• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP PENDIDIKAN SPIRITUAL PERSPEKTIF SYAIKH ABDUL QADIR AL JAILANI DALAM BEBERAPA KITAB

D. Konsep Pendidikan Spiritual dalam Kitab Al Ghunyah li Thalibi

Thariqi al Haq „Azza wa Jalla

Kitab Al Ghunyah li Thalibi Thariqi al Haq „Azza wa Jalla

formatnya seperti Ihya‟ Ulumuddin karya Imam al Ghozali yang

40

penulis akan memaparkan konsep spiritualnya Syaikh Abdul Qadir al Jailani yang membahas tentang tasawuf. Beliau membahas tasawuf dengan didahului dengan akhlaq kemudian penataan rohani yang meliputi; mujahadah, tawakal, berakhlaq yang baik, syukur, sabar, ridho, jujur (Syaikh abdul Qadir al Jailani,1997:306

Mujahadah, Ibrahim bin Adham menjelaskan bahwa seseorang tidak akan mencapai derajat orang-orang yang shaih hingga ia melewatienam perkara yaitu menutup pintu nikmat dan membuka pintu kesusahan, menutup pintu kemulyaan dan membuka pintu kehinaan, menutup pintu istirahat dan membuka pintu kerja keras, menutup pintu tidur dan membuka pintu bergadang, menutup pintu kekayaan dan membuka pintu kemiskinan, menutup pintu harapan dan membuka pintu persiapan kematian.

Tawakal, Abu Turab al Nakhsyabi mengatakan, tawakal adalah melempar badan dalam penghambaan (ubuddiyah) dan mengkaitkankalbu dengan ketuhanan (rububiyah),serta merasa tenang dengan apa yang ada, jika diberi di beryukur dan jika tidak diberi dia bersabar.

Akhlaq yang baik, akhlaq adalah hal yang paling utama karena akhlaq mencerminkan jati diri yang sebenarnya.Manusia terkubur oleh kelakuannya dan terkenal karena kelakuannya juga.Ada yang mengatakan, akhlaq yang baik diberikan secara khusus kepada Nabi Muhammad sebagai mukjizat dan keutamaan yang Allah berikan kepadannya.

Syukur, ada yang mengatakan hakikat syukur adalah memuji orang yang telah berbaik hati memberi dengan mengingat kebaikannya.Syukur

41

hamba Allah berarti memuji-Nya dengan mengingat kebaikan yang Allah berikan.

Sabar, ada tiga macam kesabaran yaitu sabar karena Allah (dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya), sabar bersama Allah (sabar menerima qadha dan skenario Allah yang berupa cobaan), sabar atas Allah (sabar menanti apa yang telah dijanjikan Allah berupa rizqi, bebas dari masalah, kecukupan, pertolongan dan ganjaran di akhirat). Jadi sabar yang dimaksud dalam islam bukanlah tdak berbuat apa-apa. Tetapi sabar adalah menahan hawa nafsu melewati batas-batasnya.

Ridho, Abu Ali al Daqqaq r.a mengatakan,:”Ridho bukanlah tidak merasakan cobaan, akan tetapi ridho sesungguhnya adalah tidak memprotes ketentuan dan qadha.

Jujur, shidq adalah pilar dan penyempurna segala hal.Shadiq adalah sifat yang melekat pada seseorang yang jujur (berlaku benar). Sedangkan shiddiq adalah bentuk mubalaghoh (hiperbola), diberikan kepada orang yang terus-menerus melakukan kejujuran`(kebenaran), sehingga menjadi kebiasaan dan karakternya. Ada tiga hal menjadi buah manis orang yang berlaku shidq dan tidak lepas darinya, yaitu kenikmatan, wibawa, dan keramahan.

Adapun pokok spiritual yang di jelaskan dalam kitab ini adalah taubat, beliau membahas tentang taubat secara detail, mengenai syarat sampai terlihat ciri-ciri yang diterima taubatnya. Dalam hal ini penulis

42

akan memaparkan tentang pokok spiritual taubat dan taqwa, yang merupakan pokok dasar dari tasawuf.

Yang perlu di perhatikan dalam tasawuf yang pertama adalah taubat.Karena tidak memungkiri sebagai manusia awam tidak luput dari dosa besar maupun kecil.Maka dari itu untuk menuju jalan spiritual yang mendalam taubat dari dosa kecil atau besar itu sangat penting.Mengingat jiwa yang penuh dengan dosa kotoran maka harus dibersihkan sehingga jiwa menjadi bersih dan suci. Setelah jiwa menjadi bersih segala kebaikan apapun akan mudah masuk ke dalam hatinya.

Dalam kitab ini disebutkan ada tiga syarat bertaubat: menyesali kesalahan yang telah dilakukan, menjauhi dosa disetiap saat dan keadaan, tidak mengulangi dosa yang telah lampau. Menyesal disini bermaksud bersedih hati setelah berpisah dengan kekasih.

Jika sudah benar-benar taubat maka akan selamat dari perbuatan dosa dan eluangkan waktunya untuk beribadah kepada Allah secara khusus, sehingga harus menempuh jalan wara‟(lebih hati-hati). Karena dengan jalan ini, seseorang akan selamat dunia dan akhirat, selamat dari azab, dan kebaikan akan meningkat. Allah berbuat yang demikian

terhadap seseorang sebagai wujud kasih sayang-Nya kepada

mereka.Karena mereka telah berhati-hati terhadap makanan dengan berusaha mencari yang halal serta meninggalkan yang haram dan syubhat.Allah menjaga mereka dari makanan yang tidak mereka sukai, lalu Allah membimbing mereka untuk mengetahuinya.

43

Ada sepuluh ciri ahli wara‟ yang telah beliau paparkan, yaitu menahan lidah dari ghibah, meninggalkan prasangka buruk, tidak merendahkan orang lain, menundukan pandangan mata dari sesuatu yang haram, berbicara jujur, hendaklah mengenali pemberian Allah, selalu

menggunakan hartanya untuk sesuatu yang hak dan tidak

menggunakannya untuk sesuatu yang batil, tidak gila pada kehormatan, selalu menjaga shalat lima waktu secara tepat dengan memperhatikan ruku‟ dan sujudnya, istiqamah mengikuti ahli sunnah wal jama‟ah (Syaikh Abdul Qadir al Jailani,2010:318-362).

Kemudian pokok pembahasan yang kudua adalah taqwa.Hakikat taqwa adalah taat kepada Allah, tidak mendurhakai-Nya, ingat kepada-Nya, tidak lupa kepada-kepada-Nya, bersyukur kepada-kepada-Nya, dan tidak mengkufuri-Nya.Dikatakan bahwa taqwa itu ada beberapa macam, yaitu taqwa orang awam (meninggalkan perbuatan syirik), taqwa orang khawas (meninggalkan keinginan hawa nafsudengan meninggalkan maksiat dalam setiap keadaan), taqwa orang khawashil khawas(ketaqwaan para wali).

Dibahas disini tentang jalan menuju taqwa, yang mula-mula menghindarkan diri dari menganiaya orang lain dan menunaikan hak mereka, kemudian menghindarkan diri dari kemaksiatan, baik dosa kecil maupun besar, kemudian sibuk meninggalkan dosa hatiyang menjadi induk dosa dan menular menjadi dosa anggota badan seperti: riya‟, tamak, rakus dan gila pangkat dll (Syaikh Abdul Qadir al Jailani, 2010:388-392). E. Konsep Pendidikan Spiritual dalam Kitab Sirr al Asrar

44

Konsep pendidikan spiritual dalam kitab sirral asrar tidak hanya konsep pendidikan untuk membangun karakter akhlaq saja. Kitab sirr al asrar menjelaskan setidaknya menjadi manusia yang sempurna dari segi akhlaq sesama manusia dan akhlaq yang karimah dalam meraih hakikat cinta kepada Allah melalui maqamat-maqamat yang ditempuh Syaikh Abdul Qadir al Jailani.

Berikut pemaparan dari kitab sirr al asrar yang mengandung konsep pendidikan spiritual:

1. Kembali ke Asal Usul

Kembali ke asal usul mausia adalah kembalinya jiwa manusia kepada Allah, dengan melalui beberapa jalan yang harus di tempuh sehingga sampai ke peringkat yang paling tinggi yaitu ma‟rifat. Dengan peringkat pertama yang dinamakan syari‟at, kedua hakekat, ketiga ma‟rifat (Syaikh Abdul Qadir al Jailani, 2008: 92-111).

2. Dari kesempurnaan menuju kehinaan

Tujuan dari kesempurnaan yang berupa manusia menuju kehinaan atau tempat yang paling rendah adalah Supaya manusia mencari jalan kembali kepada kedudukan asal, ketika manusia masih dalam kandungan berbentuk daging dan tulang, sehingga manusia datang ke alam dunia dengan membawa keesaan Tuhan untuk mendapatkan ridho-Nya (Syaikh Abdul Qadir al Jailani, 2008:102-105).

3. Jiwa bertahta dalam raga

Jiwa di dalam kitab sirr al asrar ini disebutnya dengan kata roh. Yang pertama tempat roh di dalam badan manusia terletak pada dada, roh

45

ini berhubungan dengan agama dan pekerjaannya mentaati perintah-Nya. Yang kedua yaitu tempat roh perindahan yang terletak di dalam hati manusia, roh ini berurusan dengan pengetahuan tentang jalan kerohanian. Yang ketiga yaitu roh sultan yang terletak di tengah-tengah hati, jantung kepada hati. Yang berhubungan dengan kemakrifatan, sehingga roh ini menghantarkan manusia untuk mengetahui semua pengetahuan tentang ketuhanan, kemudian roh-roh tersebut berhenti ke tempat rahasia yang Allah buatkan untuk Diri-Nya(Allah) di tengah-tengah hati (Syaikh Abdul Qadir al Jailani, 2008: 106-115).

4. Ilmu dan kesempurnan manusia

Ilmu lahir itu terbagi menjadi du belas bagian, ilmu batin juga terbagi menjadi dua belas bagian. Bagian-bagian tersebut kemudian diklasifikasikan lagi, antara yang bisa dilakukan orang awam dan yang bisa dilakukan orang khas(khusus). Itupun sesuai dengan kadar kemampuannya. Ilmu secara garis besar terpetakkan ke dalam empat bagian. Pertama, ilmu dhohir (lahir) yaitu mencakup perintah dan larangan Allah serta hukum-hukum lain. Kedua,Ilmu batin syariat, yaitu thariqah. Ketiga, ilmu batin thariqah dan makrifat.Keempat, batinnya batin yaitu hakikat. Manusia yang sempurna perlu mempelajarisemua bagian tersebt dan mencari jalan ke arahnya (Syaikh Abdul Qadir al Jailani,2008: 116)

5. Tobat langkah pertama menuju kesempurnaan

Perlu dijelaskan bahwa taubat adalah langkah pertama untuk mencapai peringkat yang atu ke peringkat yang lain. Taubat yang benar merpakan langkah pertama di dalam perjalanan seorang sufi, di dalam

46

bertaubat harus menyesal yang sesungghnya sehingga tidak terjatuh pada dosa lagi (Syaikh Abdul Qadir al Jailani, 2008:125)

6. Sufi, para pejalan di jalan Tuhan

Istilah sufi dikaitkan juga dengan bidang kerohanian mereka yang sentiasa berhubung dengan sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w yang dikenali sebagai „puak yang memakai baju bulu‟. Dalam bahasa Arab perkataan tasawwuf, kerohanian Islam, terdiri daripada empat huruf – „ta‟, „sin‟, „wau‟ dan „fa‟ (t,s,w,f). Huruf pertama, t, bermaksud taubat. Huruf „s‟ adalah simbolnya. Huruf ketiga „w‟ bermaksud wilayah, suasana kesucian dan keaslian pencinta-pencinta Allah dan sahabat-sahabat-Nya. Keadaan ini bergantung kepada kesucian batin. Huruf keempat „f‟ bermakna fana, lenyap diri sendiri ke dalam ketiadaan. Diri yang palsu akan hancur dan hilang apabila sifat yang suci memasuki seseorang, dan apabila sifat-sifat serta keperibadian yang banyak menghalang tempatnya akan diganti oleh satu saja sifat keesaan (Syaikh Abdul Qadir al Jailani, 2008:142)

7. Mereka senantiasa ingat Tuhan

Zikir peringkat terakhir yang dipanggil khafi al-khafi yang paling tersembunyi daripada yang tersembunyi membawa seseorang kepada suasana fana. Dalam kenyataannya,hanya Allahlah yang mengetahui keadaan-keadaan orang yang telah masuk ke dalam ke fana‟an (Syaikh Abdul Qadir al Jailani, 2008:151)

8. Syarat pemyempurna zikir

Salah satu syarat untuk melakukan zikir adalah berada dalam keadaan berwudhu, dan bersih hatinya. Sebutlah Allah dengan kalimah

47

tauhid secara kuat-kuat di hati dan berzikir hedaknya dalam keadaan sadar (tidak lalai). Sehingga hati merasa hidup kembali dengan perasaan yang aman dan nyaman (Syaikh Abdul Qadir al Jailani, 2008:155)

9. Meraih maqam penyaksian

Melihat Allah ada dua jenis: Pertama melihat sifat keindahan Allah yang sempurna secara langsung di akhirat‟ dan satu lagi melihat sifat-sifat ketuhanan yang dipancarkan ke atas cermin yang jernih. Maknanya Dia(Allah) boleh dikenal di dunia melalui sifat-sifat-Nya, akan tetapi untuk melihat dan mengenali zat-Nya hanya terjadi di akhirat (Syaikh Abdul Qadir al Jailani, 2008: 159).

10.Tabir cahaya dan kegelapan

Hati menjadi buta disebabkan oleh kelalaian, yang membuat seseorang lupa kepada Allah dan lupa kepada kewajiban mereka, tujuan mereka, ikrar mereka dengan Allah, ketika mereka masih berada di dalam dunia. Sebab utama kelalaian adalah kejahilan terhadap hakikat (kebenaran) undang-undang dan peraturan Tuhan.Apa yang menyebabkan seseorang itu berterusan di dalam kejahila ialah kegelapan yang menyeluruh menutupi seseorang dari luar dan sepenuhnya menguasai batinnya. Yang mendatangkan kegelapan ialah sifat-sifat angkuh, sombong, megah, dengki, bakhil, dendam, bohong, mengumpat, fitnah dan lain-lain sifat keji.Sifat-sifat yang keji itulah yang merendahkan ciptaan Tuhan yang sangat baik sehingga jatuh kepada tahap yang paling rendah. Bila sifat-sifat kegelapan terangkat cahaya mengambil alih tempatnya dan orang yang memiliki mata rohani akan melihat. Dia mengenali apa yang

48

dia lihat dengan cahaya nama-nama sifat Ilahiah. Kemudian dirinya dibanjiri oleh cahaya dan bertukar menjadi cahaya. Cahaya ini masih lagi hijab menutupi cahaya suci Zat, tetapi masanya akan sampai bila ini juga akan terangkat, yang tinggal hanya cahaya suci Zat itu sendiri (Syaikh Abdul Qadir al Jailani,2008:166)

11.Kebahagiaan dan penderitan

Yang seharusnya manusia ketahui yaitu bagian golongan yang hendak dimasuki, golongan pertama ialah golongan yang berada dalam kedamaian, keimanan, bahagia dalam melakukan ketaatan kepada Allah, sementara golongan kedua berada dalam keadaan tidak selamat, keraguan dan kerisauan dalam keingkaran terhadap peraturan Tuhan. Keduanya ini (ketaatan dan keingkaran) ada di dalam diri seseorang. Jika kesucian, kebaikan dan keikhlasan lebih menguasai, sifat-sifat mementingkan diri akan bertukar menjadi suasana kerohanian dan bagian diri yang ingkar akan dikalahkan oleh bagian diri yang baik. Sebaliknya jika seseorang mengikuti hawa nafsu yang rendah dan kesenangan ego dirinya, sifat-sifat ingkar akan menguasai bagian diri yang satu lagi untuk menjadikannya ingkar dan jahat. Jika kedua-dua sifat yang berlawanan itu sama-sama kuat diharapkan yang baik itu boleh menang (Syaikh Abdul Qadir al Jailani, 2008:171:182)

12.Kaum darwis

Seorang sufi yang mencari ganjaran dari Allah berupa surga, sebenarnya orang tersebut tidak dapat melihat hakikat yang sebenarnya. Mereka yang arif, yang mencari hakikat, mereka yang mencapai suasana

49

sufi yang sebenarnya, suasana keinginan menyeluruh yang tidak menginginkan sesuatu apa pun kecuali Allah, meninggalkan segala-galanya dan tidak mencari apa-apa kecuali yang hak. Mereka temui apa yang mereka cari dan masuk ke dalam alam yang hak, dan kehampiran dengan Allah, dan hidup semata-mata kerana Zat Allah, tidak kerana yang lain(Syaikh Abdul Qadir al Jailani, 2008:183).

13.Menyucikan jiwa

Dua jenis penyucian: Pertama zahir, ditentukan oleh peraturan agama dan dilakukan dengan membasuh tubuh badan dengan air yang bersih. Keduanya ialah penyucian batin, yang dapat dilakukan dengan menyadari kotoran di dalam diri, menyadari dosanya dan bertaubat dengan ikhlas. Penyucian batin memerlukan perjalanan kerohanian dan dibimbing oleh guru kerohanian (Syaikh Abdul Qadir al Jailani,2008: 194).

14.Makna ibadah

Makna ibadah adalah memadukan antara badan dan batin sehingga membawa seseorang secara kerohanian kepada kehampiran dengan Allah, dan secara zahir kepada peringkat yang paling tinggi mampu dicapai. Dalam alam kenyataan mereka menjadi hamba Allah yang taat. Suasana dalam wilayah orang arif yang memperoleh makrifat sebenarnya tentang Allah. Jika ibadah dzahir tidak bersatu dengan ibadah batin, ia adalah kekurangan. Ganjarannya hanyalah pada pangkat atau kedudukan, tidak membawa seseorang hampir dengan Allah (Syaikh Abdul Qadir al Jailani, 2008: 198).

50

Tujuan penyucian itu ada dua jenis yaitu yang pertama untuk membolehkannya masuk kepada alam sifat-sifat Ilahi dan yang kedua untuk mencapai maqam Zat. Penyucian untuk memasuki alam sifat-sifat Ilahi memerlukan pelajaran yang membimbing seseorang di dalam proses penyucian cermin hati daripada gambaran manusia dengan cara rayuan, ucapan atau memikirkan dan mendoakan pada nama-nama Ilahi. Ucapan itu menjadi kunci, perkataan rahsia yang membuka hati.Hanya saja, bila mata itu terbuka barulah boleh seseorang itu melihat sifat-sifat Allah yang sebenarnya.Kemudian mata itu melihat gambaran kemurahan Allah, nikmat, rahmat dan kebaikan-Nya di atas cermin hati yang murni itu (Syaikh Abdul Qadir al Jailani, 2008: 203).

16.Zakat dan sedekah

Ada dua jenis zakat: zakat yang diajarkan oleh syariat dan zakat kerohanian yang berlainan sifatnya. Zakat yang diajarkan oleh syariat ialah mengeluarkan barang-barang dalam dunia ini.Zakat rohani berupa barang akhirat seperti amal.Ia juga diberikan kepada orang miskin, yaitu miskin kerohanian. Adapun tujuan zakat dan sedekah ini bukanlah hanya untuk membantu yang memerlukan, karena Allah adalah Pemberi kepada semua yang memerlukan, tetapi supaya niat baik pemberi zakat dan sedekah itu diterima oleh Allah. Faedah lain daripada sedekah ialah kesan penyuciannya. Ia menyucikan harta dan diri seseorang. Jika diri dibersihkan daripada sifat-sifat ego maka tujuan sedekah atau zakat batin (kerohanian) tercapai (Syaikh Abdul Qadir al Jailani, 2008: 207).

51

Puasa lahir adalah menahan diri daripada makan, minum dan bersetubuh dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Puasa batin selain yang demikian, ditambah lagi memelihara pancaindera dan fikiran daripada perkara-perkara yang keji. Ia adalah melepaskan segala yang tidak sesuai, dzahir dan batin. Rusak sedikit niatnya maka rusaklah puasa rohani. Puasa syariat terikat dengan masa, sementara puasa rohani kekal di dalam kehidupan sementara ini dan kehidupan abadi di akhirat, Inilah puasa yang sebenarnya (Syaikh Abdul Qadir al Jailani, 2008: 212).

18.Ibadah haji ke Tanah Suci

Mengerjakan haji ada dua macam yaitu lahir dan

batin.Mengerjakan haji secara lahir adalah sesuai dengan syarat dan rukun haji.Tetapi mengerjakan haji secara batinmemerlukan persiapan dan mengumpulkan keperluan sebelum memulai perjalanan.Yang pertama ialah mencari guru pandu, pembimbing, guru, seorang yang dikasihi, dihormati, diharapkan dan ditaati oleh muridnya (Syaikh Abdul Qadir al Jailani, 2008:215).

19.Melihat Hakikat Illahi

Zauk adalah kegairahan untuk menggapai ma‟rifat Illahi, ada dua jenis zauk yaitu zauk lahiriyah dan rohaniah. Zauk lahiriah adalah hasil daripada ego diri, ia tidak memberi kepuasan secara rohaniah, ia dipengaruhi oleh pancaindra, yang seringkali melakukan sesuau hanya agar dilihat orang lain. Sedangkan zauk rohaniah adalah hasil dari suasana pengaliran tenaga kerohanian yang sangat melimpah. Seperti pembacaan puisi yang sangat indah, atau pembacaan al qur‟an dengan suara merdu,

52

atau kegairahan yang dicetuskan oleh upacara zikir sufi sehingga dapat meningkatkan suasana kerohanian (Syaikh Abdul Qadir al Jailani, 2008:224).

20.Khalwat: berduaan dengan Allah

Khalwat adalah pengasingan diri.Khalwat dibagi menjadi dua yaitu dzahir dan batin. Khalwat zahir akan terjadi apabila seseorang menjauh dari keramaian sebagai wujud pegasingan dirinya supaya dapat mengendalikan ego dan nafsunya. Sedangkan khalwat batin yaitu keadaan di mana manusia dapat mengeluarkan dari hatinya atas pemikiran tentang hal dunia, kejahatan, ego, meninggalkan makan dan minum yang diharamkan (Syaikh Abdul Qadir al Jailani, 2008:231).

21.Salat dan Wirid

Shalat dan wirid dalam bab ini sangatlah banyak. Setelah penulis baca dan mengartikan bab ini dalam kitab sirr al asrar asli arab. Penulis menemukan banyak amalan yang harus dilakukan seorang sufi, seperti shalat wajib 5 waktu berjamaah di masjid, kemudian shalat-shalat sunah yang di dalamnya terdapat wirid-wirid khusus di setiap shalat sunahnya. Seperti shalat sunnah tahajud 12 rokaat di pertengahan malam,kemudian shalat setelah terbit matahari tidak hanya shalat dhuha tetapi sebelum shalat dhuha di dahului dua rakaat shalat isyraq, dua rakaat shalat isti‟adah dan dua rakaat shalat istikharah yang wirid dalam shalatnya adalah dalam masing-masing rokaat setelah membaca fatihah 1x kemudian membaca ayat kursi 1x dan surah al ikhlas 7x, dilanjut enam rokaat shalat dhuha (Syaikh Abdul Qadir al Jailani, 2008: 240).

53

22.Makna dan Rahasia di Balik Mimpi

Mimpi ada dua jenis, yaitu mimpi dari perasaan diri sendiri dan mimpi yang bermatlamat. Asal dari mimpi adalah dari Allah tetapi tak memungkiri syaitan juga dapat berpura-pura dalam mimpi. Mimpi yang dari Allah dapat menggambarkan suasana kerohanian yang sangat menalam dan hasilnya dapat menciptakan suasana harmonis dalam kehidupan nyata (Syaikh Abdul Qadir al Jailani, 2008:259).

23.Keragaman Para Pejalan

Keragaman para pejalan kerohanian terbagi menjadi dua yaitu yang pertama sunni, mereka yang mengikuti jalan kerohanian dengan aturan qur‟an dan hadits. Dan yang kedua yaitu pengikut jalan kerohanian tetapi jalan bid‟ah(Syaikh Abdul Qadir al Jailani, 2008:274).

F. Klasifikasi Konsep Pendidikan Spiritual Syaikh Abdul Qadir Al

Dokumen terkait