• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Konsep yang Digunakan

2.2.2. Konsep Kearifan Lokal

Kearifan lokal, terdiri dari dua kata yaitu kearifan (wisdom) atau kebijaksanaan dan lokal (local) atau setempat. Jadi kearifan lokal adalah gagasan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Sibarani (2014:180) menyatakan bahwa, kearifan lokal adalah kebijaksanaan dan pengetahuan asli suatu masyarakat yang berasal dari nilai luhur tradisi budaya untuk mengatur tatanan kehidupan masyarakat. Dalam hal ini kearifan lokal itu bukan hanya nilai budaya, tetapi nilai budaya dapat dimanfaatkan untuk menata kehidupan masyarakat dalam mencapai peningkatan kesejahtraan dan pembentukan kedamaian.

Menurut Balitbangsos Depsos RI, (Sibarani,2014:5) “Kearifan lokal (lokal wisdom) dapat dipahami sebagai nilai-nilai budaya, gagasan-gagasan tradisional, dan pengetahuan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, dan berbudi luhur yang dimiliki oleh anggota masyarakat dalam menata kehidupan sosial mereka”. Kearifan lokal itu diperoleh dari tradisi budaya atau tradisi lisan karena kearifan lokal merupakan kandungan tradisi lisan atau tradisi budaya yang secara turun menurun diwariskan dan dimanfaatkan menata kehidupan sosial masyarakat dalam segala bidang kehidupannya. Kearifan lokal adalah nilai budaya lokal yang dapat dimanfaatkan untuk mengatur tatanan kehidupan masyarakat secara arif dan bijaksanan. Nilai tradisi untuk menselaraskan kehidupan manusia dengan cara menghargai, memelihara dan melestarikan alam lingkungan. Hal ini dapat dilihat bahwa semakin adanya penyempurnaan arti dan saling mendukung, yang intinya adalah memahami bakat dan potensi alam tempatnya hidup; dan

diwujudkannya sebagai tradisi. Definisi kearifan lokal secara bebas dapat diartikan nilai-nilai budaya yang baik yang ada di dalam suatu masyarakat. Hal ini berarti, untuk mengetahui suatu kearifan lokal di suatu wilayah maka kita harus bisa memahami nilai-nilai budaya yang baik yang ada di dalam wilayah tersebut.Sebenarnya nilai-nilai kearifan lokal ini sudah diajarkan secara turun temurun oleh orang tua kita kepada kita selaku anak-anaknya. Budaya gotong royong, saling menghormati.

Dari definisi-definisi itu, kita dapat memahami bahwa kearifan lokal adalah pengetahuan yang dikembangkan oleh para leluhur dalam mensiasati lingkungan hidup sekitar mereka, menjadikan pengetahuan itu sebagai bagian dari budaya dan memperkenalkan serta meneruskan itu dari generasi ke generasi. Beberapa bentuk pengetahuan tradisional itu muncul lewat cerita-cerita, legenda-legenda, nyanyian-nyanyian, ritual-ritual, dan juga aturan atau hukum setempat.

Kearifan lokal menjadi penting dan bermanfaat hanya ketika masyarakat lokal yang mewarisi sistem pengetahuan itu mau menerima dan mengklaim hal itu sebagai bagian dari kehidupan mereka. Dengan cara itulah, kearifan lokal dapat disebut sebagai jiwa dari budaya lokal. Hal itu dapat dilihat dari ekspresi kearifan lokal dalam kehidupan setiap hari karena telah terinternalisasi dengan sangat baik.

Tiap bagian dari kehidupan masyarakat lokal diarahkan secara arif berdasarkan sistem pengetahuan mereka, dimana tidak hanya bermanfaat dalam aktifitas keseharian dan interaksi dengan sesama saja, tetapi juga dalam situasi-situasi yang tidak terduga seperti bencana yang datang tiba-tiba.

Kearifan lokal yang terdapat pada masyarakat banyak mengandung nilai luhur budaya bangsa, yang masih kuat menjadi identitas karakter warga masyarakatnya. Namun disisi lain, nilai kearifan lokal sering kali dinegasikan atau diabaikan, karena tidak sesuai dengan perkembangan zamannya. Padahal dari nilai kearifan lokal tersebut dapat dipromosikan nilai-nilai luhur yang bisa dijadikan model dalam pengembangan budaya bangsa Indonesia. Dalam konteks ini, masyarakat adat yang masih tetap memelihara dan eksis dalam kearifan lokal nya menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam pengembangan pendidikan karakter.

Masih banyak masyarakat yang masih tetap memelihara kearifan lokalnya misalnya masyarakat di Desa tipang dan Lumban raja, Baktiraja, Humbang hasundutan yang tetap melaksanaan Tradisi Batu Siungkapungkapon.

Kearifan lokal dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembentukan karakter bangsa . Karakter bangsa berasal dari kearifan lokal kita sendiri sebagai norma warisan leluhur bangsa. Karakter dalam kearifan lokal dapat diperdayakan dalam menciptakan kedamaian dan menjaga warisan leluhur kita yang sudah ada sejak dahulu .

Dalam buku Sibarani (2015:51-52) kajian kearifan lokal yang digali dari tradisi budaya atau tradisi lisan sebaiknya mempertimbangkan teori lapisan, yang sering dianalogikan dengan teori”bawang merah”. lapisan luar (outer layer) suatu tradisi budaya atau tradisi lisan memperlihatkan makna dan fungsi tradisi yang dapat diamati, ditonton, didengar atau dinikmati secara empiris, tetapi lapisan tengah (middle layer) suatu tradisi budaya atau tradisi lisan akan memperlihatkan nilai dan norma tradisi tersebut sedangan lapisan inti (the core layer) akan

memperlihatkan kearifan lokal yang menjadi keyakinan, kepercayaan , dan asumsi dasar yang dapat menyelesaikan persoalan hidup yang dihadapi manusia dalam komunitasnya. Dengan pembeda ketiga lapisan tersebut orang akan dapat membedakan makna, fungsi, nilai dan norma, dan kearifan lokal secara lebih jelas .

Gambar 2.2. Lapisan Pemaknaan

Di dalam bagan di atas bahwa tradisi di Nusantara ini terdapat berbagai nilai dan norma budaya sebagai warisa leluhuryang dimanfaatkan untuk membuat masyarakat hidup rukun dan damai yang menurut makna dan fungsinya dalam menata kehidupan social masyarakatnnya. Hal itu dapat di klasifikasikan kedalam dua jenis kearifan lokal inti, yaitu untuk peningkatan kesejahteraan dan kearifan lokal untuk penciptaan kedamaian. Berikut yang merupakan bagan dari jenis-jenis kearifan lokal inti. Sibarani (2015:52)

Gambar 2.3. Jenis-jenis kearifan lokal

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Metode Dasar

Penelitian kualitatif adalah penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu “teori”.

Penelitian kualitatif jauh lebih subyektif daripada penelitian atau survei kuantitatif dan menggunakan metode sangat berbeda dari mengumpulkan informasi, terutama individu, dalam menggunakan wawancara secara mendalam dan grup fokus. Sifat dari jenis penelitian ini adalah penelitian dan penjelajahan terbuka berakhir dilakukan dalam jumlah relatif kelompok kecil yang diwawancarai secara mendalam.

Menurut Sibarani, dkk ( 2014:5), metode kualitatif berusaha menggali, menemukan, mengungkapkan, dan menjelaskan “meaning” (makna) dan

“patterns” (pola) objek peneliti yang diteliti secara holasik. Penelitian kualitatif ini

1. Data colection (pengumpulan data), yakni mengumpulkan data berupa kata-kata dengan cara wawancara, pengamatan, intisari dokumen, perekaman, dan pencatatan.

2. Data reduction (reduksi data), yakni merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan

“menyisihkan” yang tidak perlu.

3. Data display (penyajian data), yakni memperlihatkan data, mengklasifikasikan data,menyajikannya dalam bentuk teks yang bersifat naratif atau bagan.

4. Conclusion drawing/verification (penarikan kesimpulan/verifikasi), yakni penarikan kesimpulan dan verifikasi sehingga dapat merumuskan temuan-temuan peneliti.

Dalam penelitian kualitatif, identitas dan peran informan serta informasi-informasi yang disampaikan menjadi hal-hal yang berharga sehingga peneliti harus memiliki tanggungjawab untuk memperlakukan identitas diri dan informasi yang disampaikan oleh informan. Identitas dan informasi tersebut dapat dibuka atau tertutup untuk khalayak, tergantung dari kesepakatan antara peneliti dan informan yang tertulis dalam formulir kesepakatan (consent form). Peneliti boleh membuka identitas selama informan sepakat dan peneliti juga harus menghargai keputusan apabila informan ingin identitasnya dilindungi.

Dalam pengambilan data penelitian kualitatif, sebaiknya peneliti mendapatkan izin baik secara tertulis ataupun lisan sehingga penelitian tidak melanggar norma-norma yang mungkin dianut oleh informan atau objek penelitian.

3.2 Lokasi Data Penelitian

3.2.1 Gambaran Umum Kecamatan Baktiraja Sebagai Lokasi Penelitian Humbang Hasundutan adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Utara.

kabupaten ini Dibentuk pada tanggal 28 Juli 2003, dan mempunyai luas sebesar 2.335,33 km². Kabupaten ini Beribukotakan Dolok Sanggul dan memiliki Semboyan Kabupaten Humbang Hasundutan adalah Huta Mas (Humbang Hasundutan Mandiri dan Sejahtera).

Kabupaten Humbang Hasundutan terdiri atas 10 kecamatan yaitu:

1) Kecamatan Parlilitan

2) Kecamatan Pollung 3) Kecamatan Sijamapolang

4) Kecamatan Baktiraja 5) Kecamatan Dolok Sanggul 6) Kecamatan Lintong Nihuta

7) Kecamatan Onan Ganjang 8) Kecamatan Pakkat

9) Kecamatan Paranginan 10) Kecamatan Tarabintang

Gambaran umum kecamatan Baktiraja

Kecamatan Baktiraja yang terletak di Kabupaten Humbang Hasundutan Provinsi Sumatera Utara ini, dengan luas wilayah 2.231,9 Ha yang terletak pada titik koordinat 2°16’- 2° 23’ LU- 98°47’- 98° 58’ BT. Kecamatan Baktiraja merupakan daerah perbukitan dan berbatu-batu yang terletak pada 500 - 1.500 meter di atas permukaan laut (dpl). Kecamatan Baktiraja sendiri memiliki tujuh desa diantaranya adalah Desa Simamora, Siunongunong Julu, Sinambela, Simangulampe, Marbun Toruan, Marbun Tonga Marbun Dolok semua Desa tersebut dapat disebut daerah bagian Bakara, dan Tipang dahulu ada dua desa yaitu Tipang Dolok dan Tipang Toruan. Akan tetapi sekarang kedua Desa itu sudah dijadikan satu Desa yaitu Tipang.

Kecamatan Baktiraja adalah sebuah kawasan yang terletak pada bagian Timur wilayah Kabupaten Humbang Hasundutan, berbatasan dengan empat kecamatan:

1. Sebelah Utara, Kecamatan Onan Runggu Kabupaten Samosir 2. Sebelah Timur, Kecamatan Muara Kabupaten Tapanuli Utara 3. Sebelah Selatan, Kecamatan Dolok sanggul

4. Sebelah Barat, Kecamatan Pollung

Secara administratif, Kecamatan Baktiraja terdiri atas 7(tujuh) desa,

sebagai berikut:

Tabel 3.1 Kecamatan Baktiraja terdiri atas 7 desa

No Nama Desa Nama Kepala Desa Jumlah Penduduk

1 Tipang Pj. Roida Tamba 1,669

2 Marbun toruan Omry Banjarnahor

1,085

3 Siunong-unong

julu Rosmilu Purba 602

4 Simamora Parningotan Bakara 703

5 Sinambela Marlindang Simanullang 1,057 6 Simangulampe Dompak Sinambela 572 7 Marbun Tonga

Marbun Dolok Dahlan Banjarnahor

1,188

(http:blog sumber Kecamatan Baktiraja dalam angka )

Peta kecamatan baktiraja

Gambar 3.2. Peta kecamatan Baktiraja

Bakara adalah nama sebuah wilayah di pinggiran Danau Toba dekat Muara

Dibelah oleh dua aliran sungai besar yang berair deras yang disebut dengan Aek Silang yang bersumber dari air terjun yang tercurah dari bentangan perbukitan dan Aek Simangira. Keduanya mengaliri beberapa desa dan bermuara di Danau Toba.

Tipang adalah nama sebuah wilayah yang satu Kecamatan dengan Bakara yang lokasinya banyak bebatuan dan jalannya terjal yang mengakibatkan masyarakat di sana terlihat ketinggalan zaman dengan barang-barang teknologi pada zaman sekarang. Dengan alasan ini pulalah masyarakat di Tipang masih menjalankan tradisi marsirimpa untuk menyelesaikan lahan pertaniannya. Akan tetapi, dengan keadaan seperti itu, bukan berarti para orang tuanya memiliki pemikiran yang kuno, justru sebaliknya para orang tua di sana memiliki pemikiran yang sudah maju dengan menyekolahkan anak mereka sampai kejenjangperguruan tinggi. Kalau di lihat dari dua desa tersebut masyarakat Tipang lebih sejahtera dari pada Bakara, hal ini disebabkan pudarnya sifat kekeluargaan di Bakara yang membuat masyarakatnya bekerja sendiri-sendiri tanpa menghiraukan teman yang lainnya.

3.3 Instrumen dan Panduan Penelitian

Terdapat dua hal utama yang mempengaruhi kualitas hasil penelitian, yaitu kualitas instrumen penelitian dan kualitas pengumpulan data (Sugiyono: 2008:305).

Dalam penelitian ini yang menjadi instrumen atau alat penelitian adalah peneliti sendiri. Peneliti sebagai human instrumen berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan dari temuan di lapangan. Peneliti kualitatif adalah instrumen

utama yang semestinya memiliki kapasitas intelektual yang tinggi terkait dengan kapasitas berfikir reflektif dan rasional yang digunakan saat perancangan, pelaksanaan, dan pelaporan penelitian. (Djam’an Satori dan Aan Komariah, 2011:

69).

Berdasarkan pernyataan di atas dapat dipahami bahwa dalam penelitian kualitatif instrumen utamanya adalah peneliti sendiri, namun selanjutnya dikembangkan instrumen penelitian sederhana, yang diharapkan dapat melengkapi data dan membandingkan dengan data yang telah ditemukan melalui observasi dan wawancara. Dalam melakukan wawancara dengan informan, penulis menggunakan instrumen penelitian berupa daftar pertanyaan yang diajukan penulis dalam melakukan wawancara dengan informan. Alat bantu yang digunakan adalah:

1. Alat rekam (tape recorder): dengan keterbatasan daya ingat, penulis tidak dapat menghasilkan data dengan sempurna dan lengkap. Oleh karena itu, seorang penulis harus membawa alat rekam untuk merekam apa yang telah penulis dapat dari informan.

2. Buku tulis dan pulpen: sebelum kelapangan, penulis membutuhkan buku tulis dan pulpen untuk mencatat pertanyaan-pertanyaan yang benar-benar penting untuk judul yang tengan diteliti, agar tidak lari dari topik yang diinginkan serta mencatat informasi-informasi yang didapat dari informan .

3.4 Metode Pengumpulan Data

Data Metode pengumpulan data ialah sebuah cara penelitian dalam mengkaji data baik dari tinjauan pustaka maupun penelitian lapangan. Adapun metode pengumpulan data dalam penelitian kualitatif adalah :

3.4.1 Observasi

Observasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang tidak hanya mengukur sikap dari responden (wawancara dan angket) namun juga dapat digunakan untuk merekam berbagai fenomena yang terjadi (situasi, kondisi.Metode ini diterapkan terutama dalam mendapatkan data untuk menjawab pertanyaan tentang tradisi Batu Siungkapungkapon dalam siklus mata pencaharian pada zaman dahulu dan masa sekarang ini di masyarakat Batak Toba di Baktiraja.

Metode ini dilakukan untuk memperoleh keterangan lebih lengkap tentang tradisi Batu Siungkapungkapon sebagai objek yang diteliti, sehingga data yang diperoleh lengkap.

3.4.2 Wawancara

Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka dan tanya jawab langsung antara pengumpul data maupun peneliti terhadap nara sumber atau informan.

Wawancara dapat diterapkan sebagai teknik pengumpul data (umumnya penelitian kualitatif). Metode dilakukan secara purporsive sampling kepada para

Wawancara terbagi atas wawancara terstruktur dan tidak terstruktur.

1. Wawancara terstruktur artinya peneliti telah mengetahui dengan pasti apa informasi yang ingin digali dari responden sehingga daftar pertanyaannya sudah dibuat secara sistematis. Peneliti juga dapat menggunakan alat bantu tape recorder, kamera poto, dan material lain yang dapat membantu kelancaran wawancara.

2. Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara bebas, yaitu peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan yang akan diajukan secara spesifik, dan hanya memuat poin-poin penting masalah yang ingin digali dari responden. Sesuai dengan kriteria pendekatan kualitatif, jumlah informan ditentukan berdasarkan kepadaan, kecukupan, dan keakuratan data.

3.4.3 Kepustakaan

Studi dokumentasi yaitu dengan mengumpulkan data dan informasi dari buku-buku,internet,dan skripsi yang berkaitan dengan penelitian.

3.5 Metode Analisis Data

Metode analisis data adalah metode atau cara peneliti dalam mengolah data mentah sehingga menjadi data akurat dan ilmiah. Pada dasarnya dalam menganalisis data diperlukan imajinasi dan kreativitas sehingga diuji kemampuan peneliti dalam menalar sesuatu. Metode yang digunakan adalah metode analisis

menafsirkan data yang ada sehingga memberikan gambaran yang jelas mengenai Kearifan Lokal Tradisi Batu Siungkapungkapon secara umum.

Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain. Miles dan Huberman mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data yaitu data reduction, data display dan data conclusion drawing/verification.

Komponen dalam analisis data (interactive model) Miles dan Huberman (Sugiyono, 2014:247)

1. Reduksi data Data yang peneliti peroleh selama di lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu maka perlu dicatat secara teliti dan rinci.

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, ditemukan tema dan polanya.

Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan memudahkan peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan. Dalam mereduksi data, setiap peneliti dipandu oleh tujuan yang akan dicapai. Tujuan utama dari penelitian kualitatif adalah pada temuan.

Dalam penelitian ini reduksi data dilakukan pada saat peneliti mendapatkan data dari Dinas Pariwisata Humbang Hasundutan dan kepada masyarakat tentang Batu Siungkapungkapon. Penulis kemudian menyederhanakan data tersebut dengan mengambil data-data yang mendukung dalam pembahasan penelitian ini. Sehingga data-data tersebut mengarah pada kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan.

2. Penyajian Data Sesudah data direduksi, Maka langkah selanjutnya adalah mmenampilkan data. Didalam penelitian kualitatif penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, pembuatan diagram dan sejenisnya. Dalam hal ini Miles dan Huberman yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif.

Dalam menyajikan data dalam penelitian ini peneliti mendiskripsikan data-data tentang Batu Siungkapungkapon. Sehingga makna dari peristiwa-peristiwa yang ditemui lebih mudah dipahami.

3. Penarikan Kesimpulan Langkah yang terakhir dalam analisis data kualitatif adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan msih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif merupakan temuan yang sebelumnya belum pernah ada.

Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu obyek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas, dapat berupa hubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau teori.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

4.1.1. Sejarah Tradisi Batu Siungkapungkapon

Berbagai peninggalan budaya tidak hanya berfungsi praktis tetapi juga terkait dengan religi, sehingga memuat seperangkat makna. Kondisi tersebut menjadikan berbagai aspek kebudayaan tertata dalam makna dan nilai-nilai yang disepakati. Dalam perjalanan waktu dan perubahan kebudayaan menjadikan pemahaman objek penting masyarakat Batak Toba menjadi kabur. Berdasarkan hal tersebut maka yang diungkapkan dalam kesempatan ini yaitu fungsi dan makna Batu Siungkapungkapon bagi masyarakat Batak Toba di Kecamatan Baktiraja.

Berkaitan dengan itu maka uraian ini yaitu menggambarkan makna dan fungsi yang ada dibalik Batu Siungkapungkapon dalam tatanan budaya Batak Toba masa lalu.

Untuk itu maka ruang lingkupnya berupa sebuah areal (Toguan) dan Istana Sisingamangaraja artefak arkeologis yang berupa Batu Siungkapungkapon yang ada di Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara. Situs maupun tinggalan budaya masyarakat Batak Toba yang berupa Batu Siungkapungkapon, memiliki bentuk dan fungsi tertentu yang juga merekam berbagai unsur budaya. Di antaranya juga merekam kesenian, religi, dan teknologi.

Selain itu juga merupakan sebuah simbol mata pencaharian hidup, status sosial dan identitas individu ataupun kelompok pada masa lalu. Upaya memahami tinggalan budaya materi sebagai sebuah simbol dalam masyarakat juga dapat dijelaskan

menganggap simbol-simbol mengkomunikasikan makna yang sesungguhnya tentang seseorang atau tentang sesuatu (Abdullah 2006, 240-241). Artinya juga Batu Siungkapungkapon juga dapat menggambarkan berbagai aspek baik itu menyangkut manusianya dengan berbagai perilaku dan tujuan hidupnya termasuk juga lingkungannya. Sejalan dengan itu simbol memiliki makna yang dikaitkan dalam mitos-mitos dan dioperasionalkan dalam unsur budaya lainnya (teknologi, ekonomi, dll) sehingga lambat laun menjadi bagian dari unsur budaya yang lain tersebut. Artinya sebuah simbol dapat dipakai baik dalam konteks politik maupun dalam konteks religi. Hal ini memungkinkan Batu Siungkapungkapon tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi, atau sistem masyarakatnya semata tetapi juga dapat berkaitan dengan aspek religi dan juga aspek sosial lainnya dalam kehidupan masyarakat Batak Toba di Desa Tipang dan di Desa Simamora. Seiring berjalannya waktu, tradisi ini hilang dengan sendirinya ditengah tengah masyarakat. Hal ini ini disebabkan oleh pola pikir masyarakat yang berubah karena berkembangnya sebuah agama.

4.1.1.1 Sejarah Tradisi Batu Siungkapungkapon di DesaTipang

Bermula dari perkawinan Raja Sumba dengan Si Boru Pandan Nauli yang dipercayai masyarakat Batak Toba melahirkan dua marga induk yaitu Sihombing dan Simamora. Sihombing memiliki empat keturunan yang kemudian menjadi marga turunannya yaitu Silaban, Lumban Toruan, Nababan dan Hutasoit dengan wilayahnya berada di bawah kaki Gunung Namartua Guminjang. Wilayah Sihombing ini disebut dengan tanah liat. Sedangkan Simamora memiliki tiga

keturunan yang juga menjadi marga turunannya yaitu Purba, Manalu dan Debataraja, dengan wilayahnya disebut dengan tanah hitam. Kedua wilayah budaya tersebut sekarang dibatasi oleh jalan raya dengan orientasi Utara-Selatan, yag di sebelah timur dari jalan raya merupakan tanah liat yang merupakan wilayah Sihombing dan yang di sebelah barat jalan raya merupakan tanah hitam yang merupakan wilayah Simamora. Batu Siungkapungkapon berada di sebelah timur jalan raya yaitu berada di Hutasoit, jadi kedua objek arkeologis tersebut berada di wilayah budaya tanah liat milik keturunan Sihombing.

Informasi dari keturunan Sihombing yang disampaikan berkaitan dengan Toguan dan Batu Siungkap-ungkapon, bahwa Toguan itu merupakan areal yang mendukung keberadaan dari Batu Siungkapungkapon. Batu Siungkapungkapon itu berada di tengah-tengah areal dari Toguan. Siungkapungkapon merupakan kata dalam bahasa Batak Toba yang secara harfiah berarti yang dibuka-buka, jadi Batu Siungkapungkapon merupakan batu yang kerap dibuka dengan cara

Informasi dari keturunan Sihombing yang disampaikan berkaitan dengan Toguan dan Batu Siungkap-ungkapon, bahwa Toguan itu merupakan areal yang mendukung keberadaan dari Batu Siungkapungkapon. Batu Siungkapungkapon itu berada di tengah-tengah areal dari Toguan. Siungkapungkapon merupakan kata dalam bahasa Batak Toba yang secara harfiah berarti yang dibuka-buka, jadi Batu Siungkapungkapon merupakan batu yang kerap dibuka dengan cara