• Tidak ada hasil yang ditemukan

Suhu Udara (C)

KONSEP PENGEMBANGAN

5.4. Konsep Pengembangan Lanskap

Konsep dasar yang dikembangkan adalah menciptakan lanskap wisata sejarah dan budaya untuk mendukung interpretasi tatanan Candi Gedong Songo dan memberikan kenyamanan wisata secara optimal. Untuk mewujudkan konsep dasar tersebut dikembangkan konsep ruang wisata, konsep sirkulasi, konsep interpretasi, konsep fasilitas dan konsep tata hijau

5.4.1. Konsep Ruang Wisata

Penataan ruang wisata dilakukan untuk efektivitas dan efisiensi kawasan sebagai kawasan wisata sejarah dan budaya serta untuk mengoptimalkan kenyamanan pengunjung dalam beraktivitas. Konsep ruang yang dikembangkan, berdasarkan kebutuhan ruang wisata yang diintegrasikan pada kebutuhan ruang untuk pelestarian Candi Gedong Songo. Dengan demikian diharapkan aktivitas wisata tidak membahayakan kelestarian BCB Candi Gedong Songo dan lingkungannya. Dari proses integrasi ini dihasilkan ruang (Gambar 49) :

1. Ruang obyek wisata utama berupa tapak Candi Gedong I, II, III, IV, V, VI, dan VII yang berada pada mintakat inti. Aktivitas yang dapat dilakukan adalah aktivitas yang bersifat tidak intensif seperti melihat, mengamati, dan mempelajari obyek, merasakan suasana, menginterpretasikan obyek, dapat juga foto (jika diizinkan) serta kegiatan lainnya yang tidak merusak atau mengganggu obyek.

2. Ruang transisi yaitu ruang yang mengantar pengunjung menuju ruang obyek utama. Ruang transisi ini berada pada mintakat penyangga.

Aktivitas yang dapat dilakukan yaitu berjalan menuju obyek wisata, menikmati dan mengapresiasi pemandangan, mengambil foto dan istirahat singkat atau terbatas/ pasif seperti melihat, mempelajari, foto, menikmati pemandangan dan istirahat singkat. Ruang obyek wisata pendukung juga

terdapat pada mintakat penyangga. Ruang ini berupa potensi alam pada kompleks yang dikembangkan secara terbatas untuk meningkatkan daya tarik kawasan, antara lain Air Suci Kali Bening dan Kawah Candra Dimuka.

3. Ruang fasilitas pelayanan wisata berupa ruang fasilitas untuk meningkatkan kegiatan wisata, fasilitas pendukung interpretasi serta fasilitas untuk atraksi pendukung. Ruang ini terdapat pada mintakat pengembangan. Aktivitas yang dapat dilakukan pada ruang ini yaitu aktivitas yang bersifat intensif seperti mendapatkan informasi umum tentang obyek, menikmati atraksi pendukung, aktivitas rekreatif yang sesuai, istirahat, makan, berbelanja, menginap, dan lain-lain.

4. Ruang penerima (welcome area) yaitu ruang yang menyambut ruang kedatangan wisatawan, dan menghubungkan jalur akses dengan kawasan wisata. Ruang ini terdapat pada bagian terluar mintakat pengembangan.

Matriks hubungan mintakat pelestarian atau konservasi dengan ruang wisata dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Matriks Hubungan Ruang Pelestarian dengan Ruang Wisata M. Pelestarian

R. Wisata M. Inti M. Penyangga M. Pengembangan R. Obyek Wisata Utama •

R. Transisi •

R. Obyek Wisata

Pendukung •

Ruang Terbuka Hijau •

R. Fasilitas Pelayanan

Wisata •

R. Penerima •

Mintakat Pelestarian Ruang Wisata

R. Obyek Wisata Utama

Welcome area M. Pengembangan

M. Penyangga

M. Inti

R. Obyek Wisata Pendukung

M. Inti / R. Obyek Wisata Utama

R. Obyek Wisata Pendukung

R. Fasilitas Pelayanan Wisata R. Transisi

M. Penyangga

M. Pengembangan

R. Fasilitas Pelayanan Wisata

R. Penerima/

Welcome area R. Transisi

Gambar 49. Konsep Ruang Wisata

5.4.2. Konsep Sirkulasi

Konsep sirkulasi yang dikembangkan berfungsi sebagai penghubung antar ruang wisata yang dapat dimanfaatkan sekaligus sebagai jalur interpetasi yang mengikuti urutan tingkat keutamaan kedewaan dan pemanfaatan visual tapak secara optimal. Selain itu sirkulasi yang dikembangkan juga menghubungkan obyek utama dengan atraksi pendukung lainnya seefektif dan seefisien mungkin.

Pola sirkulasi wisata merupakan pola loop yang terdiri dari tiga rute sesuai jarak atau waktu tempuh (Gambar 50). Rute I adalah jalur sirkulasi utama yang

menghubungkan seluruh candi yaitu Candi Gedong I – VII, serta Air Suci Kali Bening, Kawah Candra Dimuka dan menara pandang pada Bukit Spiral. Rute II adalah jalur sirkulasi yang menghubungkan Candi Gedong I, Air Suci Kali Bening, Candi Gedong II, Candi Gedong III, Kawah Candra Dimuka dan untuk melihat candi serta lanskapnya secara keseluruhan dapat dilihat melalui menara pandang yang terletak di jalan pulang Rute III. Rute III adalah jalur sirkulasi yang menghubungkan Candi Gedong I, Air Suci Kali Bening, Candi Gedong II dan untuk melihat candi serta lanskapnya secara keseluruhan dapat dilihat melalui menara pandang yang terletak di jalan pulang Rute III. Selain ketiga rute tersebut, untuk kenyamanan pengunjung disediakan satu jalur khusus untuk berkuda. Jalur ini hanya melewati Candi Gedong I namun tetap dapat menikmati lanskap candi secara keseluruhan pada stop area.

Akses Utama

Gambar 50. Konsep Sirkulasi Pola Loop

5.4.3. Konsep Interpretasi

Interpretasi dapat diartikan sebagai gambaran atau persepsi yang ditangkap pengunjung mengenai suatu atraksi atau obyek wisata. Interpretasi ini merupakan suatu perkenalan awal antara pengunjung (daya tarik, keinginan, dan

M. Inti / R. Obyek Wisata Utama M.Penyangga

R. Obyek Wisata Pendukung

R. Fasilitas Pelayanan Wisata

R. Penerima / Welcome area R. Transisi

M. Pengembangan

Ket : Rute I

Jalan Pulang Rute II Jalan Pulang Rute III

pengetahuan) dengan suatu atraksi atau obyek wisata tersebut (sesuatu untuk dilihat dan dilakukan). Perkenalan ini merupakan kunci dari pengalaman yang dapat diperoleh dan dinikmati oleh pengunjung terhadap obyek atau atraksi secara langsung atau dengan program perjalanan (Gunn, 1997). Oleh karena itu untuk mendukung interpretasi mengenai tatanan Kompleks Candi Gedong Songo beserta lanskapnya maka perlu adanya sarana interpretasi yang memadai.

Konsep interpretasi yang dikembangkan pada Kompleks Candi Gedong Songo yaitu untuk interpretasi tatanan Candi Gedong Songo serta lanskapnya.

Candi Gedong Songo memiliki tingkat keutamaan kedewaan berbeda-beda, dimana semakin tinggi lokasi candi maka semakin tinggi keutamaan kedewaannya (Gambar 51). Tatanan lanskap Candi Gedong Songo memiliki kesamaan dengan Konsep Mandala dalam agama Hindu. Konsep tersebut menyebutkan bahwa candi merupakan replika dari Gunung Meru yang dikelilingi oleh cincin pegunungan dan lautan. Sama halnya dengan Candi Gedong Songo, secara visual candi-candi Gedong Songo dikelilingi oleh pegunungan (Gunung Ungaran, Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro) serta perairan berupa Rawa Pening (Gambar 52). Selain tatanan dari Candi Gedong Songo dan lanskapnya, terdapat juga kebudayaan setempat yang berhubungan dengan Candi Gedong Songo yaitu penyucian yang dilakukan di Air Suci Kali Bening dan Kawah Candra Dimuka.

Gambar 51. Tingkatan Keutamaan Kedewaan Candi Gedong Songo I

II

III

IV

VII

VI

V Keutamaan

Kedewaan

Elevasi

1

Gambar 52. Tatanan Lanskap Candi Gedong Songo

Untuk menginterpretasikan tatanan ini maka perlu adanya fasilitas yang dapat membantu pengunjung untuk dapat menginterpretasikan tatanan candi dan lanskapnya, proses interpretasi akan dilakukan secara terpandu dan mandiri.

5.4.4. Konsep Fasilitas

Penyediaan fasilitas dalam perencanaan lanskap wisata Kompleks Candi Gedong Songo bertujuan untuk meningkatkan interpretasi dan apresiasi sejarah dan budaya kompleks serta meningkatkan kenyamanan pengunjung. Fasilitas yang dapat meningkatkan apresiasi dan interpretasi sejarah dan budaya yaitu sarana interpretasi berupa papan informasi, pusat informasi, museum, ruang audio visual, tempat penyimpanan dan aula gamelan, pamflet dan pemandu atau guide.

Untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung fasilitas yang diakomodasikan yaitu, kios makan, kios souvenir, toilet, pondok wisata, wartel, pos jaga, pos kesehatan, area perkemahan, area parkir, tempat penjualan tiket, tempat beribadah, gazebo, bangku, tempat sampah dan lampu. Penempatan fasilitas disesuaikan dengan fungsi ruang. Pada ruang inti hanya diletakkan fasilitas interpretasi, pada ruang penyangga dapat dibangun fasilitas-fasilitas tidak permanen dan sebagian besar fasilitas pelayanan wisata terdapat pada ruang pengembangan. Desain fasilitas ini disesuaikan juga dengan karakter lanskap Candi Gedong Songo sehingga dapat memperkuat estetik dan karakter lanskap.

Kelompok

5.4.5. Konsep Tata Hijau

Penataan tanaman disesuaikan dengan fungsi dan aktivitas pada ruang-ruang yang akan diterapkan. Tanaman yang digunakan adalah tanaman yang memiliki makna religi dalam agama Hindu sehingga dapat menunjang identitas candi. Selain itu digunakan juga tanaman yang memiliki fungsi konservasi tanah dan air serta estetika. Untuk menambah pendapatan penduduk sekitar maka digunakan juga tanaman produksi. Penataan tanaman berfungsi antara lain pembatas, peneduh, penyerap polusi, penguat indentitas, konservasi tanah dan air serta estetika. Hubungan ruang dan tanaman dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Hubungan Antara Fungsi Tanaman dan Ruang

Inti Penyangga Pengembangan

Obyek Wisata Utama

RTH Transisi Fasilitas Pelayanan

Wisata

Penerima Ruang

Fungsi Tanaman

Penguat identitas ● ● ● ●

Estetika ● ● ● ●

● ●

Konservasi tanah dan air

Pembatas ● ● ● ●

Peneduh ● ● ●

Penyerap polusi ●

Kesejahteraan

Masyarakat

BAB VI

Dokumen terkait