BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Temuan Penelitian
2. Konsep Meningkatkan Pengembangan Usaha BUMDes Di Desa
BUMDes kita”. (Wawancara, 18 Mei 2020, Kantor BUMDesa
Hasil wawancara peneliti dengan Direktur BUMDes Polewali Maju (Bapak Muh. Yusuf) mengungkapkan kepada peneliti:
“Kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan di Desa Polewali untuk meningkatkan kualitas BUMDes dilakukan dengan beberapa cara. Hal yang paling penting adalah memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang BUMDesserta melibatkan mereka dalam kegiatan BUMDes”. (Wawancara Tanggal 16 Mei 2020, Tempat Kantor BUMDesa Desa Polewali)
Banyak kebijakan dari BUMDes yang yang berorientasi pada masyarakat kecil yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, BUMDes membuat kebijakan berbentuk lembaga ekonomi ditingkat pedesaan. Lembaga ekonomi tingkat pedesaan menjadi bagian penting dalam rangka untuk mendukung pemberdayaan dan penguatan ekonomi sehingga dapat mensejahterakan masyarakat pedesaan. Lembaga ekonomi inilah yang berbperan penting dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat Desa Polewali.
Hasil wawancara peneliti kepada Direktur BUMDes (Bapak Muh.
Yusuf) mengungkapkan kepada peneliti bahwa:
“Sebagai bagian dari keseriusan BUMDes maka masyarakat kita libatkan dalam hal pengelolaan BUMDes ini. Sekalipun masih sangat terbatas, tapi kita sudah memikirkan hal tersebut. Inilah pengembangan yang kita akan lakukan kedepan”. (Wawancara Tanggal 16 Mei 2020 Tempat Kantor BUMDesa Polewali Maju) Suatu pendekatan baru yang dapat menstimulus dan menggerakkan roda perekonomian di pedesaan adalah melalui pendirian lembaga ekonomi yaitu Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang dikelola sepenuhnya oleh masyarakat Desa. Banyak sekali pelaku ekonomi yang
ikut berperan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan masyarakat Desa.
Secara teori proses pemberdayaan ini dilakukan melalui pelatihan yang menciptakan kondisi dan stimulus dan menimbulkan respon dengan masyarakat ikut serta dalam pelatihan tersebut sehingga masyarakat manambah pengetahuan, keterampilan dan skill yang dapat merubah tingkah laku masyarakat untuk mencapai tujuan seperti yang diinginkan yaitu memanfaatkan potensi alam secara maksimal.
Hasil wawancara peneliti dengan Bidang SDM BUMDes Polewali Maju (Bapak Imran) mengungkapkan kepada peneliti bahwa:
“Pemberdayaan masyarakat untuk melibatkan diri di BUMDes Polewali Maju selama ini masih sangat terbatas. Hal ini disebabkan karna BUMDes yang kita kelolah sumber bahan bakunya tidak dapat diproduksi oleh masyarakat. Karna itulah selama ini kita selalu mendiskusikan agar kedepan BUMDes ini dikelolah secara penuh masyarakat Desa Polewali”. (Wawancara, Tanggal 15 Mei 2020 Tempat Kantor Desa Polewali)
Salah satu bagian dari kegiatan pemberdayaan masyarakat adalah kegiata penyadaran. Penyadaran merupakan tahap awal dalam pemberdayaan masyarakat, dimana penyadaran merupakan suatu proses, cara, atau perbuatan menyadarkan orang untuk menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya perubahan, serta menumbuh kembangkan keyakinan masyarakat terhadap keberhasilan upaya-upaya perubahan yang akan dilakukan melalui pembangunan berbasis masyarakat.
Pada tahap ini masyarakat diberikan sosialiasasi oleh BUMDes dan pemerintah desa tentang pentingnya memanfaatkan potensi desa secara
maksimal. Dalam melakukan proses penyadaran, BUMDes melakukan secara perlahan dengan BUMDes mendatangi masyarakat dan diberikannya pencerahan dan, motivasi. Selain itu BUMDes memberikan pengetahuan dan keterampilan untuk masyarakat yang memiliki kemampuan dalam mengelola sumberdaya alam yang ada.
Masyarakat diberikan penyadaran agar mau melakukan perubahan supaya masyarakat tidak hanya menjual hasil alam dengan bahan mentah saja namun menjadikan potensi yang ada di wilayah tersebut menjadi ciri khas dari pekon tersebut dan menunjukan bahwa masyarakat disana bisa menambah penghasilan dengan mengolah sumberdaya alam seperti kopi, pisang, aren, dan lain-lain.
b. Permodalan
Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) didalam pencapaian kesuksesannya tidak lepas dari dukungan Pemerintah Desa baik dukungan didalam memberikan penyertaan modal, pengarahan, dan kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah Desa.
Dari hasil wawancara dengan direktur BUMDes (Bapak Muh.
Yusuf) Polewali Maju mengungkapkan bahwa:
“Beberapa perencanaan yang sudah kita buat dalam rangka untuk memajuhkan BUMDes kita. Selain bantuan permodalan dari pemerintah desa juga kedepan kita berencana untuk mengikutsertakan masyarakat, memberikan pelatihan kepada para pegawai dan pendampingan kepada masyarakat luas dari produk yang kita miliki”. (Wawancara, 16 Mei 2020, Tempat Kantor BUMDesa Polewali Maju).
Dari data yang peneliti temukan dilapngan, bahwa BUMDes Polewali Maju telah memberikan kontribusi terhadap pembangunan di Desa Polewali. Semenjakan didirikan pada tahun 2016, BUMDes Polewali Maju sudah tiga tahun terakhir surplus keuangan pada saat tutup buku setiap tahunnya. Berikut data pendapatan dan pengeluaran BUMDes Polewali Maju.
Tabel 4.4. Pendapatan BUMDes Maju Polewali No Tahun
Anggaran
Pemasukan Pengeluaran Selisi Anggaran 1 2017 Rp. 7.000.000,00 Rp. 100.000.000,00 Rp.
2 2018 Rp. 4.000.000,00 Rp. 50.000.000,00 Rp.
3 2019 Rp. 4.000.000,00 - Rp.
Total Surplus Anggaran Rp.
(Sumber, BUMDes Polewali Maju Tahun 2020)
Sekalipun jumlah selisih anggatan pemasukan dengan pengeluaran masih terbilang kecil tetapi dari situ sudah menggambarkan optimisme terhadap pengembangan BUMDes Polewali Maju kedepan akan jauh lebih baik.
Dari hasil wawancara dengan direktur BUMDes (Bapak Muh.
Yusuf) Polewali Maju mengungkapkan bahwa:
“Kami sadar bahwa pendapatan kami masih relative kecil semenjak BUMDes Polewali Maju didirikan. Tapi kami optimis dengan segala daya dan upaya kami akan lebih baik kedepan. Dan ini yang sementara kami dorong untuk waktu sekarang ini”. (Wawancara, 16 Mei 2020, Tempat Kantor BUMDesa Polewali Maju)
Dalam rangka untuk mendorong percepatan pengembangan BUMDes Polewali Maju maka pemerintah desa menkucurkan dana yang dianggap akan memenuhi untuk pelaksanaan operasi BUMDes. Dari hasil
wawancara peneliti dengan kepala Desa Polewali (Bapak Imran) mengungkapkan bahwa:
“Semenjak BUMDes Polewali Maju didirikan pada tahun 2016 kita sebagai pemerintah Desa berkomitmen akan memberikan bantuan permodalan yang cukup sehingga BUMDes Polewali Maju dapat menjalankan seluru program kegiatannya sesuai dengan yang sudah direncanakan. (Wawancar 15 Mei 2020, Tempat Kantor Desa Polewali).
Semenjak BUMDes Polewali Maju didirikan pemerintah Desa Polewali sudah mengkucurkan dana sebesar Rp. 150.000.000,00. Dana tersebut digunakan untuk membiayai pembelian alat BUMDes Polewali Maju dengan seluruh perlengkapannya.
Saat ditemui oleh peneliti, pegawai BUMDes Polewali Maju (Bapak Ahmad) mengungkapkan bahwa:
“Sampai saat ini BUMDes Polewali Maju masih kekurangan anggaran yang akan digunakan untuk membeli perlengkapan peralatan yang akan memperbanyak cakupan produksi dari BUMDes kami. Hanya selama kita kekurangan anggaran makanya kita berjalan sesuai dengan yang ada saja”. (Wawancar 16 Mei 2020, Tempat Kantor BUMDDesa Polewali Maju).
Dalam pemberian permodalan pemerintah Desa Polewali cukup hati-hati. Proses tersebut dilakukan harus sesuai dengan regulasi yang ada, karena mereka tidak ingin melanggar aturan dalam pelaksanaannya. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara peneliti dengan kepala Desa Polewali (Bapak Imran) yang mengungkapkan bahwa:
“Dana yang kita berikan ini disesuaikan dengan regulasi yang ada.
Tidak sekedar diberikan. Pasalnya jangan sampai melanggar aturan maka pemerintah desa yang harus bertanggungjawab. Kita tidak mau soal mekanisme penyaluran dana ke BUMDes ini ada pihak yang dirugikan”. (Wawancara, 15 Mei 2020, Tempat Kantor Desa Polewali).
Berbeda dengan yang disampaikan oleh kadis PMD bagian pemberdayaan masyarakat Kabupaten Sinjai (Bapak Yuhadi Samad) mengungkapkan bahwa:
“Pemerintah desa jangan terlalu kakuh dalam menjalankan aturan khususnya dalam hal pendanaan BUMDes. Suntikan keuangan ke BUMDes adalah bagian dari upaya memberdayakan masyarakat di Desa. Jadi tidak ada regulasi yang akan dilanggar, seberapa besarpun anggaran yang akan diberikan. Yang jelas, bahwa proses pengalokaian anggran tersebut ada bukti fisik dan bukti administrasi pertanggujawabannya”. (Wawancara 20 Mei 2020, Tempat Kantor Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa).
c. Pelatihan
Melihat banyak faktor-faktor masalah sumber daya kemampuan pengelolah BUMDes Polewali Maju maka pemerintah bersama dengan petugas BUMDes membuat rencana-rencana pelatihan dan pendampingan kepada para pegawai dan staf. Dari hasil wawancara dengan Kadis PMD bagian pemerintahan Kabupaten Sinjai (Bapak Yuhadi Samad) mengungkapkan bahwa:
“Karna di Kabupaten Sinjai kita sudah mencanangkan program BUMDes membangun Sinjai maka tentu pemerintah Sinjai menginisiasi kegiatan-kegiatan pelatihan kepada para masyarakat yang memiliki ketertarikan membangun Desa. Pelatihan dimaksudakn agar para pelaksana oprasioanl BUMDes disuatu desa dapat memahami tufoksinya. Apalagi zaman sekarang kita perlu inovsi desa jika ingin maju dan berkembang, dan BUMDes bertanggungjawab untuk itu”. (Wawancara, 17 Mei 2020, Tempat Kantor Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa).
Ketika dikonfirmasi kepada BUMDes Polewali Maju ternyata berbeda dengan pernyataan tersebut diatas. Bahwa selama BUMDes Polewali Maju berjalan tanpa pendampingan dari pemerintah Kabupaten
Sinjai. Direktur BUMDes Polewali Maju (Bapak Muh. Yusuf) mengungkapkan:
“Tidak ada pelatihan dari pemerintah daerah yang kami di ikut sertakan selama ini. Kalau ada pelatihan kepada para personil kami itu inisiatif dari kami dan kami sendiri yang biayai”. (Wawancara 16 Mei 2020, Tempat Kantor BUMDesa Polewali Maju).
Selain pelatihan dan pendampingan hal lain yang juga penting adalah kegiatan pemberdayaan kepada masyarakat baik berupa kerja sama dengan masyarakat maupun kerjasama dengan lembaga kemitraan yang dianggap relevan dalam rangka memudahkan pengembangan usaha BUMDes Polewali Maju.
Dari hasil wawancara dengan direktur BUMDes Polewali Maju (Bapak Muh. Yusuf) mengungkapkan bahwa:
“Kami selama ini belum banyak melibatkan masyarakat, karna usaha kami masih terbilang kecil. Belum ada perluasan jenis usaha.
Tapi kami sudah pikirkan itu bahwa masyarakat harus dilibatkan”.
(Wawancara 16 Mei 2020, Tempat Kantor BUMDesa Polewali Maju).
Ketidakterlibatan masyarakat Desa karena produk BUMDes Polewali Maju adalah pengelolaan air minum kemasan. Mulai dari pada kebutuhan perlengkapan produksi sampai kepada pemasaran tidak melibatkan masyarakat kecuali petugas BUMDes. Perlengkapan produksi misalnya disiapakan oleh perusahaan sebagai pihak ketiga dari BUMDes Polewali Maju. Mulai dari kemasan, kardus, dan perlengkapan lainnya semuanya dipesan kepada perusahaan penyedia.
Dalam hal pemasaran, BUMDes Polewali Maju juga masih terbilang belum terorganisir. Hasil wawancara dengan petugas BUMDes bagian pemasaran (Bapak Ahmad) mengungkapkan bahwa:
“Semua hasil produksi dipasarkan oleh kami termasuk ke desa tetangga yang membutuhkan. Dan biasanya kami produksi ketika ada pemesan seperti pesta masyarakat atau kegiatan-kegiatan lain”.
(Wawancara, 18 Mei 2020, Tempat Kantor BUMDesa Polewali Maju).
Saat peneliti bertanya tentang apakah BUMDes Polewali Maju sudah membuat kerjasama dengan mitra terkait, ternyata belum sama sekali. Dari wawancara dengan direktur BUMDes Polewali Maju (Bapak Muh. Yusuf) mengungkapkan bahwa:
“Selama ini belum ada mitra yang bekerja sama dengan kami untuk supaya kami menjadi penyedia produksi air minum kemasan.
Tentu akan kami pikirkan kedepan hanya saja untuk saat ini kami masih fokus kepada penguatan kelembagaan BUMDes Polewali Maju agar bisa lebih baik dan produktif”. (Wawancara, 16 Mei 2020, Tempat Kantor BUMDesa Polewali Maju)
d. Pendampingan
Pendampingan merupakan upaya untuk menyertakan masyarakat dalam mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu mencapai kualitas kehidupan yang lebih baik. Selain itu diarahkan untuk memfasilitasi proses pengambilan keputusan yang terkait dengan kebutuhan masyarakat, membangun kemampuan dalam meningkatkan pendapatan, melaksanakan usaha yang berskala bisnis serta mengembangkan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan partisipatif.
Hasil wawancara peneliti dengan Direktur BUMDes Polewali Maju (Bapak Muh. Yusuf) mengungkapkan kepada peneliti bahwa:
“Pendampingan dari pihak terkait baik itu dari pemerintah daerah kabupaten Sinjai maupun pemerintah Desa Polewali selalu kita butuhkan. Sekalipun kita sudah diberi amanah bekerja untuk BUMDes sepenuhnya tetapi mereka tidak boleh melepas kita.
Banyak kebutuhan didalam BUMDes yang membutuhan pendampingan mereka diantaranya pengambilan keputusan-keputusan strategid di BUMDes Polewali Maju”. (Wawancara, 16 Mei 2020, Tempat Kantor BUMDesa Polewali Maju)
Tujuan pendampingan disini juga adalah kemandirian, selain diberikan penyadaran dan pelatihan masyarakat juga diberikan pendampingan agar dapat meningkatkan kemampuan dan meningkatkan pendapatan sehingga menjadikan usaha untuk jangka panjang. Masyarakat terkadang tidak dapat menyelasaikan masalah dalam membuat usaha yang pada akhirnya membuat masyarakat putus asa dan tidak ingin melanjutkan usahnya.
Dengan adanya pendampingan masyarakat di pantau dan didampingi, jika masyarakat mengalami masalah maka BUMDes akan bermusyawarah untuk memberikan solusinya. Hasil wawancara dengan kepala Desa Polewali (Bapak Imran) mengungkapkan kepada peneliti bahwa:
“Pendampingan juga agar dapat meningkatkan usaha yang dikelola oleh BUMDes sehingga dapat menghasilkan produk yang unggul dan dapat mencapai kualitas kehidupan yang lebih baik sehingga akan berdampak kepada masyrakat t untuk bisa mandiri dan lebih sejahterah”. (Wawancara, 15 Mei 2020, Tempat Kantor Desa Polewali).