• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Konsep Kesehatan Dan Keselamatan Kerja (K3)

Undang-undang yang mengatur tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja adalah undang-undang No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan khususnya paragraf 5 Tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja, pasal 86 dan 87. Pasal 86 ayat 1 berbunyi “Setiap Pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas Kesehatan dan Keselamatan Kerja”. Pasal 86 ayat 2: “untuk melindungi keselamatan pekerja/buruh guna mewujudkan produktifitas kerja yang optimal diselenggarakan upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja”. Pasal 87: “Setiap perusahaan wajib menerapkan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan. Malayu S.P. Hasibuan (2003:188), mengatakan bahwa K3 akan dapat menciptakan terwujudnya pemeliharaan karyawan yang lebih baik. K3 ini harus ditanamkan pada diri masing- masing Individu karyawan, hal ini dapat dilakukan dengan penyuluhan dan pembinaan yang baik agar mereka menyadari pentingnya keselamatan kerja bagi dirinya maupun untuk perusahaan.

Lebih lanjut Menurut Widodo (2015), K3 adalah bidang yang terkait dengan kesehatan, keselamatan dan kesejahteraan manusia yang bekerja di sebuah institusi maupun lokasi proyek. Lain halnya lagi menurut Mathis dan Jackson (2006), K3 adalah kegiatan yang menjamin terciptanya kondisi kerja yang aman, terhindar dari gangguan fisik dan mental melalui pembinaan dan pelatihan, pengarahan dan kontrol terhadap pelaksanaan tugas deri karyawan dan pemberian bantuan sesuai dengan

aturan yang berlaku, baik dari lembaga pemerintah maupun perusahaan dimana mereka bekerja. Menurut Ardana (2012), K3 adalah upaya perlindungan yang ditujukan agar tenaga kerja dan orang lain di tempat kerja atau selalu dalam keadaan selamat dan sehat sehingga setiap sumber produksi dapat digunakan secara aman dan efisien. Lebih lanjut menurut Hadiningrum (2003), K3 adalah pengawasan terhadap orang, mesin, material dan metode yang mencakup lingkungan kerja agar pekerja tidak mengalami cidera.

Sejalan dengan itu Chris Rowley & Keith Jackson (2012:177), mengatakan bahwa “Kesehatan dan Keselamatan atau dengan tepatnya, Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) memperhatikan mengenai masalah manajemen resiko di tempat kerja yang mana resiko tersebut dapat berakhir dengan sebuah kecelakaan, luka-luka ataukesehatan yang buruk”. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) merupakan proses perlindungan pekerja dalam kegiatan yang dilakukan pekerja pada suatu perusahaan atau tempat kerja yang menyangkut resiko baik jasmani maupun rohani para pekerja. Seluruh pekerja dan pada semua sektor pekerjaan, mencegah pekerja terjangkit penyakit yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan, melindungi pekerja dari resiko yang berdampak buruk pada keselamatan.

Sedangkan Menurut Flippo (2007), K3 adalah pendekatanyangmenentukan standar yang menyeluruh dan bersifat spesifik, penentuan kebijakan pemerintah atas praktek-praktek perusahaan di tempat-tempat kerja dan pelaksanaan melalui surat panggilan, denda dan hukuman-hukuman lain. Sementara Menurut Dainur (2005), K3 adalah keselamatan yang berkaitan dengan peralatan kerja, bahan dan proses

pengolahannya, landasan tempat kerja dan cara-cara melakukan pekerjaan tersebut. Menurut Miner (2011), ada beberapa aspek K3 yaitu (1) pelatihan keselamatan kerja, (2) Kontes dan publisitas keselamatan, (3) pengontrolan lingkungan kerja dan (4) pemeriksaan dan disiplin

a. Arti K3 secara khusus dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu:

1. Pengertian K3 secara ilmuan, K3 merupakan ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam upaya mencegah terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

2. Pengertian K3 secara filosofis, K3 merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk memastikan keutuhan dan kesempurnaan jasmani dan rohani tenaga kerja pada khususnya, dan masyarakat pada umumnya terhadap hasil karya dan budaya menuju masyarakat adil dan makmur.

b. Tujuan penerapan K3 berdasarkan undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja yaitu:

1. Melindungi dan menjamin keselamatan setiap tenaga kerja dan orang lain ditempat kerja.

2. Menjamin setiap sumber produksi dapat digunakan secara aman dan efisien. 3. Meningkatkan kesejahteraan dan produktifitas nasional.

c. Dasar hukum K3 ditentukan berdasarkan undang-undang dan Peraturan Menteri Tenaga Kerja:

1. UU No. 1 Tahun 1970 2. UU No. 21 Tahun 2003 3. UU No. 13 Tahun 2003

4. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. PER-5/MEN/1996

d. Standar keselamatan kerja yakni merupakan pengamanan sebagai tindakan keselamatan kerja seperti:

1. Perlindungan badan yang meliputi seluruh badan 2. Pengamanan listrik yang harus di cek secara berkala

3. Pengamanan ruangan, meliputi sistem alarm, alat pemadam kebakaran, penerangan yang cukup, ventilasi yang baik dan jalur evakuasi khusus yang memadai.

2. Tindakan Peningkatan Kesadaran K3

Adapun tindakan peningkatan kesadaran K3, antara lain:

a. Memberikan pengertian kepada pegawai/karyawan mengenai cara bagaimana mereka harus bekerja dengan benar, tepat, cepat dan selamat.

b. Memberi contoh cara kerjayang benar dan mudah ditiru

c. Memberi teladan kerja dengan mengadakan percobaan yang harus dilakukan d. Meyakinkan pegawai/karyawan bahwa keselamatan kerja dan kesehataan kerja

mempunyai dasar yang sama pentingnya dengan kualitas/mutu dan tenaga kerja e. Memberikan pengertian kepada karyawan tentang cara pelaksanaan pengamatan

kerja yang dipaksakan tanpa disertai pelanggaran suatu peraturan

f. Mengusahakan agar seluruh isi program K3 dapat menjadi tanggung jawab setiap

3. Faktor - Faktor Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

Manajemen kesehatan dan keselamatan kerja perlun adanya standarisasi dalam pengelolaan dan penerapan kesehatan dan keselamatan dan kerja. Lestari dan Triyulianti (2007) membagi faktor-faktor kesehatan dan keselamatan kerja menjadi lima factor. Faktor tersebut meliputi:

a. Pelatihan keselamatan b. Publikasi keselamatan c. Kontrol lingkungan kerja d. Pengawasan dan disiplin e. Peningkatan kesadaran K3

Peraturan Menteri tenaga kerja No. PER.05/MEN/1996 tentang sistem manajemenkesehatan dan keselamatan kerja memberikan indikator tentang faktor- faktor yang harus ditaati setiap perusahaan dalam penerapan keselamatan dan kesehatan kerja, diantaranya adalah setiap perusahaan yang mempekerjakan seratus orang dengan tingkat bahaya maka wajib melaksanakan manajemen K3, perencanaan tempat kerja, komitmen dan kebijakankesehatandan keselamatan kerja, perencanaan dan identifikasi bahaya, penilaiann dan pengendalian resiko, penerapan pelatihan keselamatan dan audit manajemen kesehatan serta keselamatan kerja dan pelaporan.

Menurut Wirawan (2015), K3 adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatandan kesehatan tenaga kerja melalui upaya pencegahan kerja dan penyakit akibat kerja. Sedangkan Menurut Prabowo (2011), K3 adalah suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik

jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budaya untuk menuju masyarakat yang adil dan makmur.

Dokumen terkait