BAB II TINJAUAN PUSTAKA
4. Konsep kepemimpinan institusi
Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk pencapaian tujuan. Bentuk pengaruh tersebut dapat secara formal seperti tingkat manajerial pada suatu organisasi.
Kepemimpinan juga merupakan suatu kenyataan kehidupan
organisasional bahwa pimpinan memainkan peranan yang amat penting, bahkan dapat dikatakan amat menentukan dalam usaha pencapaian tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Kepemimpinan yang efektif adalah
kepemimpinan yang mampu menumbuhkan, memelihara dan
mengembangkan usaha dan iklim yang kondusif di dalam kehidupan organisasional (Revida, 2004).
commit to user
Kepemimpinan merupakan suatu proses dengan berbagai cara mempengaruhi orang atau sekelompok orang untuk mencapai suatu tujuan bersama. Pembahasan tentang kepemimpinan menyangkut tugas dan gaya kepemimpinan, cara mempengaruhi kelompok, yang mempengaruhi kepemimpinan seseorang. Kreiner menyatakan bahwa leadership adalah proses mempengaruhi orang lain yang mana seorang pemimpin mengajak anak buahnya secara sekarela berpartisipasi guna mencapai tujuan organisasi (Robinson dalam Uno, 2008).
Kepemimpinan merupakan unsur kunci dalam menentukan efektivitas maupun tingkat produktifitas suatu organisasi. Banyak definisi kepemimpinan yang dikemukakan para ahli, beberapa di antaranya dapat dikemukakan sebagai berikut:
1) Ordway Tead dalam Kartono, 1994 mengungkapkan bahwa
kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang-orang agar mereka mau bekerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan. 2) George R. Terry dalam Kartono, 1994 mengungkapkan bahwa
kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang-orang agar mereka suka berusaha mencapai tujuan-tujuan kelompok.
3) K. Hemphill dalam Thoha, 1996 mengungkapkan bahwa
kepemimpinan adalah suatu inisiatif untuk bertindak yang menghasilkan suatu pola yang konsisten dalam rangka mencari jalan pemecahan dari suatu persoalan bersama.
commit to user
4) Kimball Young dalam Kartono, 1994 mengungkapkan bahwa
kepemimpinan adalah bentuk dominasi didasari kemauan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu, berdasarkan akseptasi atau penerimaan oleh kelompoknya dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi khusus.
5) Moeldjono (2009) mengungkapkan bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain, untuk memahami dan setuju kepada apa yang perlu dilakukan dan bagaimana tugas itu dilakukan secara efektif serta proses untuk memfasilitasi upaya individu dan kolektif untuk mencapai tujuan bersama.
6) Yukl (2009) menyiratkan bahwa kepemimpinan merupakan suatu proses seorang pemimpin mempengaruhi pengikutnya untuk hal-hal berikut : mengintepretasikan keadaan (lingkungan organisasi), pemilihan tujuan organisasi, pengorganisasian kerja dan memotivasi pengikut untuk mencapai tujuan organisasi, mempertahankan kerjasama dan tim kerja dan mengorganisasi dukungan dan kerjasama orang dari luar organisasi.
b. Unsur dalam kepemimpinan
1) Adanya seseorang yang berfungsi memimpin, yang disebut pemimpin. 2) Adanya orang lain yang dipimpin
3) Adanya kegiatan menggerakkan orang lain, yang dilakukan dengan mempengaruhi dan mengarahkan perasaan, pikiran, dan tingkah lakunya.
commit to user
4) Adanya tujuan yang hendak dicapai, baik yang dirumuskan secara sistematis maupun bersifat sukarela.
5) Berlangsung berupa proses di dalamnya kelompok atau organisasi, baik besar maupun kecil, dengan banyak maupun sedikit orang yang dipimpin.
c. Teori kepemimpinan
1) Teori kepemimpinan sifat (traith theory)
Studi mengenai sifat atau ciri mula-mula mencoba untuk mengidentifikasi karakteristik-karakteristik fisik, ciri kepribadian, dan kemampuan orang yang dipercaya sebagai pemimpin alami. Ratusan studi tentang sifat atau ciri telah dilakukan, namun sifat atau ciri tersebut tidak memiliki hubungan yang kuat dan konsisten dengan keberhasilan kepemimpinan seseorang. Penelitian mengenai sifat atau ciri tidak memperhatikan pertanyaan tentang bagaimana sifat atau ciri itu berinteraksi sebagai suatu integrator dari kepribadian dan perilaku atau bagaimana situasi menentukan relevansi dari berbagai sifat atau ciri dan kemampuan bagi keberhasilan seorang pemimpin (Junaidi, 2010).
Teori sifat berusaha untuk mengidentifikasi karakteristik khas (fisik, mental, dan kepribadian) yang dikaitkan dengan keberhasilan kepemimpinan. Teori ini menekankan atribut pribadi pemimpin. Keberhasilan manajerial disebabkan oleh karena pemimpin memiliki kemampuan yang luar biasa, antara lain intelegensia dan kepribadian.
commit to user
Teori ini menekankan pada upaya untuk mencari korelasi yang signifikan tentang atribut pemimpin dan kriteria keberhasilan seorang pemimpin.Pemimpin dapat melaksanakan kepemimpinan dengan baik harus memiliki sifat-sifat tertentu yang akan menunjang bagi tindakan dan pemikiran ke arah mana proses kepemimpinannya itu diarahkan (Yukl, 2009).
2) Teori kepemimpinan perilaku (behavioral theory)
Kebanyakan studi mengenai perilaku kepemimpinan selama periode tersebut menggunakan kuesioner untuk mengukur perilaku yang berorientasi pada tugas dan yang berorientasi pada hubungan. Beberapa studi telah dilakukan untuk melihat bagaimana perilaku
tersebut dihubungkan dengan kriteria tentang efektivitas
kepemimpinan seperti kepuasan dan kinerja bawahan. Peneliti-peneliti lainnya menggunakan eksperimen laboratorium atau lapangan untuk menyelidiki bagaimana perilaku pemimpin mempengaruhi kepuasan dan kinerja bawahan. Menurut teori ini, perilaku pemimpin pada dasarnya terdiri dari perilaku yang pusat perhatiannya kepada manusia dan perilaku yang pusat perhatiannya pada produksi.
3) Teori kepemimpinan situasional (situational theory)
Keberhasilan seorang pemimpin menurut teori situasional ditentukan oleh ciri kepemimpinan dengan perilaku tertentu yang disesuaikan dengan tuntutan situasi kepemimpinan dan situasi organisasional yang dihadapi dengan memperhitungkan faktor waktu
commit to user
dan ruang. Faktor situasional yang berpengaruh terhadap gaya kepemimpinan tertentu adalah:
a) Jenis pekerjaan dan kompleksitas tugas; b) Bentuk dan sifat teknologi yang digunakan; c) Persepsi, sikap dan gaya kepemimpinan; d) Norma yang dianut kelompok;
e) Rentang kendali;
f) Ancaman dari luar organisasi; g) Tingkat stress;
h) Iklim yang terdapat dalam organisasi (Sofa, 2009).
Efektivitas kepemimpinan seseorang ditentukan oleh
situasi yang dihadapi dan menyesuaikan gaya kepemimpinannya agar cocok dengan dan mampu memenuhi tuntutan situasi tersebut. Penyesuaian gaya kepemimpinan dimaksud adalah kemampuan menentukan ciri kepemimpinan dan perilaku tertentu karena tuntutan situasi tertentu. Oleh karena itu, dalam kepemimpinan situasional penting bagi setiap pemimpin untuk mengadakan diagnosa dengan baik tentang situasi. Sehingga pemimpin yang baik menurut teori ini, harus mampu:
a) Mengubah-ubah perilakunya sesuai dengan situasinya,
b) Mampu memperlakukan bawahan sesuai dengan kebutuhan dan motif yang berbeda-beda.
commit to user
Jadi, berdasarkan teori kepemimpinan situasional semua variabel situasi (waktu, tuntutan tugas, iklim organisasi, harapan dan kemampuan atasan, teman sejawat, bawahan) adalah sangat penting yaitu tingkah laku pemimpin dalam hubungannya dengan para bawahan (Wahjosumidjo, 1987).
Di dalam pendekatan situasional atau kontingensi, terdapat empat model kepemimpinan sebagai berikut :
a) Model kepemimpinan situasional dari Hersey dan Banchard yang menyatakan bahwa gaya kepemimpinan yang paling efektif bervariasi dengan kesiapan bawahan.
b) Kepemimpinan dan situasi kerja (model Fiedler) yang
mengemukakan bahwa tidak ada satu gaya kepemimpinan yang cocok untuk setiap situasi. Untuk itu, diperlukan kemampuan dalam mengubah situasi lingkungan agar cocok dengan pemimpin. c) Pendekatan jalur sasaran, didasarkan pada motivasi model,
harapan, yang menyatakan motivasi seseorang didasarkan pada harapan akan imbalan dan daya tarik imbalan itu untuk diperoleh karyawan.
d) Merumuskan penyertaan bawahan (Uno, 2008).
d. Ciri-ciri kepemimpinan
Efetivitas kepemimpinan dianggap ditentukan oleh kepribadian pemimpin. Pemimpin mempunyai kualitas yang lebih baik dari para pengikutnya. Ia mempunyai ciri-ciri yang tidak dimiliki oleh
commit to user
pengikutnya. Di Indonesia terdapat sebelas ciri pribadi yang diharapkan dimiliki oleh seorang pemimpin, yang dianut oleh TNI AD, yaitu : 1) Takwa, menahan diri dari perbuatan yang dilarang oleh Tuhan Yang
Maha Esa dan taat kepada segala perintah-Nya.
2) Ing Ngarsa Sung Tuladha, sebagai pemuka, orang yang berada di depan, selalu memberi suri tauladan kepada yang dipimpinnya.
3) Ing Madya Mangun Karsa, di tengah-tengah para anak buahnya ikut terjun langsung bekerja sama bahu membahu, memberi dorongan dan semangat.
4) Tut Wuri Handayani, dari belakang selalu memberi dorongan dan arahan kepada apa yang diinginkan anak buahnya.
5) Waspada Purba Wisesa, selalu berhati-hati dalam segala kondisi, meneliti dan membuat perkiraan keadaan secara terus-menerus. 6) Ambeg Para Maarta, pandai menentukan mana yang menurut ruang,
waktu dan keadaan patut didahhulukan.
7) Prasaja, bersifat dan bersikap sederhana serta rendah hati.
8) Satya, loyalitas timbal balik dan bersikap hemat, tidak ceroboh serta memelihara kondisi materiil dengan kecermatan.
9) Gemi nastiti, hemat dan cermat, sadar dan mampu membatasi penggunaan dan pengeluaran hanya untuk yang benar-benar diperlukan.
commit to user
10) Belaka, bersifat dan bersikap terbuka, jujur dan siap menerima segala kritik yang membangun, selalu mawas diri dan selalu siap mempertanggungjawabkan perbuatannya.
11) Legawa, rela dan ikhlas untuk pada waktunya mengundurkan diri dari fungsi kepemimpinannya dan diganti dengan suatu generasi baru yang telah mewarisi kesepuluh ciri ini (Munandar, 2001).
e. Tipe kepemimpinan
1) Telling
kepemimpinan yang dikatakan pemimpin yang tidak mempercayai orang bawahannya dan banyak memberi arahan kepada orang bawahan untuk melakukan segala sesuatu yang perlu dilakukan tanpa melihat hubungan antara pemimpin dengan orang bawahannya. Pemimpin mengenal pasti masalah, membuat keputusan dan menetapkan tindakan yang perlu dilakukan secara sendirian. Pemimpin seperti ini tidak memikirkan perasaan dan pandangan orang lain terhadap keputusan yang telah dibuatnya. Contohnya: Seorang pengurus akan lebih banyak mengarah dan menyuruh apa yang perlu dilakukan oleh orang bawahannya dari A ke Z.
2) Selling
commit to user
bawahan adalah rapat sebagai satu organisasi. Pemimpin akan menerangkan lebih lanjut tentang pendapatnya daripada pengikut. Dalam gaya kepemimpinan ini, keputusan masih dilakukan oleh pemimpin, kemudian menerangkan lebih lanjut tentang pendapatnya untuk mendapat sokongan daripada pengikut. Dengan cara ini, pengikut faham apa yang ditetapkan dan bersedia melaksanakan tugas. Sesuai dengan pengikut yang digolongkan sebagai rendah sederhana di segi tahap kesediaan. Contohnya: seorang pengurus biasanya dilihat lebih kepada pendekatan sosial (social approach) untuk memimpin kumpulan atau lebih kepada perbincangan yang bersifat terbuka.
3) Participating
Gaya kepemimpinan
perilaku pemimpin yang lebih banyak memfokuskan perhatian pada kualitas hubungan dan kurang memperhatikan penyelesaian tugas-tugas. Pemimpin yang lebih menumpukan perhatian pada kualitas hubungan dan memperlihatkan penyelesaian tugas. Pemimpin meminta reaksi dan pandangan dari pengikutnya sebelum membuat keputusan. Bagaimanapun keputusan masih di tangan pemimpin. Ia sesuai dengan pengikut yang mempunyai tahap kesediaan antara sederhana ke tinggi. Pengikut yang berkebolehan tetapi tidak sanggup dan tidak yakin memerlukan sokongan supaya meningkatkan motivasi.
commit to user
gas menunjukkan peningkatan kepercayaan yang tinggi dari pemimpin terhadap orang bawahannya dan memberikan kepercayaan orang bawahan untuk melakukan tugasnya sendiri dengan sedikit pengarahan dan sedikit sekali hubungan antara personal. Pemimpin mengenal pasti masalah, merangka panduan, batasan dan syarat bertindak lalu menyerahkan kepada pengikut untuk membuat keputusan. Walaupun autoriti telah ditagihkan, responsibiliti dan akuntabiliti terhadap keputusan yang dibuat masih terletak di bahu pemimpin (Azmi, 2010).
Terdapat beberapa tipe kepemimpinan, antara lain : 1) Tipe deserter (pembelot)
Sifatnya : bermoral rendah, tidak memiliki rasa keterlibatan, tanpa pengabdian, tanpa loyalitas dan ketaatan, sukar diramalkan.
2) Tipe birokrat
Sifatnya : correct, kaku, patuh pada peraturan dan norma-norma, ia adalah manusia organisasi yang tepat, cermat, berdisiplin dan keras. 3) Tipe missionaris (missionary)
Sifatnya : terbuka, penolong, lembut hati, ramah tamah. 4) Tipe developer (pembangun)
Sifatnya : kreatif, dinamis, inovatif, memberikan atau melimpahkan wewenang dengan baik, menaruh kepercayaan pada bawahan.
commit to user
Sifatnya : keras, diktatoris, mau menang sendiri, keras kepala, sombong, bandel.
6) Benevolent autocrat (otokrat yang bijak)
Sifatnya : lancar, tertib, ahli dalam mengorganisir, besar rasa keterlibatan diri.
7) Tipe compromiser (kompromis)
Sifatnya : selalu mengikuti angin tanpa pendirian, tidak mempunyai keputusan, berpandangan pendek dan sempit.
8) Tipe eksekutif
Sifatnya : bermutu tinggi, dapat memberikan motivasi yang baik, berpandangan jauh, tekun (Kartono, 2005)
f. Kemampuan dan sifat pemimpin
1) Energi jasmani dan mental (physical and nervous energy), yaitu pemimpin mempunyai daya tahan, keuletan, kekuatan atau tenaga yang istimewa. Demikian juga didukung dengan semangat juang, motivasi kerja, disiplin dan kesabaran.
2) Kesadaran akan tujuan dan arah yang akan ditujunya (a sense of
purpose and direction) dan memberi manfaat bagi dirinya dan
kelompok.
3) Antusiasme (enthusiasm), membangkitkan, optimisme, dan semangat besar pada pribadi pemimpin maupun anggota kelompok.
4) Keramahan dan kecintaan (friendliness and affection), yaitu kasih sayang dan dedikasi pemimpin bisa menjadi tenaga penggerak yang
commit to user
positif untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang menyenangkan bagi semua pihak. Sedangkan keramahan juga memberikan pengaruh pemimpin dalam mencapai tujuan.
5) Integritas, yaitu dengan segala ketulusan hati dan kejujuran, pemimpin memberikan ketauladanan, agar diikuti dan dipatuhi oleh anggota kelompoknya.
6) Penguasaan teknis (technical mastery), yaitu pemimpin harus memiliki satu atau beberapa kemahiran teknis tertentu, agar ia
mempunyai kewibawaan dan kekuasaan untuk memimpin
kelompoknya.
7) Ketegasan dalam mengambil keputusan (decisiveness), yaitu mengambil keputusan secara tepat. Tegas dan cepat sebagai hasil dari kearifan dan pengalamannya.
8) Kecerdasan (intelligence), yaitu kemampuan pemimpin untu melihat dan mematuhi dengan baik, mengerti sebab dan akibat kejadian, menemukan hal-hal yang krusial, dan cepat menemukan cara-cara penyelesaiannya
9) Keterampilan mengajar (teaching skill), yaitu pemimpin harus mampu
menuntun,mendidik, mengarahkan, mendorong, dan dan
menggerakkan anak buahnya atau anggotanya untuk berbuat sesuatu. 10) Kepercayaan (faith), yaitu bahwa para anggota pasti dipimpin
dengan baik, dipengaruhi secara positif dan diarahkan pada sasaran-sasaran yang benar.
commit to user
Empat sifat umum yang nampaknya mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan efektifitas kepemimpinan yaitu :
1) Kecerdasan, hasil penelitian pada umumnya membuktikan bahwa pemimpin mempunyai tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang dipimpin.
2) Kedewasaan dan keluasan hubungan sosial, pemimpin cenderung menjadi matang dan mempunyai perhatian yang luas terhadap aktivitas-aktivitas sosial. Dia mempunyai keinginan menghargai dan dihargai.
3) Motivasi diri dan dorongan berprestasi, para pemimpin secara relatif mempunyai sorongan motivasi yang kuat untuk berprestasi.
4) Sikap dan hubungan kemanusiaan, pemimpin-pemimpin yang berhasil mau mengakui harga diri dan kekuatan para pengikutnya dan mampu berpihak kepadanya (Kartono, 2005).
Terry dalam bukunya , menuliskan
sepuluh sifat pemimpin yang unggul, yaitu :
1) Kekuatan, kekuatan badaniah dan rohaniah merupakan syarat pokok bagi pemimpin yang harus bekerja lama dan berat pada waktu-waktu yang lama serta tidak teratur, dan di tengah-tengah situasi yang sering tidak menentu.
2) Stabilitas emosi, pemimpin yang baik itu memiliki emosi yang stabil. Artinya dia tidak mudah marah, tersinggung perasaan, dan tidak meledak-ledak secara emosional. Ia menghormati martabat orang lain,
commit to user
toleran terhadap kelemahan orang lain, dan bisa memaafkan kesalahan-kesalahan yang tidak terlalu prinsipiil. Semua itu diarahkan untuk mencapai lingkungan sosial yang rukun damai, harmonis, dan menyenangkan.
3) Pengetahuan tentang relasi insani, salah satu tugas pokok pemimpin adalah memajukan dan mengembangkan semua bakat serta potensi anak buah, untuk bisa bersama-sama maju dan mengecap
kesejahteraan. Karena itu, pemimpin diharapkan memiliki
pengetahuan tentang sifat, watak dan perilaku anggota kelompoknya, agar ia bisa menilai kelebihan dan kelemahan pengikutnya, yang disesuaikan dengan tugas-tugas yang akan diberikan pada masing-masing individu.
4) Kejujuran, pemimpin yang baik itu harus memiliki kejujuran yang tinggi yaitu jujur pada diri sendiri dan pada orang lain. Dia selalu menepati janji, tidak munafik, dapat dipercaya, dan berlaku adil terhadap semua orang.
5) Objektif, pertimbangan pemimpin itu harus berdasarkan hati nurani yang bersih, supaya objektif (tidak subjektif, berdasarkan prasangka sendiri). Dia akan mencari bukti-bukti nyata dan sebab musabab setiap kejadian dan memberikan alas an rasional atas penolakannya.
6) Dorongan pribadi, keinginan dan kesediaan untuk menjadi pemimpin itu harus muncul dari dalam hati sanubari sendiri. Dukungan dari luar
commit to user
akan memperkuat hasrat sendiri untuk memberikan pelayanan dan pengabdian diri kepada kepentingan orang banyak.
7) Keterampilan berkomunikasi, pemimpin diharapkan mahir menulis dan berbicara, mudah menangkap maksud orang lain, cepat menangkap esensi pernyataan orang luar dan mudah memahami maksud para anggotanya. Selain itu, juga pandai mengkoordinasikan macam-macam sumber tenaga manusia, dan mahir mengintegrasikan pelbagai opini serta aliran yang berbeda-beda untuk mencapai kerukunan dan keseimbangan.
8) Kemampuan mengajar, pemimpin yang baik itu diharapkan juga menjadi guru yang baik. Mengajar adalah membawa siswa (orang yang belajar) secara sistematis dan intensional pada sasaran tertentu, guna mengembangkan pengetahuan, keterampilan atau kemahiran teknis tertentu, dan menambah pengalaman mereka. Tujuannya adalah agar para pengikutnya bisa mandiri, mau memberikan loyalitas dan partisipasinya.
9) Keterampilan sosial, pemimpin juga diharapkan memiliki kemampuan
bakat dan potensinya. Pemimpin juga mampu mendorong setiap orang untuk berusaha dan mengembangkan diri dengan caranya sendiri yang dianggap paling cocok. Dia bersikap ramah, terbuka, dan mudah menjalin persahabatan berdasarkan rasa saling percaya-mempercayai.
commit to user
10) Kecakapan teknis atau kecakapan manajerial, pemimpin harus superior dalam satu atau beberapa kemahiran teknis tertentu. Juga memiliki kemahiran manajerial untuk membuat rencana, mengelola,
menganalisis keadaan, membuat keputusan, mengarahkan,
mengontrol, dan memperbaiki situasi yang tidak mapan (Kartono, 2005).
5. Konsep belajar