• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Laporan Keuangan Pemerintah Daerah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Konsep Laporan Keuangan Pemerintah Daerah

Menurut Standar Akuntansi Keuangan (SAK) 2015, laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan . laporan keuangan daerah yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan realisasi anggaran, laporan operasional, laporan perubahan modal atau ekuitas, dan laporan arus kas.

Maka, secara umum laporan keuangan daerah adalah catatan informasi keuangan daerah pada satu periode akuntansi yang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja suatu instansi pemerintah dengan menggunakan analisis rasio keuangan.

Laporan keuangan adalah produk akhir dari proses akuntansi yang telah dilakukan. Laporan keuangan yang disusun harus memenuhi prinsip-prinsip yang dinyatakan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Laporan Keuangan yang dihasilkan dari masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang kemudian dijadikan dasar dalam membuat Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi/

Kabupaten/ Kota.

Menurut Erlina (2013:20) laporan keuangan daerah suatu hasil dari proses pengidentifikasian, pengukuran, pencatatan, dari transaksi ekonomi (keuangan) dari entitas pemerintah daerah yang dijadikan sebagai informasi dalam rangka pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah dan

pengambilan keputusan ekonomi oleh pihak-pihak eksternal entitas pemerintah daerah yang memerlukannya.

Laporan keuangan pemerintah daerah yang merupakan gabungan dari laporan keuangan SKPD yang ada dalam pemerintahan daerah itu disusun untuk menyediakan informasi yang relevan mengenai posisi keuangan dan seluruh transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pemerintah daerah selama satu periode pelaporan. Laporan keuangan daerah yang telah di uji dan dianalisis tersebutkemudian digunakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan seperti Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPR), Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Kreditor, Donatur, Analis Ekonomi dan Pemerintah Daerah lainnya dan Pemerintah Pusat.

D. Good Governance dalam keuangan publik

Good Governance adalah tata kelola organisasi secara baik dengan

prinsip-prinsip keterbukaan, keadilan, dan dapat dipertanggungjawabkan dalam rangka mencapai tujuan organisasi.

Menurut Halim (2009:18) menyatakan bahwa Good Governance merupakan isu relevan dalam pengelolaan administrasi publik. Pola-pola lama penyelenggaraan pemerintah tidak sesuai lagi bagi tatanan masyarakat yang telah berubah. Oleh karena, tuntutan itu merupakan hal yang wajar dan sudah seharusnya direspon oleh pemerintah dengan melakukan perubahan-perubahan yang terarah pada terwujudnya penyelenggaraan pemerintahan yang baik. Good Governance diarahkan pada pencapaian tujuan nasional ,

serta pemerintah yang berfungsi secara ideal, yaitu secara efektif dan efisien dalam melakukan upaya untuk mencapai tujuan nasional.

Adapun prinsip dasar good governance adalah sebagai berikut :

a. Public participation, yaitu Setiap warga negara mempunyai suara dalam pembuatan keputusan, baik secara langsung maupun melalui intermediasi yang mewakili kepentingan.

b. Rule of Law, yaitu Kerangka hukum harus adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu, terutama hukum untuk hak asasi manusia.

c. Transparancy, yaitu Transparansi dibangun atas dasar kebebasan arus informasi. Proses, lembaga, dan informasi secara langsung dapat diterima oleh pihak-pihak yang membutuhkan.

d. Responsiveness, yaitu embaga-lembaga dan proses-proses harus mencoba untuk melayani setiap stakeholders.

e. Consensus Orientation, yaitu Good Governance menjadi perantara kepentingan yang berbeda untuk memperoleh pilihan terbaik bagi kepentingan yang lebih luas dalam hal kebijakan-kebijakan maupun prosedur-prosedur.

f. Equity, yaitu Semua warga negara mempunyai kesempatan untuk meningkatkan atau menjaga kesejahteraan mereka.

g. Effectiveness and Efficiency, yaitu Proses dan lembaga menghasilkan public goods dan services sesuai dengan apa digariskan dengan menggunakan sumber-sumber yang tersedia sebaik mungkin.

h. Strategic vision, yaitu Para pimpinan organisasi publik harus mempunyai perspektif good governance dan pengembangan manusia yang jauh kedepan.

E. Akuntabilitas Dan Good Government Governance

Terselenggaranya good government governance (kepemerintahan yang baik) merupakan prasyarat bagi setiap pemerintah untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dalam mencapai tujuan serta cita-cita bangsa bernegara.

1. Akuntabilitas sebagai suatu Konsep

Akuntabilitas sebagai suatu sistem dan agar dapat memahami secara utuh, perlu memperhatikan beberapa hal yaitu : perkembangan, jenis, tantangan, hambatan, lingkungan yang mempengaruhi terselenggaranya akuntabilitas, hal yang perlu diperhatikan, dan media akuntabilitas.

2. Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah

Menurut Abdul Halim (2009: 89) Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan seseorang/badan hukum atau pimpinan suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau kewajiban untuk meminta keterangan atas pertanggungjawaban. berdasarkan hal tersebut di atas bahwa semua instansi di pusat maupun di daerah harus sesuai dengan tugas masing-masing harus memahami akuntabilitasnya untuk melihat kegagalan pelaksanaan instansi yang bersangkutan.

3. Akuntabilitas publik dan Good Government Governance

Pengelolaan keuangan yang baik membuat setiap aktivitas yang dilakukan oleh pemerintah dapat dipertanggungjawabkan secara finansial.

Oleh karena itu, pengelolaan keuangan yang baik akan menciptakan akuntabilitas. Akuntabilitas publik merupakan kewajiban-kewajiban dari individu atau pengusaha yang dipercayakan untuk mengelolah sumber daya publik dan yang bersangkutan dengannya untuk pemerintah kepada publik.

Dengan pengertian lebih luas, akuntabilitas berarti pelayanan kepada publik dan pertanggungjawaban kepada publik. Pelaksanaan Akuntabilitas di lingkungan instansi pemerintah dapat dilihat dari :

a. Perencanaan Strategik

Perencanaan Strategik,yaitu Dalam sistem akuntabilitas kinerja keuangan instansi pemerintah, perencanaan strategik instansi pemerintah memerlukan integritas antara keahlian sumber daya manusia dan sumber daya lain agar mampu menjawab tuntutan perkembangan lingkungan strategi nasional global.

b. Pengukuran Kinerja

Pengukuran Kinerja yaitu Dengan disusunnya perencanaan strategik yang jelas, perencanaan operasional yang terukur, maka dapat diharapkan tersedia pembenaran yang logis dan argumentasi yang memadai untuk mengatakan suatu pelaksanaan program berhasil atau tidak. Pengukuran kinerja terdiri dari penetapan indikator kinerja, penetapan capaian kinerja, dan formulir pengukuran kinerja.

c. Evaluasi Kinerja

Evaluasi Kinerja yaitu Setelah tahap kinerja dilalui, berikutnya adalah tahap evaluasi kinerja, dimulai dengan menghitung nilai capaian dan pelaksanaan kegiatan. Kemudian dilanjutkan dengan perhitungan pelaksanaan program didasarkan pada pembobotan dan setiap kegiatan yang ada dalam suatu program.

d. Pelaporan

Pelaporan yaitu Laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah harus disampaikan oleh instansi dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, kabupaten/kota.penyusunan laporan harus jujur, objektif, dan transparansi, dan perlu memperhatikan prinsip pertanggungjawaban, prinsip pengecualian, dan prinsip manfaat.

Akuntabilitas publik mempunyai tahapan, yaitu : pelaporan merupakan pemerintah untuk melaporkan dan mempertanggungjaabkan hasil kinerjanya, pencarian informasi atau investigasi, penilaian atau verifikasi, dan pengendalian serta pengarahan. Evaluasi dan penilaian akuntabilitas terhadap kinerja pemerintah bertujuan untuk memberikan informasi yang memadai dan bermanfaat baik dalam pengambilan

F. Pengelolaan Keuangan Daerah

Keuangan daerah dapat diartikan sebagai “semua hak dan kewajiban yang dapat di nilai dengan uang, juga segala satuan, baik berupa uang maupun barang, yang dapat di jadikan kekayaan daerah sepanjang sebelum dimiliki/dikuasai oleh negara atau daerah yang lebih tinggi serta pihak-pihak

lain sesuai ketentuan/peraturan perundangan yang berlaku “(Mamesa, 1995, dalam Halim, 2007;23).

Menurut Halim (2009: 24) menyatakan Pengelolaan Keuangan daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan.

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 1 ayat 5, keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalam segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut, dalam rangka Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Pengelolaan keuangan daerah merupakan seluruh kegiatan yang meliputi : 1. Manajemen Belanja Daerah

Manajemen Belanja Daerah yaitu ukuran kinerja yang ditentukan dari pemerintah pusat, yaitu bahwa jumlah pengeluaran rutin yang tertera dalam anggaran daerah adalah jumlah maksimal yang dapat dibelanjakan untuk setiap pos pengeluaran rutin. Kelemahan manajemen belanja daerah adalah tidak adanya acuan bagi pemerintah daerah dalam proses perencanaan, ratifikasi, implementasi, dan evaluasi pengeluaran rutin daerah. Manajemen belanja daerah merupakan jumlah dana untuk pengeluaran pembangunan yang tertera dalam anggaran daerah yaitu jumlah dana maksimal yang dapat dibelanjakan untuk setiap pos pengeluaran pembangunan.

2. Strategi Pemecahannya

Strategi Pemecahannya yaitu Perencanaan dan pengendalian dapat dilihat sebagai serangkaian tahapan aktivitas manajemen yang berkesinambungan sehingga sehingga membentuk suatu siklus. Artinya, suatu tahapan tertentu akan terkait dengan tahapan yang lain dan integrasi dalam suatu siklus. Siklus perencanaan dan pengendalian terdiri dari 5 tahapan, yaitu perencanaan tujuan dasar dan sasaran, perencanaan operasional, penganggaran, pengendalian dan pengukuran serta pelaporan, analisis, dan umpan balik.

3. Prinsip-prinsip Public Expenditure Management

Di dalam Public Expenditure Management handbook disebutkan bahwa penganggaran kinerja yang berorientasi pada pencapaian hasil(output) dengan input pengeluaran anggaran setidaknya harus mempertimbangkan prinsip-prinsip pengelolaan pengeluaran daerah.

Adapun prinsip-prinsip tersebut yaitu akuntabilitas, Value For Money, kejujuran, transparansi, dan pengendalian.

4. Anggaran Kinerja dan Analisis Standar Belanja

Anggaran dengan pendekatan kinerja adalah sistem anggaran yang mengutamakan kepada upaya pencapaian hasil kerja (output) dari perencanaan alokasi biaya (input) yang ditetapkan. Anggaran disusun memuat sasaran yang ditetapkan menurut fungsi belanja, standar pelayanan yang diharapkan dan perkiraan biaya, serta jumlah pendapatan APBD untuk membiayai belanja administrasi umum, belanja operasi, dan belanja modal/pembangunan.

5. Plafon Anggaran

Plafon anggaran adalah batasan anggaran tertinggi/maksimum yang dapat diberikan atas suatu kegiatan atau unit fungsional. Perkiraan plafon anggaran ditujukan untuk menghasilkan alokasi dana yang akurat, adil dan mampu memberikan insentif bagi setiap unit kerja untuk melakukan prinsip value for money.

6. Tolok Ukur Kinerja

Tolok Ukur Kinerja adalah ukuran keberhasilan yang dicapai pada unit kerja perangkat daerah.

7. Standar Biaya

SAB adalah perkiraan jumlah pengeluaran ( alokasi dana) untuk setiap unit kerja pemerintah daera, program kerja dan/atau unit kegiatan pemerintah daerah yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu tingkat pelayanan publik tertentu sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat.

Penentuan kebutuhan pengeluaran daerah diformulasikan sebagai berikut :

Satuan ukur x Anggaran x Indeks penyesuaian

G. Audit Dan Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Daerah

Pemerintahan yang baik ditandai dengan 3 elemen yaitu partisipasi, transparansi, dan akuntabilitas. Untuk mewujudkan hal tersebut setiap kegiatan pemerintah harus diaudit atau diawasi dan diperiksa agar diketahui sejauh mana partisipasi, transparansi, dan akuntabilitas kegiatan pemerintah.

Badan Pengawasan Daerah (BAWASDA) selaku pengawasan intern pemerintah daerah menjadi sangat penting ketika kewenangan dan tanggung jawab pemerintah daerah semakin besar sebagai konsekuensi dengan diberlakukannya UU No. 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah.

1. Peranan BAWASDA sebagai Instrumen Internal Audit.

Menurut Halim (2009 :41) Pengawasan keuangan daerah merupakan bagian integral dari pengelolaan keuangan daerah. Pengawasan keuangan daerah pada dasarnya mencakup segala tindakan untuk menjamin agar pengelolaan keuangan daerah berjalan dengan rencana, ketentuan dan undang-undang yang berlaku. Pengawasan keuangan daerah dimulai dari perencanaan kegiatan, pelaksanaan kegiatan dan pelaporan terhadap kegiatan yang dilaksanakan.

Pengawasan pengelolaan keuangan daerah menurut peraturan pemerintah nomor 105 tahun 2000 tentang pengelolaan dan pertanggungjawaban Keuangan Daerah sbb :

a. Pengawasan atas pelaksanaan APBD dilakukan oleh DPRD.

b. Kepala Daerah mengangkat pejabat yang bertugas melakukan pengawasan intern pengelolaan keuangan daerah.

c. Pejabat pengawas internal pengelolaan daerah tidak diperkenankan merangkap jabatan lain di pemerintah daerah.

d. Pejabat pengawas internal pengelolaan keunagan daerah harus melaporkan hasil pengawasannya kepada kepala daerah.

2. Peranan BAWASDA dalam reformasi pengawasan keuangan daerah.

a) Reformasi pertanggungjawaban keuangan daerah

Sesuai dengan UU Nomor 32 Tahun 2004 dan UU Nomor 33 Tahun 2004 terdapat tiga jenis pertanggungjawaban keuangan daerah yaitu Pertanggungjawaban pembiayaan pelaksanaan dekonsentrsi, pertanggungjawaban pelaksanaan pembiayaan pembantuan, dan Pertanggungjawaban APBD.

b) Reformasi Kelembagaan

Menurut Halim dan Damanik (2009: 47) menyatakan sistem pemerintah negara menurut UUD 1945 menganut pembagian kekuasaan di antara eksekutif dan yudikatif untuk menciptakan keseimbangan kekuasaan dan saling mengawasi(check and balance) diantara kekuasaan tersebut. Pengawasan keuangan daerah yang bersifat internal terhadap penggunaan keuangan daerah di awadi oleh BAWASDA masih belum menunjukkan kinerja optimal karena :

a. Permaslahan internal badan pengawas yang meliputi antara lain personil dan kelembagaan.

b. Permasalahan yang sifatnya eksternal yaitu permaslahan efektifitas sistem pengawasan keuangan daerah yang terkait dengan masalah struktur lembaga audit pemerintah pusat dan daerah.

3. Peranan BAWASDA dalam pelaksanaan otonomi daerah.

Otonomi daerah dan desentralisasi fiskal memberikan keleluasaan bagi pemerintah daerah dalam melakukan pengelolaan keuangan daerah. Salah

satu hal yang dilakukan untuk mengantisipasi penyimpangan dan penyelewengan keuangan daerah yaitu :

a. Pengawasan Kinerja Pemerintah Derah

Ada tiga aspek utama yang mendukung keberhasilan otonomi daerah yaitu : pengawasan, pengendalian, dan pemeriksaan (Mardiasmo dan Halim : 2009 Hal 48).

Pengawasan mengacu pada kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat dan DPRD untuk mengawasi kinerja keuangan.

Pengendalian adalah mekanisme yang digunakan pemerintah daerah untuk melaksanakan sistem dan kebijakan manajemen sehingga tujuan ekonomi dapat tercapai. Dan pemeriksaan adalah kegiatan yang dilakukan untuk memeriksa apakah hasil kerja pemerintah daerah telah sesuai dengan standar atau kriteria yang ada.

Bentuk pertanggungjawaban publik oleh pemerintah daerah dapat dilaksanakan dengan empat bentuk cakupan akuntabilitas publik, yaitu akuntabilitas kebijakan, akuntabilitas program, akuntabilitas proses dan akuntabilitas hukum dengan peradilan.

H. Konsep Analisis Rasio Keuangan

Menurut Mahmudi (2010,88) analisis rasio keuangan merupakan perbandingan antara dua angka yang datanya dari elemen laporan keuangan.

Analisis rasio keuangan dapat digunakan untuk mengintepretasikan perkembangan kinerja dari tahun ke tahun dan membandingkannya dengan kinerja organisasi lain yang sejenis. Analisis rasio keuangan pada APBD

dilakukan dengan cara membandingkan hasil yang dicapai oleh suatu daerah dari satu periode terhadap periode sebelumnya, sehingga dapat diketahui bagaimana kecenderungan yang terjadi. Dalam penelitian ini, pengukuran kinerja keuangan daerah dilakukan dengan menggunakan rasio-rasio sebagai berikut:

a. Rasio derajat desentralisasi fiskal

Rasio derajat desentralisasi fiskal adalah ukuran yang menunjukkan tingkat kewenangan dan tanggung jawab yang diberikan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk melaksanakan pembangunan. Menurut Mahmudi (2010), derajat desentralisasi dihitung berdasarkan perbandingan antara jumlah Pendapatan Asli Daerah dengan Total Penerimaan Daerah.

Semakin tinggi kontribusi PAD, semakin tinggi juga kemampuan pemerintah daerah dalam penyelenggaraan desentralisasi. Dirumuskan sebagai berikut :

Tabel 1. Pola pengukuran Derajat disentraisasi fiskal Persentase PAD terhadap TPD(%) KriteriaDerajat Desentralisasi Fiskal

0,00-10,00 Sangat Kurang

10,01-20,00 Kurang

20,01-30,00 Sedang

30,01-40,00 Cukup

40,01-50,00 Baik

>50,00 Sangat Baik

Sumber: Tim Litbang Depdagri dalam (Bisma dan Susanto, 2010)

b. Rasio efektivitas

Rasio efektivitas, Halim (2008) menyatakan bahwa Rasio Efektivitas menggambarkan kemampuan Pemerintah Daerah dalam merealisasikan

Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang direncanakan, kemudian dibandingkan dengan target yang ditetapkan berdasarkan potensi riil daerah. Semakin tinggi Rasio Efektivitas menggambarkan kemampuan daerah yang semakin baik. Di rumuskan sebagai berikut :

Tabel 2 Kriteria Efektivitas Kinerja Keuangan Persentase Kinerja Keuangan (%) Kriteria

Di atas 100 Sangat Efektif

100 Efektif

90 – 99 Cukup Efektif

75 – 89 Kurang Efektif

Di bawah 75 Tidak Efektif

Sumber: Mahmudi, 2010.

c. Rasio Aktivitas Keuangan Daerah

Rasio ini menggambarkan bagaimana pemerintah daerah memprioritaskan alokasi dananya pada belanja rutin/belanja operasi dan belanja pembangunan/

belanja modal secara optimal. Semakin tinggi presentase dana yang dialokasikan untuk belanja rutin berarti persentase belanja investasi (belanja pembangunan) yang digunakan untuk menyediakan sarana prasarana ekonomi masyarakat cenderung semakin kecil. rasio belanja pembangunan yang relatif masih kecil perlu ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan pembangunan di daerah (Halim dalam Lutfia 2011). Dengan rumus sebagai berikut:

I. Penelitian Terdahulu

Rahmawati, dan Putra (2016), Meneliti tentang Analisis analisis kinerja keuangan pemerintah kabupaten Sumbawa tahun anggaran 2010-2012.

menyatakan bahwa Penelitian ini menggunakan Metode analisis deskriptif.

Hasil penelitian berdasarkan Pedoman Penilaian dan Kinerja Keuangan pada Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Minahasa secara keseluruhan, rata-rata tingkat efektivitas pengelolaan keuangan daerah pada Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Minahasa selama tahun anggaran 2010 sampai dengan tahun 2014 dinyatakan sangat efektif.

Zuhri dan soleh (2015) meneliti tentang Analisis Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Kaur. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, dengan hasil penelitian mengatakan bahwa Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Kaur tahun 2001-2014 jika dilihat dari Rasio Kemandirian Keuangan Daerah tergolong rendah sekali. Rasio Efektivitas PAD diketahui bahwa efektivitas PADnya tahun 2011, 2013 dan 2014 berjalan Kurang Efektif, namun pada tahun 2012 berjalan sangat efektif.

Rasio Aktivitas dari sisi Rasio Belanja Operasi tergolong baik yakni dengan nilai rasio antara 50%-100%, sedangkan Rasio Belanja Modal tergolong tidak baik karena memiliki nilai rasio kurang dari 50%. Pertumbuhan PAD Kabupaten Kaur mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, namun

pertumbuhan tersebut tergolong pertumbuhan sedang dengan nilai rata-rata pertahun sebesar 45,22% per tahun.

Ahmad David Darissalam (2014) meneliti tentang Analisis Kemampuan Dan Kinerja Keuangan Daerah Kabupaten Nganjuk Dalam Mendukung Keberhasilan Pelaksanaan Otonomi Daerah Pada Tahun 2013 menyatakan bahwa Penelitian ini menggunakan metode analisis Deskriptif Kuantitatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dari hasil penelitian menunjukkan Derajat Desentralisasi Fiskal Kabupaten Nganjuk sangat kurang (<10%) dan menunjukkan Pola Hubungan Tingkat Kemampuan Daerah yang Instruktif, yang berarti kebijakan pemerintah yang diambil harus mendapat persetujuan dari Pemerintah Pusat.

Maria Regina Tobi dan Farida idayati (2016), melakukan penelitian tentang Analisis Kinerja Keuangan Pemerintah Kabupaten Flores Timur..

Hasil penelitian analisis Kinerja Keuangan Daerah dapat disimpulkan, bahwa pola hubungan serta tingkat kemandirian daerah Kabupaten Flores Timur berada pada kriteria instruktif. Tingkat Derajat Desentralisasi Fiskal Pemerintah Daerah Kabupaten Flores Timur masih kurang namun, tingkat Efektivitas pengelolaan keuangan daerah Kabupaten Flores Timur terbilang sangat efektif dan tingkat Efisiensi pengelolaan keuangan daerah Kabupaten Flores Timur terbilang kurang efisien. Rasio Keserasian Belanja menunjukkan antara belanja langsung dan belanja tidak langsung yang belum seimbang.

Muhammad yoga perwira (2013) melakukan penelitian tentang Analisis Kinerja Keuangan Pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan Dan Aset

Daerah Kabupaten Klaten Tahun 2007-2013. Metode analisis data adalah metode deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk mengumpulkan, menyusun, membandingkan, menganalisis, dan interpretasi data yang akhir.

Dan hasil penelitian ini yaitu Rasio Pajak Daerah terhadapa Pendapatan Asli Daerah dan Rasio Kemandirian Kinerja Keuangan Kabupaten Klaten dari tahun 2007 hingga tahun 2013 menggambarkan kecenderungan arah penerimaan Pajak Daerah serta kecenderungan arah perkembangan kemandirian keuangan yang cenderung naik dilihat dari Analisis Trend untuk Rasio Pajak Daerah terhadap Pendapatan Asli Daerah dan Rasio Kemandirian.

Yofandi Himran, dkk (2013) melakukan penelitian tentang Analisis Kinerja Keuangan Dan Efektifitas Pengelolaan Keuangan Daerah Tahun 2007–2013 Di Kabupaten Banggai. Penelitian ini bertujuan mengetahui besar kecilnya tingkat kemandirian, ketergantungan dan desentralisasi selama kurun waktu 2007-2013, di kabupaten banggai dan dari hasil analisis dapat di lihat rata-rata kinerja keuangan daerah menggambarkan kinerja keuangan yang belum optimal dalam menjalankan atau melaksanakan otonomi daerah, hal itu dapat di lihat dari hasil PAD yang di capai masih sangat kecil dan dapat di tunjukan dengan indikator-indikator kinerja keuangan daerah.

Wening Wilantri (2017) melakukan penelitian tentang Analisis Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota Di Jawa Tengah Periode 2012-2014. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kemandirian daerah tergolong sangat rendah dan pola hubungannya instruktif, rata-rata

tingkat efektivitas keuangan daerah Kabupaten/Kota di Jawa Tengah tergolong efektif, rata-rata tingkat efisiensi tergolong kurang efisien, rasio keserasian yang menjelaskan bahwa hasil belanja rutin lebih diprioritaskan dibandingkan belanja modal, kemampuan keuangan daerah yang ditunjukkan dengan indeks growth dan share tergolong dalam kuadran II dan kuadran III yang menyebabkan kondisi belum ideal, rasio ekonomi periode 2012-2014 yang sudah tergolong ekonomis dan rasio ketergantungan keuangan daerahnya yang sangat tinggi.

Tabel 3. Review penelitian terdahulu

No Nama Peneliti Judul Metode Dan

Variabel selama tahun anggaran 2010 sampai

dengan tahun 2014 dinyatakan 2001-2014 jika dilihat dari Rasio

Kemandirian Keuangan Daerah tergolong rendah sekali. Rasio Efektivitas PAD diketahui bahwa

efektivitas PADnya tahun 2011, 2013 dan 2014 berjalan Kurang Efektif, namun pada tahun 2012 berjalan sangat efektif. Rasio Aktivitas dari sisi Rasio Belanja

Operasi tergolong baik yakni dengan nilai rasio antara 50%-100%, sedangkan Rasio Belanja

Modal tergolong tidak baik karena memiliki nilai rasio kurang dari 50%. Pertumbuhan PAD Kabupaten Nganjuk sangat kurang (<10%) dan

menunjukkan Pola Hubungan Flores Timur masih kurang namun, tingkat Efektivitas pengelolaan keuangan daerah Kabupaten Flores Timur terbilang sangat efektif dan tingkat Efisiensi pengelolaan

Rasio Pajak Daerah terhadap PAD dan Rasio Kemandirian Kinerja Keuangan Kabupaten Klaten dari

tahun 2007 hingga tahun 2013 menggambarkan kecenderungan arah penerimaan Pajak Daerah serta

kecenderungan arah perkembangan kemandirian keuangan yang

2013. yang akhir. cenderung naik dilihat dari Analisis Trend untuk Rasio Pajak Daerah

terhadap PAD dan Rasio

hasil analisis dapat di lihat rata-rata kinerja keuangan daerah menggambarkan kinerja keuangan

yang belum optimal dalam menjalankan atau melaksanakan

otonomi daerah, hal itu dapat di lihat dari hasil PAD yang di capai

masih sangat kecil dapat di tunjukan dengan indikator kinerja tergolong sangat rendah dan pola hubungannya instruktif, rata-rata bahwa hasil belanja rutin lebih diprioritaskan dibandingkan belanja

modal, kemampuan keuangan daerah yang ditunjukkan dengan indeks growth dan share tergolong

dalam kuadran II dan kuadran III yang menyebabkan kondisi belum ideal, rasio ekonomi periode

2012-2014 yang sudah tergolong ekonomis dan rasio ketergantungan

keuangan daerahnya yang sangat tinggi.

J. Kerangka Pikir

Kantor Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Jeneponto adalah salah satu

Kantor Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Jeneponto adalah salah satu

Dokumen terkait