperhatikan audiens.

Framing merupakan sebuah cara bagaimana peristiwa disajikan oleh

media. Framing menentukan bagaimana realitas hadir di hadapan khalayak. Apa

yang kita ketahui dari sebuah realitas pada dasarnya bergantung pada bagaimana

kita mem-framing-kan peristiwa tersebut. Framing dapat mengakibatkan satu

persitiwa yang sama dapat menghasilkan berita yang berbeda sesuai dengan

perspektif masing-masing individu (dalam hal ini wartawan). Satu realitas yang

sama dapat secara radikal berbeda jika wartawan mempunyai frame yang berbeda

dalam melihat realitas tersebut dan menuliskan pandangannya dalam berita.

Salah satu prinsip framing, yakni wartawan harus dapat menerapkan

standar kebenaran, objektif, serta batasan tertentu dalam mengolah dan

menyuguhkan berita. Sebab dalam mengkonstruksi realitas, wartawan atau awak

media cenderung melibatkan pengalaman serta pengetahuannya.

Dalam kaitannya dengan proses produksi berita, framing menentukan

bagaimana sebuah peristiwa dilihat, diliput, dan dibuat, dan dilaporkan wartawan

yang dituangkan dalam bentuk teks/artikel berita.

Dokumen terkait