• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI

B. Kajian Teoretis

2. Konsep Kesenian Tradisional

Kesenian adalah bagian dari kebudayaan. Seni tari adalah salah satu bagian dari kesenian. Dalam Kussudiardja (1992:1) mendefinisikan seni tari sebagai berikut:

“Arti seni tari adalah keindahan gerak anggota-anggota badan manusia yang bergerak, berirama dan berjiwa atau dapat diberi arti bahwa seni tari adalah keindahan bentuk anggota badan manusia yang bergerak, berirama dan berjiwa yang harmonis.” Sudah jelaslah dari kutipan di atas bahwa penyajian tari kuda lumping lebih memperlihatkan gerak setiap anggota badan penari kuda lumping. Gerak tari pada kesenian kuda lumping banyak menggunakan gerak berlari dan melompat yang menggambarkan gerakan kuda.

Kesenian kuda lumping adalah salah satu kesenian tradisional. Kesenian dianggap tradisional karena lahir pada masa Indonesia belum merdeka, menggunakan dialek atau bahasa daerah, dan mempunyai identitas regional yang kuat dan punya pola dramatik tertentu yang dapat diduga sebelumnya. Menurut Kasim Achmad dalam Sutardjo (2010:65) berpendapat bahwa kesenian tradisional adalah :

Suatu bentuk seni yang bersumber dan berakar serta telah dirasakan sebagai milik sendiri oleh masyarakat lingkungannya. Pengolahannya didasarkan atas cita- cita masyarakat pendukungnya. Cita rasa di sini mempunyai pengertian yang luas, termasuk ‘nilai kehidupan tradisi’, pandangan hidup, pendekatan falsafah, rasa etis dan estetis serta ungkapan budaya lingkungan. Hasil kesenian tradisional biasanya diterima sebagai tradisi, pewaris yang dilimpahkan dari angkatan tua kepada angkatan muda.

Dapat dijelaskan bahwa seni tradisional Indonesia berasal dari lingkungan-lingkungan yang banyak macamnya di tanah air kita. Berbagai upaya telah ditempuh guna memperkenalkan seni daerah yang satu kepada daerah yang lain. Bahkan mengajarkannya sekalipun sebagai apresiasi, yang bisa menumbuhkan rasa ikut memiliki. Tari tradisional apabila dilihat dari dasar penciptaannya mempunyai ciri-ciri khusus yaitu nilai-nilai yang dianut dan gagasan-gagasan yang melatarbelakanginya. Adanya semangat kolektif dari para penciptanya yang didasarkan pada kehidupan sosial masyarakat serta didukung oleh pandangan kesukuan daerahnya yang menonjol, menyebabkan tari tradisional memiliki sifat komunal kedaerahan, yang artinya disamping

merupakan gagasan kolektif, juga dimiliki bersama oleh masyarakat pendukungnya. Selain itu, karena diturunkan dari generasi ke generasi, maka tari tradisional menjadi tradisi yang mengakar, yaitu menjadi adat dengan mengikat diri pada tradisi lama masyarakat yang menjadi tradisional, yaitu memuja pandangan dan praktek lama serta menjaga supaya tetap lestari dan berkembang.

Kesenian tradisional yang hidup dan berkembang di daerah-daerah mempunyai ciri khas sebagai berikut: (a) seni yang pengaruh keberadaannya pada batas-batas wilayah tertentu dan jangkauannya terbatas pada budaya penunjang; (b) seni yang sangat erat hubungannya dengan golongan ras, kesukuan, adat istiadat maupun keagamaan; (c) merupakan bagian dari satu “cosmos” kehidupan yang bulat tanpa terbagi-bagi dalam pengkotakan spesialisasi; (d) karya seninya bukan merupakan hasil kreativitas perseorangan, melainkan tercipta secara anonim bersamaan dengan sifat kolektif masyarakat pendukungnya; (e) seninya bersifat fungsional dalam arti tema dan bentuk-bentuk ungkapan dan penampilannya tidak terpisahkan dari kepentingan “cosmos” yang menyeluruh itu; (f) perubahannya sangat lamban juga ada suatu kemampuan yang mengakar (Sutardjo, 2010: 65)

Fungsi kesenian tradisional ditinjau dari etnik-etnik tertentu adalah sebagai berikut: (a) sebagai pemanggil kekuatan supranatural (gaib); (b) memanggil roh-roh baik untuk mengusir roh-roh jahat; (c)

pemujaan pada nenek moyang dengan menirukan kegagahan ataupun kesigapan; (d) pelengkap upacara sehubungan dengan peringatan tingkatan hidup seseorang; (e) pelengkap upacara sehubungan dengan saat-saat tertentu dalam perputaran waktu; (f) manifestasi daripada dorongan untuk mengungkapkan keindahan semata (Sutardjo, 2010:65). Fungsi seni tradisi tersebut lebih menekankan pada persoalan kehidupan masyarakat di mana ia berada, sedangkan persoalan itu cenderung lari pada kehidupan yang sangat esensial, seperti nilai kemanusiaan maupun keagungan sang pencipta. Seni tradisi dalam perjalanan awal digunakan untuk upacara ritual, upacara keagamaan.

Kesimpulan yang dapat diambil mengenai tari sebagai kesenian tradisional adalah suatu bentuk tari yang berakar dan bersumber dari kalangan masyarakat yang merupakan gagasan kolektif masyarakat, serta memiliki sifat, bentuk, dan fungsi tergantung dan berkaitan erat dengan masyarakat dimana tari itu lahir, tumbuh dan berkembang serta dipentaskan pada berbagai acara.

Penjelasan dan uraian di atas semakin meneguhkan tari Kuda Lumping sebagai tari tradisional karena disamping merupakan tarian yang diwariskan secara turun-temurun yang merupakan hasil pelestarian dan pengembangan seniman kelompok kesenian Kuda Lumping Turonggo Tri Budoyo, tari Kuda Lumping juga telah menjadi ciri khas kesenian tradisional di Desa Kaligono yang sering

dipentaskan dalam acara-acara hajatan. Bertolak dari batasan bahwa tari adalah ungkapan jiwa manusia dengan gerak-gerak ritmis yang indah, maka gerak-gerak yang telah dirakit dalam komposisi tari Kuda Lumping Turonggo Tri Budoyo mengandung makna tertentu atau maksud tertentu, yang diungkap, dirasakan dan dihayati orang lain. 3. Konsep Folklor

Istilah folklor merupakan pengindonesiaan kata bahasa Inggris fol-klore. Ditinjau dari etimologinya, folklore berasal dari dua kata dasar yaitu folk yang berarti “rakyat” dan lore yang berarti “adat”. Dengan demikian definisi folk-lore secara keseluruhan adalah “ tradisi kolektif sebuah bangsa yang disebarkan dalam bentuk lisan maupun gerak isyarat, sehingga tetap berkesinambungan dari generasi ke generasi” (Danandjadja, 1984:1).

Berdasarkan pengertian di atas, maka folklor merupakan bagian dari kebudayaan yang diwariskan turun-temurun tetapi tidak dibukukan. Folklor yang terdapat pada tarian kuda lumping Turonggo Tri Budoyo termasuk dalam kesenian yang berkembang di masyarakat dan berupa tarian tradisional. Tarian kuda lumping Turonggo Tri Budoyo juga merupakan tarian yang sudah bertahun-tahun berkembang di masyarakat. Dengan kata lain tarian kuda lumping Turonggo Tri Budoyo ini, merupakan tarian yang eksistensinya masih bisa dipertahankan sampai saat ini terbukti dalam berbagai upacara hajatan seperti pernikahan, sunatan, syukuran, biasanya selalu melibatkan

pertunjukan tari kuda lumping Turonggo Tri Budoyo sebagai pertunjukan pendukung dalam acara tersebut.

Definisi folklor juga dikemukakan oleh Winnick dalam Purwadi (2009: 1) sebagai berikut:

Folklore: the common orally transmitted traditions, myths, festival, songs, superstition and of all peoples, folklore has come to mean all kind of oral artistic expression. It may be found in societies. Originally folklore was the study of the curiousities.

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa folklor adalah tradisi suatu masyarakat yang disebarkan secara lisan dari mulut ke mulut, seperti dongeng, cerita, hikayat, kepahlawanan, adat-istiadat, lagu, tata cara, kesusastraan, kesenian dan busana daerah. Folklor tetap bertahan secara terus menerus karena memiliki fungsi. Biasanya folklor mengandung nilai-nilai ataunasihat yang penting untuk mempertahankan hidup. Dalam perkembangan folklor dimaknai sebagai ungkapan artistik yang ditemui bukti-bukti tertulisnya dalam masyarakat, bahkan mungkin sengaja tidak ditulis dalam kesastraan masyarakat.

a. Bentuk-bentuk folklor

Danandjaja (1984:21) menggolongkan folklor berdasarkan tipenya menjadi tiga kelompok besar, yaitu:

1. Folklor lisan

Adalah folklor yang bentuknya memang murni lisan. Bentuk-bentuk folklor yang termasuk ke dalam kelompok ini

antara lain: (a) bahasa rakyat (folk speech) seperti logat, julukan, pangkat tradisional dan title kebangsawanan; (b) ungkapan tradisional, seperti peribahasa, pepatah dan pemeo; (c) pertanyaan tradisional seperti teka-teki; (d) puisi rakyat, seperti pantun, gurindam dan syair; (e) cerita prosa rakyat, seperti mite, legenda dan dongeng; (f) nyanyian rakyat.

2. Folklor sebagian lisan

Adalah folklor yang bentuknya merupakan campuran antara lisan dan unsur bukan lisan. Bentuk-bentuk folklor yang termasuk dalam kelompok ini yaitu sebagai berikut: (a) kepercayaan rakyat atau takhayul; (b) permainan rakyat; (c) teater rakyat; (d) tarian rakyat; (e) adat-istiadat; (f) upacara; (g) pesta rakyat.

3. Folklor bukan lisan

Adalah folklor yang bentuknya bukan lisan, walaupun cara pembuatannya diajarkan secara lisan. Folklor bukan lisan ini dapat dibagi menjadi dua sub kelompok yaitu:

(a) Material

Bentuk folklor yang tergolong material antara lain: arsitek rakyat (bentuk rumah asli daerah, bentuk lumbung padi dan sebagainya), kerajinan tangan rakyat, obat-obatan tradisional.

(b) Bukan material

Bentuk-bentuk folklor yang termasuk bukan material antara lain: gerak isyarat tradisional, bunyi isyarat untuk komunikasi rakyat (kentongan tanda bahasa di Jawa atau bunyi gendang untuk mengirim berita seperti yang dilakukan di Afrika) dan musik rakyat.

Apapun bentuk dan wujud sebuah tradisi, merupakan bagian dari folklor. Folklor merupakan bagian dari kebudayaan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Kehadirannya merupakan perwujudan dari kesadaran suatu masyarakat. Masyarakat yang membuat, menerima, mengubah atau menolaknya. Pada dasarnya tradisi telah lama hidup di tengah-tengah masyarakat dan diwariskan secara turun- temurun sebagai norma dalam kehidupan sesuai kebudayaan masing-masing.

Berdasarkan bentuk folklor di atas, tarian Kuda Lumping Turonggo Tri Budoyo termasuk ke dalam jenis folklor sebagian lisan karena kesenian kuda lumping ini adalah salah satu contoh tarian rakyat. Unsur lisan yang ada dalam kesenian kuda lumping ini adalah cara penyebarannya yang dilakukan secara lisan, dari mulut ke mulut. Usia kesenian ini juga sangat sulit dilacak, karena hanya diwariskan secara turun-temurun. Unsur bukan lisannya bahwa dalam kesenian tari kuda lumping tersebut terdapat gerak-gerak isyarat.