B. KODE ETIK BIDAN INDONESIA
1. Konsep Managemen
1. Konsep Dan Prinsip Manajemen Pada Umumnya
Kata Manajemen berasal dari bahasa Perancis kuno ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan diterima secara universal.
Mary Parker Follet, misalnya mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi.
Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.
2. Fungsi manajemen
Fungsi manajemen adalah elemen-elemen dasar yang akan selalu ada dan melekat di dalam proses manajemen yang akan dijadikan acuan oleh manajer dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan.Fungsi manajemen pertama kali diperkenalkan oleh seorang industrialis Perancis bernama Henry Fayol pada awal abad ke-20.Ketika itu, ia menyebutkan lima fungsi manajemen, yaitu merancang, mengorganisir, memerintah, mengordinasi, dan mengendalikan. Namun saat ini, kelima fungsi tersebut telah diringkas menjadi tiga, yaitu:
a. Perencanaan (planning) adalah memikirkan apa yang akan dikerjakan dengan sumber yang dimiliki. Perencanaan dilakukan untuk menentukan tujuan perusahaan secara keseluruhan dan cara terbaik untuk memenuhi tujuan itu. Manajer mengevaluasi berbagai rencana alternatif sebelum mengambil tindakan dan kemudian melihat apakah rencana yang dipilih cocok dan dapat digunakan untuk memenuhi tujuan perusahaan. Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan, fungsi-fungsi lainnya tak dapat berjalan.
b. Pengorganisasian (organizing) dilakukan dengan tujuan membagi suatu kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih kecil. Pengorganisasian mempermudah manajer dalam melakukan pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas yang telah dibagi-bagi tersebut. Pengorganisasian dapat dilakukan dengan cara menentukan tugas apa yang harus dikerjakan, siapa yang harus mengerjakannya, bagaimana tugas-tugas tersebut dikelompokkan, siapa yang bertanggung jawab atas tugas tersebut, pada tingkatan mana keputusan harus diambil.
c. Pengarahan (directing) adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial dan usaha.
3. Unsur-unsur manajemen
Untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan diperlukan alat-alat sarana (tools). Tools merupakan syarat suatu usaha untuk mencapai hasil yang ditetapkan. Tools tersebut dikenal dengan 6M, yaitu men, money, materials, machines, method,
dan markets.[rujukan?]
Man merujuk pada sumber daya manusia yang dimiliki oleh organisasi.
Dalam manajemen, faktor manusia adalah yang paling menentukan. Manusia yang membuat tujuan dan manusia pula yang melakukan proses untuk mencapai tujuan. Tanpa ada manusia tidak ada proses kerja, sebab pada dasarnya manusia adalah makhluk kerja. Oleh karena itu, manajemen timbul karena adanya orang-orang yang berkerja sama untuk mencapai tujuan.
Money atau Uang merupakan salah satu unsur yang tidak dapat diabaikan.
Uang merupakan alat tukar dan alat pengukur nilai. Besar-kecilnya hasil kegiatan dapat diukur dari jumlah uang yang beredar dalam perusahaan. Oleh karena itu uang merupakan alat (tools) yang penting untuk mencapai tujuan karena segala sesuatu harus diperhitungkan secara rasional. Hal ini akan berhubungan dengan berapa uang yang harus disediakan untuk membiayai gaji tenaga kerja, alat-alat yang dibutuhkan dan harus dibeli serta berapa hasil yang akan dicapai dari suatu organisasi.
Material terdiri dari bahan setengah jadi (raw material) dan bahan jadi.
Dalam dunia usaha untuk mencapai hasil yang lebih baik, selain manusia yang ahli dalam bidangnya juga harus dapat menggunakan bahan/materi-materi sebagai salah satu sarana. Sebab materi dan manusia tidaki dapat dipisahkan, tanpa materi tidak akan tercapai hasil yang dikehendaki.
Machine atau Mesin digunakan untuk memberi kemudahan atau
menghasilkan keuntungan yang lebih besar serta menciptakan efesiensi kerja.
Metode adalah suatu tata cara kerja yang memperlancar jalannya pekerjaan
manajer. Sebuah metode daat dinyatakan sebagai penetapan cara pelaksanaan kerja suatu tugas dengan memberikan berbagai pertimbangan-pertimbangan kepada sasaran, fasilitas-fasilitas yang tersedia dan penggunaan waktu, serta uang dan kegiatan usaha. Perlu diingat meskipun metode baik, sedangkan orang yang melaksanakannya tidak mengerti atau tidak mempunyai pengalaman maka hasilnya tidak akan memuaskan. Dengan demikian, peranan utama dalam manajemen tetap manusianya sendiri.
Market atau pasar adalah tempat di mana organisasi menyebarluaskan
(memasarkan) produknya. Memasarkan produk sudah barang tentu sangat penting sebab bila barang yang diproduksi tidak laku, maka proses produksi barang akan berhenti. Artinya, proses kerja tidak akan berlangsung. Oleh sebab itu, penguasaan pasar dalam arti menyebarkan hasil produksi merupakan faktor menentukan dalam perusahaan. Agar pasar dapat dikuasai maka kualitas dan harga barang harus sesuai dengan selera konsumen dan daya beli (kemampuan) konsumen.
4. Prinsip Manajemen
Prinsip-prinsip dalam manajemen bersifat lentur dalam arti bahwa perlu dipertimbangkan sesuai dengan kondisi-kondisi khusus dan situasi-situasi yang berubah.
Menurut Henry Fayol, seorang pencetus teori manajemen yang berasal dari Perancis, prinsip-prinsip umum manajemen ini terdiri dari:
a. Pembagian kerja (Division of work)
c. Disiplin (Discipline)
d. Kesatuan perintah (Unity of command) e. Kesatuan pengarahan (Unity of direction)
f. Mengutamakan kepentingan organisasi di atas kepentingan sendiri g. Penggajian pegawai
h. Pemusatan (Centralization) i. Hirarki (tingkatan)
j. Ketertiban (Order) k. Keadilan dan kejujuran l. Stabilitas kondisi karyawan
m. Prakarsa (Inisiative)Semangat kesatuan, semangat korps.
2. Pengertian Manajemen Kebidanan
Manajemen kebidanan adalah suatu metode proses berfikir logis sistematis. Oleh karena itu manajemen kebidanan merupakan alur fikir bagi seorang bidan dalam memberikan arah/kerangka dalam menangani kasus yang menjadi tanggung jawabnya. 1. Pengertian manajemen kebidanan menurut beberapa sumber :
a. Menurut buku 50 tahun IBI, 2007
Manajemen kebidanan adalah pendekatan yang digunakan oleh bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis mulai dari pengkajian, analisis data, diagnosa kebidanan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
b. Menurut Depkes RI, 2005
Manajemen kebidanan adalah metode pendekatan pemecahan masalah ibu dan anak yang khusus dilakukan oleh bidan dalam memberikan asuhan kebidanan kepada individu, keluarga, dan masyarakat.
c. Menurut Helen Varney (1997)
Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, ketrampilan dalam rangkaian/tahapan yang logis untuk pengambilan suatu keputusan berfokus pada klien.
2. Prinsip proses manajemen kebidanan menurut Varney
Proses manajemen kebidanan sesuai dengan standart yang dikeluarkan oleh American
College of Nurse Midwife (ACNM) terdiri dari :
a. Secara sistematis mengumpulkan data dan memperbaharui data yang lengkap dan relevan dengan melakukan pengkajian yang keomprehensif terhadap kesehatan setiap klien, termasuk mengumpulkan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik. b. Mengidentifikasi masalah dan membuat diagnosa berdasarkan interpretasi data
c. Mengidentifikasi kebutuhan terhadap asuhan kesehatan dalam menyelesaikan masalah dan merumuskan tujuan asuhan kesehatan bersama klien.
d. Memberi informasi dan support sehingga klien dapat membuat keputusan dan bertanggung jawab terhadap kesehatannya.
e. Membuat rencana asuhan yang komprehensif bersama klien.
f. Secara pribadi bertanggungjawab terhadap implementasi rencana individual g. Melakukan konsultasi, perencanaan dan melaksanakan manajemen dengan
berkolaborasi dan merujuk klien untuk mendapatkan asuhan selanjutnya.
h. Merencanakan manajemen terhadap komplikasi tertentu, dalam situasi darurat dan bila ada penyimpangan dari keadaan normal.
i. Melakukan evaluasi bersama klien terhadap pencapaian asuhan kesehatan dan merevisi rencana asuhan sesuai dengan kebutuhan.
3. Langkah-Langkah Manajemen Kebidanan
Penerapan manajemen kebidanan dalam bentuk kegiatan praktek kebidanan dilakukan melalui suatu proses yang disebut langkah-langkah atau proses manajemen kebidanan. Langkah-langkah manajemen kebidanan tersebut adalah:
a. Identifikasi dan analisis masalah b. Diagnosa kebidanan
c. Perencanaan d. Pelaksanaan e. Evaluasi
Tujuh langkah manajemen kebidanan menurut Helen Varney th 1997
a. Langkah I : Mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk menilai keadaan klien secara keseluruhan
b. Langkah II : Mengintreprestasikan data untuk mengidentifikasi diagnosa/ masalah c. Langkah III : Mengidentifikasi diagnosis/masalah potensial dan menganti-sipasi
penanganannya
d. Langkah IV : Menetapkan kebutuhan akan tindaakn-segera, konsultasi, kolaborasi, dengan tenaga kesehatn lain, serta rujukan berdasarkan kondisi klien e. Langkah V : Menyusunrencana asuhan secar menyeluruh denga tepat dan rasional
berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah-langkah sebelumnya f. Langkah VI : Melaksanakan langsung asuhan secara efisien dan aman
g. Langkah VII : Mengevaluasi keefektifan asuhan yang diberikan dengan mengulang kembali manajemen proses untuk aspek-aspek asuhan yang tidak efektif
Bahan Ajar Pertemuan X
Ruang Lingkup Praktik Kebidanan dan Pengorganisasian Praktik Asuhan Kebidanan
Kompetensi Dasar :
Setelah mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa mampu menjelaskan tentang ruang lingkup praktik kebidanan melalui pendekatan inter atau multidisipliner melalui pengantar kebidanan di dalam pelayanan kebidanan
Tujuan Pembelajaran :
1. Tujuan Instruksional Umum :
Setelah mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa mampu menyimpulkan tentang model ruang lingkup praktik kebidanan yang berhubungan dengan pelayanan kebidanan di masyarakat
2. Tujuan Instruksional Khusus :
Setelah mengikuti pembelajaran, mahasiswa dapat menganalisis : a. Lingkup Praktik Kebidanan
1) Ruang Lingkup dan sasaran 2) Lahan praktik kebidanan
b. Pengorganisasian praktik asuhan kebidanan 1) Pelayanan mandiri
2) Kolaborasi 3) Rujukan
Materi Pembelajaran :Model Konseptual Asuhan Kebidanan
Metode Pembelajaran : Discovery Learning, Problem Based Learning (PBL), dan Diskusi
Rincian Materi :
A. Ruang Lingkup Dan Sasarannya 1. Ruang lingkup
Ruang lingkup praktik kebidanan berdasarkan Kepmenkes no 900/Menkes/SK/VII/2002.
Pelayanan kebidanan dimulai dari: a. pranikah,
b. pra kehamilan, c. selama kehamilan,
d. persalinan, e. nifas, f. menyusui,
g. Interval antara masa kehamilan h. menopause,
i. termasuk asuhan bayi baru lahir, bayi dan balita Pelayanan KB :
a. konseling KB,
b. penyediaan berbagai jenis alat kontrasepsi, c. nasehat dan tindakan bila terjadi efek samping Pelayanan kesehatan masyarakat :
a. Asuhan untuk keluarga yang mengasuh anak b. Pembinaan kesehatan keluarga
c. Kebidanan komunitas d. Persalinan di rumah e. Kunjungan rumah
f. Deteksi dini kelainan pada ibu dan anak 2. Lingkup praktik kebidanan :
Lingkup praktik kebidanan yang digunakan meliputi asuhan mandiri/otonomi pada anak-anak perempuan, remaja putri dan wanita desa sebelumnya, selama kehamilan dan selanjutnya. Hal ini berarti bidan memberikan:
a. Pengawasan yang diperlukan, asuhan serta nasehat bagi wanita selama masa hamil, bersalin, dan masa nifas.
b. Bidan menolong persalinan atas tanggung jawabnya sendiri dan merawat bayi baru lahir.
c. Asuhan kebidanan ini termasuk pengawasan pelayanan kesehatan masyarakat di Posyandu (tindakan dan pencegahan), penyuluhan dan pendidikan kesehatan pada ibu, keluarga berencana, deteksi kondisi abnormal pada ibu dan bayi, usaha memperoleh pendamping khusus bila diperlukan (kosultasi atau rujukan), dan pelaksanaan pertolongan kegawat daruratan primer dan sekunder pada saat tidak ada pertolongan medis.
d. Praktek kebidanan dilakukan dalam sistem pelayanan kesehatan yang berorientasi pada masyarakat lainnnya, dokter, perawat, dan dokter spesialis di pusat-pusat rujukan.
3. Lahan praktik pelayanan kebidanan meliputi :
a. Rumah Sakit b. Puskesmas
c. BKIA d. BPS
e. Komunitas / masyarakat
Praktik pelayanan kebidanan dapat dilakukan diberbagai lokasi, sesuai dengan kondisi lingkungan sekitar sehingga bidan dapat menjalankan praktik pada sarana kesehatan dan/atau praktek perorangan. Bidan dapat bertugas di poliklinik antenatal, neonatus/anak, ginekologi, keluarga berencana, kamar bersalin, kamar bedah obsgyn, ruang rawat obgyn dan perinatal.
Syarat utama yang harus dipenuhi untuk melaksanakan praktik pelayanan kebidanan adalah memiliki Surat Izin Praktik Bidan (SIPB) sebagai bukti tertulis pemberian kewenangan untuk menjalankan pelayanan asuhan kebidanan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Bidan dalam menjalankan praktiknya harus ;
a. Memiliki tempat dan ruangan praktik yang memenuhi persyaratan kesehatan. b. Menyediakan tempat tidur untuk pesalinan (1-5 tempat tidur).
c. Memiliki perawatan minimal sesuai dengan ketentuan dan melaksanakan prosedur tetap (protap) yang berlaku.
d. Menyediakan obat-obatan sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku.
e. Bidan yang menjalankan praktik harus mencantumkan SIPB atau fotocopi izin praktiknya di ruang praktik atau tempat yang mudah dilihat.
f. Bidan yang dalam praktiknya menyediakan lebih dari lima tempat tidak harus memperkerjakan tenaga bidan lain yang memiliki SIPB untuk membantu tugas pelayanannya.
B. Pengorganisasian Praktik Asuhan Kebidanan 1. Pelayanan Mandiri
Merupakan layanan kepada klien yang menjadi tanggung jawab bidan sepenuhnya sesuai dengan kepmenkes no 900/Menkes/SK/ VII/2002
Dalam memberikan layanan ini bidan yang berkompeten harus tahu kapan harus bertindak sesuai wewnwngnya, kapan tidak bertindak, kapan hanya memantau dengan ketat, kapan merujuk, konsultasi atau kolaborasi dengan dokter
2. Kolaborasi
Dilakukan bidan sebagai anggota tim, kegiatannya dilakukan secara bersama-sama atausebagai suatu roses pelayanan kesehatan mis: merawat ibu hamil dengan komplikasi medik atau obstetrik.
Tujuan pelayanan: berbagi otoritas dalam pemberian pelayanan berkualitas sesuai ruang lingkup masing-masing
Kemampuan untuk berbagi tanggung jawab antara bidan dan dokter sangat penting agar bisa saling menghormati, saling mempercayai dan menciptakan komunikasi efektif antara kedua profesi
Tugas bidan dalam penatalaksanaan kolaborasi:
a. Melindungi dan memfasilitasi setiap proses yang bersifat normal
b. Menyediakan informasi yang bersifat tentang pilihan-pilihan yang bersifat aman c. Membantu ibu dalam pengambilan keputusan
d. Melibatkan keluarga e. Memberi advokasi
f. Penyuluhan dan konseling
g. Memberi asuhan berkesinambungan 3. Rujukan
Pengertian: memindahkan perawatan ke sistem pelayanan yang lebih tinggi jika dipertimbangkan ada kondisi patologis diluarwewnang bidan
Fungsi bidan salah satunya adalah melakukan skirining terhadap adanya komplikasi kehamilan agar dirujuk untuk mendapatkanperawatan khusus dari idokter spesialis
Daftar Pustaka :
1. Asri Hidayat(2009) Konsep kebidanan , Mitra Centika:Yogyakarta 2. Christine Henderson( 2006) Buku Konsep Kebidanan,EGC: Jakarta
3. Enkin . K, et,al (2000) .A Guide to Effetive Care in Pregnancy, Childbirth and Early Parenting.
4. Konsep kebidanan ,Depkes RI50 tahun IBI.
5. Kroll, D.L (1996). Midwifery Carefor the Future , Edisi 1, Baillere Tindal:London. 6. Pyne, RH (1992), Professional Disiplin In Nursing Midwifery and Health Visiting,
Edisi 2, Black Well Scientific, Publication London.
7. Vaeney, H (1997) Varney ‘s Midwefery. Jones Bartlett Publisher, Sudbury, Masssachussets, USA Seller , P, Mc(11993) Midwefery, Vol 1-2 , Edisi I. juta and co Ltd,cape
8. Konsep kebidanan ,Depkes RI 50 tahun IBI.
Bahan Ajar Pertemuan XI Sistem Penghargaan Bidan
Kompetensi Dasar :
Setelah mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa mampu menjelaskan tentang sistem penghargaan bidan.
Tujuan Pembelajaran :
1. Tujuan Instruksional Umum :
Setelah mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa mampu menilai dengan baik sistem penghargaan bidan di dalam pelayanan dan pendidikan kebidanan
2. Tujuan Instruksional Khusus :
Setelah mengikuti pembelajaran, mahasiswa dapat menyimpulkan dan menilai: a. Reward
b. Sanksi
c. Jabatan Fungsional
Materi Pembelajaran :Sistem Penghargaan Bidan
Metode Pembelajaran : Discovery Learning, Problem Based Learning (PBL), dan Diskusi
Rincian Materi :
Sistem Penghargaan Bagi Bidan (Reward,Sanksi,dan Jabatan Fungsional Bidan) a. Penghargaan Bagi Bidan
Penghargaan yang diberikan kepada bidan tidak hanya dalam bentuk imbalan jasa, tetapi juga dalam bentuk pengakuan profesi dan pemberian kewenangan / hak untuk menjalankan praktik sesuai dengan kompetensi yang dimiliki.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ke-3,hak adalah kewenangan untuk berbuat sesuatu yang telah ditentukan oleh undang-undang atau aturan tertentu. Bidan di Indonesia memiliki organisasi profesi yaitu Ikatan Bidan Indonesia atau IBI yang mengatur hak dan kewajiban serta penghargaan dan sanksi bagi bidan. Setiap bidan yang telah menyelesaikan pendidikan kebidanan berhak dan wajib menjadi anggota IBI.
Hak bidan :
1. Bidan berhak mendapat perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya.
2. Bidan berhak untuk bekerja sesuai dengan standar profesi pada setiap tingkat jenjang pelayanan kesehatan.
3. Bidan berhak menolak keinginan pasien/klien dan keluarga yang bertentangan dengan peraturan perundangan,dank ode etik profesi.
4. Bidan berhak atas privasi / kedirian dan menuntut apabila nama baiknya dicemarkan baik oleh pasien,keluarga ataupun profesi lain
5. Bidan berhak atas kesempatan untuk meningkatkan diri baik melalui pendidikan maupun pelatihan.
6. Bidan berhak memperoleh kesempatan untuk meningkatkan jenjang karir dan jabatan yang sesuai.
7. Bidan berhak mendapatkan kompensasi dan kesejahteraan yang sesuai.
Wewenang bidan, antara lain:
1. Pemberian kewenangan lebih luas kepada bidan untuk mendekatkan pelayanan kegawatan obstetric dan neonatal.
2. Bidan harus melaksanakan tugas kewenagan sesuai standar profesi,memiliki kemampuan dan ketrampilan sebagai bidan,mematuhi dan melaksanakan protap yang berlaku di wilayahnya dan bertanggung jawab atas pelayanan yang diberikan dengan mengutamakan keselamatan ibu dan bayi.
3. Pelayanan kebidanan kepada wanita oleh bidan meliputi pelayanan pada masa pranikah termasuk remaja putrid, pra hamil, kehamilan, persalinan, nifas, menyusui, dan masa antara kehamilan.
4. Dan masih banyak lagi.
Dalam lingkup IBI,anggota mempunyai hak tertentu sesuai dengan kedudukannya, yaitu: 1. Anggota Bisa Berhak mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh organisasi.
2. Berhak mengemukakan pendapat ,saran, dan usul untuk kepentingan organisasi. 3. Berhak memilih dan dipilih.
4. Anggota Luar Biasa
5. Dapat mengikuti kegiatan yang dilakukan organisasi.
6. Dapat mengemukakan pendapat ,saran,dan usul untuk kepentingan organisasi. 7. Anggota Kehormatan dapat mengemukakan pendapat, saran,dan usul untuk
b. Sanksi Bagi Bidan
Sanksi merupakan imbalan negative yang berupa pembebanan atau penderitaan yang ditentukan oleh hukum aturan yang berlaku. Sanksi berlaku bagi bidan yang melanggar kode etik dan hak/ kewajiban bidan yang telah diatur oleh organisasi profesi, karena kode etik bidan merupakan norma yang berlaku bagi anggota IBI dalam menjalankan praktek profesinya yang telah disepakati dalam Kongres Nasional IBI.
1. Kode etik bidan :
a. Kewajiban bidan terhadap klien dan masyarakat
1) Setiap bidan senantiasa menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah jabatannya dalam melaksanakan tugas pengabdiannya.
2) Setiap bidan dalam menjalankan tugas profesinya menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan yang utuh dan memelihara citra bidan.
3) Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa berpedoman pada peran, tugas dan tanggung jawab sesuai dengan kebutuhan klien, keluarga dan masyarakat.
4) Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya mendahulukan kepentingan klien, menghormati hak klien dan nilai-nilai yang dianut oleh klien.
5) Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa mendahulukan kepentingan klien, keluaraga dan masyarakat dengan identitas yang sama sesuai dengan kebutuhan berdasarkan kemampuan yang dimilikinya.
6) Setiap bidan senantiasa menciptakan suasana yang serasi dalam hubungan pelaksanaan tugasnya dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk meningkatkan derajart kesehatannya secara optimal.
b. Kewajiban bidan terhadap tugasnya
1) Setiap bidan senantiasa memberikan pelayanan paripurna kepada klien, keluarga dan masyarakat sesuai dengan kemampuan profesi yang dimilikinya berdasarkan kebutuhan klien, keluarga dan masyarakat
2) Setiap bidan berkewajiaban memberikan pertolongan sesuai dengan kewenangan dalam mengambil keputusan termasuk mengadakan konsultasi dan/atau rujukan
3) Setiap bidan harus menjamin kerahasiaan keterangan yang didapat dan/atau dipercayakan kepadanya, kecuali bila diminta oleh pengadilan atau diperlukan sehubungan dengan kepentingan klien
4) Kewajiban bidan terhadap sejawat dan tenaga kesehatan lainnya
5) Setiap bidan harus menjalin hubungan dengan teman sejawatnya untuk menciptakan suasana kerja yang serasi.
6) Setiap bidan dalam melaksanakan tugasnya harus saling menghormati baik terhadap sejawatnya maupun tenaga kesehatan lainnya.
c. Kewajiban bidan terhadap profesinya
1) Setiap bidan wajib menjaga nama baik dan menjunjung tinggi citra profesi dengan menampilkan kepribadian yang bermartabat dan memberikan pelayanan yang bermutu kepada masyarakat
2) Setiap bidan wajib senantiasa mengembangkan diri dan meningkatkan kemampuan profesinya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
3) Setiap bidan senantiasa berperan serta dalam kegiatan penelitian dan kegiatan sejenisnya yang dapat meningkatkan mutu dan citra profesinya. d. Kewajiban bidan terhadap diri sendiri
1) Setiap bidan wajib memelihara kesehatannya agar dapat melaksanakan tugas profesinya dengan baik
2) Setiap bidan wajib meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
3) Setiap bidan wajib memelihara kepribadian dan penampilan diri. e. Kewajiban bidan terhadap pemerintah, nusa, bangsa dan tanah air
1) Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya, senantiasa melaksanakan ketentuan-ketentuan pemerintah dalam bidang kesehatan, khususnya dalam pelayananan Kesehatan Reproduksi, Keluarga Berencana dan Kesehatan Keluarga.
2) Setiap bidan melalui profesinya berpartisipasi dan menyumbangkan pemikiran kepada pemerintah untuk meningkatkan mutu dan jangkauan pelayanan kesehatan terutama pelayanan KIA/KB dan kesehatan keluarga Dalam organisasi IBI terdapat Dewan Pertimbangan Etika Bidan (MPEB) dan Majelis Pembelaan Anggota (MPA),yang memiliki tugas :
1) Merencanakan dan melaksanakan kegiatan bidang sesuai dengan ketetapan pengurus pusat.
2) Melaporkan hasil kegiatan di bidang tugasnya secara berkala.
3) Memberikan saran dan pertimbangan yang perlu dalam rangka tugas pengurus pusat.
4) Membentuk tim teknis sesuai kebutuhan,tugas dan tanggung jawabnya ditentukan pengurus.
5) MPEB dan MPA merupakan majelis independen yang berkonsultasi dan berkoordinasi dengan pengurus inti dalam IBI tingkat nasional. MPEB secara internal memberikan saran,pendapat,dan buah pikiran tentang masalah pelik yang sedang dihadapi khususnya yang menyangkut pelaksanaan kode etik bidan dan pembelaan anggota. MPEB dan MPA bertugas mengkaji,menangani dan mendampingi anggota
yang mengalami permasalahan dalam praktik kebidanan serta masalah hukum.
Tidak hanya memberikan penghargaan bagi bidan yang mampu melaksanakan prakteknya sesuai kode etik dan standar profesi bidan,tapi bagi bidan yang melanggar dan menyimpang dari kode etik yang ada,juga harus diberi sanksi yang tegas. Supaya bidan tetap bekerja sesuai kewenangannya. Contoh sanksi bidan adalah pencabutan ijin praktek bidan, pencabutan SIPB sementara, atau bisa juga berupa denda.
Penyimpangan yang dilakukan oleh bidan misalnya :
1) Bidan melakukan praktek aborsi,yang seharusnya tidak boleh dilakukan