BAB II KAJIAN TEORI
A. Kajian Teori
3. Konsep Hubungan Interpersonal
a. Pengertian Hubungan Interpersonal
Menurut Miller & Steinberg (1975) dalam Budyatna & Ganiem (2012, hlm. 44), hubungan antarpribadi (interpersonal) adalah hubungan komunikasi timbal balik berdasarkan data psikologis. Pengembangan hubungan antarpribadi mengacu kepada proses di mana manusia mengadakan kontak terhadap satu sama lain dan mendasarkan prediksi tentang perilaku komunikasi satu sama lain terutama pada data psikologis.
Hubungan interpersonal yang baik akan menumbuhkan derajat keterbukaan orang untuk mengungkapkan dirinya. Makin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya, semakin efektif
komunikasi yang berlangsung di antara peserta komunikasi (Hidayat, 2012, hlm. 56).
Komunikasi penting dalam mengembangkan dan memelihara hubungan-hubungan antarpribadi. Hubungan antarpribadi yang sehat ditandai oleh keseimbangan pengungkapan diri atau self-disclosure
yang tepat, yaitu saling memberikan data biografis, gagasan-gagasan pribadi, dan perasaan-perasaan yang tidak diketahui orang lain, serta umpan balik berupa verbal dan respon-respon fisik kepada orang atau pesan-pesan mereka di dalam suatu hubungan (Budyatna & Ganiem, 2011, hlm. 44).
Komunikasi yang efektif ditandai dengan hubungan interpersonal yang baik. Setiap kali melakukan komunikasi, manusia tidak hanya menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonal (Rohim, 2009, hlm. 70).
b. Tahap-tahap Hubungan Interpersonal
Menurut Rakhmat (2011, hlm. 122-127), hubungan interpersonal berlangsung melewati tiga tahap, yaitu pembentukan hubungan, peneguhan hubungan, dan pemutusan hubungan.
1) Pembentukan Hubungan
Tahap ini sering disebut sebagai tahap perkenalan (aquaintance process). Menurut Steve Duck (1976), perkenalan adalah proses komunikasi di mana individu mengirimkan (secara sadar) atau menyampaikan (kadang-kadang tidak sengaja) informasi tentang struktur dan isi kepribadiannya dengan menggunakan cara- cara agak berbeda pada bermacam-macam tahap perkembangan persahabatan.
Dalam hubungan interpersonal, kesan pertama dibentuk dari petunjuk proksemik, kinesik, paralinguistik, dan artifaktual, yaitu dengan mempertahankan jarak, gerak tangan dan lirikan matanya, intonasi suara, dan pakaian yang dikenakannya. Kesan pertama amat menentukan apakah hubungan interpersonal harus diakhiri atau
16
diperteguh. Para psikolog sosial menemukan bahwa penampilan fisik, apa yang diucapkan pertama, apa yang dilakukan pertama menjadi penentu yang penting terhadap pembentukan citra pertama tentang orang itu.
2) Peneguhan Hubungan
Hubungan interpersonal tidaklah bersifat statis, tetapi selalu berubah. Untuk memelihara dan memperteguh hubungan interpersonal, perubahan memerlukan tindakan-tindakan tertentu untuk mengembalikan keseimbangan (equilibrium). Menurut Rakhmat (2011, hlm. 124-127), ada empat faktor yang amat penting dalam memelihara keseimbangan ini: keakraban, kontrol, respons yang tepat, dan nada emosional yang tepat.
Hubungan interpersonal akan terpelihara apabila kedua belah pihak sepakat tentang tingkat keakraban yang diperlukan. Faktor kedua adalah kesepakatan tentang siapa yang akan mengontrol siapa dan bilamana. Konflik terjadi umumnya bila masing-masing ingin berkuasa, atau tidak ada pihak yang mau mengalah.
Faktor ketiga adalah ketepatan respons. Dalam percakapan, misalnya, pertanyaan harus disambut dengan jawaban, lelucon dengan tertawa, permintaan keterangan dengan penjelasan. Respons ini bukan saja berkenaan dengan pesan-pesan verbal, tetapi juga pesan-pesan nonverbal. Jika pembicaraan serius dijawab dengan main-main, ungkapan bersungguh-sungguh diterima dengan air muka yang menunjukkan sikap tidak percaya, hubungan interpersonal mengalami keretakan
Faktor keempat yang memelihara hubungan interpersonal adalah keserasian suasana emosional ketika berlangsungnya komunikasi. Walaupun mungkin saja terjadi dua orang berinteraksi dengan suasana emosional yang berbeda, tetapi interaksi itu tidak
akan stabil. Besar kemungkinan salah satu pihak mengakhiri interaksi atau mengubah suasana emosi.
3) Pemutusan Hubungan
R.D. Nye (1973) dalam bukunya Conflict among Humans
menyebutkan lima sumber konflik yang dapat menyebabkan pemutusan hubungan, yaitu:
a) Kompetisi; adalah di mana salah satu pihak berusaha memperoleh sesuatu dengan mengorbankan orang lain. Misalnya, menunjukkan kelebihan dalam bidang tertentu dengan merendahkan orang lain.
b) Dominasi; adalah di mana salah satu pihak berusaha mengendalikan pihak lain sehingga orang itu merasakan hak- haknya dilanggar.
c) Kegagalan; adalah di mana masing-masing berusaha menyalahkan yang lain apabila tujuan bersama tidak tercapai. d) Provokasi; adalah di mana salah satu pihak terus menerus
berbuat sesuatu yang ia ketahui menyinggung perasaan yang lain.
e) Perbedaan nilai; adalah di mana kedua pihak tidak sepakat tentang nilai-nilai yang mereka anut.
Untuk mempertahankan hubungan dalam jangka waktu lama, diperlukan kemampuan (kompetensi) untuk menjalin hubungan interpersonal. Menurut Buhrmeister (1988) terdapat lima domain kompetensi interpersonal (Dayakisni & Hudaniah, 2009, hlm. 120), yaitu:
1) Initiative, yakni usaha untuk memulai suatu bentuk interaksi dengan orang lain atau lingkungan sosial yang lebih besar. Inisiatif selalu diarahkan baik pada penciptaan suatu hubungan antarpribadi yang baru dengan seseorang yang belum atau baru dikenal maupun
18
tindakan-tindakan yang dapat membantu mempertahankan hubungan yang telah dibina.
2) Negative Assertion, yakni kemampuan untuk mempertahankan diri dari tuduhan yang tidak benar atau tidak adil, kemampuan untuk mengatakan “tidak” terhadap permintaan yang tidak masuk akal, dan kemampuan untuk meminta pertolongan atau bantuan saat diperlukan.
3) Disclosure, yakni pengungkapan bagian dalam diri (innerself) antara lain berupa pengungkapan ide-ide, pendapat, permintaan, pengalaman dan perasaan-perasaannya kepada orang lain. Self disclosure dapat mengubah suatu perkenalan yang tidak mendalam menjadi suatu hubungan yang lebih serius.
4) Emotional Support, yakni ekspresi perasaan yang memperlihatkan adanya perhatian, simpati dan penghargaan terhadap orang lain. Emotional support juga mencakup kemampuan untuk menenangkan dan memberikan perasaan nyaman kepada orang lain yang sedang dalam kondisi tertekan dan bermasalah.
5) Conflict Management, yakni cara atau strategi untuk menyelesaikan adanya pertentangan dengan orang lain yang mungkin terjadi saat melakukan hubungan interpersonal. Konflik dapat disalurkan dan dibangun secara konstruktif sehingga meningkatkan kualitas hubungan antarpribadi. Teknik pengendalian dan kemampuan verbal individu dapat digunakan sebagai media untuk menangani konflik dan mengarahkannya menuju akhir yang konstruktif. c. Faktor-faktor yang Menumbuhkan Hubungan Interpersonal
Tidak benar anggapan orang bahwa makin sering orang melakukan komunikasi interpersonal dengan orang lain, makin baik hubungan mereka. Yang menjadi soal bukanlah berapa kali komunikasi dilakukan. Akan tetapi, bagaimana komunikasi itu dilakukan. Jika di antara dua orang yang berkomunikasi berkembang sikap curiga, makin sering mereka berkomunikasi, makin jauh jarak di antara keduanya.
Maka perlu dipahami, faktor-faktor yang dapat menumbuhkan hubungan interpersonal yang baik (Rakhmat, 2011, hlm. 127-134), yaitu:
1) Percaya (Trust)
Percaya adalah faktor yang paling penting yang mempengaruhi komunikasi interpersonal. Dengan percaya, seseorang akan lebih banyak membuka diri kepada orang yang dipercaya. Hal ini terjadi ketika seseorang yakin bahwa orang yang dipercaya tidak akan mengkhianati atau merugikannya. Sejak tahap yang pertama dalam hubungan interpersonal (tahap perkenalan), sampai pada tahap kedua (tahap peneguhan), percaya menentukan efektivitas komunikasi.
Terdapat empat faktor yang berhubungan dengan sikap percaya (Rakhmat, 2011, hlm. 129-130), yaitu:
a) Karakteristik dan maksud orang lain.
Orang akan menaruh kepercayaan kepada seorang yang dianggap memiliki kemampuan, keterampilan, atau pengalaman dalam bidang tertentu. Kita akan percaya pada guru kimia dalam urusan mereaksikan zat-zat tetapi tidak akan percaya padanya dalam urusan sastra dan sebagainya.
b) Hubungan kekuasaan
Percaya tumbuh apabila orang-orang mempunyai kekuasaan terhadap orang lain. Bila seseorang mengetahui bahwa orang lain akan tunduk dan patuh kepadanya, ia akan mempercayainya. c) Sifat dan kualitas komunikasi
Sikap percaya akan tumbuh ketika komunikasi bersifat terbuka, maksud dan tujuan jelas, dan ekspektasi sudah dinyatakan. d) Pengalaman
Sikap percaya berkembang apabila setiap komunikan lainnya berlaku jujur. Sikap ini dibentuk berdasarkan pengalaman seseorang dengan komunikan lainnya.
20
2) Sikap Suportif
Sikap suportif adalah sikap yang mengurangi sikap defensif dalam komunikasi. Dengan sikap defensif, komunikasi interpersonal akan gagal karena orang defensif akan lebih banyak melindungi diri dari ancaman yang ditanggapinya dalam situasi komunikasi ketimbang memahami pesan orang lain. Komunikasi defensif dapat terjadi karena faktor-faktor personal seperti ketakutan, kecemasan, harga diri yang rendah, pengalaman defensif, dan juga faktor situasional seperti perilaku komunikasi orang lain.
3) Sikap Terbuka
Sikap terbuka (open-mindedness) amat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan komunikasi interpersonal yang efektif. Brooks dan Emmert (1977) menjelaskan karakteristik orang yang terbuka, yaitu menilai pesan secara objektif dengan menggunakan data dan keajegan logika; membedakan dengan mudah, melihat nuansa; berorientasi pada isi; mencari informasi dari berbagai sumber; lebih bersifat provisional dan bersedia mengubah kepercayaannya; dan mencari pengertian pesan yang tidak sesuai dengan rangkaian kepercayaaannya.
4. Hubungan Interpersonal Guru dan Siswa