• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Strategi Kepolisian dalam Penanganan Kasus

Kasus berita bohong yang ditangani oleh Polres Gowa menurut pemaparan dari Kasubbag Humas Polres Gowa kepada peneliti sebenarnya belum ada, namun Polres Gowa memiliki sejumlah cara dan strategi yang dilakukan melalui beberapa upaya-upaya penanggulangan sebagai bagian dari strategi dalam menangkal adanya berita bohong atau hoaks sebelum menyebar di Kabupaten Gowa baik dalam skala nasionan maupun di wilayah hukum Kabupaten Gowa itu sendiri. Selain itu sebagai upaya dari menjaga kondusifitas keamanan dan ketertiban di wilayah Kabupaten Gowa . Adapun strategi yang dilakukan Polres Gowa sebagai upaya penanganan kasus penyebaran berita bohong (Hoax) di wilayah Kabupaten Gowa yakni sebagai berikut:

1. Strategi Penanganan Secara Pre-emtif

Strategi Penanganan secara Pre-emtif ialah merupakan bentuk upaya awal yang dilakukan kepolisian dalam penanganan kejahatan sebelum kejahatan tersebut terjadi. Upaya awal yang dilakukan seperti penanaman nial-nilai moral khususnya kepada generasi muda agar tidak mudah menyebarkan berita bohong (hoax), hal ini dilakukan oleh Polres Gowa dengan melakukan kegiatan wisata edukasi. Berikut pernyataan Kasubbag Humas terkait hal tersebut:

“Edukasi kepada para pelajar berupa wisata edukasi untuk mengenal dunia kepolisian sekaligus kesempatan kepada pihak kepolisian memberikan pemahaman tentang media sosial, demikian juga melalui sekolah-sekolah melalui upacara setiap hari senin menjadi inspektur upacara disitulah pihak kepolisian memberikan pesan kepada masyarakat khususnya kaula muda agar lebih bijak dalam bermedia sosial”. (hasil wawancara M.T 9 September 2019).

Hasil wawancara tersebut di atas menunjukkan bahwa adanya tindakan atau upaya pencegahan awal yang coba dilakukan oleh Polres Gowa melalui kegiatan wisata edukasi kepada para pelajar. Wisata edukasi tersebut dapat dikatakan sebagai salah satu strategi penanganan awal yang dilakukan Polres Gowa sebagai upaya penanaman nilai-nilai moral yang baik dengan melakukan pendekatan antara polisi dan pelajar. Penanaman nilai-nilai moral yang baik harus dimulai dari sejak dini, selain menambah pemahaman para pelajar terkait dunia kepolisian dan hukum juga menjadi pembelajaran moral kepada para pelajar agar lebih bijak menggunakan media sosial. Lebih lanjut kemudian beliau menambahkan:

“Wisata edukasi ini dilakukan 3 kali seminggu, itu semua terkait masalah dunia kepolisian maupun tentang penggunaan media sosial dan kalau untuk ke sekolah setiap hari senin Kapolsek pun ikut menjadi inspektur

upacara, biasanya pihak sekolah meminta kepada pihak kepolisian agar polri bisa menjadi inspektur upacara pada setiap hari senin”. (hasil wawancara M.T 9 September 2019).

Berdasarkan dari hasil wawancara di atas dapat di ketahui bahwa wisata edukasi oleh Polres Gowa ini dilakukan sebanyak tiga kali dalam seminggu, selain Polres Gowa kehadiran Kapolsek yang menjadi inspektur upacara di sekolah-sekolah menunjukkan bahwa semua peran kepolisian tak terkecuali hingga kepolisian sektor ikut aktif dan berperan dalam memberikan penanaman nilai-nilai moral yang baik, berkaitan dalam dunia kepolisian maupun penggunaan media sosial.

Gambar 2.4. Polres Gowa Bersama Generasi Millennial Menolak Hoax

Sumber: Media Sosial Humas Polres Gowa

Kegiatan wisata edukasi oleh Polres Gowa, ini berjalan sejak tahun 2018 bertujuan untuk menambah pemahaman para pelajar tentang hukum, sehingga para pelajar tidak terlibat baik sebagai korban maupun pelaku dalam suatu tindakan kriminalitas. Program ini juga mendekatkan generasi muda dalam hal ini para pelajar khususnya di Kabupaten Gowa dengan kepolisian.

Selain itu bentuk tindakan dan upaya pelaksanaan strategis secara pre-emtif lain yang dilakukan oleh Polres Gowa ialah dengan melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terkait berita atau informasi hoaks dilakukan melalui media cetak, media online maupun secara langsung. Terkait hal tersebut, berikut ini penjelasan Kasubbag humas Polres Gowa:

“Kami propaganda dengan hal-hal yang positif contoh kasus hoaks Ratna Sarumpaet, kami melakukan propaganda dengan memposting edukasi masyarakat kedalam bentuk meme maupun video aktraktif yang dapat mengedukasi masyarakat. Setiap apapun yang kami lakukan hal-hal positif, kami posting baik melalui media elektronik, media cetak, online hingga media sosial. Itulah cara kami untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, di samping mungkin ada himbauan-himbauan ke sekolah-sekolah dan setiap kegiatan yang melibatkan selutuh personil sebagai

cyber troops Polres Gowa”. (hasil wawancara M.T 30 Agustus 2019).

Hasil wawancara tersebut diatas, menunjukkan keaktifan dan pemanfaatan yang baik oleh Polres Gowa terhadap penggunaan dan pemanfaatan media, baik melalui media elektronik, cetak maupun online. Selanjutnya informan A.S sebagai anggota satuan humas Polres Gowa menambahkan keterangan sebagai berikut:

“Masyarakat bisa melihat seluruh kegiatan yang Polres Gowa lakukan melalaui media sosial Polres Gowa, kalau kita ketik di google tentang video kreatif anti hoaks polres Gowa maka masyarakat bisa langsung melihat video kami.” (hasil wawancara A.S 30 Agustus 2019).

Berdasarkan hasil wawancara dari kedua informan tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Polres Gowa memanfaatkan kemudahan media sosial untuk memberikan edukasi kepada masyarakat baik dalam bentuk video aktraktif dan kreatif maupun meme yang dapat diakses melalui internet oleh masyarakat diera digitalisasi seperti sekarang ini.

Hal tersebut sesuai dengan sasaran strategis Polres Gowa tahun 2015-2019 pada poin satu dan dua yaitu terpenuhinya sarana/prasarana dan almatsus Polres Gowa berbasis teknologi yang menjunjung tinggi HAM dalam menghadapi berbagai trend kejahatan modern dan konflik sosial serta terbangunnya postur Polres Gowa yang professional, bermoral, modern dan unggul melalui perubahan

mind set dan culture set (revolusi mental).

2. Strategi Penanganan Secara Preventif

Strategi preventif merupakan upaya penanganan kejahatan yang masih dalam tahap pencegahan sebelum kejahatan terjadi. Strategi penanganan secara preventif ini, kepolisian melakukan sosialisasi kepada masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung. Seperti salah satu contoh digelarnya deklarasi anti hoaks dan Sara pada sabtu tanggal 17 maret 2018 lalu, usai melakukakan apel kesadaran nasional di halaman Mapolres Gowa. Kegiatan tersebut menggambarkan bersatunya TNI-Polri dalam memerangi berita bohong dan hal-hal yang dapat menjadi pemecah di antara seluruh lapisan masyarakat. Selain itu berdasarkan interview yang dilakukan peneliti terhadap informan, bentuk upaya lain yang dilakukan Polres Gowa terhadap pencegahan penyebaran berita hoaks atau pemberitaan negatif, yakni dengan meng-counter adanya pemberitaan negatif. Berikut pernyataan hasil wawancara Kasubbag humas terkait hal ini:

“Upaya preventif polri itu dengan meng-counter pemberitaan negatif dengan pemberitaan yang positif, itu pasti. Melalui media online, media cetak maupun televisi lainnya agar masyarakat tau bahwa setiap berita yang kita ambil itu adalah positif. Jadi hal-hal yang mereka angkat bisa

tercounter dengan berita positif.” (hasil wawancara M.T 9 September 2019).

Senada dengan apa yang disampaikan tersebut diatas, berikut pernyataan dari Kasat Intelkam terkait upaya strategis yang dilakukan untuk menghimbau masyarakat:

“Terkhusus kita di Polres khususnya intel ketika ada berita yang seperti itu, kita cepat deteksi dengan mencari informasi, memilih dan memilah, menganalisa yang berpotensi gangguan kantibmas ataupun yang lainnya. Upaya yang kami lakukan itu kami ikut meng-counter berita agar tidak beredar, terkadang face to face ke masyarakat, atau dengan teman-teman yang ada disini bahwa berita tersebut cukup sampai disini jangan beredar lagi.” (hasil wawancara A.M 11 September 2019).

Terkait persoalan cara meng-counter berita bohong atau yang sering disebut hoaks ini, masyarakat mempunyai tanggapan dan pemahaman tersendiri dalam menyikapi hoaks apabila mereka menemukan hoaks utamanya pada media sosial yang cakupan penyebaran hoaks jauh lebih luas dari berbagai aspek tertentu. Berikut tanggapan masyarakat apabila menemukan hoaks:

“Saya merasa negatif thingking, kemudian merasa cemas dan bimbang antara benar atau tidak berita tersebut, maka saya mencari beberapa sumber untuk memastikan benar atau tidaknya hal tersebut.” ( hasil wawancara dengan H 18 Oktober 2019)

Hal serupa juga diungkapkan oleh Informan S yang memaparkan pemahamannya terkait hoaks dan respon yang dirasakan apabila menemukan berita atau informasi yang bersifat hoaks. Berikut hasil wawancara terhadap informan:

“Berita bohong atau hoaks itu merupakan suatu kabar atau pemberitaan dimasyarakat mengenai sesuatu hal yang gempar yang dituangkan dalam bentuk kebohongan dibungkus sedemikian rupa sehingga berita ini hampir

sama persis dengan berita yang sebenarnya, persoalan mengenali berita hoaks itu sendiri. Bagi saya begitu sulit karena hampir sama persis antara berita benar yang tersebar, namun salah satu ciri yang saya lihat dari berita hoaks itu, judul dari beritanya biasanya terlalu di lebihkan.” (hasil wawancara dengan S 19 Oktober 2019).

Informan S menambahkan respon yang dirasakan dari dampak menerima pemberitaan-pemberitaan hoaks, sebagai berikut:

“Kalau saya menerima atau membaca berita hoaks, saya salah satu korban yang sering mendapati hal tersebut, biasanya dampak yang saya rasakan itu sendiri banyaknya kekeliruan informasi yang saya dapat sehingga saya merasa tidak jeli, tidak teliti dalam menyaring dan meng-share informasi-informasi.” (hasil wawancara dengan S 19 Oktober 2019).

Sesuai dengan pernyataan tersebut diatas, kita seharusnya lebih bijak dalam menyebarkan informasi yang ada, jangan sampai menyebarkan suatu informasi atau pemberitaan begitu saja tanpa memastikan kebenanrannya terlebih dahulu. Sehingga tidak merugikan orang lain, seperti halnya yang dirasakan oleh informan H dan S tersebut diatas yang merasa negatif thingking, cemas dan bimbang bahkan sulit dalam mengenali mana berita dan informasi yang benar.

Melakukan sosialisasi dan pemyampaian pesan serta meng-conter pemberitaan negatif menjadi pemberitaan positif sehingga pemberitaan yang diterima oleh masyarakat tidak mengandung unsur provokatif maupun SARA dan lainnya, sebagaimana diungkapkan diatas merupakan bentuk strategi preventif sebagai bagian dari upaya pencegahan awal setelah dilakukan tindakan pre-emtif sebelumya.

Gambar 2.6. Salah satu bentuk penyampaian pesan oleh Polres Gowa melalui media sosial

Sumber: Media Sosial Humas Polres Gowa

Gambar tersebut diatas merupakan salah satu bentuk penyampaian pesan oleh Polres Gowa melalui media sosial berisiakan pesan agar masyarakat tidak begitu saja menyebarkan konten negatif namun terlebih dahulu melakukan check dan recheck serta saring sebelum sharing konten maupun inormasi yang belum tentu kebenarannya. Mengingat ancaman yang dapat menjerat pelaku penyebar hoaks yakni terdapat dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dalam pasal 28 ayat 1 dan ayat 2 serta keterangan unsur pidana pada pasal 45 ayat 2 menerangkan hukuman penjara maksimal 6 tahun dan dengan denda paling banyak 1 milyar rupiah.

Berkenaan dengan keberadaan undang-undang yang berlaku, yang mengatur tentang hukuman bagi pelaku penyebar hoaks, nampaknya pengetahuan

masyarakat terkait hal itu tidak begitu dalam, seperti halnya dengan yang disampaikan informan sebagai berikut:

“Menurut yang saya ketahui dikenakan sanksi berupa hukum pidana, tetapi saya tidak tahu jelas pasal beberapa dan ayat berapa yang menjelaskan hal tersebut, tetapi bagi para pelaku akan dijerat oleh pidana tersebut.” (hasil wawancara S 19 Oktober 2019).

Hal serupa juga diungkapkan oleh masyarakat yang memberikan pejelasan bahwa dia pun tak mengetahui secara pasti namun mengetahui adanya undang-undang yang mengatur tentang hoaks, berikut hasil wawancara dengan informan:

“Ancaman bagi pelaku hoaks yang saya tau ada pasal yang dibuat oleh pemerintah bagi pelaku hoaks.” (hasil wawancara H 18 Oktober 2019). Berdasarkan hasil wawancara tersebut, peran masyarakat sangat diperlukan terkait pengetahuan masyarakat terhadap aturan hukum yang dapat menjerat pelaku penyebar hoaks, agar tidak adanya niat ataupun kesempatan bagi pelaku menyebarkan berita bohong (hoax). Ketidak tahuaan masyarakat terhadap Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik merupakan salah satu faktor yang menyebabkan penyebaran hoaks terus terjadi. Sesuai dengan penjelasan yang dikemukakan menurut Alam (2010: 69) bahwa cara pencegahan berasal dari teori NKK yaitu ketika adanya niat dan kesempatan, maka terjadi kejahatan. Oleh karena itu ketika pengetahuan masyarakat terkait undang-undang meningkat, maka niat menyebarkan berita bohong (hoax) menjadi berkurang sehingga meminimalisir kejahatan penyebaran hoaks.

3. Strategi Penanganan Secara Represif

Strategi represif merupakan upaya kepolisian dalam penanganan kejahatan setelah terjadi tindakan kejahatan. Pada dasarnya upaya represif merupakan tindakan yang dilakukan aparat penegak hukum terhadap orang yang melakukan tindak pidana. Adapun strategi penanganan secara represif yang dilakukan oleh Polres Gowa menurut hasil wawancara serta observasi yang dilakukan yaitu sebagai berikut:

a. Mengecek kebenaran berita atau informasi yang didapatkan.

Apabila masyarakat menemukan berita bohong (hoax) maka masyarakat dihimbau agar dapat mengecek kebenaran berita atau informasi yang didapatkan. Adapun informasi yang sempat membuat panik warga di Kabupaten Gowa dan sekitarnya yakni terkait informasi bendungan bili-bili retak akibat gempa Donggala di Sulawesi tengah . Namun informasi tersebut tidaklah benar, melalui siaran pers oleh Kominfo menetapkan bahwa informasi tersebut hoaks.

Terkait informasi bendungan bili-bili retak tersebut aparat kepolisian pun ikut berpatroli dalam mengawasi situasi bendungan saat itu. Berikut pernyataan dari Kasubbag humas terkait hal tersebut:

“Kami berkoordinasi dengan anggota yang ada disana dan mereka mengambil foto bagaimana status bendungan bili-bili, kami juga koordinasi dengan petugas bendungan. Kami ambil foto tersebut dan kami

share setiap jam. Perkembangan-perkembangan kami share jadi

masyarakat mengerti dan kita jangan mudah terprovokasi, dia ( masyarakat) bilang jembatan mau retak, hanya kami mengimbau bahwa betul airnya naik tapi tidak mengarah kesana.” (hasil wawancara M.T 30 Agustus 2019).

Wawancara berikutnya, beliau memberikan pernyataan bahwa apabila masyarakat menemukan berita atau informasi hoaks, maka harus mengecek kebenarannya melalui instansi sesuai dengan berita yang tertuju. Berikut ini kutipan hasil wawancara dengan informan:

“Apabila menemukan hal seperti itu dan masih diragukan, masyarakat bisa mengkonfirmasi ke instansi terkait yang mengangkat hal itu. Misalnya yang menyangkut TNI Polri dan atau instansi lain, maka masyarakat jangan langsung percaya. Mengetahui berita itu salah atau benar kita bisa ke instansi mana yang mengangkat tentang berita hoaks tersebut.” (hasil wawancara M.T 9 September 2019).

Berdasarkan hasil wawancara tersebut diatas, masyarakat dihimbau agar tidak mudah percaya dengan pemberitaan atau informasi yang didapatkan yang belum tentu kebenarannya, dan tidak meng-share ke media sosial yang dimiliki sebelum mengecak kebenaran beritanya. Hal ini juga dilakukan oleh masyarakat apabila menemukan pemberitaan yang mengandung hoaks, seperti yang disampaikan oleh informan sebagai berikut:

“Cara mengenalinya itu pertama tidak bertanya kepada satu pihak saja, tapi lebih selektif lagi bertanya ke beberapa sumber dan bertanya ke orang yang lebih bijak soal hoaks tersebut.” (hasil wawancara dengan H 18 Oktober 2019)

Memastikan kebenaran berita yang kita dapatkan sebagai langkah represif yang dapat dilakukan oleh masyarakt ketika menemukan pemberitaan yang mengandung unsur hoaks. Tidak serta merta menyebarkan suatu pemberitaan yang ditemukan. Hal tersebut juga disampaikan oleh Kasubbag Humas Polres Gowa sebagai berikut:

“Kami menghimbau kepada masyarakat agar saring dulu sebuah pemberitaan sebelum kita sharing karena apabila kita tidak mengetahui

fakta yang sebenarnya, maka akan berakibat fatal bagi seluruh netizen yang ada umumnya masyarakat yang menggunakan media sosial.”(hasil wawancara M.T 9 September 2019).

Berdasarkan wawancara tersebut diatas, Kasubbag Humas Polres Gowa menghimbau kepada masyarakat agar tidak asal sharing konten dari sumber yang tidak jelas, dan memastikan mengecek kebenaran informasi dari suatu konten yang ditemukan.

b. Membentuk tim cyber troops

Cyber Troops terdiri dari anggota atau personil kepolisian yang

mengawasi dan memantau pergerakan kejahatan di dunia maya. Berikut penjelasan dari hasil wawancara dengan Kasubbag humas terkait tim cyber troops Polres Gowa:

“Cyber troops ini dibentuk untuk memantau terkait pemberitaan-pemberitaan yang negatif, baik itu berbau sara dan sebagainya. Semua anggota Polres merupakan cyber troops dan semua harus aktif. Apabila ada pemberitaaan-pemberitaan negatif, apalagi menyangkut masalah polri kita bisa meng counter dengan berita yang sebenarnya, karena polisi berbicara bukan karena katanya tapi berbicara fakta. Orang memposting harus berdasarkan faktanya bukan menurut asumsi yang bersangkutan. Jadi tugas polisi cyber troops itu pasukan dunia maya, mereka bermain di media sosial untuk memantau setiap orang atau netizen yang memposting berita bohong maupun masalah sara, jadi kita langsung menanggapi itu.” (hasil wawancara M.T 9 September 2019).

Pasukan cyber troops ini melakukan patroli menyusuri setiap website, situs, postingan dan media sosial lainnya yang melakukan pelanggaran terhadap tindakan penyalahgunaan ITE yang terkait sesuai peraturan maupun undang-undang yang berlaku.

“Tim cyber troops itu bermain media sosial dan berpatroli pada media sosial. Apabila satu orang anggota menemukan satu konten yang mengarah

ke provokasi ataupun ujaran kebencian langsung lapor ke kami dan kami langsung mengambil tindakan”. Kemudian pada pernyataan berikunya beliau menambahkan “suatu berita negatif tersebut dilempar oleh seseorang untuk mengadu domba, kami counter dengan berita-berita positif. Berita itu baik berupa tulisan, narasi berita, meme pesan dan video. Setiap ada pemberitaan negatif kami share, pesan anti hoaks bijak dalam bermedsos.” (hasil wawancara M.T 9 September 2019).

Selaku aparat penegak hukum semua aparat kepolisian dalam menjalankan tugasnya memiliki peran dan tanggungjawab mencegah dan memerangi penyebaran berita bohong atau hoaks.

“Semua personil Polres Gowa adalah cyber troops, seluruh personil terlibat sebagai cyber troops untuk mengembangkan, mengshare video positif agar video positif yang kami buat untuk masyarakat bisa cepat sampai kepada masyarakat dan masyarakat tidak mudah percaya dengan berita hoaks “. ( hasil wawancara M.T 9 September 2019).

Berdasarkan hasil wawancara tersebut diatas, maka dapat disimpukan bahwa tim cyber troops Polres Gowa merupakan seluruh personil kepolisian Polres Gowa dan berperan aktif dalam menggunakan media sosial, yang melakukan patroli melalui media sosial.

c. Melakukan penyelidikan dan penyidikan

Penyelidikan dan penyidikan dilakukan apabila terdapat laporan polisi dari pihak atau orang yang merasa dirugikan atas informasi maupun berita hoaks yang tersebar. dengan menyertakan bukti dan saksi atas laporan tersebut. Kemudian polisi menindak lanjuti laporan tersebut dengan melakukan penyelidikan untuk memastikan apakah informasi tau berita hoaks tersebut benar adanya. mengumpulkan barang bukti dan menelusuri sumber berita atau informasi yang

terdapat unsur tindak pidana sesuai dengan undang-undang ITE yang berlaku. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan dari narasumber sebagai berikut:

“Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan maka akan dibuat laporan polisi lalu kita lakukan penyelidikan guna memperoleh laporan yang dimaksud kemudian dilakukan penyidikan yang bertujuan untuk menemukan bukti-bukti atau fakta kemudian pemberkasan dan berkas dikirim ke kejaksaan”. ( hasil wawancara N, 7 Oktober 2019).

Hal yang sama dengan pernyataan dari wawancara diatas, juga diungkapkan oleh informan berikut, apabila masyarakat menemukan berita bohong (hoax) pada media sosial dan merasa di rugikan akan pemberitaan tersebut maka langkah yang dapat dilakukan pihak yang merasa di rugikan tersebut ialah sebagaimana di jelaskan oleh informan R sebagai berikut:

“Membuat laporan kepolisian dilakukan oleh pelapor dengan menyertakan bukti baik berupa capture bukti terkait adanya berita bohong (hoax) yang di temukan kemudian melapor ke SPKT (Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu) setelah itu akan ditindak lanjuti melalui proses penyelidikan dan penyidikan. Proses penyelidikan dilakukan bisa melalui media sosial seperti facebook, instagram, whatsApp grup dan media sosial lainnya. Sedangkan proses penyidikan di lakukan pada saat pemeriksaan baik sebagai pelapor, saksi ataupun penyitaan barang bukti”. ( hasil wawancara R, 12 Oktober 2019).

Berdasarkan pernyataan dari kedua informan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa apabila masyarakat menemukan berita bohong (hoax) dan merasa dirugikan maupun merugikan banyak orang maka masyarakat dapat melaporkannya ke kepolisian dengan menyertakan bukti-bukti yang ada baik berupa capture bukti terkait adanya berita bohong (hoax) yang di temukan kemudian akan diproses lebih lanjut hingga ketahap penyelidikan dan penyidikan dan tahapan hukum yang sesuai.

Dokumen terkait