BAB II KONSEP NUSYUZ DALAM PERSPEKTIF HUKUM
C. Konsep Nusyuz Suami Menurut Hukum Perkawinan Islam
Pada intinya nusyuz suami terjadi bila ia tidak melaksanakan kewajibannya terhadap isterinya, baik meninggalkan kewajiban yang bersifat materi atau nafaqah dan atau meninggalkan kewajiban yang bersifat non materi diantaranya mu’asyarah
bil ma’ruf atau menggauli isterinya dengan baik sebagaimana yang kewajiban suam
yang telah diuraikan di atas. Yang terakhir ini mengandung arti luas, yaitu segala sesuatu yang dapat disebut menggauli isterinya dengan cara buruk seperti berlaku kasar, menyakiti fisik dan mental isteri, tidak melakukan hubungan badaniyah dalam waktu tertentu dan tindakan lain yang bertentangan dengan asas pergaulan baik.
Islam benar-benar melarang terjadinya kekerasan, jangankan terhadap isteri sendiri (kekerasan domestik) kepada orang lain pun dilarang untuk melakukan kekerasan. Secara konseptual Islam mengajarkan untuk berbuat baik kepada isteri. Perkawinan sebagai lembaga yang mengikat suami dan isteri dengan tujuan untuk mendatangkan sakinah, mawaddah dan warahmah. Untuk tujuan itu Al Qur'an mengajarkan suami berkewajiban untuk mendidik isteri di dalam rumah tangga. Salah satu bentuk pendidikan tersebut adalah seperti tertuang dalam Q.S an Nisa : 34 yaitu ; memberi nasehat, memisahkan ranjan
lanjut Allah mengunci permasalahan di atas dengan kata bahwa apabila ia telah kembali baik, maka hendaklah kamu tidak berlebihan. Ayat ini melarang terjadiya kekerasan terhadap isteri, dan jika terjadi penganiayaan isteri diperbolehkan mengajukan gugatan ke pengadilan..
Memukul merupakan jalan terakhir yang dilakukan apabila cara-cara seperti menasehati dengan kata-kata yang lembut, mengingatkan dengan perilaku (pisah ranjang). Suami yang baik tidak akan memukul isterinya. Banyak juga para ahli tafsir yang menerangkan bahwa makna memukul disini adalah dengan sikat gigi. Dari penjelasan beberapa tafsir dapat disimpulkan bahwa ada kemungkinan pemukulan dengan kata-kata ataupun sindiran baik dengan cara halus maupun kasar. Akan tetapi perlu disadari bahwa memang ada perempuan yang hanya dengan memukul dapat diperbaiki kedurhakaannya. Namun pemukulan terhadap isteri sebagaimana yang
isyar
gan suami isteri, apakah masing-masing pihak telah elaks
di atkan Q.S an Nisa : 34 tersebut tidaklah dimaksudkan untuk membenarkan
perbuatan tindak kekerasan dalam rumah tangga. Jika ada yang menganggap ayat tersebut sebagai dalil untuk dapat melakukan tindakan kekerasan dalam rumah tangga terutama kepada isteri maka ittu adalah pemahaman keliru yang belum memahami Islam secara kaffah (utuh/menyeluruh).
Dalam hal ini sangat dibutuhkan kearifan untuk melihat dan mendalami permasalahan ini, tanpa bisa memihak kepada siapapun, tapi hanya bisa berpulang kepada hati nurani setiap pasan
m anakan kewajibannya dan merasa telah berbuat baik kepada pasangannya.
memperlakukan isteri dengan kasar. Untuk itulah Islam mengajarkan untuk berlaku baik dengan isteri dan memberikan tahapan-tahapan peringatan yang harus diperhatikan oleh setiap suami.
Permasalahan apapun yang terjadi dan berkembang dewasa ini maka tidak bisa tidak, harus dikembalikan kepada Al Qur’an dan Hadits sebagaimana tertuang dalam Q.S an Nisa : 59 yang artinya sebagai berikut : “Taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan para pemimpin kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul.”193 Demikian juga halnya dengan permasalahan kekerasan yang dilakukan oleh suami terhadap isterinya sendiri, maka yang menjadi kerangka acuan utama adalah Al Qur’an dan Hadits. “Al
al Hujarat : 13 yang artinya Qur’an merupakan petunjuk sampai akhir zaman (solihun likulli zamanin wa makanin) mengandung dua unsur utama yang berupa qonun jamid (peraturan yang tidak dapat
berubah) dan qonun murunah (dapat berubah).”194 Apabila merujuk kepada Al
Qur’an yang mengandung asas-asas atau prinsip-prinsip dasar yang tidak akan berubah-ubah (qonun jamid). Di antara prinsip-prinsip tersebut adalah :
1. Prinsip persamaan hak seperti tertuang dalam Q.S
sebagai berikut : “ Hai manusia, sesungguhnya Kami menjadikan kamu dari laki- laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu berkenal-kenalan. Sesungguhnya orang yang termulia di antara
193
Mahmud Junus, Op.Cit, hlm.79.
194
Nasruddin Umar, Kodrat Wanita Dalam Islam, Lembaga Kajian Agama dan Gender, akarta,
kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah
Mahamengetahui lagi Maha amat mengetahui.”195
2. Prinsip keadilan seperti tertuang dalam Q.S an Nisa : 3 yang artinya sebagai
berikut : “ Jika kamu takut, bahwa kamu tak akan berlaku adil kepada anak-anak yatim, maka kawinilah olehmu perempuan-perempuan yang baik bagimu, berdua, bertiga atau berempat orang. Tetapi jika kamu takut, bahwa tiada akan berlaku adil kepada mereka maka kawinilah seorang saja…”196
. Prin
enarik kembali mahar tanpa
3 sip kepatutan atau berprilaku yang wajar, tertuang dalam Q.S an Nisa : 19
yang artinya sebagai berikut : “…Bergaullah dengan mereka (isterimu) menurut patut. Kalau kami benci kepada mereka (hendaklah kamu sabar), karena boleh jadi kamu benci kepada sesuatu, sedang Allah menjadikan kebaikan yang banyak di dalamnya.”197
Islam memandang tindak kekerasan terhadap isteri tidak hanya sebatas fisik saja melainkan juga terhadap non fisik yaitu ucapan-ucapan yang menyakitkan seperti mencari-cari kesalahan isteri, mengkhianati kesanggupan janji-janjinya terhadap isteri, mengganggu ketenangan isteri pada malam hari dan sebagainya. Jika diperinci lebih lanjut maka kekerasan non fisik terhadap isteri adalah sebagai berikut :
1. Tidak mau melunasi hutang mahar ataupun m
keridhaan isteri. Dalilnya adalah Q.S an Nisa : 19 yang artinya sebagai berikut : “Hai orang-orang yang beriman, tiada halal bagimu mempusakai perempuan
s, Op.Cit, hlm.464 5 195 Mahmud Junu 196 Ibid, hlm.70 197 Ibid, hlm.74-7
dengan pakasaan, dan janganlah kamu susahkan mereka, karena hendak mengambil sebagian mas kawin yang telah kamu berikan kepada, kecuali jika mereka memperbuat keji yang nyata (zina)…”198
dar tenaganya…”199
ikut : “Suruh diamlah mereka perempuan-perempuan
. Menyetubuhi isteri di waktu haid. Dalilnya adalah Q.S al Baqarah : 222 yang
artinya sebagai berikut :
Mereka bertanya kepada engkau tentang haid. Katakanlah, itu suatu kotoran sebab janganlah kamu bersetubuh dengan mereka, sehingga mereka suci. Apabila mereka Sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang taubat dan mengasihi orang-
2. Menelantarkan belanja isteri. Dalilnya adalah Q.S al Baqarah : 233 yang artinya sebagai berikut : “Ibu-ibu itu menyusukan anak-anaknya dua tahun genap, bagi orang yang menghendaki akan menyempurnakan susuan. Kewajiban atas bapak memberi belanja ibu anaknya itu dan pakaiannya secara ma’ruf. Tiadalah diberati seseorang, melainkan seke
3. Tidak memberikan tempat tinggal kepada isteri. Dalilnya adalah Q.S at Thalaq : 6 yang artinya sebagai ber
yang dalam iddah di rumah tempat diam kamu, menurut tenagamu dan janganlah kamu memberi melarat kepada mereka, sehingga kamu menyempitkannya
(menyusahkannya)…”200
4
itu hindarkanlah perempuan-perempuan ketika mereka dalam keadaan haid, dan bersuci bersetubuhlah kamu dengan mereka sebagaimana Allah telah menyuruhmu. orang yang bersuci.201
198 Ibid, hlm.74 199 Ibid, hlm.35 200 Ibid, hlm.65 201 Ibid, hlm.33
5. Memperlakukan isteri dengan kasar. Dalilnya adalah Q.S an Nisa : 19
“…Bergaullah dengan mereka (isterimu) menurut patut…”202
6. Membebani kerja isteri di luar kemampuannya. Dalilnya adalah Q.S al Baqarah :
233 yang artinya sebagai berikut : “…Tiadalah diberati seseorang, melainkan sekedar tenaganya…”203
7. Tidak adil dalam menggilir isteri. Dalilnya adalah Q.S an Nisa : 129 yang artinya
lagi Penyayang.”204
ri. Dalilnya adalah Q.S al Baqarah : 231 yang artinya sebagai sebagai berikut : “Kamu takkan kuasa berlaku adil antara perempuan-perempuan itu, meskipun kamu sangat ingin demikian itu, sebab itu janganlah kamu condong seconding-condongnya sehingga kamu tinggalkan perempuan itu sebagai seorang yang tergantung. Jika kamu perbaiki kesalahanmu dan bertakwa, sungguh Allah Pengampun
8. Menuduh isteri berzina tanpa bukti yang sah. Dalilnya adalah Q.S an Nuur : 6
yang artinya sebagai berikut : “Orang-orang yang menuduh isterinya dengan berzina, tetapi mereka tiada mempunyai saksi-saksi, kecuali dirinya sendiri, maka kesaksiannya ialah empat kali bersumpah dengan Allah, bahwa ia seorang yang benar.”205
9. Memeras iste
berikut : “Apabila kamu mentalak perempuan, lalu hamper habis iddahnya, maka tahanlah mereka secara ma’ruf atau ceraikanlah mereka secara ma’ruf. Janganlah
202 Ibid, hlm.75 203 Ibid, hlm.35 204 Ibid, hlm.90 205 Ibid, hlm.24
kamu tahan mereka dengan kemelaratan, karena kamu hendak menganiayanya. Barangsiapa berbuat demikian, sesungguhnya ia telah menganiaya diri sendiri…”206
1 ak memberi pesangon nafkah isteri pada masa iddah. Dalilnya adalah Q.S at
Thalaq : 7 yang artinya sebagai berikut : “Hendaklah orang-orang yang mampu
memberikan nafkah menurut kemampuannya. Barangsiapa yang sempit (sedikit) rezekinya, hendaklah memberi nafkah menurut yang diberikan Allah kepadanya. Allah tiada memberati diri seseorang, melainkan menurut yang diberikan Allah kepadanya…”
0.Tid
Hal ini
n. Bahkan Al Qur’an secara terbuka memandang perlunya pihak ketiga s artinya dari ke perbaik D. Ko Ru 207
Jika dalam kasus nusyuz suami maka dianjurkan mengadakan perdamaian atau
ishlah antara suami isteri begitu juga terhadap solusi mengatasi persoalan kekerasan
dalam rumah tangga lainnya, agama mengizinkan keterlibatan pihak ketiga.
berarti persoalan kekerasan dalam rumah tangga sebenarnya bukanlah masalah yang caraka
tabu untuk dibi
ebagai penengah sebagaimana yang diisyaratkan dalam Q.S an Nisa : 35 yang : “Dan jika ada pertengkaran antara keduanya, kirimkanlah seorang hakam
luarga lelaki dan perempuan. Jika kedua hakam itu bermaksud mengadakan an, niscaya Allah memberi taufik kepada suami isteri tersebut.”208
nsep Nusyuz Suami Dikaitkan dengan Tindakan Kekerasan dalam mah Tangga 206 Ibid, hlm.34 207 Ibid, hlm.504 208
Sikap nusyuz suami ini dalam arti luas pada praktiknya dalam kehidupan masyarakat saat ini cenderung diidentikkan kepada istilah tindakan kekerasan dalam rumah tangga. Dalam hukum positif mengenai kekerasan dalam rumah ah Tangga. Menurut Undang-undang Rumah Tangga adalah setiap perbuatan erutama perempuan,yang berakibat timbulnya
taan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan,
kum dalam lingkup rumah tangga.”
Tahun 2004 tentang a yang termaktub berdasarkan asas : b keadilan dan keseteraan gender
d perlindungan korban
Selanjutnya dalam Pasal 4 Undang-undang tersebut dinyatakan bahwa :
Penghapusan kekerasan dalam rumah tangga bertujuan :
bentuk kekerasan dalam rumah tangga
b. melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga
Undang
umah Tangga meliputi ; kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual atau penelantaran rumah tangga.
Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit,
tangga ini telah diatur dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rum
tersebut bahwa : “Kekerasan dalam terhadap seseorang t
kesengsaraan atau penderi
pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hu 209
Adapun asas dan tujuan dari Undang-undang Nomor 23 Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga sebagaiman dalam Pasal 3 yaitu :
Penghapusan kekerasan dalam rumah tangga dilaksanakan
a penghormatan hak asasi manusia
c nondiskriminasi dan
210
a. mencegah segala
c. menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga dan
d. memelihara keutuhan rumah tangga yang harmonis dan sejahtera.211
Adapun kekerasan yang dilarang dalam rumah tangga dalam Pasal 5 menurut -undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam R
atau luka berat. Sedangkan kekerasan psikis adalah perbuatan yang 209
Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah
angga, andung, 2004, hlm.2 T Citra Umbara, B 210 Ibid, hlm.4 211 Ibid, hlm. 4
mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan sese
untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada orang. Kekerasan seksual meliputi pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga
sering t isteri u Nyony lagi yai
Pertama kali, paha saya disulut rokok menyala, saya selalu disiksa hingga saya ke Pekanbaru dan mengajak saya pulang. Tapi begitu sampai di Medan, menghisap ganja. Kalau menolak, maka kaki saya ditetesi lilin. Hal ini Puncaknya adalah ketika saya disekap di kamar tidur kami lalu ia menampar
memasukkan seorang wanita yang ingin dinikahinya dan langsung melakukan hubungan
anyak terjadi di masayarakat. Sebagaimana penuturan Nyonya RJ dalam sebuah majalah mencurahkan isi hatinya tentang perubahan tingkah laku suaminya ketika suaminya telah memiliki Wanita Idaman Lain (WIL) sebagai berikut :
Dulu sebelum ia mempunyai WIL dia selalu memperhatikan saya, dia selalu cinta di telinga saya sebelum kami tertidur. Tapi semua keindahan itu sirna dengan
tersebut.212
Kasus-kasus kekerasan fisik, kekerasan psikis dan kekerasan seksual sangat erjadi dalam masyarakat. Hal tersebut biasanya menjadi dasar atau alasan bagi ntuk mengajukan cerai gugat kepada Pengadilan Agama. Seperti penuturan a L pada majalah Nova yang sering disiksa oleh suaminya yang ingin menikah
tu :
saya harus mengungsi. Belum lama saya mengungsi, suami saya menyusul dia menyiksa saya lagi. Saya dicekoki bir sampai tiga botol. Saya juga dipaksa berlaku berulang-ulang. Saya tidak tahan lagi namun tidak bisa kabur darinya. dan memukuli saya seperti orang kesurupan kemudian dia
intim dihadapan saya. Saya dipaksa menonton. Kalau saya berpaling langsung ditampar. Setelah malam itu saya merasa ingin mati saja dan untungnya bisa kabur.213
Kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh suami terhadap isteri juga b
merayu dan mencumbu saya sebelum berhubungan dan membisikkan kata-kata
212
Ibid, hlm. 5-6
213
datangnya WIL tersebut. Dia tidak pernah lagi memperhatikan saya, ia membanding-b
menyalurkan kebutuhan biologisnya sesuka hatinya. Sakit hati saya, apalagi jika ia andingkan saya dengan WIL tersebut.214
t suaminya jarang pulang
se h
Islam mengajarkan untuk memperlakukan isteri dengan baik, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berhubungan intim. Sebagaimana terdapat
bersuci bersetubuhlah kamu dengan mereka sebagaimana Allah telah menyuruhmu. orang yang bersuci.
enantunya dapat
Berbeda dengan kasus Nyonya RJ tersebut di atas, Nyonya M yang berusia 35 tahun menceritakan dalam majalah tersebut bahwa suaminya yang memiliki pekerjaan sebagai pekerja kontrak di kapal telah membua
selama berbulan-bulan. Setiap suaminya pulang mereka berdua menumpahkan luruh kerinduan mereka dan biasanya suaminya tidak peduli lagi apakah ia sedang aid atau tidak.
dalam Q.S al Baqarah : 222 yang artinya sebagai berikut :
Mereka bertanya kepada engkau tentang haid. Katakanlah, itu suatu kotoran sebab itu hindarkanlah perempuan-perempuan ketika mereka dalam keadaan haid, dan janganlah kamu bersetubuh dengan mereka, sehingga mereka suci. Apabila mereka Sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang taubat dan mengasihi orang-
215
Kekerasan dalam rumah tangga dapat juga terjadi karena faktor kehadiran pihak ketiga. Kehadiran pihak ketiga dalam rumah tangga bukanlah suatu hal yang buruk, selama masing-masing pihak masih dapat berfikir jernih dalam menyikapi perilaku-perilaku yang dianggap tidak sesuai dengan keinginannya. Oleh sebab itu campur tangan pihak ketiga dalam hal ini biasanya mertua (ibu suami) dapat memicu terjadinya kekerasan yang timbul. Ibu mertua yang tidak menyukai m
214
Majalah Mingguan TIARA, Nomor 53 Tahun 1992, hlm.7
215
m ibatkan anak (suami) bingung dalam bertindak, apakah ia harus memilih ibunya atau isterinya. Dalam hal ini banyak faktor yang mendukung untuk terjadinya
mulai menjelek-jelekkan menantunya sehingga hal ini dapat menicu kebencian suami terhadap isteri, hingga tak jarang suami mau memukul, menampar dan menyakiti isteri baik secara fisik maupun psikologis (dengan kata-kata kasar).
Banyak kasus di dalam masyarakat terjadinya ketidakharmonisan dalam rumah tangga adalah disebabkan oleh ibu mertua seperti pada halnya kasus Anshar, warga Lubuk Pakam, yang berusia 36 tahun merasa bingung harus memilih antara ibunya yang merupakan kewajibannya untuk merawatnya dan isteri yang juga merupakan kewajibannya untuk menafkahinya. Kebingungannya berawal dari dari sikap ibu dan isterinya yang bermusuhan sehingga tidak mau lagi serumah, yang akhirnya ia mengkontrakkan sebuah rumah untuk ibunya. Hal ini tentunya menambah marah si isteri karena merasa uang belanjanya berkurang. Ditambah lagi suaminya sering ke rumah ibunya untuk m
engak
kekerasan terhadap isteri. Jika ibu mertua sudah tidak suka kepada menantunya, maka apapun yang dilakukan menantunya tidak akan benar di matanya. Ibu mertua akan
enemaninya. Maka isterinya pun sering marah-marah, ang m
sindiran oleh isterinya : “Abang
y embuat Anshar tidak betah di rumah dan semakin sering ke rumah ibunya.
Pada suatu malam Anshar pulang sangat larut karena menjenguk ibunya yang sedang sakit, sesampainya di rumah ia disambut dengan
kawin ajalah sama mamakmu.”216 Tanpa disadari oleh Anshar ia pun menampar isterinya hingga tersungkur ke lantai. Pada akhirnya hal tersebut memicu perceraian
saja. D dinyata melaku pada pe
da dan p nah ada putusan yang dibuat seperti itu kecuali putusan pada kasus-
rtimbangan hakim pada pokoknya dalam putusan perceraian
antara Anshar dan isterinya.
Dari kasus di atas terlihat bahwa faktor adanya pihak ketiga dapat memecah keutuhan rumah tangga, bahkan tak jarang ibu sendiri menyuruh anaknya untuk menceraikan isterinya dengan alasan tidak cocok.
E. Analisis Konsep Nusyuz Suami dan Akibatnya Menurut Hukum Perkawinan