• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II DESKRIPSI TEORI PENELITIAN

2.1.3 Konsep Pajak

Pajak pada mulanya merupakan suatu upeti (pemberian yang cuma-cuma)

namun sifatnya dapat dipaksakan yang harus dilaksanakan oleh rakyat

(masyarakat) kepada penguasa, namun bentuknya berupa padi, ternak atau hasil

tanaman lainnya. Pemberian tersebut digunakan untuk keperluan atau kepentingan

raja atau penguasa setempat. Sedangkan imbalan atau prestasi yang dikembalikan

kepada rakyat tidak ada oleh karena memang sifatnya hanya untuk kepentingan

sepihak seolah-olah ada tekanan secara psikologis karena kedudukan raja yang

lebih tinggi status sosialnya dibanding rakyat. Namun dalam perkembangannya,

sifat upeti yang diberikan oleh rakyat tidak lagi hanya untuk kepentingan

penguasa saja, tetapi sudah mengarah kepada kepentingan rakyat itu sendiri.

Artinya pemberian yang dilakukan rakyat kepada penguasa digunakan untuk

kepentingan umum seperti untuk menjaga keamanan rakyat, memelihara jalan,

membangun saluran air serta kepentingan umum lainnya. Kemudian selanjutnya

dibuatkan suatu aturan-aturan yang lebih baik agar sifatnya yang memaksa tetap

2.1.3.1. Definisi Pajak

Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan

RetribusiDaerah mendefinisikan pajak sebagai kontribusi wajib kepada Daerah

yang terutangoleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa

berdasarkanUndang - Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara

langsung dandigunakan untuk keperluan Daerah bagi sebesar-besarnya

kemakmuranrakyat.

Undang-undang Nomor 12 Tahun 1994 tentang Pajak Bumi dan Bangunan

mendefinisikan pajak sebagai salah satu sumber penerimaan Negara yang sangat

penting artinya bagi pelaksanaan dan peningkatan pembangunan nasional sebagai

pengamalan pancasila yang bertujuan untuk meningkatkan kemakmuran dan

kesejahteraan rakyat , dan oleh karena itu perlu dikelola dengan meningkatkan

peran serta masyarakat sesuai dengan kemampuannya.

MenurutSoemitro (dalam Mardiasmo 2013:1) menyatakan bahwaPajak

adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat

dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung

dapat ditunjukan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.

Menurut Soemitro (dalam Mardiasmo, 2011:1) mengatakan bahwa Pajak

adalah “Pajak adalah iuran rakyat kepada kasNegara berdasarkanUndang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiadamendapat jasa timbal (kontra Prestasi) yang

langsung dapatditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar

Soemahamidjaja (dalam Darise,2009:48) mengatakan bahwa Pajak

adalahIuran wajib,berupa uang atau barang, yang telah dipungut

olehpenguasaberdasarkan norma-norma hukum, guna menutup biayaproduksi

barang-barang dan jasa-jasa kolektif dalam mencapaikesejahteraan umum.

Sedangkan Menurut

Andriani (dalam Bohari, 2012:23) menyatakanpengertian pajak bahwaPajak

adalah iuran kepada Negara (yang dapat dipaksakan) yangterutang oleh yangwajib

membayarnya menurut peraturan-peraturan,dengan tidak mendapatprestasi

kembali, yang langsung dapat ditunjuk, dan yang gunanyauntukmembiayai

pengeluaran-pengeluaranumum untuk menyelenggarakan pemerintahan.

Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ada

enamunsur yang melekat dalam pengertian pajak, antara lain :

1. Iuran dari rakyat kepada Negara 2. Berdasarkan undang-undang 3. Sifatnya dapat dipaksakan

4. Tidak ada kontra-prestasi (imbalan) yang langsung dapatdirasakan olehpembayar pajak

5. Pemungutan pajak dilakukan oleh negara baik oleh pemerintah pusat maupun daerah (tidak boleh dipungut oleh swasta)

6. Digunakan untuk membiayai rumah utang Negara, yakni pengeluaran

– pengeluaran yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

2.1.3.2. Fungsi pajak

Dalam pembuatan peraturan pajak daerah, harus didasarkan

padapemungutan pajak secara umum yaitu demi meningkatkan kesejahteraan

umum.Untuk meningkatkan kesejahtaraan umum tidak hanya memasukkan

uangsebanyak-banyaknya ke kas negara saja, tetapi juga harus mempunyai

uangdemi meningkatkan kesejahtaraan umum perlu ditingkatkan lagi

sertapemungutannya harus berdasar dan dilaksanakan menurut norma-norma

yangberlaku. Pajak dilihat dari fungsinya menurut Ilyas (2004:8) mempunyai

duafungsi yakni :

1. Fungsi Budgeter adalah fungsi yang letaknya di sektor publik yaitu fungsiuntuk mengumpulkan uang pajak sebanyak-banyaknya sesuai denganundang-undang berlaku pada waktunya akan digunakan untuk membiayaipengeluaran-pengeluaran negara, yaitu pengeluaran rutin danpengeluaran pembangunan dan bila ada sisa (surplus) akan digunakansebagai tabungan pemeritahan untuk investasi pemerintahan. 2. Fungsi Regulerend (mengatur) adalah suatu fungsi bahwa

pajak-pajaktersebut akan digunakan sebagai suatau alat untuk mencapai tujuan-tujuantertentu letaknya diluar bidang keuangan. Fungsi

regulerend iniumumnya dapat dilihat di dalam sektor swasta.

3. Fungsi demokrasi adalah suatu fungsi yang merupakan salah satu penjelmaan atau wujud sistem gotong royong, termasuk kegiatan pemerintahan dan pembangunan demi kemaslahatan manusia. Fungsi demokrasi pada masa sekarang ini sering dikaitkan dengan hak seseorang apabila akan memperoleh pelayanan dari pemerintah. Apabila seseorang telah melakukan kewajibannya membayar pajak kepada negara sesuai ketentuan yang berlaku, maka ia mempunyai hak pula untuk mendapatkan pelayanan yang baik, pembayar pajak bisa melakukan protes (complain) terhadap pemerintah dengan mengatakan bahwa ia telah membayar pajak, mengapa tidak mendapat pelayanan yang semestinya.

4. Fungsi distribusi ialah fungsi yang lebih menekankan pada unsurpemerataan dan keadilan dalam masyarakat. Hal ini dapat terlihatmisalnya dengan adanya tarif progresif yang mengenakan pajak lebihbesar kepada masyarakat yang mempunyai penghasilan banyak danpajak yang lebih kecil kepada masyarakat yang mempunyai penghasilanlebih sedikit (kecil).

Fungsi pajak bagian C dan D di atas sering kali disebut sebagai

fungsitambahan karena fungsi tersebut bukan merupakan tujuan utama

dalampemungutan pajak. Akan tetapi dengan perkembangan masyarakat

dapatdipisahkan, dalam rangka kemaslahatan manusia serta keseimbangan

dalammewujudkan hak dan kewajiban masyarakat.

Sebagai sumber pendapatan negara, pajak berfungsi untuk membiayai

pengeluaran-pengeluaran negara. Untuk menjalankan tugas-tugas rutin negara dan

melaksanakan pembangunan, negara membutuhkan biaya. Biaya ini dapat

diperoleh dari penerimaan pajak. Dewasa ini pajak digunakan untuk pembiayaan

rutin seperti belanja pegawai, belanja barang, pemeliharaan, dan lain sebagainya.

Untuk pembiayaan pembangunan, uang dikeluarkan dari tabungan pemerintah,

yakni penerimaan dalam negeri dikurangi pengeluaran rutin. Tabungan

pemerintah ini dari tahun ke tahun harus ditingkatkan sesuai kebutuhan

pembiayaan pembangunan yang semakin meningkat dan ini terutama diharapkan

dari sektor pajak.

Pemerintah bisa mengatur pertumbuhan ekonomi melalui kebijaksanaan

pajak. Dengan fungsi mengatur, pajak bisa digunakan sebagai alat untuk mencapai

tujuan. Contohnya barang-barang mewah dikenakan pajak yang tinggi dalam

rangka mengurangi gaya hidup konsumtif, pajak yang tinggi dikenakan terhadap

minuman keras untuk mengurangi konsumsi minuman keras, serta pajak untuk

ekspor sebesar 0%, untuk mendorong ekspor produk Indonesia di pasaran dunia.

2.1.3.3. Syarat Pemungutan Pajak

Mardiasmo (2013:2) memaparkan bahwa agar pemungutan pajak tidak

menimbulkan hambatan atau perlawanan, maka pemungutan pajak harus

1. Pemungutan pajak harus adil (Syarat keadilan)

Sesuai dengan tujuan hukum, yakni mencapai keadilan, undang-undang dan pelaksanaan pemungutan harus adil.Adil dalam perundang-undangan diantaranya mengenakan pajak secara umum dan merata, serta disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Sedang adil dalam pelaksanaannya, yakni dengan memberikan hak bagi Wajib Pajak untuk mengajukan keberatan, penundaan dalam pembayaran dan mengajukan banding kepada Majelis Pertimbangan Pajak.

2. Pemungutan pajak harus berdasarkan undang-undang (Syarat yuridis) Di Indonesia, pajak diatur dalam UUD 1945 pasal 23 ayat 2. Hal ini memberikan jaminan hukum untuk menyatakan keadilan, baik bagi Negara maupun warganya.

3. Tidak mengganggu perekonomian (Syarat ekonomis)

Pemungutan tidak boleh mengganggu kelancaran kegiatan produksi maupun perdagangan, sehingga tidak menimbulkan kelesuan perekonomian masyarakat.

4. Pemungutan pajak harus efisien (Syarat finansial)

Sesuai fungsi budgetair, biaya pemungutan pajak harus dapat ditekan sehingga lebih rendah dari hasil pemungutannya.

5. Sistem pemungutan pajak harus sederhana

Sistem pemungutan yang sederhana akan memudahkan dan mendorong masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakkannya. Syarat ini telah dipenuhi oleh undang-undang perpajakan yang baru.

Seperti halnya produk hukum pajak pun mempunyai tujuan untuk

menciptakan keadilan dalam hal pemungutan pajak. Adil dalam

perundang-undangan maupun adil dalam pelaksanaannya. Sesuai dengan Pasal 23 UUD 1945

yang berbunyi: "Pajak dan pungutan yang bersifat untuk keperluan negara diatur

dengan Undang-Undang", ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam

penyusunan UU tentang pajak, yaitu:

a. Pemungutan pajak yang dilakukan oleh negara yang berdasarkan UU tersebut harus dijamin kelancarannya.

b. Jaminan hukum bagi para wajib pajak untuk tidak diperlakukan secara umum.

c. Jaminan hukum akan terjaganya kerasahiaan bagi para wajib pajak.

Pemungutan pajak harus diusahakan sedemikian rupa agar tidak

maupun jasa. Pemungutan pajak jangan sampai merugikan

kepentinganmasyarakat dan menghambat lajunya usaha masyarakat pemasok

pajak, terutama masyarakat kecil dan menengah.Biaya-biaya yang dikeluarkan

dalam rangka pemungutan pajak harus diperhitungkan. Jangan sampai pajak yang

diterima lebih rendah daripada biaya pengurusan pajak tersebut. Oleh karena itu,

sistem pemungutan pajak harus sederhana dan mudah untuk dilaksanakan.

Dengan demikian, wajib pajak tidak akan mengalami kesulitan dalam pembayaran

pajak baik dari segi penghitungan maupun dari segi waktu. Bagaimana pajak

dipungut akan sangat menentukan keberhasilan dalam pungutan pajak. Sistem

yang sederhana akan memudahkan wajib pajak dalam menghitung beban pajak

yang harus dibiayai sehingga akan memberikan dapat positif bagi para wajib

pajak untuk meningkatkan kesadaran dalam pembayaran pajak. Sebaliknya, jika

sistem pemungutan pajak rumit, orang akan semakin enggan membayar pajak.

2.1.3.4 Asas-asas Pemungutan Pajak

Asas merupakan sesuatu yang dapat dijadikan sebagai alas, dasar

atautumpuan untuk menjelaskan sesuatu permasalahan. Lazimnya

suatupemungutan pajak itu harus dilandasi dengan asas-asas yang merupakan

ukuranuntuk menentukan adil tidaknya suatu pemungutan pajak.Mardiasmo

(2013:7) mengemukakan bahwa ada tigaasas pemungutan pajak, yakni :

1. Asas Domisili (asas tempat tinggal)

Negara berhak menekankan pajak atas seluruh penghasilan Wajib Pajak yang bertempat tinggal diwilayahnya, baik penghasilan yang berasal dari dalam maupun dari luar negeri.Asas ini berlaku untuk Wajib Pajak dalam negeri.

2. Asas Sumber

Negara berhak mengenakan pajak atas penghasilan yang bersumber diwilayahnya tanpa memperhatikan tempat tinggal Wajib Pajak.

3. Asas Kebangsaan

Pengenaan pajak dihubungkan dengan kebangsaan suatu Negara.

Terdapat perbedaan dari ketiga asas diatas, dimana pada asas domisili dan

asas kebangsaan yang dijadikan landasan kewenangan Negara dalam pengenaan

pajak adalah status subjek yang akan dikenakan pajak, yaitu apakah yang

bersangkutan berstatus sebagai penduduk atau berdomisili (asas domisili) atau

berstatus sebagai warga Negara (asas kebangsaan). Disini asal muasal penghasilan

yang menjadi objek pajak tidaklah begitu penting. Pajak akan dikenakan tterhadap

penghasilan yang diperoleh dimana saja. Sementara itu, pada asas sumber yang

menjadi landasannya adalah status objeknya yaitu apakah objek yang akan

dikenakan pajak bersumber dari Negara itu atau tidak, status dari orang atau badan

yang memperoleh penghasilan tidak begitu penting. Pada asas ini penghasilan

yang dapat dikenakan pajak hanya terbatas pada penghasilan yang diperoleh dari

sumber-sumber yang ada di Negara yang bersangkutan.

Dari ketentuan-ketentuan yang dimuat dalam Undang-undang nomor 7

tahun 1983 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun

1994, khususnya yang mengatur mengenai subjek pajak dan objek pajak . Dapat

disimpulkan bahwa Indonesia menganut asas domisili dan asas sumber, sekaligus

dalam sistem perpajakannya.Indonesia juga menganuut asas kebangsaan yang

parsial, yaitu khusus dalam ketentuan yang mengatur mengenai pengecualian

2.1.3.5 Sistem Pemungutan Pajak

Sistem pemungutan pajak merupakan kesatuan prosedur atau cara

yangdapat dilakukan dalam pemungutan suatu pajak. Pada umumnya

sistempemungutan pajak dibagi atas empat (Mardiasmo,2011:7), yakni :

1. Official Assesment System

Official Assesment System yaitu sistem pemungutan pajak yang menyatakan bahwa jumlah pajak yang terutang oleh wajib pajak dihitung dan ditetapkan oleh aparat pajak atau fiskus. Dalam sistem ini utang pajak timbul bila telah ada ketetapan pajak dari fiskus (sesuai dengan ajaran formil tentang timbulnya utang pajak). Jadi dalam hal ini wajib pajak bersifat pasif.

2. Semi Self assessment System

Suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang pada fiskus dan wajib pajak untuk menentukan besarnya pajak seseorang yang terutang.

3. Self Assesment System

SelfAssesment System yaitu sistem pemungutan pajak dimanawewenang menghitung besarnya pajak yang terutang oleh wajib pajakdiserahkan oleh fiskus kepada wajib pajak yang bersangkutan, sehingga dengan sistem ini wajib pajak harus aktif untuk menghitung, menyetor danmelaporkan kepada Kantor Pelayanan Pajak (KPP), sedangkan fiskusbertugas memberikan penerangan dan pengawasan.

4. With Holding System

With Holding System yaitu sistem pemungutan pajak yang menyatakan bahwa jumlah pajak yang terutang dihitung oleh pihak ketiga (yang bukan wajib pajak dan juga bukan aparat pajak / fiskus).

Perbedaan keempat sistem ini terletak pada pemegang tanggung jawab

(siapa) yang menetapkan besarnya pajak yang seharusnya terutang. Jika dalam

sistem official-assessment penetapan besarnya jumlah pajak Wajib Pajak menjadi

tanggung jawab Fiskus, sehingga segala resiko pajak yang akan timbul menjadi

tanggung jawab Fiskus, misalnya terlambat membayar atau melapor dikarenakan

keterlambatan Fiskus menetapkan besarnya jumlah pajak terutang Wajib Pajak

pajak untuk menghitung jumlah pajak yang harus dibayar Wajib Pajak. Dalam

sistem Semi Self assessment Systembesarnya pajak terhutang ditentukan oleh

fiskus atau wajib pajak. Dalam sistem Self Assesment System,sistem pemungutan

pajak ini, besarnya pajak terhutang dihitung sendiri oleh wajib pajak,wajib pajak

bersifat aktif dengan melaporkan dan membayar sendiri pajak terhutang yang

seharusnya dibayar, danpemerintah tidak perlu mengeluarkan surat ketetapan

pajak setiap saat kecuali oleh kasus-kasus tertentu saja seperti wajib pajak

terlambat melaporkan atau membayar pajak terhutang atau terdapat pajak yang

seharusnya dibayar tetapi tidak dibayar. Sedangkan dalam sistem With Holding

Systembesarnya pajak terhutang ditentukan oleh pihak ketiga, pihak ketiga disini

adalah pihak lain selain pemerintah dan wajib pajak.

Oleh karena itu, pemerintah memutuskan untuk mengubah sistem

pemungutan pajaknya menjadi sistem self-assessmentsystemdimana penetapan

besarnya jumlah pajak yang seharusnya terutang menjadi tanggung jawab Wajib

Pajak itu sendiri, sehingga segala resiko pajak yang timbul menjadi tanggung

jawab Wajib Pajak itu sendiri pula. Di sini terlihat adanya pergeseran tanggung

jawab dari Fiskus kepada Wajib Pajak, yang tanpa disadari Wajib Pajak bahwa

hal ini akan menjadi beban berat dalam melaksanakan kewajban perpajakannya.

Fiskus dalam sistem self-assessment hanya bertugas mengawasi pelaksanaannya

saja yaitu dengan melakukan pemeriksaan atas kepatuhan Wajib Pajak terhadap

peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku. Sistem self

assessmentyang kini dianut Indonesia memberikan kebebasan dan tanggung jawab

2.1.3.6 Pengelompokan Pajak

Menurut Mardiasmo (2013:5)dalam hukum pajakterdapat berbagai

pembedaan jenis-jenis pajak yang terbagi dalam golongan-golonganbesar.

Pembedaan dan pengelompokan ini mempunyai fungsi yangberlainan pula.

Berikut adalah penggolongan pajak:

1. Pengelompokan Pajak Menurut Golongannya dibedakan menjadi dua yaitu :

1) Pajak Langsung adalah pajak yang harus dipikul sendiri oleh Wajib Pajak dan tidak dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain. Contoh : Pajak Penghasilan.

2) Pajak Tidak Langsung adalah pajak yang pada akhirnya dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain. Contoh : Pajak Pertambahan Nilai.

2. Pengelompokan Pajak Menurut Sifatnya dibedakan menjadi dua yaitu: 1) Pajak Subjektif adalah pajak yang berpangkal atau berdasarkan

pada subjeknyan, dalam arti memperhatikan keadaan diri Wajib Pajak.Contoh : Pajak Penghasilan.

2) Pajak Objektif adalah pajak yang berpangkal pada objeknya, tanpa memperhatikan keadaan diri Wajib Pajak. Contoh : Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah. 3. Pengelompokan Pajak Menurut Lembaga Pemungutnya dibedakan

menjadidua yaitu:

1) Pajak Pusatadalah pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan digunakan untuk membiayai rumah tangga Negara. Contoh : Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan Atas Barang Mewah dan Bea Materai.

2) Pajak Daerah adalah pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah dan digunakan untuk membiayai rumah tangga Negara. Pajak daerah terdiri atas :

a. Pajak Provinsi, contoh Pajak Kendaraan Bermotor dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor.

b. Pajak Kabupaten/Kota, contoh : Pajak Hotel, Pajak Restoran, dan Pajak Hiburan.

Berdasarkan pengelompokkann pajak tersebut, pajak bumi dan bangunan

sektor perdesaan dan perkotaan termasuk ke dalam pajak objektif, dikarenakan

dalam pengenaan pajak bumi dan bangunan sektor perdesaan dan perkotaan,

besarnya pajak tidak dipengaruhi oleh keadaan Wajib Pajak.

2.1.3.7 Tata Cara Pemungutan Pajak

Tata cara pemungutanpajak dapat dilakukan berdasarkan 3 stelsel :

1. Stelsel Nyata (riel stelsel)

Pengenaan pajak didasarkan pada objek (penghasilan yang nyata), sehingga pemungutannya baru dapat dilakukan pada akhir tahun pajak yakni setelah penghasilan yang sesungguhnya diketahui. Stelsel nyata mempunyai kelebihan atau kebaikan dan kekurangan.Kebaikan stelsel ini adalah pajak yang dikenakan lebih realistis.Sedangkan kelemahannya adalah pajak baru dapat dikenakan pada akhir periode (setelah penghasilan rill diketahui).

2. Stelsel Anggapan (fictieve stelsel)

Pengenaan pajak didasarkan pada suatu anggapan yang diatur oleh undang-undang. Misalnya, penghasilan suatu tahun dianggap sama dengan tahun sebelumnya, sehingga pada awal tahun pajak sudah dapat ditetapkan besarnya pajak yang terutang untuk tahun pajak berjalan. Kebaikan stelsel ini adalah pajak dapat dibayar selama tahun berjalan, tanpa harus menunggu pada akhir tahun.Sedangkan kelemahannya adalah pajak yang dibayar tidak berdasarkan pada keadaan yang sesungguhnya.

3. Stelsel Campuran

Stelsel ini merupakan kombinasi antara stelsel nyata dan stelsel anggapan. Pada awal tahun, besarnya pajak dihitung berdasarkan suatu anggapan, kemudian pada akhir tahun bersarnya pajak disesuaikan dengan keadaan yang sebenarnya. Bila besarnya pajak menurut kenyataan lebih besar dari pada pajak menurut anggapan, maka wajib pajak harus menambah.Sebaliknya, jika lebih kecil kelebihannya dapat diminta kembali.

Berdasarkan tata cara pemungutan pajak yang telah dijelaskan

sebelumnya, dapat dikatakan bahwa dalam pemungutan pajak bumi dan bangunan

sektor perdesan dan perkotaan, tata cara pemungutan yang digunakan adalah

stelsel nyata, dimana pengenaan pajak didasarkan pada objek (penghasilan nyata)

sehingga pajak baru dapat dikenakan pada akhir periode.

2.1.3.8. Hambatan Pemungutan Pajak

Hambatan dalam pemungutan pajak dapat dikelompokkan menjadi :

1. Perlawanan pasif

Masyarakat enggan (pasif) membayar pajak, yang dapat disebabkan

antara lain :

a. Perkembangan intelektual dan moral masyarakat

b. Sistem perpajakan yang (mungkin) sulit dipahami masyarakat c. Sistem kontrol tidak dapat dilakukan atau dilaksanakan dengan

baik

2. Perlawanan aktif

Perlawanan aktif meliputi semua usaha dan perbuatan yang secara

langsung ditujukan kepada fiskus dengan tujuan untuk menghindari pajak.

Bentuknya antara lain :

a. Tax avoidance, usaha meringankan beban pajak dengan tidak melanggar undang-undang.

b. Tax evasion, usaha meringankan beban pajak dengan cara melanggar undang-undang (menggelapkan pajak).

Berdasarkan hambatan dalam pemungutan pajak tersebut, dapat dikatakan

bahwa peran serta masyarakat dalam membayar pajak sangatlah penting,

pajak yakni penerimaan pajak sesuai dengan target yang telah ditetapkan, tidak

akan tercapai. Sehingga tujuan dari pemerintah untuk melakukan pembangunan

yang adil dan merata, yang merupakan timbal balik dari hasil pemungutan pajak

pun tidak akan tercapai. Selain itu hambatan pemungutan pajak dengan

perlawanan aktif, salah satunya usaha meringankan beban pajak dengan tidak

melanggar undang-undang, pemerintah sendiri telah memberikan solusi, yakni

dengan mengajukan keberatan atas pajak terhutang yang tidak sesuai dengan yang

seharusnya.

2.1.3.9 Timbul dan Hapusnya Utang Pajak

Menurut Mardiasmo (2013:8) menyebutkan bahwa terdapat dua ajaran

yang mengatur timbulnya utang pajak :

1. Ajaran Formil

Utang pajak timbul karena dikeluarkannya surat ketetapan pajak oleh fiskus. Ajaran ini diterapkan pada Official Assessment System.

2. Ajaran Material

Utang pajak timbul karena berlakunya undang-undang.Seseorang dikenai pajak Karena suatu keadaan dan perbuatan.Ajaran ini diterapkan pada Self Assessment System.

Hapusnya utang pajak dapat disebabkan oleh beberapa hal :

1. Pembayaran 2. Kompensasi 3. Daluwarsa

4. Pembebasan dan Penghapusan

Dokumen terkait