• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.7. Landasan Teoritis

1.7.4. Konsep Hak Asasi Manusia

Penjabaran konsep-konsep tentang hak asasi manusia di Barat, konsep sosialis dan konsep Dunia Ketiga memberikan gambaran tentang pengakuan dan perlindungan hak-hak asasi manusia di masa lalu hingga sekarang ini.

1. Konsep hak asasi manusia di Barat

Konsep-konsep tentang pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia pada dasarnya diarahkan pada pembatasan-pembatasan dan peletakan kewajiban pada masyarakat dan Pemerintah. Pemikiran dan perjuangan menegakkan pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia dimulai sejak abad XVII dan berlanjut hingga saat ini, konsep hak asasi pada abad XX ini merupakan sintesis dari tesis abad XVIII dan antithesis abad XIX. Tesis abad XVIII bahwa hak-hak asasi manusia tidaklah ditasbihkan secara ilahi (divinely ordained), juga tidak dipahami secara ilahi (divinely conceived); hak-hak itu adalah pemberian Allah sebagai konsekuensi dari manusia adalah ciptaan

34 Penjelasan dalam Lampiran I Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.

27

Allah. Hak-hak itu sifatnya kodrati (natural) dalam arti: pertama, kodratlah yang menciptakan dan mengilhami akal budi dan pendapat manusia; kedua, bahwa setiap orang dilahirkan dengan hak-hak tersebut,35 dan ketiga, hak-hak itu dimiliki manusia dalam keadaan alamiah (state of nature) dan kemudian dibawanya dalam hidup bermasyarakat. Sebelum adanya Pemerintah, individu itu otonom dan berdaulat, oleh karenanya tetap berdaulat di bawah setiap Pemerintah karena kedaulatan tidak dapat dipindahkan (inalienable) dan adanya Pemerintah hanya atas persetujuaan dari yang diperintah.

Antitesis abad XIX yaitu pertama, masuknya dukungan etik dan utilitarian, dan kedua, pengaruh sosialisme yang lebih mengutamakan masyarakat atau kelompok daripada individu, bahwa keselamatan individu hanya dimungkinkan dalam keselamatan kelompok atau masyarakat.

Sintesis abad XX adalah pertama, abad ini menjembatani hukum kodrat dan hukum positif, yaitu dengan menjadikan hak-hak kodrat sebagai hak-hak hukum positif (positive legal rights); kedua, mengawinkan penekanan pada individu (yang sifatnya otonom dan memiliki kebebasan) dengan penekanan (sosialisme) pada kelompok serta penekanan kesejahteraan sosial dan ekonomi untuk semua, mengawinkan pandangan terhadap Pemerintah sebagai ancaman bagi kebebasan dengan pandangan terhadap Pemerintah sebagai alat yang dibutuhkan untuk memajukan kesejahteraan bersama. Salah satu aspek daripada sintesis ini ialah pandangan tentang hak atas kebebasan dan persamaan, maksudnya bahwa jika abad XVIII lebih mengedepankan hak atas kebebasan, dan

35

28

abad XIX lebih mengedepankan hak atas persamaan sehingga hak atas persamaan berada di atas hak atas kebebasan, maka abad XX menerima kedua hak tersebut (hak atas kebebasan dan persamaan) sebagai hak dasar (basic rights).36

Pada abad XVIII, hak-hak kodrat dirasionalkan melalui konsep-konsep kontrak sosial, dan membuat hak-hak tersebut menjadi: sekular, rasional, universal, individual, demokratik, dan radikal. Hak yang sangat ditonjolkan pada abad ini adalah kebebasan sipil (civil liberties) dan hak untuk memiliki (rights to have). Menonjolnya kedua hak tersebut merupakan rentetan logis dari hak yang sudah diperoleh sebelumnya dalam abad XVII. Pikiran-pikiran abad inilah yang mewarnai revolusi Amerika dan Perancis. Pemikir-pemikir terkenal abad ini, antara lain John Locke, Montesquieu dan J.J. Rousseau.

John Locke (1632 – 1704) banyak mengemukakan pandangannya tentang sosial dan politik. Pemikiran sosial dan politiknya dipengaruhi oleh rasionalisme Descartes. Menurut John Locke, negara bukan pemberian Tuhan tetapi negara adalah produk dari kehendak manusia. Sebagai negarawan, John Locke adalah pelopor dari apa yang disebut “liberalisme” dan “demokrasi”.37

Pada abad XX ditandai dengan usaha untuk mengkonversikan hak-hak individu yang sifatnya kodrati menjadi hak-hak hukum (from natural human rights into positive legal rights). Salah satu usaha terbesar abad ini dalam sejarah umat manusia adalah merumuskan standar universal tentang hak-hak asasi

36 Philipus M. Hadjon I, op.cit., h. 37. 37

29

manusia dalam deklarasi yang terkenal The Universal Declaration of Human

Rights.38

2. Konsep sosialis tentang hak asasi manusia

Konsep sosialis tentang hak-hak asasi manusia bersumber pada ajaran Karl Marx dan Fredrieck Engels. Sosialisme Karl Marx dan Engels berbeda dengan pikiran-pikiran sosialis di Eropah Barat seperti dinyatakan oleh Karl Marx:

Wir deutsche Sozialisten sind stolz darauf, abzustammen nicht nur von Saint – Simon, Fourier und Owen, sondern auch von Kant, Fichte und Hegel. Die deutsche Arbeiter – bewegung istdie Erbinder deutsche klassichen Philosophie. (Kami Sosialis Jerman bangga karena tidak hanya berasal dari Saint – Simon, Fourier atau Owen, melainkan juga dari Kant, Fichte dan Hegel. Gerakan buruh Jerman merupakan ahli-waris dari filsafat Jerman Klasik.)

Pikiran-pikiran sosialisme di Eropah Barat adalah pendukung terhadap kebebasan, sebaliknya sosialisme yang bersumber pada ajaran Karl Marx dan Engels menekankan masyarakat atau kelompok, sedangkan individu subordinant terhadap masyarakat dan kelompok. Konsep sosialisme Marx mendahulukan kemajuan ekonomi daripada hak-hak politik dan hak-hak sipil, mendahulukan kesejahteraan daripada kebebasan. Hal ini memberikan pemahaman bahwa konsep ini tidak menekankan hak terhadap masyarakat, melainkan menekankan kewajiban terhadap masyarakat.39

38 Philipus M. Hadjon I, op.cit., h. 40. 39

30

3. Konsep Dunia Ketiga

Menurut H. Gros Espiel, diantara kelompok dunia ketiga, terdapat tiga kelompok yaitu kelompok pertama, yang dipengaruhi oleh konsep sosialis Marxisme; kelompok kedua, yang dipengaruhi oleh konsep Barat; dan kelompok ketiga, negara-negara yang karena falsafah hidupnya, ideologi dan latar belakang sejarahnya, menerapkan suatu konsep tersendiri tentang hak asasi manusia. Dalam kaitannya dengan tiga kelompok ini, dengan berdasarkan pada latar belakang budaya dan politik, negara Indonesia kiranya termasuk kelompok ketiga dalam konsep dunia ketiga.40 Indonesia mendasarkan konsep hak-hak asasi manusia menurut Pancasila.

Dari riwayat perumusannya dan penempatan sila-silanya di dalam Pembukaan UUD 1945, Pancasila merupakan dasar negara dalam arti ideologi dan filsafat hidup. Dengan kata lain, Pancasila adalah ideologi negara atau Pancasila adalah falsafah hidup negara. Sebagai ideologi atau falsafah hidup, dengan sendirinya Pancasila menjadi pedoman tingkah laku hidup kenegaraan dan hidup bernegara.

Dalam susunan Tertib Hukum menurut Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966, Pancasila dikatakan sebagai “sumber” dari segala sumber hukum, dengan demikian Pancasila berada di atas Undang-Undang Dasar dan semua peraturan perundang-undangan. Dengan kedudukan yang demikian, Pancasila merupakan sumber inspirasi dan sumber isi untuk Undang-Undang Dasar (secara langsung) dan untuk peraturan perundang-undangan (secara tidak

40

31

langsung, artinya melalui tahapan hierarki tata susunan norma hukum). Mendasarkan pada teori Hans Kelsen dan Hans Nawiasky tentang lapisan norma hukum, Pancasila merupakan Grundnorm.41

Esensi Pancasila adalah isi pokok dari Pancasila yang merupakan rangkaian lima sila yang tersusun secara sistematis logis yang isinya adalah ide dasar negara Republik Indonesia yang akan menjawab berbagai pertanyaan filosofis. Rangkaian lima sila itu akan menjawab berbagai pertanyaan seperti: apa tujuan negara, bagaimana bentuk negaranya, bagaimana sistem pemerintahannya, seberapa jauh partisipasi warganya dalam pengambilan keputusan.42

Dokumen terkait