BAB II Konsep Pendidikan Islam Perspektif Muzayin Arifin
B. Konsep Pendidikan Islam Perspektif H. M. Arifin
15.Kapita Selekta Pendidikan (Islam Dan Umum)
16.Ilmu Perbandingan Pendidikan
17.Pendidikan Dalam Arus Dinamika Masyarakat
18.Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama Di Lingkungan Sekolah Dan Keluarga (Sebagai Pola Pengembangan Metodologi)
19.Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar
20.Pedoman Pelaksanaan Bimbingan Dan Penyuluhan Agama
21.Teori-Teori Counseling Agama Dan Umum
22.Psikologi Dan Beberapa Aspek Kehidupan Rohaniah Manusia
23.Psikologi Dakwah Suatu Pengantar Filsafat Pendidikan Islam
24.Pokok-Pokok Pikiran Tentang Bimbingan Dan Penyuluhan Agama
B. Konsep Pendidikan Islam Perspektif H.M. Arifin 1. Pengertian Pendidikan Islam
Lapangan pendidikan merupakan wilayah yang sangat luas. Ruang lingkupnya mencakup seluruh pengalaman dan pemikiran manusia tentang pendidikan. Setiap orang pernah mendengar tentang perkataan pendidikan, dan setiap orang waktu kecilnya pernah mengalami pendidikan. Namun tidak setiap orang mengerti dalam arti yang sebenarnya apa pendidikan itu, dan tidak setiap orang mengalami pendidikan ataupun menjalankan pendidikan sebagaimana mestinya (Sadulloh, 2014: 1).
Tujuan dan sasaran pendidikan berbeda-beda menurut pandangan hidup masing-masing pendidik atau lembaga pendidikan. Oleh karenanya perlu
17
dirumuskan pandangan hidup Islam yang mengarahkan tujuan dan sasaran pendidikan Islam (Arifin, 2016: 7).
Jika Islam disebut agama yang benar di sisi Allah, maka bila manusia berpredikat muslim, dia harus menjadi penganut agama yang baik, menaati ajaran Islam, menjaga agar rahmat Allah tetap berada pada dirinya. Ia harus mampu memahami, menghayati, dan mengamalkan ajarannya sesuai iman dan akidah islamiah (Arifin, 2016: 7).
Untuk tujuan itulah, manusia harus dididik melalui proses pendidikan Islam. Berdasarkan pandangan tersebut, pendidikan Islam berarti sistem pendidikan yang dapat memberikan kemampuan seseorang untuk memimpin kehidupannya sesuai dengan cita-cita dan nilai-nilai Islam yang telah menjiwai dan mewarnai corak kepribadiannya (Arifin, 2016: 7).
Dengan kata lain, manusia yang mendapatkan pedidikan Islam harus mampu hidup di dalam kedamaian dan kesejahteraan sebagaimana diharapkan oleh cita-cita Islam. Maka pengertian pendidikan Islam adalah suatu sistem kependidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah sebagaimana Islam telah menjadi pedoman bagi seluruh aspek kehidupan manusia, baik duniawi maupun ukhrawi (Arifin, 2016: 8).
Mengingat luasnya jangkauan yang harus digarap oleh pendidikan Islam, maka pendidikan Islam tetap terbuka terhadap tuntutan kesejahteraan umat manusia, baik tuntutan di bidang ilmu pengetahuan teknologi
18
maupun tuntunan pemenuhan kebutuhan hidup rohaniah. Kebutuhan itu semakin meluas sejalan dengan melauasnya tuntutan hidup manusia itu sendiri. Oleh karena itu, dilihat dari pengalamannya, pendidikan Islam berwatak akomodatif terhadap tuntutan kemajuan zaman sesuai acuan norma-norma kehidupan Islam (Arifin, 2016: 8).
2. Tujuan Pendidikan Islam
Meskipun seorang manusia telah diberi fitrah, bila tanpa memperoleh kesempatan pendidikan, atau bimbingan/penyuluhan yang cukup memadai maka ia tidak akan mampu mencapai titik optimal perkembangan hidupnya yang positif dan konstruktif (Arifin, 1994: 39). Tatkala orang mendesain pendidikan, maka ia harus memulai dengan merumuskan tujuan yang hendak dicapai. Berdasarkan dasar pendidikan yang menjadi pandangan hidup pendesain itu ia merumuskan tujuan pendidikan. Jadi tujuan pendidikan pada dasarnya ditentukan oleh pandangan hidup (way of life) orang yang mendesain pendidikan itu. Pikiran inilah yang menyebabkan berbeda-bedanya desain pendidikan (Tafsir, 2010: 75).
Demikian pula yang terjadi dalam proses kependidikan Islam, bahwa penetapan tujuan akhir itu mutlak diperlukan dalam rangka mengarahkan segala proses, sejak dari perencanaan program sampai dengan pelaksanaanya, agar tetap konsisten dan tidak menngalami deviasi-deviasi (penyimpangan). Adapun tujuan akhir pendidikan Islam pada hakikatnya adalah realisasi dari cita-cita ajaran Islam itu sendiri, yang membawa misi
19
bagi kesejahteraan umat manusia sebagai hamba Allah lahir dan batin, di dunia dan akhirat (Arifin, 1994: 39-40).
Pendidikan Islam bertujuan untuk menumbuhkan pola kepribadian manusia yang bulat melalui latihan kejiwaan, kecerdasan otak, penalaran, perasaan dan indera. Pendidikan ini harus melayani pertumbuhan manusia dalam semua aspeknya, baik aspek spiritual, intelektual, imajinasi, jasmaniah, ilmiah, maupun bahasanya. Dan pendidikan itu mendorong semua aspek tersebut kearah keutamaan serta pencapaian kesempurnaan hidup (Arifin, 1994: 40-41).
Tujuan memiliki peran strategis dalam menentukan kebijakan kurikulum. Tujuan dalam pendidikan berfungsi sebagai penentu arah, standar yang hendak dicapai, serta pedoman yang harus dipakai tatkala pendidik akan melakukan evaluasi tentang keberhasilan proses pendidikan yang dilakukan. Dengan demikian tujuan menjadi sentra pengembangan kurikulum (Roqib, 2009: 78-79).
Arifin (1994: 115) berpendapat bahwa manusia baru Indonesia yang dikehendaki adalah manusia yang serba utuh lahir dan batin. Hidup duniawi dan uhkrowi, yang mampu membangun diri, masyarakat, dan negara dengan berbekal ilmu dan ketrampilan yang dijiwai oleh nilai-nilai agama. Tujuan terakhir dari pendidikan Islam itu terletak dalam realisasi sikap penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah, baik secara perorangan, masyarakat, maupun sebagai umat manusia keseluruannya (Arifin, 1994: 41).
20
Sifat yang demikian membuat pendidikan Islam benar-benar berbeda dari pendidikan lainnya, baik dari segi tujuan, watak, isi, karakteristik maupun pengaruh praktisnya. Sifat itu pula yang membuat proses pendidikan Islam berjalan di atas jalur yang telah digariskan agama Islam dalam arti luas seperti yang dijelaskan di atas yaitu sebagai agama bagi kehidupan di dunia dan di akhirat yang meliputi segala persoalan hidup, berbagai hajat individu, masyarakat, dan seluruh umat manusia (Aly, 2003: 141).
3. Kurikulum dan Materi Pendidikan Islam
Kurikulum pada mulanya diartikan sebagai bahan-bahan pelajaran apa saja yang harus disajikan dalam proses pembelajaran di dalam suatu sistem instruksional pendidikan (Arifin, 1994: 183). Dalam ilmu pendidikan Islam, ia juga menjadi salah satu bahan masukan yang mengandung fungsi sebagai alat pencapai tujuan pendidikan Islam. Menurut sifatnya, kurikulum pendidikan Islam dipandang sebagai cermin idealitas Islam yang tersusun dalam bentuk serangkaian program dan konsep dalam mencapai tujuan pendidikan. dengan memperhatikan program-program yang berbentuk kurikulum, kita dapat mengetahui cita-cita apakah yang hendak diwujudkan oleh proses kependidikan itu (Arifin, 2016: 136).
Dalam perspektif Islam, keharusan mengitegrasikan unsur religius yang transendental dengan setiap cabang ilmu menjadi hal yang tak terelakkan. Sebab jika kedua hal tersebut tidak terintegrasi dengan baik, maka akan
21
menimbulkan bias pemikiran yang pada gilirannya akan mengakibatkan rasa kebingungan pada peserta didik (Roqib, 2009: 78).
Dengan demikian, kurikulum yang dapat dipandang baik untuk mencapai tujuan pendidikan Islam menurut H.M. Arifin (2010: 86) adalah yang besifat integrated dan komprehensif, mencakup ilmu agama, dan umum. Oleh karena itu, kurikulum harus besifat dinamis dan konstruktif dalam arus proses perkembangan masyarakat manusia yang arahnya tidak sama. Yang dimaksud integratif di sini adalah keterpaduan kebenaran wahyu dengan bukti-bukti yang ditemukan di alam semesta. Dikatakan struktur keilmuan integratif di sini bukanlah berarti antara berbagai ilmu tersebut dilebur menjadi satu bentuk ilmu yang identik, melainkan karakter, corak dan hakikat antara ilmu tersebut terpadu dalam kesatuan dimensi material spiritual, akal wahyu, ilmu umum dan ilmu agama, jasmani rohani, dan dunia akhirat (Muliawan, 2005: xii).
Apalagi bila dilihat bahwa bersamaan dengan pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini yang membawa dampak negatif dan positif itu, peserta didik yang berupa generasi muda kita tergolong kelompok usia yang rawan dan peka terhadap pengaruh tersebut, semakin memerlukan ketahanan dan ketangguhan mental spiritual berdasarkan nilai-nilai keimanan dan takwanya yang berfungsi sebagai benteng mental, sekaligus filter dalam menghadapi tantangan atau kesulitan yang mungkin terjadi, justru mereka termasuk generasi muda yang harus dididik atau dibimbing menjadi kader perjuangan Bangsa di masa depan
22
jelas menduduki tempat strategis dalam perjuangan tersebut (Arifin, 1994: 116).
Unsur-unsur pengetahuan dan ketrampilan yang harus dimasukkan ke dalam content (isi) kurikulum yang didasarkan atas tabiat manusia sebagai makluk berpikir, merasa, dan menghendaki (unsur kemampuan kognitif, afektif, dan konatif), diwujudkan dalam bentuk-bentuk: ilmu pengetahuan akademis, seni budaya, dan ketrampilan bekerja (practical arts). Dengan ilmu pengetahuan, peserta didik dapat mengetahui sesuatu dan dengan seni budaya itulah mereka dididik untuk berbuat sesuatu untuk dirinya sendiri, masyarakat, dan lingkungan hidupnya (Arifin, 2010: 79).
Dari kurikulum pendidikan Islam harus tercermin idealitas Al-Qur’an yang tidak memilih-milih jenis disiplin ilmu secara taksonomis dikotomik (Arifin, 2016: 137). Materi yang diuraikan dalam Al Qur’an menjadi bahan pokok pelajaran yang disajikan dalam proses pendidikan Islam, formal maupun nonformal. Oleh karena itu, materi pendidikan yang bersumber dari Al Qur’an harus dipahami, dihayati, diyakini, dan diamalkan dalam kehidupan umat Islam.
Prinsip penyusunan kurikulum menurut H.M. Arifin (2016: 141):
a. Kurikulum mengandung materi (bahan) ilmu pengetahuan yang mampu berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan hidup islami. b. Kurikulum mengandung tata nilai islami yang intrinsik dan ekstrinsik
23
c. Kurikulum diproses melalui metode yang sesuai tujuan pendidikan. d. Kurikulum, metode, dan tujuan pendidikan Islam harus saling
menjiwai dalam proses mencapai produk yang dicita-citakan menurut agama Islam.
Kategori kurikulum menurut H. M. Arifin (2016: 141):
a. Ilmu pengetahuan dasar yang esensial adalah ilmu-ilmu yang membahas Al Qur’an dan Hadis.
b. Ilmu pengetahuan yang mempelajari manusia sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat antara lain: antropologi, pedagogik, psikologi, sosiologi, sejarah, ekonomi, politik, hukum dan sebagainya. c. Ilmu pengetahuan tentang alam atau disebut al-ulum al-kauniah antara
lain ilmu biologi, botani, fisika, dan astonomi.
Kandungan dalam Al-Qur’an tidak terdapat kontradiksi atau pemisahan ilmu-ilmu karena semuanya merupakan refleksi dari kekuasaan Allah atas nama semesta (Arifin, 2016: 142).
4. Metode Dalam Proses Pendidikan Islam
Dalam pengertian letterjik, kata “metode” berasal dari bahasa Greek yang terdiri dari metayang berarti “melalui” dan hodos yang berarti jalan, jadi, metode berarti “jalan yang dilalui”. Dengan demikian, metode dapat berarti cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan (Arifin, 1994: 43).
Dalam sejarah pendidikan Islam dapat diketahui bahwa para pendidik muslim dalam berbagai situasi dan kondisi yang berbeda, telah
24
menerapkan berbagai metode pendidikan atau pengajaran. Metode-metode yang dipergunakan tidak hanya Metode-metode mendidik atau mengajar dari para pendidik, melainkan juga metode belajar yang harus digunakan oleh anak didik (Arifin, 2010: 89-90).
Metode pendidikan yang disampaikan Arifin (2010: 91) lebih mengarahkan tugasnya kepada pembinaan atau pembentukan sikap dan kepribadian manusia yang beruang lingkup pada proses mempengaruhi dan membentuk kemampuan kognitif, kognatif, afektif serta psikomotor dalam diri manusia.
Metode merupakan cara-cara untuk menyampaikan materi pembelajaran secara efektif dan efisien, juga untuk mencapai tujuan yang ditentukan. Dengan metode ini diharapkan akan muncul berbagai kegiatan belajar peserta didik, sehubungan dengan kegiatan mengajar yang dilakukan oleh guru. Dengan kata lain, terciptanya suatu hubungan atau interaksi edukatif (Gunawan, 2014: 257).
Metode pendidikan yang digunakan H.M. Arifin yang dikutip oleh Rosyadi, (2004: 214) lebih menekankan pada penelusuran analitis dari dalam kandungan Al-Qur’an pada hubungan antara pendidik dan peserta didik dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Pendidikan Islam mengakui adanya fitrah dalam diri manusia yang dapat dikembangkan melalui proses kependidikan dengan metode yang tepat.
25
b. Keyakinan potensi fitrah itu mendorong guru berikhtiar sebaik mungkin dengan pemilihan metode kependidikan yang efektif dan efisien.
c. Guru berikhtiar terhadap perkembangan fitrah malalui program kegiatan kependidikan yang terarah kepada cita-cita Islam.
d. Pendidikan Islam mengupayakan harmonisasi dalam proses mencapai tujuan, sehingga produk pendidikan sesuai dengan cita-cita Islam. e. Terciptanya model-model proses belajar mengajar yang fleksibel
terhadap tuntutan kebutuhan kehidupan anak didik sebagai hamba Allah dan anggota masyarakat.
f. Pendidikan Islam dengan segala ikhtiarnya senantiasa berpegang pada pengembangan hidup manusia yang berorientasi kepada potensi keimanan dan ilmu pengetahuan pribadi manusia Muslim.
Adapun prinsip metodologis yang dijadikan landasan psikologis menurut H. M. Arifin (Rosyadi, 2004: 215) adalah sebagai berikut:
a. Prinsip memberikan suasana kegembiraan.
b. Prinsip memberikan layanan dan santunan dengan lemah lembut. c. Prinsip kebermaknaan bagi anak didik.
d. Prinsip pra-syarat.
e. Prinsip komunikasi terbuka.
f. Prinsip pemberian pengetahuan yang baru. g. Prinsip memberikan perilaku yang baik. h. Prinsip praktek secara aktif.
26
i. Prinsip kasih sayang dan pembinaan kepada anak didik dan lain sebagainya.
5. Lembaga Pendidikan Islam
Salah satu sistem yang memungkinkan proses kependidikan Islam berlangsung secara konsisten dan berkesinambungan dalam rangka mencapai tujuannya adalah institusi atau kelembagaan pendidikan Islam (Arifin, 2016: 80). Tujuan akan lebih mudah dicapai melalui proses kependidikan jika ditransformasikan melalui institusi kependidikan, karena institusi menjadi wadah pengorganisasian dan pelaksanaan program untuk mencapai tujuan pendidikan (Arifin, 2016: 120).
Dalam sejarah pendidikan Islam, sejak Nabi melaksanakan tugas dakwah agama secara aktif, di kota Mekah telah didirikan lembaga di mana Nabi memberikan pelajaran tentang agama Islam secara menyeluruh di rumah-rumah dan di masjid-masjid, di dalam masjid inilah berlangsung proses belajar mengajar berkelompok dalam halaqah dengan masing-masing gurunya yang terdiri dari para sahabat Nabi (Arifin, 2016: 80). Kemudian berdiri lembaga pendidikan yang bernama kuttab, satu lembaga pendidikan dasar yang di dalamnya diajarkan cara membaca dan menulis huruf Al-Qur’an serta pengajaran ilmu agama dan ilmu Al-Qur’an (Arifin, 2016: 80).
Sistem pengelolaan pendidikan dalam bentuk formal adalah yang disebut sekolah atau madrasah, sedangkan yang bersifat informal ialah berupa organisasi atau kelompok-kelompok dalam masyarakat termasuk juga
27
keluarga, di mana pendidikan berproses lebih banyak melalui sistem penerangan atau mass educative dari pada individual educative dalam kelas-kelas sekolah (Arifin, 1977: 24).
Madrasah merupakan lembaga pendidikan Islam yang menjadi cermin sebagai umat Islam. Fungsi dan tugasnya adalah merealisasikan cita-cita umat Islam yang menginginkan agar anak-anaknya dididik menjadi manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan. Dalam rangka upaya meraih hidup sejahtera duniawi dan kkebahagiaan hidup di akhirat (Arifin, 2014: 159).
Lembaga pendidikan dalam bentuk madrasah sudah ada sejak Islam berkembang di Indonesia. Madrasah itu tumbuh dan berkembang dari bawah dalam arti masyarakat (umat) yang didasari rasa tanggung jawab untuk menyampaikan ajaran Islam kepada generasi penerus. Sehingga madrasah pada waktu itu lebih menekankan pada pendalaman ilmu-ilmu Islam (Arifin, 2016: 160).
Madrasah dalam bentuk tersebut tercatat dalam sejarah bahwa keberadaanya telah berperan serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, pemerintah mengambil langkah-langkah untuk mengadakan penyempurnaan dan peningkatan mutu masyarakat yang sejalan dengan laju perkembangan dan aspirasi madrasah itu meliputi: penataan kelembagaan, peningkatan sarana dan prasarana, kurikulum dan tenaga guru (Arifin, 2016: 160).
28
Arifin (1987: 41-45) memaparkan beberapa tantangan yang dihadapi lembaga-lembaga pendidikan Islam saat ini meliputi:
a. Politik
Lembaga pendidikan yang berada dalam suatu wilayah negara merupakan sektor kehidupan budaya bangsa yang terikat dengan tujuan perjuangan nasional yang berlandaskan falsafah negaranya. Maka suatu lembaga pendidikan yang tidak bersedia mengikuti politik negaranya (khususnya dalam bidang pendidikan) akan merasakan bahwa politik tersebut menjadi tekanan terhadap cita kelembagaan tersebut.
b. Kebudayaan
Suatu perkembangan kebudayaan dalam abad modern saat ini tidak dapat terhindar dari pengaruh akulturasi, di mana faktor nilai yang mendasari kebudayaannya sendiri sangat menentukan survivenya, bila nilai-nilai kultural suatu bangsa itu melemah, maka bangsa tersebut akan mudah terperangkap oleh kebudayaan lain sehingga identitas kebudayaannya sendiri lenyap. Sikap selektif dalam menerima atau menolak kebudayaan asing perlu dilandasi dengan menganalisa secara mendalam bersumber pandangan hidup sendiri baik sebagai institusi ataupun sebagai bangsa. Sikap selektif pada hakikatnya bukanlah sikap menyerah ataupun netral. Melainkan sikap kreatif selektif. Oleh karena itu perlu pengetahuan dan wawasan mendalam yang mampu menjangkau jauh ke masa depan bagi eksistensi hidupnya.
29 c. IPTEK
Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah suatu bagian dari peradaban dan kebudayaan manusia, sebagai suatu ciri khas dari zaman modern saat ini di mana perkembangannya lebih cepat menjalar ke jantung masyarakat. Teknologi sebagai ilmu pengetahuan terapan adalah hasil kemajuan budaya manusia yang banyak bergantung kepada manusia yang menggunakannya. Dengan kata lain, teknologi dapat dijadikan kekuatan kebudayaan yang bersifat netral dalam tugas dan fungsinya dan tergantung oleh pribadi manusia dalam pengelolaan dan pemanfaatannya. Inilah tantangan mutakhir manusia abad ini yang perlu diberi jawaban oleh lembaga pendidikan Islam di mana norma-norma agama senantiasa dijadikan sumber pegangan.
d. Ekonomi
Pengaruh kehidupan ekonomi banyak mewarnai corak perkembangan sistem kependidikan dalam masyarakat bangsa. Oleh karena itu kehidupan ekonomi suatu bangsa banyak mempengaruhi pertumbuhan lembaga kependidikan. Bahkan juga mempengaruhi sistem kependidikan yang diberlakukan serta kelembagaan kependidikan yang dapat menunjang atau mengembangkan sistem ekonomi yang diinginkan. Maka dari itu timbullah suatu perencanaan kependidikan dilihat dari aspek kehidupan ekonomi yang dikenal dengan “ekonomi pendidikan”. sehingga pendidikan yang diselenggarakan dalam
30
masyarakat selalu diukur sejauh mana dapat menunjang kehidupan dan pembangunan di bidang ekonomi tersebut.
Bila dilihat dari sektor ini, maka problem-problem kehidupan ekonomi perlu dijawab oleh lembaga-lembaga pendidikan, apalagi bila diingat bahwa hasil pendidikan adalah sama prosesnya dengan hasil produksi, karena pendidikan bagaikan suatu perusahaan yang memproduksi tenaga ahli. Ukuran ekonomi bagi suatu lembaga pendidikan yang demikian itu adalah suatu hal yang terlalu realistis dan pragmatis. Namun dalam bidang inilah saat ini banyak memberikan tantangan kepada lembaga pendidikan kita. Jawaban yang diberikan oleh lembaga pendidikan antara lain tercermin dalam sistem pendidikan serta kurikulum atau program pendidikan yang ditetapkan.
e. Kemasyarakatan
Kemasyarakatan adalah suatu lapangan hidup manusia yang mengandung ide-ide yang sangat laten terhadap pengaruh kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai suatu sistem kehidupan, kemasyarakatan tidak statis dan beku, melainkan berkecenderungan ke arah perkembangan dinamis yang mengandung implikasi perubahan-perubahan yang biasa kita kenal sebagai social change. Problem-problem sosial yang menuntut pemecahan kepada lembaga pendidikan justru menghidupkan tugas dan fungsi lembaga kependidikan itu sendiri, mengingat lembaga itu merupakan lembaga kemasyarakatan
31
yang berfungsi sebagai agent of social change. Maka tantangan dalam kaitannya dengan social change menuntut jawaban dari lembaga kependidikan.
f. Sistem nilai
Di era sekarang dunia telah dilanda perubahan nilai yang cenderung untuk meninggalkan sistem tradisional. Apakah hal ini disebabkan oleh naluri manusia yang cenderung untuk meninggalkan sistem nilai tradisional ataukah memang naluri manusia yang cenderung untuk menyukai hal-hal yang baru dan ada pressure power dari luar. Hal inilah yang menjadi titik sentral problem yang melahirkan tantangan terhadap lembaga pendidikan yang salah satu fungsinya adalah mengawetkan sitem nilai yang telah berkembang di masyarakat. Dengan demikian peranan lembaga pendidikan dalam perubahan sosial itu seharusnya semakin diperkokoh dengan sistem dan metode pengelolaan berdasarkan nilai-nilai yang dapat mempertahankan corak dan identitas kebudayaannya (Arifin, 2003: 57).
Dari berbagai permasalahan lembaga pendidikan yang disampaikan di atas, maka H.M. Arifin (2014: 154-155) menyimpulkan pola pemecahan problema pendidikan Islam yang diharapkan mampu menjawab permasalahan pendidikan yaitu:
a. Faktor idiil yang melandasi pelaksanaan pendidikan Islam yaitu Al-Qur’an dan Hadis memerlukan interpretasi baru dari para pakar muslim yang berfokus pada kemajuan kependidikan Islam. Suatu
32
interpretasi baru yang berfokus kepada tiga kemampuan dasar manusia yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik atau Arifin menyebut ketiganya kemampuan yang bermukim di kepala (head), di dada (heart), dan di tangan (hand).
b. Faktor struktural kelembagaan pendidikan Islam yang telah eksis dalam masyarakat, perlu dilakukan inovasi yang benar-benar dapat mendukung tujuan pendidikan nasional. Tujuan pendidikan, metode dan content diperbaiki sedemikian rupa, sehingga mampu menarik minat peserta didik tanpa mengurangi prinsip-prinsip ajaran dari sumber pokok Islam. Seperti pesantren atau madrasah sebagai ciri khas Indonesia, memiliki orientasi ke arah faktor idiil tersebut di atas. Bukan hanya pesantren plus sekolah umum atau madrasah plus pengetahuan umum seperti yang telah dianut oleh umat Islam di beberapa lingkungan masyarakat. Suatu model pesantren yang berfungsi ganda. Ia merupakan lembaga sosial keagamaan Islam yang berfungsi sebagai pusat pembinaan mental agama masyarakat sekitar yang berorientasi kepada modernisasi umat, dan di sisi lain sebagai lembaga pendidikan agama Islam di lingkungannya yang dinamis dan aspiratif terhadap tuntutan kemajuan lahiriyah dan batiniyah.
c. Faktor teknis operasional agama di semua jenjang pendidikan umum perlu lebih diaktualisasikan ke dalam proses yang integralistik dengan pendidikan intelektual dan ketrampilan sehingga terwujud keserasian dan keselarasan dalam pencapaian tujuan pendidikan Internasional.
33
Untuk itu kerja sama antara pelaksana pendidikan di sekolah perlu ditingkatkan lagi, terutama dalam kegiatan belajar mengajar. Strategi pendidikan di sekolah-sekolah teknologi yang programnya lebih teknologis dan eksak perlu lebih intensif diimbangi dengan program pendidikan yang lebih moralis dan sosialistis-agamis tanpa menghilangkan ciri-ciri kejuruannya.
Lembaga pendidikan di masa sekarang harus lebih kritis dan dinamis, berorientasi kekinian sejalan dengan kemajuan ilmu dan teknologi modern selaras dengan kebutuhan atau tuntutan masyarakat masa kini tanpa meninggalkan nilai fitah yang ada dalam diri setiap manusia.
Sesuai dengan apa yang telah dipaparkan oleh H. M. Arifin mengenai lembaga pendidikan Islam perspektif beliau, diharapkan mampu menjawab problema dan menjadi rujukan dalam mengembangkan lembaga pendidikan Islam ke depan.