• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMILU 2014 DAN PROFIL ORGANISASI KEMASYARAKATAN DI KOTA MEDAN

1.6. Kerangka Teori dan Konseptual

1.6.1. Konsep Orang Kuat Lokal (Local Strongmen)

Jika merujuk pada Migdal tentang kemunculan orang kuat lokal, salah satu sumber-sumber kekuasaan yang dimiliki diantaranya adalah dari kekayaan yang

dimiliki oleh pimpinannya sebagai tuan tanah atau orang kaya.20 Ide “bosisme” pada awalnya digunakan oleh Joel Miqdal atas fenomena “orang kuat lokal” yang berhasil melakukan kontrol sosial dan penguasaan sumber daya di Dunia ke Tiga.21 Migdal melihat bahwa para orang kuat telah berhasil menempatkan diri dan anggota keluarga mereka ke dalam jabatan-jabatan penting pemerintahan lokal agar tetap berjalan sesuai dengan aturan main yang mereka kehendaki ketimbang aturan-aturan main yang dikehendaki oleh institusi formal, seperti kebijakan dan perundang-undangan baik yang dibuat oleh pemerintah lokal atau pun pemerintah pusat.22

Kedua, orang kuat lokal melakukan kontrol sosial dengan cara menempatkan diri sebagai “penolong” bagi penduduk setempat dalam memenuhi kebutuhan hidup masyarakat yang membutuhkan. Dengan kata lain, orang kuat lokal menciptakan relasi patron-klien dengan masyarakat setempat guna melanggengkan posisi mereka.

Untuk menjelaskan argumennya tersebut, Migdal memberikan tiga argumen mendasar yang memiliki keterkaitan erat. Pertama, Migdal melihat bahwa berhasilnya orang kuat lokal menempatkan dirinya ke dalam jabatan-jabatan penting dan memiliki pengaruh yang besar atas masyarakat hingga dapat dikatakan melebihi para pemimpin negara dan para birokrat lokal, dikarenakan oleh terciptanya struktur masyarakat yang mirip jaringan. Di mana struktur ini telah terbentuk sejak pemerintahan kolonial dan berlangsung ke dalam perekonomian kapitalis dunia dan kelas-kelas pemilik tanah besar.

23

20

Joel S. Migdal. 1988. Strong Societies and Weak States: State-Society Relations and State Capabilities in

the Third World. New Jersey: Princenton University Press. hal. 13. Dilihat dalam

Dengan cara ini lah kemudian orang kuat lokal mendapatkan legitimasi dan dukungan dari masyarakat setempat.

WIB

21

Negara dunia ketiga adalah penyebutan untuk Negara-negara bekas jajahan yang tidak memihak pada blok liberal ataupun blok komunis. Lihat dalam Majalah Bhinneka. 2015. Setengah Abad Genosida’65. Surabaya: Yayasan Bhinneka Nusantara. hal. 37

22

R. Siti Zuhro, dkk. 2009. Op.Cit. hal. 10 23

Ketiga, Migdal melihat bahwa keberhasilan orang kuat lokal dalam menguasai sumber daya lokal baik politik maupun ekonomi telah merintangi dan membatasi otonomi dan kapasitas negara untuk melakukan perubahan atau meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Ini menjadikan negara lemah dalam melakukan kontrol sosial. Selain itu, juga memperbesar kekacauan dan ketidakterkendalian tatanan sosial di tingkat lokal.

Dari gagasan Migdal di atas dapat dipahami bahwa hadirnya orang kuat lokal dalam penguasaannya atas sumber daya lokal lebih disebabkan oleh lemahnya struktur negara dalam mengontrol sistem ekonomi dan politik. Struktur ini juga diperkuat oleh sistem patronase yang diciptakan oleh tuan tanah besar yang mendapatkan dukungan dari pemerintah kolonial pada masa yang lampau. Sistem patron-klien dan struktur pemerintah yang dibangun “mirip jaringan” ini lah yang kemudian dalam istilah Migdal telah menciptakan kondisi dan struktur sosial yang dapat melanggengkan dan memberikan keberhasilan orang kuat lokal untuk tetap menguasai sumber-sumber daya ekonomi dan politik. Migdal mencoba menerangkan tentang orang kuat lokal yang berhasil melakukan kontrol sosial. Dalam konteks ini, Migdal mengatakan: ”... Mereka berhasil menempatkan diri atau menaruh anggota keluarga mereka pada sejumlah jabatan penting demi menjamin alokasi sumber-sumber daya berjalan sesuai dengan aturan mereka sendiri ketimbang menurut aturan-aturan yang dilontarkan dalam retorika resmi, pernyataan kebijakan, dan peraturan perundang-undangan yang dibuat di ibu kota atau dikeluarkan oleh pelaksana peraturan yang kuat”. 24

Mengenai fenomena orang kuat lokal tersebut, Migdal memiliki tiga argumentasi yang saling berkaitan. Pertama, orang kuat lokal tumbuh subur di dalam masyarakat ”mirip jaringan” yang digambarkan sebagai ”sekumpulan campuran organisasi-organisasi sosial nyaris mandiri” dengan kontrol sosial yang efektif ”terpecah-pecah”. Pola kontrol sosial khusus terpecah-pecah ini, menurut

24

John T. Sidel. 1999. Capital, Coercion, and Crime: Bossism in the Philippines. Stanford: Stanford University Press. Maret 2015 Pukul 22.00.WIB.

dugaan, acapkali diakui melebur dalam pemerintahan kolonial dan penyatuannya di dalam perkuburan kelas-kelas pemilik tanah besar. Singkat kata, berkat struktur masyarakat mirip jaringan, orang kuat lokal memperoleh pengaruh signifikan jauh melampaui pengaruh para pemimpin negara dan para birokrat lokal yang digambarkan Migdal sebagai ”segitiga penyesuaian”.25

Ketiga, berhasilnya orang kuat lokal ”menangkap” lembaga-lembaga dan sumber daya negara merintangi atau menyetujui upaya pemimpin negara dalam melaksanakan pelbagai kebijakan. Orang kuat lokal membatasi otonomi dan kapasitas negara, penyebab kelemahan negara dalam menjalankan tujuan berorientasi perubahan sosial, serta memperbesar ketidakterkendalian dan kekacauan.

Kedua, orang kuat lokal melakukan kontrol sosial dengan menyertakan beberapa komponen penting yang dinamakan ”strategi bertahan hidup” penduduk setempat. Dengan kondisi seperti itu, orang kuat bukan saja memiliki legitimasi dan memperoleh banyak dukungan di antara penduduk lokal, tetapi juga hadir untuk memenuhi kebutuhan pokok dan tuntutan para pemilih atas jasa yang diberikan. Pola ini kemudian juga terjadi karena orang kuat lokal ditempatkan sebagai patron yang memberi kebaikan personal bagi klien yang melarat dan para pengikut di daerah kekuasaan mereka.

26

Berbeda dengan Migdal, Sidel melihat bahwa fenomena yang disebutnya sebagai Bosisme merefleksikan strong state dibandingkan strong society. Bosisme, kemudian secara konseptual adalah istilah yang muncul dari pendapat bantahan Sidel atas konsep “local strongmen” yang dikemukakan Joel Migdal. Analisa Migdal didasarkan pada studi empiris yang ditemukan pada negara 1.6.2. Teori Bos Lokal (Local Bossism)

25

Migdal. Op. Cit., hal. 256. 26

Bradley R. Simpson. 2010. Economists with Guns: Amerika Serikat, CIA, dan Munculnya Pembangunan Otoriter Rezim Orde Baru. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Umum. hal. 280.

postcolonial pada dekade 1970, temuan Migdal menunjukkan bahwa dalam Weak State ternyata terkandung strong society yang didominasi oleh elit tradisional dan local strongmen.27 Sidel melihat bahwa bosisme menunjukkan peran elit lokal sebagai predatory broker politik yang memiliki kontrol monopolistik terhadap kekuatan koersif dan sumber daya ekonomi dalam wilayah teritorial mereka. Bosisme beroperasi dalam bayangan rezim daerah yang dicirikan oleh persekutuan birokrat, bos-bos partai, pengusaha, militer, dan preman.28

Berkembangnya bosisme lokal tersebut di sisi lain menunjukkan ketiadaan salah satu nilai-nilai demokrasi yang hendak dicapai dengan penerapan kebijakan desentralisasi, yaitu kesetaraan politik. Konsep ini menyangkut tiga macam hubungan yaitu antar pemerintah, antara negara dan masyarakat dan antara masyarakat dan masyarakat. Hubungan antar pemerintah meliputi kesetaraan antar level pemerintahan, baik secara vertikal maupun horizontal, dalam kewenangan mengatur dan mengurus.29

Sidel mengkaji fenomena orang kuat lokal di tiga negara, Filipina, Thailand dan Indonesia ingin menunjukkan bahwa pola kekuasaan orang kuat lokal di Dunia ke Tiga bukanlah merupakan bentuk atau cermin dari kekuatan dan ketahanan dari “hubungan patron-klien” dan “elit pemilik tanah”, tetapi lebih pada mewakili keganjilan struktur kelembagaan negara. Selain itu, Sidel ingin menunjukkan bahwa keberadaan para bos lokal tidak lah merintangi pertumbuhan ekonomi sebagaimana yang dikatakan Migdal, hal ini seperti yang terjadi di

Penyelenggaraan pemerintahan daerah akan semakin kuat jika ada kesetaraan antara kewenangan dengan sumber keuangan yang dimiliki, kejelasan kewenangan antar berbagai tingkat pemerintahan, dan sebagainya. Hubungan antar negara dan masyarakat merupakan refleksi dari daya tawar masyarakat terhadap berbagai keputusan yang diambil lembaga pemerintahan.

27

Lihat John T. Sidel, Philippine Politics in Town, District, and Province: Bossism in Cavite and Cebu. The

Journal of Asian Studies, Vol. 56, No. 4 (Nov., 1997); John T. Sidel. 2005. “Bosisme dan Demokrasi di Filipina, Thailand dan Indonesia, Menuju Kerangka Analisis Baru Tentang “Orang Kuat Lokal” dalam John

Harris, Kristian Stokke, Olle Tornquist. Politisasi Demokrasi : Politik Lokal Baru. Jakarta: Demos 28

John T. Sidel. 2005. “Bosisme…”Ibid. hal 72. 29

Filipina. Gagasan Sidel ini ditunjukkan dengan kemajuan yang dialami sejumlah provinsi seperti Cavite dan Cebu yang berhasil memajukan perekonomian lokal dengan cara menarik pemodal asing berbasis Manila untuk menanamkan modal sejak pemulihan pemilihan umum demokrasi sesudah 1986.30

Sidel mengartikan fenomena bos lokal (local bossism) di Filipina dengan mengilustrasikan metafora tindakan kriminalitas yang digunakan untuk menganalisa logika kekuasaan dan relasinya dengan kesejahteraan aktor predatoris berusaha untuk memperkuat posisinya dalam aktivitas rent seeking atau pun akumulasi modal primitif. Para bos lokal bergantung pada sumber daya Negara, dibawah pengaruh dinamika ekonomi politik yang ada pada rezim otoritarian, dengan cara pembangunan berkala. Penggunaan kekerasan koersif merupakan strategi yang sering digunakan para bos lokal di Filipina untuk bertahan.

Ini semua menurut pengamatannya tidak terlepas dari langkah-langkah besar yang dilakukan oleh para bos lokal untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di tingkat lokal.

Fenomena ini menunjukkan langkah lebih maju dibandingkan Filipina saat berada di bawah rezim otoriter yang menjadikan sistem pemerintahan yang jauh lebih terpusat dan otonom dari pengaruh masyarakat, yang akhirnya Filipina mengalami kemunduran dramatis pada akhir tahun 1970-an dan awal tahun 1980-an. Lebih lanjut, Sidel melihat bahwa para bos lokal yang memperoleh kekuasaan dan kekayaan bukanlah dari kepemilikan tanah pribadi tetapi dari sumber-sumber negara dan perdagangan, dan banyak dari mereka golongan politikus dan “elite bertanah” itu yang mengumpulkan pundi-pundi kekayaan termasuk pemilikan tanah besar justru didapatkan setelah mereka memasuki atau menduduki jabatan, dan bukan sebelumnya.

31

John Sidel juga memperingatkan bahwa “orang-orang kuat lokal” (local strongmen) yang justru menguasai lembaga-lembaga demokrasi seperti partai

30

John T. Sidel. 1999. Op. Cit. hal. 5-6. 31

Lihat dalam John T. Sidel. 1999. Bossisme dan Demokrasi di Filipina, Thailand, dan Indonesia: menuju kerangka analisis baru tentang “Orang Kuat Lokal” dalam John Harriss, Kristian Stroke, dan Olle Tornquist (Edj), Arya Wisasa, dkk. 2005. Politisasi Demokrasi: Politik Lokal Baru (Terj). Jakarta: Demos. hal. 71.

politik, parlemen dan pemilihan umum ketika terjadi desentralisasi dan demokratisasi pasca pemerintahan otoritarianisme, dapat muncul dan berkembang di Thailland dan Indonesia. “Orang kuat lokal” dihambat kemunculannya di Indonesia selama Orde Baru dan dihambat juga ketika sistem pemilihan tidak langsung. Namun apabila dilakukan perubahan sistem pemilihan menjadi pemilihan langsung maka “orang kuat lokal” dapat muncul dan berkembang di Indonesia.32

Kemudian dalam perkembangannya, para bos lokal menjadi tumbuh subur dan tidak lagi bersandar pada kepemilikan tanah besar atau hubungan patron-klien sebagai penyangga kekuasaan mereka.33

Dari apa yang digagas oleh Sidel di atas, dapat dipahami bahwa kemunculan dan semakin menguatnya bos-bos lokal dalam menguasai sumber daya pada dasarnya adalah dikarenakan lemahnya negara dalam memfungsikan perannya. Selian itu, ingin menunjukkan kalau bos-bos lokal langgeng mempertahankan eksistensinya dalam jabatan-jabatan publik bukan karena kepemilikan tanah yang besar yang dimiliki sebelumnya, tetapi keberhasilan mereka dalam menjalin hubungan yang mirip jaringan kepada para birokrat atau pemerintah yang Akan tetapi, para bos lokal itu melakukan kontrol terhadap pejabat terpilih untuk mendapatkan akses dan monopoli atas pengaturan sumber dan hak-hak istimewa negara. Sehingga acap kali untuk melanggengkan kekuasaannya para bos lokal melakukan kolusi dan perselingkuhan dengan para birokrat dan penegak hukum guna menjaga dan menutupi tindakan mereka yang keluar jalur perundang-undangan. Bahkan dalam pemilihan umum, mereka acap kali melakukan pembelian suara pemilih, kekerasan, intimidasi dan kecurangan dalam penghitungan suara dengan bekerja sama dengan mesin-mesin lokal demi melangengkan jabatan yang telah mereka miliki sebelumnya.

32

John T. Sidel. 2005. “Bossism and Democracy in the Philippines, Thailand and Indonesia : Towards An

Alternative Framework for The Study “Local Strongmen”, dalam John Harris, Kristian Stokke dan Olle

Tornquist (eds), Politicising Democracy, The New Local Politics of Democratization, New York : Palgrave Macmillan. hal 53-57

33

berkuasa. Kehadiran orang kuat lokal (bosisme) dalam jabatan-jabatan publik di Indonesia mulai marak setelah runtuhnya rezim otoriter Orde Baru pada tahun 1998. Hal ini dikarenakan Rezim Orde Baru yang sangat sentralistik dan menerapkan cengkramannya hingga ke tingkat desa dengan menggunakan organisasi militer untuk mengontrol tatanan sosial, tidak memungkinkan para bos lokal untuk muncul dipermukaan pada masa sebelumnya. Runtuhnya rezim otoriter dan beralih pada rezim reformasi menghantarkan orang-orang lokal yang dulunya mendapatkan manfaat dari sistem yang dibangun Orde baru, seperti para pengusaha, preman dan lainnya mulai mengokohkan kekuasaan barunya atas tatanan sosial yang ada untuk mendapatkan alokasi sumber daya ekonomis dan sumber daya politik.

Dalam kasus bosisme di Indonesia, Sidel melihat bahwa penggunaan kekerasan dan pembelian suara dalam pemilu juga terjadi sebagaimana di Filipina dan Thailand untuk mendapatkan kekuasaan dan melanggengkan kekuasaan.34 Selain itu, kebanyakan bos-bos lokal guna melanggengkan kekuasaan maupun tetap terjaga atau aman sumber daya ekonomi lokal yang mereka kuasai, juga membangun hubungan erat dengan klik-klik35

Dalam penelitian Vedi R. Hadiz di Sumatera Utara, para elit menganggap lembaga-lembaga demokrasi yang digerakkan dengan politik uang dan kekerasan bisa sama menguntungkannya dengan perlindungan rezim otoritarian yang bersifat menyeluruh. Bahkan deretan kepentingan yang sekarang memerebutkan kekuasaan di tingkat lokal tampak lebih bervariasi dibandingkan pada masa Soeharto. Di dalamnya termasuk para pialang dan bandar politik ambisius, birokrat negara yang lihai dan masih bersifat predatoris, kelompok-kelompok bisnis baru yang berambisi tinggi serta beraneka ragam gangster politik, kaum pensiunan perwira angkatan bersenjata dan kepolisian.

34

John T. Sidel. 2005. Op. Cit. hal. 76 35

Klik-klik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kelompok kecil orang tanpa struktur formal yg mempunyai pandangan atau kepentingan bersama: kalau bukan -- nya, tidak akan dilayani dengan cepat; kelompok yg mengoordinasi dan mengendalikan keputusan sampai di luar bidang kebijaksanaan;

kriminal dan barisan keamanan sipil. Mayoritas dari kelompok-kelompok ini dibesarkan oleh rezim Orde Baru sebagai operator dan pelaksana lapangannya.36

Dari gagasan Migdal dan Sidel tentang peran bos lokal di dunia ke tiga sebagaimana dibahas di atas, penulis pada penelitian ini lebih cenderung untuk menggunakan dan merujuk konsep tentang bos lokal yang diusung oleh Sidel. Hal ini tidak terlepas dari realitas di lapangan yakni di Kota Medan, di mana pola bos lokal dalam memerankan dirinya dalam dunia politik dan ekonomi memiliki persamaan dengan gagasan yang diusung oleh Sidel. Salah satu contoh individu yang masih ada dalam ingatan kita, yaitu sosok Mendiang Opung Oloan Panggabean. Beliau adalah salah seorang pendiri organisasi Ikatan Pemuda Karya (IPK) tahun 1987, dan beliau dikenal, disegani dan ditakuti di Sumatera Utara (di Medan selalu dipuja-puja oleh lingkaran orang dalamnya). Pada satu peristiwa, salah satu anggota polisi dibunuh oleh IPK, dan kemudian polisi membalas dengan cara menembaki rumah kediaman Olo. Namun, polisi “ditegur” oleh pihak militer atas perintah bos dunia kriminal itu.37

36

Vedi R. Hadiz. 2005. Dinamika Kekuasaan: Ekonomi Politik Indonesia Pasca Soeharto. Jakarta : Penerbit Pustaka LP3ES Indonesia. Hal. 239-244.

37

Lihat Loren Ryter. 1998. “Pemuda Pancasila: The Last Loyalist Free Men of Soeharto New Order?”

Indonesia, 66.Oktober. Lihat juga dalam Muryanto Amin. 2013. Politik Layar Terkembang: Lintasan Sejarah Pemuda Pancasila Sumatera Utara Dalam Kekuasaan. Medan: Vote institute. hal .48-51.

Penulis melihat paling tidak di antara gagasan bos lokal dari kedua sarjana di atas, gagasan dan konsep Sidel lah yang lebih cocok dan mendekati untuk digunakan sebagai kerangka analisis dalam melihat pengaruh bos lokal yang ada di Kota Medan.

Dalam konteks penelitian ini, teori yang digunakan adalah teori yang dikemukakan oleh John T. Sidel. Teori sidel yang membahas bos lokal membantu merumuskan kerangka berfikir ketika melihat keberadaan tokoh organisasi masyarakat di Kota Medan dengan segala aktivitas yang cenderung dalam kasus memberikan dukungan kepada calon anggota DPRD Kota Medan, melalui organisasi masyarakat di Medan, para anggota dan kadernya bisa muncul menjadi tokoh yang turut berpengaruh dalam aktivitas politik seperti pemilihan umum meskipun keterlibatan mereka terkait dengan perlindungan keamanan.

Penelitian ini akan mengungkapkan asumsi bahwa fenomena munculnya bosisme di Kota Medan tidak terkait dengan lemahnya Negara, tetapi terkait dengan, hal yang diungkapkan oleh sidel, bahwa mereka beroperasi dalam bayangan rezim daerah yang dicirikan oleh persekutuan bos-bos partai, pengusaha, militer dan preman. Mereka ini memiliki kontrol monopolistik terhadap kekuatan pemaksaan dan sumber daya ekonomi dalam wilayah teritorial tertentu. Teori sidel akan menganalisis kasus bentuk dukungan timbal-balik yang saling menguntungkan antara tokoh organisasi kemasyarakatan dengan calon anggota DPRD Kota Medan dari Daerah Pemilihan II Kota Medan pada Pemilihan Umum 2014.