• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KONSEP NEGARA HUKUM DAN

A. Konsep Negara Hukum

Pemikiran atau gagasan mengenai negara berdasarkan atas hukum, sesungguhnya sudah ada dan diawali dari tulisan Plato tentang “Nomoi”.31 Kemudian konsep tersebut mulai berkembang pesat sejak akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Di Eropa Barat atau Eropa Kontinental, Immanuel Kant dan Friedrich Julius Stahl menyebutnya dengan istilah rechtsstaat, sedangkan pada negara-negara Anglo Saxon, Albert Van. Dicey menggunakan istilah rule of law.32

Dalam sejarah ketatanegaraan dikenal pula adanya negara hukum dalam arti sempit atau lebih dikenal dengan negara hukum liberal sebagaimana ajaran Imanuel Kant & Fichte. Konsep negara hukum yang mereka ajarkan dikenal dengan konsep negara hukum liberal, karena pemikiran tersebut sangat dipengaruhi oleh faham liberalisme. Konsep negara hukum liberal merupakan anti thesis dari tipe negara polizei.33 Dalam negara polizei kekuasaan raja amat sangat besar dalam menentukan dan mengembangkan kesejahteraan rakyatnya, sedangkan dalam ajaran negara hukum liberal, peran negara justru diminimalisir dari campur tangan urusan rakyatnya.

Dalam negara hukum liberal dikenal dua unsur saja, yaitu:

perlindungan terhadap HAM, dan adanya pemisahan kekuasaan.

31 Padmo Wahjono, Indonesia Negara Berdasarkan Atas Hukum, Cetakan Kedua, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1986 Hlm.7.

32 Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Cetakan XVIII, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1997, Hlm. 57.

33 Hestu B. Cipto, Hukum Tata Negara, Kewarganegaraan dan Hak Asasi Manusia. Penerbitan Universitas Atmajaya, Yogyakarta, 2003, hlm. 12

Dari aspek fungsi dan tujuan negara, konsepsi negara hukum dapat dibedakan kedalam dua tipe negara, yaitu negara hukum klasik untuk negara hukum dalam arti formal dan negara hukum modern atau negara hukum dalam arti yang materiil.34 Negara hukum dalam arti formal merupakan tipe negara yang hanya memelihara ketertiban dan keamanan masyarakat semata seperti yang telah ditentukan oleh undang-undang, yaitu hanya melindungi jiwa, benda atau hak asasi warganya secara pasif, serta tidak campur tangan dalam bidang perekonomian dan penyelenggaraan kesejahteraan rakyat (nachtwakerstaat).35 Sedangkan negara hukum dalam arti materiil (modern) atau yang lebih dikenal sebagai welfare state merupakan negara yang menjaga keamanan dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu keamanan sosial dan kesejahteraan umum berdasarkan prinsip hukum yang benar dan adil sehingga hak asasi warganya dapat benar-benar terjamin.36

Konsep negara hukum modern mengalami pertumbuhan menjelang abad kedua puluh, yang ditandai dengan lahirnya tipe negara welfare state, di mana tugas negara berubah dari penjaga malam dan keamanan menjadi, negara harus bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat. Perkembangan negara hukum terjadi karena banyaknya kecaman terhadap ekses-ekses dalam industrialisasi dan sistem kapitalisme, tersebarnya paham sosialisme yang menginginkan pembagian kekuasaan dan kemenangan partai sosialis di Eropa.37 Welfare state adalah suatu bentuk masyarakat yang ditandai dengan suatu sistem kesejahteraan yang demokratis dan ditunjang oleh pemerintah yang ditempatkan atas landasan baru, memberikan satu jaminan perawatan sosial yang kolektif pada

34 E. Utrecht, Pengantar Hukum Administrasi Negara Indonesia, Jakarta, Balai Buku Ikhtiar, Jakarta,1962, hal. 19.

35 Lihat Mukthie Fadjar, Tipe Negara Hukum, Banyu Media, Malang, 2004, hal.

35.

36 Ibid, hal. 36.

37 Miriam Budiardjo, Op.Cit., hlm. 59.

warga-warganya.38 Welfare state (negara kesejahteraan) atau social service state merupakan sistem pemerintahan negara yang memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Dalam bukunya Philosophie des Recht (1878), Friedrich Julius Stahl sebagaimana dikutip oleh Oemar Seno Adji,39 merumuskan unsur-unsur rechtsstaat dalam arti klasik sebagai berikut:

a. perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia;

b. pemisahan atau pembagian kekuasaan negara untuk menjamin hak-hak asasi manusia;

c. pemerintahan berdasarkan peraturan;

d. adanya peradilan administrasi.

Sejalan dengan konsep rechtsstaat, A.V. Dicey dalam Introduction to the Law of the Constitution (1885), juga mengembangkan unsur-unsur negara hukum yang dikenal dengan rule of law, sebagai berikut:40

a. supremasi aturan-aturan hukum (supremacy of the law); tidak adanya kekuasaan sewenang-wenang (absence of arbitrary power), dalam arti bahwa seseorang hanya boleh dihukum kalau melanggar hukum.

b. kedudukan yang sama dalam menghadapi hukum (equality before the law). Dalil ini berlaku baik untuk orang biasa maupun untuk pejabat.

38 Piet Thoenes, “The Elite in The Welfare State”, dikutip dari Mustaming Daeng Matutu, Selayang Pandang (tentang perkembangan Type-type Negara Modern, Pidato pada Lustrum ke IV Fakultas hukum dan Pengetahuan Masyarakat Universitas Hassanuddin di Makasar, 3 Maret 1972, Hasanuddin University Press, Ujung Pandang, cetakan ke II, hlm 20, Lihat juga La Ode Husen, Hubungan Fungsi Pengawasan DPR dengan BPK Dalam Sitem Ketatanegaraan Indonesia, CV. Utama, Bandung, 2005, hlm. 23.

39 Oemar Senoadji, 1966, Seminar Ketatanegaraan Undang-Undang Dasar 1945, Seruling Masa, Jakarta, hal.24.

40 Miriam Budiarjo, Op.cit., hal.58.

c. terjaminnya hak-hak manusia oleh undang-undang (di negara lain oleh undang-undang dasar) serta keputusan-keputusan pengadilan.

Dalam pada itu PM. Hadjon41 mengemukakan bahwa sistem hukum modern terdiri atas dua sistem induk, yaitu civil law system (modern roman) dan common law system, di mana kedua bentuk sistem tersebut melahirkan dan memiliki bentuk dan jenis sarana perlindungan hukum yang berbeda. Negara yang menganut tradisi hukum civil law system42 dengan konsep rechtsstaat43-nya mengakui adanya dua set pengadilan (duality of jurisdiction), yaitu pengadilan umum dan pengadilan administrasi. Sedangkan negara-negara yang menganut common law system (dengan konsep rule of law-nya)44 hanya mengenal satu set pengadilan (unity of jurisdiction), yaitu ordinary court,45 atau pengadilan umum yang kewenangannya juga mencakup memeriksa sengketa-sengketa administrasi negara.

41 Philipus M. Hadjon, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Di Indonesia, PT. Bina Ilmu, Surabaya, 1985, Hlm. 5.

42 Negara-Negara yang bertradisi hukum civil law misalnya Prancis, Belanda, Jerman, dan lain sebagainya Serta pada umumnya diikuti oleh negara-negara bekas jajahan mereka.

43 Unsur-unsur rechtsstaat yang dikemukakan oleh Stahl di antaranya adalah:

adanya perlindungan ham, untuk menjamin HAM penyelenggaran negara berdasarkan trias politica (pemisahan kekuasaan), pemerintahan berdasarkan undang-undang dan peradilan administrasi. Lihat Azhari, Negara Hukum Indonesia, UI Press, Jakarta, 1995, Hlm. 20-21.

44 Negara-negara yang mengikuti tradisi hukum common law misalnya Inggris dan Amerika Serikat serta umumnya diikuti pula oleh negara-negara bekas jajahan mereka. Konsep rule of law Sebagaimana Dikemukakan Oleh AV. Dicey mengharuskan Adanya: supremacy of law, equality before the law dan terjaminnya hak asasi oleh UU (atau konstitusi) dan putusan pengadilan, lihat Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Gramedia, Jakarta, 1982. Hal. 58.

45 Di samping model perlindungan melalui lembaga peradilan di atas, di negara-negara skandinavia dikembangkan pula lembaga Ombudsman, di mana saat ini telah berkembang pula secara luas di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

B. Independensi Peradilan sebagai Prinsip Pemisahan

Dokumen terkait