• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJUAN PUSTAKA

E. Konsep Penanggulangan Kejahatan

Penanggulangan kejahatan dapat diartikan sebagai upaya yang dilakukan oleh setiap orang baik pemerintah maupun masyarakat untuk menciptakan rasa aman, damai dan terhindar dari tindakan kejahatan.Masalah kejahatan dalam masyarakat merupakan hal yang sering terjadi. Upaya-upaya dalam menanggulangi kejahatan lebih diarahkan pada pembinaan serta pemberian efek jera terhadap pelaku agar dapat menyadari kejahatan yang telah mereka lakukan.

Kepolisian sebagai salah satu fungsi pemerintahan negara dalam pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat memiliki peran penting dalam penegakan hukum serta mencegah timbulnya kejahatan di dalam masyarakat.

Penanggulangan kejahatan penyebaran berita bohong (hoax) oleh kepolisian terdiri dari tiga bagian pokok (Monica: 2017) yakni sebagai berikut:

1. Pre-emtif adalah upaya menanamkan nilai-nilai/norma-norma yang baik kepada setiap individu sehingga tidak terdapat niat untuk melakukakan kejahatan. Dalam hal ini kepolisian dalam penanggulangan penyebaran berita bohong yaitu melakukakn sosialisasi melalui media sosial.

2. Preventif merupakan tindakan lanjutan dari upaya pre-emtif yaitu pencegahan sebelum terjadinya tindak pidana/kejahatan. Melalui upaya ini kepolisian membentuk cyber patrol.

3. Represif adalah upaya yang dilakukan setelah kejahatan terjadi, berupa penegakan hukum. Upaya represif yang dilakukan oleh kepolisian dalam penanggulangan kejahatan terhadap pelaku penyebar berita bohong yaitu melalui tahap penyelidikan dan penyidikan.

Menurut Soedjono D (1976) Upaya penanggulangan kejahatan yang baik, sebaiknya dapat memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a) Sistem dan operasi kepolisian yang baik b) Peradilan yang efektif

c) Hukum dan perundang-undangan yang berwibawa

d) Koordinasi antar penegak hukum dan aparatur pemerintah yang serasi e) Partisipasi masyarakat dalam penangulangan kejahatan

f) Pengawasan dan kesiagaan terhadap kemungkinan timbulnya kejahatan g) Pembinaan organisasi kemasyarakatan.

Kebijakan atau upaya dalam penanggulangan kejahatan termasuk bidang kebijakan kriminal (criminal policy). Menurut G.P. Hoefnagels (dalam Arief 2008: 3) mengemukakan bahwa “criminal policy is the rational organization of the social reaction to crime.” (Kebijakan kriminal adalah organisasi rasional dari reaksi sosial terhadap kejahatan). Kebijakan kriminal ini pun tidak terlepas dari kebijakan yang lebih luas, yaitu social policy atau kebijakan sosial yang terdiri dari kebijakan atau upaya-upaya untuk kesejahteraan sosial (social-welfare policy) dan perlindungan masyarakat (social- defence policy).

Menurut Arief (2008: 5) dalam penanggulangan kejahatan dapat ditempuh melalui pendekatan kebijakan, dalam arti:

a. Terdapat perpaduan antara politik kriminal dan politik sosial

b. Terdapat perpaduan antara upaya penanggulangan kejahatan melalui jalur penal maupun non penal.

Secara garis besar berdasarkan penjelasan tersebut diatas, upaya strategis dalam penanggulangan kejahatan terbagi kedalam dua bagian, yaitu:

1. Upaya Non Penal (preventif)

Penanggulangan kejahatan melalui non penal merupakan upaya yang bersifat preventif yakni tindakan berupa pencegahan dan pengendalian terhadap tindak pidana/ kejahatan sebelum terjadi. Arief (2008:46) mengemukakan bahwa melalui upaya non penal ini tujuan utamanya ialah menangani faktor-faktor

penyebab terjadinya kejahatan, meliputi masalah-masalah maupun kondisi sosial yang dapat menimbulkan munculnya tindakan dalam berbuat kejahatan.

Secara umum upaya non penal dikenal sebagai upaya yang utama dalam penanggulangan kejahatan karena berupa tindakan penanganan awal pecegahan agar tidak terjadi pelanggaran nilai dan norma-norma yang berlaku, serta menghilangkan niat dan kesempatan terjadinya kejahatan.

Upaya preventif yang dapat dilakukan kepolisian dalam penanggulangan kejahatan berupa usaha atau kegiatan kepolisan dalam menjaga kondusifitas keamanan dan ketertiban masyarakat. Penyebaran berita bohong (hoax) yang terjadi di dunia maya tentunya bukan hanya mengganggu dan meresahkan namun juga telah merugikan masyarakat khususnya pengguna media sosial.

Keamanan dan ketertiban dalam dunia maya juga menjadi perhatian kepolisian. Cyber Troops atau pasukan pada dunia maya merupakan salah satu strategi efektif kepolisian dalam mengawasi perkembangan yang terjadi terhadap setiap hal yang bertentangan dengan hukum dan peraturan yang berlaku, termasuk pelanggaran dan penyalahgunaan media sosial.

2. Upaya Penal (represif)

Upaya penal disebut juga sebagai upaya penanggulangan kejahatan yang bersifat represif, yakni tindakan yang dilakukan setelah terjadinya kejahatan. Penanggulangan dengan upaya represif merupakan suatu usaha dalam menekan jumlah kejahatan melalui pemberian hukum pidana terhadap pelaku kejahatan. Menurut Marc Ancel dalam Arief (2008: 23) kebijakan hukum pidana (penal

policy) adalah suatu ilmu dan seni yang mempunyai tujuan praktis yang

memungkinkan peraturan hukum positif dirumuskan dengan baik.

Upaya penanggulangan kejahatan melalui upaya penal (represif) yang dapat dilakukan kepolisian yaitu tindakan berupa pelaksanaan tugas pokok sebagai badan penyelidikan dan penyidikan dalam kasus kejahatan. Penyelidikan merupakan tindakan yang dilakukan penyelidik dalam mencari dan memeriksa suatu tindak pidana sesuai dengan prosedur serta peraturan yang berlaku.

Upaya penanggulan kejahatan terdiri atas tiga bagian pokok ( Alam, 2010: 69) yaitu sebagai berikut:

1. Pre-Emtif

Pre-emtif merupakan upaya-upaya pencegahan yang dilakukan diawal oleh pihak kepolisian untuk mencegah tindak kejahatan terjadi. Upaya penanggulangan kejahatan secara pre-emtif ini dilakukan dengan menanamkan nilai-nilai dan norma-norma yang baik dalam diri seseorang. Faktor niat melakukan pelanggaran/kejahatan menjadi hilang ketika dilakukan upaya pre-emtif ini, meskipun terdapat kesempatan untuk melakukan kejahatan.Cara pencegahan ini berasal dari teori NKK, yaitu: Niat + Kesempatan terjadi Kejahatan.

2. Preventif

Preventif merupakan bagian dari upaya pre-emtif yang masih dalam tataran pencegahan sebelum terjadinya kejahatan. Penekanan dalam upaya preventif ini yakni dengan cara menghilangkan kesempatan untuk melakukan kejahatan. Contoh seorang pencuri yang ingin mencuri motor akan tetapi kesempatan untuk mencuri menjadi hilang, dikarenakan motor-motor yang ada

berada di tempat penitipan motor yang terjaga dan aman sehingga kesempatan menjadi hilang dan tidak terjadi kejahatan.

3. Represif

Represif merupakan upaya yang dilakukan pada saat telah terjadi tindak pidana/kejahatan yang tindakannya berupa penegakan hukum (law enforcement) dengan menjatuhkan hukum. Upaya represif juga merupakan bagian dari pengendalian sosial yang dilakukan setelah terjadinya suatu pelanggaran atau sesudah kasus kejahatan terjadi.

Umumnya upaya atau tindakan represif ini dapat dilakukan dengan cara yaitu: melalui tindakan persuasif dan koersif. Tindakan persuasif ialah bentuk pengendalian sosial yang dilakukan dengan cara mengarahkan individu ataupun masyarakat agar mematuhi nilai-nilai dan norma yang berlaku sedangkan tindakan koersif ialah bentuk pengendalian sosial yang sifatnya tegas, dapat dikatakan bahwa tindakan koersif ini dengan pemberian sanksi yang tegas atau menggunakan cara kekerasan. Contoh dari tindakan persuasif adalah seperti himbauan dan arahan dari kepolisian agar masyarakat tertib berlalu lintas dan memperhatikan rambu-rambu jalan dan mengenakan helm agar aman saat berkendara. Adapun contoh dari tindakan koersif ialah ketika pengendara melanggar salah satu aturan berkendara, maka polisi lalu lintas dengan memberikan surat tilang kepada pengendara.

Dokumen terkait