LANDASAN TEORITIS
A. Tinjauan Pustaka 1. Mutu Pendidikan
2) Konsep pendukung
a. Penekanan pada pelanggan, baik pelanggan internal maupuan eksternal.
b. Isu-isu pekerja yang meliputi: pemberdayaan, tim, nilai-nilai pekerja, dan penekanan pada pendidikan dan pelatihan.
Pendapat Sytsma memasukkan pelanggan sebagai konsep pendukung, hal ini dikarenakan faktor pelanggan merupakan faktor diluar organisasi yang merupakan faktor yang kecil kemungkinannya untuk dikendalikan dalam proses manajemen. Namun demikian Sytsma juga menyadari bahwa tidak mungkin keberhasilan Manajemen Mutu Terpadu (MMT) hanya melihat dari keberadaan faktor utama saja.
Manajemen Mutu Terpadu (MMT) adalah pencapaian tujuan organisasi dengan cara yang efektif melalui planning, organizing,
leading (actuating), dan controlling sumber daya organisasi. Fungsi
manajemen perencanaan adalah menentukan tujuan-tujuan, menentukan tugas, menentukan sumber daya, pengorganisasian, menentukan dan
mengelompokan tugas-tugas, alokasi sumber daya, penentuan otoritas. Kepemimpinan pengaruh adalah motivasi, pengendalian, mengawasi aktivitas, koreksi, mengawasi target dan tujuan proses manajemen. Input (sumber daya) man, material, money, method, machine, information. Proses perencanaan: memiliki tujuan dan cara pencapaian, pnegorganisasian: pemenuhan tanggung jawab untuk pencapaian tujuan, kepemimpinan: menggunakan pengaruh untuk memotivasi bawahan, pengendalian: mengawasi kegiatan dan melaksanakan koreksi. Output (kinerja), mencapai tujuan, produk, jasa, efisiensi, efektivitas.
Kinerja adalah kemampuan organisasi untuk mempertahankan tujuannya dengan menggunakan sumber daya secara efektif dan efisien. Sedangkan organisasi adalah kesatuan sosial yang diarahkan dengan tujuan dan dibentuk dengan penuh pertimbangan. Entitas sosial merupakan dua orang atau lebih, diarahkan dengan tujuan (dirancang untuk mencapai output tertentu). Efektivitas yaitu melakukan pekerjaan dengan benar sejauh mana organisasi mencapai tujuan yang telah ditentukan, dan efisiensi yaitu melakukan pekerjaan dengan benar atau sesuai standar jumlah sumber daya yang digunakan untuk mencapai tujuan.
Tujuan manajemen mutu terpadu adalah untuk mewujudkan keleluasaan prodi dalam mengelola pendidikan. Dengan demikian peran prodi dominan akan berkembangnya prodi tersebut. Prodi diberi hak otonom untuk menentukan nasibnya sendiri. Paling tidak ada tiga tujuan dilaksanakannya manajemen terpadu yaitu peningkatan efisiensi, peningkatan mutu, peningkatan seluruh yang terkait di dalam pendidikan. Manajemen merupakan suatu proses yang unik yang terdiri dari aktifitas perencanaa, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian serta dilakukan untuk menentukan dan mencapai tujuan dengan memanfaatkan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya (Terry, 2008:4).
Gambar 2.5. Komitmen Kualitas dalam TQM Sumber: Terry:2008
Total Quality Management (TQM) atau Manajemen Mutu Terpadu
dalam bidang pendidikan tujuan akhirnya adalah meningkatkan kualitas, daya saing bagi output(lulusan) dengan indikator adanya kompetensi baik intelektual maupun skill serta kompetensi sosial mahasiswa/lulusan yang tinggi. Dalam mencapai hasil tersebut, implementasi Total Quality
Management (TQM) di dalam organisasi pendidikan (prodi) perlu
dilakukan dengan sebenarnya, tidak dengan setengah hati. Dengan TQM
Perbaikan Kualitas secara Berkelanjutan
Sumber-Sumber Kualitas
Fungsi-Fungsi Manajemen:
Perencanaan, Pengorganisasian, Pelaksanaan, Penganggaran, Kontrol
Pelaksanaan Pekerjaan secara Berkualitas
Hasil:
Pelayanan umum dan Pembangunan Fisik/Non Fisik Memuaskan
Masyarakat
memanfaatkan semua kualitas yang ada dalam organisasi maka pendidikan kita tidak akan jalan di tempat seperti saat ini.
Definisi manajemen mutu terpadu mencakup dua komponen yaitu apa dan bagaimana menjalankan mutu terpadu, di dalam manajemen mutu terpadu pelanggan adalah yang berkuasa atau raja yang harus dilayani dengan sebaik-baiknya. Manajemen mutu terpadu adalah sebuah praktik yang berupa pendekatan stratejik untuk menyelenggarakan prodi yang berfokus pada kebutuhan pelanggan.
Menurut Sallis (2012:17) “Menciptakan budaya mutu dimana tujuan setiap anggota ingin menyenangkan pelanggannya, dimanastruktur organisasinya mengizinkan untuk mereka berbuat seperti itu. Manajemen mutu terpadu adalah budaya peningkatan mutu pendidikan secara terus menerus, fokus pada pelanggan prodi demi kepuasan jangka panjangnya, dan partisipasi seluruh warga yang ada di prodi, keluarga, masyarakat dan pemerintah”.
1) Pengertian perbaikan terus-menerus
Manajemen mutu terpadu menjadi suatu filosofi bahwa perubahan terus menerus hanya dapat dicapai melalui orang lain. Manajemen Mutu Terpadu (MMT) sebagai sebuah pendekatan manajemen perubahan yang terus menerus dari suatu kebijakan jangka pendek dan jangka panjang, untuk mengembangkan budaya perbaikan secara
terus menerus, tugas ketua prodi adalah memberikan kepercayaan kepada seluruh warga prodi serta mendelegasikan kewenangan pada masing-masing yang di tunjuk sebagai koordinator untuk berperan aktif pada peningkatan mutu prodi. Perbaikan terus menerus di Jepang di sebut Kaizen yang artinya perbaikan sedikit demi sedikit, tetapi terus menerus.
2) Pengertian fokus pada pelanggan
Misi utama Manajemen Mutu Terpadu (MMT) adalah memenuhi kepuasan pelanggan. Seluruh organisasi yang ingin mempertahanakan keberadaannya harus berobsesi pada mutu.
Burnham (1997:33) menyatakan bahwa komponen MMT ada empat, yaitu (1) prinsip-prinsip, (2) proses, (3) pencegahan, dan (4) manusia. Prinsip-prinsip ialah hal-hal yang harus dilakukan warga prodi dalam mewujudkan visi, misi, tujuan, sasaran, strategi, dan kebijakan prodi. Proses ialah upaya-upaya yang dilakukan warga prodi untuk memuaskan pelanggan. Pencegahan ialah upaya prodi untuk menghindari kesalahan sejak awal. Pencegahan lebih baik dari pada perbaikan harus menjadi filosofi seluruh warga prodi. Manusia ialah warga prodi yang bersinergi dalam suatu manajemen serta menekankan pada pentingnya hubungan manusiawi.
Keempat komponen MMT digambarkan oleh Burnham (1997:33) seperti di bawah ini:
Gambar 2.6. Komponen-Komponen MMT Sumber ; Sallis (2012)
Menurut Sallis (2012:138) bahwa kerangka komponen-komponen mutu meliputi: 1) Kepemimpinan dan strategi meliputi komitmen, kebijakan mutu, analisis organisasional, misi, dan rencana strategi, serta kepemimpinan; 2) Sistem dan prosedur, efisiensi administratif, pemaknaan data, ISO 9001, dan biaya mutu; 3) Kerja tim meliputi pemberdayaan, memanajemen diri sendiri, kelompok, alat mutu yang digunakan; 4) Asasemen diri sendiri meliputi asasemen sendiri, monitoring dan evaluasi, survei kebutuhan pelanggan, dan penggajian
MMT
Prinsip
Manusia
Pencegahan Proses
standar. Semua kegiatan yang dilakukan berfokus kepada peserta didik (learners).
Prodi bermutu dapat dilihat dari beberapa indikator. Indikator prodi bermutu dan tidak bermutu dapat dilihat dari beberapa aspek (Engkoswara, 1988:310):
Tabel 2.3
Indikator Prodi Bermutu dan Tidak Bermutu
No. Prodi Bermutu Prodi Tidak Bermutu
1 Masukan yang tepat Masukan yang banyak
2 Semangat kerja tinggi Pelaksanaan kerja santai
3 Gairah motivasi belajar tinggi Aktivitas belajar santai 4
Penggunaan biaya, waktu, fasilitas, tenaga yang proporsional
Boros memakai sumber-sumber
5 Kepercayaan berbagai pihak Kurang peduli terhadap
lingkungan
6 Tamatan yang bermutu Lulusan hasil katrol
7 Keluaran yang relevan dengan
kebutuhan masyarakat Keluaran tidak produktif